Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
904 research outputs found
Sort by
Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA): Long-Term Effects on Menstrual Cycle Disorders: Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA): Efek Penggunaan Jangka Panjang terhadap Gangguan Menstruasi
Objective: To determine the effect of the duration ofusing Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) on theMenstrual CycleMethods: This research is an analytical study of 102 patientswho used DMPA for less than 1 year and more than 1year and then analyzed the types of menstrual disordersexperienced while using DMPA contraception at RSIAMasyita Makassar Tahun 2022. Data collection was carriedout by direct observation at RSIA. Masyita was then arrangedin a checklist that has been prepared.Data is processed usingSPSS version 25.0.Results: There is a signifi cant effect between the length ofuse of Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) and theMenstrual Cycle (p=0.000).Conclusion: There are long-term effects of using DMPAon menstrual cycle disorders, the most common beinghypermenorrhea. These results showed that the use ofDepo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) for > 1 yearhas shown many effects on Menstrual Disorders and can beused by midwives to providing knowledge and counselingto patients who wll to use DMPA regarding the side effectsand risks of using longer contraceptives.Keywords: Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA),duration of use, menstrual cycle.AbstrakObjektif: Untuk mengetahui pengaruh lama penggunaanDepo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA) terhadap siklusmenstruasi.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitikterhadap 102 pasien yang menggunakan DMPA kurang dari1 tahun dan lebih dari 1 tahun kemudian dianalisis jenisgangguan menstruasi yang dialami selama menggunakankontrasepsi DMPA di RSIA Masyita Makassar. Pengumpulandata dilakukan dengan metode observasi langsung di RSIATahun 2022. Masyita kemudian disusun dalam checklistyang telah disiapkan.Data diolah menggunakan SPSS versi25.0.Hasil: Ada pengaruh yang signifi kan antara lamapenggunaan Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA)dengan siklus menstruasi (p=0,000).Kesimpulan: Adanya Efek dari Jangka Panjang PenggunaanDMPA terhadap gangguan siklus Mentsruasi yangterbanyak yaitu Hipermenore. Hasil ini menunjukkan bahwaPenggunaan Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA)selama > 1 tahun telah menunjukkan banyak efek padagangguan menstruasi dan selanjutnya dapat digunakanoleh bidan dalam memberikan pengetahuan dan konselingkepada pasien yang akan menggunakan DMPA mengenaiefek samping dan resiko penggunaan kontrasepsi yanglebih lama.Kata kunci: Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA),lama pemakaian, siklus menstruasi
Granisetron was more Effective than Ondansetron as Antiemetic in Ovarian Cancer Patients: a Randomized Controlled Trial: Granisetron Lebih Efektif Dibandingkan Ondansetron Sebagai Antiemetik Pada Pasien Kanker Ovarium: Penelitian Uji Acak Terkendali
Objective: To determine the effectiveness of intravenousinjection of granisetron compared to ondansetron inpreventing nausea and vomiting, we used the MASCCAntiemesis Tool (MAT) in ovarian cancer patients undergoingpaclitaxel-carboplatin chemotherapyMethods: This study was conducted as a double-blind,randomized controlled trial. The treatment group received1 mg of granisetron, whereas the control group received8 mg of ondansetron intravenously. Nausea and vomitingwere assessed using the MAT scale at 12 hours, 24 hours,and 48 hours after chemotherapy. The differences in MATscores between the groups were analyzed using the Mann-Whitney test.Results: A total of 60 participants were enrolled in thisstudy. The results indicated that the MAT score at the 12-hour mark significantly differed from the 24-hour and 48-hour MAT scores (p = 0.00, p = 0.00). The MAT scores in thegranisetron group at 12 hours, 24 hours, and 48 hours werestatistically lower compared to the ondansetron group (p =0.00, p = 0.00, p = 0.00).Conclusions: In conclusion, intravenous granisetron provedto be more effective than intravenous ondansetron inpreventing nausea and vomiting among patients with ovariancancer undergoing paclitaxel-carboplatin chemotherapy.Keywords: chemotherapy, granisetron, MAT score,ondansetron, ovarian cancer.AbstrakTujuan: Mengetahui efektivitas perbandingan pemberianinjeksi intravena antara granisetron dan ondansetrondalam mencegah mual dan muntah dengan menggunakanMAT pada pasien dengan kanker ovarium yang mendapatkemoterapi dengan regimen paclitaxel-carboplatin.Metode: Penelitian ini merupakan double blind randomizedcontrolled trial dengan kelompok perlakuan diberikangranisetron 1 mg dan kelompok kontrol yang diberikaninjeksi ondansetron 8mg. Kemudian dilakukan penilaianterhadap mual dan muntah dengan menggunakan skorMAT pada 12 jam, 24 jam, dan 48 jam setelah diberikankemoterapi dengan menggunakan Mann-Whitney testkarena distribusi data tidak normal.Hasil: Total sampel pada penelitian ini adalah 60 subjek.Hasil skor MAT pada 12 jam berbeda bermakna dengan skorMAT 24 jam dan skor MAT 48 jam (p= 0,00, p= 0,00. Terdapatperbedaan bermakna secara statistik pada pengaruh terapigranisetron dan ondansetron terhadap skor MAT 12 jam, 24jam, dan 48 jam (p= 0,00, p= 0,00, p= 0,00).Kesimpulan: Pemberian injeksi granisetron intravena lebihefektif mencegah mual dan muntah dengan menggunakanMAT dibandingkan dengan injeksi ondansetron intravenapada pasien dengan kanker ovarium yang mendapatkemoterapi paclitaxel-carboplatin.Kata kunci: kemoterapi, granisetron, kanker ovarium,ondansetron, skor MAT
Neurodevelopment and Fetal Growth in Fetuses with Congenital Heart Disease: Perkembangan Saraf dan Pertumbuhan Janin dengan Penyakit Jantung Bawaan
Objective: To determine mechanisms underlying fetal growth abnormalities, particularly intrauterine neurodevelopment, in congenital heart defects.
Method: Literature Review
Results: Since intrauterine, smart mechanisms have ensured that blood flow to the central nervous system remains smooth to maintain Neurodevelopment. The mechanism fluctuates to keep oxygen flowing to the brain. Blood with the highest oxygen content should always be pumped to upper body and the head via the heart and the aorta. Aortic arch region contains three major blood vessels, a.Brachiocephalic, a.Carotid communis, and a.Subclavia that bleed the upper body and head, including the brain. So, blood flow from the left heart through the aortic arch is critical for fetal brain growth. If the heart cannot drain blood to the head, brain growth will be jeopardized because hypoxia will interfere with brain growth so will be influence to Neurodevelopment. Impaired blood flow can occur as early as intrauterine, particularly if the fetus has congenital heart disease. Blood flow in the Middle Cerebral Artery (MCA) can be used to measure blood flow in the fetus head. The pulsatility index value can be used to measure blood flow in the MCA, and another parameter is the cardioplacental ratio. There is a decrease in flow to the head in congenital heart disease, which results in a decrease in the Pulsatily index of the MCA and a decrease in the cardioplacental ratio.
Conclusions: Prolonged reduction in cardiac-derived blood flow leads to compromised neurodevelopment. Consequently, timely correction of postpartum heart defects becomes paramount to prevent protracted impairments in brain growth. Failing to address this promptly could also diminish the overall quality of life for children afflicted by congenital heart disease.
Keyword: cardioplacental ratio, middle cerebral artery, congenital heart disease, fetal neurodevelopment.
Keyword: cardioplacental ratio, cerebral media artery, congenital heart disease, fetal neurodevelopment.
Abstrak
Tujuan: Untuk menentukan mekanisme kelainan pertumbuhan janin terutama perkembangan saraf intrauterin pada cacat jantung bawaan.
Metode: Kajian Pustaka
Hasil: Pada kehidupan intrauterin, mekanisme yang baik telah memastikan bahwa aliran darah ke sistem saraf pusat tetap lancar untuk mempertahankan perkembangan saraf. Mekanisme ini berfluktuasi untuk menjaga oksigen tetap mengalir ke otak. Darah dengan kandungan oksigen tertinggi harus selalu dipompa ke otak melalui jantung dan arteri utama ke kepala melalui a.Brachiocephalic, a.Carotid communis, dan a.Subclavia. Pada daerah arkus aorta terdapat tiga pembuluh darah utama yang memperdarahi tubuh bagian atas dan kepala, termasuk otak. Aliran darah ini dipompa melalui jantung kiri melalui arkus aorta. Bila jantung tidak dapat mengalirkan darah ke kepala, maka akan menyebabkan pertumbuhan otak terancam karena hipoksia akan mengganggu pertumbuhan otak, sehingga secara jangka panjang akan berpengaruh terhadap perkembangan saraf fetus. Gangguan aliran darah dapat terjadi sejak dini terutama jika janin memiliki penyakit jantung bawaan. Aliran darah di Arteri Serebri Media (MCA) dapat digunakan untuk mengukur aliran darah pada bagian kepala. Nilai indeks pulsatilitas dapat digunakan untuk mengukur aliran darah di MCA, dan parameter lain adalah rasio kardioplasental. Terdapat penurunan aliran ke kepala pada penyakit jantung bawaan, yang mengakibatkan penurunan indeks Pulsatily pada MCA serta terdapat penurunan rasio kardioplasental.
Kesimpulan: Penurunan perkembangan saraf terjadi ketika aliran darah dari jantung berkurang secara kronis ke daerah kepala janin, sehingga bila terdapat kelainan jantung bawaan pasca persalinan harus diperbaiki segera agar penurunan pertumbuhan otak pada periode pascasalin tidak berlangsung terlalu lama. Bila hal ini terjadi akan menurunkan pula kualitas hidup anak dengan penyakit jantung bawaan.
Kata kunci: arteri serebri media, penyakit jantung bawaan, perkembangan saraf janin, rasio kardioplasenta.
 
The Use of Maternal Early Obstetric Warning Score (MEOWS) as a Tool to Predict Treatment Needs in the Intensive Care Unit in Severe Preeclampsia Patients : Penggunaan Maternal Early Obstetric Warning Score (MEOWS) sebagai Parameter Prediksi Kebutuhan Perawatan Intensive Care Unit (ICU) Pasien Preeklamsia Berat
Maternal and Perinatal Outcomes in Pregnancy Complicated with Pre- and Gestational Diabetes Mellitus
Objective: To analyze maternal and perinatal outcomes in pregnancies complicated by pre-gestational and gestational diabetes.
Methods: This is an analytical observational study with a cross-sectional design. We examined 57 women, 39 of pre-gestational diabetes mellitus (PGDM) women, and 19 had gestational diabetes mellitus (GDM). The data were analyzed using the chi-square and Fisher’s exact test.
Results: There were no maternal deaths in either group. Pre-eclampsia was significantly higher in the PGDM group. Perinatal deaths and asphyxia were the same in both groups. Prematurity was higher in the PGDM group. Neonates of GDM women appeared to be heavier. Intrauterine fetal death (IUFD) rates were higher in the GDM group. Congenital anomalies were found in the GDM group.
Conclusion: There were differences in maternal and perinatal outcomes in both groups, namely pre-eclampsia and congenital anomaly
RELA mRNA Expression in Epithelial Ovarian Cancer: Correlation with rs11820062 Gene Variant: Ekspresi mRNA RELA pada Kanker Ovarium Epitelial : Korelasinya dengan Varian Gen rs11820062
and its correlation to i mRNA expression in low-grade and high-grade EOC’s patients from Dr. Cipto Mangunkusumo General hospital, Indonesia. Methods: This study is cross-sectional with a total of 65 healthy subjects and 80 ovarian biopsies (15 ovarian cysts as expression calibrators, 36 low-grade EOC, and 29 high-grade EOC) were used in this study. The distribution of genotypes and alleles was analyzed using ARMS PCR. The mRNA expressions of RELA were determined by real-time polymerase chain reaction (qPCR) analysis.Results: There was no significant difference between genotype and allele distributions for RELA rs11820062 in normal and case group. RELA relative mRNA expression was significantly higher in low-grade and high-grade EOC compared to in ovarian cysts (p<0.01). RELA rs11820062 CC genotype correlated to higher RELA mRNA relative expression and the TT genotype of RELA rs11820062 correlated with lower RELA mRNA relative expression in low-grade and high-grade EOC.Conclusion: C allele in rs11820062 caused an increased expression of RELA mRNA, which individuals with CC genotype correlated with higher RELA expression in low-grade and high-grade EOC. In contrast, individuals with the T allele of RELA rs11820062 had a protective effect against EOC risk because the RELA TT genotype tended to have a lower RELA mRNA expression in EOC.Keywords: epithelial ovarian cancer, NF-kB, RELA, rs11820062.AbstrakTujuan: Mengetahui distribusi RELA rs11820062 dan korelasinya dengan ekspresi mRNA RELA pada pasien EOC low-grade dan high-grade di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Indonesia.Metode: Penelitian ini merupakan peneliatan potong lintang terhadap 65 sampel darah perempuan normal dan total 80 biopsi kanker ovarium dengan rincian: 15 kista ovarium sebagai kalibrator ekspresi, 36 EOC low-grade, dan 29 EOC high-grade. Distribusi genotipe dan alel dianalisis menggunakan ARMS PCR dan ekspresi mRNA RELA dikuantifikasi menggunakan teknik qPCR. Hasil: Tidak terdapat perbedaan distribusi genotipe dan alel antara kelompok normal dengan kasus EOC. Ekspresi relatif mRNA RELA meningkat secara signifikan pada kelompok EOC low-grade dan high-grade. Individu dengan genotipe RELA rs11820062 homozigot CC memiliki ekspresi mRNA yang lebih tinggi dibandingkan genotipe lain. Sebaliknya individu dengan genotipe TT memiliki korelasi dengan ekspresi mRNA RELA yang lebih rendah pada tipe low-grade dan high-grade EOC. Kesimpulan: Alel C pada RELA rs11820062 menyebabkan peningkatan ekspresi mRNA RELA pada pasien EO yang dilihat dari individu dengan genotipe CC cenderung memiliki ekspresi mRNA RELA yang lebih tinggi pada tipe EOC low-grade dan high-grade. Sebaliknya, individu dengan alel T RELA rs11820062 diduga memiliki efek protektif terhadap risiko EOC karena adanya korelasi antara genotipe TT dengan ekspresi mRNA RELA yang lebih rendah pada EOC.Kata kunci: kanker ovarium epitelial, NF-kB, RELA, rs11820062
Attitude towards COVID-19 Vaccine among Pregnant Women: Sikap terhadap Vaksinasi COVID-19 di kalangan Ibu Hamil
Objective: To assess the perceptions and intentions of pregnant women regarding COVID-19 vaccination and to explore the reasons for vaccine hesitancy as well as acceptance. Methods: This prospective cross-sectional study was conducted in tertiary care hospital in Karnataka. Around 811 pregnant women attending the antenatal clinic were recruited into the study. Data were collected using a face-to-face, anonymous questionnaire written in local language.Results: Eighty six point two percent participants were aged 20 to 30 years and 64.6% had completed their schooling. 94.3% of them were homemakers and 58 % of the participants were in their third trimester. 65.5% of study group members lived in a COVID-supportive environment. Participants with COVID-19 vaccination awareness accounted for 87.4% and 65.4% were willing to receive the same whole heartedly. Our study found that 65.4% of participants were willing to receive covid-19 vaccine. The reasons for refusal were Lack of sufficient information regarding the vaccine, may be harmful to foetus and mother and lack of data proving its quality and efficiency.Conclusion: Pregnant women in the North Karnataka region were highly receptive to COVID-19 immunization. Although a high level of awareness was apparent, the lack of data and fear of side effects were two major concerns for refusal. Confidence in the government and the availability of free vaccines for all have demonstrated a massive impact on vaccination. Keywords: antenatal, covid-19, pregnancy, vaccination.AbstrakTujuan: Menilai persepsi dan keinginan perempuan hamil terkait vaksin COVID-19 dan alasan terkait penerimaan dan juga keraguan terhadap vaksin.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan pendekatan prospektif yang dilakukan di Rumah Sakit Karnataka. Perempuan hamil sebanyak 811 menjadi subjek penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dituliskan dalam Bahasa lokal dan pengumpulan data dilakukan secara tatap muka. Hasil: Sebanyak 86,2 % sampel penelitian berusia 20 hingga 30 tahun dan 64,6% telah lulus sekolah. Sebanyak 94,3% sampel adalah ibu rumah tangga dan 58% dari sampel dengan usia kehamilan pada trimester ketiga. Sebanyak 65,5% grup tinggal pada kondisi. Sebanyak 87,4% sampel sadar akan keutamaan vaksin dan 65,4% bersedia mendapatkan vaksin. Alasan penolakan terhadap vaksin adalah kurangnya pengetahun mengenai vaksin dan ketakutan akan efek sampingnya.Kesimpulan: Perempuan hamil di Karnatakan Utara terbuka terhadap imunisasi COVID-19. Disamping tingginya angka kesadaran akan imunisasi COVID-19, penolakan umumnya didominasi akibat kurangnya pengetahuan dan ketakutan akan efek samping. Keyakinan pada pemerintah dan ketersediaan vaksin secara gratis sangat berpengaruh pada vaksinasi.Kata kunci: antenatal. covid-19, kehamilan, vaksinasi
Antibiotic Use in Caesarean Section among Obstetricians and Gynaecologists in the Second Largest City in Indonesia: Penggunaan Antibiotik pada Operasi Sesar oleh Dokter Obstetri dan Ginekologi di Kota Terbesar Kedua di Indonesia
Objective: To evaluate the pattern of antibiotic use incesarean section `by obstetricians in Surabaya, Indonesia.Methods: This was a descriptive observational study witha cross-sectional method. Study data were obtained fromonline interviews using electronic forms. This study useda total sampling method taken from obstetricians andgynecologists in Surabaya, Indonesia. The primary outcomeof this study was a pattern of antibiotic use, includingprophylactic use, selection of antibiotics, the timing ofadministration, additional antibiotics during and aftersurgery, and consideration of choice.Results: The majority of antibiotics used in CS are in linewith the guidelines. The types of prophylactic antibiotics(iv) used are varied; the majority were cefazoline (74.5%),ceftriaxone (14.5%), and cefotaxime (11.6%). Most antibioticswere administered <30 minutes before surgery. 2.5% ofobstetricians routinely added antibiotics during a cesarean,while 33% were based on a particular condition such asprolonged surgery, massive bleeding, or risk of infections.The selection of antibiotics by obstetricians was based onprotocols followed in the hospital (44.5%).Conclusion: This study demonstrates that most obstetriciansutilized antibiotic prophylaxis appropriately and followedguidelines for Cesarean Section.Keywords: antibiotic, cesarean section, maternal health,obstetricians.AbstrakTujuan: Untuk mengevaluasi pola penggunaan antibiotikpada seksio sesarea oleh dokter kandungan di Surabaya,Indonesia.Metode: Ini merupakan studi deskriptif observasionaldengan metode pengambilan data potong lintang. Datastudi diperoleh dari wawancara online dengan menggunakanformulir elektronik. Studi ini menggunakan total samplingdari dokter obstetri dan ginekologi di Surabaya, Indonesia.Hasil utama dari penelitian ini adalah pola penggunaanantibiotik, termasuk penggunaan profi laksis, pemilihanantibiotik, waktu pemberian, antibiotik tambahan selamadan setelah operasi, dan pertimbangan pilihan antibiotiktersebut.Hasil: Mayoritas antibiotik yang digunakan pada seksiosesarea sesuai dengan pedoman. Jenis antibiotik profi laksis(iv) yang digunakan bervariasi, mayoritas adalah cefazoline(74,5%), ceftriaxone (14,5%), dan cefotaxime (11,6%).Sebagian besar antibiotik diberikan <30 menit sebelumoperasi. 2,5% dokter kandungan rutin menambahkanantibiotik saat operasi sesar, sedangkan 33% didasarkanpada kondisi tertentu seperti operasi yang berkepanjangan,perdarahan masif, atau risiko infeksi. Pemilihan antibiotikoleh dokter kandungan berdasarkan protokol yang diikutidi rumah sakit (44,5%).Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa sebagian besardokter kandungan menggunakan profi laksis antibiotikdengan tepat dan mengikuti pedoman untuk operasi seksiosesaria.Kata kunci: antibiotik, dokter kandungan, kesehatan ibu,operasi sesar
Role of Platelet-Rich Plasma Application on Mesh-Tissue Integration: Peran Aplikasi Platelet-Rich Plasma pada Integrasi Mesh dengan Jaringan
AbstractObjective: To review the advantage of PRP use on mesh-augmented surgery.Methods: Literature review of PRP application of mesh.Results: The application of PRP on mesh shows potential promising outcome.Conclusion: PRP may improve the mesh-tissue integration.Keywords: mesh-augmented surgery, pelvic organ prolapse, platelet-rich plasma, wound healing.AbstrakTujuan: Untuk menganalisa keuntungan penggunaan PRP pada pembedahan rekonstruktif dengan mesh.Metode: Kajian pustaka dari penggunaan PRP pada pembedahan rekonstruktif dengan mesh.Hasil: Aplikasi PRP pada mesh menunjukkan hasil yang positif.Kesimpulan: Aplikasi PRP dapat meningkatkan integrasi mesh dengan jaringanKata kunci: pembedahan rekonstruksi dengan mesh, penyembuhan luka, platelet-rich plasma, prolaps organ panggul