Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia (JMPI)
Not a member yet
334 research outputs found
Sort by
Flavonoid Identification and Antioxidant Activity of Graded Extracts from Kesambi (Schleichera oleosa) Leaves
Flavonoids are secondary metabolites widely distributed in plants and are recognized for their antioxidant potential, which plays a vital role in neutralizing free radicals and protecting against oxidative stress. Schleichera oleosa (kesambi) leaves are known to contain bioactive compounds, yet comprehensive studies on their flavonoid composition and antioxidant activity remain limited. This study aimed to identify flavonoid groups present in graded extracts of kesambi leaves and to evaluate their antioxidant activity. Graded maceration was performed sequentially with solvents of increasing polarity (n-hexane, ethyl acetate, and methanol). Flavonoids were identified through colorimetric reactions using specific reagents, while antioxidant activity was determined using the DPPH radical scavenging assay, with IC?? values calculated by linear regression. The results showed that n-hexane extract contained flavanones, ethyl acetate extract contained flavones, isoflavones, and flavonols, while methanol extract contained chalcones and aurones. Antioxidant testing revealed that methanol extract exhibited the strongest activity (IC?? = 9.65 ± 0.81 ppm), categorized as very strong, whereas ethyl acetate (IC?? = 102.46 ± 6.82 ppm) and n-hexane (IC?? = 141.67 ± 15.74 ppm) showed moderate activity. These findings confirm that solvent polarity greatly influences both flavonoid composition and antioxidant potency, with methanol extract emerging as the most promising natural antioxidant source. The study provides scientific support for the traditional use of kesambi leaves and highlights their potential for pharmaceutical and nutraceutical applications
Karakterisasi Senyawa dan Aktivitas Antidiabetik Ekstrak Etanol Batang Kesum Polygonum minus Huds. Pada Tikus Hiperglikemik
Tanaman Kesum (Polygonum minus Huds) banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan Barat sebagai bahan makanan bubur pedas. Kesum memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji lebih jauh mengenai kandungan senyawa dan manfaat batang tanaman kesum yang berpotensi sebagai obat herbal bagi khususnya sebagai antidiabetik. Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 6 kelompok (KN : kel. normal, K- : kel. negatif (STZ), K+ : kel. Positif (STZ+metformin), P1 : kel. Perlakuan I (STZ+ ekstrak 25 mg/200g), P2 : kel. Perlakuan II (STZ+ ekstrak 50 mg/200g), P3 : kel. Perlakuan III (STZ+ekstrak 100mf/200g) dengan masing-masing 6 sampel tikus perlakuan. Analisis kandungan senyawa bioaktif dengan GC-MS, penentuan glukosa darah secara spektrofotometri, profil darah menggunakan hematology analyzer dengan prinsip impedance dan histopatologi pancreas dengan pewarnaan jaringan H&E. Analisis GC-MS ekstrak etanol batang kesum diperoleh senyawa yang dominan yaitu didominasi oleh Cyclopentadecanone;Cyclopropanetetradecanoic acid; Hexadecanoic acid; Borane, diethylmethyl-, 9-Octadecenal, Hexadecanoic acid, Urs-12-en-28-al. Senyawa tersebut dilaporkan diduga memiliki aktivitas bioaktif sebagai obat. Data yang didapatkan dianalisis dengan ANOVA one-way. Hasil pemeriksaan glukosa darah mengalami penurunan dengan dilakukan pemberian terapi ekstrak batang kesum. Profil darah pada parameter leukosit dan trombosit mengalami perbaikan dengan penurunan yang signifikan serta jumlah eritrosit, nilai hemoglobin dan hematokrit juga mengalami peningkatan sebagai tanda adanya perbaikan kondisi. Histopatologi pankreas menunjukan perbaikan sel endokrin dan ukuran diameter pulau Langerhans. Kesimpulan dari penelitian yaitu berdasarkan analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada setiap kelompok perlakuan
Pengaruh Bentuk Sediaan Kosmetik Ekstrak Etanol Kulit Buah Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Stabilitas Fisika dan Kimia
Kulit adalah lapisan terluar tubuh yang berperan melindungi terhadap patogen. Paparan sinar matahari berlebih memicu pembentukan radikal bebas yang merusak integritas kulit. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh bentuk sediaan kosmetik (gel dan spray) yang mengandung ekstrak etanol kulit buah pepaya terhadap stabilitas fisika dan kimia. Kulit buah pepaya (Carica papaya L.) dikenal kaya senyawa bioaktif dengan potensi antioksidan. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi perkolasi menggunakan pelarut etanol 70% diperoleh rendemen 42,2%. Uji stabilitas dilakukan dengan metode cycling test. Parameter stabilitas fisik meliputi evaluasi organoleptis, homogenitas, pengukuran pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas. Kedua sediaan menunjukkan perubahan variatif namun tetap berada dalam batas stabilitas yang ditentukan sepanjang masa penyimpanan. Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan sebelum dan setelah 12 hari penyimpanan, menunjukkan penurunan signifikan pada kedua sediaan. Analisis data menggunakan SPSS 26.0 dengan uji Repeated Measures ANOVA, Friedman dan Wilcoxon. Hasil diperoleh bahwa bentuk sediaan gel dan spray secara signifikan memengaruhi pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas dengan nilai Sig. <0,05
Optimasi Ekstrak Daun Salam (Syzygium Polyanthum) Menggunakan Metode Konvensional dan Green Extraction Serta Profil Kimia dan Potensi Antioksidannya
Daun salam (Syzygium polyanthum) adalah tanaman rempah yang dikenal memiliki kandungan fitokimia seperti flavonoid, tanin, dan terpenoid yang bermanfaat untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan metode ekstraksi pada daun salam (Syzygium polyanthum) menggunakan metode konvensional (maserasi) dan green extraction, yaitu Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) dan Microwave-Assisted Extraction (MAE), serta untuk mengidentifikasi profil senyawa kimia dan potensi antioksidan dari ekstrak yang dihasilkan. Perbandingan langsung antara metode konvensional dan green extraction untuk mengoptimalkan potensi bioaktifnya merupakan kebaruan dari penelitian ini. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan metode ekstraksi yang ramah lingkungan dan efisien serta mendukung pemanfaatan tanaman lokal sebagai sumber alami antioksidan potensi dalam aplikasi farmasi dan pangan. Analisis karakterisasi senyawa bioaktif dilakukan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) dan pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode peredaman radikal bebas DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode green extraction khususnya UAE dan MAE lebih efektif dalam mengekstrak senyawa bioaktif dengan peningkatan jumlah senyawa terekstraksi dibandingkan metode maserasi. Sebanyak 41 senyawa bioaktif termasuk golongan alkaloid, fenol, terpenoid dan asam lemak hanya ditemukan melalui metode green extraction. Dari pengujian antioksidan, semua ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat (nilai IC50 <50 ppm). Ekstrak UAE menunjukkan aktivitas tertinggi dengan IC50 sebesar 10,22 ppm, diikuti MAE dengan IC50 sebesar 19,30 ppm, sedangkan maserasi menghasilkan IC50 sebesar 27,28 ppm
Review : Alirocumab dan Evolocumab sebagai Agen Penurun Lipid Baru
Angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular di seluruh dunia masih relatif tinggi. Salah satu faktor risikonya adalah LDL-C (low density lipoprotein cholesterol), di mana memodifikasi faktor ini diharapkan dapat mencegah kejadian kardiovaskular. Penghambat PCSK9 (proprotein convertase subtilisin/kexin type 9) adalah agen penurun lipid baru dengan mekanisme yang mempertahankan reseptor LDL-C di dalam darah. Untuk meninjau penelitian terbaru mengenai efektivitas dan keamanan agen penghambat PCSK9, Alirocumab dan Evolocumab, serta potensinya dalam menurunkan kadar lipid. Pencarian literatur menggunakan database elektronik PubMed dengan kata kunci ‘Alirocumab’, ‘Evolocumab’, ‘LDL-C’, ‘Kardiovaskular’, ‘Dislipidemia’, dengan kriteria 5 tahun terakhir dan teks lengkap dalam bahasa Inggris. Dari 12 artikel yang telah disaring kemudian akan direview. Nilai LDL-C menurun secara signifikan rata-rata 53% (11%-72%) dengan efek samping yang ringan, seperti nasofaringitis, diare, dan reaksi tempat suntikan. Alirocumab dan Evolocumab disuntikkan secara subkutan setiap 2 minggu atau 4 minggu. Penghambat PCSK9 berbasis antibodi monoklonal dapat menjadi alternatif untuk pencegahan kardiovaskular berisiko tinggi bagi pasien yang memiliki riwayat dosis statin yang dapat ditoleransi atau pasien yang tidak toleran terhadap statin
Potensi Imunomodulator Fraksi Etil Asetat Biji Jintan Hitam (Nigella sativa L.) terhadap Aktivasi Limfosit T dan Produksi IgG pada Model Tikus
Biji jintan hitam (Nigella sativa L.) merupakan tanaman herbal yang dikenal memiliki aktivitas sebagai imunomodulator, khususnya dalam meningkatkan fungsi sel imun dan produksi antibodi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan aktivitas fraksi etil asetat biji jintan hitam pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% terhadap sel limfosit T (CD4+ dan CD8+) serta kadar imunoglobulin G (IgG). Metode pada penelitian ini merupakan metode kuantitatif dengan desain eksperimental dilakukan secara in vivo menggunakan 18 ekor tikus jantan yang dibagi 6 kelompok dengan 3 kelompok uji dan 3 kelompok kontrol. Analisis senyawa dilakukan dengan GC-MS, nilai sel limfosit T diukur dengan Flow Cytometry, sedangkan nilai imunoglobulin G (IgG) diukur menggunakan ELISA Reader. Hasil penelitian bahwa fraksi etil asetat biji jintan hitam mengandung 79 senyawa metabolit. Nilai sel limfosit T (CD4+ dan CD8+) menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan, akan tetapi kelompok 3 fraksi etil asetat konsentrasi 20% memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai sebesar 97,06%. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji statistik One-Way ANOVA. Hasil penelitian nilai imunoglobulin G (IgG) menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dengan nilai sig. <0.05 dan aktivitas tertinggi serta fraksi yang paling baik terdapat pada kelompok 3 fraksi etil asetat konsentrasi 20% sebesar ±278,740 ng/mL. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat jintan hitam konsentrasi 20% berpotensi sebagai imunomodulator yang aman, serta dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, khususnya pada kondisi penurunan fungsi imun. Temuan ini menambah pengetahuan tentang potensi jintan hitam sebagai imunomodulator dan dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya guna mengetahui senyawa aktif serta cara kerjanya lebih jelas
Pengaruh Konsentrasi, Suhu dan Waktu Fermentasi Kombucha Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Terhadap Aktivitas Antibakteri Escherichia coli
Kombucha menggunakan kultur simbiotik (SCOBY) memiliki aktivitas antibakteri. Fermentasi kombucha dipengaruhi konsentrasi, suhu dan waktu untuk mendapatkan produk metabolit. Bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu, waktu dan konsentrasi fermentasi kombucha rosella terhadap aktivitas antibakteri E. coli. Fermentasi kombucha rosella dilakukan dengan variasi konsentrasi 30, 40, dan 50%, suhu fermentasi 25, 4, dan 37°C, dan lama fermentasi 7, 14, dan 21 hari. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dan dilusi. Pengamatan kebocoran ion dilakukan dengan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, terhadap ketebalan SCOBY. Semakin tinggi konsentrasi, suhu dan waktu makin tebal SCOBY, hasil konsentrasi 50%, suhu 37°C dan waktu 21 hari menghasilkan ketebalan SCOBY 1,3 cm. Pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, terhadap pH dan % total asam. Semakin tinggi konsentrasi, suhu dan waktu makin tebal asam dan jumlah total asam makin meningkat. Pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, fermentasi kombucha rosella terhadap aktivitas antibakteri E. coli menunjukkan semua hasil fermentasi berbeda secara signifikan dengan kontrol negatif. Kombucha yang difermentasi dengan konsentrasi 50% pada suhu 37°C selama 21 hari memiliki perbedaan signifikan dibanding kelompok lain dalam menghambat E. coli dengan nilai Sig. (p-value) < 0,05. Hasil uji aktivitas antibakteri kombucha uji teraktif pada fermentasi dengan konsentrasi 50%, suhu 37C, hari ke-21 zona hambat sebesar 16,7 ± 0,10 mm. Konsentrasi Bunuh Minimal kombucha rosella pada konsentrasi 25%. Hasil AAS membuktikan adanya kebocoran membran sel dengan peningkatan ion K? dan Ca²? dibandingkan tanpa perlakuan
Formulation Optimization and Antibacterial Activity of Citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) Topical Gel Spray Against Staphylococcus aureus Using a Simplex Lattice Design
Atopic dermatitis is skin inflammation in the form of dermatitis caused by Staphylococcus aureus bacterial infection. Citronella essential oil has the potential as an active ingredient in spray gel preparations to help overcome atopic dermatitis due to Staphylococcus aureus bacterial infection. The aim is to determine the optimal spray gel formula from citronella essential oil (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) and antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria. The methods material optimized are Na-CMC, Propylene glycol, and tween 20. Evaluation of the preparation in the form of organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, drying time, spraying patterns, yeast mold numbers using the spread plate method, and antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria using the good diffusion method. The results of the concentration of Na-CMC: Propylene glycol: Tween 20 (0.27: 4.72: 10) produced an optimal preparation formula. The spray gel is milky white, has a distinctive lemongrass odor, and is slightly thick. The spray gel is homogeneous with a pH of 4.94 ± 0.16, a viscosity of 76.73 ± 7.01 cPs, and a drying time of 3.60 ± 0.40 minutes. The mold/yeast count test showed that the spray gel was free from mold/yeast contamination and was stable at storage temperatures of 4?C and 40?C. The results of antibacterial activity were able to inhibit Staphylococcus aureus bacteria with an inhibition zone diameter of 6.85 mm ± 2.80. Conclusion: Na-CMC concentration of 0.27%, Propylene Glycol concentration of 4.72%, and Tween 20 concentration of 10% produced optimal spray gel and inhibited Staphylococcus aureus
Hypoglycemic Effect of Ethanol Extract of Snake Fruits Skin (Salacca edulis R.) in Rats (Rattus novergicus) Wistar Induced By Alloxan
Objective: This study was conducted to determine the effect of reducing blood sugar levels from ethanolic extract of snake fruit peel on male Wistar rats induced by alloxan with fasting blood glucose (FBS) parameters. Method: A total of 30 male Wistar rats were divided into 6 groups (N = 5). Group I (normal control) was not given any treatment. Group II (negative control) was only induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats i.p. Group III (positive control) was induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats then treated with glibenclamide 0.9 mg/200gBW. Groups IV; V; VI were induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats then treated with ethanolic extract of snake fruit peel 2.88 mg/200gBW and 5.76 mg/200gBW; and 11.52 mg/200gBW. Snake fruit peel extract was given from the 4th day to the 27th day. Fasting blood glucose levels were measured on day 0, day 4, day 11, and day 28. Results: The results of qualitative research showed that snake fruit skin contains flavonoid and terpenoid compounds. This study also showed that male Wistar rats experienced a decrease in blood glucose but had not reached normal levels after being given extract doses I, II, and III with each final fasting glucose level of 347.98 mg/dL, 364.68 mg/dL, and 308.18 mg/dL. The final results of the study showed that there was normal fasting blood glucose levels in the positive group while the other groups did not. Conclusion: The dose of 11.52 mg/200gBW when compared to the negative group, doses I and II provided a significant effect of lowering blood glucose but were not yet able to lower blood glucose levels to normal
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra L.) pada Indeks Fagositosis Mencit (Mus musculus)
Tanaman benalu mangga memiliki kandungan senyawa seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan polifenol yang mana kandungan tersebut berpotensi sebagai antiinflamasi, antioksidan, antikanker, dan immunomodulator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas pada indeks fagositosis dari ekstrak etanol daun benalu mangga pada mencit yang diinduksi karbon. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit jantan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (CMC Na), kelompok kontrol positif (methylprednisolon) dengan dosis 1,04 mg/kg BB mencit, dan kelompok perlakuan ekstrak dosis 420 mg/kg BB, 840 mg/kg BB, dan 1.680 mg/kg BB. Mencit diberi perlakuan selama 7 hari peroral dan pada hari ke-8 diinduksi karbon secara intravena melalui ekor mencit. Metode yang digunakan adalah metode bersihan karbon dengan parameter indeks fagositosis mencit dan persentase indeks organ limpa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun benalu mangga memiliki aktivitas penurunan pada indeks fagositosis dan persentase indeks organ limfa. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun benalu mangga memiliki aktivitas dengan penurunan indeks dan persentase indeks organ limfa dengan dosis efektif 840 mg/kgBB yang sebanding dengan kontrol positif