Bali Medika Jurnal (BMJ)
Not a member yet
    225 research outputs found

    Prevalensi dan Derajat Anemia pada Pasien Chronic Kidney Disease Hemodialisis di Purwokerto

    Full text link
    Anemia merupakan komplikasi utama pada pasien gagal ginjal kronik (CKD) yang memperburuk kualitas hidup dan meningkatkan morbiditas. Data mengenai profil anemia pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis di rumah sakit di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan derajat anemia pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis di RST Wijayakusuma Purwokerto serta faktor-faktor yang berhubungan. Metode: Studi cross-sectional ini melibatkan 119 pasien CKD dewasa yang menjalani hemodialisis rutin minimal tiga bulan. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara karakteristik pasien dengan derajat anemia. Hasil: Mayoritas pasien berusia 55–64 tahun (31,1%) dan berjenis kelamin laki-laki (63,9%). Sebagian besar (54,6%) mengalami anemia berat (Hb <8 g/dL), dengan prevalensi tertinggi pada pasien dengan durasi CKD >12 bulan (53,4%) dan lama hemodialisis 13–24 bulan (59,5%). Terdapat hubungan signifikan antara durasi CKD dan lama hemodialisis dengan derajat anemia (p<0,05). Simpulan: Anemia berat sangat umum ditemukan pada pasien CKD hemodialisis di RST Wijayakusuma Purwokerto, terutama pada mereka dengan durasi penyakit dan terapi yang lebih lama. Temuan ini menekankan pentingnya deteksi dini dan penatalaksanaan anemia secara optimal pada populasi ini.   Anemia is a major complication in patients with chronic kidney disease (CKD) that worsens quality of life and increases morbidity. Statistics on the profile of anemia in CKD patients undergoing hemodialysis in secondary hospitals in Indonesia is still limited. Purpose: This study aims to analyze the characteristics and degree of anemia in CKD patients undergoing hemodialysis at Wijayakusuma Hospital in Purwokerto, as well as related factors. Method: This cross-sectional study involved 119 CKD patients adult undergoing routine hemodialysis for at least three months. Data were collected from medical records and analyzed statistically using the chi-square test to examine the relationship between patient characteristics and the degree of anemia. Results: The majority of patients were aged 55–64 years (31.1%) and male (63.9%). Most (54.6%) had severe anemia (Hb <8 g/dL), with the highest prevalence among patients with a duration of chronic kidney disease (CKD) >12 months (53.4%) and hemodialysis duration of 13–24 months (59.5%). There was a significant association between the duration of CKD and the duration of hemodialysis with the severity of anemia (p<0.05). Conclusion: Severe anemia is very common in hemodialysis patients with chronic kidney disease in secondary hospitals, especially in those with longer disease duration and therapy. These findings emphasize the importance of early detection and optimal management of anemia in this population.Anemia merupakan komplikasi utama pada pasien gagal ginjal kronik (CKD) yang memperburuk kualitas hidup dan meningkatkan morbiditas. Data mengenai profil anemia pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis di rumah sakit di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan derajat anemia pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis di RST Wijayakusuma Purwokerto serta faktor-faktor yang berhubungan. Metode: Studi cross-sectional ini melibatkan 119 pasien CKD dewasa yang menjalani hemodialisis rutin minimal tiga bulan. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara karakteristik pasien dengan derajat anemia. Hasil: Mayoritas pasien berusia 55–64 tahun (31,1%) dan berjenis kelamin laki-laki (63,9%). Sebagian besar (54,6%) mengalami anemia berat (Hb <8 g/dL), dengan prevalensi tertinggi pada pasien dengan durasi CKD >12 bulan (53,4%) dan lama hemodialisis 13–24 bulan (59,5%). Terdapat hubungan signifikan antara durasi CKD dan lama hemodialisis dengan derajat anemia (p<0,05). Simpulan: Anemia berat sangat umum ditemukan pada pasien CKD hemodialisis di RST Wijayakusuma Purwokerto, terutama pada mereka dengan durasi penyakit dan terapi yang lebih lama. Temuan ini menekankan pentingnya deteksi dini dan penatalaksanaan anemia secara optimal pada populasi ini.   Anemia is a major complication in patients with chronic kidney disease (CKD) that worsens quality of life and increases morbidity. Statistics on the profile of anemia in CKD patients undergoing hemodialysis in secondary hospitals in Indonesia is still limited. Purpose: This study aims to analyze the characteristics and degree of anemia in CKD patients undergoing hemodialysis at Wijayakusuma Hospital in Purwokerto, as well as related factors. Method: This cross-sectional study involved 119 CKD patients adult undergoing routine hemodialysis for at least three months. Data were collected from medical records and analyzed statistically using the chi-square test to examine the relationship between patient characteristics and the degree of anemia. Results: The majority of patients were aged 55–64 years (31.1%) and male (63.9%). Most (54.6%) had severe anemia (Hb <8 g/dL), with the highest prevalence among patients with a duration of chronic kidney disease (CKD) >12 months (53.4%) and hemodialysis duration of 13–24 months (59.5%). There was a significant association between the duration of CKD and the duration of hemodialysis with the severity of anemia (p<0.05). Conclusion: Severe anemia is very common in hemodialysis patients with chronic kidney disease in secondary hospitals, especially in those with longer disease duration and therapy. These findings emphasize the importance of early detection and optimal management of anemia in this population

    Perbedaan Intensitas Dismenore Primer Sebelum Dan Sesudah Pemberian Air Kelapa Hijau Mulung (Cocos rubescens) Pada Remaja Putri

    No full text
    Latar belakang: Dismenore primer mengganggu kualitas hidup 50–90% remaja putri secara global. Intervensi nonfarmakologis berbasis lokal seperti air kelapa hijau menawarkan alternatif aman dan terjangkau. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas air kelapa hijau varietas Mulung terhadap intensitas dismenore primer. Metode: Studi pre-eksperimental one-group pretest-posttest pada 31 remaja putri di Denpasar. Intervensi: 250 mL air kelapa hijau Mulung, 2×/hari selama 2 hari pertama menstruasi. Intensitas nyeri diukur dengan Numeric Rating Scale (NRS 0–10). Analisis menggunakan uji Wilcoxon (α = 0,05). Hasil: Median skor NRS turun signifikan dari 5,0 (IQR: 4–6) menjadi 2,0 (IQR: 0–3) setelah intervensi (Z = –4,904, p < 0,001). Sebanyak 42% responden (n=13) tidak lagi merasakan nyeri (skor = 0). Air kelapa Mulung mengandung kalsium (37,25 mg/250 mL), magnesium (24,45 mg), dan vitamin C (14,014 mg)—nutrien yang berperan dalam relaksasi otot dan inhibisi prostaglandin. Simpulan: Air kelapa hijau Mulung secara signifikan mengurangi intensitas dismenore primer dalam 48 jam. Intervensi ini layak dipertimbangkan sebagai strategi pengelolaan nonfarmakologis yang terjangkau dan berbasis budaya lokal.ABSTRAK   Angka prevalensi dismenore primer di kalangan remaja putri berdasarkan informasi dari Kota Denpasar pada tahun 2019 menunjukkan bahwa 74,42% remaja putri mengalami dismenore dari tingkat ringan hingga berat. Penanganan untuk dismenore primer dapat dilakukan melalui pengobatan dengan obat dan metode non-obat, salah satu contohnya adalah penggunaan air kelapa hijau. Riset ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pada tingkat dismenore primer baik sebelum maupun setelah mengkonsumsi air kelapa hijau di kalangan remaja perempuan. Penelitian dilaksanakan antara 15 Maret 2024 hingga 08 April 2024 dengan metode desain pre-eksperimental yang menggunakan satu grup dengan pengujian sebelum dan sesudah. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 31 gadis remaja di STT Werdhi Sentana, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan mengevaluasi tingkat dismenore primer sebelum dan sesudah mengonsumsi air kelapa hijau sebanyak 250 ml dua kali sehari selama 2 hari. Hasil analisis statistik menggunakan uji wilcoxon menunjukkan nilai sig. 0,000 (< 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan tingkat dismenore primer sebelum dan setelah pemberian air kelapa hijau kepada gadis remaja. Diharapkan gadis remaja dapat menerapkan dan memperluas pemahaman mereka tentang penanganan dismenore primer dengan metode tanpa obat melalui konsumsi air kelapa hijau. Kata kunci : remaja putri, dismenore primer, air kelapa hijau mulun

    The Perbedaan Hasil Pemeriksaan Human Chorionic Gonadrotopin (Hcg) Menggunakan Strip Test Kadaluarsa Dan Tidak Kadaluarsa

    No full text
    Latar belakang: Strip test human chorionic gonadotropin (hCG) merupakan alat diagnostik kehamilan yang umum digunakan, tetapi performanya bergantung pada integritas reagen dalam masa berlaku. Di fasilitas berdaya terbatas, penggunaan strip test kadaluarsa masih kerap terjadi, berpotensi menyebabkan hasil yang tidak akurat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi dampak kedaluwarsa (1 dan 2 tahun) terhadap keandalan hasil strip test hCG dibandingkan dengan strip test yang masih dalam masa berlaku. Metode: Studi eksperimen analitik dilakukan pada 22 sampel urin ibu hamil. Setiap sampel diuji secara paralel menggunakan strip test dari merek yang sama dalam tiga kondisi: tidak kadaluarsa, kadaluarsa 1 tahun, dan kadaluarsa 2 tahun. Hasil dinilai secara blinded menggunakan skala ordinal (0–3). Data dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed-Rank (α = 0.05). Hasil: Terdapat perbedaan signifikan antara ketiga kelompok (p < 0.05). Strip test kadaluarsa 2 tahun gagal menghasilkan positif jelas pada seluruh sampel, dengan 13,6% menghasilkan negatif palsu. Simpulan: Masa kedaluwarsa secara progresif menurunkan sensitivitas strip test hCG. Penggunaan strip test di luar masa berlaku, bahkan hanya 1 tahun, berisiko tinggi dan tidak direkomendasikan dalam praktik klinis.Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah zat kimia yang dihasilkan oleh jaringan trofoblas, jaringan yang biasanya ditemukan pada embrio awal dan yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari plasenta. Salah satu cara mendeteksi hormon HCG pada ibu hamil yaitu dengan pemeriksaan HCG menggunakan metode strip test dengan sampel urine, akan tetapi strip test memiliki masa kadaluarsa yang menyebabkan hasil tidak akurat. Namun dari realisasi yang ditemukan ternyata banyak seperti instansi kesehatan maupun pelayanan kesehatan menggunakan strip test yang telah kadaluarsa untuk melakukan pemeriksaan kehamilan karena alasan  menghemat anggaran atau pengeluaran, biaya terbatas dan keterbatasan akses ke tes kehamilan baru, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan Human Chorionic Gonadrotopin  (HCG) menggunakan strip test kadaluarsa dan tidak kadaluarsa. Metodologi penelitian jenis penelitian ini adalah analitik eksperimen dengan sampel urin ibu hamil, teknik sampling dengan metode acak, penentuan jumlah sampel menggunakan rumus slovin, jumlah populasi 22 ibu hamil, prosedur dinyatakan invalid (kode 0), negatif (kode 1), positif tipis (kode 2), positif (kode 3). Hasil pemeriksaan HCG menggunakan strip test kadaluarsa 1 tahun dengan strip test tidak kadaluarsa adalah 3.50, sedangkan strip test kadaluarsa 2 tahun dengan strip test tidak kadaluarsa adalah 11.50 dan strip test kadaluarsa 1 tahun dengan strip test kadaluarsa 2 tahun adalah 8.50. Analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon, strip test kadaluarsa 1 tahun dengan strip test tidak kadaluarsa didapatkan nilai 0.014 < 0.05, strip test kadaluarsa 2 tahun dengan strip test tidak kadaluarsa didapatkan nilai 0.000 < 0.05 dan strip test kadaluarsa 1 tahun dengan strip test kadaluarsa 2 tahun didapatkan nilai 0.000 < 0.05. Kesimpulan terdapat perbedaan hasil pemeriksaan HCG menggunakan metode strip test kadaluarsa dan tidak kadaluarsa

    LITERATURE REVIEW PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU PENDERITA HALUSINASI PENDENGARAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA

    No full text
    Skizofrenia merupakan penyakit mental kronis serius yang ditandai dengan terganggunya proses berpikir sehingga memengaruhi perilaku. Skizofrenia seringkali disertai dengan halusinasi. 70% orang mengalami halusinasi pendengaran. Terapi musik membuktikan adanya perubahan yang cukup signifikan terhadap penurunan dan perubahan yang dialami klien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik terahadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien dengan penyakit skizofrenia. Literature review dilakukan melalui pencarian artikel di database Goggle Scholar, Pub Med dan Science direct. Menggunakan kata kunci “Music therapy,” OR “Music intervention,” AND “Schizophrenia,” OR “Psychotic disorders,” AND “Auditory hallucinations,” OR “Hearing voices,” AND “changes in behavior.” Seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi: publikasi 10 tahun terakhir, tersedia full-text, dan sesuai topik penelitian. Proses pencarian menghasilkan enam artikel yang dianalisis menggunakan kerangka PRISMA. Dari keenam artikel yang telah ditemukan, sebagian besar artikel menyatakan bahwa terdapat pengaruh pemberian terapi musik terhadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Intervensi dengan durasi yang lebih panjang (≥4 minggu) dan keterlibatan aktif dalam musik cenderung menunjukkan perbaikan perilaku yang lebih besar dibandingkan dengan mendengarkan musik secara pasif saja. Terapi musik, memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Pada pasien skizofrenia, terapi musik membantu mengurangi aktivitas berlebihan di area otak yang bertanggung jawab atas halusinasi pendengaran, memperbaiki pola aktivitas otak, dan menciptakan perubahan perilaku yang lebih positif.Latar Belakang: Skizofrenia merupakan penyakit mental kronis serius yang ditandai dengan terganggunya proses berpikir sehingga memengaruhi perilaku. Skizofrenia seringkali disertai dengan halusinasi. 70% orang mengalami halusinasi pendengaran. Terapi musik membuktikan adanya perubahan yang cukup signifikan terhadap penurunan dan perubahan yang dialami klien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik terahadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien dengan penyakit skizofrenia. Metode: Literature review dilakukan melalui pencarian artikel di database Goggle Scholar, Pub Med dan Science direct. Menggunakan kata kunci “Music therapy,” OR “Music intervention,” AND “Schizophrenia,” OR “Psychotic disorders,” AND “Auditory hallucinations,” OR “Hearing voices,” AND “changes in behavior.” Seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi: publikasi 10 tahun terakhir, tersedia full-text, dan sesuai topik penelitian. Proses pencarian menghasilkan enam artikel yang dianalisis menggunakan kerangka PRISMA Hasil: Dari keenam artikel yang telah ditemukan, sebagian besar artikel menyatakan bahwa terdapat pengaruh pemberian terapi musik terhadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Kesimpulan: Terapi musik, memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Pada pasien skizofrenia, terapi musik membantu mengurangi aktivitas berlebihan di area otak yang bertanggung jawab atas halusinasi pendengaran, memperbaiki pola aktivitas otak, dan menciptakan perubahan perilaku yang lebih positif. Kata Kunci: Terapi Musik, Skizofrenia, Halusinasi Pendengaran, Perubahan Perilaku

    Relaxation–based Immersive Virtual Reality (RIVR) sebagai Strategi Berpusat pada Pasien Untuk Meningkatkan Kenyamanan Selama Hemodialisis

    Full text link
    Latar belakang: Pasien hemodialisis sering mengalami ketidaknyamanan multidimensi selama prosedur yang berlangsung 3–5 jam. Intervensi non-farmakologis berbasis teknologi seperti relaxation-based immersive virtual reality (RIVR) menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan kenyamanan. Tujuan: Menilai efektivitas RIVR terhadap kenyamanan fisik, psikospiritual, sosiokultural, dan lingkungan pada pasien hemodialisis di RSUD Tabanan, Bali. Metode: Studi kuasi-eksperimen dengan desain pre-test/post-test control group melibatkan 42 pasien yang dibagi secara konsekutif menjadi kelompok intervensi (n=21; RIVR berbasis panorama alam selama ±10 menit) dan kelompok kontrol (n=21; perawatan standar berupa leaflet relaksasi). Kenyamanan diukur menggunakan Shortened General Comfort Questionnaire in Indonesian version (SGCQ) dan dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney (α=0.05). Hasil: RIVR secara signifikan meningkatkan skor kenyamanan total (Z = −5.0, p < 0.001), terutama pada domain fisik (p < 0.001), psikospiritual (p < 0.001), dan lingkungan (p = 0.003). Tidak ada perubahan signifikan pada kenyamanan sosiokultural (p = 0.64). Simpulan: RIVR efektif meningkatkan kenyamanan multidimensi pasien hemodialisis dan direkomendasikan sebagai bagian dari perawatan holistik di unit nefrologi.   Background: Patients undergoing hemodialysis frequently experience multidimensional discomfort during prolonged 3–5-hour sessions. Technology-based non-pharmacological interventions such as relaxation-based immersive virtual reality (RIVR) offer a promising approach to enhance patient comfort. Objective: This study aimed to evaluate the effectiveness of RIVR on physical, psychospiritual, sociocultural, and environmental comfort among hemodialysis patients at Tabanan General Hospital, Bali. Methods: A quasi-experimental pre-test/post-test control group design was employed with 42 patients randomly assigned to an intervention group (n = 21; 10-minute nature-based RIVR) or a control group (n = 21; standard care with a relaxation leaflet). Comfort was measured using the validated Indonesian Shortened General Comfort Questionnaire (SGCQ) and analyzed using Wilcoxon signed-rank and Mann–Whitney U tests (α = 0.05). Results: The RIVR group showed a significant improvement in total comfort scores (Z = −5.0, p < 0.001), particularly in physical (p < 0.001), psychospiritual (p < 0.001), and environmental domains (p = 0.003). No significant change was observed in sociocultural comfort (p = 0.64). Conclusion: RIVR is an effective, non-invasive intervention to enhance multidimensional comfort in hemodialysis patients and should be integrated into holistic nephrology care protocols.Latar belakang: Pasien hemodialisis sering mengalami ketidaknyamanan multidimensi selama prosedur yang berlangsung 3–5 jam. Intervensi non-farmakologis berbasis teknologi seperti relaxation-based immersive virtual reality (RIVR) menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan kenyamanan. Tujuan: Menilai efektivitas RIVR terhadap kenyamanan fisik, psikospiritual, sosiokultural, dan lingkungan pada pasien hemodialisis di RSUD Tabanan, Bali. Metode: Studi kuasi-eksperimen dengan desain pre-test/post-test control group melibatkan 42 pasien yang dibagi secara konsekutif menjadi kelompok intervensi (n=21; RIVR berbasis panorama alam selama ±10 menit) dan kelompok kontrol (n=21; perawatan standar berupa leaflet relaksasi). Kenyamanan diukur menggunakan Shortened General Comfort Questionnaire in Indonesian version (SGCQ) dan dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney (α=0.05). Hasil: RIVR secara signifikan meningkatkan skor kenyamanan total (Z = −5.0, p < 0.001), terutama pada domain fisik (p < 0.001), psikospiritual (p < 0.001), dan lingkungan (p = 0.003). Tidak ada perubahan signifikan pada kenyamanan sosiokultural (p = 0.64). Simpulan: RIVR efektif meningkatkan kenyamanan multidimensi pasien hemodialisis dan direkomendasikan sebagai bagian dari perawatan holistik di unit nefrologi.   Background: Patients undergoing hemodialysis frequently experience multidimensional discomfort during prolonged 3–5-hour sessions. Technology-based non-pharmacological interventions such as relaxation-based immersive virtual reality (RIVR) offer a promising approach to enhance patient comfort. Objective: This study aimed to evaluate the effectiveness of RIVR on physical, psychospiritual, sociocultural, and environmental comfort among hemodialysis patients at Tabanan General Hospital, Bali. Methods: A quasi-experimental pre-test/post-test control group design was employed with 42 patients randomly assigned to an intervention group (n = 21; 10-minute nature-based RIVR) or a control group (n = 21; standard care with a relaxation leaflet). Comfort was measured using the validated Indonesian Shortened General Comfort Questionnaire (SGCQ) and analyzed using Wilcoxon signed-rank and Mann–Whitney U tests (α = 0.05). Results: The RIVR group showed a significant improvement in total comfort scores (Z = −5.0, p < 0.001), particularly in physical (p < 0.001), psychospiritual (p < 0.001), and environmental domains (p = 0.003). No significant change was observed in sociocultural comfort (p = 0.64). Conclusion: RIVR is an effective, non-invasive intervention to enhance multidimensional comfort in hemodialysis patients and should be integrated into holistic nephrology care protocols

    Hubungan Spiritual Well-Being Dengan Hardiness Pada Pasien Pasca Stroke

    Full text link
    Pasien pasca stroke sering kehilangan rasa kendali dan makna hidup, sehingga membutuhkan ketangguhan psikologis (hardiness) yang dapat diperkuat melalui kesejahteraan spiritual (spiritual well-being). Tujuan: Mengetahui hubungan spiritual well-being dan hardiness pada pasien pasca stroke di Yayasan Tapasya Stroke Centre Amaranee Tabanan Tahun 2025. Metode: Penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 77 pasien pasca stroke di Yayasan Tapasya Stroke Centre Amaranee Tabanan yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Spiritual Well-Being Scale (SWBS) dan Hardiness Scale. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar subjek penelitian memiliki spiritual well-being pada kategori sedang sebanyak 50 orang (64,9%) dan dimensi hardiness yang dominan adalah dimensi kontrol sebanyak 49 orang (63,6%). Terdapat hubungan positif yang kuat antara spiritual well-being dan hardiness (r = 0,695; p < 0,000), artinya spiritual well-being menjelaskan 48% varians hardiness. Simpulan: Spiritual well-being berperan penting dalam memperkuat ketangguhan psikologis pasien pasca stroke. Temuan ini mendukung pentingnya integrasi intervensi spiritual dalam program rehabilitasi pasca stroke berbasis pendekatan holistik di komunitas.Stroke merupakan kondisi yang dapat menyebabkan gangguan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pada penderitanya. Pasca stroke, pasien menghadapi berbagai keterbatasan yang sering menimbulkan perasaan tidak berguna, stres, dan penurunan kualitas hidup, yang dapat menyebabkan pasien memiliki kepribadian yang lemah. Untuk menghadapi kondisi ini, dibutuhkan kepribadian tangguh atau hardiness. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepribadian hardiness adalah dengan mencapai spiritual well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan spiritual well-being dengan hardiness pada pasien pasca stroke di Yayasan Tapasya Stroke Centre Amaranee Tabanan Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif non-eksperimental dengan desain analitik korelasional dan pendekatan terhadap subjek penelitian dengan cross-sectional. Sampel berjumlah 77 orang yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Spiritual Well-Being Scale (SWBS) dan Hardiness Scale. Analisis data menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar subjek penelitian memiliki spiritual well-being pada kategori sedang sebanyak 50 orang (64,9%) dan dimensi hardiness yang dominan adalah dimensi kontrol sebanyak 49 orang (63,6%). Terdapat hubungan yang signifikan (p-value = 0,000, r = 0,695) antara spiritual well-being dengan hardiness pada pasien pasca stroke di Yayasan Tapasya Stroke Centre Amaranee Tabanan

    THE Perioperative Management of Cesarean Section Patients with Medical Diagnosis G4P3A0 37 Weeks Accompanied by HIV Using Regional Anesthesia Technique (Spinal Neuraxial Blockade) : Perioperative Management of a Patient Undergoing Cesarean Section with a Medical Diagnosis of G4P3A0 at 37 Weeks, Accompanied by HIV, Using Regional Anesthesia Technique (Spinal Neuraxial Blockade)

    No full text
    Latar belakang: Keamanan anestesi spinal pada pasien HIV-positif masih menjadi perdebatan, terutama di fasilitas dengan sumber daya terbatas. Laporan Kasus: Seorang perempuan usia 36 tahun, G4P3A0, 37 minggu kehamilan, HIV-positif (dideteksi 1 bulan sebelumnya), menjalani sectio caesarea elektif. Pasien mengalami anemia (eritrosit 3,29 × 10⁶/µL) dan kecemasan praoperatif. Ia menerima transfusi 2 kolf PRC, premedikasi ondansetron, serta intervensi relaksasi napas dalam. Anestesi spinal dilakukan dengan 20 mg bupivakain hiperbarik di L3–L4. Hipotensi pasca-induksi (90/70mmHg) diatasi dengan Ringer Laktat dan efedrin. Tidak ada komplikasi infeksi atau neurologis hingga 48 jam pascaoperasi. Kesimpulan: Anestesi spinal dapat digunakan secara aman pada pasien HIV-positif yang stabil secara klinis, bahkan tanpa data imunologis lengkap, asalkan didukung manajemen anemia, dukungan psikologis, dan kesiapsiagaan mengatasi komplikasi hemodinamik.Latar Belakang: Manajemen anestesi pada pasien HIV positif yang menjalani sectio caesarea memerlukan perencanaan multidisipliner dan penanganan kondisi komorbid, seperti anemia dan kecemasan. Teknik anestesi regional seperti blok spinal sering kali menjadi pilihan karena efektivitasnya dalam mengurangi paparan obat pada janin dan memberikan analgesia yang adekuat. Laporan Kasus: Seorang perempuan usia 36 tahun, G4P3A0 pada usia kehamilan 37 minggu dengan diagnosis HIV satu bulan sebelumnya, direncanakan menjalani sectio caesarea. Pasien menunjukkan tanda-tanda anemia (eritrosit 3,29 × 10⁶/µL) dan diberikan transfusi 2 kolf PRC. Premedikasi dengan ondansetron 4 mg diberikan, dan teknik relaksasi napas dalam digunakan untuk menurunkan kecemasan dan nyeri pra-operatif. Anestesi spinal dilakukan menggunakan 20 mg bupivakain hiperbarik pada intervertebra L3–L4. Pasca induksi, pasien mengalami hipotensi (90/70 mmHg) yang ditangani dengan Ringer Laktat dan efedrin intravena. Tidak ada komplikasi pascaoperasi yang signifikan. Kesimpulan: Teknik anestesi spinal dapat digunakan secara aman pada pasien HIV positif dengan perencanaan menyeluruh, penatalaksanaan anemia, dan dukungan psikologis yang memadai. Pendekatan individual dan multidisipliner sangat penting untuk memastikan keamanan ibu dan janin

    EDUKASI KESEHATAN DENGAN LEAFLET : SEBUAH INTERVENSI UNTUK MENINGKATKAN KESIAPAN KELUARGA DALAM MENGELOLA STRES DAN PENGASUHAN ANAK DI DUSUN PRABA DESA BATU MEKAR KECAMATAN LINGSAR LOMBOK BARAT

    No full text
    Keluarga dengan anak jarak lahir dekat menghadapi risiko stres tinggi dan tantangan pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas edukasi kesehatan berbasis leaflet dalam meningkatkan kesiapan koping keluarga. Metode yang digunakan adalah studi kasus tunggal di Dusun Praba, Lombok Barat, Mei 2025. Intervensi edukasi diberikan selama 3 hari. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan DASS-42, lalu dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan skor stres menurun dari kategori berat ke sedang; pengetahuan dan strategi koping meningkat signifikan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa leaflet merupakan media edukasi efektif untuk mendukung keluarga di daerah terpencil dengan sumber daya terbatas.ABSTRAK Keluarga dengan anak usia sekolah yang lahir dengan jarak kelahiran dekat menghadapi tantangan khusus yang memerlukan strategi koping yang efektif. Jarak kelahiran yang dekat dapat meningkatkan stres orang tua serta menimbulkan kesulitan dalam penerapan pola asuh yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet dalam meningkatkan kesiapan koping keluarga dalam mengelola stres dan pola asuh anak usia sekolah dengan jarak kelahiran yang dekat. Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di Dusun Praba, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, melibatkan satu keluarga (keluarga Tn. M) dengan anak usia sekolah yang lahir berjarak 1 tahun. Intervensi dilakukan berupa pendidikan kesehatan dengan media leaflet selama 3 hari berturut-turut. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kesiapan koping keluarga dinilai menggunakan instrumen asesmen keperawatan, sedangkan tingkat stres diukur dengan Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42). Setelah intervensi pendidikan kesehatan dengan media leaflet selama 3 hari, keluarga menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kesiapan koping. Penilaian sebelum intervensi menunjukkan tingkat stres tinggi (skor DASS-42: 31–32, kategori berat) serta pemahaman terbatas mengenai strategi pola asuh. Evaluasi setelah intervensi memperlihatkan peningkatan pengetahuan mengenai teknik manajemen stres, pemahaman yang lebih baik tentang pola asuh sesuai usia anak, serta pola komunikasi keluarga yang lebih efektif. Intervensi pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet terbukti efektif meningkatkan kesiapan koping keluarga dalam mengelola stres dan pola asuh anak usia sekolah dengan jarak kelahiran yang dekat. Kata Kunci: koping keluarga, pendidikan kesehatan, media leaflet, anak usia sekolah, jarak kelahiran dekat, keperawatan keluarg

    Hubungan Persepsi Wanita Usia Subur Tentang Inspeksi Visual Asam Asetat Dengan Keteraturan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)

    No full text
    Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) adalah upaya preventif sekunder untuk menekan insiden kanker serviks. Cakupan IVA di Provinsi Bali Tahun 2023 adalah 4,6% dari total jumlah WUS yang terdata. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis korelasi antara persepsi wanita usia subur tentang skrining metode IVA dengan keteraturan pemeriksaan IVA di Puskesmas Gerokgak I Tahun 2024. Sampel yang dipakai sebanyak 188 responden dengan teknik pengambilan sampel nonprobability sampling jenis purposive sampling. Penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif korelasional dengan cross sectional design study. Hasil penelitian menunjukkan persepsi positif sebanyak 80 responden (42,6%) dan persepsi negatif sebanyak 108 responden (57,4%). Responden yang teratur sebanyak 6 responden (3,2%) dan tidak teratur sebanyak 182 responden (96,8%). Berdasarkan uji rank spearman diperoleh nilai p = 0,004 (p < 0,05) dan nilai r yaitu 0,211. Hasil tersebut menjelaskan adanya hubungan antara persepsi wanita usia subur tentang IVA dengan keteraturan dalam melakukan pemeriksaan IVA di Puskesmas Gerokgak I. Saran dalam penelitian ini diharapkan petugas kesehatan meningkatkan kegiatan sosialisasi, edukasi mengenai risiko kanker serviks serta manfaat pemeriksaan IVA.Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) adalah upaya preventif sekunder untuk menekan insiden kanker serviks. Cakupan IVA di Provinsi Bali Tahun 2023 adalah 4,6% dari total jumlah WUS yang terdata. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis korelasi antara persepsi wanita usia subur tentang skrining metode IVA dengan keteraturan pemeriksaan IVA di Puskesmas Gerokgak I Tahun 2024. Sampel yang dipakai sebanyak 188 responden dengan teknik pengambilan sampel nonprobability sampling jenis purposive sampling. Penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif korelasional dengan cross sectional design study. Hasil penelitian menunjukkan persepsi positif sebanyak 80 responden (42,6%) dan persepsi negatif sebanyak 108 responden (57,4%). Responden yang teratur sebanyak 6 responden (3,2%) dan tidak teratur sebanyak 182 responden (96,8%). Berdasarkan uji rank spearman diperoleh nilai p = 0,004 (p < 0,05) dan nilai r yaitu 0,211. Hasil tersebut menjelaskan adanya hubungan antara persepsi wanita usia subur tentang IVA dengan keteraturan dalam melakukan pemeriksaan IVA di Puskesmas Gerokgak I. Saran dalam penelitian ini diharapkan petugas kesehatan meningkatkan kegiatan sosialisasi, edukasi mengenai risiko kanker serviks serta manfaat pemeriksaan IVA.   Kata kunci : persepsi, wanita usia subur, IVA, keteratura

    Optimalisasi Rekam Medis Elektronik: Implikasinya terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan

    Full text link
    Keberhasilan pengelolaan unit rekam medis merupakan faktor krusial dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Pengelolaan yang efektif membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten serta sarana dan prasarana yang memadai. Rumah Sakit Panti Nugroho telah menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) sejak tahun 2022, namun implementasinya belum optimal di seluruh unit pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi penerapan RME dan dampaknya terhadap peningkatan kualitas pelayanan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis diagram fishbone yang mencakup empat aspek utama: man (sumber daya manusia), machine (infrastruktur teknologi), material (integrasi sistem), dan money (anggaran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor man melibatkan kurangnya pelatihan yang memadai, faktor machine terkait dengan infrastruktur TI yang belum optimal, faktor material menunjukkan integrasi sistem yang belum merata, dan faktor money mencerminkan keterbatasan anggaran. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan pelatihan berkelanjutan, peningkatan infrastruktur TI, integrasi sistem RME di seluruh unit pelayanan, serta perencanaan anggaran jangka panjang untuk mendukung pemeliharaan sistem. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi pengelola rumah sakit dan pemangku kebijakan dalam mengimplementasikan RME secara efektif, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.   The successful management of the medical records unit is a crucial factor in improving the quality of health services. Effective management requires the support of competent human resources and adequate facilities and infrastructure. Panti Nugroho Hospital has implemented Electronic Medical Records (RME) since 2022, but its implementation has not been optimal in all service units. This study aims to identify and analyze the factors that influence the optimization of RME implementation and its impact on improving service quality. The method used is descriptive qualitative with fishbone diagram analysis that includes four main aspects: man (human resources), machine (technological infrastructure), material (system integration), and money (budget). The results show that the man factor involves the lack of adequate training, the machine factor is related to the unoptimized IT infrastructure, the material factor shows uneven system integration, and the money factor reflects budget limitations. The implication of this study is the need for increased continuous training, improved IT infrastructure, integration of RME systems in all service units, and long-term budget planning to support system maintenance. This study provides pr actical recommendations for hospital managers and policy makers in implementing RME effectively, which is expected to improve the overall quality of health services.Keberhasilan pengelolaan unit rekam medis merupakan faktor krusial dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Pengelolaan yang efektif membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten serta sarana dan prasarana yang memadai. Rumah Sakit Panti Nugroho telah menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) sejak tahun 2022, namun implementasinya belum optimal di seluruh unit pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi penerapan RME dan dampaknya terhadap peningkatan kualitas pelayanan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis diagram fishbone yang mencakup empat aspek utama: man (sumber daya manusia), machine (infrastruktur teknologi), material (integrasi sistem), dan money (anggaran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor man melibatkan kurangnya pelatihan yang memadai, faktor machine terkait dengan infrastruktur TI yang belum optimal, faktor material menunjukkan integrasi sistem yang belum merata, dan faktor money mencerminkan keterbatasan anggaran. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan pelatihan berkelanjutan, peningkatan infrastruktur TI, integrasi sistem RME di seluruh unit pelayanan, serta perencanaan anggaran jangka panjang untuk mendukung pemeliharaan sistem. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi pengelola rumah sakit dan pemangku kebijakan dalam mengimplementasikan RME secara efektif, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.   The successful management of the medical records unit is a crucial factor in improving the quality of health services. Effective management requires the support of competent human resources and adequate facilities and infrastructure. Panti Nugroho Hospital has implemented Electronic Medical Records (RME) since 2022, but its implementation has not been optimal in all service units. This study aims to identify and analyze the factors that influence the optimization of RME implementation and its impact on improving service quality. The method used is descriptive qualitative with fishbone diagram analysis that includes four main aspects: man (human resources), machine (technological infrastructure), material (system integration), and money (budget). The results show that the man factor involves the lack of adequate training, the machine factor is related to the unoptimized IT infrastructure, the material factor shows uneven system integration, and the money factor reflects budget limitations. The implication of this study is the need for increased continuous training, improved IT infrastructure, integration of RME systems in all service units, and long-term budget planning to support system maintenance. This study provides pr actical recommendations for hospital managers and policy makers in implementing RME effectively, which is expected to improve the overall quality of health services

    211

    full texts

    225

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bali Medika Jurnal (BMJ)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇