Portal Jurnal Elektronik UPG 1945 NTT (Universitas Persatuan Guru)
Not a member yet
    85990 research outputs found

    PENGARUH LATIHAN LARI BOLAK BALIK 20 METER TERHADAP KECEPATAN RENANG GAYA BEBAS

    Full text link
    Pengaruh Latihan Lari Bolak Balik 20 Meter Terhadap Kecepatan Renang Gaya Bebas pada Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Semester II Kelas A Universitas Persatuan Guru 1945 NTT. Jurusan PJKR, FKIP, Universitas Persatuan Guru 1945 NTT. Penelitian ini dilatarbelakangi pada masalah yang ditemui dalam dunia olahraga terkhususnya pada mahasiswa semester II program studi PJKR 1945, dimana banyak mahasiswa yang masih menghadapi kesulitan dalam meningkatkan kecepatan renang gaya bebas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan lari bolak balik 20 meter dapat meningkatkan kecepatan renang gaya bebas pada mahasiswa Pendidikn Jasmani Kesehatan dan Rekreasi semester II kelas A Universitas Persatuan Guru 1945 NTT. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan desain penelitian yaitu One group prestes-post test design . Sampel penelitian terdiri dari satu kelompok eksperimen yang menerima perlakuan melalui latihan lari bolak-balik 20 Meter untuk mengukur kecepatan renang gaya bebas. Penelitian ini menggunakan tes renang gaya bebas yang dilakukan sebelum dan sesudahnya dilakukan sebagai instrumen penelitian atau dengan kata lain tes yang dilakukan berupa pretest dan postest . Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan renang yang diperoleh siswa sebelum dan sesudahnya diberi perlakuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada latihan lari bolak balik 20 Meter terhadap kecepatan renang gaya bebas pada mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Semester II Kelas A Universitas Persatuan Guru 1945 NTT            

    Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Kecemasan Siswa yang Menghadapai Aturan Masuk Sekolah Jam 5 Pagi di SMA Negeri 7 Kota Kupang: Indonesia

    Full text link
    Permasalahan psikologi seperti kecemasan yang dialami oleh siswa seringkali tidak luput dari perhatian karena dianggap sebagai proses perkembangan remaja. Kecemasan merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam. Dalam hal ini bimbingan konseling sangat berperan penting dalam mengatasi kecemasan siswa disekolah. Kecemasan yang dirasa siswa saat menghadapi aturan sekolah jam 05.00 pagi tidak menyenangkan dan diikuti perasaan gelisah, khawatir, dan takut, hal ini sangat berpengaruh pada  tubuh, hingga tubuh dirasa menggigil, menimbulkan banyak keringat, jantung berdegup cepat, lambung terasa mual, tubuh terasa lemas, kemampuan berproduktivitas berkurang. Faktor yang mempengaruhi kecemasan siswa dalam menghadapi aturan sekolah jam 05.00 pagi adalah faktor internal, meliputi faktor individu seperti cemas saat mengingat waktu bel masuk akan berbunyi dan tidak bisa datang sekolah tepat waktu, takut pelajaran pertama akan mengantuk dantidak bisa berpikir dan konsentrasi dalam mengikuti mata pelajaran, sedangkan faktor eksternal meliputi faktor lingkungan seperti seperti orang tua tidak bisa antar ke sekolah dan guru yang tidak bisa bersahabat dengan siswa seperti guru yang pemarah, judes, dan tidak memiliki rasa kepedulian terhadap siswa, guru yang tidak ada toleransi dengan siswa yang terlambat. Hasil dari penelitian ini adalah upaya- upaya yang dilakukan guru bimbingan dan konseling yaitu dengan mengadakan layanan konseling individu dan konseling kelompok dimana layanan konseling kelompok dapat mencegah dan mengentaskan kecemasan siswa saat menghadapi aturan sekolah jam 05.00 pagi

    Makna Kenoto dalam Upacara Adat Perkawinan Etnis Sabu Di Desa Raerobo Kecamatan Sabu Liae Kabupaten Sabu Raijua: Indonesia

    Full text link
    Penelitian dengan judul Makna “Kenoto” Dalam Upacara Adat Perkawinan Etnis Sabu Di Desa Raerobo Kecamatan Sabu Liae Kabupaten Sabu Raijua memiliki tujuana). untuk mengetahui proses “kenoto” dalam adat perkawinan masyarakat sabu b). Untuk menggetahui Makna dan nilai “kenoto” dalam perkawinan adat etnis Sabu di Desa Raerobo. Alasan peneliti mengambil lokasi ini karna di Desa Raerobo masih melakukan tradisi ini, Penentuan informan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu penelitian informan berdasarkan pertimbangan penelitian. Oranng yang menjadi informen adalah tokoh adat dan tokoh masyarakat yang benar-benar mengetahui tentang “Kenoto”.  Sumber data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Kemudian data tersebut dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif yakni dimana data akan di reduksi,untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah penelitian, suatu kebudayaan dapat di jadikan sebagai nilai-nilai dan cara bersikap yang telah melekat dan menjadi ciri kas masyarakatnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa “kenoto” dalam adat perkawinan etnis sabu, merupakan warisan budaya yang di turunkan dari generasi ke generasi sehingga masyarakat sabu masih sangat berpegang tegu pada adat istiadat mereka. Masyarakat sabu meyakini bahwa “kenoto” bukan hanya sebagai tempat sirih pinang, namun memiliki nilai dan makna bagi kehidupan rumah tangga. Research entitled The Meaning of "Kenoto" in the Traditional Sabu Ethnic Marriage Ceremony in Raerobo Village, Sabu Liae District, Sabu Raijua Regency. a). to find out the process of "kenoto" in the marriage customs of the Sabu community b). To find out the meaning and value of "kenoto" in the traditional marriage of the Sabu ethnic group in Raerobo Village. The reason the researcher took this location was because Raerobo Village still carries out this tradition. Determining the informants used in this research was purposive sampling, namely informant research based on research considerations. The people who become informants are traditional leaders and community leaders who really know about "Kenoto".  The data sources used in this research are primary and secondary data sources. Then the data is analyzed using qualitative descriptive techniques, namely where the data will be reduced, to provide a clearer picture and make research easier. A culture can be used as values ​​and ways of behaving that are inherent and characteristic of its society. The results of the research show that "kenoto" in the Sabu ethnic marriage customs is a cultural heritage that has been passed down from generation to generation so that the Sabu people still adhere strictly to their customs. The shabu community believes that "kenoto" is not only a place for betel nut, but has value and meaning for household life

    Ritual Adat Hapo Ana (Syukuran Bayi Baru Lahir) Oleh Penganut Jingitiu Di Sabu Raijua: Indonesia

    No full text
    Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Apa makna dan nilai dari ritual adat hapo ana (syukuran bayi baru lahir) oleh penganut jingitiu di Desa Eimadake Kecamatan sabu Tengah Kabupaten sabu raijua. Yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa eimadake Kecamatan sabu tengah Tengah Kabupaten sabu raijua, alasan peneliti mengambil lokasi ini karena di Desa eimadake masih melakukan tradisi ini dan belum pernah ada yang melakukan penelitian ilmiah tentang kebudayaan. Suatu kebudayaan dapat dirumuskan sebagai seperangkat nilai-nilai dan cara berlaku (artinya kebiasaan) yang dipelajari pada umumnya dimiliki oleh para warga dari suatu masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam ritual adat hapo ana (syukuran bayi baru lahir) oleh penganutu jingitiu  dikatakan membudaya, karena dalam setiap masyarakat jingitiu yang melahirkan harus ada ritual adat hapo ana di Desa Eimadake.  Makna ritual adat hapo ana (syukuran bayi baru lahir) oleh penganut jingitiu  yakni merupakan ungkapan rasa syukur keluarga atas karunia yang diberikan dan juga proses ritual yang dilakukan merupakan proses dimana seorang anak secara resmi diakui keberadaannya di tengah masyarakat dengan keyakinan bahwa anak yang di Hapo Ana nantinya akan tumbuh menjadi anak yang berguna dalam kehidupan keluarga serta membanggakan keluarga

    UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN GERAKAN ROLL DEPAN MELALUI VARIASI PEMBELAJARAN SISWA KELAS IX SMP KIHADJAR DEWANTORO KUPANG

    Full text link
    Masalah utama yang dihadapi oleh para siswa di SMP Ki Hafjar Dewantoro Kupang adalah melakukan rol depan. Berkaitan dengan permasalahan di atas maka, peneliti terterik untuk melakukan penelitian, dengan bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan gerakan roll ke depan melalui variasi pembelajaran pada siswa kelas IX SMP Kihadjar Dewantoro Kupang. jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bahasa Ingris disebut Classroom Action Research, disingkat CAR. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh    siswa kelas IX Smp Ki Hadjar Dewantoro Kupang berjumlah 42. Sampel penelitian ini berjumlah 15 orang. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan roll ke depan melalui variasi pembelajaran pada siswa Kelas IX SMP Kihadjar Dewantoro Kupang dengan nilai rata-rata keterampilan siswa sebesar 82.64, dalam kategori kompeten dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 89%

    Upacara Pembuataan Rumah Adat Suku Lamunde Kampung Wanno Lamunde Desa Karuni Kabupaten Sumba Barat Daya

    Full text link
     Penelitian ini mengkaji Upacara Pembuatan Rumah Adat Suku Lamunde di Kampung Wanno Lamunde, Desa Karuni, Kabupaten Sumba Barat Daya. Tujuan utama studi ini adalah untuk mendeskripsikan secara komprehensif latar belakang, proses, fungsi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam upacara tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan informan kunci yang dipilih adalah tua adat dan tokoh masyarakat berusia 50 tahun ke atas yang dianggap kredibel, sehat jasmani dan rohani, berpengalaman, dan selalu terlibat dalam pelaksanaan upacara. Sumber data yang digunakan meliputi data primer yang diperoleh melalui wawancara dan observasi, serta data sekunder dari kepustakaan dan dokumen terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang upacara pembuatan rumah adat Suku Lamunde berakar pada pemahaman masyarakat bahwa rumah adat adalah bagian esensial dari budaya dan kehidupan mereka, serta merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur. Proses pelaksanaan upacara ini sangat memperhatikan tahapan penting agar tidak menyimpang dari adat istiadat yang berlaku dan menghindari kemarahan leluhur yang diyakini dapat menimbulkan penyakit. Tahap-tahap tersebut meliputi persiapan (musyawarah, mufakat, serta pengadaan alat dan bahan), pelaksanaan (dimulai dengan Buru di mama da’mate [penurunan atau pengeluaran barang sakral], Tatara umma, pazigo geli [pembongkaran rumah adat lama dan pembersihan], Pakede pari’i tilu [pembuatan tiang tengah/rangka utama], Pakede tokona karabona karagana [pembuatan rangka menara dan pemasangan balok nok], Padua katonga, korona [pembuatan bale-bale dan pembagian ruang/kamar], Tauge ro’o na [pemasangan seng aap], Ngokotage umma, tau ge rabuka [pemasangan dan pembuatan tempat tungku/masak], dan Boti i’umma [pengembalian atau pemasukan kembali isi rumah]), dan diakhiri dengan tahap penyempurnaan (pawaana kalere) untuk mengoreksi kesalahan yang mungkin terjadi selama proses. Fungsi rumah adat ini mencakup aspek sosial dan relijius. Sementara itu, nilai-nilai yang terkandung dalam upacara pembuatan rumah adat Suku Lamunde meliputi nilai religius, persatuan, gotong royong, historis, edukasi, dan estetika

    PENGARUH LATIHAN DENGAN CONES UNTUK MENINGKATKAN KECEPATAN MENGGIRING BOLA SISWA KELAS 5 PUTRA SDK. ST FRANSISKUS XAVERIUS BURAEN KABUPATEN KUPANG

    No full text
    Olahraga merupakan aktivitas gerak tubuh yang dilakukan secara sistematis dan terukur, serta memiliki tujuan tertentu. Olahraga mempunyai peran penting di berbagai aspek kehidupan, seperti untuk kesehatan, pendidikan, pembentukan karakter dan pengembangan prestasi(Sobarna et al., 2022). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh latihan menggunakan metode cones terhadap kecepatan menggiring bola siswa kelas 5 putra di SDK. ST Fransiskus Xaverius Buraen Kabupaten Kupang. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan pendekatan kuantitatif, melibatkan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan kecepatan menggiring bola setelah perlakuan latihan selama enam minggu. Sampel penelitian terdiri dari 10 siswa yang diambil dari populasi 30 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam kecepatan menggiring bola, dengan rata-rata skor pre-test sebesar 3,6 dan post-test sebesar 8,4, menghasilkan peningkatan rata-rata (MD) sebesar 4,8. Uji t menunjukkan nilai t-hitung sebesar 7,85, yang lebih besar dari t-tabel (1,833) pada taraf signifikansi 5%. Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis alternatif diterima, yang berarti latihan cones memiliki pengaruh positif terhadap peningkatan kecepatan menggiring bola. Penelitian ini menyimpulkan bahwa latihan dengan cones efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis siswa dalam sepak bola, dan disarankan untuk diterapkan dalam program latihan di sekolah. Keterbatasan penelitian ini mencakup jumlah sampel yang kecil dan lokasi yang terbatas, sehingga penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan variasi lokasi sangat dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif

    UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PARTISIPATIF PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI KELAS X SMA NEGERI 1 AMFOANG BARAT LAUT

    Full text link
    Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk (1) melihat pengaruh model pembelajaran partisipatif terhadap kemampuan kognitif siswa kelas X SMA Negeri 1 Amfoang Barat Laut pada mata pelajaran sejarah, dan (2) mengetahui tingkat kemampuan kognitif siswa kelas X setelah implementasi model pembelajaran partisipatif pada mata pelajaran sejarah di sekolah tersebut. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Amfoang Barat Laut. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara guru dan siswa, serta observasi kegiatan pembelajaran di kelas. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa. Pada pra-tes, hanya 18,75% siswa (6 dari 32 siswa) memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 80 dengan nilai rata-rata kelas 69,87. Setelah siklus I penerapan model pembelajaran partisipatif, ketuntasan klasikal meningkat menjadi 75% dengan nilai rata-rata 78,18. Pada siklus II, ketuntasan klasikal mencapai 96,25% (29 dari 32 siswa) dengan nilai rata-rata 84,75. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran partisipatif efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Amfoang Barat Laut pada mata pelajaran sejarah. Kata kunci: Model Pembelajaran Partisipatif; Pembelajaran Sejarah; Prestasi Belajar; Penelitian Tindakan Kelas.

    Penerapan Metode model pembelajaran Problem Based Learning[PBL] Terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri Salbait Kecamatan Mollo Barat Kabupaten Timor Tengah Selatan

    No full text
    Penerapan model pembelajaran Problem Baset Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Sejarah Di SMAN Salbait Kecamatan Mollo Barat Kabupaten Timor Tengah Selatan.  Tujuan Penelitian ini adalah Untuk (1) Mengetahui Model Pembelajaran Problem Baset Learning (PBL). Rancangan Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 Siklus dengan tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 23 siswa kelas XI IPS SMA Negeri Salbait4 yaitu sebanyak 8 siswa laki-laki dan sebanyak 15 siswi Perempuan. Data dikumpulkan melalui tes dan non tes yang dianalisis dengan cara analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Artikulasi dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas XI IPS keterampilan guru siklus I memperoleh skor 21 (kategori baik) Siklus II memperoleh skor 29 (kategori sangat baik). Jumlah skor rata-rata aktivitas siswa siklus I 13 (kategori baik) siklus II mendapatkan 18 (kategori sangat baik). Ketuntasan klasikal siswa siklus I sebesar 65% dan siklus II sebesar 90%. Kesimpulan dari penelitian yaitu dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri Salbait Kabupaten Timor Tengah Selatan

    PERAN GURU SEJARAH DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBENTUKAN SIKAP TANGGUNG JAWAB SISWA KELAS X DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 1 AMANUBAN TENGAH

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru Sejarah dalam mengimplementasikan pembentukan sikap tanggung jawab siswa kelas X di SMA Negeri 1 Amanuban Tengah. Subjek penelitian adalah guru Sejarah dan siswa kelas X. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, terutama dalam pembentukan sikap tanggung jawab siswa. Guru berperan sebagai teladan, memberikan tugas yang menantang dan bermakna untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, mengajarkan nilai-nilai sejarah, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Dengan demikian, guru secara signifikan berkontribusi dalam membentuk sikap tanggung jawab siswa dalam pembelajaran Sejarah

    215

    full texts

    85,990

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Jurnal Elektronik UPG 1945 NTT (Universitas Persatuan Guru)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇