Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Peranan Vena Pulmonalis pada Fibrilasi Atrium

    Get PDF
    Background. Atrial fibrillation (AF) is the most common sustained cardiac arrhythmia, occurring in1–2% of the general population and likely to increase in next 50 years. The prevalence of AF increases with age, from 0.5% at40–50 years, to 5–15% at 80 years. Precise mechanisms that lead tothe onset and persistence of AF have not completely been elucidated. The key role of ectopic foci in pulmonary veins as a trigger of AF has been recognized. Depending on disease progression, 60 to95% of triggers responsible for AF induction originate within the pulmonary veins (PV). Because of the clinical importance of the PVs in the initiation of AF, it makes the increasingly widespread application of catheter ablation techniques in these veins as a treatment for AF. Restoration and maintenance of sinus rhythm is of potential benefit if it can be achieved without the use of anti arrhythmic drugs, and this fact underscores the need to strive for the development of non pharmacological treatments to achieve and maintain sinus rhythm. Objective. The aim of the presentation is to discuss about role of pulmonary vein potential isolation on treatment of atrial fibrillation.Summary. A 64 year old man with diagnosis of paroxysmal atrial fibrillation was reported. The patient was then performed catheter ablation using CARTO 3D electroanatomic mapping system. He underwent pulmonary vein isolation and had successful result. In paroxysmal AF, PV electrical isolation remains a pivotal strategy. It is associated with arrhythmia suppression without the use of anti arrhythmic agents. The clinical outcome of ablation can further improved.Latar belakang. Fibrilasi atrium(FA) merupakan penyebab tersering dari aritmia jantung. Pada populasi umum terjadi pada 1-2% dan cenderung untuk meningkat pada 50 tahun kedepan. Prevalensi FA akan meningkat seiring dengan  usia, sekitar 0,5% pada usia 40-50 tahun, dan 5-15% pada usia 80 tahun. Mekanisme yang tepat mengenai terjadinya FA belum sepenuhnya diketahui. Salah satu mekanismenya antara lain fokus ektopik pada vena pulmonalis sebagai suatu pencetus. Berdasarkan prograsifitas penyakitnya, 60-95% pencetuspada FA berasal dari dalam vena pulmonalis. Karena pentingnya peranan vena-vena pulmonalis tersebut pada inisiasi FA, makateknik-teknikablasi FA yang dikembangkan pada lokasi tersebut menjadi target tatalaksanapada FA. Kembalinya irama menjadi sinus serta pemeliharaannya merupakan suatu keuntungan sebagai tata laksana non-medikamentosa.Tujuan. Mendiskusikan peranan isolasi potensial dari vena-vena pulmonalis pada tata laksana fibrilasi atrium.Ringkasan. Telah dilaporkan kasus pada seorang laki-laki, 64 tahun dengan diagnosis fibrilasi atrium paroksismal yang dilakukan ablasi kateter dengan CARTO 3D mapping system. Prosedur yang dilakukan antara lain isoloasi potensial pada vena-vena pulmonalis dan berhasil baik. Pada FA paroksismal, Isolasi elektris dari vena pulmonalis merupakan strategi utama, yaitu tata laksana dalam supresi aritmia tanpa medika mentosa. Keberhasilan klinis dari prosedur ini memiliki hasil yang baik

    Is Left-Sided Infective Endocarditis Prone to Have Embolic Events?

    Get PDF
    Infective endocarditis (IE) is an endovascular microbial infection of intracardiac structures facing the blood including of large intrathoracic vessels and of intracardiac foreign bodies. Diagnostic and therapeutic improvement have been recently achieved, however it is still associated with high mortality and embolic events.A lot of studies have been done in search of high risk IE patient, mainly focus on echocardiographic findings. Unfortunatelly, those studies give rise conflicting results. In multicenter prospective European study, 384 consecutive patient with definite IE according to Duke criteria were followed up to 1 year. Using transesophageal echocardiography (TEE), they found that vegetation length is a strong predictor of new embolic event and mortality. In multivariate analysis, vegetation length of > 15 mm has an adjusted relative risk of 1.8 95%CI 1.1 to 2.82, p = 0.02. Combining clinical, microbiological and echocardiography finding may identify high risk patient who will need aggressive therapy.Stuby by Fahmi et al enrolled only limited number of definite IE patients and found that involvement of mitral valve, examined by transthoracal echocardiography (TTE), is a predictor of embolic events. As an initial study in this field among Indonesian subjects, we can compromize with the power of this study to conclude that left side valves involvement is a predictor of embolic event in IE patients. The conclusion it self is make sense in regard to the disease’s pathophysiology

    Pengaruh Latihan Fisik Dan Respon Molekuler Pembuluh Darah Arteri

    Get PDF
    Regular physical activity (exercise training, ET) has a strong positive link with cardiovascular health. The beneficial effects of ET on the endothelium arteries are believed to result from increased vascular shear stress during ET bouts. A number of mechanosensory mechanisms have been elucidated that may contribute to the effects of ET on vascular function. Exercise training also consistently improves the nitric oxide bioavailability, and the number of endothelial progenitor cells, and diminishes the level of inflammatory markers, namely pro inflammatory cytokines and C-reactive protein. This review summarizes current understanding of control of vascular adaptation by exercise and how these processes lead to improved cardiovascular health.Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur mempunyai hubungan yang positif dengan kesehatan kardiovaskular. Efek latihan fisik yang menguntungkan pada endotel pembuluh darah arteri dipercaya akibat dari peningkatan shear stresspembuluh darah selama melakukan latihan fisik. Beberapa mekanisme mekanosensori yang terjadi karena efek latihan fisik ikut berperan pada fungsi pembuluh darah. Latihan fisik yang dilakukan secara terus menerus juga memperbaiki bioavailibilitas nitrik oksida, jumlah sel­sel progenitor endotel, dan menurunkan kadar petanda inflamasi, yaitu sitokin proinflamasi dan C­reactive protein. Tinjauan pustaka ini merangkum pengertian terkini tentang adaptasi pembuluh darah terhadap latihan fisik dan bagaimana hal tersebut dapat memperbaiki kesehatan kardiovaskular

    Strategi Farmako-invasif pada STEMI Akut

    Get PDF
    Recently, primary percutaneous coronary intervention (PCI) is the best option for reperfusion in STEMI patients, in clinical trials has lower rates of reinfarction, stroke and mortality than fibrinolytic therapy. Because of system delays in routine practice, prehospital administration of fibrinolytic therapy may lead to similar clinical outcomes, especially in those patients who present in early onset after symptom. Assessment of failed reperfu-sion for rescue PCI and invasive strategy after fibrinolitic therapy leading similar outcome with primary PCI. This review focuses on the timing of, and indications for, an invasive strategy after fibrinolytic therapy, including that for failed pharmacological reperfusion.Intervensi koroner perkutan primer (IKKP) saat ini masih menjadi pilihan reperfusi yang ideal pada pasien STEMI akut karena dapat menurunkan angka kejadian re infark, stroke dan kematian dibandingkan dengan terapi reperfusi menggunakan fibrinolitik. Namun kenyataan praktek sehari­hari menunjukkan bahwa terjadi keterlambatan dalam hal administrasi, finansial maupun system rujukan. Namun demikian beberapa laporan studi klinik menunjukkan bahwa pemberian terapi fibrinolitik pra­hospital pada pasien STEMI onset dini masih memberikan luaran yang baik. Penilaian kegagalan fibrinolitik yang dilanjutkan dengan intervensi koroner perkutan penyelamatan (rescue PCI) atau melakukan tindakan invasif pasca fibrinolitik dalam 24 jam ternyata memberikan luaran yang hampir sama dengan tindakan intervensi koroner perkutan primer. Tulisan ini akan membahas tentang indikasi dan waktu yang tepat untuk tindakan invasif pasca fibrinolitik dan intervensi koroner perkutan penyelamatan

    Salt, Hypertension and Cardiovascular Disease: the Connection

    Get PDF
    Hypertension (HT) the most important risk factor of cardiovascular disease (CVD), is a heterogeneous disease; the underlying cause is unknown. Genetic back-ground and environmental influences are both involved. The most important environmental fac-tors are physical inactivity and dietary factors, particularly salt and potassium intake.There is a relationship between Blood Pressure (BP) and natriuresis which maintains sodium bal-ance and extra cellular fluid volume. An impaired ability of the kidney to excrete sodium, requires an increase in BP to increase natriuresis and correct sodium balance resulting in HT. Much evidence suggests, that in those who develops high BP, there is an underlying defect in the ability of the kidney to excrete salt and that the greater compensatory response required to restore sodium balance is the cause for the increase in BP.Epidemiological, mi-gration, intervention, treatment, genetic and animal studies have shown that dietary salt (sodium chlo-ride) plays an important role in BP regulation. The INTERSALT study, the EPIC-Norfolk study and many other studies have shown that BP was higher among subjects with a high sodium intake

    Ekokardiografi pada Penilaian Hemodinamika Sirkulasi di Ruang Perawatan Intensif dan atau Unit Gawat Darurat, Seri I : Hipotensi dan Syok

    Get PDF
    Topik ini akan membahas mengenai pemakaian alat ekokardiografi pada kasus-kasus yang berkaitan dengan kondisi atau keadaan di ruang perawatan intensif ataupun Unit Gawat Darurat (UGD).Tulisan ini hanya merupakan salah satu bagian dari beberapa seri topik mengenai peran ekokardiografi terutama pada penilaian hemodinamika sirkulasi kardiovaskular pada berbagai kondisi di lapangan

    Estimasi Tekanan Atrium

    Get PDF
    Ekokardiografi alat yang serbaguna dengan ketersedia-an dan mobililitas yang tinggi dapat digunakan pada penderita dengan keadaan gawat dengan nilai diagnosis yang cukup tinggi. Pada penelitian Hanifah dkk dibandingkan penilaian parameter diastolik (E/Ea, E/E’ atau E/e) secara non-invasif dan pemeriksaan CVP secara invasif. Pada penelitian seperti ini cara pengambilan sampel yang mudah ialah dengan purposive sampling yang dapat secara judgementatau quota. Cara terakhir yang sering digunakan dibidang kedokteran, setelah memenuhi kuota tertentu yang cukup secara statistik dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi, penelitian diakhiri biasanya dengan pernyataan misalnya penelitian dilakukan antara periode September – November 2009 seperti pada penelitian ini

    Hiperviskositas Pada Penyakit Jantung Bawaan (PJB) Sianotik

    Get PDF
    Increased whole blood viscosity in adults with cyanotic congenital heart disease (CCHD) is an unavoidable result of secondary erythropoiesis and it showed a significant bleeding tendency. The most frequently disturbance of hemostasis are thrombocytopenia and defective platelet aggregation. Acute phlebotomy without volume replacement in patients with hypoxic polycythemia may result in vascular collapse, cyanotic spells, cerebral vascular accidents (CVA), or seizures and repeated phlebotomies may also increase the risk of a CVA by causing chronic iron deficiency.Peningkatan viskositas darah pada pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan sianotik merupakan hasil yang tidak dapat dihindari dari eritropoesis sekunder, dan tendensi untuk terjadinya perdarahan. Gangguan hemostasis yang paling sering adalah trombositopenia dan gangguan agregasi trombosit. Tindakan flebotomi yang sering dilakukan pada pasien sianotik jika dilakukan cepat dan tanpa disertai pemberian cairan pengganti akan menyebabkan pembuluh darah kolaps, spel sianotik, kerusakan pembuluh darah serebral ataupun kejang dan flebotomi berulang juga akan meningkatkan risiko tersebut dengan menyebabkan defisiensi besi yang kronik

    Infark Miokard Ventrikel Kanan

    Get PDF
    Infark miokard merupakan penyebab utama kematian pada orang dewasa di seluruh dunia. Infark ventrikel kanan (right ventricle, RV) biasanya menyertai infark inferior pada 30-50% kasus, dan infark anterior pada 10% kasus. Beberapa komplikasi dapat menyertai infark inferior yang disertai infark RV, komplikasi ini dapat menimbulkan kematian. Berikut akan disampai-kan contoh kasus dengan permasalahnya, dan pembahasan tentang tatalaksana yang benar

    Efusi Perikard Hemoragik pada Penderita Leukimia Mielo-Monoblastik Akut

    Get PDF
    A case of a 23 year-old man with haemorrhagic pericardial effusion has been reported. The man came to the hospital due to chest pain, shortness of breath and fever for 5 days. A pericardial effusion was suggested by observing ECG and chest X-ray, later it was proved by echocardiography. Pericardiocentesis was performed, and 650 cc of haemorrhagic fluid was taken out; his condition im-proved dramatically. Acute leukemia has been suggested as the cause, due to high level of White Blood Count. Diagnosis of Acute Myelomonoblastic Leuke-mia (AML) was confirmed by peripheral blood stain and bone marrow aspiration examination. From patient’s history, physical examination, and other tests, no other diseases could suspected as the cause of this hemorrhagic pericardial effu-sion. Chemotherapy of daunorubicin and cytosine-arabinoside was planned for the treatment, but the patient rejected. He was discharged in relatively good condition although the prognosis is still bad.Dilaporkan kasus efusi perikard hemoragik yang terjadi pada seorang pasien laki-laki berusia 23 tahun. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada selama lima hari, yang disertai sesak napas dan demam. Efusi perikard pada kasus ini dicurigai berdasarkan hasil gambaran elektrokardiogram dan foto toraks, yang kemudian dibuktikan dengan pemeriksaan ekokardiografi. Tindakan perikardiosentesis dilakukan dengan hasil cairan yang hemoragis sebanyak 650 cc. Pasca tindakan keluhan nyeri dada dan sesak napas sangat berkurang. Kecurigaan terhadap leukemia akut sebagai penyebab timbul, karena jumlah lekosit darah sangat meningkat. Diagnosis pasti suatu leukemia mielo-monoblastik akut (LMA) ditegakkan berdasarkan pemeriksaan hapusan darah tepi dan aspirasi sumsum tulang. Penyebab efusi perikard hemoragik pada kasus ini adalah LMA, karena baik dari anamnesis, pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan, tidak ditemukan adanya penyebab lain yang memungkinkan. Direncanakan pemberian kemoterapi berupa daunorubicin dan sitosin-arabinoside, tetapi penderita menolak. Penderita meninggalkan rumah sakit dalam keadaan relatif baik, namun prognosisnya jelek

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇