E-Journal Universitas Janabadra
Not a member yet
    1365 research outputs found

    TEKNIK ENKAPSULASI ANTIOKSIDAN MELALUI PENGERINGAN SEMPROT

    Full text link
    Most widely consumed agriculture products worldwide are vegetable and fruit-based products rich in bioactive compounds such as vitamins, polyphenols, and other antioxidants. These molecules are susceptible to oxidation and degradation during food processing, especially when exposed to heat. This review discusses the effects of encapsulation using spray drying on bioactive compounds and how encapsulation technology can be utilized to protect and optimize the functional properties of bioactive. Encapsulation can also aid the creation of desirable sensory attributes (e.g., aroma, texture, colour, and taste), thus playing an essential role in developing novel foods and beverages. Encapsulation has successfully preserved encapsulated bioactive compounds from external conditions while aiding the controlled release of transported active compounds. Among the various variations and applications of encapsulation, microencapsulation and nanoencapsulation of food bioactive is the main focus of this review, which discusses the principles related to technological developments as well as current applications so that the protective effects and bioavailability of bioactive components in food systems can be fulfilled. This manuscript review was conducted using the narrative literature review method. Keywords: antioxidant, bioactive compound, encapsulation, spray drying INTISARIProduk agrikultur yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia adalah produk berbasis sayuran dan buah-buahan yang kaya akan senyawa bioaktif seperti vitamin, polifenol, dan antioksidan. Molekul-molekul ini sangat rentan terhadap oksidasi dan degradasi selama pemrosesan makanan, terutama akibat paparan suhu. Ulasan ini membahas efek enkapsulasi dengan pengeringan semprot pada senyawa bioaktif dan bagaimana teknologi enkapsulasi digunakan untuk melindungi dan mengoptimalkan sifat fungsional bioaktif makanan. Enkapsulasi juga dapat membantu menghasilkan atribut sensorik yang diinginkan (misalnya, aroma, tekstur, warna, dan rasa), sehingga memainkan peran penting dalam pengembangan produk baru. Enkapsulasi telah terbukti berhasil sebagai proses yang efektif untuk melindungi senyawa bioaktif yang dienkapsulasi dari kondisi eksternal, sekaligus membantu pelepasan terkontrol dari senyawa aktif yang diangkut. Di antara berbagai variasi dan aplikasi enkapsulasi, mikroenkapsuliasi dan nanoenkapsulasi bioaktif dari makanan adalah fokus utama dari ulasan ini yang membahas prinsip-prinsip terkait perkembangan teknologi serta aplikasi saat ini sehingga  efek perlindungan dan  bioavailabilitas dari komponen bioaktif dalam sistem pangan dapat terpenuhi. Ulasan naskah ini dilakukan dengan menggunakan metode literature review narrative. Kata Kunci: antioksidan, enkapsulasi, komponen bioaktif, pengeringan sempro

    PENGUJIAN BEBERAPA AKSESI KACANG PANJANG TERHADAP CEKAMAN SALINITAS

    Full text link
    The aim of this research was to screen several long bean accessions against salinity stress. Soil salinity has a negative effect on plant growth and productivity. Information on the response of long bean accessions is very necessary as a basis for breeding long beans that are adaptive to saline land. This research was conducted from September to December 2019 on the grounds of the Agrotechnology Innovation Center, Gadjah Mada University. The research was carried out using the Factorial Randomized Block Design experimental method with 2 factors and 3 replications. The research results show that the FB-KP 167 and FB –KP 144 accessions can be considered as plants that are resistant to salinity because their growth and productivity are higher than other accessions. The results of the Analysis of Variance (ANOVA) test showed that there was no significant difference in salinity treatment on plant height and flowering age, but there were significant differences in pod length and number of seeds per pod. Keywords: Long Beans, Resistance, Salinity Stress, Screening INTISARITujuan penelitian ini adalah untuk men-skrinning beberapa aksesi kacang panjang terhadap cekaman salinitas. Salinitas tanah berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Informasi respon aksesi kacang panjang sangat diperlukan sebagai dasar pemuliaan kacang panjang yang adaptif terhadap lahan salin. Penelitian ini dilakukan pada bulan September sampai dengan Desember 2019 di lahan Pusat Inovasi Agroeknologi Universitas Gadjah Mada. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode percobaan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan aksesi FB-KP 167 dan FB –KP 144 dapat dipertimbangkan sebagai tanaman yang tahan terhadap salinitas karena pertumbuhan dan produktivitasnya yang lebih tinggi dibanding aksesi lainnya. Hasil uji Analysis of Variance (ANOVA) menunjukkan tidak ada beda nyata perlakuan salinitas terhadap tinggi tanaman dan umur berbunga namun terdapat beda nyata pada panjang polong dan jumlah biji perpolong. Kata Kunci : Kacang Panjang, Ketahanan, Cekaman Salinitas, Skrinnin

    SEED ENHANCEMENT MENGGUNAKAN MATRICONDITIONING PLUS PADA BENIH PADI GOGO (Oryza sativa L.) YANG MENGALAMI DETERIORASI

    Full text link
    Upland rice is a type of rice that contributes to national rice production, but production is still categorized as low. Several problems in cultivating upland rice, such as the use of seeds produced from previous plantings and cultivation of upland rice plants which are still carried out once a year or once in one planting season, cause the seeds to undergo storage. Stored seeds have the potential to experience deterioration, which can reduce the quality of the seeds so that ultimately the plants do not grow optimally and have the potential to reduce production. This research used a completely randomized factorial design (CRD) which consisted of two factors, namely the comparison of the composition of matriconditioning plus and the length of immersion in matriconditioning plus. The combination treatment of the ratio of seed composition: rice husks ash: Trichoderma harzianum suspension (9:6:8) and soaking for 18 hours gives the best result because it can increase the maximum growth potential of the seeds to 98%, reduce the percentage of attack by pathogenic fungi to 11,67%, and have a higher test index value than other combinations. Key-words: Upland rice, seed deterioration, matriconditioning plusINTISARIPadi gogo merupakan salah satu jenis padi yang menyumbang produksi padi nasional, namun produksi masih dikategorikan rendah. Beberapa permasalahan dalam budidaya padi gogo seperti penggunaan benih yang diproduksi dari pertanaman sebelumnya dan budidaya tanaman padi gogo masih dilakukan sekali dalam setahun atau satu kali musim tanam menyebabkan benih telah mengalami penyimpanan. Benih yang disimpan berpotensi mengalami deteriorasi, sehingga dapat menurunkan mutu benih hingga akhirnya tanaman tidak tumbuh optimal dan berpotensi menurunkan produksi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu perbandingan komposisi dan lama perendaman benih dalam matriconditioning plus. Kombinasi perlakuan perbandingan benih: abu sekam padi: suspensi Trichoderma harzianum (9:6:8) dan perendaman benih selama 18 jam memberikan hasil terbaik karena dapat meningkatkan potensi tumbuh maksimum benih menjadi 98%, menurunkan persentase serangan jamur patogen menjadi 11,67% dan memiliki nilai uji indeks yang lebih tinggi dibandingkan kombinasi lainnya. Kata kunci: Padi gogo, deteriorasi benih, matriconditioning plu

    FARMING ANALYSIS OF RED CHILI IN SOLOK REGENCY

    Full text link
    Farming analysis is important to determine the allocation of resource use on a farm. This research aims to describe the implementation of red chili cultivation techniques and analyze the income and profits of red chili farming in Lembah Gumanti District, Solok Regency. The method used in this research is the descriptive method. The number of samples is determined by quota, while the sampling method is purposive. The research results show that farmers carry out chili cultivation after shallot cultivation. Cultivation techniques begin with land processing (only repairing the beds), planting, weeding, inserting, installing stakes, fertilizing, controlling pests and diseases, harvesting, and post-harvest. Income analysis shows an average income of IDR 52,553,499.10/Land area/Planting Season or IDR 153,541,311.14/ha/Planting Season with a profit of IDR 39,570,967.01/Land area/Planting Season or IDR 89,884,691.45/ha/Planting Season. Farming efficiency through the R/C ratio obtains profitable results of IDR 2.046 from each unit of input used in red chili farming. It shows that red chili farming is worth pursuing. Keywords: Farming, red chilies, cultivation techniques, income, profits INTISARIAnalisis usahatani penting dilakukan untuk mengetahui alokasi penggunaan sumberdaya pada sebuah usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan teknik budidaya cabai merah dan menganalisis pendapatan serta keuntungan pada usahatani cabai merah di Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.  Jumlah sampel ditetapkan secara kuota, sedangkan metode pengambilan sampelnya secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya cabai dilakukan petani setelah budidaya bawang merah. Teknik budidaya diawali dengan pengolahan lahan (hanya memperbaiki bedengan), penanaman, penyiangan, penyisipan, pemasangan ajir, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen. Analisis pendapatan memperlihatkan pendapatan rata-rata sebesar Rp 52.553.499,10/LL/MT atau Rp 153.541.311,14/ha/MT dengan keuntungan sebesar Rp 39.570.967,01/LL/MT atau Rp 89.884.691,45/ha/MT. Efisiensi usahatani melalui R/C ratio mendapatkan hasil yang menguntungkan yaitu sebesar 2,046 rupiah dari setiap satuan input yang digunakan dalam usahatani cabai merah.  Hal ini memperlihatkan bahwa usahatani cabai merah layak untuk diusahakan. Kata kata Kunci: Usahatani, cabai merah, teknik budidaya, pendapatan, keuntunga

    PENINGKATAN KESUBURAN TANAH DENGAN PEMBERIAN PUPUK KOTORAN BURUNG PUYUH DAN POC LIMBAH SAYURAN PADA STEK TANAMAN ANGGUR (Vitis vinifera) DI PRE NURSERY

    Full text link
    The aim of this research is to determine the application of quail manure fertilizer and vegetable waste POC in increasing soil fertility on grape plant cuttings (vitis vinifera) in the pre-nursery and their interactions. This research used a factorial randomized block design (RAK) consisting of 2 factors with 12 treatment combinations and 3 replications so that 36 plots were needed in the study. The factor studied was the treatment of quail manure fertilizer which consisted of N0= 0 g/plot, N1 = 400 g/plot, N2 = 800 g/plot, N3 = 1200 g/plot. Factor II treatment of giving POC vegetable waste consists of A0 = 0 mL/liter of water/plot, A1 = 5 mL/liter of water/plot, A2 = 10 mL/liter of water/plot. The parameters observed are plant height, length of tendrils, number of leaves, number of stem segments, stem diameter and number of tendrils. The results of the research showed that the application of quail droppings showed no significant effect on the parameters namely plant height, vine length and stem diameter but had a significant effect on the treatment of the number of leaves, number of stem segments and number of vines. The provision of POC vegetable waste showed no significant effect on plant height, tendril length, number of stem segments, stem diameter and number of tendrils. But it has a real effect on the number of leaves. Key words: planting media, eggshell liquid organic fertilizer, grape plants INTISARITujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemberian pupuk kotoran burung puyuh dan POC limbah Sayuran dalam peningkatan kesuburan tanah pada stek tanaman anggur (vitis vinifera) di pre nursery berserta  interaksinya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)  Faktorial terdiri dari 2 faktor dengan 12 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan sehingga diperlukan 36 plot dalam penelitian. Faktor yang diteliti adalah perlakuan pupuk kotoran burung puyuh yang terdiri dari N0= 0 g/ plot, N1 = 400 g /plot, N2 = 800 g/plot, N3 = 1200 g /plot. Faktor II perlakuan pemberian POC limbah sayuran terdiri dari A0 = 0 mL/liter air/Plot, A1 = 5 mL/liter air/plot, A2 = 10 mL/liter air/plot. Adapun parameter yang diamatin adalah Tinggi Tanaman, panjang sulur, jumlah daun, jumlah ruas batang, diameter batang dan jumlah sulur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk kotoran burung puyuh menunjukan pengaruh yang tidak nyata pada parameter yaitu Tinggi Tanaman, panjang sulur, dan diameter batang tetapi berpengaruh nyata pada perlakuan jumlah daun, jumlah ruas batang, dan jumlah sulur. Pemberian POC limbah sayuran  menunjukan pengaruh yang tidak nyata pada Tinggi Tanaman, panjang sulur, jumlah ruas batang, diameter batang dan jumlah sulur. Tetapi berpengaruh nyata pada pelakuan jumlah daun. Kata kunci: media tanam, pupuk organik cair cangkang telur, tanaman anggu

    PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM DAN PENGAPURAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata sturt) DI TANAH ULTISOL

    Full text link
    This research aims to determine the effect of applying chicken manure and liming on the growth and production of sweet corn (Zea mays saccharatasturt) in ultisol soil. This research was carried out on Jln. Simalingkar B. Sluice Gate IV, IDI Raya I Complex no. 52, Medan Johor District, Kel. Kwala Berkala with an altitude of ± 30 above sea level. This research used a factorial randomized block design (RAK) with 2 treatment factors, namely the type of chicken manure and liming which was repeated 3 times. The first factor in giving chicken manure (A) consists of 4 levels, namely: A0 = no manure (control), A1 = 2 kg/plot (10 tons/ha), A2 = 3 kg/plot (15 tons/ha) and A3 = 4 kg/plot (20 tons/ha). The second factor is the liming dose (P) consisting of 4 levels, namely: P0 = without liming (control), P1 = 200 g/plot (2 tons/ha), P2 = 300 g/plot (3 tons/ha) and P3 = 400 g/plot (4 tons/ha). The results showed that the dose of chicken manure had a significant effect on plant height, stem diameter and number of leaves. Liming has a significant effect on plant height, stem diameter and number of leaves. The interaction of chicken manure dose and liming had no significant effect on plant height, stem diameter, and number of leaves. Key words: manure, liming and sweet corn INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang ayam dan pengapuran terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays saccharatasturt) di tanah ultisol. Penelitian ini dilaksanakan di Jln. Simalingkar B. Pintu Air IV, Komplek IDI Raya I no.52, Kec Medan Johor, Kel.Kwala Berkala dengan ketinggian tempat ±30 dpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu jenis pupuk kandang ayam dan pengapuran yang diulang 3 kali. Faktor pertama pemberian pupuk kandang ayam (A) terdiri dari 4 taraf, yaitu : A0 = tanpa pupuk kandang (kontrol), A1 = 2 kg/plot (10 ton/ha), A2 = 3 kg/plot (15 ton/ha) dan A3 = 4 kg/plot (20 ton/ha). Faktor kedua adalah dosis Pengapuran (P) terdiri dari 4 taraf, yaitu: P0 = tanpa pengapuran (kontrol), P1 = 200 g/plot (2 ton/ha), P2 = 300 g/plot (3 ton/ha) dan P3 = 400 g/plot (4 ton/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kandang ayam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun. Pengapuran berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun. Interaksi dosis pupuk kandang ayam dan pengapuran berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun. Kata kunci :  pupuk kandang, pengapuran dan jagung mani

    EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK PUYUH DAN VOLUME AIR TERHADAP SIFAT-SIFAT AGRONOMI PADA TANAMAN SAWI PAKCOY (Brassica rapa)

    Full text link
    The study aimed to determine the effect of quail organic fertilizer and water volume on agronomic properties in pakcoy (Brassica rape) plants. The experiment was carried out at the Asmadewa Green House, Faculty of Agriculture, Cleban, Annual, Umbulharjo District, Yogyakarta. Research location is abaut 114 meters above sea level. This study was compiled using a Complete Randomized Design (CRD) with two factors. The first factor is the dose of quail manure (P) consisting of 3 level, 10 tons / ha (P1), 15 tons / ha (P2), 20 tons / ha (P3). The second factor is the volume of water (A) consisting of 3 level, 600 ml (40% KL) (A1), 750 ml (50% KL) (A2), 900 ml (60% KL) (A3). Volume of water irrigation was given in every 2 days for each different level. All treatment repeated by 3 times. Observation variables are : plant height, leaf length, number of leaves, leaf width, plant fresh weight, plant dry weight, stem diameter, root length, fresh weight of roots, dry weight of roots. Data was processed with Anova (Analysis of Variance) carried out advanced analysis using DMRT (Duncan's Multiple Range Test). The results showed that there was an interaction between the dose of 15 tons/ha of fertilizer and the volume of 900 ml (60% KL) of water on the number of leaves, plant fresh weight, plant dry weight, root fresh weight and root dry weight. Meanwhile, in the combination of 15 tons/ha and a volume of 600 ml (40% KL) of water, interactions occurred on plant height, leaf length, and leaf width. Whereas at a fertilizer dose of 20 tons/ha and a volume of 600 ml (40% KL) of application, there was an interaction only on the diameter of the stem, while at a volume of 750 ml (50% KL) of water there was an interaction on root length. Keywords : Mustard, Quail Fertilizer and Water Irigation, Growth Plant INTISARIPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik puyuh dan volume air terhadap sifat - sifat agronomi pada tanaman sawi pakcoy (Brassica rapa). Percobaan dilaksanakan di Green House Asmadewa Fakultas Pertanian, Cleban, Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta . Lokasi penelitian berada pada ketinggian 114 mdpl. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang puyuh (P) terdiri dari 3 aras yaitu: 10 ton/ha (P1), 15 ton/ha (P2), 20 ton/ha (P3). Faktor kedua adalah volume pemberian air (A) terdiri dari 3 aras yaitu: 600 ml (40% KL) (A1), 750 ml (50% KL) (A2), 900 ml (60% KL) (A3). Volume pemberian air dilakukan setiap 2 hari sekali. Diulang, sebanyak 3 kali. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, lebar daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman, diameter batang, panjang akar, berat segar akar, dan berat kering akar. Data diolah dengan sidik ragam Anova (Analysis of Variance) dilakukan analisis lanjutan dengan menggunakan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test). Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara dosis pupuk 15 ton/ha dan volume pemberian air 900 ml (60% KL) terhadap jumlah daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman, berat segar akar dan berat kering akar. Sementara pada kombinasi 15 ton/ha dan volume pemberian air 600 ml (40% KL) terjadi interaksi pada tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun. Sedangkan pada dosis pupuk 20 ton/ha dan volume pemberian 600 ml (40% KL) terjadi interaksi hanya pada diameter batang, sementara pada volume pemberian air 750 ml (50% KL) terjadi interaksi pada panjang akar. Kata kunci : Sawi, Pupuk Puyuh dan Volume Air, Sifat Agronomi

    APLIKASI PUPUK HAYATI DENGAN BERBAGAI JARAK TANAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

    Full text link
    Organic-oriented agriculture, in improving sustainable agriculture through the use of microbial-based biological fertilizers to increase agricultural productivity will increasingly attract public interest and apply it widely because the development of microorganisms that are beneficial to soil and crop production will support healthy agriculture. Farmers' habits in cultivating corn include excessive use of chemical fertilizers and pesticides causing environmental pollution and decreasing soil quality both chemically, physically and biologically, affecting low production, therefore efforts are needed to remain productive by using biological fertilizers for soil improvement and regulating planting distance.The study used a factorial randomized block design with three replications, consisting of the first factor being the application of biological fertilizers at a dose (g/ha): 0 g/ha, 400 g/ha, 800 g/ha, 1200 g/ha, the second factor being plant spacing (cm) consisting of: 70 cm x 10 cm, 70 cm x 15 cm, 70 cm x 20 cm. Parameters observed were cob diameter (mm), cob length (cm), seeds number/cob (g), dry seed weight/plant (g). The results showed that the Biofertilizer with a dose of 400 g/ha significantly increases maize production (Zea mays L.). Planting distance of 70 cm x 20 cm significantly increases maize production (Zea mays L.). Application of biofertilizer with a dose of 400 g/ha and a spacing of 70 cm x 20 cm significantly increased maize production (Zea mays L.). Keywords:  Biological fertilizer, planting distance, corn production, Zea mays, application INTISARIPertanian berorientasi organik dalam meningkatkan pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan pupuk hayati berbasis mikroba dapat meningkatkan produktivitas pertanian akan semakin menarik minat masyarakat dan mengaplikasikannya secara luas oleh karena pengembangan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah dan produksi tanaman akan menunjang pertanian yang sehat. Kebiasaan petani dalam budidaya tanaman jagung diantaranya penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan menyebabkan pencemaran lingkungan dan menurunnya kualitas tanah baik kimia, fisik, maupun biologi mempengaruhi rendahnya produksi, oleh karena itu diperlukan usaha agar tetap produktif yaitu dengan menggunakan pupuk hayati untuk pembenahan tanah dan mengatur jarak tanam. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga ulangan terdiri dari: faktor pertama aplikasi pupuk hayati dengan dosis (g/ha): 0 g/ha, 400 g/ha, 800 g/ha, 1200 g/ha; faktor kedua jarak tanam (cm)terdiri  dari: 70 cm x 10 cm, 70 cm x 15 cm, 70 cm x 20 cm. Parameter yang diamati adalah diameter tongkol (mm), panjang tongkol (cm), jumlah biji/tongkol (g), bobot biji kering/tanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pupuk hayati dengan dosis 400 g/ha signifikan meningkatkan produksi tanaman jagung (Zea mays L.). Jarak tanam 70 cm x 20 cm signifikan meningkatkan produksi tanaman jagung (Zea mays L.). Aplikasi pupuk hayati dengan dosis 400 g/ha dan jarak tanam 70 cm x 20 cm signifikan meningkatkan produksi tanaman jagung (Zea mays L.). Kata kunci:  Pupuk hayati, jarak tanam, produksi jagung, Zea mays, aplikasi

    PARTISIPASI PETANI SAYUR JAWA BARAT TERHADAP AKSES LAHAN

    Full text link
    Vegetable farmers in West Java currently are generally small farmers whose land holdings are less than half a hectare. Of the approximately 14 million smallholder farmers throughout Indonesia, the majority are on the island of Java, of which around 2 million smallholder farmers live in West Java. This indicates that it is increasingly difficult for West Java farmers to have the ability to expand their land, so they need help from the government to increase access to land. Based on this explanation, the aim of this research is to describe the participation of vegetable farmers in increasing land access control in West Java. The population in this study were West Java potato farmers in 2023 with 500 farmers taking respondents. Survey Methods and PRA (Participatory Rural Appraisal). This is the method used in this research. This research shows that farmers pay an average land rental of 1.1 million rupiah per hectare, coupled with an increase in land rental prices by an average of 5% per year. The result of this is that there are only 63 farmers who are able to rent two to three plots of land and there is only one farmer who rents four plots of land. Apart from that, farmers who sell land have the lowest farming experience compared to others. Keywords: Vegetable Farmers, Land Area, Small Farmers, West Java INTISARIPetani sayuran di Jawa Barat saat ini pada  umumnya merupakan petani gurem yang penguasaan lahannya kurang dari setengah hektar. Dari sekitar 14 juta orang petani gurem yang ada di seluruh Indonesia, didominasi di pulau Jawa yang diantaranya yaitu sekitar 2 juta orang petani gurem tinggal di Jawa Barat. Hal ini mengindikasikan bahwa petani Jawa Barat semakin sulit untuk mempunyai kemampuan dalam memperluas lahannya sehingga perlu dibantu oleh pemerintah untuk dapat meningkatkan akses terhadap lahan. Berdasarkan paparan tersebut tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripisikan partisipasi petani sayuran terhadap peningkatan penguasaan akses lahan di Jawa Barat. Populasi pada penelitian ini adalah petani kentang Jawa Barat tahun 2023 dengan responden yang diambil adalah 500 petani. Metode Survey dan PRA (Partisipatory Rural Appraisal). Menjadi metode yang digunakan pada penelitian ini. Penelitian ini menujukan Petani membayar sewa lahan rata-rata sebesar 1,1 juta rupiah per hektarnya, ditambah dengan adanya peningkatan harga sewa lahan rata-rata sebesar 5% per tahun. Akibat dari hal tersebut adalah hanya ada 63 petani yang mampu menyewa lahan sebanyak dua sampai tiga plot dan hanya ada satu orang petani yang menyewa lahan sebanyak empat plot. Selain itu, petani yang melakukan penjualan lahan pengalaman usahataninya paling rendah dibanding yang lainnya. Kata Kunci : Petani Sayuran, Luas Lahan, Petani Gurem Jawa Barat

    ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI BAWANG PUTIH DESA NUNLEU KECAMATAN AMANATUN SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

    Full text link
    This research aims to: (1) To determine the technical efficiency value of garlic in Nunleu Village, South Amanatun District, South Central Timor Regency; (2) To determine the value of the effect of Garlic Technical Inefficiency in Nunleu Village, South Amanatun District, South Central Timor Regency. Location in Nunleu Village, South Amanatun District, South Central Timor Regency, in August – February 2023. The sample was taken using simple random sampling, namely 60 KKT out of a total of 200 KKT. The research results show that the average technical efficiency value for garlic in Nunleu Village, South Amanatun District, North Central Timor Regency is 0.89, meaning that garlic farming has achieved technical efficiency. Factors that influence garlic production are land area, seeds, fertilizer, while labor has no influence on garlic production in Nunleu Village. Based on the Gamma value, it shows that 83 percent captures the effects of inefficiency from internal factors such as age, number of dependents, level of education and experience, while 17 percent is influenced by external factors such as climate and disease. Factors that influence technical inefficiency are age, number of dependents, level of education while experience does not capture the effect of technical inefficiency of Bwang Putih farming in Nunleu Village, South Amanatun District, South Central Timor Regency. Key words: Garlic, Efficiency, Timor Tengah Selatan INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk Mengetahui Nilai Efisiensi Teknis Bawang putih di Desa Nunleu kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan; (2) Untuk Mengetahui nilai efek Inefisiensi Teknis Bawang Putih di Desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lokasi Di Desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pada Bulan Agustus – Februari 2023.Sampelnya diambil secara simple random sampling yaitu sebesar 60 KKT dari jumlah 200 KKT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai efisiensi teknis bawang putih di Desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Utara 0,89 berarti usahatani bawang putih telah mencapai efisiensi teknis. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi bawang putih adalah luas lahan, bibit, pupuk sedangkan tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap produksi Bawang Putih di Desa Nunleu. Berdasrkan nilai Gamma menunjukkan bahwa 83 persen menangkap efek inefiesiensi dari faktor internal seperti umur, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan, dan pengalaman sedangkan 17 persen dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti iklim dan penyakit. Faktor-faktor yang mempengaruhi inefesiensi teknis adalah umur, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan sedangkan pengalaman tidak menangkap efek inefisiensi teknis usahatani Bwang Putih di Desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan.   Kata kunci: Bawang Putih, Efisiensi, Timor Tengah Selatan 

    1,245

    full texts

    1,365

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Universitas Janabadra
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇