E-Journal Universitas Janabadra
Not a member yet
    1365 research outputs found

    Sebuah Tinjauan Yuridis Atas Polemik PringgodigdoPoerwokoesoemo (1950-1951) Perihal Masa Jabatan Presiden

    No full text
    Pada tahun 1950, terjadi polemik atau pertengkaran dalam bentuk tulisan berturutturut di majalah Gadjah Mada antara Prof. Mr. Abdul Gaffar Pringgodigdo dan Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo yang kemudian berakhir tahun 1951. Polemik tadi telah berlalu hampir 73 tahun namun belum menimbulkan suatu tanggapan yang bersifat ilmiah melalui telaah yuridis ketatanegaraan mengenai sebab musabab terjadinya polemik dan argumentasi hukum yang dipertahankan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis mengapa bisa terjadi polemik Pringgodigdo-Poerwokoesoemo dan dapatkah argumentasi hukum Pringgodigdo dan Poerwokoesoemo mencapai titik temu. Berdasarkan kriteria “bidang hukum yang diteliti”, penelitian ini merupakan penelitian (Ilmu) Hukum Tata Negara. Berdasarkan kriteria “kegunaan hasil penelitian”, penelitian ini untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran. Berdasarkan kriteria “metode/ cara penulisan”, penelitian ini dijalankan dengan cara heuristik, adalah penyelesaian masalah secara praktis dengan mencari bahan-bahan berupa dokumen kepustakaan, melakukan analisis yuridis dan disajikan dalam laporan kuantitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa polemik Pringgodigdo-Poerwokoesoemo terjadi karena kedua ahli hukum tersebut memiliki keinginan yang kuat untuk menemukan kebenaran dengan membandingkan pendirian masing-masing dalam suatu polemik ilmiah khususnya di bidang Hukum Tata Negara. Argumentasi mana tidak dapat mencapai titik temu sebab keduanya belum dapat mengubah pendirian

    IDENTIFIKASI Ca, Mg, K, Na, KTK SETELAH PENERAPAN KOMBINASI MEDIA TANAM DAN IRIGASI TETES

    Get PDF
    Agricultural cultivation activities in Sekon Village are limited by soil conditions and water availability which then affects soil fertility and plant growth. Horticultural plants cultivated by the community have yellow-brown leaves, small leaf and stem sizes and stunted growth. Soil conservation strategy that can be implemented in this condition is the use of natural fertilizer (organic material). Meanwhile, water conservation efforts to overcome low water availability can be carried out by regulating watering through the application of a drip irrigation system. This research is a qualitative descriptive study which aims to identify the availability of Ca, Mg, K, Na and KTK in planting media samples after application of biochar compost and cow manure as well as implementation of watering regulations. The results of laboratory analysis show the average contents of Ca, Mg, K and Na respectively, namely 25.59 me 100 g soil-1 (very high), 2.66 me 100 g soil-1 (high), 0.96 me 100 g soil-1 (high) and 0.16 me 100 g soil-1 (low). The average KTK is 38.02 me 100 g soil-1 and is classified as high.Key-words: cations, planting media, soil and water conservationINTISARIKegiatan budidaya pertanian di Desa Sekon dibatasi dengan kondisi tanah dan ketersediaan air yang kemudian mempengaruhi kesuburan tanah serta pertumbuhan tanaman. Tanaman hortikultura yang dibudidayakan masyarakat memiliki warna daun yang kuning-kecokelatan, ukuran   daun dan batang yang kecil serta pertumbuhannya kerdil. Strategi konservasi tanah yang dapat dilakukan pada kondisi ini yaitu penggunaan pupuk alami (bahan organik). Sedangkan upaya konservasi air yang dilakukan dalam mengatasi ketersediaan air yang rendah dapat dilakukan dengan pengaturan penyiraman melalui aplikasi penggunaan sistem irigasi tetes. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan mengidentifikasi ketersediaan Ca, Mg, K dan Na serta KTK pada sampel media tanam setelah aplikasi kompos biochar dan pupuk kandang sapi serta penerapan pengaturan penyiraman. Hasil analisis laboratorium menunjukkan rata-rata kandungan Ca, Mg, K dan Na berturut-turut yaitu 25,59 me 100 g tanah-1 (sangat tinggi), 2,66 me 100 g tanah-1 (tinggi), 0,96 me 100 g tanah-1 (tinggi) dan 0,16 me 100 g tanah-1 (rendah). Rata-rata KTK sebesar rata-rata  38,02 me 100 g tanah-1 dan tergolong  tinggi.Kata kunci: kation, konservasi tanah dan air, media tana

    ANALISIS TINGKAT KEHILANGAN HASIL PADA PROSES PERONTOKAN TANAMAN PADI VARIETAS CIHERANG DI LOKASI UJI ADAPTASI DESA WERE III, KECAMATAN GOLEWA SELATAN, KABUPATEN NGADA, PROVINSI NTT

    No full text
    The rate of yield loss in rice plants has not changed much, over a period of 15 years. This loss process occurs at every stage of rice production, from harvesting, threshing, drying, transportation, milling and storage. In the process of threshing rice, many methods are used, among others, by means of threshing, stepping on, pedal thresser and power threser. From the results of research conducted at the Adaptation Test Location of Were III Village, South Golewa District, Ngada Regency, the rice threshing process is carried out using a thresher machine (power threser). The research method used is a qualitative research method, this is because the researcher analyzes the phenomena and events of loss of yield due to threshing that occurs in the field. Based on data from research results at the Adaptation Test Location of Were Village III, Golewa Selatan District, Ngada Regency, it can be seen that the percentage of yield loss obtained in this study was 13.5%, which is higher than the existing theory. This is supported by the conditions that occurred at the time of the study where there were many factors that caused a lot of yield loss in Ciherang varieties, including inadequate technology, not optimal use of time and frequent damage to the equipment used.Keywords: 3-5 keywords,  author guidelines; agriculture journal; article template  Keywords: yield loss, rice plants, factors INTISARITingkat kehilangan hasil pada tanaman padi masih belum banyak berubah, selama kurun waktu 15 tahun. Proses kehilangan ini terjadi pada setiap tahapan produksi padi, mulai dari panen, perontokan, pengeringan, pengangkutan, penggilingan dan penyimpanan. Dalam proses perontokan padi banyak metode yang dilakukan antara lain dengan cara gebot, diinjak, pedal threser dan power threser. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di Lokasi Uji Adaptasi Desa Were III, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada, proses perontokan padi dilakukan dengan menggunakan mesin perontok (power threser). Metode penelitian yang digunakan adalah  metode penelitian kualitatif  hal ini dikarenakan peneliti melakukan analisis fenomena dan peristiwa kehilangan hasil akibat perontokan yang terjadi di lapangan. Berdasarkan data dari hasil penelitian di Lokasi Uji Adaptasi Desa Were III Kecamatan Golewa Selatan Kabupaten Ngada, maka dapat diihat bahwa persentasi kehilangan hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah sebesar 13,5% dimana hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan teori yang ada. Hal itu didukung dengan keadaan yang terjadi pada saat penelitian dimana terdapat banyak faktor yang menyebabkan terjadinya banyak kehilangan hasil pada tanaman padi varietas ciherang antara lain teknologi belum memadai, pemanfaatan waktu yang belum maksimal serta sering terjadi kerusakan pada alat yang digunakan. Kata kunci: kehilangan hasil, tanaman padi, faktor-fakto

    PENGARUH PUPUK KANDANG KAMBING DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG TANAH (Arachis hypogea L)

    Get PDF
    This research was conducted in the Experimental Garden of Muhammadiyah University of South Tapanuli, the purpose of this study was to determine the effect of goat manure and plant spacing on the growth and production of long beans. The design used was factorial 4 x 3 in a randomized block design (RBD) with 3 replications. The first factor is the dose of goat manure with 4 stages, namely: K0 = 0, K1 = 0.5 kg/plot, K2 = 1 kg/plot, K3 = 2 kg/plot. The second factor is spacing with 3 stages, namely: J1 20cm x 20cm, J2 30cm x 20cm and J3 40cm x 20cm. From the results of the study based on statistical analysis of the parameters of plant height, flowering age, pod weight per sample and pod weight per plot on goat manure treatment, plant spacing and interaction of goat manure, plant spacing had a significant effect. The parameter of plant height for giving goat manure at the treatment dose of 2 kg/plot was 65.44 cm, the spacing treatment was 20 cm x 20 cm, namely 58.33 cm and the highest interaction of goat manure and plant spacing was found at the dose of goat manure at a dose of 2 kg/ plots and with a spacing of 20 cm x 20 cm which is 72.33 cm, the flowering age parameter where in the goat manure treatment there is the fastest flowering age results are found in the treatment with a dose of 0.5 Kg/plot which is 38.11 days, the fastest spacing treatment is 20 cm x 20 cm is 38.50 and the interaction of goat manure and spacing, the fastest flowering age is found in goat manure at a dose of 0.5 kg/plot and with a spacing of 20 cm x 30 cm, which is 37 days, on the persapel pod weight parameter at the goat manure treatment had the highest yield at the treatment dose of 2 Kg/plot, namely 149 gr, the spacing treatment was 40 cm x 20 cm, namely 135.91 gr and the highest interaction of goat manure and plant spacing was found at the goat manure dose of 2 kg/plot and with a spacing of 40 cm x 20 cm which is 159 gr, in the treatment of pod weight per plot in the goat manure treatment there is the highest yield in the treatment of a dose of 2 Kg/plot which is 3440 gr, the spacing treatment is 40 cm x 20 cm which is 2850 gr and fertilizer interactions goat shed and the highest spacing was found at the dose of goat manure at a dose of 2kg/plot and with a spacing of 40 cm x 20 cm, namely 3750 gr.INTISARIPenelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobahan Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan, , tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang kambing  dan jarak tanam  terhadap pertumbuhan dan produksi kacang panjang. Rancangan yang digunakan adalah faktorial 4 x 3 dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Faktor pertama dosis  pupuk kandang kambing dengan 4 tarap yaitu : K0 =0 , K1 = 0,5Kg/plot, K2 = 1 Kg/plot, K3 = 2Kg/plot. Faktor kedua Jarak tanam  dengan 3 tarap yaitu : J1 20cm x 20cm, J2 30cm x 20cm dan J3 40cm x 20cm.   Dari hasil penelitian berdasarkan analisis secara statistik parameter tinggi tanaman, umur berbunga, berat berat polong persampel dan berat polong per plot terhadap perlakuan pupuk kandang kambing, jarak tanam dan interaksi pupuk kandang kambing, jarak tanam berpengaruh nyata. Parameter tinggi tanaman pemberian pupuk kandang kambing pada perlakuan dosis 2 Kg/plot yaitu 65,44cm, perlakuan jarak adalah 20 cm x 20 cm yaitu 58,33 cm dan interaksi pupuk kandang kambing dan jarak tanam tertinggi terdapat pada dosis pupuk kandang kambing  dosis 2kg/plot dan dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm yaitu 72,33 cm, parameter umur berbunga dimana pada perlakuan pupuk kambing terdapat hasil umur berbunga tercepat terdapat pada perlakuan dosis 0,5 Kg/plot yaitu 38,11 hari, , perlakuan jarak tercepat  adalah 20 cm x 20 cm yaitu 38,50 dan interaksi pupuk kandang kambing dan jarak tanam umur tercepat berbunga terdapat pada pupuk kandang kambing dosis 0,5kg/plot dan dengan jarak tanam 20 cm x 30 cm yaitu 37 hari, pada parameter berat polong persapel pada perlakuan pupuk kambing terdapat hasil tertinggi pada perlakuan dosis 2 Kg/plot yaitu 149 gr, perlakuan jarak adalah 40 cm x 20 cm yaitu 135,91 gr dan interaksi pupuk kandang kambing dan jarak tanam tertinggi terdapat pada dosis pupuk kandang kambing  dosis 2kg/plot dan dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm yaitu 159 gr, pada perlakuan berat polong per Plot pada perlakuan pupuk kambing terdapat hasil tertinggi pada perlakuan dosis 2 Kg/plot yaitu 3440 gr, perlakuan jarak adalah 40 cm x 20 cm yaitu 2850 gr dan interaksi pupuk kandang kambing dan jarak tanam tertinggi terdapat pada dosis pupuk kandang kambing  dosis 2kg/plot dan dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm yaitu 3750 gr

    PERILAKU KONSUMEN TERHADAP PEMBELIAN BUAH-BUAHAN PADA SAAT PEMBERLAKUAN PEMBATASAN KEGIATAN MASYARAKAT DARURAT DI KOTA PONTIANAK

    Get PDF
    Consumer behavior is behavior exhibited by people in terms of planning, buying and using economic goods and services. Fruit is a horticultural product that has bright prospects so that it can be developed as a source of economic growth in the agricultural sector.  The CoronaVIrus Disease 2019 (Covid-19) pandemic has changed many things such as cleanliness, health and changing human consumption patterns. Since the Covid-19 pandemic entered Indonesia, the fruits consumption campaign has continued to be intensified. Pontianak City is a city that enforces Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Seeing this situation, it is necessary to further investigate how consumer behavior towards purchasing fruits during emergency PPKM. The data in this study was secondary data with 133 respondents netted by purposive sampling method. The variables in this study are Cultural, Social, Personal and Psychological. Based on the results of research using factor analysis, it can be concluded that the factors that influence consumer behavior towards purchasing fruits during PPKM in Pontianak City consist of 3 factors, namely Social, Personal, and Psychological. There is 1 factor that is less influential, namely the Cultural factor. The most dominant factor is the psychological factor with indicators included Motivation, Perception, and Belief and Stance

    PERAN MUSYAWARAH DESA DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DESA (Studi Kasus Pelaksanaan Musyawarah Desa di Desa Penidon Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban

    Get PDF
    The aim of this study was to determine the form of accountability of the Penidon Village government in managing village finances and the role of the Village Consultative Body (BPD) as a representative of villagers in supervising village financial management. As well as to find out the role of the Village Deliberation Forum (FMD) in managing village finances, so that the risk of legal problems can be minimized. The research location is in Penidon Village, Plumpang District, Tuban Regency. This research use qualitative descriptive research method which interview results as a primary data and a literature review related to the research material as secondary data.  As a result : (1) Accountability problems for financial management in Penidon Village for the 2014 to 2015 Fiscal Year. The ro le of the BPD (Village Consultative Body) in supervising financial management was not optimal because of the low level of awareness and legal compliance of village financial managers in that period , as well as a lack of understanding of the latest legal developments. (2) The role of the Village Deliberation Forum (FMD) in the financial management of Penidon Village for the 2014 up to 2023 Fiscal Year is still not maximized. During this period, the Penidon Village meeting was only used once in early 2023 to resolve village financial management issues, the rest of the village financial management issues were resolved through prosecution by Law Enforcement Officials (APH). This is because the laws and regulations do not specifically regulate the role of the Village Consultative Council in Village Financial Management, as well as in resolving village financial management problems. To overcome these problems, the following can be done: (1) Improving the implementation of village government accountability and maximizing the role of the Village Consultative Body in managing village finances, increasing legal awareness of the community in general and village management parties in particular; (2) Optimizing the Village Deliberation Forum (FMD) to create accountable village financial management, which can be done by expanding the role of FMD in village financial management using a responsive legal perspective, namely responding to community wishes and being committed to achieving substantive justice; (3) In addition, regional heads can request outreach, guidance and consultancy to the Financial and Development Supervisory Agency (BPKP) regarding the implementation of an internal control system for village financial management in their area

    PENGELOLAAN CABAI UNTUK MEMPERPANJANG MASA SIMPAN

    Get PDF
    Cabai merupakan komoditas yang mudah mengalami kemuduran mutu (perishable) serta daya simpan yang sangat singkat (dua hingga empat hari). Oleh karena itu, diperlukan penanganan pasca panen mulai dari pemanenan sampai pengangkutan harus dilakukan secara hati-hati, Tingkat kerusakan yang terjadi mulai dari lapangan sampai ke tingkat pengecer sebesar 23 persen. Kerusakan yang terjadi pada cabai dapat terjadi secara mekanis. Akibat dari kerusakan tersbut sangat merugikan. Oleh karena itu, agar cabai dapat dipertahankan kualitasnya sampai ketangan pembeli, diperlukan penanganan yang baik dari mulai panensampai pasca panen. Pengemasan merupakan kegiatan untuk melindungi kesegaran produk pertanian pada saat pengangkutan, pendistribusian dan penyimpanan. Selain itu, kemasan berfungsi melindungi produk dari kerusakan fisik, mekanis, mikrobiologis, serta menciptakan daya tarik bagi konsumen dan memperpanjang umur simpan produk Penggunaan jenis kemasan dan suhu penyimpanan yang sesuai adalah faktor yang penting untuk menjaga kualitas dan memperpanjang umur simpan sayuran. Pengemasan dapat mencegah produk dari pengupan dengan memodifikasi atmosfer dengan kelembaban tinggi.Pengemasan jugamerupakan salah satu cara menghambat proses respirasi dan transpirasi sehingga cabai tidak mudah busuk dan keriput.Optimasi teknologi pengemasan untukmemperlambat laju kemunduran mutu dan memperpanjang masa simpan cabai Tujuan dari tulisan ini adalahuntuk mengetahui inovasi penyimpanan cabai dengan berbagai kemasan dalam memperpanjang masa simpa

    ANALISIS PRODUKSI TANDAN BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT (Elaeis quineensis Jacq.) AFDELING 1 DI KEBUN BATEE PUTEH PT. AGRO SINERGI NUSANTARA (ASN)

    Get PDF
     Produksi PT. Agro Sinergi Nusantara Kebun Batee Puteh merupakan satuan analisis. Produksi TBS  merupakan satuan pengamatan penelitian, menggunakan alat analisis regresi linear berganda, bertujuan untuk mempelajari dan memprediksi produksi Tanda Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit (Elaeis quineensis Jacq.) Afdeling 1 di Kebun Batee Puteh PT.Agro Sinergi Nusantara (ASN) pada tahun 2017-2026. Pada metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan teknik dokumentasi, wawancara secara langsung dengan asisten Afdeling 1. Pada t-uji Star (parsial) sebesar -2,700529192. Signifikansi (Sig) uji F sebesar 5,12627, lebih besar nilai sig. 5,12627 > 0,05. Pengambilan Keputusan dalam uji F dapat dikatakan bahwa Biaya Produksi (X1) dan produktivitas (X2), harga jual TBS (X3) secara simultan berpengaruh terhadap produksi TBS (Y) atau signifikan. Pada nilai Coefficients dapat diketahui bahwa nilai dari intercept, X1,X2 dan X3 pada persamaan regresi linear berganda  adalah  Y = -6590382,062 + 5,780733079 X1+ 1137424,513 X2+ 224,7128546 X3. Dalam uji parsial membandingkan antar t-hit (t-stat) dengan ttabel. Jika t hit > ttabel pada taraf tententu maka dapat dinyatakan variabel tersebut berpengaruh signifikan. Berdasarkan uji X1, X2 adalah sinigfikan dan X3 tidak signifikan. tyx, tx1y, tx2y, tx3y = -2,700529192 + 4,712699868 + 2,512148227 +0,123289198 maka biaya produksi (tx1y) dan produktivitas Ton/Ha (tx2y) adalah signifikan sedangkan Harga jual TBS (tx3y) tidak bersignifikan. Pada p-value biaya produksi (X1) dan produktivitas Ton/Ha (X2) berpengaruh terhadap harga jual TBS (X3) atau signifikan dan harga jual TBS (X3) tidak signifikan

    ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA JAMUR MERANG (Volvariella volvacea) STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN ANWAR FUTUHIYAH SLEMAN YOGYAKARTA

    Get PDF
    The Anwar Futuhiyyah Islamic boarding school is one of the Islamic boarding schools that has a business entity engaged in agriculture that cultivates straw mushrooms. This research aims to identify internal and external factors and determine alternative strategies for developing straw mushroom cultivation in the Islamic boarding school environment. Primary and secondary data were used through direct interviews and distributing questionnaires to mushroom managers at the Anwar Futuhiyyah Islamic Boarding School. The data analysis method used is SWOT analysis. The results of the EFAS and IFAS matrix analysis place the mushroom business in quadrant I, which shows significant potential and opportunities. These opportunities can be optimized by implementing aggressive strategies that will enable full utilization of the strengths possessed by the mushroom cultivation business. Analysis of the development strategy carried out in the straw mushroom business in Pondok Anwar Futuhiyyah using the SWOT matrix formulation, namely the SO strategy which consists of increasing the quality and quantity of production and harvest of straw mushrooms, involving competent boarding school students to obtain quality mushroom production results, making various kinds innovation in processed products made from straw mushrooms, developing access to information and marketing areas for straw mushrooms, developing straw mushroom center areas into mushroom agrotourism. Key-words: Development strategy, Straw mushroom, SWOT AnalysisINTISARI Pondok pesantren Anwar Futuhiyyah merupakan salah satu pondok pesantren yang memiliki badan usaha yang bergerak dibidang pertanian yang membudidayakan jamur merang. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi faktor internal dan eksternal serta mengetahui alternatif strategi pengembangan budidaya jamur merang di lingkungan pesantren. Data primer dan sekunder digunakan melalui wawancara secara langsung dan penyebaran kuisioner kepada pengelola jamur merang di Pondok Pesantren Anwar Futuhiyyah. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil analisis matriks EFAS dan IFAS menempatkan usaha jamur merang pada kuadran I, yang menunjukkan adanya potensi dan peluang yang signifikan. Peluang tersebut dapat dioptimalkan dengan penerapan strategi agresif yang akan memungkinkan pemanfaatan sepenuhnya dari kekuatan yang dimiliki oleh usaha budidaya jamur merang. Analisis strategi pengembangan yang dilakukan pada usaha jamur merang di Pondok Anwar Futuhiyyah menggunakan rumusan matriks SWOT yaitu strategi SO yang terdiri dari peningkatan kualitas dan kuantitas produksi dan hasil panen jamur merang, melibatkan santri pondok yang berkompeten untuk mendapatkan hasil produksi jamur yang berkualitas, membuat berbagai macam inovasi produk olahan berbahan baku jamur merang, pengembangan akses informasi dan wilayah pemasaran jamur merang, pengembangan kawasan sentra jamur merang menjadi agrowisata jamur.  Kata kunci: Analisis SWOT, Jamur merang,  Strategi pengembanga

    PENGARUH FREKUENSI PENYIANGAN GULMA DAN PANJANG TUNGGUL TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PADI SALIBU

    Get PDF
    Salibu is a rice plant that grows after the stems left over from the harvest have been pruned. Salibu cultivation has many advantages, including being able to increase land productivity through increasing the harvest index, and reducing production costs. There are many factors that effect growth in rice cultivation, including the height of cutting stems from harvest residues and weeds. Research was conducted from July to December 2020 at Pasar Ambacang, Kuranji District, Padang City with an altitude of 250 m above sea level. The experimental  units were laid out according to a Randomized Block Design (RCBD) with two factors and four replications. The first factor is the frequency of weeding which consists of 3 levels (weeding 1, 2 and 3 times) and the second factor is the cutting height which consists of 3 levels (3-7 cm, 12-16 cm and 21-25 cm). The results showed that there is no interaction between weeding frequency and stubble length on the growth of salibu rice plants. The stump length affects the height of the plant where the stump length of the 21-25 cm has higher plants than the others. Keywords : Weed, rice, growth  INTISARIPadi salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh setelah batang sisa panen dipangkas. Budidaya padi salibu memiliki beberapa keuntungan diantaranya dapat meningkatkan produktivitas lahan melalui peningkatan indeks panen dan dapat menekan biaya produksi. Dalam budidaya padi sistem salibu banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, diantaranya tinggi pemotongan batang sisa panen dan gulma. Penelitian sudah dilakukan di Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang dengan ketinggian tempat 250 m dpl pada bulan Juli-Desember 2020. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah frekuensi penyiangan yang terdiri dari 3 aras (disiangi 1, 2 dan 3 kali) dan faktor kedua adalah tinggi pemotongan yang terdiri dari 3 aras (3-7 cm, 12-16 cm, dan 21-25 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara frekuensi penyiangan dengan panjang tunggul terhadap pertumbuhan tanaman padi salibu. Panjang tunggul berpengaruh terhadap tinggi tanaman dimana panjang tunggul 21-25 cm memiliki tinggi tanaman lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Kata Kunci: gulma, padi, pertumbuhan

    1,245

    full texts

    1,365

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Universitas Janabadra
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇