e-Jurnal STKIP-PGRI Lubuklinggau
Not a member yet
1340 research outputs found
Sort by
PENDIDIKAN KELUARGA YANG MEMAHAMI PERBEDAAN INDIVIDU; PENENTU MOTIVASI BELAJAR ANAK SECARA DARING DI MASA PANDEMI COVID-19
The Covid-19 pandemic made a change in the learning process from offline to online. This has inevitable positive and negative effects from various aspects, such as learning objectives, students, educators, infrastructure, and the learning environment. All aspects of education that used to take place predominantly in schools are now all at home. Therefore, the key aspect of implementing education is now played by parents. But, the problem is, not all of parents have adequate knowledge about how to educate children and the psychological aspects that accompany it. The individual difference factor is the main aspect that determines children success in learning. This happens with the interaction between the accuracy of parental treatment that takes into account individual differences, thus making children motivated in learning. When the children’s learning motivation is good, the learning will take place effectively and make a meaningful contribution to the childs’ life. Thus, parents must strive for this achievement in order to get good results in children’s education even during the pandemic.Pandemi Covid-19 yang terjadi secara global membuat perubahan proses pembelajaran dari luring menjadi daring. Hal ini memberikan efek positif dan negatif yang tidak terelakkan dari berbagai aspek, seperti tujuan pembelajaran, peserta didik, pendidik, sarana prasarana, dan lingkungan belajar. Keseluruhan aspek pendidikan yang biasanya berlangsung secara dominan di sekolah, sekarang seluruhnya berada di rumah. Oleh sebab itu, aspek kunci dari pelaksana pendidikan, sekarang diperankan oleh orangtua. Namun, masalahnya adalah, tidak semua orangtua memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara mendidik anak beserta aspek psikologis yang menyertainya. Faktor perbedaan individu adalah aspek utama yang menentukan keberhasilan anak dalam belajar. Hal ini terjadi dengan adanya interaksi antara ketepatan perlakuan orangtua yang mempertimbangkan perbedaan individu, sehingga membuat anak termotivasi dalam pembelajaran. Ketika motivasi belajar anak baik, maka pembelajaran akan berlangsung secara efektif dan memberikan kontribusi yang berarti terhadap kehidupan anak tersebut. Dengan demikian, orangtua harus mengupayakan ketercapaian hal ini untuk memperoleh hasil yang baik dalam pendidikan anak meskipun di masa pandemi
PENGEMBANGAN MODUL IPA BERBASIS LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul IPA berbasis lingkungan serta mengetahui keefektifannya terhadap kemandirian belajar siswa SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan mengacu pada model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri atas siswa SMP yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen pengumpulan data meliputi lembar validasi ahli, angket respon siswa, dan angket kemandirian belajar. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui tingkat kelayakan dan keefektifan modul yang dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul IPA berbasis lingkungan memperoleh kategori sangat baik berdasarkan penilaian ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. Selain itu, hasil analisis kemandirian belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan setelah penggunaan modul, terutama pada aspek inisiatif belajar, tanggung jawab, disiplin, dan kepercayaan diri. Dengan demikian, modul IPA berbasis lingkungan yang dikembangkan dinyatakan layak dan efektif digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran IPA SMP untuk mendukung pembelajaran yang kontekstual dan meningkatkan kemandirian belajar siswa
A Study on Students’ Perceptions towards the Effectiveness of Teaching-Learning Strategies in an EFL Class: A Case Study at SMK Negeri 6 Kota Kupang in the Academic Year 2019/2020
Abstract
This study aimed at investigating the role of EFL teachers’ teaching strategies in their teaching effectiveness and their students’ motivation and achievement in learning English as a foreign language at SMK Negri 6 Kota Kupang. Data was collected by using a mixed-method with qualitative dominance. The students evaluated their teachers’ teaching effectiveness by completing the questionnaires distributed by the researcher. The findings suggested that the EFL students highly value respect and rapport from their teachers.
Keywords: students’ perception, effective teaching strategies, EF
IMPROVING STUDENTS’ MOTIVATION ON LEARNING ENGLISH THROUGH STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS METHOD
The objectives of the research were to identify and to what extent STAD method can improve students’ learning English motivation, and to describe strength and weakness of implementing STAD in this research. This research is a classroom action research. In collecting the data, the researcher used questionnaire, observation, interview and tests. The researcher conducted the tests and questionnaires before research (pre-test) and after implementing the method (post-test 1 and 2). The mean score of each test and questionnaire were compared to know the students improvements in motivation and reading skill. The research finding showed that the motivation of students improved in every cycle. The improvement of students’ motivation can be seen from the improvement of mean score of questionnaire (60. 72) before action, in cycle 1 62.03, and cycle 2 63.03. Besides, the reading skill of the students also improved. The improvement can be seen from the improvement of mean score of pre-test (59.75), post test of cycle 1 69.25, and post test of cycle 2 74.38. The researcher also found strength and weakness of this method.
 
IMPLEMENTASI METODE GROUP INVESTIGATION DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA SEJARAH DI STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU
This study aims to describe the implementation of the group investigation method in improving the activities and learning outcomes of history students at STKIP-PGRI Lubuklinggau. This type of research is an action research, with the research subject being the sixth semester students. This research was conducted in two cycles in each cycle consisting of 4 (four) stages, namely planning, implementation, observation, and reflection. Data collection techniques used are test techniques using questions in the form of descriptions, and non-test techniques using observation sheets for students and lecturers. The data analysis technique used is to use a simple percentage formula to measure the learning outcomes and activities of students and lecturers. From the results of research and discussion that the implementation of the group investigation method during the lecture process can improve the activities and learning outcomes of history students in semester VI at STKIP-PGRI Lubuklinggau. This can be seen from the results of data analysis which shows an increase in classical learning outcomes in the first cycle from 55.3% to 86.95%. Student activity in the first cycle increased 68% to 85.94% after the implementation of the group investigation method.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang pengimplementasian metode group investigation dalam meningkatkan aktifitas dan hasil belajar mahasiswa sejarah di STKIP-PGRI Lubuklinggau. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan, dengan subjek penelitian adalah mahasiswa semester VI . Penelitian ini dilakukan dua siklus dalam setiap siklusnya terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dengan menggunakan soal yang berbentuk uraian, dan teknik non tes dengan menggunakan lembar observasi untuk mahasiswa dan dosen. Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan rumus persentase sederhana untuk mengukur hasil belajar dan aktifitas mahasiswa dan dosen. Dari hasil penelitian dan pembahasan bahwa pengimplementasian metode group investigation pada saat proses perkuliahan dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar mahasiswa sejarah semester VI di STKIP-PGRI Lubuklinggau. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar secara klasikal pada siklus pertama 55,3% meningkat menjadi 86,95%. Aktivitas mahasiswa pada siklus pertama 68% meningkat menjadi 85,94% setelah diterapkannya metode group investigation
Pengembangan Buku Ajar Fisika Berbasis Problem Based Learning pada Materi Elastisitas dan Hukum Hooke
This study aims to develop a Problem Based Learning Physics Textbook on the subject of Elasticity and Hooke's Law that is valid, and practical. The problems in this study are 1) How is the quality of Physics textbooks based on Problem Based Learning if viewed in terms of validity, and practicality, in class XI SMA Negeri 2 Lubuklinggau? 2) How to design and develop a Problem Based Learning-based physics textbook that meets the objectives of validity, and practicality, in class XI of SMA Negeri 2 Lubuklinggau?. The subjects in this study were class XI MIA 2 which consisted of 9 students who were taken by purposive sampling technique. The development model in this study refers to the development model of Sugiyono which consists of 1.Potential and problems, 2.Data collection, 3.Product design, 4.Design validation, 5.Design revision, 6.Product trial, 7.Product revision, 8.Usage trial, 9.Product revision, 10.Mass production. But in this research, only used 9 stages of development. Data was collected by using a student response questionnaire technique. And validation consists of 3 expert validations, material validation with an assessment of 42 in the very good category, language validation with an assessment of 18 in the good category, and media validation with an assessment of 28 in the good category. The validation carried out got results with an assessment of 88 in the good category. Student responses to the physics module based on Problem Based Learning with an assessment of 330 in the very good category. So it can be said that the Problem Based Learning-based physics textbook that has been developed is valid, and practical.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Buku Ajar Fisika Berbasis Problem Based Learning pada pokok bahasan Elastisitas dan Hukum Hooke yang valid, dan praktis. Masalah dalam penelitian ini adalah 1)Bagaimana kualitas buku ajar Fisika berbasis Problem Based Learning jika ditinjau dari segi kevalidan, dan kepraktisan, pada kelas XI SMA Negeri 2 Lubuklinggau? 2)Bagaimana mendesain dan mengembangkan buku ajar fisika berbasis Problem Based Learning yang memenuhi sasaran kevalidan, dan kepraktisan, pada kelas XI SMA Negeri 2 Lubuklinggau?. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas XI MIA 2 yang terdiri dari 9 siswa yang diambil dengan teknik purposive sampling. Model pengembangan dalam penelitian ini mengacu terhadap model pengembangan dari sugiyono yang terdiri dari 1. Potensi dan masalah, 2.Pengumpulan data, 3.Desain produk, 4.Validasi desain, 5.Revisi desain, 6.Uji coba produk, 7.Revisi produk, 8.Uji coba pemakaian, 9.Revisi produk, 10.Produksi massal. Tetapi dalam penelitiannya hanya menggunakan 9 tahapan pengembangan saja. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket respon siswa. Dan validasi terdiri dari 3 validasi ahli, validasi materi dengan penilaian 42 dalam kategori sangat baik, validasi bahasa dengan penilaian 18 dalam kategori baik, dan validasi media dengan penilaian 28 dalam kategori baik. Validasi yang dilakukan mendapatkan hasil dengan penilaian 88 dalam kategori baik. Respon siswa terhadap modul fisika berbasis Problem Based Learning dengan penilaian 330 dalam kategori sangat baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa Buku Ajar fisika berbasis Problem Based Learning yang dikembangkan telah valid, dan praktis
Analisis Pemahaman Konsep Fisika Peserta Didik Kelas X IPA di SMA Negeri 1 Manokwari melalui Pembelajaran Online
This study aims to analyze student’s understanding of the physical concepts in class X IPA SMA Negeri 1 Manokwari through the online learning. The research method used is a survey method using a test instrument. The sampling technique used was purposive sampling with the test sample was 66 students from the first 2 classes who completed the material and the research sample was 219 students from the other 7 classes. The instrument used in this study was a test of understanding the concept of physics which was made and arranged by paying attention to the cognitive process of understanding the concept which consisted of 17 valid questions. The results of the analysis showed that the student’s ability to understand the physics concepts of class X IPA at SMA Negeri 1 Manokwari on Newton’s law material about straight motion were divided into five categories. The very high category was 4%, the high category was 20%, the moderate category was 39%, the low category was 25% and the very low category was 12%. The most visible understanding of the physics concepts is the cognitive process of interpreting with a percentage of very high and high ability students of 57,1%.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman konsep fisika peserta didik kelas X IPA SMA Negeri 1 Manokwari melalui pembelajaran online. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan menggunakan instrumen berupa tes. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel uji coba instrumen sebanyak 66 peserta didik dari 2 kelas yang pertama menyelesaikan materi dan sampel penelitian sebanyak 219 peserta didik dari 7 kelas lainnya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes pemahaman konsep fisika yang dibuat dan disusun dengan memperhatikan proses kognitif pemahaman konsep yang terdiri dari 17 pertanyaan yang sudah valid. Hasil analisis menunjukkan kemampuan pemahaman konsep fisika peserta didik kelas X IPA di SMA Negeri 1 Manokwari pada materi hukum Newton tentang gerak lurus tersebar ke dalam lima kategori. Kategori sangat tinggi sebanyak 4%, kategori tinggi sebanyak 20%, kategori sedang sebanyak 39%, kategori rendah sebanyak 25% dan kategori sangat rendah sebanyak 12%. Pemahaman konsep fisika yang paling terlihat adalah pada proses kognitif menafsirkan dengan persentase peserta didik berkemampuan sangat tinggi dan tinggi sebesar 57,1%
Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas X pada Materi Gerak
This research is motivated by problems that researchers obtained through library that research on physics misconceptions especially on a straight motion kinematics matter much done both domestically and abroad, but these studies have not been done in SMA Negeri Terawas environment. One of the problems misconceptions related to the problem students in the class X SMA Negeri Terawas is the low learning outcomes of students on the subject of motion kinematics straight. The purpose of this study was to determine the form of misconceptions experienced by X grade students, the low learning outcomes, especially on the subject of motion kinematics straight. This research is a descriptive method. Data collection techniques using multiple choice tests are the reasons, and the level of confidence (CRI). The subjects were taken through purposive sampling technique. From the analysis of students' responses, it was found that of the 14 items were presented, there are 7 items that indicate the occurrence miskonsepsi on students, 2 items showed lack of students to understand the concept, and 5 items showed a good mastery of concepts by students. Number of students who have reached 100 % for the misconceptions about the number 13 with an average high CRI is 4.74, and about the number 14 with an average of 4.76 CRI. The misconception occurs in sub subject matter motion free fall .Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang peneliti peroleh melalui perpustakaan bahwa penelitian tentang miskonsepsi fisika khususnya pada materi kinematika gerak lurus banyak dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, namun penelitian tersebut belum pernah dilakukan di lingkungan SMA Negeri Terawas. Salah satu masalah miskonsepsi yang terkait dengan masalah siswa kelas X SMA Negeri Terawas adalah rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran kinematika gerak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk miskonsepsi yang dialami siswa kelas X, rendahnya hasil belajar khususnya pada mata pelajaran kinematika gerak. Penelitian ini merupakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan tes pilihan ganda yaitu alasan, dan tingkat kepercayaan (CRI). Subjek diambil dengan teknik purposive sampling. Dari hasil analisis respon siswa ditemukan bahwa dari 14 item yang disajikan terdapat 7 item yang menunjukkan terjadinya miskonsepsi pada siswa, 2 item menunjukkan siswa kurang memahami konsep, dan 5 item menunjukkan penguasaan konsep yang baik oleh siswa. Jumlah siswa yang sudah mencapai 100% kesalahpahaman soal angka 13 dengan rata-rata CRI tinggi tersebut 4,74, dan tentang angka 14 dengan rata-rata 4,76 CRI. Kesalahpahaman terjadi pada sub pokok bahasan gerak jatuh beba
Peningkatan Kemampuan Kognitif Siswa melalui Problem Based Learning dengan Evaluasi Berbasis Physics Playing Cards
The purpose of this study is to describe the increase in students' cognitive abilities as an effect of providing problem based learning treatment based on the evaluation of Physics Playing Cards. The method used in the implementation of this research uses a quasi-experimental method, where there is one class as the experimental class and another class as the control class. This study used two sample classes at the State Senior High School (SMAN) 4 Pamekasan which were taken randomly. This research instrument uses a cognitive ability test on wave material. Research data were taken before and after learning. Data were analyzed using N-gain to find out the increase in students' cognitive abilities. The results showed that there was a high increase in students' cognitive abilities in the experimental class and a moderate increase in students' cognitive abilities in the control class. This research can be concluded that the use of evaluation based on Physics Playing Cards in the problem based learning model has increased higher than the problem based learning model alone.Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif siswa sebagai efek dari pemberian perlakuan problem based learning berbasis evaluasi Physics Playing Cards. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode kuasi ekperimen, dimana ada satu kelas sebagai kelas eksperimen serta satu kelas lagi sebagai kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan dua kelas sampel di Sekolah Menengah Atas negeri (SMAN) 4 Pamekasan yang diambil secara acak kelas. Instrument penelitian ini menggunakan tes kemampuan kognitif pada materi gelombang. Data penelitian diambil pada saat sebelum pembelajaran dan pada saat setelah pembelajaran. Data dianalisis menggunakan N-gain untuk mengetahuai peningkatan kemampuan kognitif siswa. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan yang tinggi kemampuan kognitif siswa pada kelas ekperimen dan peningkatan yang sedang kemampuan kognitif siswa pada kelas kontrol. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan evaluasi berbasi Physics Playing Cards pada model problem based learning mengalami peningkatan lebih tinggi dıbandıngkan dengan model problem based learnıng saja
Kemampuan Mengajar Pengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) dalam Pelatihan Tingkat Dasar se-Kota Bengkulu melalui Model Induktif Partisipatif
Every teacher who is trained in teaching is influenced by the experience and intensity of practicing in teaching. However, in reality there are still teachers who sometimes have been teaching for a long time, but are still poorly trained in carrying out professional teaching practices, especially in teaching BIPA. This study aims to describe the teaching ability of BIPA teachers at the basic level with a participatory inductive model. This research method uses a qualitative descriptive method. Descriptively describes the mastery and teaching abilities of BIPA teachers at the basic level, while qualitatively it describes the processes and activities of the trainees through a participatory inductive model. The results of this study, namely the mastery of understanding BIPA material by training participants before training (average 65.12) and after training (85.68) increased by 21%. Aspects that become indicators of participants' mastery in mastering BIPA material, namely methodology, teaching materials, media, lesson plans, and evaluation. The teaching ability of participants in teaching BIPA at the basic level is good (4.09). However, there are several aspects that need to be observed in the ability to teach BIPA even though it is good, such as aspects of the assessment process (3.91) and reflection and summary (3.79). This success was carried out with a participatory inductive training model by following six stages, namely fostering intimacy, identification, formulation of goals and group discussions, program preparation, training process, and assessment of the training process. The participatory inductive model that is applied will produce better teaching skills if it is presented systematically or gradually or adapted to the training material.Setiap guru yang terlatih dalam mengajar dipengaruhi oleh pengalaman dan intensitas berlatih dalam mengajar. Namun, dalam kenyataannya masih terdapat guru yang kadangkala sudah lama megajar, tetapi masih kurang terlatih dalam melakukan praktik mengajar yang profesional apalagi dalam mengajar BIPA. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan mengajar pengajar BIPA tingkat dasar dengan model induktif partisipatif. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan, yaitu observasi, tes, angket, wawancara, dan praktik mengajar. Teknik analisis datanya, yaitu rekapitulasi, tabulasi, analisisvdan deskripsi, dan pencatatan atau transkripsi. Uji keabsahan datanya dengan triangulasi. Adapun hasil dari penelitian ini, yaitu penguasaan pemahaman materi BIPA oleh peserta pelatihan sebelum pelatihan (rata-rata 65.12) dan sesudah pelatihan (85.68) mengalami peningkatan sebesar 21%. Aspek yang menjadi indikator penguasaan peserta dalam penguasaan materi BIPA, yaitu metodologi, bahan ajar, media, RPP, dan evaluasi. Kemampuan mengajar peserta dalam mengajar BIPA tingkat dasar sudah baik (4.09). Namun, ada beberapa aspek yang perlu dicermati dalam kemampuan mengajar BIPA walaupun sudah baik, seperti aspek proses penilaian (3.91) dan refleksi dan rangkuman (3.79). Keberhasilan itu dilakukan dengan model pelatihan induktif partisipatif dengan mengikuti enam tahap, yaitu pembinaan keakraban, identifikasi, perumusan tujuan dan diskusi kelompok, penyusunan program, proses pelatihan, dan penilaian proses pelatihan. Model induktif partispiatif yang diterapkan akan menghasilkan kemampuan mengajar yang lebih baik bila disajikan secara sistematis maupun bertahap atau disesuaikan dengan materi pelatihan