e-Jurnal STKIP-PGRI Lubuklinggau
Not a member yet
1340 research outputs found
Sort by
Perbandingan Hasil Belajar Matematika antara Model Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray dan Make A Match pada Siswa Kelas VII Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Lubuklinggau 2&3 SMP Negeri 4 LubuklinggauTahun Pelajaran 2012/2013
This research entitled “Comparison of Mathematics Learning Outcomes between of Cooperative Model Type Two Stay Two Stray and Make A Match in the Seventh Grade Students Junior High School Number 4 Lubuklinggau in the academic Year of 2012/2013”. The problem of this study was the following student learning outcomes of learning mathematics through cooperative model of Two Stay Two Stray significantly better learning outcomes than students who take mathematics learning through cooperative models Make A Match?. Research methods used are purely the type of comparative experiments. Its population is all students of the seventh grade students Junior High School Number 4 Lubuklinggau in the accademic year of 2012/2013, as the sample is class VII.A model of cooperative learning type Two Stay Two Stray and class VII.D given model of cooperative learning type Make A Match. Data collected by test techniques. Data were analyzed using t-test. Based on the results of the data analysis it can be concluded that learning outcomes of students who take mathematics learning through cooperative model of Two Stay Two Stray significantly better learning outcomes than students who take mathematics learning through cooperative models Make A Match. Average student learning outcomes Two Stay Two Stray class of 83,39 and Make A Match of 76,05.This research entitled “Comparison of Mathematics Learning Outcomes between of Cooperative Model Type Two Stay Two Stray and Make A Match in the Seventh Grade Students Junior High School Number 4 Lubuklinggau in the academic Year of 2012/2013”. The problem of this study was the following student learning outcomes of learning mathematics through cooperative model of Two Stay Two Stray significantly better learning outcomes than students who take mathematics learning through cooperative models Make A Match?. Research methods used are purely the type of comparative experiments. Its population is all students of the seventh grade students Junior High School Number 4 Lubuklinggau in the accademic year of 2012/2013, as the sample is class VII.A model of cooperative learning type Two Stay Two Stray and class VII.D given model of cooperative learning type Make A Match. Data collected by test techniques. Data were analyzed using t-test. Based on the results of the data analysis it can be concluded that learning outcomes of students who take mathematics learning through cooperative model of Two Stay Two Stray significantly better learning outcomes than students who take mathematics learning through cooperative models Make A Match. Average student learning outcomes Two Stay Two Stray class of 83,39 and Make A Match of 76,05
Efektivitas Penggunaan Macromedia Flashdalam Pembelajaran Matematika SiswaKelas XI IPS MAN 1 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2012/2013
This research entitled "Effectiveness of Using Macromedia Flash in Learning Mathematics Grade Students XI IPS MAN 1 Lubuklinggau Academic Year of 2012/2013". The problems ofthis research are: (1) whether the learning outcomes of students of class XI IPS MAN 1 Lubuklinggau academic year of 2012/2013 after participating in learning mathematics using Macromedia Flash completed? (2) how the response of students to wards learning mathematics using Macromedia Flash? (3) how the learning activities of students who take mathematics using Macromedia Flash? The research used a form of quasi-experiment conducted in the absence of a comparison class design withpre-test and post-test group. Its population is all students of class XI IPS MAN 1 Lubuklinggau academic Year of 2012/2013, which consists of 106 students and a sample is class XI IPS 3, amounting to 34 students. Data collection was done by using tests and non-test in the form of questionnaires and observation. Test data were analyzed using t-test at significance level α=0.05. Based on the data analysis it can be concluded that the Macromedia Flash effective for use in teaching mathematics. Student learning outcomes after participating in learning mathematics using Macromedia Flash significantly due to an average value of 80.98 and the number of students who completed reaches 79.41%. Increasing student activity a teach meeting and the students gave a positive response.This research entitled "Effectiveness of Using Macromedia Flash in Learning Mathematics Grade Students XI IPS MAN 1 Lubuklinggau Academic Year of 2012/2013". The problems ofthis research are: (1) whether the learning outcomes of students of class XI IPS MAN 1 Lubuklinggau academic year of 2012/2013 after participating in learning mathematics using Macromedia Flash completed? (2) how the response of students to wards learning mathematics using Macromedia Flash? (3) how the learning activities of students who take mathematics using Macromedia Flash? The research used a form of quasi-experiment conducted in the absence of a comparison class design withpre-test and post-test group. Its population is all students of class XI IPS MAN 1 Lubuklinggau academic Year of 2012/2013, which consists of 106 students and a sample is class XI IPS 3, amounting to 34 students. Data collection was done by using tests and non-test in the form of questionnaires and observation. Test data were analyzed using t-test at significance level α=0.05. Based on the data analysis it can be concluded that the Macromedia Flash effective for use in teaching mathematics. Student learning outcomes after participating in learning mathematics using Macromedia Flash significantly due to an average value of 80.98 and the number of students who completed reaches 79.41%. Increasing student activity a teach meeting and the students gave a positive response
Pengaruh Model Pembelajaran Mind Mapping terhadap Kemampuan Menulis Karya Tulis Ilmiah Siswa Kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Mind Mapping terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah pada siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau. Hal ini sesuai dengan rumusan permasalahan dalam penelitian, yaitu: Apakah ada pengaruh model pembelajaran Mind Mapping terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau? Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni dengan penggunaan dua sampel penelitian yang dipilih secara acak kelas sehingga terpilih kelas XI IA sebagai kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan menggunakan model Mind Mapping dan kelas XI IS sebagai kelas kontrol diberi pembelajaran dengan menggunakan model konvensional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan teknik nontes (wawancara) pada guru bahasa Indonesia. Data tes yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji-t. Berdasarkan analisis uji “t” (uji perbedaan dua rata-rata) didapat t hitung = 5,70. Selanjutnya t hitung dikonsultasikan dengan nilai t tabel dengan db = (n1 + n2 – 2) = (32 + 38 – 2) = 68. Dikarenakan 68 tidak terdapat pada tabel, maka digabungkan db = 120. Lalu dibandingkan dengan t tabel dalam taraf signifikan 5 % diperoleh t tabel1,98 dan taraf kepercayaan 1% diperoleh t tabel 2,62. Jadi, hipotesis Alternatif (Ha) diterima karena t hitung lebih besar dari t tabel (5,59 > 1,98 dan 5,59 > 2,62). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini bahwa model pembelajaran Mind Mapping berpengaruh terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau, teruji kebenarannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Mind Mapping terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah pada siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau. Hal ini sesuai dengan rumusan permasalahan dalam penelitian, yaitu: Apakah ada pengaruh model pembelajaran Mind Mapping terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau? Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni dengan penggunaan dua sampel penelitian yang dipilih secara acak kelas sehingga terpilih kelas XI IA sebagai kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan menggunakan model Mind Mapping dan kelas XI IS sebagai kelas kontrol diberi pembelajaran dengan menggunakan model konvensional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan teknik nontes (wawancara) pada guru bahasa Indonesia. Data tes yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji-t. Berdasarkan analisis uji “t” (uji perbedaan dua rata-rata) didapat t hitung = 5,70. Selanjutnya t hitung dikonsultasikan dengan nilai t tabel dengan db = (n1 + n2 – 2) = (32 + 38 – 2) = 68. Dikarenakan 68 tidak terdapat pada tabel, maka digabungkan db = 120. Lalu dibandingkan dengan t tabel dalam taraf signifikan 5 % diperoleh t tabel1,98 dan taraf kepercayaan 1% diperoleh t tabel 2,62. Jadi, hipotesis Alternatif (Ha) diterima karena t hitung lebih besar dari t tabel (5,59 > 1,98 dan 5,59 > 2,62). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini bahwa model pembelajaran Mind Mapping berpengaruh terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau, teruji kebenarannya
Perbedaan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa antara Kelas Creative Problem Solving (CPS) dengan Kelas Konvensional Mata Kuliah Biologi Lingkungan Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Lubuklinggau
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara kelas Creative Problem Solving (CPS) dengan kelas konvensional pada mata kuliah biologi lingkungan di prodi pendidikan biologi STKIP PGRI Lubuklinggau. Metode penelitian ini adalah kuasi-eksperimen, dengan menggunakan Pretest Posttest Control Group Design. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Lubuklinggau, dengan sampel adalah mahasiswa yang berada di semester II sejumlah 60 orang yang terbagi dalam 2 kelas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan Nonprobability sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes uraian untuk mengukur kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji perbedaan dua rata-rata (uji Independent sample t-Test). Analisis statistik dibantu dengan software IBM SPPS Staistic 16.0 for Windows dan Microsoft Excell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara kelas creative problem solving (CPS) dengan kelas konvensional pada matakuliah biologi lingkungan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara kelas Creative Problem Solving (CPS) dengan kelas konvensional pada mata kuliah biologi lingkungan di prodi pendidikan biologi STKIP PGRI Lubuklinggau. Metode penelitian ini adalah kuasi-eksperimen, dengan menggunakan Pretest Posttest Control Group Design. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Lubuklinggau, dengan sampel adalah mahasiswa yang berada di semester II sejumlah 60 orang yang terbagi dalam 2 kelas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan Nonprobability sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes uraian untuk mengukur kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji perbedaan dua rata-rata (uji Independent sample t-Test). Analisis statistik dibantu dengan software IBM SPPS Staistic 16.0 for Windows dan Microsoft Excell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara kelas creative problem solving (CPS) dengan kelas konvensional pada matakuliah biologi lingkungan
Problematika Pembelajaran Matematika di SD
Belajar matematika adalah belajar konsep-konsep matematika yang abstrak. Siswa SD pada umumnya berada pada tahap berpikir konkrit yang ditandai oleh penalaran logis tentang hal-hal yang dapat dijumpai dalam dunia nyata. Di samping itu, konsep matematika yang lebih tinggi daripada yang sudah dimiliki peserta didik, tidak dapat dikomunikasikan dengan definisi, tetapi perlu memberikan kepadanya contoh-contoh yang sesuai dengan materi pelajaran. Dengan contoh konkrit yang cocok dengan konsep yang diajarkan, dimaksudkan untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar matematika. Guru memegang peranan yang penting dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat siswa dalam belajar. Disamping faktor-faktor lain, faktor guru inilah yang sering dianggap menjadi penyebab yang paling penting mengapa ada banyak siswa merasa takut atau memiliki minat rendah terhadap matematika. Oleh sebab itu, guru harus mengembangkan keterampilan dan kemampuan dalam mengajar matematika sehingga siswa menjadi berminat dan tertarik pada pelajaran matematika.Belajar matematika adalah belajar konsep-konsep matematika yang abstrak. Siswa SD pada umumnya berada pada tahap berpikir konkrit yang ditandai oleh penalaran logis tentang hal-hal yang dapat dijumpai dalam dunia nyata. Di samping itu, konsep matematika yang lebih tinggi daripada yang sudah dimiliki peserta didik, tidak dapat dikomunikasikan dengan definisi, tetapi perlu memberikan kepadanya contoh-contoh yang sesuai dengan materi pelajaran. Dengan contoh konkrit yang cocok dengan konsep yang diajarkan, dimaksudkan untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar matematika. Guru memegang peranan yang penting dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat siswa dalam belajar. Disamping faktor-faktor lain, faktor guru inilah yang sering dianggap menjadi penyebab yang paling penting mengapa ada banyak siswa merasa takut atau memiliki minat rendah terhadap matematika. Oleh sebab itu, guru harus mengembangkan keterampilan dan kemampuan dalam mengajar matematika sehingga siswa menjadi berminat dan tertarik pada pelajaran matematika
PENERAPAN MODEL RESPONS PEMBACA DALAM UPAYA MENGOPTIMALISASIKAN HASIL BELAJAR APRESIASI SASTRA CERITA SISWA KELAS 1 SMP NEGERI 5 LUBUKLINGGAU
Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang penerapan model pengajaran respons pembaca dalam upaya mengoptimalisasikan hasil belajar apresiasi sastra cerita pada siswa Kelas 1 SMP Negeri 5 Lubuklinggau. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam tiga siklus pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, angket, dan tes hasil belajar. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model respons pembaca dapat mengoptimalisasikan hasil belajar siswa Kelas 1 SMP Negeri 5 Lubuklinggau dalam mengapresiasi sastra cerita. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase rata-rata dari hasil tes awal, tes akhir merespons cerita pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3. Pada siklus 3 persentase pemahaman rata-rata siswa dalam mengapresiasi sastra cerita sudah mencapai ketuntasan belajar (85.03%). Di samping itu juga, dapat dilihat dari perbanbingan peningkatan gain, rata-rata gain siswa secara keseluruhan meningkat sebesar 18.55% dari siklus 1 sampai siklus 3. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran, terlihat siswa aktif dalam kegiatan diskusi merespons cerita. Dalam merespons cerita, siswa terlibat langsung dalam proses pemaknaan karya sastra. Hasil merespons cerita oleh siswa menunjukkan respons yang bersifat sementara, relative, dan variatif.Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang penerapan model pengajaran respons pembaca dalam upaya mengoptimalisasikan hasil belajar apresiasi sastra cerita pada siswa Kelas 1 SMP Negeri 5 Lubuklinggau. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam tiga siklus pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, angket, dan tes hasil belajar. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model respons pembaca dapat mengoptimalisasikan hasil belajar siswa Kelas 1 SMP Negeri 5 Lubuklinggau dalam mengapresiasi sastra cerita. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase rata-rata dari hasil tes awal, tes akhir merespons cerita pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3. Pada siklus 3 persentase pemahaman rata-rata siswa dalam mengapresiasi sastra cerita sudah mencapai ketuntasan belajar (85.03%). Di samping itu juga, dapat dilihat dari perbanbingan peningkatan gain, rata-rata gain siswa secara keseluruhan meningkat sebesar 18.55% dari siklus 1 sampai siklus 3. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran, terlihat siswa aktif dalam kegiatan diskusi merespons cerita. Dalam merespons cerita, siswa terlibat langsung dalam proses pemaknaan karya sastra. Hasil merespons cerita oleh siswa menunjukkan respons yang bersifat sementara, relative, dan variatif
THE EFFECT OF SELF CORRECTION AND PEER CORRECTION ON PRONUNCIATION OF SECOND SEMESTER STUDENTS OF ENGLISH EDUCATION STUDY PROGRAM, STKIP PGRI LUBUKLINGGAU
It is indispensible for EFL learners to have a good pronunciation, because knowing a language means to understand and to be understood by people who know English. This research was carried out to find out if there was significant progress and significant difference on the achievement of English pronunciation of students who were taught by self correction and peer correction. The students‟ perception on self correction and peer correction in teaching English pronunciation was also assessed. The quasi-experimental design with pretest-posttest nonequivalent-groups design was used in this study. Sixty second semester students of English Education Study Program of STKIP PGRI Lubuklinggau in academic year of 2010/2011 were purposively selected as the sample. They were put into three groups. The obtained data which were analyzed using oneway ANOVA showed that there was significant progress on the achievement of English pronunciation of both groups of students who were taught by self correction and peer correction. However, the difference on the achievement of students‟ English pronunciation by self correction and peer correction was not significant. It was also found that there was students‟ positive perception on self correction and peer correction in teaching pronunciation. The evidence indicated that self correction and peer correction could improve the students‟ English pronunciation. Finally, the students‟ perception on the application of peer correction in teaching pronunciation was better than on self correction.It is indispensible for EFL learners to have a good pronunciation, because knowing a language means to understand and to be understood by people who know English. This research was carried out to find out if there was significant progress and significant difference on the achievement of English pronunciation of students who were taught by self correction and peer correction. The students‟ perception on self correction and peer correction in teaching English pronunciation was also assessed. The quasi-experimental design with pretest-posttest nonequivalent-groups design was used in this study. Sixty second semester students of English Education Study Program of STKIP PGRI Lubuklinggau in academic year of 2010/2011 were purposively selected as the sample. They were put into three groups. The obtained data which were analyzed using oneway ANOVA showed that there was significant progress on the achievement of English pronunciation of both groups of students who were taught by self correction and peer correction. However, the difference on the achievement of students‟ English pronunciation by self correction and peer correction was not significant. It was also found that there was students‟ positive perception on self correction and peer correction in teaching pronunciation. The evidence indicated that self correction and peer correction could improve the students‟ English pronunciation. Finally, the students‟ perception on the application of peer correction in teaching pronunciation was better than on self correction
LINGUISTIK SEBAGAI ILMU BAHASA
Istilah linguistik sering dinyatakan dengan berbagai istilah atau nama. Ada yang dinyatakannya dengan linguistik, pengatar linguistik, linguistik umum, ataupengetahuan linguistik umum. Namun, dengan istilah-istilah yang berbeda itu substansi kajiannya sama yakni bahasa. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa, ilmu yangmengkaji, menelaah atau mempelajari bahasa secara umum, yang mencakup bahasa daerah, bahasa Indonesia, atau bahasa asing. Oleh karena itu, linguistik disebut jugalinguistik umum (general linguistics). Bahasa sebagai objek kajian linguistik adalahsistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa yangdimaksudkan ini memiliki ciri atau sifat sebagai berikut: bahasa adalah sistem, bahasa itu berwujud lambang, bahasa itu bunyi, bahasa itu bermakna, bahasa itu arbitrer, bahasa itu konvensional, bahasa itu produktif, bahasa itu unik di samping universal, bahasa itu dinamis, dan bahasa itu manusiawi serta bervariasi. Sebagai ilmu bahasa, linguistik telah mengalami tahap-tahap perkembangan seperti ilmu lainnya, tahapperkembangan yang dimaksudkan itu meliputi; tahap spekulasi, tahap observasi danklasifikasi, serta tahap perumusan teori. Linguistik juga telah memenuhi syarat-syarat keilmuan yang meliputi;(1) memiliki objek kajian (ontologi); (2) memiliki metode kerja (epistemologi); dan (3) linguistik memiliki manfaat kajian (aksiologi).Istilah linguistik sering dinyatakan dengan berbagai istilah atau nama. Ada yang dinyatakannya dengan linguistik, pengatar linguistik, linguistik umum, ataupengetahuan linguistik umum. Namun, dengan istilah-istilah yang berbeda itu substansi kajiannya sama yakni bahasa. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa, ilmu yangmengkaji, menelaah atau mempelajari bahasa secara umum, yang mencakup bahasa daerah, bahasa Indonesia, atau bahasa asing. Oleh karena itu, linguistik disebut jugalinguistik umum (general linguistics). Bahasa sebagai objek kajian linguistik adalahsistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa yangdimaksudkan ini memiliki ciri atau sifat sebagai berikut: bahasa adalah sistem, bahasa itu berwujud lambang, bahasa itu bunyi, bahasa itu bermakna, bahasa itu arbitrer, bahasa itu konvensional, bahasa itu produktif, bahasa itu unik di samping universal, bahasa itu dinamis, dan bahasa itu manusiawi serta bervariasi. Sebagai ilmu bahasa, linguistik telah mengalami tahap-tahap perkembangan seperti ilmu lainnya, tahapperkembangan yang dimaksudkan itu meliputi; tahap spekulasi, tahap observasi danklasifikasi, serta tahap perumusan teori. Linguistik juga telah memenuhi syarat-syarat keilmuan yang meliputi;(1) memiliki objek kajian (ontologi); (2) memiliki metode kerja (epistemologi); dan (3) linguistik memiliki manfaat kajian (aksiologi)
FIGURATIVE LANGUAGE DALAM WACANA DRAMA SERI “UPIN DAN IPIN” KARYA SIMON MONJACK DENGAN TINJAUAN DESKRIPTIF
The purpose of this research is to explain figurative language or style of sentence structure in terms of shape and meaning in the absence of direct discourse of drama serial "Upin and Ipin" by Simon Monjack. The theory of language style used referenced from Keraf (2010), both based on sentence structure and style that in terms of direct or absence of meaning consisting of rhetorical style and the style of figurative language. The research method used is descriptive method, the data source is the discourse of drama serial "Upin and Ipin" by Simon Monjack and data in the form of results from the transcription of spoken language into written language in discourse drama "Upin and Ipin" by Simon Monjack. Data collection techniques used were recording techniques, while the data analysis techniques that amounted to 6 episodes, the order is as follows: (1) transcription, (2) encoding, (5) identification, (4) classification, and (5) interpretation. The results provide information that style based on the structure of sentences in discourse drama series "Upin and Upin" by Simon Monzack dominated by stylistic repetition. Another type of style that is based on sentence structure, style climax, anticlimax, antithesis, and parallel. While the immediate absence of meaning in terms of divided into two parts, namely the rhetorical and figurative. Rhetorical style of language that appears dominated by style and erotesis koreksio. In addition it also found asonansi style, apofasis, and eufemismus. Style of figurative language that appears most are kind of stylistic allusion is cynicism. In addition, there are also stylistic simile, metaphor, sarcasm, and style Innuendo.The purpose of this research is to explain figurative language or style of sentence structure in terms of shape and meaning in the absence of direct discourse of drama serial "Upin and Ipin" by Simon Monjack. The theory of language style used referenced from Keraf (2010), both based on sentence structure and style that in terms of direct or absence of meaning consisting of rhetorical style and the style of figurative language. The research method used is descriptive method, the data source is the discourse of drama serial "Upin and Ipin" by Simon Monjack and data in the form of results from the transcription of spoken language into written language in discourse drama "Upin and Ipin" by Simon Monjack. Data collection techniques used were recording techniques, while the data analysis techniques that amounted to 6 episodes, the order is as follows: (1) transcription, (2) encoding, (5) identification, (4) classification, and (5) interpretation. The results provide information that style based on the structure of sentences in discourse drama series "Upin and Upin" by Simon Monzack dominated by stylistic repetition. Another type of style that is based on sentence structure, style climax, anticlimax, antithesis, and parallel. While the immediate absence of meaning in terms of divided into two parts, namely the rhetorical and figurative. Rhetorical style of language that appears dominated by style and erotesis koreksio. In addition it also found asonansi style, apofasis, and eufemismus. Style of figurative language that appears most are kind of stylistic allusion is cynicism. In addition, there are also stylistic simile, metaphor, sarcasm, and style Innuendo
PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII PADA MATERI ALAT-ALAT OPTIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI SMP NEGERI SUKA MULYA
Penelitian ini berjudul “ Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Pada Materi Alatalat Optik Melalui Model Pembelajaran Talking Stick di SMP Negeri Suka Mulya. Dengan permasalahan umum apakah penerapan model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi alat-alat optik di kelas VIII SMP Negeri Suka Mulya. Sedangkan permasalahan khusus pada penelitian ini adalah bagaimana strategi penerapan model pembelajaran talking Stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi alat-alat optik?, dan bagaimana hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri Suka Mulya setelah diterapkan model pembelajaran talking Stick? Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penerapan model talking Stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengadakan perubahan strategi, peneliti menggunakan media alat peraga melalui metode demonstrasi, memberikan contoh –contoh sederhana alat-alat optik dalam kehidupan sehari-hari, memberikan motivasi kepada siswa yang tidak bisa menjawab dengan benar dan memberikan pujian kepada siswa yang dapat menyampaikan pendapat. Hasil belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran talking Stick meningkat, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa pada pratindakan 61 pada siklus I nilai rata-rata siswa meningkat 71 dan pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 76. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Fisika dengan menggunakan model pembelajaran talking stick meningkatkan hasil belajar fisika.Penelitian ini berjudul “ Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Pada Materi Alatalat Optik Melalui Model Pembelajaran Talking Stick di SMP Negeri Suka Mulya. Dengan permasalahan umum apakah penerapan model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi alat-alat optik di kelas VIII SMP Negeri Suka Mulya. Sedangkan permasalahan khusus pada penelitian ini adalah bagaimana strategi penerapan model pembelajaran talking Stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi alat-alat optik?, dan bagaimana hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri Suka Mulya setelah diterapkan model pembelajaran talking Stick? Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penerapan model talking Stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengadakan perubahan strategi, peneliti menggunakan media alat peraga melalui metode demonstrasi, memberikan contoh –contoh sederhana alat-alat optik dalam kehidupan sehari-hari, memberikan motivasi kepada siswa yang tidak bisa menjawab dengan benar dan memberikan pujian kepada siswa yang dapat menyampaikan pendapat. Hasil belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran talking Stick meningkat, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa pada pratindakan 61 pada siklus I nilai rata-rata siswa meningkat 71 dan pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 76. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Fisika dengan menggunakan model pembelajaran talking stick meningkatkan hasil belajar fisika