e-Jurnal STKIP-PGRI Lubuklinggau
Not a member yet
1340 research outputs found
Sort by
PERBEDAAN PENGUASAAN KONSEP MATEMATIKA SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN KEMAMPUAN AWAL BERBEDA DI SMP PULAU KIDAK TAHUN PELAJARAN 2012-2013
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) interaksi antara kemampuan awal siswa dan pembelajaran kooperatif dengan prestasi belajar siswa, 2) perbedaan penguasaan konsep siswa antara yang belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan yang belajar melalui pembelajaran kooperatif Tipe NHT, 3) perbedaan penguasaan konsep melalui pembelajaran kooperatif pada siswa yang berkemampuan awal tinggi, dan 4) perbedaan penguasaan konsep melalui pembelajaran kooperatif pada siswa yang berkemampuan awal rendah. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dan menggunakan rancangan eksperimen faktorial 2x2. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Pulakidak, dengan sampel siswa kelas VII.a dan VII.b, berjumlah 52 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes. Analisis data menggunakan analisis varians dua arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat interaksi antara kemampuan awal siswa dan pembelajaran kooperatif dengan prestasi belajar siswa dengan nilai P-value 0,051, (2) rata-rata penguasaan konsep siswa yang belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih tinggi dibandingkan dengan yang belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan nilai P-value 0,490 dan perbedaan rata-rata sebesar 4,75, (3) rata-rata penguasaan konsep siswa yang berkemampuan awal tinggi dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih tinggi daripada dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan perbedaan rata-rata 0,25, dan (4) rata-rata penguasaan konsep siswa yang berkemampuan awal rendah dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi daripada dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan perbedaan rata-rata 9,75.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) interaksi antara kemampuan awal siswa dan pembelajaran kooperatif dengan prestasi belajar siswa, 2) perbedaan penguasaan konsep siswa antara yang belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan yang belajar melalui pembelajaran kooperatif Tipe NHT, 3) perbedaan penguasaan konsep melalui pembelajaran kooperatif pada siswa yang berkemampuan awal tinggi, dan 4) perbedaan penguasaan konsep melalui pembelajaran kooperatif pada siswa yang berkemampuan awal rendah. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dan menggunakan rancangan eksperimen faktorial 2x2. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Pulakidak, dengan sampel siswa kelas VII.a dan VII.b, berjumlah 52 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes. Analisis data menggunakan analisis varians dua arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat interaksi antara kemampuan awal siswa dan pembelajaran kooperatif dengan prestasi belajar siswa dengan nilai P-value 0,051, (2) rata-rata penguasaan konsep siswa yang belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih tinggi dibandingkan dengan yang belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan nilai P-value 0,490 dan perbedaan rata-rata sebesar 4,75, (3) rata-rata penguasaan konsep siswa yang berkemampuan awal tinggi dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih tinggi daripada dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan perbedaan rata-rata 0,25, dan (4) rata-rata penguasaan konsep siswa yang berkemampuan awal rendah dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi daripada dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan perbedaan rata-rata 9,75
MODEL MANAJEMEN SEKOLAH BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT UNTUK MEMENUHI STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) SARANA DAN PRASARANA DI SMP HIDAYATULLAH KOTA BENGKULU
Penelitian ini bertujuan untuk menguji model manajemen sekolah berbasis partisipasi masyarakat dalam memenuhi layanan minimal sarana dan prasarana sekolah. Penelitian ini terdiri dari tiga siklus. Setiap siklus meliputi kegitana, merencanakan, melakukan tindakan, pengawasan dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya model manajemen sekolah berbasis potensi (ide, tenaga, dan pemikiran) masyarakat dapat meningkatkan keterpenuhan standar pelayanan minimal sarana dan prasarana hal ini dapat dilihat dari persentase rata-rata pada penerapan siklus III, menunjukkan hasil yang maksimal yaitu 83% sarana dan prasarana telah terpenuhi dan sudah mencapai indikator yang telah ditetapkanPenelitian ini bertujuan untuk menguji model manajemen sekolah berbasis partisipasi masyarakat dalam memenuhi layanan minimal sarana dan prasarana sekolah. Penelitian ini terdiri dari tiga siklus. Setiap siklus meliputi kegitana, merencanakan, melakukan tindakan, pengawasan dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya model manajemen sekolah berbasis potensi (ide, tenaga, dan pemikiran) masyarakat dapat meningkatkan keterpenuhan standar pelayanan minimal sarana dan prasarana hal ini dapat dilihat dari persentase rata-rata pada penerapan siklus III, menunjukkan hasil yang maksimal yaitu 83% sarana dan prasarana telah terpenuhi dan sudah mencapai indikator yang telah ditetapka
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI MELALUI TEKNIK IMAJINASI SISWA KELAS IV SD NEGERI 51 LUBUKLINGGAU
Tujuan penelitian ini untuk memahami peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri 51 Lubuklinggau dengan menerapkan teknik imajinasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK). Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, dan angket. Sumber data dalam penelitian ini ialah kegiatan pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh guru beserta siswa kelas IV SD Negeri 51 Lubuklinggau. Teknik analisis data dengan tahapan: (1) reduksi data hasil observasi guru dan siswa, menulis karangan deskripsi, dan angket; (2) menganalisis hasil observasi guru dan siswa; (3) menganalisis hasil menulis karangan deskripsi; (4) menganalisis hasil angket; dan (5) kesimpulan. Hasil penelitian berupa penerapan teknik imajinasi dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri 51 Lubuklinggau. Hal ini dapat ditunjukkan dengan rata-rata nilai tes pratindakan sebesar 61,28, rata-rata nilai tes siklus I sebesar 67,44, dan rata-rata nilai tes siklus II sebesar 70,12.Tujuan penelitian ini untuk memahami peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri 51 Lubuklinggau dengan menerapkan teknik imajinasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK). Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, dan angket. Sumber data dalam penelitian ini ialah kegiatan pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh guru beserta siswa kelas IV SD Negeri 51 Lubuklinggau. Teknik analisis data dengan tahapan: (1) reduksi data hasil observasi guru dan siswa, menulis karangan deskripsi, dan angket; (2) menganalisis hasil observasi guru dan siswa; (3) menganalisis hasil menulis karangan deskripsi; (4) menganalisis hasil angket; dan (5) kesimpulan. Hasil penelitian berupa penerapan teknik imajinasi dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SD Negeri 51 Lubuklinggau. Hal ini dapat ditunjukkan dengan rata-rata nilai tes pratindakan sebesar 61,28, rata-rata nilai tes siklus I sebesar 67,44, dan rata-rata nilai tes siklus II sebesar 70,12
Efektivitas Model Pembelajaran Connecting Organizing Reflecting Extending terhadap Kemampuan Menemukan Ide-ide Pokok Berita Siswa Kelas VIII SMP Negeri B. Srikaton
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektivan model pembelajaran Connecting Organizing Reflecting Extending terhadap kemampuan menemukan ide-ide pokok berita siswa kelas VIII SMP Negeri B. Srikaton.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas VIII berjumlah 187 siswa yang terdiri dari 6 kelas. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII.6 yang berjumlah 30 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu dengan teknik tes dan teknik nontes. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan rumus uji “t”, yaitu dengan mencari selisih antara hasil pretes dan postes. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui terdapat perbedaan hasil pretes dengan hasil postes. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata pretes dengan postes, yaitu hasil pretes lebih kecil daripada postes, yaitu X1 = 60,5< X = 75,33. Berdasarkan hasil uji hipotesis ini diketahui bahwa harga t hitung = 7,84. Hasil ini dikonsultasikan dengan t tabel (t tabel dengan N = 30 atau db/df = 29) pada taraf signifikan 1% yaitu 2,76 dan taraf signifikan 5% yaitu 2,04. Hal ini menunjukkan bahwa hasil perhitungan t hitung yang diperoleh lebih besar dari pada t tabel baik pada taraf signifikan 1% maupun pada taraf signifikan 5%, Hasil perhitungan ini dapat dituliskan seperti berikut ini 2,04 < 7,84 > 2,76. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis menyatakan model pembelajaran CORE efektif terhadap kemampuan menemukan ide-ide pokok beritasiswa kelas VIII SMP Negeri B. Srikaton telah terbukti kebenarannya.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektivan model pembelajaran Connecting Organizing Reflecting Extending terhadap kemampuan menemukan ide-ide pokok berita siswa kelas VIII SMP Negeri B. Srikaton.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas VIII berjumlah 187 siswa yang terdiri dari 6 kelas. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII.6 yang berjumlah 30 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu dengan teknik tes dan teknik nontes. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan rumus uji “t”, yaitu dengan mencari selisih antara hasil pretes dan postes. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui terdapat perbedaan hasil pretes dengan hasil postes. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata pretes dengan postes, yaitu hasil pretes lebih kecil daripada postes, yaitu X1 = 60,5< X = 75,33. Berdasarkan hasil uji hipotesis ini diketahui bahwa harga t hitung = 7,84. Hasil ini dikonsultasikan dengan t tabel (t tabel dengan N = 30 atau db/df = 29) pada taraf signifikan 1% yaitu 2,76 dan taraf signifikan 5% yaitu 2,04. Hal ini menunjukkan bahwa hasil perhitungan t hitung yang diperoleh lebih besar dari pada t tabel baik pada taraf signifikan 1% maupun pada taraf signifikan 5%, Hasil perhitungan ini dapat dituliskan seperti berikut ini 2,04 < 7,84 > 2,76. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis menyatakan model pembelajaran CORE efektif terhadap kemampuan menemukan ide-ide pokok beritasiswa kelas VIII SMP Negeri B. Srikaton telah terbukti kebenarannya
Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Narasi Mahasiswa Semester I Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melalui Model Pembelajaran ARCS (Attention, Relevance, Confidance, Satisfaction)
This research aims at increasing the student naration writing ability at the first semester of Indonesian and Literature Study Program at STKIP-PGRI Lubuklinggaunarration at Indonesian Departemen Program. This method used in this research is Clasroom Action Research with learning development and inovation at LPTK (PPKP). This research begins with planning, action, observation, and reflection. The result shows that learning narative writing ability is increasing. The result of the preaction tes shows that there were 10 student or (32,25%) wot got ≥ 6,6 and there were 21 student or (68,74%) who got ≤ 6,6 the average score 48,20. At the and of cycle I, there were 18 student or (58,06%) who got ≥ 6,6 and there were 13 student or (41,93%) who got ≤ 6,6. Whereas, the average score of cycle I WAS 65,50. At the and of cycle II, there are 28 students (90,32%) who got ≥ 6,6 with the average score 78,02. Therefore, the student narration writing ability whith ARCS (Attention, Relevance, Confidance, Satisfaction).This research aims at increasing the student naration writing ability at the first semester of Indonesian and Literature Study Program at STKIP-PGRI Lubuklinggaunarration at Indonesian Departemen Program. This method used in this research is Clasroom Action Research with learning development and inovation at LPTK (PPKP). This research begins with planning, action, observation, and reflection. The result shows that learning narative writing ability is increasing. The result of the preaction tes shows that there were 10 student or (32,25%) wot got ≥ 6,6 and there were 21 student or (68,74%) who got ≤ 6,6 the average score 48,20. At the and of cycle I, there were 18 student or (58,06%) who got ≥ 6,6 and there were 13 student or (41,93%) who got ≤ 6,6. Whereas, the average score of cycle I WAS 65,50. At the and of cycle II, there are 28 students (90,32%) who got ≥ 6,6 with the average score 78,02. Therefore, the student narration writing ability whith ARCS (Attention, Relevance, Confidance, Satisfaction)
Perbedaan Penerapan Metode Pratikum dengan Metode Diskusi terhadap Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Lubuklinggau
Penelitian ini bertujuan untuk perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pratikum dengan metode diskusi terhadap hasil belajar kognitif mahasiswa Prodi. Pendidikan Biologi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester II berjumlah 2 kelas yang diambil secara acak. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik tes dengan teknik analisis data menggunakan uji perbedaan dua rata-rata (uji Independent sample t-Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pratikum dengan metode diskusi terhadap hasil belajar kognitif mahasiswa. Perbedaan ini ditunjukkan bahwa hasil belajar kognitif mahasiswa dengan penerapan metode praktek lebih besar dibandingkan dengan hasil belajar kognitif mahasiswa dengan penerapan metode diskusi.Penelitian ini bertujuan untuk perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pratikum dengan metode diskusi terhadap hasil belajar kognitif mahasiswa Prodi. Pendidikan Biologi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester II berjumlah 2 kelas yang diambil secara acak. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik tes dengan teknik analisis data menggunakan uji perbedaan dua rata-rata (uji Independent sample t-Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pratikum dengan metode diskusi terhadap hasil belajar kognitif mahasiswa. Perbedaan ini ditunjukkan bahwa hasil belajar kognitif mahasiswa dengan penerapan metode praktek lebih besar dibandingkan dengan hasil belajar kognitif mahasiswa dengan penerapan metode diskusi
Pengembangan Kreativitas Guru dalam Pembelajaran Sejarah
Pembelajaran Sejarah di lapangan menunjukkan sebagian besar kegiatan pembelajaran Sejarah memposisikan pelajar sebagai objek. Siswa tidak mendapat kesempatan untuk membangun dan memberikan interpretasinya terhadap materi yang diberikan yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang akan dicapai. Tantangan yang akan dihadapi guru Sejarah pada saat ini dan masa yang akan datang adalah menuntut guru agar mempunyai peran yang besar dalam pengembangan kreativitas, salah satunya adalah kemampuan guru Sejarah dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis pada siswa, memberikan keleluasaan pada peserta didik untuk merekonstruksi, menafsirkan, dan menuangkan gagasan-gagasan yang dimiliki siswa. Selain itu, paradigma baru pembelajaran Sejarah menggunakan konstruktivisme, dan pengembangan keterampilan berpikir, pemilihan metode atau media yang dapat menunjang dan mengembangkan kreativitas siswa serta adanya kesepahaman dari semua guru Sejarah tentang esensi dari pemebelajaran Sejarah itu sendiri.Pembelajaran Sejarah di lapangan menunjukkan sebagian besar kegiatan pembelajaran Sejarah memposisikan pelajar sebagai objek. Siswa tidak mendapat kesempatan untuk membangun dan memberikan interpretasinya terhadap materi yang diberikan yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang akan dicapai. Tantangan yang akan dihadapi guru Sejarah pada saat ini dan masa yang akan datang adalah menuntut guru agar mempunyai peran yang besar dalam pengembangan kreativitas, salah satunya adalah kemampuan guru Sejarah dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis pada siswa, memberikan keleluasaan pada peserta didik untuk merekonstruksi, menafsirkan, dan menuangkan gagasan-gagasan yang dimiliki siswa. Selain itu, paradigma baru pembelajaran Sejarah menggunakan konstruktivisme, dan pengembangan keterampilan berpikir, pemilihan metode atau media yang dapat menunjang dan mengembangkan kreativitas siswa serta adanya kesepahaman dari semua guru Sejarah tentang esensi dari pemebelajaran Sejarah itu sendiri
Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Negeri se-Kota Lubuklinggau Tahun Ajaran 2012/2013
Penelitian ini bertujuan menjelaskan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII Semester I di SMP Negeri se-Kota Lubuklinggau tahun ajaran 2012/2013 berdasarkan KTSP. Metode yang digunakan berupa metode deskriptif dengan sampel penelitian yaitu SMPN 1 Kota Lubuklinggau, SMPN 5 Kota Lubuklinggau, dan SMPN 10 Kota Lubuklinggau. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut: transkripsi, identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum sepenuhnya pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII Semester I di SMP Negeri se-Kota Lubuklinggau tahun ajaran 2012/2013 berdasarkan KTSP karena berdasarkan hasil analisis dokumentasi silabus dan RPP, para guru masih memiliki beberapa kelemahan terutama dalam menuangkan kegiatan pembelajaran (kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup) ke dalam bentuk nyata dan penyusunan instrumen penilaian belum berbasis proses (autentic assessment). Untuk itu, diperlukan kontrol dan evaluasi terhadap produk silabus dan RPP oleh berbagai pihak yang terkait.Penelitian ini bertujuan menjelaskan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII Semester I di SMP Negeri se-Kota Lubuklinggau tahun ajaran 2012/2013 berdasarkan KTSP. Metode yang digunakan berupa metode deskriptif dengan sampel penelitian yaitu SMPN 1 Kota Lubuklinggau, SMPN 5 Kota Lubuklinggau, dan SMPN 10 Kota Lubuklinggau. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut: transkripsi, identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum sepenuhnya pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII Semester I di SMP Negeri se-Kota Lubuklinggau tahun ajaran 2012/2013 berdasarkan KTSP karena berdasarkan hasil analisis dokumentasi silabus dan RPP, para guru masih memiliki beberapa kelemahan terutama dalam menuangkan kegiatan pembelajaran (kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup) ke dalam bentuk nyata dan penyusunan instrumen penilaian belum berbasis proses (autentic assessment). Untuk itu, diperlukan kontrol dan evaluasi terhadap produk silabus dan RPP oleh berbagai pihak yang terkait
Membangun Karakter melalui Trilogi dan Tripusat Pendidikan
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, karakter memiliki arti, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Membangun karakter merupakan suatu proses yang kompleks melibatrkan berbagai pihak, khususnya keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pendukung pendidikan yang disebut sebagai tripusat pendidikan dan guru memiliki idealisme menjadi seorang pendidik. Guru dituntut untuk kembali seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara dengan trilogi pendidikannya, yakni seorang yang ing ngarso sung tulado, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Fungsi dan peranan trilogi dan tripusat pendidikan merupakan faktor penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu membangun manusia Indonesia seutuhnya serta menyiapkan sumber daya manusia yang bermutu. Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi pendidikan, maka diperlukan keserasian kontribusi dan kerja sama yang erat dan harmonis antar tripusat pendidikan tersebut.Menurut Kamus Bahasa Indonesia, karakter memiliki arti, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Membangun karakter merupakan suatu proses yang kompleks melibatrkan berbagai pihak, khususnya keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pendukung pendidikan yang disebut sebagai tripusat pendidikan dan guru memiliki idealisme menjadi seorang pendidik. Guru dituntut untuk kembali seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara dengan trilogi pendidikannya, yakni seorang yang ing ngarso sung tulado, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Fungsi dan peranan trilogi dan tripusat pendidikan merupakan faktor penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu membangun manusia Indonesia seutuhnya serta menyiapkan sumber daya manusia yang bermutu. Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi pendidikan, maka diperlukan keserasian kontribusi dan kerja sama yang erat dan harmonis antar tripusat pendidikan tersebut
Bahasa Baku dan Sikap terhadap Bahasa Baku (Tinjauan Teoritis dan Deskriptif terhadap Problematika Pembakuan Bahasa Indonesia)
Bahasa merupakan sarana komunikasi paling vital di masyarakat. Oleh sebab itu, standardisasi atau pembakuan bahasa dalam suatu masyarakat menduduki peran yang penting, terlebih untuk masyarakat heterogen seperti Indonesia, yang konsekuensinya memunculkan berbagai bahasa dan ragam bahasa. Untuk memudahkan komunikasi dalam masyarakat, perlu dipilih satu variasi atau ragam bahasa yang dapat dijadikan sebagai acuan atau standar pemakaian di masyarakat. Bahasa yang standar atau baku ini akan menduduki posisi yang lebih tinggi dalam skala tata nilai masyarakat pemakai bahasa. Bahasa standar atau baku memiliki ciri kemantapan dinamis, cendikia, dan keseragaman kaidah. Persoalan yang terjadi dalam usaha pembakuan/standardisasi bahasa Indonesia, tak terlepas dari pengaruh sikap dan tanggapan para pemakai bahasa Indonesia itu sendiri. Sikap tuna harga diri, yaitu sikap yang kurang bangga dan sinis dalam menggunakan dan memakai bahasa Indonesia. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa asing dibanding bahasa sendiri dan memandang sinis terhadap usaha-usaha dalam pengembangan bahasa Indonesia. Selain itu, adanya tanggapan yang beranggapan bahwa masalah kebahasaan Indonesia adalah masalah yang sepele, tidak perlu pembahasan lebih mendalam dalam pemakaiannya karena mereka berargumen dalam penggunaan bahasa ’yang penting tahu maksudnya’. Hal ini melahirkan kebiasaan di kalangan masyarakat kita bahwa belajar bahasa Indonesia cukup secara alamiah saja. Artinya, mereka belajar dari apa yang nyatanya digunakan tanpa memikirkan apa bentuk bahasa tersebut secara kaidah yang benar, sehingga dalam pemakaian mereka menekankan pada selera bahasa daripada penalaran bahasa.Bahasa merupakan sarana komunikasi paling vital di masyarakat. Oleh sebab itu, standardisasi atau pembakuan bahasa dalam suatu masyarakat menduduki peran yang penting, terlebih untuk masyarakat heterogen seperti Indonesia, yang konsekuensinya memunculkan berbagai bahasa dan ragam bahasa. Untuk memudahkan komunikasi dalam masyarakat, perlu dipilih satu variasi atau ragam bahasa yang dapat dijadikan sebagai acuan atau standar pemakaian di masyarakat. Bahasa yang standar atau baku ini akan menduduki posisi yang lebih tinggi dalam skala tata nilai masyarakat pemakai bahasa. Bahasa standar atau baku memiliki ciri kemantapan dinamis, cendikia, dan keseragaman kaidah. Persoalan yang terjadi dalam usaha pembakuan/standardisasi bahasa Indonesia, tak terlepas dari pengaruh sikap dan tanggapan para pemakai bahasa Indonesia itu sendiri. Sikap tuna harga diri, yaitu sikap yang kurang bangga dan sinis dalam menggunakan dan memakai bahasa Indonesia. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa asing dibanding bahasa sendiri dan memandang sinis terhadap usaha-usaha dalam pengembangan bahasa Indonesia. Selain itu, adanya tanggapan yang beranggapan bahwa masalah kebahasaan Indonesia adalah masalah yang sepele, tidak perlu pembahasan lebih mendalam dalam pemakaiannya karena mereka berargumen dalam penggunaan bahasa ’yang penting tahu maksudnya’. Hal ini melahirkan kebiasaan di kalangan masyarakat kita bahwa belajar bahasa Indonesia cukup secara alamiah saja. Artinya, mereka belajar dari apa yang nyatanya digunakan tanpa memikirkan apa bentuk bahasa tersebut secara kaidah yang benar, sehingga dalam pemakaian mereka menekankan pada selera bahasa daripada penalaran bahasa