e-Jurnal STKIP-PGRI Lubuklinggau
Not a member yet
1340 research outputs found
Sort by
TECHNOLOGY IN TEACHING SPEAKING SKILL
Berbicara merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dalam belajar bahasa Inggris, karena berbicara digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Pada abad ke-21 ini, banyak sekali inovasi pembelajaran yang diperkenalkan sebagai alat untuk belajar berbicara, salah satunya adalah teknologi modern. Dalam pembelajaran, banyak jenis teknologi modern yang diperkenalkan untuk membantu siswa dalam belajar berbicara, seperti laboraturium bahasa, video, satelit, internet, blog, kamus digital, dan lainnya. Teknologi modern tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara terutama berbicara bahasa Inggris
MAIN IDEA MEMORY STORAGE AS THE WAY TO TEACH READING COMPREHENSION FOR INDONESIAN EFL LEARNER
English is international language that used to communicate between people in the world with different language background. In Indonesia, English as foreign language that taught in the school, so all of Indonesian students learn English as the main subject lesson in the school. In learning process there are lot of difficulties that faced by students, one of them is reading, reading is process gaining the meaning in the text that conveyed by author, students must understand the meaning of the text both of lexical and phrase, so main idea memory storage as the best technique in teaching English h for the student
PENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAKE AND GIVE
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hasil peningkatan pemahaman konsep siswa melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Take and Give dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan (Action Research). Data hasil tes akan dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1) Ketuntasan individu dikatakan tuntas apabila mencapai 65% sesuai denan ketetapan dari SDN Gununglarang III Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka. Dengan demikian siswa dianngap telah mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai nilai ≥65. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individu digunakan rumus skor hasil ketuntasan individu dan skor ketuntasan maksimal, 2) Ketuntasan klasikal dikatakan tuntas apabila mencapai 70% sesuai dengan ketetapan dari SDN Gununglarang III Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pada siklus I tindakan I terdapat siswa yang tuntas 35% dan siswa yang tidak tuntas 65%, siklus I tindakan II terdapat siswa yang tuntas 40% dan siswa yang tidak tuntas 60%. Persentase ini menunjukkan hasil pada siklus I termasuk kurang, pertanyaan tersebut sesuai (2) Pemahaman konsep siswa meningkat pada siklus II, siklus II tindakan I siswa yang tuntas 65% dan siswa yang tidak tuntas 35%, siklus II tindakan II siswa yang tuntas 100% dan yang tidak tuntas 0%. Hasil ini menunjukkan kategori baik. Kesimpulan, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe take and give dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas III SD Negeri Gununglarang III
PERAN POLISI DALAM PERTAHANAN KEMERDEKAAN II TAHUN 1948-1949 DI SURAKARTA
Kedatangan Belanda ke Indonesia pasca proklamasi ditentang oleh seluruh rakyat Indonesia. Aksi tersebut diwujudkan melalui peristiwa heroik di beberapa tempat di Indonesia. situasi diperparah dengan pembatalan perjanjian Renville dan serangan Agresi Militer ke II oleh pihak Belanda. Perlawanan dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia, tidak terkecuali kesatuan polisi. Berdirinya kepolisian berpengaruh pada kekuatan militer pertahanan dan sebagai tugas untuk menjaga keamanan. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan kondisi Surakarta masa Jepang, pembentukan struktur organisasi Kepolisian Surakarta dan peranannya dalam menghadapi Perang Kemerdekaan II di Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis. Metode sejarah kritis dimulai dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Heuristik merupakan tahap pencarian dan pengumpulan data atau sumber-sumber dan informasi mengenai peristiwa yang sedang diteliti. Kritik sumber merupakan tahap untuk mengkaji kredibilitas sumber-sumber yang diperoleh baik dari segi fisik maupun isi. Interpretasi merupakan tahap untuk mencari keterkaitan makna yang berhubungan antara fakta-fakta yang telah diperoleh sehingga peristiwa sejarah menjadi lebih jelas. Historiografi merupakan tahap penulisan sintesis dalam bentuk karya sejarah. Hasil penelitian menunjukkan Surakarta masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945 memiliki sistem pemerintahan yang dirombak Jepang sehingga memunculkan cikal bakal Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsu Tai), juga keterlibatan aksi revolusioner Polisi Surakarta dalam kemerdekaan RI melawan Jepang. Keberadaan polisi mulai berkembang dengan membentuk sistem organisasi polisi di Surakarta, kesatuan-kesatuan tiap daerah yang memiliki struktur bagian masing-masing daerah. Polisi Surakarta juga berfungsi sebagai alat pertahanan negara. Sebagai kesatuan militer peran polisi terlibat dalam aksi penumpasan PKI di Madiun 1948, dan Agresi Militer Belanda II dalam Serangan Umum Empat Hari di Surakarta tahun 1949. Selama pertempuran berlangsung di Surakarta polisi beserta kesatuan tempur lainnya melawan Belanda menghadapi serangan dari darat maupun udar. Kesatuan polisi diperkuat dengan mebentuk Mobile Brigade Karesidenan (MBK) sebagai wujud perlawanan Agresi Militer ke II, hingga Surakarta dapat direbut kembali dari pihak Belanda di bawah pengawasan United Nations Comission for Indonesia (UNCI
THE USE OF INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGY (ICT) DEVICES FOR TEACHING ENGLISH BY PRE-SERVICE TEACHERS
The use of ICT devices for teaching English is much needed right now, because it can attract students’ motivation in learning. It is very helpful especially for pre-service teachers, the novice teachers. The aims of this research were to investigate the use of ICT devices for teaching English by Pre-service teachers, describe the ICT devices frequently used for teaching English by pre-service teachers, find out students’ perceptions towards the use of ICT devices for teaching English by pre-service teachers. This research was employed through a mixed-methods approach that integrated qualitative and quantitative research design. The data handled quantitatively were gathered via the online questionnaire, and qualitative data were collected via the semi-structured interviews and observation to the 24 pre-service teachers. The result of research showed that there were three ways in using ICT devices in teaching English during teaching practice program. First, most of pre-service teachers always used ICT devices as the source of teaching material. Second, most of them often used ICT devices as the instructional teaching. The last most of pre-service teachers always used ICT devices as the communication tools. The ICT devices frequently used during teaching English were smartphone, computer, and in focus. Most students absolutely agree if pre-services teachers use ICT devices for teaching English because it was advantageous toward students’ English competences. It can be concluded that there were three ways of pre-service teachers used ICT devices during teaching practice program; mostly as the source of teaching materials, as the instructional teaching, and as the communication tools. Three ICT devices frequently used by pre-service teachers during teaching practice program were smartphone, computer, and in focus. Students absolutely agree towards the use of ICT devices by pre-service teachers in teaching English
INVENTARISASI TUMBUHAN PAKU (Pteridophyta) DI PERKEBUNAN PT BINA SAINS CEMERLANG KABUPATEN MUSI RAWAS
This study aims to determine the type of pteridophyta, abiotic factors and the benefits of pteridophyta in PT Bina Sains Cemerlang Plantation, Musi Rawas Regency. The research method used is descriptive qualitative. Data collection techniques in this study were carried out by surveying the research location and then determining the place by using purposive sampling technique. Data analysis techniques with the steps of the methods of observation, documentation, taking pteridophyta and identification. The results of the study of the inventory of pteridophyta at PT Bina Sains Cemerlang Musi Rawas Regency there are 9 families, 19 species, namely Asplenium nidus, Dyplazium pynocarpon, Davallia denticulate, Davallia solida, Nephrolepis biserrata, Nephrolepis cordifolia, Nephrolepis exisplis, Nephrolepis exis. Stenochlaenae palustris, Gleichenia linearis, Lycopodium cernuum,Diplazium esculentum, Drymoglossum piloselloides, Drynaria quercifolia, Phymatosorus scolopendria, Pteris biaurita, Vazaria esculentum, Drymoglossum piloselloides, Drynaria quercifolia, Phymatosorus scolopendria, Pteris biaurita, Vittaria lineculum, Drymoglossum piloselloides, Drynaria quercifolia, Phymatosorus scolopendria, Pteris biaurita, Vittaria lineate, Drymoglossum piloselloides, Drynaria quercifolia, Phymatosorus scolopendria, Pteris biaurita, Selaginella plenary. Soil moisture 8% -68% and soil pH of 7.08-8.00. Benefits of pteridophyta in PT Bina Sains Cemerlang Plantation, Musi Rawas Regency as ornamental plants and as vegetables
TINJAUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN REMEDIAL PADA MATA PELAJARAN FISIKA KELAS VIII SMP XAVERIUS LUBUKLINGGAU
This study aims to describe the implementation of remedial learning by physics teachers at Xaverius Lubuklinggau Middle School and to determine the obstacles experienced by teachers in implementing remedial learning. The problem of this research is how is the implementation of remedial learning in physics in Xaverius Lubuklinggau Middle School ?. What are the constraints experienced by remedial implementation? This research uses descriptive qualitative methods, namely methods that describe research data, classify and interpret research data. Data collection was done by questionnaire interviews and documentation. From the results of the study note that student activity at the time of remedial included less viewed from the lack of seriousness of students in implementing remedial. Difficulties of students in learning physics vary. The thing that causes students difficulties in learning physics is students who have not mastered the material taught by the teacher, the teacher is not maximally giving material to students. But the factors that cause students learning difficulties are caused from within the students themselves. The results of this study also showed that the remedial implementation method carried out by physics teachers at Xaverius Middle School was in the form of assignments. The obstacle experienced by the teacher in remedial implementation is the lack of seriousness of students following the remedial that there are still students who are not present during remedial implementation.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran remedial yang dilakukan guru fisika di SMP Xaverius Lubuklinggau dan untuk mengetahui kendala yang dialami guru dalam pelaksanaan pembelajaran remedial. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran remedial pada mata pelajaran fisika di SMP Xaverius Lubuklinggau?. Apakah kendala yang dialami pelaksanaan remedial?.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni metode yang mendeskripsikan data data penelitian, mengklasifikasikan dan menginterpretasikan data hasil penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara angket dan dokumentasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa aktivitas siswa pada saat remedial termasuk kurang dilihat dari ketidakseriusan siswa dalam pelaksanaan remedial. Kesulitan siswa dalam belajar fisika bermacam-macam. Hal yang menyebabkan kesulitan siswa dalam belajar fisika adalah siswa yang belum menguasai materi yang diajarkan oleh guru, kurang maksimalnya guru dalam memberi materi kepada siswa. Tetapi faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa disebabkan dari dalam diri siswa itu sendiri. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa metode pelaksanaan remedial yang dilakukan guru fisika di SMP Xaverius adalah berbentuk tugas. Kendala yang dialami oleh guru dalam pelaksanaan remedial adalah ketidakseriusan siswa mengikuti remedial yaitu masih ada siswa yang tidak hadir saat pelaksanaan remedial.
 
Validitas Bahan Ajar LKS Menulis Naskah Drama Siswa Kelas VIII SMP se-Kabupaten Musi Rawas
This study aims to describe the validity of teaching materials LKS writing drama scripts for eighth-grade students of Musi Rawas Regency. Teaching materials developed to increase student interest in class VIII SMP throughout Musi Rawas Regency. Researchers are also motivated to conduct this development research because they want to add learning references in writing drama scripts. Therefore, the researcher wants to develop a Student Worksheet with examples of drama scripts based on the folklore Musi Rawas. The method used is the research and development (R&D) method with the Dick & Carey model which is limited to 8 stages. Expert validation was carried out with three experts, namely design validation expert, linguistic validation expert, and content/material validation expert. The research instruments were divided into the test, questionnaire, interview, questionnaire, rating scale, and attitude scale, observation, and sociometry. Research activities in developing this teaching material model, researchers used test guideline instruments, interviews, questionnaires, and observation sheets to validate research data. The results showed that the validity of LKS teaching materials writing drama scripts for eighth-grade students of Musi Rawas Regency was included in the good category with a percentage of 79.17% originating from the results of design, language, and material validation experts. Thus, the validity of LKS teaching material writing drama scripts in this study can be accepted as correct. The LKS teaching materials developed were valid and the LKS teaching materials after being tested at school could increase the interest in learning to write drama scripts for eighth-grade students of Musi Rawas.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan validitas bahan ajar LKS menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP se-Kabupaten Musi Rawas. Bahan ajar yang dikembangkan untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas kelas VIII SMP se-Kabupaten Musi Rawas. Peneliti juga termotivasi untuk melakukan penelitian pengembangan ini karena ingin menambah referensi belajar dalam menulis naskah drama. Oleh sebab itu, peneliti ingin mengembangkan Lembar Kerja Siswa dengan contoh naskah drama yang berbasis cerita rakyat Musi Rawas. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model Dick & Carey yang dibatasi sampai 8 tahap. Validasi ahli dilakukan dengan tiga orang ahli, yaitu ahli validasi desain, ahli validasi kebahasaan, dan ahli validasi isi/materi. Instrumen penelitian dibagi atas: tes, angket, wawancara, kuesioner, skala penilaian dan skala sikap, observasi, dan sosiometri. Kegiatan penelitian pengembangan model bahan ajar ini, peneliti menggunakan instrumen pedoman tes, wawancara, kuesioner, dan lembar observasi untuk memvalidkan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa validitas bahan ajar LKS menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP se-Kabupaten Musi Rawas termasuk dalam kategori baik dengan persentase 79,17% yang bersumber dari hasil ahli validasi desain, kebahasaan, dan materi. Dengan demikian, validitas bahan ajar LKS menulis naskah drama dalam penelitian ini dapat diterima kebenarannya. Bahan ajar LKS yang dikembangkan telah valid dan bahan ajar LKS setelah diujicobakan di sekolah dapat meningkatkan minat belajar menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP se-Musi Rawas
Improving Effective Communication in Students’ Classroom Presentation
This research was conducted to improve the effective communication in students’ classroom presentation. Based on the phenomena happened in classroom presentations, the researcher found that there was a tendency in doing slide reading during presentations. Thus the researcher formulated this research question: “How can effective communication be achieved in students’ classroom presentation?” Since it was a practical problem that should be solved together by the researchers and the participants, thus action research was applied to solve the problem. There were several theories used to answer the research questions; theory of communication, communication skills and speaking skills. This research was conducted using three cyclical processes. Based on the classroom observation, there were improvements in doing classroom presentations. The participants had given clear and unambiguous explanation, congruent material, accurate message, and feedback although there was still weakness in the criteria of giving specific examples.
 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK PADA MATA PELAJARAN FISIKA SISWA KELAS X SMA NEGERI SUKAKARYA
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri Sukakarya setelah penerapan model Pembelajaran Talking Stick. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen yang dilakukan dengan tidak adanya kelas pembanding. Berdasarkan Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SMA Sukakarya diperoleh nilai rata-rata ulangan harian siswa kelas X hanya mencapai 67,65. Sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan sekolah yaitu 72. Populasi adalah semua siswa kelas X SMA Negeri Sukakarya yang berjumlah 60 siswa dan sampel kelas X.2 diambil secara acak. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa sebesar 73,58 dan persentase jumlah siswa tuntas sebesar 61,54% dengan hasil uji-t dengan taraf kepercayaan 5% dan dk = n – 1 didapat thitung = 0,68 dan ttabel = 1,708. Karena thitung < ttabel maka hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri Sukakarya setelah diterapkan model Talking Stick tuntas namun tidak secara signifikan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri Sukakarya setelah penerapan model Pembelajaran Talking Stick. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen yang dilakukan dengan tidak adanya kelas pembanding. Berdasarkan Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SMA Sukakarya diperoleh nilai rata-rata ulangan harian siswa kelas X hanya mencapai 67,65. Sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan sekolah yaitu 72. Populasi adalah semua siswa kelas X SMA Negeri Sukakarya yang berjumlah 60 siswa dan sampel kelas X.2 diambil secara acak. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa sebesar 73,58 dan persentase jumlah siswa tuntas sebesar 61,54% dengan hasil uji-t dengan taraf kepercayaan 5% dan dk = n – 1 didapat thitung = 0,68 dan ttabel = 1,708. Karena thitung < ttabel maka hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri Sukakarya setelah diterapkan model Talking Stick tuntas namun tidak secara signifikan