Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Kondisi Terumbu Karang di Pulau Kapoposang Kecamatan Liukang Tuppabiring Kabupaten Pangkajene Provinsi Sulawesi Selatan
Coral reefs are ecosystems in the sea formed by lime-producing marine biota, especially stony corals and calcareous algae, along with other biota that live on the ocean floor. Coral reefs are ecosystems that play an important role in coastal areas but are vulnerable to internal and external changes. The purpose of this study was to calculate the percentage of coral reef cover and assess the condition of coral reefs on the Kapoposang Island. Coral Point Count with Excel Extension (CPCE) was used to analyze coral reef data. The data used were photos of coral reefs taken using the Underwater Photo Transect (UPT) method from six observation stations scattered around Kapoposang Island. Each processed photo contained 30 randomly selected points. The results of the assessment of the condition of coral reef health at five stations showed that station 1 (one) 35.62% was in moderate condition, station 2 (two) 43% was in moderate condition, station 3 (three) 46.67% was in moderate condition, station 4 (four) 40.53% is in moderate condition, station 5 (five) 41.84% is in moderate condition and station 6 (six) 29.25% is in moderate condition. From the five data collection stations the condition of coral reefs on Kapoposang Island was in the moderate category with a percentage of 39.49%.Terumbu karang merupakan ekosistem di laut yang terbentuk oleh biota laut penghasil kapur khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama dengan biota lain yang hidup di dasar lautan. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang berperan penting pada wilayah pesisir namun rentan terhadap perubahan baik yang terjadi secara internal maupun ekternal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung persentase tutupan terumbu karang dan menilai kondisi terumbu karang di Pulau Kapoposang. Coral Point Count with Excel Extension (CPCE) digunakan untuk menganalisis data terumbu karang. Data yang digunakan adalah hasil foto terumbu karang yang diambil menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dari 6 stasiun pengamatan yang tersebar disekitar Pulau Kapoposang. Setiap foto yang diolah digunakan 30 titik yang dipilih secara random. Hasil penilaian kondisi kesehatan terumbu karang pada lima stasiun menunjukkan bahwa stasiun 1 (satu) 35,62% berada dalam kondisi sedang, stasiun 2 (dua) 43% berada dalam kondisi sedang, stasiun 3 (tiga) 46,67% berada dalam kondisi sedang, stasiun 4 (empat) 40,53% berada dalam kondisi sedang, stasiun 5 (lima) 41,84% berada dalam kondisi sedang dan stasiun 6 (enam) 29,25% berada dalam kondisi sedang. Dari kelima stasiun pengambilan data kondisi terumbu karang di Pulau Kapoposang masuk dalam kategori sedang dengan persentase 39,49%
Analisis Pola Sebaran Mikro Atol Karang Porites di Pulau Badi Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
Porites coral is a type of hard coral that forms micro atolls that can survive extreme tides and has a physical function to protect the coast and an ecological function. This study aims to determine the area and pattern distribution of micro atoll, and the types of associated organisms. The research method used is a survey method and is carried out by taking ecological, oceanographic, and biota data found in micro atolls. Data collection was carried out at two stations in the south and north of Badi Island using a quadratic transect placed parallel to the shoreline. Oceanographic conditions around Badi Island meet the sea water quality standards for marine biota. The results showed that the average area of micro atolls found at station one was 0.26 m2 and 0.42 m2 at station two with a Morisita Index was 1, so it can be concluded that the Porites coral micro atolls were randomly distributed. The results of biota identification at both stations showed that the dominant biota in the micro atoll was Tridacna. The conclusion of the study is that there are differences in the area of micro atolls at the two stations but have similarities in distribution patterns and dominant biota.Karang Porites merupakan jenis karang keras pembentuk mikro atol yang dapat bertahan pada pasang surut ekstrim dan memiliki fungsi fisik untuk melindungi pantai dan fungsi ekologi sebagai media interaksi organisme perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luasan dan pola sebaran mikro atol karang Porites serta jenis organisme yang berasosiasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan dilakukan dengan mengambil data ekologi, oseanografi, dan biota yang terdapat pada mikro atol. Pengambilan data dilakukan pada dua stasiun di sebelah Selatan dan Utara Pulau Badi dengan menggunakan transek kuadrat yang diletakkan sejajar garis pantai. Kondisi oseanografi di sekitar Pulau Badi memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata luasan mikro atol yang ditemukan pada stasiun satu adalah 0,26 m2 dan 0,42 m2 pada stasiun dua dengan nilai Indeks Morisita 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa mikro atol karang Porites di lokasi penelitian tersebar secara acak. Hasil identifikasi biota pada kedua stasiun menunjukkan bahwa biota dominan pada mikro atol yaitu Tridacna. Kesimpulan penelitian bahwa terdapat perbedaan luasan mikro atol di kedua stasiun namun memiliki kesamaan pada pola sebaran dan biota dominan
Potensi Mangrove sebagai Penunjang Ekowisata Bahari di Pantai Ketapang, Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung
Mangroves are high level plants that live on tropical coasts capable of adapting to salinity which is influenced by tides. Mangroves have ecological functions and economic functions. Ecological functions include protecting the shoreline, preventing seawater intrusion, habitat for various kinds of marine biota for feeding grounds, nursery grounds and spawning grounds in the waters. While the economic functions include as a tourist location, provider of food and medicine. Ketapang Beach is an area that has a mangrove ecosystem that can be used as a objects and attractions tourisme. The purpose of this study was to analyze the potential of mangroves as a support for marine ecotourism at Ketapang Beach. This research was conducted in September 2021. The research location was Ketapang Beach, Batu Menyan Village, Teluk Pandan District, Pesawaran Regency, Lampung Province. Analysis of the suitability of the mangrove ecotourism area at Ketapang Beach for all stations under conditional conditions. The carrying capacity of the area is 90 people per day. The carrying capacity of the utilization of as many as 9 people per day. Information about the condition and potential of the mangrove ecosystem on Ketapang Beach can be used to determine strategies for managing coastal and marine areas in a sustainable manner both for marine conservation and for the development of marine ecotourism.Mangrove merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang hidup di pesisir tropis mampu beradaptasi terhadap salinitas yang dipengaruhi oleh pasang surut. Mangrove memiliki fungsi ekologi dan fungsi ekonomi. Fungsi ekologi diantaranya adalah sebagai pelindung garis pantai, mencegah instrusi air laut, habitat berbagai macam biota laut untuk tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan (nursery ground) dan tempat memijah (spawning ground) di perairan. Sedangkan fungsi ekonomi diantaranya adalah sebagai lokasi wisata, penyedia bahan pangan dan obat-obatan. Pantai Ketapang merupakan kawasan yang memiliki ekosistem mangrove yang dapat dijadikan objek dan daya tarik wisata. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis potensi mangrove sebagai penunjang ekowisata bahari di Pantai Ketapang. Penelitian ini dilakukan bulan September 2021. Lokasi penelitian di Pantai Ketapang, Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Analisis Kesesuaian kawasan ekowisata mangrove di Pantai Ketapang untuk semua stasiun pada kondisi sesuai bersyarat. Daya dukung kawasan sebanyak 90 orang per hari. Daya dukung pemanfaatan sebanyak 9 orang per hari. Informasi mengenai kondisi dan potensi ekosistem mangrove di Pantai Ketapang dapat digunakan untuk menentukan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara berkelanjutan baik untuk konservasi laut maupun pengembangan ekowisata bahari
Analisis Konsumsi Bahan Bakar Mesin Induk Pada Kapal Phinisi Natural 001 Untuk Perjalanan Wisata Taman Nasional Komodo
The operation of the engine on a ship is supported by sufficient fuel. Fuel is converted into mechanical energy to drive engines on the ship, such as the main engine and auxiliary engines. The Phinisi Natural 001 ship is one of the tourist ships that operates tourist services in the Komodo National Park Tourism area, so to support these activities it is necessary to have appropriate fuel requirements. There is a lack of information about the fuel requirements on this ship, so an analysis was carried out on the fuel consumption needs of the main engine on the Phinisi Natural 001 ship. This is important to be able to predict and prepare for fuel needs during tourist trips. Descriptive methods were used to support this activity, namely interview procedures, direct observation, regression analysis, work analysis and T Test. Based on the results obtained, significant differences were found between calculated and observed fuel consumption results on the 2D1N journey (p<0, 05), but in the 3D2N trip no significant differences were found (p>0.05). From the calculation results, the average amount of fuel used in the 2D1N and 3D2N travel programs was 95.31 liters and 146.66 liters, while the observation results obtained were 113.33 liters and 136.67 liters. The differences in the results of calculations and observations are caused by internal and external factors such as blockages in the nozzle, the ship floating, shipping routes, and weather influences, such as currents and sea waves during the trip.Pengoperasian mesin pada sebuah kapal sangat didukung dengan adanya kecukupan bahan bakar. Bahan bakar diubah menjadi energi gerak untuk menggerakan mesin di kapal, seperti mesin induk dan mesin bantu. Kapal Phinisi Natural 001 adalah salah satu kapal wisata yang beroperasi dengan pelayanan wisata yang sangat diminati oleh para wisatawan di kawasan Wisata Taman Nasional Komodo, sehingga untuk mendukung kegiatan tersebut perlu adanya kebutuhan bahan bakar yang sesuai. Kurangnya informasi tentang kebutuhan bahan bakar pada kapal ini sehingga dilakukan analisis tentang kebutuhan konsumsi bahan bakar mesin induk pada Kapal Phinisi Natural 001. Hal ini penting dilakukan untuk dapat memprediksi dan mempersiapkan kebutuhan bahan bakar selama melakukan perjalanan wisata. Metode deskriptif dipergunakan untuk mendukung kegiatan ini, yaitu dengan prosedur wawancara observasi langsung dan Uji T. Berdasarkan hasil yang diperoleh ditemukan perbedaan yang signifikan antara hasil konsumsi bahan bakar secara perhitungan dan observasi pada perjalanan 2D1N (p<0,05), namun pada perjalanan 3D2N tidak ditemukan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05). Dari hasil perhitungan jumlah rata-rata penggunaan bahan bakar pada program perjalanan 2D1N dan 3D2N sebanyak 95,31 liter dan 146,66 liter, sedangkan pada hasil observasi diperoleh sebanyak 113,33 liter dan 136,67 liter. Perbedaan dari hasil perhitungan dan observasi ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal seperti penyumbatan pada nosel, kapal melakukan floating, rute pelayaran, dan pengaruh cuaca, seperti arus dan gelombang laut pada saat trip. 
Komposisi dan Kepadatan Sampah Laut (Marine Debris) di Pulau Misool: Studi Kasus Pantai Salafen dan Waigama
Marine debris is widespread in oceans around the world, including in the most remote locations. Here, we conducted on the accumulation of macro debris on the Misool Island beach, an island ± 192 km away from the mainland of Sorong. The aim of the research is to examine compositions, densities, and accumulation rates of marine debris in two locations, namely Salafen and Waigama beaches at April-Mei 2023. The total amount of marine debris collected was 125 items during the survey conducted at two beaches with a total of 1.498 grams. The mean of densities marine debris is 0.12 ± 0.05 items/m2 and 1.49 ± 0.85 gr/m2 based on the weight. As much as 93% of the debris was marine debris categories plastics, followed by metals (3%), glass, and rubber as much as 2% respectively from a total of debris. The mean of debris accumulation rates showed the highest debris accumulations were found in Salafen beach (39.9 gr/days) than in Waigama beach (31.4 gr/days). Long-term monitoring is most important for more understanding of the path and temporal changes for the management of marine debris in the future.Marine debris is widespread in oceans around the world, including in the most remote locations. Here, we report on the accumulation of macro debris on the Misool Island beach, an island 192 km away from the mainland of Sorong. The aim of the research is to examine compositions, densities, and accumulation rates of marine debris in two locations, namely Salafen and Waigama beaches at April-Mei 2023. A total of 125 marine debris was collected during the survey that was carried out on two beaches with a total of 1498 grams. The mean of densities marine debris is 0.12 ± 0.05 items/m2 and 1.49 ± 0.85 gr/m2 based on the weight. As much as 93% of the debris was marine debris categories plastics, followed by metals (3%), glass, and rubber as much as 2% respectively from a total of debris. The mean of debris accumulation rates showed the highest debris accumulations were found in Salafen beach (39.9 gr/days) than in Waigama beach (31.4 gr/days). Long-term monitoring is most important for more understanding of the path and temporal changes for the management of marine debris in the future
Analisis Mikroplastik Pada Air Dan Sedimen Di Pantai Teluk Lampung Dengan Metode Ft-Ir (Fourier Transform Infrared)
Plastic is a packaging that is widely used in various sectors of life. Plastic waste that has long been polluted in the waters will degrade into small plastic particles called microplastics. This study aims to determine the presence of microplastic content in water and sediment at Teluk Lampung Beach, Pesawaran Regency, Lampung Province. Sampling water and sediment was carried out at three different stations Tegal Island, Pasaran Island, and Sebalang Pier. There are four types of microplastics found fiber, fragment, granule and film. The water sample found the highest pollution with an average of 16 ind/m3 and in the sediment sample the highest pollution with an average of 180 ind/kg. The results FT-IR founds polyhlyene (PE), polythelyene therapthalate (PET), Polypropylene (PP), polystes (PES), dan polyethylene terephthalate (PETE).Plastik merupakan kemasan yang banyak digunakan dalam berbagai sektor kehidupan. Sampah plastik yang telah lama tercemar di perairan, akan mengalami degradasi menjadi partikel-partikel kecil plastik yang disebut mikroplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan mikroplastik pada air dan sedimen di Pantai Teluk Lampung Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Pengambilan sampel air dan sedimen dilakukan di tiga stasiun yang berbeda yaitu Pulau Tegal, Pulau Pasaran, dan Dermaga Sebalang. Terdapat empat jenis mikroplastik yang ditemukan yaitu fiber, fragment, granula dan film. Pada sampel air ditemukan pencemaran paling tinggi dengan rata-rata 16 ind/m3 dan pada sampel sedimen pencemaran paling tinggi dengan rata-rata 180 ind/kg. Hasil uji FT-IR ditemukan polyhlyene (PE), polythelyene therapthalate (PET), Polypropylene (PP), polystes (PES), dan polyethylene terephthalate (PETE).
 
Analisis Alokasi Ruang Laut Dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Lampung
The Zoning Plan for Coastal Zone and Small Islands (RZWP3K) is a plan that determines the direction of resource use for each planning unit accompanied by the determination of the structure and spatial pattern in the coastal planning area. The purpose of this study was to analyze the spatial allocation of marine waters in the Zoning Plan for Coastal Zone and Small Islands in Lampung Province. The method used is the descriptive method. The results of the Zoning Plan analysis for Coastal Areas and Small Islands of Lampung Province are to divide five areas of zoning, namely Public Utilization Areas, Conservation Areas, Certain National Strategic Areas, and Sea Channels, and Special National Strategic Areas. The Public Utilization Area of 1,392,588.32 Ha consists of 7 zones, namely the Tourism Zone, Settlement Zone, Port Zone, Mining Zone, Capture Fisheries Zone, Mariculture Zone, and/or Industrial Zone. The Conservation Area covering an area of 351.645,15 Ha consists of Coastal and Small Islands Conservation Areas/KKP3K (123,080.40 Ha), Marine Conservation Areas/KKP (197,008.75 Ha), and Nature Reserve Areas (31,556.00 Ha). Certain National Strategic Areas covering 73,896.12 Ha, consist of the Outer Small Island of Betuah Island. The National Strategic Area covering 35,194.52 Ha consists of the Lampung Bay Military Training Area and the Sunda Strait Area (KSS). Sea lanes are used for shipping lanes, underwater pipelines/cables, and the migration of marine life. The Zoning Plan for Coastal Zone and Small Islands is an important document for the Provincial Government as the basis for granting a water business permit.Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumberdaya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan pesisir. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis alokasi ruang perairan laut dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Lampung. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Deskriptif. Hasil analisis Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Lampung dibagi atas 5 kawasan yaitu Kawasan Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi, Kawasan Strategis Nasional Tertentu dan Alur Laut, serta kawasan khusus berupa Kawasan Strategis Nasional. Kawasan Pemanfaatan Umum seluas 1.392.588,32 Ha terdiri dari 7 zona yaitu Zona Pariwisata, Zona Permukiman, Zona Pelabuhan, Zona Pertambangan, Zona Perikanan Tangkap, Zona Perikanan Budi Daya dan/atau Zona Industri. Kawasan Konservasi seluas 351.645,15 Ha terdiri atas Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil/KKP3K (123.080,40 Ha), Kawasan Konservasi Perairan/KKP (197.008,75 Ha) dan Kawasan Suaka Alam (31.556,00 Ha). Kawasan Strategis Nasional Tertentu seluas 73.896,12 Ha terdiri dari Pulau Kecil Terluar Pulau Betuah. Kasawan Strategis Nasional seluas 35.194,52 Ha terdiri dari Daerah Latihan Militer Teluk Lampung dan Kawasan Selat Sunda (KSS). Alur laut merupakan perairan yang dimanfaatkan antara lain untuk alur pelayaran, pipa/kabel bawah laut, dan migrasi biota laut. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah dokumen penting Pemerintah Provinsi sebagai dasar untuk pemberian izin usaha perairan
Persentase Tutupan dan Indeks Mortalitas Terumbu Karang di Perairan Pomalaa Sulawesi Tenggara
Corals are unique and specific ecosystems found in tropical waters, and are vulnerable to changes in the aquatic environment. This study aims to determine the percentage of coral reef cover and coral reef mortality index in Pomalaa waters. Coral observations were carried out at a depth of 3 m to represent shallow waters and 7 m to represent deep waters, each of which consisted of 4 observation points. The water quality parameters that were measured directly in the field were temperature, salinity, pH, water brightness and current speed using a Water Quality Checker (TOAA) and for nitrate and phosphate analysis carried out in the laboratory. The results showed that the water quality at each research station did not differ that much. The condition of coral reefs in Pomalaa waters at a depth of 3 m is categorized as damaged, with the percentage of live coral cover ranging from 11.85% - 22.07%. At a depth of 7 m the average is in moderate to damaged condition, with the percentage of cover in the range of 16.13% - 28.81%. This shows that coral diversity is generally low, so that no coral species dominates. The mortality rate of coral reefs in Pomalaa waters is high at a depth of 3 meters, namely 0.75, meaning that 75% of coral reefs are in bad condition to death, as well as at a depth of 7 meters, the highest mortality index is 0.63 meaning 63% of coral reefs in a depth of 7 meters experienced bad conditions to death.Karang merupakan ekosistem yang unik dan spesifik yang terdapat di perairan tropis, serta rentan terhadap perubahan lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar persentase tutupan terumbu karang dan indeks mortalitas terumbu karang di Perairan Pomalaa. Pengambilan data terumbu karang dilakukan pada kedalaman 3 meter untuk mewakili perairan dangkal dan 7 meter untuk mewakili perairan dalam, yang masing- masing terdiri pada 4 titik pengamatan. Parameter kualitas air yang diukur langsung di lapangan adalah, suhu, salinitas, ph, kecerahan perairan dan kecepatan arus menggunakan alat Water Quality Checker (TOAA) dan untuk analisis nitrat dan fosfat dilakukan di Laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan pada setiap stasiun penelitian tidak terdapat perbedaan yang begitu jauh. Kondisi terumbu karang di perairan Pomalaa pada kedalaman 3 m dikategorikan dalam kondisi rusak, dengan persentase penutupan karang hidup berkisar 11,85% - 22,07%. Pada kedalaman 7 m rata-rata dalam kondisi sedang-rusak, dengan persentase tutupan berada pada kisaran 16,13% - 28,81%. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman karang secara umum rendah, sehingga tidak ada jenis karang yang mendominasi. Tingkat kematian terumbu karang di perairan Pomalaa tergolong tinggi pada kedalaman 3 meter yaitu 0,75 artinya 75% terumbu karang mengalami kondisi buruk hingga mengalami kematian, begitu pula pada kedalaman 7 meter, angka tertinggi indeks mortalitas yaitu 0,63 artinya 63% terumbu karang pada kedalaman 7 meter mengalami kondisi buruk hingga mengalami kematian
Distribusi Ukuran dan Pola Pertumbuhan Kepiting Bakau, Scylla serrata (Forskal, 1775) yang Ditangkap dengan Bubu dan Jaring Insang di Perairan Distrik Babo Teluk Bintuni Papua Barat
Mud crab fishing has been carried out intensively using various types of technology, so this study was conducted to analyze the catch composition, size distribution and growth pattern of mud crab using bubu and gill nets. The research was carried out from March to May 2018 in the waters of the Babo district, Teluk Bintuni Regency with a survey model for the purpose of analyzing the effectiveness of bubu and gill nets. The results showed that the catch of mud crabs amounted to 377 individu consisting of 180 individu (54,41%) caught with bubu and 157 individu (46,59%) with gill nets. The size distribution of the carapace width of mud crabs caught with bubu from 65 to 197 mm (132,34 ± 3,85 mm) and gill nets ranged from 126 to 200 mm (165,54 ± 18,53 mm). The distribution of weights caught by bubu and gill nets were 286,34-989,42 g (684,42 ± 207,78 g) and 595,35-992,25 g (865,63 ± 86,06 g) respectively. The growth patterns of mud crabs caught using bubu and gill nets were both negative allometric (b < 3). The composition of the catch was dominated by bubu fishing gear with a wider size distribution and relatively the same growth pattern.Penangkapan kepiting bakau telah dilakukan secara intensif dengan menggunakan berbagai jenis teknologi, sehingga penelitian ini dilakukan untuk menganalisis komposisi hasil tangkapan, sebaran ukuran dan pola pertumbuhan kepiting bakau dengan menggunakan alat tangkap bubu dan jaring insang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2018 di perairan distrik Babo Kabupaten Teluk Bintuni dengan model survei untuk keperluan menganalisis efektifitas alat tangkap bubu dan jaring insang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh hasil tangkapan kepiting bakau berjumlah 377 ekor yang terdiri dari 180 ekor (54,41%) tertangkap dengan bubu dan 157 ekor (46,59%) dengan jaring insang. Sebaran ukuran lebar karapas kepiting bakau yang tertangkap dengan bubu 65-197 mm (132,34 ± 3,85 mm) dan jaring insang berkisar 126-200 mm (165,54 ± 18,53 mm). Sebaran ukuran bobot yang tertangkap bubu dan jaring insang masing-masing sebesar 286,34-989,42 g (684,42 ± 207,78 g) dan 595,35-992,25 g (865,63 ± 86,06 g). Pola pertumbuhan kepiting bakau yang tertangkap menggunakan bubu dan jaring insang keduanya bersifat allometrik negatip (b < 3). Komposisi hasil tangkapan didominasi oleh alat tangkap bubu dengan sebaran ukuran yang lebih luas dan pola pertumbuhan relatif sama
Pemberian Pakan Berbeda Terhadap Pertumbuhan Tukik Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) di Pantai Tikus Emas, Sungailiat
Turtle is reptile that live in the sea and be able to migrate long distances along the Indian Ocean, Pacific Ocean and Southeast Asia. This study was carried out the effect of different feeding on the growth of hawksbill juveniles (Eretmochelys imbricata) at Tikus Emas Beach Sungailiat, Bangka Regency. The study was using the experimental method with Completely Randomized Design (CDR) for 12 weeks with two treatments, namely A (commercial feed in the form of pellets) and B (lemuru fish). Each treatment getting three repetitions using 30 juveniles. Based on the acquired results of our research showed highly significant differences of carapace length P=0,000 (P<0,05) in treatments, as of: (A) 8,65 cm; (B) 10,57cm. There were significant differences on the carapace width P=0,000 (P<0,05), such as: (A) 9,20 cm; (B) 11,51 cm. Body weight showed significant differences P=0,001 (P<0,05) in treatments, as follows: (A) 95,3 g; (B) 211,8 g. Environmental factors that most influence the growth of body weight and length of carapace is water temperature, while the growth of carapace width is pH. In conclusion, lemuru fish (Sardinella lemuru) feed and pellet feed had no significant effect on the carapace length and width growth and increase in body weight of hatchlings.Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan wilayah Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan tukik penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Pantai Tikus Emas Sungailiat, Kabupaten Bangka. Penelitian dilakukan selama 12 minggu dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan, yaitu A (pakan komersial pelet) dan B (ikan lemuru). Setiap perlakuan mendapatkan tiga kali pengulangan menggunakan 30 tukik penyu sisik. Berdasarkan hasil penelitian panjang karapas menunjukkan perbedaan yang nyata P=0,000 (P<0,05) dengan urutan: Perlakuan A; 8,65cm. B; 10,57cm. Lebar karapas menunjukkan perbedaan yang nyata P=0,000 (P<0,05) dengan urutan: Perlakuan A; 9,20cm. B; 11,51cm. Berat tubuh menunjukkan perbedaan yang nyata P=0,001 (P<0,05) dengan urutan: Perlakuan A; 95,3 g. B; 211,8 g. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bobot tubuh dan panjang karapas adalah suhu air, sedangkan pertumbuhan lebar karapas adalah pH. Pada kesimpulannya Pakan ikan lemuru (Sardinella lemuru) dan pakan pelet tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang dan lebar karapas serta pertambahan bobot tubuh tukik