Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    Pematangan Gonad Calon Induk Ikan Selincah (Belontia hasselti Cuvier, 1831) dengan Tingkat Kepadatan Berbeda di Embung Sriwijaya

    Full text link
    The domestication of java combtail (Belontia hasselti Cuvier, 1831) has not been carried out so far, its existence in nature is getting less and less. This causes the domestication of java combtail to be very important, so that it can maintain sustainability and meet market demand for these fish. Stocking density is one of the factors that influence the development of gonadal maturity levels. The purpose of this study was to determine the best stocking density in the maturation of java combtail broodstock. This research was conducted at the Sriwijaya Reservoir, Aquaculture Laboratory and Experimental Ponds, Department of Fisheries, Universitas Sriwijaya. The test fish used were obtained from the catch of fishermen in the swamp area on the Belida River, Gumai Village. The results of the rearing of java combtail with different stocking densities in P2 treatment significantly affected the male gonad maturity index of 1.11±1.63% and females of 13.91±17.06%, male gonad index of 7.98±10 .53 and females 81.63±107.54, fecundity of 4174±4884 eggs and egg diameter of 40.34±45.97 m. Meanwhile, the maturity level of fish gonads was faster, especially in female java combtail (B. hasselti Cuvier, 1831) at TKG IV.Domestikasi terhadap ikan selincah (Belontia hasselti Cuvier, 1831) selama ini masih belum dilakukan, keberadaannya di alam semakin lama semakin berkurang. Hal ini menyebabkan dometikasi terhadap ikan selincah sangat penting untuk dilakukan, sehingga dapat menjaga kelestarian dan memenuhi permintaan pasar terhadap ikan tersebut. Padat tebar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan tingkat kematangan gonad. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui padat tebar terbaik dalam pematangan induk ikan selincah. Penelitian ini dilakukan di Embung Sriwijaya, Labobatorium Budidaya Perairan dan Kolam Percobaan Jurusan Perikanan Unsri. Ikan uji yang digunakan di dapat dari hasil tangkapan nelayan di daerah rawa di Sungai Belida Desa Gumai. Hasil penelitian pemeliharaan ikan selincah dengan padat tebar yang berbeda pada perlakuan P2 dengan kepadatan 30 ekor/m3 berpengaruh nyata terhadap indeks kematangan gonad jantan sebesar 1,11±1,63% dan betina sebesar 13,91±17,06%, indeks gonad jantan sebesar 7,98±10,53 dan betina 81,63±107,54, fekunditas sebesar 4174±4884 butir dan diamater telur sebesar 40,34±45,97 µm. Sedangkan tingkat kematangan gonad ikan lebih cepat terutama pada ikan selincah (B. hasselti Cuvier, 1831) betina pada TKG IV

    Ulasan: Performa Cat Antibiota Terhadap Pertumbuhan Biofouling Penempel Struktur di Perairan Laut Indonesia

    Full text link
    Indonesia has a tropical climate, where seasonal changes are relatively stable every year for surface temperatures and high salinity in the marine environment. The growth of tropical marine biofouling continues uninterrupted throughout the year. However, the metabolic activity of biofouling mostly has a detrimental effect on various submerged marine infrastructures where it damages the physical integrity of the structure, especially the corrosion effect and the tendency to waste marine fuel due to marine biota. In Indonesia, one way to reduce marine biofouling activity is to apply antifouling (AF) paint, which slowly releases antifouling active compounds in AF paint into seawater. Antifouling paint performance investigations have been carried out by the Corrosion Research Group, Metallurgical Research Center-The National Research and Innovation Agency for the last 5 years where the role of physical parameters of seawater and the biocidal active substance of antifouling paints plays a role in extending the service life of antifouling paints that are applied to installed structures in marine waters. The thickness of the antifouling paint and the type of antifouling paint also play a role in maintaining the service life. In Indonesia, antifouling paints still use inorganic heavy metal biocides based on copper oxide (Cu2O) as antifouling agents in marine waters, so further national-scale research is needed to replace copper heavy metals as the main biocide.Indonesia memiliki iklim tropis, di mana perubahan musim relatif stabil setiap tahun untuk suhu permukaan dan salinitas tinggi di lingkungan laut. Pertumbuhan biofouling laut tropis terus berlanjut tanpa gangguan sepanjang tahun. Namun, aktivitas metabolisme biofouling sebagian besar memiliki efek yang merugikan pada berbagai infrastruktur terendam laut dimana aktifitas tersebut merusak integritas fisik struktur khususnya efek korosi dan tendensi boros bahan bakar kapal laut akibat biota penempel. Di Indonesia, salah satu cara untuk mengurangi aktivitas marine biofouling adalah untuk mengaplikasikan cat antifouling (AF), yang secara perlahan melepaskan senyawa aktif antifouling dalam cat AF ke dalam air laut. Investigasi performa cat antifouling telah dilakukan oleh Kelompok Riset Korosi Pusat Riset Metalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional 5 tahun terakhir dimana parameter fisik air laut dan zat aktif biosida cat antifouling berperan dalam memperpanjang umur pakai cat antifouling yang diaplikasikan pada struktur terpasang di perairan laut hingga 5 tahun. Peran ketebalan cat antifouling dan jenis cat antifouling juga berperan untuk menjaga umur pakai. Di Indonesia, Cat antifouling masih menggunakan biosida logam berat anorganik berbasis tembaga oksida (Cu2O) sebagai zat antifouling di perairan laut sehingga diperlukan riset skala nasional lebih lanjut untuk menggantikan logam berat tembaga sebagai biosida utam

    Potensi Pembentukan Trihalometana (THM) Selama Proses Klorinasi pada Air Sungai Maruni dan Air Kali SP 6 di Kabupaten Manokwari

    Full text link
    The purpose of this study was to determine the potential formation of THM in surface water sources, namely Maruni River water and SP 6 River water in Manokwari Regency. Each sample was characterized for its physical and chemical characteristics including parameters of Total Organic Carbon (TOC), total suspended solids (TSS), ammonia, pH, turbidity, and conductivity (DHL). The ideal/correct concentration for chlorination of water samples is determined based on the need for chlorine which leaves a residual chlorine of 0.5 mg Cl2/L for 24 hours. The TOC content of the Maruni River and SP 6 River water samples were 0.5 mg C/L and 17.2 mg C/L, respectively. Both water samples were chlorinated with chlorine concentrations of 3.44 mg Cl2/L and 10.36 mg Cl2/L, respectively. In Maruni River water, the concentration of THM (read as chloroform) formed was 6.5 µg/L and Kali SP 6 water was 577.5 µg/L. The level of chloroform formed in the Maruni River water sample is very low compared to the required quality standard according to Health of Indonesian Ministry No. 907 of 2002 regarding requirements and monitoring of drinking water quality, which is 200 µg/L, so that the Maruni River water can be treated by chlorine to be used as drinking water.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pembentukan THM pada air permukaan yaitu air Sungai Maruni dan air Kali SP 6 di Kabupaten Manokwari. Masing-masing sampel dilakukan uji karakteristik fisika dan kimia yang meliputi parameter Total Organic Carbon (TOC), total padatan tersuspensi (TSS), ammonia, pH, kekeruhan dan daya hantar listrik (DHL). Konsentrasi ideal/tepat untuk klorinasi sampel air ditentukan berdasarkan kebutuhan klorin yang menyisakan residu klorin sebesar 0,5 mg Cl2/L selama 24 jam. Kandungan TOC sampel air Sungai Maruni dan air Kali SP 6 diperoleh berturut-turut sebesar 0,5 mg C/L dan 17,2 mg C/L. Kedua sampel air diklorinasi dengan konsentrasi klorin berturut-turut sebesar 3,44 mg Cl2/L dan 10,36 mg Cl2/L. Pada air Sungai Maruni, konsentrasi THM (yang dibaca sebagai kloroform) yang terbentuk adalah sebesar 6,5 µg/L dan air Kali SP 6 sebesar 577,5 µg/L. Kadar kloroform yang terbentuk pada sampel air Sungai Maruni sangat rendah dibandingkan baku mutu yang dipersyaratkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907 tahun 2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum, yaitu sebesar 200 µg/L, sehingga air Sungai Maruni dapat diolah secara klorinasi untuk dijadikan sebagai air minum

    “KONTAMINASI LOGAM BERAT DI KOLOM AIR, SEDIMEN DAN DAGING IKAN NGONGAI (Bagarius bagarius) DI KAWASAN KONSERVASI BATANG KUANTAN SIJUNJUNG”

    No full text
    This study aims to analyze the content of heavy metals in the water column, sediment, and meat of Bagarius bagarius fish living in the Batang Kuantan River conservation area. The heavy metals analyzed included Hg, Pb, Cu, Zn, and Cd. The research was conducted between April and May 2022 at three stations in the Batang Kuantan Sijunjung Conservation area. Sample analysis was performed at the West Sumatra Provincial Health UPTD Laboratory. The concentration of heavy metals in the water column, sediment, and fish meat was determined using a spectrophotometer based on the AAS method. The results indicated that Hg (0.015 mg/L) had the highest content in the water column at station 3. In sediment, Zn (30.92 mg/L) showed the highest concentration at station 1, whereas, in fish meat, Pb (15.51 mg/kg) was the highest at station 3. The concentration of Hg in the water column exceeded the quality standard for River Water Quality Standards and the Like Class III, as specified in Appendix VI of Government Regulation of the Republic of Indonesia No. 22 of 2021 regarding the Implementation of Environmental Protection and Management, which is 0.002 mg/L. Additionally, the concentration of Cd at station 3 was 3,199 mg/kg, surpassing the sediment quality standard set by the Australian and New Zealand Environment and Conservation Council (ANZECC, 2000) of 1.5 mg/kg. The highest concentration of Pb in fish meat was observed at station 3, which exceeded the quality standard for heavy metal Pb in fish meat and processed products according to SNI Number 7387 of 2009, which sets the maximum limit of heavy metal contamination in food at 0.3 mg/kg.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat pada kolom air, sedimen, dan daging ikan Bagarius bagarius yang hidup di kawasan konservasi sungai Batang Kuantan. Jenis logam berat yang dianalisa meliputi Hg, Pb, Cu, Zn, dan Cd. Penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai Mei 2022 pada tiga stasiun di kawasan Konservasi Aliran Batang Kuantan Sijunjung. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium UPTD Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Konsentrasi logam berat dalam kolom air, sedimen dan daging ikan ditentukan dengan spektrofotometer berdasarkan metode AAS. Hasil penelitian didapatkan bahwa pada kolom air kandungan logam berat tertinggi adalah Hg (0,015 mg/L) di stasiun 3, pada sedimen yang tertinggi adalah Zn (30.92 mg/L) di stasiun 1, sedangkan pada daging ikan yang tertinggi adalah Pb (15.51 mg/kg) ditemukan di stasiun 3. Kadar logam berat tertinggi di kolom air yaitu Hg melebihi baku mutu Baku Mutu Air Sungai dan Sejenisnya Kelas III Berdasarkan Lampiran VI Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebesar 0,002 mg/L, sedangkan logam Cd tertinggi pada stasiun 3 sebesar 3.199 mg/kg melebihi baku mutu untuk sedimen berdasarkan Australian dan New Zaeland Environtment and Conservation Council (ANZECC, 2000) senilai 1.5 mg/kg. Pada daging ikan yaitu Pb tertinggi di stasiun 3, hal ini berarti melebihi baku mutu logam berat Pb untuk daging ikan dan hasil olahannya dalam pangan menurut SNI Nomor 7387 tahun 2009 tentang batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan yakni 0,3 mg/kg

    Indeks Sentralitas Masyarakat Pesisir pada Gugus Kepulauan dengan Pusat Layanan Wilayah di Pulau Induk (Studi Kepulauan Arar Kabupaten Sorong Papua Barat Daya)

    No full text
    The diversity of coastal and marine resources on archipelago can have a significant economic impact if effective regional connectivity is established. The Arar archipelago as a hinterland area integrated with centralland, has high dynamics related to the characteristics and interactions of communities in managing and utilizing natural resources. The research aims to determine the centrality index of the Arar Islands community with regional service centers on the main island using quantitative descriptive methods. Determining the hierarchy of regions and service centers was carried out in situ and elaborated on Sorong Regency and City BPS data, considering the number and type of facilities in the Arar region and surrounding areas to determine the hierarchy of regional centrality. Centrality analysis using the guttmen scale. The area that has the highest interaction with the people of the Arar Islands is Aimas District at 12.26, while Manyamuk District is an area with a productive orientation trend with an index of 6.05, even though it has a relatively low centrality index than Sorong Manoi District at 9.89. This happens because the interactions carried out tend to be related to the distribution of goods and services, work and the process of fulfilling daily life, rather than institutional entertainment and social activities. On the other hand, the employment opportunities provided in the Aimas and Mayamuk areas are in adequate condition and able to support the lives of the community. in the Arar Islands.Keanekaragaman sumberdaya pesisir dan laut pada gugusan pulau kecil dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan jika terjalin konektivitas wilayah yang efektif. Gugus kepulauan Arar sebagai wilayah hinter land terintegrasi dengan centra land, memiliki dinamika yang tinggi berkaitan dengan karakteristik dan interaksi masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam. Penelitian bertujuan untuk mengetahui indeks sentralitas masyarakat kepulauan Arar dengan pusat layanan wilayah di pulau induk menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penentuan hirarki wilayah dan pusat pelayanan dilakukan secara insitu dan elaborasi data BPS Kabupaten dan Kota Sorong, mempertimbangkan jumlah dan jenis fasilitas di wilayah Arar dan kawasan sekitarnya untuk menentukan hirarki sentralitas wilayah. Analisis sentralitas menggunakan skala guttmen. Wilayah yang memiliki interaksi tertinggi dengan masyarakat kepulauan Arar berada pada Distrik Aimas sebesar 12.26, sedangkan Distrik Manyamuk merupakan kawasan dengan trend orientasi produktif memiliki indeks sebesar 6.05, walaupun memiliki indeks sentralitas relatif rendah dari Distrik Sorong Manoi sebesar 9.89. Hal ini terjadi karena interaksi yang dilakukan cenderung berkaitan dengan distribusi barang dan jasa, pekerjaan dan proses pemenuhan kehidupan keseharian, dibanding kegiatan hiburan dan sosial kelembagaan, disisi lain lapangan pekerjaan yang disediakan pada kawasan Aimas dan Mayamuk berada dalam kondisi yang memadai dan mampu mendukung perikehidupan masayarakat di kepulauan Arar.  &nbsp

    Analisis Indeks Keragaman Hasil Tangkapan pada Rumpon Berbasis Sumberdaya Lokal di Perairan Kuala Daya Kabupaten Aceh Jaya

    Full text link
    FADs is an instrument that function as a place to gathered fish, so that make it easier for fisherman to find fish. This study aims to determine the diversity index, dominance and weight and length of the catch on local resources. The result of this study are expected to provide information on the types of fish caught using hand line the research was conducted from August to December 2022 in the waters of Kuala Daya, Aceh Jaya Regency. Data collected in the form of data on the number of fish (tail), weight (gr), length (cm). The data collection method used was experimental fishing for 4 trips at two observation stations. During the study the number of catches obtained was 14 fish consisting of 1 phylum (chordata), 1 class (actonopterygii), 1 order, 4 families and 7 species, while the fish species are malabar trevally (Carangoides malabaricus), yellowtail scad (Atule mate), yellowstripe scad (Selaroides leptolepis), orange spotted grouper (Ephinephelus coioides), moontail bullseye (Priachantus hamrur), malabar blood snapper (Lutjanus malabaricus), narrow barred Spanish mackerels (Scomberomorus commerson). The result showed that the diversity index values on FADs 1 and FADs 2 were 1.33 and 1.21 which were included in the relatively medium criteria. The dominance index values on both FADs are 2 and 2 which are included in the relatively high criteria, and the weight of fish caught on both FADs is 2.72 kilogram and 1.91 kilogram and the average length of fish caught on both FADs ranges from 14,4 cm – 40,25 cm and 20,9 – 40,5 cm.  Rumpon merupakan alat bantu yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan sehingga mempermudah nelayan dalam mencari ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks keragaman, dominansi serta bobot dan panjang ikan hasil tangkapan pada rumpon berbasis sumberdaya lokal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan menggunakan pancing ulur. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai bulan Desember 2022 di perairan Kuala Daya Kabupaten Aceh Jaya. Data yang dikumpulkan berupa data jumlah ikan (ekor), bobot (gr) dan panjang (cm). Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah eksperimental fishing selama 4 trip pada dua lokasi berbeda. Selama penelitian jumlah hasil tangkapan yang diperoleh sebanyak 14 ekor ikan yang terdiri dari 1 filum (chordata), 1 kelas (actinopterygii), 1 ordo, 4 famili dan 7 spesies, adapun jenis ikan yaitu kuwe/rambai (Carangoides malabaricus), selar hijau (Atule mate), selar ekor kuning (Selaroides leptolepis), kerapu macan (Ephinephelus coioides), swanggi (Priachantus hamrur), kakap merah (Lutjanus malabaricus), tenggiri papan (Scomberomorus commerson). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks keragaman pada rumpon 1 dan rumpon 2 adalah sebesar 1,33 dan 1,21 yaitu termasuk dalam kriteria relatif sedang. Nilai indeks dominansi pada kedua rumpon adalah sebesar 2 dan 2 yaitu termasuk dalam kriteria relatif tinggi, serta bobot ikan hasil tangkapan pada kedua rumpon adalah sebesar 2,72 kilogram dan 1,91 kilogram dan panjang rata – rata ikan hasil tangkapan pada kedua rumpon adalah berkisar antara 14,4 cm – 40,25 cm dan 20,9 – 40,5 cm

    Analisis Pemanfaatan PLTS 80 Wp sebagai Sumber Energi Listrik pada Kapal 3 GT di Desa Tablolong Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    The use of fossil energy as a source of fuel to turn on generators on fishing boats has long been used to assist fishing activities in Tablolong Village. The availability and lack of good use of this energy continuously will certainly be very bad for the sustainability of the fishermen's economy and the environment. The utilization of solar energy which has such great potential in East Nusa Tenggara can be one solution. The use of this technology is in line with the Blue Economy policy by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries Republic of Indonesia. This 80 Wp PV system is installed on a 3 GT ship, then the energy that can be generated is analyzed and the Wilcoxon test is carried out to determine the fishermen's response to the use of the PV System. The utilization of the PV System as a source of electrical energy on 3GT vessels in Tablolong Village can meet the electrical energy needs of fishing boats. The electrical energy generated can meet 189% of the ship's electricity needs of 320 Wh/day with energy that can be produced by PV of 604.04 Wh/day. This result is also supported by the Wilcoxon test of the energy produced by PV for the ship's electrical energy needs. Based on the assessment indicators that have been carried out from before and after PV installation activities on fishing boats, it was found that there was a significant difference in the electrical energy needs before and after using PV System with a significant value of 0.001 (p < 0.05).Penggunaan energi fosil sebagai sumber bahan bakar untuk menghidupkan generator pada kapal nelayan telah lama dipergunakan dalam membantu kegiatan penangkapan ikan di Desa Tablolong. Ketersediaan dan kurang baiknya penggunaan energi ini secara terus-menerus tentu akan sangat kurang baik terhadap keberlangsungan perekonomian nelayan dan lingkungan. Pemanfaatan energi surya yang potensinya begitu besar di Nusa Tenggara Timur bisa menjadi salah satu solusi. Pemanfaatan potensi ini berupa PLTS sejalan dengan kebijakan Blue Economy oleh KKP. PLTS 80 Wp ini dipasang pada dua kapal berukuran 3 GT, kemudian dianalisis energi yang mampu dihasilkan dan dilakukan Uji Wilcoxon untuk mengetahui tanggapan nelayan terhadap penggunaan PLTS. Pemanfaatan PLTS sebagai sumber energi listrik pada kapal 3GT di Desa Tablolong dapat memenuhi kebutuhan energi listrik kapal nelayan. Energi listrik yang dibangkitkan dapat memenuhi 189% kebutuhan listrik kapal sebesar 320 Wh/hari, dengan energi yang mampu dihasilkan oleh PLTS sebesar 604,04 Wh/hari. Hasil ini juga didukung dari uji Wilcoxon terhadap energi yang dihasilkan oleh PLTS terhadap kebutuhan energi listrik kapal. Berdasarkan indikator penilaian yang telah dilakukan dari sebelum dan sesudah kegiatan pemasangan PLTS pada kapal nelayan, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kebutuhan energi listrik sebelum dan sesudah menggunakan PLTS dengan nilai signifikan 0,001 (p < 0,05)

    Efektivitas Penambahan Nanokitosan dalam Pakan Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhanan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

    Full text link
    Tilapia cultivation in Tarakan City is one of the sources of community livelihood. However, environmental problems cause fish to be susceptible to diseases caused by bacteria in the waters. This study aims to increase the potential of chitosan with nanoparticle size, which is added to feed for the survival and growth of tilapia seed. Nanochitosan is an extract from crab or shrimp shell waste, which functions as an immunostimulant. By utilizing the active nature of the nanoparticle size, it can provide better growth and survival of tilapia seed. The research was conducted with an experimental method of two treatments and three replications. One treatment was without the addition of nanochitosan and the second treatment was with the addition of nanochitosan in the feed. The results of the synthesis of nanochitosan obtained size based on the amount with the highest intensity at 537.17 nm. Water quality were still optimal, namely the temperature was 27-29°C and the pH was between 7.3-7.8. The dissolved oxygen content (DO) obtained in the two treatments was 1.3-5.8 mg/L. The range of ammonia levels in the two treatments was 0.1-3.5 mg/L. Based on the results of the study, it was found that the treatment using chitosan nanoparticles in the feed was more effective than without using chitosan nanoparticles in the feed on the growth and survival of Tilapia Seeds. The results of the T test showed that the daily specific growth rate (SGR) in all treatments was not significantly different (P>0.05), but the survival rate (SR) of tilapia seed in all treatments was significantly different (P<0.05). These results can be concluded that the addition of nanochitosan in feed has a significant effect on increasing the survival of tilapia seed.Budidaya ikan nila merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat di Kota Tarakan. Namun permasalahan lingkungan menyebabkan benih ikan nila mudah terserang penyakit akibat bakteri di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan potensi kitosan dengan ukuran nanopartikel, yang ditambahkan pada pakan untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan nila. Nanokitosan adalah ekstrak dari limbah cangkang kepiting atau kulit udang, yang berfungsi sebagai immunostimulan. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan dua perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan satu adalah tanpa pemberian nanokitosan dan perlakuan dua dengan pemberian nanokitosan dalam pakan. Hasil sintesis nanokitosan didapatkan ukuran berdasarkan jumlah dengan intensitas tertinggi pada ukuran 537,17 nm. Hasil kualitas air suhu dan pH dari dua perlakuan masih berada dalam kisaran optimal untuk budidaya ikan nila yaitu suhu 27-29°C, pH antara 7,3-7,8, kandungan oksigen terlarut (DO) sebesar 1,3-5,8 mg/L dan kisaran kadar amonia sebesar yaitu 0,1-3,5 mg/L. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa perlakuan menggunakan nanopartikel kitosan dalam pakan lebih efektif daripada tanpa menggunakan nanopartikel kitosan dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan nila. Hasil uji T menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik harian (SGR) pada semua perlakuan tidak berbeda signifikan (P>0,05), tetapi pada kelangsungan hidup (SR) benih ikan nila pada semua perlakuan berbeda signifikan (P<0,05). Hasil ini dapat disimpulkan bahwa penambahan nanokitosan dalam pakan berpengaruh nyata meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan nila

    Teknologi Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp.) di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat

    Full text link
    Feed is divided into two, namely natural feed and artificial feed. Natural feed is feed given to the larval stage and is the main source of protein for larvae. Silk worms (Tubifex sp.) is one of the natural fish food that contains good nutrition for fish growth. The purpose of this activity is to know the technology of cultivating silk worms (Tubifex sp.) at the Center for Freshwater Aquaculture, Sukabumi, West Java Province. The method used in this activity is field observation and collection of primary and secondary data. The stages of implementing the activities include preparation of containers, manufacture of culture media, stocking of silk worms and maintenance. Parameters observed were silkworm morphology, individual weight, absolute weight growth and specific growth rate and water quality presented in tabular form and processed descriptively. Based on worm rearing data, the specific growth rate was 17.73% day-1 and the weight growth was 249.12 g.Pakan dibedakan menjadi dua yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan pakan yang diberikan pada stadia larva dan merupakan sumber protein utama bagi larva. Cacing sutra (Tubifex sp.) merupakan salah satu pakan alami ikan yang mengandung protein yang tinggi untuk perumbuhan ikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan budidaya cacing sutra untuk menunjang budidaya ikan terutama stadia benih. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk mengetahui teknologi budidaya cacing sutra (Tubifex sp.) di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah observasi lapangan serta pengumpulan data primer dan data sekunder. Tahapan pelaksanaan kegiatan meliputi persiapan wadah, pembuatan media kultur, penebaran induk cacing sutra dan pemeliharaan. Parameter yang diamati antara lain morfologi cacing sutra, bobot individu, pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan spesifik serta kulaitas air disajikan dalam bentuk tabel dan diolah secara deskriptif. Berdasarkan data pemeliharaan cacing diperoleh nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 17,73% hari-1 dan pertumbuhan bobot sebesar 249,12 g

    Pengaruh urea terhadap pertumbuhan dan kandungan nutrisi Spirulina platensis

    No full text
    Spirulina platensis is a highly nutritious cyanobacterial microalga. This microalga is rich in protein, vitamins, minerals and antioxidants. The use of media and cultivation methods that are not appropriate can affect the nutritional content of this microalgae. This study aims to evaluate the effect of urea on growth, biomass production, nutrient content and pigments of S. platensis on an outdoor scale. Technical media such as urea are used instead of nitrate in standard media (zarrouk). This study used four treatments with three replications. The treatments used were different doses of urea, namely 0.1 g/L, 0.4 g/L, 0.7 g/L, and 1 g/L. The results showed that the use of urea affected the growth and nutritional content of S. platensis. The use 0.4 g/L urea producued comparable results than that of nitrate as nitrogen source. However, phycocyanin content was still lower than nitrate-based media. Inconclusion that urea was potential alterative nitrogen source for spirulina cultivation.Spirulina platensis merupakan mikroalga jenis cyanobakter yang bernutrisi tinggi. Mikroalga ini kaya akan protein, vitamin, mineral dan antioksidan. Pengunaan media dan metode kultivasi yang tidak tepat dapat mempengaruhi kandungan nutrisi mikroalga ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh urea terhadap pertumbuhan, produksi biomassa, kandungan nutrisi dan pigmen S. platensis pada skala outdoor. Media teknis seperti urea digunakan sebagai pengganti nitrat pada media standar (zarrouk). Penelitian ini menggunakan empat perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah dosis urea yang berbeda yaitu 0,1 g/L, 0,4 g/L, 0,7 g/L, dan 1 g/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan urea berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kandungan nutrisi S. platensis. Dosis terbaik penggunaan urea sebagai pengganti nitrat adalah 0,4 g/L. Secara keseluruhan, penggunaan urea 0,4 g/L menunjukkan hasil yang setara dengan nitrat kecuali pada kandungan fikosianin yang masih lebih renda

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇