Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    Model Pengembangan Bisnis Pukat Cincin Skala Kecil Berkelanjutan Pada KM Pricilia di Desa Latta, Kota Ambon

    Full text link
    The small-scale purse seine business at KM Priscilia in Latta Village, Ambon City since its establishment in 2002 until now has not been able to grow rapidly, due to the lack of education and implementation that results in a business development strategy that can be applied, while the number of small-scale purse seine fleets in Ambon City since 2017 until now continues to increase. Therefore, the small-scale purse seine business at KM Priscilia must improve the current business development strategy model for the sustainability of the business. The purpose of this study is to identify the current small-scale purse seine business model and evaluate and design new and sustainable business development strategy models. This research was conducted from November 2022 to February 2023 with a case study approach on KM Priscilia's small-scale purse seine business in Latta Village. The data analysis used is qualitative descriptive, namely Business Model Canvas (BMC) and SWOT analysis. The results of this study show that the current business model at KM Priscilia based on the analysis of the nine elements of the business model canvas still needs improvement, and the results of the SWOT analysis produce alternative development strategies for SO there are 3, WO there are 4, ST there are 4 and WT there are 3 as the basis for the preparation of the four prototypes of KM Priscilia's sustainable business canvas business model.Bisnis pukat cincin skala kecil pada KM Priscilia di Desa Latta Kota Ambon sejak didirikan pada tahun 2002 sampai saat ini masih belum bisa berkembang pesat, karena kurangnya edukasi serta implementasi yang menghasilkan sebuah strategi pengembangan bisnis yang dapat diterapkan, sedangkan jumlah srmada pukat cincin skala kecil di Kota Ambon sejak tahun 2017 hingga saat ini terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, Bisnis pukat cincin skala kecil pada KM Priscilia harus memperbaiki model strategi pengembangan bisnis yang ada saat ini untuk keberlanjutan usaha tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi model bisnis pukat cincin skala kecil saat ini, mengevaluasi dan merancang model strategi pengembangan bisnis baru dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2022 hingga Februari 2023 dengan pendekatan studi kasus pada bisnis pukat cincin skala kecil KM Priscilia di Desa Latta. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yaitu Business Model Canvas (BMC) dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa model bisnis pada KM Priscilia saat ini berdasarkan analisis sembilan elemen bisnis model kanvas masih perlu perbaikan, dan hasil analisis SWOT menghasilkan alternatif strategi pengembangan SO ada 3, WO ada 4, ST ada 4 dan WT ada 3 sebagai dasar penyusunan keempat prototype model bisnis kanvas KM Priscilia yang berkelanjutan

    Pertumbuhan dan Status Pemanfaatan dari Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Sekitar Manokwari

    Full text link
    Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) has high economic value and opportunities for local and export market demand. The present study aims to investigate growth and exploitation status of the resource. Data collection was carried out in April-August 2021 by collecting catch data from fishermen at four fish landing sites in Manokwari. Skipjack tuna caught from the fishermen were caught in the waters around Manokwari. The size of skipjack tuna measured ranged between 260 mm and 760 mm, with an average monthly size ranging between 540 mm and 595 mm. The relationship between total length and body weight of skipjack tuna followed the equation W = 0.00006L2.7702, where the b value of 2.7702 indicates that the growth pattern of skipjack tuna (K. pelamis) is negative allometric. The growth model using the von Bertalanffy model, found asymptote length (L∞) of 792.75 mm, growth rate (K) of 0.75 year-1 and theoretical age (t0) of -0.0254 years. The total mortality (Z) was 1.32 yr-1. Natural mortality (M) was 0.61 yr-1. The mortality due to capture (F) was 0.71 yr-1. The exploitation rate of 0.54 indicated that the exploitation rate of skipjack tuna in the waters around Manokwari has slightly exceeded the optimum utilization rate. The spawning potential ratio (SPR) value was 16%, which was less than the lower reference point (20%).Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan peluang permintaan pasar lokal maupun ekspor. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan April-Agustus 2021 dengan mengumpulkan data hasil tangkapan dari nelayan di beberapa titik pendaratan ikan di Manokwari. Ikan cakalang tangkapan dari nelayan di tangkap di Perairan sekitar Manokwari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi ukuran, hubungan panjang dan berat, model pertumbuhan, laju mortalitas dan pemanfaatan ikan cakalang di Perairan sekitar Manokwari. Ukuran ikan cakalang yang diperoleh berkisar antara 260 mm dan 760 mm, dengan ukuran rata-rata berkisar antara 540 mm dan 595 mm. Hubungan antara panjang total dengan berat tubuh ikan cakalang mengikuti persamaan Log W = 0,00006 + 2,7702 Log L, dimana nilai b sebesar 2,7702 menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan cakalang (K. pelamis) bersifat alometrik negatif. Model pertumbuhan menggunakan model von Bertalanffy, ditemukan panjang asimtot (L∞) sebesar 792,75 mm, laju pertumbuhan (K) sebesar 0,75/tahun dan umur teoritis (t0) sebesar -0,0254 tahun. Mortalitas total (Z) sebesar 1,32/tahun. Mortalitas alami (M) sebesar 0,61/tahun. Mortalitas akibat penangkapan (F) sebesar 0,71/tahun. Laju eksploitasi sebesar 0,54/tahun menunjukkan bahwa laju eksploitasi ikan cakalang di perairan sekitar Manokwari sudah sedikit melebihi laju pemanfaatan optimum. Nilai spawning potential ratio (SPR) sebesar 16%, sudah lebih rendah dari batas titik acuan (20%)

    Karakter Meristik dan Morfometrik Spesies Ikan Asing Invasif Parachromis managuensis (Günther 1867) di Waduk Penjalin, Brebes, Jawa Tengah

    Full text link
    The Jaguar Guapote, Parachromis managuensis is an alien species from the Cichlids that are potentially invasive and threaten the native and endemic fish species resources in Penjalin Reservoir, Brebes, Central Java.  This research aims to identify the Jaguar Guapote fish according to its morphometric and meristic characteristics. 50 Jaguar Guapote fish were collected from the fisherman around Penjalin Reservoirs and analyzed 20 morphometric and seven meristic characteristics. Twenty-one fish were in the juvenile stage while the rest 29 were in an adult stage that could be distributed into seven length classes. One-way ANOVA, Cluster Analysis, and Principal Component Analysis were performed to test the differences of morphometric characters, while the Kruskal-Wallis test was used to analyze the difference of its meristic characters according to length classes. The result of One-Way ANOVA shows significant differences in 15 morphometric characters. The smaller and the larger fish can differentiate by their head morphologies such as PoL (Post Orbital Length), SnL (Snout Length), HL (Head Length), dan PreDL (Pre-Dorsal Length). Although, the meristic characters revealed no significant differences based on the length classes.Ikan Jaguar, Parachromis managuensis merupakan ikan asing dari Famili Cichlidae yang berpotensi menjadi ikan invasif dan mengancam terjadinya penurunan sumberdaya ikan asli dan endemik di perairan Waduk Penjalin, Brebes, Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi ikan P. managuensis berdasarkan karakter morfometrik dan meristiknya. Pada penelitian ini sebanyak 50 individu ikan P. managunesis dikumpulkan dari nelayan di Waduk Penjalin pada bulan November 2022 dan dianalisis 20 karakter morfometrik dan tujuh karakter meristiknya. Sebanyak 21 ikan berada pada stadia yuwana dan 29 adalah ikan dewasa yang dapat dikelompokkan mejadi tujuh kelas ukuran panjang. One-Way Anova, Analisis Kluster, Principal Component Analysis digunakan untuk menganalisis karakter morfometrik sedangkan uji Kruskal-Wallis digunakan untuk  mengetahui adanya perbedaan karakter meristik berdasarkan kelas ukuran panjang. Hasil dari pengujian One-way Anova menunjukkan sebanyak 15 karakter morfometrik berbeda secara signifikan. Ikan pada kelas ukuran kecil (yuwana) dan besar (dewasa) dapat dibedakan berdasarkan  karakter morfologi di bagian kepala yakni PoL (Panjang Postorbital), SnL (Panjang Moncong), HL (Panjang Kepala), dan PreDL (Panjang Sebelum Sirip Dorsal). Akan tetapi, karakter meristik menunjukkan tidak adanya perbedaan berdasarkan kelas ukuran panjang ikan

    Analisis Vegetasi Mangrove di Kelurahan Bonkawir Kota Waisai Kabupaten Raja Ampat

    Full text link
    The high level of land conversion and utilization for wood extraction in the mangrove ecosystem in Bonkawir Village, Raja Ampat Regency impacts environmental degradation. Damage of mangrove ecosystems results in a decrease in the diversity and abundance of fish populations. The lack of scientific information about the current condition of the mangrove ecosystem on the coast of Bonkawir Village is an important reason to conduct a study related to the analysis of mangrove vegetation. This study aimed to identify mangrove species, describe the composition, density, frequency, dominance, and Important Value Index (INP) of mangroves on the coast of Bonkawir Village, Waisai District, Raja Ampat Regency. Data were collected using the line plot transect method at three observation stations then it is analyzed to find out the INP. Based on the observation, it is known that the types of mangroves found at the study site were 14 families consisting of 20 species. Species scattered throughout the station were Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, and Derris trifoliate. The condition of the substrate which is dominated by muddy sand and water quality parameters that affect the growth of mangroves in general still meet the quality standards of mangrove growth. The Rhizopora apiculata had the highest Relative Density, Relative Frequency, and Relative Dominance in the tree category at Stations I and II so it had the highest INP at both stations. The tree category Bruguiera gymnorrhiza has the highest INP at Station III. At Station I the species with the lowest INP was found in Rhizopora mucronata; at Station II was Xylocarpus muloccensis. Meanwhile, Bruguiera parviflora and Ceriops decandra in the tree category together have the lowest INP at Station III.Tingginya alih fungsi lahan serta pemanfaatan untuk pengambilan kayu pada ekosistem mangrove di Kelurahan Bonkawir Kabupaten Raja Ampat berdampak pada degradasi lingkungan. Kerusakan ekosistem mangrove mengakibatkan penurunan tingkat keanekaragaman dan kelimpahan populasi ikan. Minimnya informasi ilmiah tentang kondisi terkini ekosistem mangrove di pesisir Kelurahan Bonkawir menjadi alasan penting untuk melakukan kajian terkait analisis vegetasi mangrove. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis mangrove, mendeskripsikan komposisi, kerapatan, frekuensi, dominansi, dan Indeks Nilai Penting (INP) Mangrove di pesisir pantai Kelurahan Bonkawir Distrik Waisai Kota Kabupaten Raja Ampat. Pengambilan data dilakukan dengan metode transek garis berpetak pada tiga stasiun pengamatan, selanjutnya dianalisis untuk mengetahui INP. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa jenis mangrove yang ditemukan pada lokasi penelitian sebanyak 14 family yang terdiri dari 20 jenis. Jenis yang tersebar di seluruh stasiun adalah Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, dan Derris trifoliate. Kondisi subtrat yang didominasi pasir berlumpur dan parameter kualitas perairan yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove secara umum masih memenuhi baku mutu pertumbuhan mangrove. Jenis Rhizopora apiculata memiliki Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, dan Dominansi Relatif tertinggi pada kategori pohon di Stasiun I dan II sehingga memiliki INP tertinggi pada kedua stasiun tersebut. Adapun jenis Bruguiera gymnorrhiza kategori pohon memiliki INP tertinggi di Stasiun III. Pada Stasiun I jenis dengan INP terendah ditemui pada jenis Rhizopora mucronata dan pada Stasiun II adalah Xylocarpus muloccensis. Adapun Bruguiera parviflora dan Ceriops decandra kategori pohon sama-sama memiliki INP terendah di Stasiun III

    Hubungan Panjang-Berat dan Faktor Kondisi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing Bandar Lampung

    No full text
    The increase in the volume of catches and the price of mackerel in Bandar Lampung in recent years can encourage more intensive and exploitative fishing efforts. The aims of this study is analyze the length-weight relationship, condition factors, and growth patterns of Indian mackerel (Rastrelliger kanagurta) landed at the Lempasing Fishing Port, as basic information for the management of R. kanagurta resources in the waters of Lampung Bay and its surroundings. Samples of Indian mackerel were obtained from fishs landed at Lempasing Fishing Port during July-Sept 2022. The fish samples were measured for length and weight, then analyzed for length distribution, condition factors and length-weight relationships. The length of the fish landed at the Lempasing Fishing Port ranged from 170–282 mm. The smallest fish size in the class interval 170-184 mm. The size of the most caught fish are in the class interval of 230–240 mm. The highest condition factor value of 1.02 was found in the smallest fish class interval. Condition factor showed that the values were not significantly different from 1. The equation of length-weight relationship is W=0.0017L2.086 with a determination coefficient value (R²) of 0.811. The growth pattern is negative allometric. This illustrates that Indian mackerel landed at the Lempasing Fishing Port tended to be thin. Further research related to reproductive patterns, gonadal maturity index, composition of catch number, catch productivity periodicly and sustainable is urgently needed for precise and sustainable management of Indian mackerel resources.Volume hasil tangkapan dan harga ikan kembung di Kota Bandar Lampung yang terus meningkat beberapa tahun terakhir, mendorong upaya penangkapan yang semakin intensif dan ekploitatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan panjang-berat, sebaran panjang, faktor kondisi, dan pola petumbuhan ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) yang didaratkan di PPP Lempasing, Kota Bandar Lampung. Penelitian ini diharpakan menjadi informasi dasar bagi pengelolaan sumberdaya ikan kembung lelaki di Perairan Teluk Lampung dan sekitarnya. Sampel ikan kembung lelaki diperoleh dari ikan yang di daratkan di PPP Lempasing sepanjang bulan Juli-September 2022. Sampel ikan diukur panjang dengan pita ukur, dan beratnya mengunakan timbangan digital dengan ketelitian 1 mm dan 0,1 gr, selanjutnya dianalisis sebaran panjangnya, faktor kondisi dan hubungan panjang-berat. Ukuran panjang ikan yang didaratkan di PPP Lempasing berkisar antara 170–282 mm. Ukuran ikan terkecil pada selang kelas 170–184 mm. Ukuran ikan yang paling banyak tertangkap selang kelas 230–240 mm. Faktor kondisi tertinggi bernilai 1,02 ditemukan pada selang kelas ikan terkecil. Nilai faktor kondisi menunjukkan nilai tidak berbeda nyata dengan 1. Hubungan panjang-berat menunjukkan persamaan W=0,0017L2,086 dengan nilai koefien determinasi (R²) sebear 0,811. Pola pertumbuhan ikan kembung lelaki bersifat allometrik negatif. Hal ini menggambarkan bahwa ikan kembung lelaki lelaki cenderung pipih. Penelitian lebih lanjut terkait pola reproduksi, indeks kematangan gonad, komposisi jumlah dan produktivitas hasil tangkapan, hubungannya parameter lingkungan secara periodik dan berkelanjutan sangat dibutuhkan dalam rangka upaya pengelolaan sumberdaya ikan kembung lelaki yang presisi dan berkelanjutan

    Kriteria Eco Resort Pariwisata Berkelanjutan Kawasan Perairan Waigeo Selatan Kepulauan Raja Ampat

    Full text link
    Raja Ampat is one of the regions in Indonesia that implements the concept of sustainable marine tourism. The concept of sustainability for eco-resorts is adapted from the criteria of the Global Code of Ethics for Tourism (GSTC). The aim of this study is to find accurate data related to whether 8 resorts in South Waigeo have met the criteria for sustainable accommodation. Research is carried out with the collection of data quantitatively and qualitatively with descriptive analysis. The scores obtained are then processed on a likert scale with P=(F/Nx100%). The total sample was 96 people with a random sampling technique. The results showed GSTC criteria in 8 resorts obtained with a variable percentage. The lowest percentage is in the environmental sustainability criteria of 20-50% including indicators of nature conservation, natural resource management, waste and emission management, criteria for socio-economic improvement of local communities and criteria on the protection of cultural heritage indicate percentages below 55%, while organizational management criteria that include organizational structure, stakeholder engagement, obtain a percentagen of 49-63%. This percentage indicates that eight resorts do not meet the implementation of the criteria of sustainable water tourism, need seriousness together with all stakeholders in encouraging the tourism business to carry out the practice of Sustainable Tourism.Kabupaten Raja Ampat adalah salah satu wilayah di Indonesia yang menerapkan konsep pariwisata perairan berkelanjutan. Konsep dasar berkelanjutan untuk eco-resort didaptasi dari kriteria Global Code of Ethics for Tourism (GSTC). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan data yang akurat terkait 8 resort di Waigeo Selatan apakah telah memenuhi kriteria akomodasi berkelanjutan. Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data secara kuantitatif dan kualitatif dengan analisis deskriptif. Skor yang diperoleh kemudian diproses dengan skala likert dengan P=(F/Nx100%). Jumlah sampel adalah 96 orang dengan metode pengambilan sampel secara acak. Hasilnya menunjukkan kriteria GSTC di 8 resort diperoleh dengan persentase yang variatif. Persentase terendah berada di kriteria menjaga keberlanjutan lingkungan yaitu 20-50% meliputi indikator konservasi alam, pengelolaan sumberdaya alam, pengelolaan limbah dan emisi, kriteria peningkatan sosial ekonomi masyarakat lokal dan kriteria perlindungan warisan budaya menunjukkan persentase di bawah 55%, sedangkan kriteria pengelolaan organisasi yang mencakup struktur organisasi, pelibatan pemangku kepentingan, memperoleh persentase 49-63%. Persentase ini menunjukkan kedelapan resort belum memenuhi penerapan kriteria pariwisata perairan berkelanjutan, perlu kesungguhan bersama seluruh stakeholders dalam mendorong bisnis pariwisata dapat menjalankan praktek Pariwisata Berkelanjutan

    Evaluasi Profit dan Kelayakan Finansial Budidaya Pembesaran Ikan Lele Menggunakan Pakan Pelet pada Pokdakan Mina Tanjung Makmur Kabupaten Tulungagung

    Full text link
    Catfish is an edible fish which is one of the leading commodity in Indonesia. The development of catfish farming techniques is used to meet market demand. The aims of this study are to analyze the profit and feasibility of pellet feeding on catfish farming. Data analysis in this study uses R/C, BEP, revenue, rentability, NPV, B/C, IRR and PBP. Pellet feeding on catfish farming uses concrete ponds, tarpaulin and soil, while it reached 90% for the survival rate. Catfish farming with pellet feeding showed profitable and feasible as it obtained the R/C value of 1.40; BEP of IDR 37,413,242; BEPq of 691 Kg; revenue of IDR 89,505,700; rentability of 40%; NPV of IDR 225,827,167.31; B/C of 1.81; IRR of 29.6% and PBP of 3.13. Farmers can increase their profit through developing the most efficient fish farming techniques for their own to produce the catfish.Ikan lele merupakan ikan konsumsi yang menjadi komoditas utama di Indonesia. Pengembangan teknik budidaya ikan lele digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis profit dan kelayakan finansial budidaya ikan lele menggunakan pakan pelet. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan R/C, BEP, Keuntungan, rentabilitas, NPV, B/C, IRR dan PBP. Budidaya ikan lele pakan pelet menggunakan kolam beton, terpal dan tanah yang dihasilkan dengan tingkat kelulusan hidup sebesar 90%. Usaha budidaya ikan lele dengan pakan pelet dinyatakan profit dan layak karena menghasilkan nilai R/C sebesar 1,40; BEPs sebesar Rp.37.413.242; BEPq sebesar 691 Kg, keuntungan senilai Rp89.505.700; rentabilitas sebesar 40%; NPV senilai Rp225.827.167,31; B/C sebesar 1,81; IRR sebesar 29,6% dan PBP sebesar 3,13. Pembudidaya dapat meningkatkan profit melalui pengembangan teknik budidaya ikan yang paling efisien untuk menghasilkan produksi ikan lele

    Pemodelan Magicc-Scengen sebagai Acuan Strategis Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Perikanan dan Kelautan

    Full text link
    The rise of global surface temperature is predicted to increase the rainfall and runoff. Long-term changes in rainfall will affect the water resource, thus also influencing the fisheries and maritime sector. Understanding the global climate change and their effects, especially in Indonesia as one of the environmental condition parameters, is a part of the strategy for mitigation and adaptation towards climate change, and it is important to do early to support the sustainable development of Indonesia. Magicc-Scengen v5.3 is one of the widely-used climate models. Magicc is used in the projection of sea level and temperature, while Scengen is used to produce the regional climate change scenario with the resolution of 2.5°×2.5° latitude and longitude. This study aims to determine the climate change level especially the air temperature and rainfall in Indonesia using Magicc-Scengen model (global circulation model UKHADCM3 and UKHADGEM) using A1-BAIM and B2-MES scenarios. According to the Magicc-Scengen simulation model, in the year 2100, the global temperature will change from 2.5°C (B2-MES) towards 3°C (A1-BAIM). In Indonesia, the maximum change of temperature will occur on the A1-BAIM scenario, which is 2.12°C, distributed across Sumatra and Kalimantan. Moreover, on B2-MES scenario, the maximum temperature change is 1.88°C. The simulation results also show a rainfall escalation, from 25.4 towards 26.2%, in March-April-May (MAM) period. The A1-BAIM scenario determines that the highest rainfall will occur in MAM (for the year of 2050 and 2100), while B2-MES scenario determines that the rainfall pattern varies widely, in which the highest of it in 2050 will occur on December-January-February (DJF). However, for the year 2100, the highest rainfall will occur on MAM.Kenaikan temperatur udara permukaan global diperkirakan akan meningkatkan hujan dan limpasan. Perubahan jangka panjang dari curah hujan sudah tentu akan mempengaruhi sumberdaya air sehingga sektor perikanan dan kelautan akan sangat terpengaruh. Memahami perubahan iklim global di masa yang akan datang serta dampak yang dapat ditimbulkannya, khususnya perubahan pada iklim Indonesia sebagai salah satu parameter perubahan kondisi lingkungan, merupakan bagian dari strategi mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim global secara dini yang penting dilakukan dalam rangka mendukung pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Magicc-Scengen versi 5.3 adalah salah satu model iklim yang banyak digunakan. Magicc digunakan dalam proyeksi temperatur dan paras air laut, sedangkan Scengen ditujukan untuk menghasilkan skenario perubahan iklim regional dengan resolusi 2.5°×2.5° lintang dan bujur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perubahan iklim khususnya temperatur udara dan curah hujan di Indonesia dengan model Magicc-Scengen (Model sirkulasi global UKHADCM3 dan UKHADGEM) dengan skenario A1-BAIM dan B2-MES. Berdasarkan simulasi model Magicc-Scengen didapatkan bahwa pada tahun 2100, temperatur global akan meningkat dari 2,5oC (B2-MES) hingga mencapai 3oC (A1-BAIM). Sedangkan untuk wilayah Indonesia terlihat bahwa perubahan temperatur maksimum terjadi pada skenario A1BAIM, yakni sebesar 2,12oC yang tersebar di wilayah sumatera dan kalimantan. Sedangkan untuk skenario B2MES terjadi perubahan temperatur maksimum sebesar 1,88oC. Hasil simulasi peningkatan curah hujan mencapai 25,4 hingga 26,2% pada periode Maret-April-Mei (MAM). Skenario A1BAIM diperoleh bahwa pola curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada MAM (untuk tahun 2050 dan 2100), sedangkan skenario B2MES diperoleh bahwa pola curah hujan sangat bervariasi, dimana untuk tahun 2050 curah hujan tertinggi terjadi pada Desember-Januari-Februari (DJF), namun untuk tahun 2100 terlihat bahwa curah hujan tertinggi terjadi pada MAM

    Dampak Pencemaran Mikroplastik di Wilayah Pesisir Laut

    Full text link
    Problems of environment life in the world are very diverse, including related pollution in coastal areas. Management coast and sea Each has its own complexity of problems, opportunities and challenges. One of the problems in coastal marine management is the problem of plastic waste pollution especially microplastics. The purpose of this research is to describe the image and impact of microplastics in coastal areas. The method used Is qualitative or review literature. Microplastic has experienced plastic degradation and a size diameter < 5mm. Source microplastic consists of namely primary and secondary. Microplastics enter coastal areas in several ways, such as flowing water from rivers, wind, and are carried by currents and some enter the sea through runoff. Pollution microplastic have broad impacts, among others health people, economy, tourism and aesthetics beach. Microplastics in the environment coast and sea cause serios damage to life sea, fish, death animal sea through winding and swallowing plastic debris.Permasalahan lingkungan hidup di dunia sangat beragam, tak terkecuali terkait pencemaran di wilayah pesisir laut. Pengelolaan pesisir dan kelautan memiliki kompleksitas masalah, peluang, dan tantangan tersendiri yang berbeda di setiap daerah. Salah satu masalah dalam pengelolaan pesisir laut adalah masalah pencemaran sampah plastik khususnya mikroplastik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran dan dampak pencemaran mikroplastik di wilayah pesisir laut. Metode yang digunakan adalah kualitatif atau literatur review. Mikroplastik merupakan plastik yang mengalami degradasi dan berukuran diameter < 5 mm. Sumber mikroplastik terdiri dari yaitu primer dan sekunder. Mikroplastik masuk ke wilayah pesisir dan laut melalui beberapa cara seperti aliran air dari sungai, angin, dan terbawa oleh arus dan beberapa masuk ke laut melalui limpasan. Pencemaran mikroplastik mempunyai dampak luas, diantaranya kesehatan manusia, ekonomi, pariwisata dan estetika pantai. Mikroplastik di lingkungan pesisir dan laut menyebabkan kerusakan serius pada kehidupan laut, ikan, kematian hewan laut melalui lilitan dan menelan puing-puing plastik

    Potensi Biofisik Kawasan Konservasi sebagai Dasar Pengembangan Ekowisata Daerah Kabupaten Pesisir Selatan (Studi Kasus: Lubuk Larangan Bendung Sakti Inderapura)

    Full text link
    Currently Lubuk Larangan Bendung Sakti is expected to be gradually becoming an attractive tourist destination. There are several activities that can be done in ecotourism Lubuk Larangan Bendung Sakti which has the potential to become an ecotourism place. The purpose of this study is to examine how the development of ecotourism in Lubuk Larangan Bendung Sakti is assessed from A3 (Attractions, Accessibility, and Amenities) and biophysically the water quality of Lubuk Larangan Bendung Sakti waters in Pesisir Selatan Regency. The method used is descriptive quantitative with a score rating and followed by a water quality test using the STORET test. The results of the study indicate that the Biophysics viewed from the aspect of Attractions, Accessibility and Amenity in the Lubuk Larangan Bendung Sakti waters area belongs to the "Good" biophysical condition interval. The water quality condition based on the results of the STORET test shows that the status of the water quality in the "Lubuk Ban" waters area meets the water quality threshold (not polluted) with a score of 0. This shows the status of water quality in Lubuk Larangan Bendung Sakti is in the very good category and is classified in class A, which meets the quality standards. These biophysical conditions indicate that the area of Lubuk Larangan Bendung Sakti is feasible and has the opportunity to be used as an ecotourism area in a sustainable manner.Saat ini Lubuk Larangan Bendung Sakti Inderapura diperkirakan sedang bertahap menjadi sebuah destinasi wisata yang menarik. Ada beberapa aktivitas yang dapat dilakukan di perairan Lubuk Larangan Bendung Sakti yang berpotensi menjadi tempat ekowisata. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji bagaimana pengembangan ekowisata lubuk larangan tersebut yang dinilai dari A3 (Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas) dan juga secara biofisik mutu kualitas air perairan Lubuk Larangan Bendung Sakti di Kabupaten Pesisir Selatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengharkatan skor dan dilanjutkan dengan uji mutu kualitas air menggunakan uji STORET.Hasil penelitian menunjukkan bawwa Biofisik ditinjau dari aspek Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas pada kawasan perairan Lubuk Larangan Bendung Sakti tergolong ke dalam interval kondisi biofisik “Baik” yaitu dengan total skor 205. Kondisi mutu kualitas perairan berdasarkan hasil uji STORET menujukkan bahwa status mutu air di kawasan lubuk larangan memenuhi ambang batas kualitas air (tidak tercemar) dengan skor 0. Hal ini menunjukkan status mutu kualitas air di Lubuk Larangan Bendung Sakti dalam kategori baik sekali dan tergolong pada kelas A yaitu memenuhi baku mutu. Kondisi biofisik tersebut mengindikasikan bahwa kawasan Lubuk Larangan Bendung Sakti layak dan berpeluang untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata secara berkelanjutan

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇