Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Pengaruh Ukuran Mata Jaring Bottom Gill Net Di Perairan Ohoi Namar Kabupaten Maluku Tenggara
Fish resources Utilization in Southeast Maluku waters uses fishing gear, one of them is the bottom gill net. This study aims to determine the composition of fish species caught with different bottom gill net mesh sizes and the effective mesh size. The method used in this study was an experimental method of fishing with different mesh sizes, namely 2.5 inches and 3 inches, as well as data analysis using the paired sample t test. There were five types of catch obtained at a mesh size of 2.5 inches, namely Bubara fish (Carangoides bajad) totaling 54 individuals (22.41%), Cockatoos (Skarus dimidiatus) 46 individuals (18.67%), Samandar (Siganus canaliculatus 35 individuals (14.52%), Sikuda (Lethrinus atkinsoni) 39 individuals (12.45%) and Jackfruit seeds (Parupeneus indikus) totaling 24 individuals (9.96%).The mesh size of 3 inches obtained the type of Cockatoo fish (Skarus dimidiatus) totaled 27 individuals (30.58%), Jackfruit seeds (Parupeneus indikus) 14 individuals (15.91%), Bubara (Carangoides bajad) 13 individuals (14.77%), Samandar (Siganus canaliculatus) 11 individuals (12 .50 %) and sand (Pentapodus nagascokiensis) 6 (6.62 %). The total weight of the catch in basic gill nets with different mesh sizes, namely a 2.5-inch mesh size, obtained a total catch weight of 49,731.44 grams with an average catch per operation of 4,521.04 grams, while for mezh size 3 inches of 21,615.51 grams with an average per operation of 1,965.05 grams. Based on the paired sample t-test, it showed a significant difference in the use of different mesh sizes on the total weight of the catch, where the total weight of the catches obtained in the 2.5-inch treatment was more than in the 3-inch treatment, which means that hypothesis H1 is accepted Hₒ rejected.Pemanfaatan sumberdaya ikan di Perairan Maluku Tenggara menggunakan alat tangkap salah satunya bottom gill net. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis ikan yang tertangkap dengan mesh size jarring insang dasar yang berbeda dan ukuran mesh size yang efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode experimental fishing dengan mesh size yang berbeda yakni ukuran mata 2,5 inci dan 3 inci, serta analisis data menggunakan uji paired sample t test. Ada lima jenis hasil tangkapan yang diperoleh pada ukuran mata jaring 2,5 inci yaitu ikan Bubara (Carangoides bajad) berjumlah 54 ekor (22,41%), Kakatua (Skarus dimidiatus) 46 ekor (18,67 %), Samandar (Siganus canaliculatus 35 ekor (14,52 %), Sikuda (Lethrinus atkinsoni)39 ekor (12,45 %) dan Biji Nangka (Parupeneus indikus) berjumlah 24 ekor (9,96 %). Ukuran mata jaring 3 inci mendapatkan jenis ikan Kakatua (Skarus dimidiatus) berjumlah 27 ekor (30,58 %), Biji Nangka (Parupeneus indikus) 14 ekor (15,91 %), Bubara (Carangoides bajad) 13 ekor (14,77%), Samandar (Siganus canaliculatus) 11 ekor (12,50 %) dan Pasir-pasir (Pentapodus nagascokiensis) 6 ekor (6,62 %). Total keseluruhan berat hasil tangkapan pada jaring insang dasar dengan mesh size yang berbeda yakni mesh size 2,5 inci memperoleh berat total hasil tangkapan sebesar 49.731,44 gram dengan rata-rata hasil tangkapan per operasi sebesar 4.521,04 gram, sedangkan untuk mezh size 3 inci sebesar 21.615,51 gram dengan rata rata per operasi sebesar 1.965,05 gram. Berdasarkan uji paired sampel t-test menunjukkan perbedaan signifikan penggunaan ukuran mata jaring yang berbeda terhadap berat total hasil tangkapan, dimana jumlah berat total hasil tangkapan yang didapatkan pada perlakuan 2,5 inci lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan 3 inci, yang berarti hipotesis H1 diterima Hₒ ditolak
Identifikasi Molekuler dan Posisi Filogenetik Ikan Sili (Mastacembelidae: Macrognathus) dari Sungai Brantas, Jawa Timur, berdasarkan DNA mitokondria Gen COI
The spiny eels (family Mastacembelidae) is a fish that naturally and widely distributed on Java Island, especially in the Brantas River of East Java. This fish has high economic value, as a source of protein for local people and has recently popular as an ornamental fish among hobbyists. To fulfill market needs, fishermen must catch the fish from nature, leading to a severe population decline. Basic scientific information regarding species identification and determining the phylogenetic position fish species including the spiny eels is very important in order to support aquaculture, domestication and maintain its sustainability in nature. Specimens of the spiny eels were collected from Brantas River basin, East Java, at two localities in Malang and Kediri. Mitochondrial DNA from the cytochrome c oxidase subunit I was then sequenced on several randomly selected specimens. Results of morphological and genetic analysis using BLASTn showed that the specimens under study could be confirmed as Macrognathus aculeatus. Phylogenetic analysis using the Bayesian Inference method showed that M. aculeatus in this study has the closest relative to M. arai from Bangladesh. The phylogenetic reconstruction showed that individuals of M. aculeatus from Malang and Kediri were clustered together with individuals from Mojokerto with very shallow molecular divergence, indicating that they possibly originated from the same population. The results of this study can be used as basic information to design effective management of domestication, aquaculture, and conservation in the future.Ikan sili (famili Mastacembelidae) adalah ikan yang tersebar secara alami dan terdistribusi luas di Pulau Jawa, khususnya di Sungai Brantas di Jawa Timur. Ikan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai sumber protein masyarakat lokal serta akhir-akhir ini menjadi populer sebagai ikan hias di kalangan penghobi. Pemenuhan kebutuhan pasar saat ini masih dipasok dari hasil tangkapan di alam yang menyebabkan populasinya menurun drastis. Informasi ilmiah dasar mengenai identifikasi spesies dan penentuan posisi filogenetik suatu spesies termasuk ikan sili sangat penting untuk dilakukan guna mendukung upaya budidaya, domestikasi serta menjaga kelestariannya di alam. Pada penelitian ini, spesimen ikan sili ditangkap dari daerah aliran Sungai Brantas, Jawa Timur pada dua lokasi di Malang dan Kediri. DNA mitokondria daerah cytochrome c oxidase sub unit I (COI) kemudian di sekuensing pada beberapa individu yang dipilih secara acak. Hasil analisis morfologi dan genetik menggunakan BLASTn menunjukkan bahwa spesimen yang diteliti dapat terkonfirmasi sebagai Macrognathus aculeatus. Analisis filogenetik dengan menggunakan metode Bayesian Inference menunjukkan bahwa spesies M. aculeatus memiliki kerabat terdekat dengan M. arai dari Bangladesh. Rekonstruksi filogenetik menunjukkan bahwa individu M. aculeatus dari Malang dan Kediri terkelompok menjadi satu clade dengan indvidu dari Mojokerto serta memiliki divergensi molekuler yang sangat kecil yang mengindikasikan bahwa mereka berasal dari populasi yang sama. Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi awal untuk merancang manajemen domestikasi, budidaya, serta konservasi yang efektif
Distribusi Spasial Suhu dan Salinitas di Perairan Selat Haruku
The waters of the Haruku Strait have very fluctuating water mass movements caused by various oceanographic factors, making the water column very dynamic. This study aims to study and analyze the physical oceanographic characteristics of the waters in the form of temperature and salinity distribution. Research data was taken and recorded by CTD on each transect then tabulated and analyzed using Microsoft Excel, Surfer and Ocean Data View (ODV). The results of data analysis showed that the temperature value at the observation station, from sea surface to a depth of 25 meters, ranged from 28.71–29.6 oC, while at a depth of 50–100 meters, the temperature ranged from 24.68–28.11 oC. The distribution of salinity values in sea surface waters to a depth of 25 m ranges from 33,12–33,60 psu while at a depth of 50–100 m the temperature ranges from 33,83–34,38 psu. The characteristics of the water mass are influenced by the mass of water from the Banda Sea and the Seram Sea, freshwater input from the mainland, and community activities on the coast. In general, the water column has a different temperature and salinity stratification for each depth. The temperature conditions will decrease, and the salinity value will increase with increasing depth.Perairan Selat Haruku memiliki pergerakan massa air yang sangat fluktuatif diakibatkan oleh berbagai faktor oseanografi, sehingga menjadikan kolom perairan sangatlah dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis karakteristik oseanografi fisik perairan berupa sebaran suhu dan salinitas. Data penelitian diambil dan direkam oleh CTD pada setiap transek kemudian ditabulasi dan dianalisis menggunakan Microsoft Excel, Surfer dan Ocean Data View (ODV). Hasil analisis data menunjukan nilai suhu pada stasiun pengamatan, dari permukaan laut hingga kedalaman 25 m berkisar antara 28,71–29,6 oC sedangkan kedalaman 50–100 m kisaran suhu antara 24,68–28,11 oC. Distribusi nilai salinitas perairan permukaan laut hingga kedalaman 25 m berkisar 33,12–33,60 psu sedangkan kedalaman 50–100 m kisaran suhu antara 33,83–34,38 psu. Karakteristik massa air dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda dan Laut Seram, masukan air tawar dari daratan, serta aktivitas masyarakat di pesisir. Secara umum kolom perairan memiliki stratifikasi suhu dan salinitas yang berbeda-beda untuk setiap kedalaman. Kondisi suhu akan semakin menurun, dan nilai salinitas akan bertambah seiring bertambahnya kedalaman
Komposisi Hasil Tangkapan Ikan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Jembatan Puri Kota Sorong, Provinsi Papua Barat
Fish resources are one of the resources that are not only used to meet the needs of daily life, but also to improve people's welfare. Sorong City has one of the largest Fish Landing Ports (PPI) in West Papua Province with its main commodities consisting of 7 types, namely tuna, mackerel, red snapper, squid, grouper, trevally and gutila. The purpose of this study was to determine the composition of fish landed at the Jembatan Puri Fish Landing Port. The purposive sampling method is used for fishermen along with the fish caught. The results of this study are that the composition of fish species consists of 6 types (Yellowfish, Skipjack, Lemadang, Red Snapper, Bigeye Tuna and Black Setuhuk) with each type composition of 32%, 33%, 3%, 28%, 3%. , and 1%. The weight composition of each type of fish obtained is 29%, 25%, 5%, 10%, 19%, 12%. With the highest composition of fish species, namely Cakalang fish and the lowest, namely black setuhuk fish, while for the highest weight composition, Maddihang fish, while the lowest is Lemadang fish.Sumberdaya ikan merupakan salah satu sumberdaya yang bukan hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kota Sorong memiliki salah satu Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) yang terbesar di Provinsi Papua Barat dengan komoditi unggulannya terdiri dari 7 jenis yaitu ikan tuna, tenggiri, kakap merah, cumi-cumi, kerapu, kuwe dan gutila. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui komposisi ikan yang didaratkan di Pelabuhan Pendaratan Ikan Jembatan Puri. Metode Purposive sampling digunakan untuk nelayan beserta dengan hasil tangkapan ikan. Hasil dari penelitian ini yakni komposisi jenis ikan terdiri dari 6 jenis (Madidihang, Cakalang, Lemadang, Kakap merah, Tuna mata besar dan Setuhuk hitam) dengan masing-masing komposisi jenis sebesar 32%,33%,3%,28%,3%, dan 1%. Untuk komposisi berat dari masing-masing jenis ikan yang didapat yaaitu sebesar 29%,25%,5%,10%,19%,12%. Dengan komposisi jenis ikan yang tertinggi yaitu ikan Cakalang dan yang terendah yaitu ikan setuhuk hitam, sedangkan untuk komposisi berat yang tertinggi yaitu ikan Madidihang sedangkan yang terendah yaitu ikan Lemadang
Pemanfaatan Gracillaria sp. sebagai Agen Biofilter pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yang Dibudidayakan di Laboratorium
Shrimp feed contains nitrogen and phosphorus, which are essential nutrients for shrimp growth. However, not all of the feed is consumed by the shrimp, and some of it becomes waste that accumulates in the water. There are various methods to reduce ammonia and phosphate, one of it is by bioremediation. One promising biofilter material for shrimp farming is Gracillaria sp that can absorb ammonia and phosphate from the water. Gracillaria sp. can also produce agar, a valuable substance for various industries. This research uses Gracillaria sp with different weights for bioremediation of vannamei shrimp farming effluent. Method used was experimental in Laboratory with 4 treatments, there are K: Gracillaria sp weight of 100 grams (control without shrimp), A : Gracillaria sp weight of 1 300 grams, B: Gracillaria sp. weight of of 450 grams and C: Gracillaria sp weight of 600 grams. The results showed that Gracillaria sp. can effectively reduce the levels of ammonia and phosphate in water, with biofilter efficiency reaching up to 92% for phosphate and 64% for ammonia. The higher the weight of Gracillaria sp. used in the biofilter, the more efficient it was at removing ammonia and phosphate. Additionally, Gracillaria sp. can also produce agar, a valuable substance for various industries.Pakan udang mengandung nitrogen dan fosfor, yang merupakan nutrisi penting untuk pertumbuhan udang. Namun, tidak semua pakan dikonsumsi oleh udang, dan beberapa di antaranya menjadi limbah yang terakumulasi di dalam air. Ada berbagai metode untuk mengurangi amonia dan fosfat, salah satunya dengan bioremediasi. Salah satu bahan biofilter yang menjanjikan untuk budidaya udang adalah Gracillaria sp yang dapat menyerap amonia dan fosfat dari air. Gracillaria sp. juga dapat menghasilkan agar-agar yang merupakan bahan yang sangat berharga untuk berbagai industri. Penelitian ini menggunakan Gracillaria sp dengan berat yang berbeda untuk bioremediasi limbah cair budidaya udang vannamei. Metode yang digunakan adalah eksperimental di Laboratorium dengan 4 perlakuan, yaitu K: Gracillaria sp dengan berat 100 gram (kontrol tanpa udang), A: Gracillaria sp dengan berat 300 gram, B: Gracillaria sp dengan berat 450 gram, dan C: Gracillaria sp dengan berat 600 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gracillaria sp. dapat secara efektif menurunkan kadar amonia dan fosfat dalam air, dengan efisiensi biofilter mencapai 92% untuk fosfat dan 65% untuk amonia. Semakin tinggi berat Gracillaria sp. yang digunakan dalam biofilter, maka semakin efisien dalam menyisihkan amonia dan fosfat. Selain itu, Gracillaria sp. juga dapat menghasilkan agar, zat yang penting untuk berbagai industry
Indeks Kesesuaian Wisata dan Daya Dukung Ekowisata Pantai Pasir Putih di Kota Manokwari Papua Barat
Pasir Putih is popular beach and favorable destination for local and domestic tourists in Manokwari. Since becoming the capital city of Papua Barat province in 2000, numbers of tourists have grown significantly. However, tourist suitability index and real carrying capacity as well as physical carrying capacity of this area were not determined yet. This research is designed to determine tourist suitability index, examine sea water quality, determine physical carrying capacity of area, real carrying capacity, and to investigate the tourist perception on management and nature for future development and promotion. Survey and questionare were used to collect the data and analysed using Microsoft excel and presented in Figures and Tables. The results indicate that Pasir Putih beach has a tourist suitability index of 90% for highly suitable. Sea water qualities are in fufillment to the Ministry of Environment and Forestry Regulation, 51/MENKLH/2004 for standard for sea water quality for beach tourism activity. The real carrying capacity for Pasir Putih beach is 626 visitor per day and physical carrying capacity of area is 1.486 visitors, which can be divided into five tourism activity of beach recreation, beach sport, swimming, snorkeling, and boat cycling. Beach swimming is the most favorable activity (44%). In addition, major tourists (54%) have a great experience with the highest satisfaction, but the majority (67%) demanding for improving public facilities.Pantai Pasir Putih adalah salah satu pantai di kota Manokwari dan merupakan pilihan wisata favorit bagi penduduk lokal maupun pengunjung dari luar kota Manokwari. Sampai saat ini indek kesesuaian wisata, daya dukung kawasan, dan daya dukung rill wisata dari pantai Pasir Putih belum diketahui. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui indek kesesuaian wisata, mengukur kualitas air perairan, menghitung daya dukung kawasan ekowisata dan daya dukung riil (real carrying capacity) pantai Pasir Putih ekosiwasata, serta mengetahui persepsi pengunjung terhadap objek wisata ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantai Pasir Putih memiliki indek kesuaian wisata sangat sesuai (90%), dan kualitas air perairan masih memenuhi mutu baku mutu air laut untuk wisata bahari menurut KEP-51/MENKLH/2004. Selanjutnya, daya dukung riil kawasan adalah 626 pengunjung perhari dan daya dukung kawasan adalah 1.486 orang untuk enam kegiatan wisata bahari (rekreasi pantai, olahraga pantai, berenang, snorkeling, dan berperahu), dan berenang adalah wisata favorit (44%) dari pengunjung. Sebagian besar (54%) responden memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan terhadap pantai Pasir Putih akan tetapi mayoritas (67%) respoden berpendapat bahwa sarana dan prasarana perlu ditingkatkan
Nelayan dan Penangkapan Ikan “Nike” di Perairan Teluk Gorontalo, Teluk Tomini (Indonesia)
Gorontalo Bay, the estuary of the Bone River, is part of the Tomini Bay area. Nike, a school fish larva appearing in Estuary Bone only a few days monthly, suits the prima donna of the community and fishermen in Gorontalo. Any technical matters related to “nike” fishing have never been reported in a structured method. Therefore, scientific investigation is necessary to provide relevant information. This study aimed to identify the fishermen’s profiles and matters linked to “nike” fishing. Structured interviews using a questionnaire instrument were conducted to obtain information from Gorontalo fishermen who actively catch “nike” every month in Gorontalo Bay. The results showed that most “nike” Gorontalo fishermen are elementary and junior high school graduates aged 20-60. Nike fishing is done in groups using wooden boats with totalu'o or tagahu fishing gear. The operational fishing capital they used could be from boat owners, groups, or loans from fish collectors. Most fishermen sell their catch at the Fish Auction, Gorontalo City, with an average price of Rp. 20.000 to Rp. 40.000 per kg. According to fishermen, the “nike” fish population tends to be abundant in the waters during the east monsoon. When the population in the seas is high enough, the fishermen’s catch reaches more than 100 kg per trip. The high intensity of catching and the quantity of fish caught per season of emergence can threaten the sustainability of the “nike” population in nature. A more comprehensive follow-up study is needed to analyze the synergies of economic, social, and ecological aspects to increase “nike” fishermen’s welfare in Gorontalo with the sustainability of the “nike” fish guarantee.Perairan Teluk Gorontalo yang merupakan muara Sungai Bone adalah bagian dari wilayah Teluk Tomini. Nike sebagai schooling larva ikan yang kemunculannya di perairan Teluk Gorontalo hanya selama beberapa hari saja setiap bulan menjadikan ikan ini sebagai primadona masyarakat dan nelayan Gorontalo. Hal teknis terkait penangkapan ikan nike belum pernah dilaporkan secara ilmiah sehingga diperlukan studi terstruktur dalam rangka menggali informasi dan menyajikan data yang relevan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil nelayan nike serta hal yang berkaitan dengan penangkapan ikan nike yang dilakukan oleh nelayan Gorontalo. Wawancara terstruktur menggunakan instrumen kuisioner dilakukan untuk memperoleh informasi langsung dari nelayan yang aktif melakukan penangkapan nike setiap bulan di Teluk Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan nike Gorontalo sebagian besar adalah tamatan SD dan SMP yang berusia 20-60 tahun. Penangkapan ikan nike dilakukan secara berkelompok menggunakan sarana perahu kayu bercadik serta alat tangkap totalu’o dan tagahu. Modal yang digunakan dapat berasal dari modal sendiri, kelompok, maupun pinjaman dari penampung. Harga jual nike rata-rata berkisar antara Rp 20.000 sampai Rp. 40.000 per kg. Menurut nelayan, populasi ikan nike cenderung melimpah di perairan pada saat musim timur. Saat populasi nike di perairan cukup tinggi, hasil tangkapan nelayan dapat mencapai lebih dari 100 kg per trip. Tingginya intensitas penangkapan dan kuantitas hasil tangkapan nelayan per musim kemunculan berpotensi mengancam keberlanjutan populasi nike di alam. Kajian lanjutan yang lebih komprehensif diperlukan untuk menganalisa sinergitas aspek ekonomi, sosial, dan ekologi untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan hidup nelayan nike di Gorontalo dengan tetap menjaga kelestarian ikan nike di alam
Pengaruh Kadar Protein Pakan yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)
Kissing gourami culture has begun to be developed to reduce the dependence on natural catches. Many factors that are influence fish culture. One of those is the availability of sufficient quantity and quality feed. Protein is an important nutrient that supports fish growth and affects feed prices. The protein requirement for each fish needs to be known as a basis for formulating feed. This research aims to determine the optimum feed protein level for kissing gourami. This study used a completely randomized design with five treatments and three replications. The treatment given is different levels of feed protein, consisting of 25% (P0), 30% (P1), 35% (P2), 40% (P3), and 45% (P4). The result showed that feed protein level 35% (P2) gave the best result for kissing gourami which resulted a absolute weight growth of 0.45 g, absolute length growth of 0.24 cm, protein efficiency ratio of 0.49, and feed efficiency of 17.11%.Budidaya ikan tambakan sudah mulai dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan dari hasil tangkapan di alam. Keberhasilan budidaya ikan dipengaruhi oleh banyak faktor, satu diantaranya adalah ketersediaan pakan yang cukup secara kuantitas dan kualitas. Protein merupakan nutrien penting yang tidak hanya berperan untuk mendukung pertumbuhan ikan, tetapi juga mempengaruhi harga pakan. Kebutuhan protein pakan untuk setiap ikan perlu diketahui sebagai dasar dalam memformulasi pakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar protein pakan yang optimum untuk ikan tambakan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu kadar protein pakan yang berbeda untuk ikan tambakan, terdiri atas 25% (P0), 30% (P1), 35% (P2), 40% (P3), dan 45% (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein pakan 35% (P2) meemberikan hasil terbaik untuk ikan tambakan yang menghasilkan pertumbuhan bobot sebesar 0,45 g, pertumbuhan panjang 0,24 cm, rasio efisiensi protein 0,49 dan efisiensi pakan 17,11%
Analisis Komposisi, Timbulan dan Potensi Daur Ulang Sampah Pada Kawasan Wisata Pantai Natsepa, Kabupaten Maluku Tengah
Natsepa Beach is one of the famous tourist areas on Ambon Island. The presence of tourists in the area contributes to the production of both organic and inorganic waste which affects not only the aesthetics of the area but also the income of economic agents. The study aims to analyse waste composition, waste generation, and the recycling potency in Natsepa Beach. The study was conducted from July to August 2022 by applying a field observation method. The procedure of SNI 19-3964-1994, which regards urban waste collection methods to measure the composition and waste generation, was applied in this research. The results showed that the amount of organic waste, which is dominated by fruit peel waste (from rujak or fruit salads), is about 92.21%, whereas it is only about 7.79% of inorganic waste that comes from plastic waste. Total weight of waste that is generated by a person is around 0.12 kg/day or 0.46 liters/day in volume standard. Thus, it can be assumed that every visitor in Natsepa Beach produces 0.12 kg (0,11 kg of organic and 0,01 kg of inorganic waste). The potency to recycle organic waste into compost is 100% and eco enzyme is 78.52%. Furthermore, the potential plastic waste recycling is about 77.19%.Salah satu kawasan wisata terkenal di Pulau Ambon yaitu Pantai Natsepa. Kehadiran wisatawan di kawasan tersebut berkontribusi terhadap produksi sampah baik organik maupun anorganik. Dampak yang ditimbulkan oleh sampah pada kawasan wisata bukan hanya menurunkan estetika kawasan wisata namun juga pendapatan masyarakat yang bergantung pada aktivitas ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi, timbulan sampah dan potensi daur ulang sampah di kawasan wisata Pantai Natsepa, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian dilakukan pada Juli-Agustus 2022 di kawasan wisata Pantai Natsepa, Desa Suli, Kabupaten Maluku Tengah dengan menggunakan metode observasi lapangan. Pengukuran dan perhitungan contoh timbulan sampah serta komposisi sampah merujuk pada prosedur SNI 19-3964-1994 tentang metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah perkotaan. Hasil penelitian menunjukan jumlah sampah organik yang dihasilkan sebesar 92,21% yang didominasi oleh sampah kulit buah rujak, sedangkan sampah anorganik sebesar 7,79% yang dididominasi oleh sampah berbahan plastik. Total berat timbulan sampah yang dihasilkan sebesar 0,12 kg/orang/hari dengan volume timbulan sampah 0,46 liter/orang/hari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap pengunjung di kawasan wisata Pantai Natsepa menghasilkan sampah sebesar 0,12 kg (sampah organik 0,11 kg dan anorganik 0,01 kg). Potensi daur ulang sampah organik menjadi kompos sebesar 100%, sedangkan eco enzyme sebesar 78,52%. Sampah anorganik yang dapat didaur ulang berupa plastik sebesar 77,19%
Kajian Perbedaan Warna Jigs Terhadap Hasil Tangkapan Cumi (Loligo sp.) di Perairan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara
The study of difference in the color of the jigs was carried out considering that the squid (Loligo sp.) is one of the marine biological resources with important economic value. Catching squid carried out by fishermen so far is still traditional because the method of catching is done by using a petromax lamp and using spear fishing gear. Jigs are one type of modern fishing gear that has been modified as artificial bait in catching squid. The color of the jigs is also one of the success factors in getting the catch. The objectives of this research are; determine the color of the best jigs and determine the effective time in squid fishing operations. This research was conducted using an experimental method, namely the experimental design in the form of a randomized block design (RAK) with treatment (t) namely different colors of jigs, namely; Yellow, blue, green and red jigs were assembled randomly on 4 fishing rods with an operating time interval of 3 hours. The results showed that the catch of squid to the color jigs, namely the red jigs color obtained the most catches of 40 fish, the yellow color 21 fish, the green color 13 tails and the blue color 6 fish were the lowest catches while the fishing operation time with the most catches was at at 21.00-24.00 as many as 36 fish followed by time at 24.00-03.00 as many as 22 fish while the time at 18.00-21.00 and 03.00-06.00 were the smallest catches of 11 fish each. The results of this study are expected to provide benefits for squid fishing communities in the waters of the Rossenberg Strait to increase catches.Penelitian kajian perbedaan warna jigs dilakukan mengingat cumi (Loligo sp.) merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang bernilai ekonomis penting. Penangkapan cumi yang dilakukan oleh nelayan selama ini masih bersifat tradisional karena cara penangkapan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan cahaya lampu petromaks dan menggunakan alat tangkap tombak. Jigs merupakan salah satu jenis alat tangkap modern yang sudah dimodifikasi sebagai umpan buatan dalam penangkapan cumi. Warna jigs juga merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam memperoleh hasil tangkapan. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu ; menentukan warna jigs yang terbaik serta menentukan waktu efektif dalam operasi penangkapan cumi. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yaitu rancangan percobaan berupa rancangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan (t) yaitu warna jigs yang berbeda yakni; jigs warna kuning, biru, hijau dan merah yang dirakit secara acak pada 4 unit pancing dengan interval waktu operasi 3 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan cumi terhadap warna jigs yaitu warna jigs merah memperoleh hasil tangkapan terbanyak 40 ekor, warna kuning 21 ekor, warna hijau 13 ekor dan warna biru 6 ekor merupakan hasil tangkapan terendah sedangkan waktu operasi penangkapan dengan hasil tangkapan terbanyak yaitu pada waktu jam 21.00-24.00 sebanyak 36 ekor diikuti waktu jam 24.00-03.00 sebanyak 22 ekor sedangkan waktu jam 18.00-21.00 dan 03.00-06.00 merupakan hasil tangkapan terkecil masing-masing sebanyak 11 ekor. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi masyarakat nelayan cumi di perairan selat Rossenberg untuk meningkatkan hasil tangkapan