Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    PENILAIAN KONDISI MENGGUNAKAN METODE HEMISPHERICAL PHOTOGRAPHY PADA EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR DESA MINALULI, KECAMATAN MANGOLI UTARA. KABUPATEN KEPULAUAN SULA, PROVINSI MALUKU UTARA

    Get PDF
    Minaluli Village has the availability of mangrove ecosystem resources in coastal areas. The availability of evenly distributed mangrove ecosystems can have a direct impact on the community. Determination of mangrove status conducted previously using conventional methods such as transect quandrat and spot check. Hemispherical photography method is one of the new methods used and developed in Indonesia. The study was conducted in July 2018 in Minaluli Village, North Mangoli District, Sula Islands Regency. North Maluku Province. The research objective is to obtain information on the condition of the mangrove ecosystem using the Hemispherical photography method. The results of the study obtained measurements of environmental parameters showed that environmental ecological conditions support the existence of mangroves. Morphological identification was obtained as many as 8 species from 3 families. Station I found  82% mangrove cover presentation value, for station II found  77% cover presentation, at station III found a presentation found 78% while at station IV found a presentation of mangrove cover 72%. The total presentation of mangrove cover obtained in the solid category, based on the standard criteria for mangrove damage. The density of the mangrove ecosystem obtained shows high density at each station. Based on the standard criteria for damage, the density of mangroves in this location is in the medium to very dense category with a value range between 1,067-2,022 trees / ha. Important value index (INP) analysis of each type of mangrove found a range of values ​​between 31.73-95.55 The highest value index of the highest species was found in the Rhizophora stylosa type with a value of 95.55% then Rhizophora apiculata with a value of 95.08%, Rhizophora mucronata namely 81.05%, Xylocarpus granatum is 45.68, Ceriops stagal with value of 40.83%, Sonneratia alba with a value of 36.27 and Bruguiera gymnorhiza 31.73%.Desa Minaluli memiliki ketersedian sumberdaya ekosistem mangrove di wilayah pesisir. Ketersediaan ekosistem mangrove yang merata dapat memberikan dampak secara langsung kepada masyarakat. Penelitian penentuan status mangrove yang dilakukan sebelumnya menggunakan metode konvensional seperti transect kuandrat dan spot chek. Sehingga diperlukan suatu pembaharuan metode yang digunakan. Metode hemispherical photography merupakan salah satu  metode yang baru digunakan dan dikembangkan di Indonesia. Penelitian  dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2018 di Desa Minaluli, Kecamatan Mangoli Utara, Kabupaten Kepulauan Sula.  Provinsi Maluku Utara. Tujuan penelitian memperoleh informasi kondisi ekosistem mangrove dengan menggunakan metode Hemispherical photography. Hasil penelitian memperoleh pengukuran parameter lingkungan menunjukan bahwa kondisi ekologi lingkungan mendukung keberadaan mangrove Identifikasi morfologi diperoleh sebanyak 8 jenis dari 3 famili. Stasiun I terdapat nilai presentasi tutupan mangrove 82%, untuk stasiun II ditemukan presentasi tutupan 77%, pada stasiun III ditemukan nilai presentasi 78% sedangkan pada stasiun IV ditemukan presentasi tutupan mangrove 72%. Total presentasi tutupan mangrove yang diperoleh masuk dalam kategori padat, berdasarkan kriteria baku kerusakan mangrove. Kerapatan ekosistem mangrove yang diperoleh memperlihatkan kerapatan yang tinggi pada setiap stasiun Berdasarkan kriteria baku kerusakan, maka kerapatan mangrove di lokasi ini masuk dalam kategori sedang hingga sangat padat dengan nilai kisaran diantara 1.067-2.022 pohon/ha. Analisis indeks nilai penting (INP) setiap jenis mangrove ditemukan kisaran nilai diantara 31,73-95,55 Indeks nilai penting spesies yang tertinggi ditemukan pada jenis Rhizophora stylosa dengan nilai 95,55 kemudian Rhizophora apiculata dengan nilai 95,08, Rhizophora mucronata yakni 81,05, Xylocarpus granatum yaitu 45,68, Ceriops stagal dengan nilai 40,83, Sonneratia alba dengan nilai 36,27 dan Bruguiera gymnorhiza 31,73

    Daya Dukung Perikanan Alami di Waduk Gondang Kabupaten Lamongan

    Get PDF
    The Gondang Reservoir is the largest in the Lamongan District, another function this reservoir for irrigation is also for use fishery and tourism. Fisheries production in this reservoir are not optimal and number of tourist getting lower, that result public welfare has not yet create. Therefore we required the data about carrying capacity natural fisheries Gondang reservoir for development of optimal and sustainable water management. This research used the descriptive method with purposive sampling at May until August 2018. Analysis carrying capacity use approach result the water primer productivity with Beveridge Index. Average result of water primer productivity in Gondang Reservoir was 86,26 gC/m2/year. Carrying capacity natural fisheries in Gondang reservoir is 4,4 tons of fish/year or 12,17 kg of fish/year.The Gondang Reservoir is the largest in the Lamongan District, another function this reservoir for irrigation is also for use fishery and tourism. Fisheries production in this reservoir are not optimal and number of tourist getting lower, that result public welfare has not yet create. Therefore we required the data about carrying capacity natural fisheries Gondang reservoir for development of optimal and sustainable water management. This research used the descriptive method with purposive sampling at May until August 2018. Analysis carrying capacity use approach result the water primer productivity with Beveridge Index. Average result of water primer productivity in Gondang Reservoir was 86,26 gC/m2/year. Carrying capacity natural fisheries in Gondang reservoir is 4,4 tons of fish/year or 12,17 kg of fish/year

    Analisis Indeks Pencemaran Air Laut dengan Parameter Logam Cu dan Pb di Kawasan Wisata Raja Ampat Papua Barat

    Get PDF
    Research has been conducted on the analysis of seawater pollution index in the Raja Ampat tourism park of Papua Barat by using Cu and Pb concentration as parameters. The research aims to produce information on water conditions in Raja Ampat. Those information can ensure the sustainability of this area in the future. AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) instrument was used to perform water samples analysis. Samples taken from five locations, namely Sapokren, Saleo, Waiwo, Waisai Harbour and Waisai Fish Harbour, which were respectively marked with area I, II, III, IV and V. For Cu parameter; area I was found, which was 0.62 mg/L which had exceeded the quality standard, while area II, III, IV, and V were not existed Cu. Furthermore for Pb; the concentration of heavy metals founded in four locations, area I, II, III and IV; 2,99 mg/L, 1,76 mg/L, 1,27 mg/L and 0,23 mg/L respectively. Other while area V was not found Pb concentration. All quality standard data were entered into the pollution index equation in accordance with the guidelines of KepmenLH No. 115 of 2003. The data showed that only one area was still in the good category, area V, the remaining area I, II, III and IV were included in the category of metal contaminated areas of Cu and Pb with varied levels of pollution beginning at low, middle to high.Telah dilakukan penelitian tentang analisis indeks pencemaran air laut di kawasan wisata Raja Ampat Papua Barat dengan menggunakan parameter logam berat Cu dan Pb. Penelitian bertujuan agar dihasilkan informasi kondisi perairan di Raja Ampat. Informasi ini dapat memastikan sustainibilitas kawasan di masa mendatang. Analisis menggunakan instrumen AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Titik sampel tersebar di 5 lokasi yaitu Sapokren, Saleo, Waiwo, Pelabuhan Waisai dan Pelabuhan Ikan Waisai yang berturut-turut ditandai dengan lokasi I, II, III, IV dan V. Pada parameter logam Cu, lokasi I ditemukan yaitu sebesar 0,62 mg/L yang telah melewati ambang baku mutu sedangkan lokasi II, III, IV, dan V tidak ditemukan adanya logam pencemar Cu. Selanjutnya untuk logam Pb; konsentrasi logam pencemar ditemukan di 4 lokasi yaitu lokasi I, II, III dan IV bertutu-turut sebesar 2,99 mg/L, 1,76 mg/L, 1,27 mg/L dan 0,23 mg/L. Pada lokasi V tidak ditemukan kandungan logam Pb. Semua data baku mutu dimasukkan ke persamaan indeks pencemaran sesuai dengan panduan dari KepmenLH no 115 tahun 2003. Data menunjukkan bahwa hanya 1lokasi yang masih masuk kategori baik yaitu lokasi V, selebihnya lokasi I, II, III dan IV telah masuk dalam kategori daerah tercemar logam berat Cu dan Pb dengan tingkat pencemaran yang variatif dari ringan, sedang sampai berat

    KARAKTERISASI BIOKIMIA BAKTERI SELULOLITIK DARI KAYU LAPUK MANGROVE DI SUNGAILIAT DAN TUKAK SADAI, PULAU BANGKA

    No full text
    Acceleration of wood weathering in the mangrove area is possible with the role of cellulolytic bacteria. Cellulolytic bacteria producing cellulase enzymes are needed by the animal feed and agriculture industries. Mangroves in Muntok Subdistrict undergo a process of adaptation to environmental changes due to tin mining, including microorganisms. Exploration of new species and strains of cellulolytic bacteria in miningaffected mangroves is needed to enrich the collection and its potential use for human needs. This study aims to identify cellulolytic bacteria in mangrove weathered wood in Muntok District, West Bangka Regency through isolation, screening, and biochemical characterization. Three sampling locations, namely Sukal Mangrove, Peltim Mangrove, and Tembelok Mangrove result 22 bacterial isolates with 11 isolates showing the ability of cellulose degradation in qualitative tests using Lugol. The biochemical characterization of bacterial isolates with the greatest cellulose degradation was directed towards Citrobacter freundii and Vibrio alginolyticus in samples of Sukal Mangrove and Actinomyces bovis in isolates from Peltim Mangrove.Bakteri pada kayu lapuk diindikasikan memiliki kemampuan mendegradasi serat dan selulosa sehingga mempercepat pelapukan kayu yang berada pada wilayah mangrove. Mangrove pada daerah penambangan timah dimungkinkan memiliki kondisi berbeda dengan akibat pengaruh langsung maupun tidak langsung pertambangan timah di daratan dan lepas pantai. Pendegradasian selulosa bermanfaat pada peningkatan daya cerna limbah pertanian yang digunakan sebagai bahan baku pakan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi isolat bakteri selulolitik dari kayu lapuk pada mangrove di Sungailiat, kabupaten Bangka dan Tukak Sadai, kabupaten Bangka Selatan melalui karaterisasi biokimia. Terdapat 13 isolat bakteri teridentifikasi sebagai bakteri selulolitik pada kedua lokasi mangrove. Uji biokimia pada isolat bakteri dengan daya degradasi selulosa terbesar mengindikasikan Bacillus pumilus pada mangrove Sungailiat dan Bacillus alvei pada mangrove Tukak Sadai

    Pengelolaan Ikan Pelangi Arfak ( Melanotaenia arfakensis Allen, 1990) Berbasis Aspek Bioekologi (Kasus Pada Beberapa Sungai di Kabupaten Manokwari)

    Get PDF
    The aim of this research is to study the bioecological aspect of Arfak Rainbowfish, distribution long-wieght frequency and management of endemic arfak rainbow fish in Manokwari. This study conducted for five months from 7 September 2015 to 9 Januari 2016. Fish sample were collected from Prafi river, Nimbai river and Aimasi river and brought to fisheries laboratory. The method of this research is descriptive methode with field observation. The result of water quality parameters are temperature average 30.01oC±1,06oC, flow rate is slow 0.92±0,12, the pH 7,80±0,12, oxygen solute 5,38±0,24, average biological oxygen demand for Prafi river 4 mg/L, Nimbai river 3.1 mg/L, Aimasi river 5.2 mg/L and chemical oxygen demand for Prafi river 8.3 mg/L, Nimbai river 14.2 mg/L dan Aimasi river 7.4 mg/L. Long-weight relation shows that the growth is alometric negative (b<3). The management that could be done is reboisation and management of catching that should not be done at the time fish is mature or ready to mate.Pengelolaan ikan pelangi arfak (Melanotaenia arfakensis Allen, 1990) berbasis aspek bioekologi (kasus pada beberapa Sungai di Kabupaten Manokwari). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek bioekologi, mengetahui distribusi frekuensi panjang dan berat tubuh serta upaya pengelolaan bagi ikan pelangi arfak yang endemik di kabupaten Manokwari. Penelitian dilaksanakan selama lima bulan (7 September 2015 - 9 Januari 2016). Penangkapan contoh ikan dilakukan di S. Prafi, S. Nimbai dan S. Aimasi untuk penanganan dan pengamatan lebih lanjut dilakukan di laboratorium Perikanan.  Metode penelitian adalah metode deskriptif dengan teknik observasi lapang. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berdasarkan pengukuran parameter kualitas perairan maka suhu yaitu 30,01±1,06, kecepatan aliran relatif lambat 0,92±0,12, derajat keasama 7,80±0,12, oksigen terlarut 5,38±0,24, rata-rata kadar BOD pada S. Prafi 4 mg/l, S. Nimbai 3,1 mg/l, S. Aimasi 5,2 mg/l dan COD pada S. Prafi 8,3mg/l, S. Nimbai 14,2 mg/l dan S. Aimasi 7,4 mg/l. Hubungan panjang berat menunjukkan pertumbuhan alometrik negatif (b<3). Serta upaya pengelolaan yang dapat dlakukan yaitu reboisasi dan pengaturan waktu tangkap ikan yang tidak dlakukan pada saat ikan matang gonad

    Kelimpahan Fitoplankton dan Perannya Sebagai Sumber Makanan Ikan di Teluk Pabean, Jawa Barat

    Get PDF
    Teluk Pabean merupakan perairan estuari yang memiliki sumber daya alam potensial bagi perikanan. Salah satu organisme yang memiliki peran penting dalam teluk tersebut adalah fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan fitoplankton secara spasial dan temporal sebagai sumber makanan ikan di perairan Teluk Pabean, Jawa Barat. Pengambilan contoh fitoplankton dan pengukuran beberapa parameter fisik-kimiawi perairan dilakukan satu kali pada setiap bulan (Juni 2016-Maret 2017). Analisis data yang dilakukan meliputi komposisi dan kelimpahan fitoplankton, analisis ragam satu arah berdasarkan waktu dan zona pengamatan, kaitan parameter fisik-kimiawi perairan terhadap kelimpahan fitoplankton di Teluk Pabean, serta fitoplankton yang dimanfaatkan oleh ikan sebagai makanannya di Teluk Pabean, Jawa Barat. Kelimpahan fitoplankton tidak berbeda pada setiap zona pengamatan, tetapi kelimpahan fitoplankton berbeda antarwaktu pengamatan. Fitoplankton yang ditemukan di Teluk Pabean didominasi oleh fitoplankton kelas Bacillariophyceae. Jenis fitoplankton yang dominan menjadi makanan beberapa ikan di Teluk Pabean Jawa Barat yaitu Nitzschia dan Pleurosigma dari kelas Bacillariophyceae.Pabean Bay is an estuary that has the potential of natural resources for fisheries.  One of the organisms that has an important role here is phytoplankton. This study aims to analyze spatially and temporally the composition of phytoplankton abundance as fish food sources in Pabean Bay waters, West Java. Phytoplankton and physics-chemical parameters were taken monthly samples (June 2016-March 2017). Data analysis included the composition and abundance of phytoplankton, one-way variance analysis based on time and zone, the relation of physics-chemical parameters of aquatic to phytoplankton abundance, and phytoplankton used by fish as food. The abundance of phytoplankton differs on a monthly basis, but is not different in each zone. The phytoplankton found in the Pabean Bay is dominated by the Bacillariophyceae class. The dominant type of phytoplankton feeds from some of the captured fishes is Nitzschia and Pleurosigma from the Bacillariophyceae class

    Danau Laut Balbullol di Misool Raja Ampat

    Get PDF
    Marine lake is a unique ecosystem. It focuses at four locations in the world. One of them is in Raja Ampat. Each lake have a unique character according to the level of connection with the sea. Lake Balbullol is the deepest lake among the sea lakes in Misool, alienated, and has never been studied. This study want to know the character of Lake Balbullol. Description of the lake is done by a series of field surveys and loggers recording to determine the physical character, water quality, and presence of the biota. Lake width was 1.94 ha and the maximum depth was 38 m. Temperature and salinity showed a homogeneous vertical profile, thus forming a holomictic type. During 6 months time series, the temperature was always warmer than at the ocean, as well as salinity. Although the distance between the lake and the sea is very close (<45 m), the tide on the lake was delayed 4 hours rather than the sea. Tidal amplitude was only 25% of the ocean. From measurement of the tides showed Lake Balbullol was isolated lakes, however, there were no biota as an indicator of isolated lakes exist. There were at least 7 soft corals with attributes many and abundant exist in this lake.Danau laut adalah ekosistem unik yang ditemukan terfokus di empat lokasi saja di dunia.  Salah satunya di Raja Ampat. Danau-danau tersebut memiliki karakter yang unik sesuai tingkat koneksinya dengan laut.  Danau Balbullol adalah danau yang paling dalam diantara danau laut di Misool, terasing, dan belum pernah dikaji. Melalui studi ini ingin mengetahui karakter dari Danau Balbullol. Deskripsi danau dilakukan dengan serangkaian survei lapangan dan perekaman logger untuk mengetahui karakter fisik, kualitas air, dan kehadiran biota.  Hasilnya diketahui luas danau adalah 1,94 ha dengan kedalaman maksimum 38 m.  Suhu dan salinitas memperlihatkan profil vertikal yang homogen, sehingga membentuk tipe holomiktik.  Selama 6 bulan time series dari rekaman logger, menunjukan suhu di danau selalu lebih panas dari pada di laut, demikian juga salinitas yang lebih salin di danau. Pasut di danau tertunda 4 jam daripada laut, walaupun jarak antara danau dan laut sangat dekat (<45 m).  Amplitudo pasut hanya 25% daripada laut. Walaupun dari hasil pengukuran pasut Danau Balbullol merupakan danau yang terisolasi, namun tidak ditemukan biota sebagai indikator  danau terisolasi.  Ditemukan minimal 7 karang lunak dengan atribut banyak dan melimpah di danau ini

    Kajian Kualitas Perairan pada Kondisi Pasang Surut di Teluk Sawaibu Manokwari: STUDI AWAL KUALITAS PERAIRAN DI TELUK SAWAIBU MANOKWARI

    Get PDF
    Sanggeng traditional market that located in the coastal area of Manokwari city as a community trade center which providing daily community needs. Generally, the commodities that available are either household need, fish market and agriculture products, in addition due to market location in the city center it effects to highly community activities. Thus, effect to uncontrolled organic waste is source from mainly agricultural product, fishes, and also from others organic products. This condition is happening in highly intensity and still continues everyday, so it could affect to waters environmental degradation. Indicator that used to assessing water quality degradation based on highly organic waste is by assessed organic concentration then comparing with KLH 51 year 2004. Based on result of turbidity and dissolved oxygen parameter was found that highly condition at BLK location. In addition, highest TSS and TOM was found at waters around of hadi Mall. Highest BOD5 concentration was found in around of Fish market waters. Tides factor also effected to physical and chemical distribution in these waters. This condition shows that organic waste impact to water quality at Sawaibu Bay could affect to waters organisms’ lifePasar Sanggeng yang terletak di pesisir Teluk Doreri Kota Manokwari, menjadi salah satu pusat perdagangan yang melayani kebutuhan masyarakat. Secara umum dagangan di Pasar Sanggeng terdiri dari kebutuhan rumah tangga, jual beli sayur dan tempat penjualan ikan. Pasar tersebut merupakan jantung kota yang setiap hari dipenuhi masyarakat untuk berbelanja. Akibat adanya aktivitas yang tinggi tersebut menyebabkan pembungan sampah-sampah organik tidak terawasi atau terkontrol dengan baik. Sampah- sampah tersebut seperti sisa-sisa makanan, sayuran, buah-buahan dan sisa-sisa buangan ikan mentah dari tempat penjualan ikan. Kondisi ini berlangsung secara terus menerus setiap hari sehingga dapat menyebabkan terjadi degradasi kualitas perairan. Indikator yang digunakan untuk mengetahui kualitas perairan di suatu perairan akibat limbah organik yang tinggi adalah dengan mengukur konsentrasinya yang dihubungkan dengan standar baku mutu menurut KLH 51 tahun 2004. Berdasarkan hasil pengukuran, kecerahan dan oksigen terlarut yang tinggi terdapat di perairan BLK, TSS dan TOM paling tinggi terdapat di Belakang Hadi Mall. Faktor Pasang surut berpengaruh terhadap distribusi fisik kimia dalam perairan tersebut. Kondisi ini telah menunjukan dampak dari limbah organic terhadap kualitas perairan di Teluk Sawaibu akan berpengaruh terhadap kehidupan biota perairan

    BIOMASSA DAN PENYERAPAN KARBON OLEH LAMUN Enhalus acroides DI PESISIR TELUK GUNUNG BOTAK PAPUA BARAT

    Get PDF
    Seagrass is a high level and a flowering plant that is fully adapted to life in the coastal and has ability to store carbon by 10% of the carbon content in the oceans.  The research doing at Gunung Botak Bay Coastal South Manokwari Regency with objective of research to estimate seagrass density and to estimate rate accumulation of carbon from Enhalus acroides. Some the stages of the research done is density sample as long to period 2015 (April and Mei) into (September and Ocktober). Other sampling to collecting seagrass to estimate carbon storage in part like daun, rhizome  root and substrat.  Result to showing average carbon accumulation of seagrass in above below ground is rhizome part and higher in Statiun1 (13.16±3.8),stasiun 3 (5.4±2.9) dan stasiun 5 (6.2±1.1) or the generally accumulation carbon in the three is 8.24 kg from Enhalus acroides. Future more, accumulation carbon in sediment as a 1664,2 in dept 0-20 cm and 20-60 cm. Seagrass carbon storage capabilities will assist in mitigation efforts to reduce the impact of climate change in Indonesia, especially in West Papua.Lamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi dan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup di dalam perairan dangkal dan memiliki kemampuan menyimpan karbon sebesar 10 %  dari kandungan karbon di lautan. Penelitian ini dilakukan diperairan Teluk Gunung Botak Kabupaten Manowkari, dengan tujuan untuk  (1) mengetimasi kerapatan lamun, (2) mengestimasi laju penyerapan karbon oleh lamun jenis Enhalus acroides. Beberapa tahapan dilakukan pada penelitian ini yakni sampling kerapatan dalam dua periode dan  sampling pengambilan lamun sebagai penentu konsentrasi karbon pada bagian daun, akar dan rhizome serta substrat. Rata rata penyimpan karbon pada jaringan lamun berada pada bagian rhizome dengan nilai tertinggi pada stasiun 1 (13.16±3.8), stasiun 3 (5.4±2.9) dan stasiun 5 (6.2±1.1). Rata rata karbon yang tersimpan pada jaringan lamun sebesar 8.24 kg dan pada substrat sebesar 1664.2 kg. Kemampuan lamun dalam menyimpan karbon ini akan membantu dalam upaya mitigasi dalam mengurangi dampak perubahan iklim Indonesia khususnya di Papua Barat

    Komposisi Jenis dan Tingkat Trofik (Trophic Level) Hasil Tangkapan Bagan di Perairan Desa Ohoililir, Kabupaten Maluku Tenggara

    Get PDF
    An effort to maintain biodiversity of species in ecosystem is essential considering the high demand of fish in the market which is related to the amount of exploration. Trophic level is position of a species or a group of species within a food chain or food web, where it showed phases of transfer energy and material inter and intra on each group. This study aimed to analyze species composition and trophic level of lift net catch in ohoililir village water, southeast maluku regency. Observation variables on this research were, species composition, length and weight of fish also trophic level of catch by using lift net. Experimental fishing was the methodology for data collecting. Results shows that, trophic level of fish which catch by lift net was categories included to trophic level three (TL3), means most of fish catch by lift net dominated by omnivorspecies, as the result the fish structure community and pyramid become unstable. In order to prevent this matter, better conservation of fish around the area based on trophic level by considering various ecosystem components like fish and its food chain.Upaya untuk mempertahankan keanekaragaman jenis di dalam suatu ekosistem dan ikan yang dimanfaatkan oleh manusia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ekosistem secara keseluruhan. Tingkatan trofik menggambarkan tahapan transfer material atau energi dari setiap tingkat atau kelompok ke tingkat berikutnya, yang dimulai dengan produsen primer, konsumen primer (herbivora),  sekunder, tersier, dan predator puncak. Pada dasarnya tingkat trofik (trophic level) merupakan urutan tingkat pemanfaatan pakan atau material dan energi seperti yang tergambarkan oleh rantai makanan (food chain). Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis komposisi jenis dan tingkat trofik hasil tangkapan bagan di perairan Desa Ohoililir, Kabupaten Maluku Tenggara. Variabel yang diamati meliputi komposisi jenis, panjang dan berat ikan serta tingkat trofik hasil tangkapan. Alat tangkap yang digunakan saat pengamatan adalah bagan. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah metode experimental fishing, yaitu berupa operasi penangkapan ikan menggunakan alat tangkap bagan. Hasil penelitian menunjukan tingkat trofik ikan pada alat tangkap bagan berada pada pengelompokan tingkat trofik (TL3) yakni didominasi oleh jenis Omnivora yang cenderung pemakan hewan, yang akan menyebabkan struktur komunitas ikan menjadi berubah dan piramida menjadi tidak stabil. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan pengelolaan sumberdaya ikan berdasarkan pendekatan interaksi trofik dengan mempertimbangkan komponen ekosistem seperti sumberdaya ikan dan berbagai pola hubungan makan memakan atau rantai dan jaring makanan

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇