Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    ASPEK BIOLOGI CUMI-CUMI (Loligo sp.) YANG TERTANGKAP OLEH NELAYAN DI PERAIRAN MANOKWARI

    Get PDF
    Squid (Loligo sp.) is one of the fisheries commodities caught in Manokwari waters. The aim of this study was to determine the biological aspects of Loligo sp. including the sex ratio, size distribution, growth pattern, and the lengthy relationship of Loligo sp. from Manokwari waters. This research was conducted in January until March 2017, in three landing sites of squid (Loligo sp) namely Fanindi Pantai, Borobudur and Arowi village. The method used is observation technique in the laboratory includes measurements of length and weight to find out the size distribution and growth pattern of captured Loligo sp. and surgery to determine the sex ratio. The male-female sex ratio of Loligo sp. was  1.3: 1.0 with a range of coat length and wight dominated by male. The growth pattern of Loligo sp in Manokwari waters is negative allometric, where the length increase is faster than the weight gain.Cumi-cumi (Loligo sp.) adalah salah satu komoditi perikanan yang banyak tertangkap oleh nelayan di perairan Manokwari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi Loligo sp. meliputi  rasio kelamin, sebaran ukuran, pola pertumbuhan, dan hubungan panjang-bobot Loligo sp yang tertangkap dengan alat tangkap pancing oleh nelayan asal Manokwari. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai bulan Maret 2017, di tiga lokasi pendaratan cumi-cumi (Loligo sp) yang berada di Kabupaten Manokwari yakni : Kampung Fanindi Pantai, Borobudur, dan Arowi.  Metode yang digunakan yaitu teknik observasi analisis lanjutan di laboratorium meliputi pengukuran panjang dan bobot untuk mengetahui sebaran ukuran dan pola pertumbuhan Loligo sp yang tertangkap serta pembedahan untuk menentukan rasio kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan jenis kelamin jantan-betina Loligo sp adalah  1,3 : 1,0 dengan didominasi oleh individu jantan di hampir semua selang kelas panjang mantel maupun bobot tubuh. Pola pertumbuhan Loligo sp di perairan Manokwari bersifat allometrik negatif, dimana pertambahan panjang lebih cepat dibanding pertambahan bobot

    KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN IKAN DAN TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP JARING INSANG DI KUALLO SOKKAM, SUMATERA UTARA

    Get PDF
    Pengembangan teknologi penangkapan ikan ditekankan pada teknologi yang ramah lingkungan dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan yang berkelanutan dan mengetahui jenis dan komposisi hasil tangkapan ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan ikan dan mengetahui tingkat keramahan lingkungan alat tangkap jaring insang berdasarkan FAO (1995). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan 2 objek unit alat tangkap ikan. Komposisi hasil tangkapan ikan berdasarkan jenis terdiri dari 8 spesies. Spesies didominasi oleh jenis ikan adalah Kembung Perempuan (Rastrellinger brachysoma) sebesar 34%. Nilai tingkat keramahan lingkungan pada ala tangkap jaring insang adalah 26. Berdasarkan angka nilai tersebut dikategorokan ssebagagai alat tangkap ramah yang ramah lingkungan &nbsp

    Keragaman dan Distribusi Mangrove Berdasarkan Tipe Substrat di Pesisir Pantai Kampung Syoribo Distrik Numfor Timur Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua

    Get PDF
    One of the mangrove forest area in Numfor Island is the Syoribo Coastal Coast currently the destruction of mangrove ecosystems is increasingly widespread due to the opening of land to be used as residential and development areas so that there is a reduction in the area of mangrove forests. The research was conducted in April 2018 at the Syoribo Village Coastal Coast of East Numfor District of Biak Numfor District of Papua Province. This study aims to analyze the types and distribution of mangroves, Analyze the composition of species and structure of mangrove vegetation (density, frequency, and dominance), Analyze the mangrove habitat is environmental condition affecting mangrove growth, Analyze texture of substrate which is overgrown by mangrove, Analyze the linkage between mangrove density and substrate texture found. The method used in this study is by combination between  path method and line method then substrate analysis was conducted in laboratory. The results showed that in the four observation transects in 7 mangroves species were Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, Avicennia alba, and Xylocarpus granatum. The highest value index for tree, sapling and seedlings is the highest Bruguiera gymnorrhiza (197,82%), (160,71%), and (166,36%). Environmental conditions that affect mangrove growth are average temperature (27,6 0C – 29,4 0C), Salinity (6 ‰ – 24,3 ‰), Density (0,004 – 0,014), pH (7,12 – 7,57). The texture of the substrate overgrown by mangroves on the Syoribo, East Numfor have substrate criteria are dust silty clay loam, Silt Loam and sandy loam. Modeling the relationship between the density of tree level, spling, and seedling mangroves with substrate using multiple regression shows a close relationship between the two variables.Salah satu kawasan hutan mangrove di Pulau Numfor adalah Pesisir Pantai Kampung Syoribo. Saat ini kerusakan ekosistem mangrove semakin meluas dikarenakan telah dibukanya lahan untuk dijadikan area pemukiman penduduk dan pembangunan, sehingga terjadi pengurangan luasan hutan mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2018 di Pesisir Pantai Kampung Syoribo Distrik Numfor Timur Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua. Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis jenis dan penyebaran mangrove, menganalisis komposisi jenis dan struktur vegetasi mangrove (kerapatan, frekuensi, dan dominansi), menganalisis karakteristik habitat mangrove yaitu kondisi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove, menganalisis tekstur substrat yang ditumbuhi oleh mangrove, menganalisis keterkaitan antara kerapatan mangrove dengan tekstur substrat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kombinasi metode jalur dan metode garis berpetak kemudian analisis substrat di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 jenis mangrove yaitu Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, Avicennia alba, dan Xylocarpus granatum. Indeks Nilai Penting tingkat pohon, Pancang dan Semai yang paling tinggi adalah Bruguiera gymnorrhiza (197,82%), (160,71%), dan (166,36%). Kondisi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove yaitu suhu rata-rata (27,6 0C – 29,4 0C), Salinitas (6 ‰ – 24,3 ‰), Densitas (0,004 – 0,014), pH (7,12 – 7,57). Tekstur substrat yang ditumbuhi oleh mangrove di pesisir Pantai Syoribo Numfor Timur memiliki kriteria substrat lempung liat berdebu, lempung berdebu, serta lempung berpasir. Pemodelan hubungan antara kerapatan mangrove tingkat pohon, pancang dan semai dengan substrat menggunakan regresi berganda menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kedua variabel tersebut

    PERTUMBUHAN SPORA Gracillaria sp PADA SALINITAS BERBEDA

    Get PDF
    The demand for Gracillaria commodities continues to increase for food, medicines, and beauty ingredients. These conditions encourage the cultivation of this commodity continues to proliferate. Because of that, availability of Gracillaria sp seeds is available both in quantity and quality. One effort that can be done in handling the Gracillaria sp spores through environmental engineering. One such factor is fisheries salinity. The difference in salinity supports the increase in Gracillaria spores so that it affects spore growth. The aim of the study was to study the growth of Gracillaria spores cultured on different salinity media. The method used is a laboratory experiment method with a completely randomized trial design (CRD) with forty salinity preparations (23 ppt, 26 ppt, 29 ppt, and 32 ppt) and is repeated three times. The resulting data were then analyzed by analysis of variance. The results showed the highest spore growth at 23 ppt salinity with the number of spores (560.9 Ind / cm2), then 26 ppt salinity (438.8 Ind / cm2), then 32 ppt salinity (429.9 Ind / cm2) and low in salinity 29 with the number of spores (277.8 Ind / cm2). Fingerprint analysis showed that each evaluation results were not significantly different.Permintaan terhadap komoditi Gracillaria terus meningkat untuk pangan, obat-obatan dan bahan kecantikan. Kondisi tersebut mendorong kegiatan budidaya komoditi ini terus berkembang pesat. Karena itu dibutuhkan ketersedian bibit Gracillaria sp baik dalam jumlah dan kualitas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penanganan spora Gracillaria sp melalui rekayasa lingkungan.. Salah satu faktor tersebut ialah salinitas perairan. Perbedaan salinitas perairan dipercaya mempengaruhi osmoregulasi spora Gracillaria sp sehingganya berpengaruh pada pertumbuhan spora. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pertumbuhan spora Gracillaria sp yang dikultur pada media salinitas berbeda. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen di laboratorium dengan rancangan percobaan acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan salinitas (23 ppt, 26 ppt, 29 ppt, dan 32 ppt) dan diulang sebanyak tiga kali.  Data yang dihasilkan selanjutnya dianalisis dengan analisis sidik ragam. Hasil penelitian  menunjukan pertumbuhan spora tertinggi pada salinitas 23 ppt dengan jumlah spora (560,9 Ind/cm2), kemudian salinitas 26 ppt (438,8 Ind/cm2), kemudian salinitas 32 ppt (429,9 Ind/cm2) dan yang rendah adalah salinitas 29 dengan jumlah spora (277,8 Ind/cm2). Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan menggambarkan hasil yang tidak berbeda nyata

    Pengaruh Penambahan Tepung Biji Buah Nangka (Artocarpus heterophyllus) Pada Pembuatan Pakan Ikan Terhadap Pertumbuhan Dan Sintasan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung biji buah nangka (Artocarpus heterophyllus) terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan metode percobaan (eksperimen). Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hewan uji yang digunakan adalah benih ikan nila dengan ukuran panjang ± 5.2 cm dan berat ± 2.23 gram sebanyak 120 ekor. Perlakuan yang digunakan adalah perbedaan dosis pemberian pakan berbahan dasar tepung biji buah nangka, yaitu perlakuan A (5%), B (7%), C (9%) dan D (11%). Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan berbahan dasar tepung biji nangka dan tepung ikan dengan dosis berbeda tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan benih ikan nila.Sintasan terbaik dihasilkan pada pemberian pakan dengan dosis 5 %.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung biji buah nangka (Artocarpus heterophyllus) terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan metode percobaan (eksperimen). Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hewan uji yang digunakan adalah benih ikan nila dengan ukuran panjang ± 5.2 cm dan berat ± 2.23 gram sebanyak 120 ekor. Perlakuan yang digunakan adalah perbedaan dosis pemberian pakan berbahan dasar tepung biji buah nangka, yaitu perlakuan A (5%), B (7%), C (9%) dan D (11%). Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan berbahan dasar tepung biji nangka dan tepung ikan dengan dosis berbeda tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan benih ikan nila.Sintasan terbaik dihasilkan pada pemberian pakan dengan dosis 5 %

    Komunitas Makro Alga di Perairan Pantai Desa Wakal, Kabupaten Maluku Tengah

    Get PDF
    Algae communities in life in the marine environment, among others, are used by various types of fish and other organisms as a place to live, forage, and spawn. Some types of macro algae also contain lime which plays a role in building coral reefs. As for humans, algae are used as food ingredients, both directly as vegetables and processed first as gelatin. The purpose of this study was to describe the composition of macro algae species found, to calculate density, population size, maximum biomass, and distribution patterns of macro algae communities in the coastal waters of Wakal Village. Taking algae macro samples is done by using the Linear Squares Transect method. Identification results of macro algae samples found 15 species classified into 3 divisions, 3 classes, 9 orders, 10 families, and 12 genera. The total density of macro algae species by individual is 2.86 ind / m2, with the highest density of species owned by Padina minor species and lowest Gelidiella acerosa, Galaxaura filamentosa, Halimeda opuntia, Ulva conglobata, Hypnea pannossa, Hypnea valentiae, and Acanthophora specifera. The total density of macro algae species based on biomass is 68.48 gr / m2 where Padina minor has the highest biomass density value and the lowest is Acanthophora specifera. The total population of macro algae based on individuals is 7.71 ind / ha, with Padina minor having the highest value of the highest and lowest population Gelidiella acerosa, Galaxaura filamentosa, Halimeda opuntia, Ulva conglobata, Hypnea pannossa, Hypnea valentiae, and Acanthophora specifera. The total macro population of algae based on biomass is 184.90 gr / ha with the highest biomass owned by species Padina minor and the lowest is Acanthophora specifera. The total maximum macro biomass of algae is 1008.18 gr / ha with the highest maximum biomass owned by species Padina minor and the lowest maximum biomass is owned by the species Acanthophora specifera. The pattern of macro spread of algae in Wakal Village is in groups (Ip = 0.5).Komunitas alga dalam kehidupan di lingkungan laut antara lain dimanfaatkan oleh berbagai jenis ikan dan organisme lain sebagai tempat tinggal, mencari makan, dan memijah. Beberapa jenis makro alga juga mengandung kapur yang berperan dalam membangun terumbu karang. Sedangkan bagi manusia alga dimanfaatkan sebagai bahan makanan, baik secara langsung sebagai sayur maupun diproses terlebih dahulu sebagai agar-agar. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan komposisi jenis makro alga yang ditemukan, menghitung kepadatan, besar populasi, biomassa maksimum, dan pola distribusi komunitas makro alga pada daerah perairan pantai Desa Wakal. Pengambilan sampel makro alga dilakukan dengan menggunakan metode Transek Linear Kuadrat. Hasil identifikasi sampel makro alga ditemukan 15 spesies yang digolongkan ke dalam 3 devisi, 3 kelas, 9 ordo, 10 famili, dan 12 genus. Total kepadatan spesies makro alga berdasarkan individu adalah 2,86 ind/m2, dengan kepadatan spesies tertinggi dimiliki oleh spesies Padina minor dan terendah Gelidiella acerosa, Galaxaura filamentosa, Halimeda opuntia, Ulva conglobata, Hypnea pannossa, Hypnea valentiae, dan Acanthophora specifera. Total kepadatan spesies makro alga berdasarkan biomassa adalah 68,48 gr/m2 dimana Padina minor memiliki nilai kepadatan biomassa tertinggi dan terendah Acanthophora specifera. Total populasi makro alga berdasarkan individu adalah 7,71 ind/ha, dengan Padina minor memiliki nilai besar populasi tertinggi dan terendah Gelidiella acerosa, Galaxaura filamentosa, Halimeda opuntia, Ulva conglobata, Hypnea pannossa, Hypnea valentiae,dan Acanthophora specifera. Total populasi makro alga berdasarkan biomassa adalah 184,90 gr/ha dengan biomassa tertinggi dimiliki oleh spesies Padina minor dan terendah Acanthophora specifera. Total biomassa maksimum makro alga adalah sebesar 1008,18 gr/ha dengan biomassa maksimum tertinggi dimiliki oleh spesies Padina minor dan biomassa maksimum terendah dimiliki oleh spesies Acanthophora specifera. Pola penyebaran makro alga di Desa Wakal adalah berkelompok (Ip=0,5)

    Temporal Distribution of Gastropods In Rocky Intertidal Area In North Manokwari, West Papua

    Get PDF
    Gastropods is an important organism that commonly found inhabiting the rocky intertidal area. Distribution pattern of this species is influenced by various factors such as population history, microhabitat, predation and a complex interactions between oceanographic dynamics and ecological features. This study aims to compare the temporal distribution pattern of gastropods at two different rocky intertidal area. This research was conducted at the rocky intertidal area of Amban and Nuni, North Manokwari District, West Papua. Data collection was performed during the daylight and night in April and June 2012 using systematic sampling method. The results showed that both physical and chemical factors are suite for supporting gastropods life. Furthermore, these factors seem to have an impact on gastropod zoning patterns observed in the study area. The similarity index values ​​indicate that the similarity of gastropod species between the two locations is low, which means that the species of gastropods found in each location is quite different. The community structure of gastropod at the study area is stable. In addition, we found that the gastropods diversity were higher during the night than the daylight because gastropods are classified as a nocturnal animals. Key Words: Gastropod; Rocky Intertidal; Community Structure; Nocturna

    KONSTRUKSI DAN TEKNIK PENGOPERASIAN TAGAHU PADA PENANGKAPAN IKAN NIKE (Awaous melanocephalus) DI TELUK GORONTALO, KOTA GORONTALO

    Get PDF
    This study aims to describe the construction and operation of tagahu techniques in nike fishing in Gorontalo City. This research was conducted on January 5 to March 15, 2019 in Pohe Village and Leato Village in Gorontalo City, Gorontalo Province. The method used in this study is a descriptive method. The results of the study found that Tagahu is a long-shaped 4-piece jar with a pocket in the middle. Parts of the tagahu section are: 1) Main net, 2) Upper and lower Ris rope, 3) Buoy, 4) Ballast, 5) Buoy rope and Ballast Rope, 6) Capture rope, and 7) Buoy rope and Ballast Rope. The principle of Tagahu operation is generally similar to the operation of payang which is to wrap a net wing on a group of fish, then the net is pulled towards the boat. Tagahu catching can be done both at night and during the day. Tagahu's operation consists of: 1) searching of fish hordes, 2) dropping nets, 3) withdrawal and removal of nets, and 4) retrieval of catches. Keywords: Tagahu, Nets, Nike FishPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kontruksi dan teknik pengoperasian tagahu pada penangkapan ikan nike di Kota Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan pada 5 Januari- 15 Maret 2019 di Kelurahan Pohe dan Kelurahan Leato Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dekriptif. Hasil Penelian menemukan bahwa Tagahu adalah jarring berbentuk 4 pesergi panjang dengan kantong di bagian tengahnya. Bagian bagian tagahu adalah: 1) Jaring Utama, 2) Tali Ris atas dan bawah, 3) Pelampung, 4) Pemberat, 5) Tali Pelampung dan Tali Pemberat, 6) Tali selambar, dan 7) Tali Pelampung dan Tali Pemberat. Prinsip pengoperasian Tagahu secara umum mirip dengan pengoperasian payang yaitu dengan melingkarkan sayap jaring pada gerombolan ikan, kemudian jaring ditarik ke arah perahu.  Penangkapan dengan tagahu dapat dilakukan baik pada malam maupun siang hari.  Pengoperasian tagahu terdiri dari : 1) pencarian gerombolan ikan, 2) penurunan jarring, 3) penarikan dan pengangkatan jarring, dan 4) pengambilan hasil tangkapan. Kata Kunci : Tagahu, Jaring, Ikan Nik

    Stimulasi Molting pada Kepiting Kelapa (Birgus latro, Linnaeus 1767) dengan Pakan Buatan Diperkaya Fitoekdisteroid

    Get PDF
    One of the problems in coconut crab cultivation is its slow growth. Artificial feed can be an alternative in the development of coconut crab cultivation (B. latro). The purpose of this research is to analyze the formula of artificial feed that gives the best stimulation on the growth of coconut crab. Three artificial feed with protein content A (20%), B (25%) and C (27%) and D (fresh coconut meat) as control. During the study, the test crabs were individually maintained in confinement containers that were specially designed to be as comfortable as in nature and not loose out. The results of the study, formulated feed can be eaten by crab test with the highest molting percentage in crab test treated with artificial feed of formula C 100%, followed by treatment A or B each 75% and D 25%. In conclusion that the feed made can be eaten and allegedly able to induce molting in coconut crabs.Salah satu permasalahan dalam upaya budidaya kepiting kelapa adalah pertumbuhannya yang lambat. Pakan buatan bisa menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan membudidayakan kepiting kelapa (B. latro). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis formula pakan buatan yang memberikan stimulasi terbaik pada pertumbuhan kepiting kelapa. Tiga pakan buatan dengan kadar protein A (20%), B (25%) dan C (27%) dan D (daging buah kelapa segar) sebagai kontrol. Selama penelitian, kepiting uji dipelihara secara individu di dalam wadah kurungan yang didesain khusus agar nyaman seperti di alam dan tidak lepas keluar. Hasil penelitian, pakan yang diformula dapat dimakan oleh kepiting uji dengan persentase molting tertinggi pada kepiting uji yang diberi perlakuan pakan buatan formula C 100 %, diikuti perlakuan A maupun B masing-masing 75 % dan D 25 %. Kesimpulannya bahawa pakan yang dibuat dapat dimakan dan diduga mampu menginduksi molting pada kepiting kelapa

    Penentuan Tipe Pasang Surut Perairan Pada alur Pelayaran Manokwari Denganmenggunakan Metode Admiralty

    Get PDF
    Tidal waters are very important for port interests, sea transportation, fisheries industry, coastal engineering and coastal area mitigation. Tidal height formed is a superposition of tidal amplitude due to the gravitational pull of the sun, moon and earth. The Tidal components are K1, O1, P1, S2, M2, K2, M4, MS4. This study aims to determine the components and types of tides in the shipping channel of Manokwari-West Papua using the admiralty method. Formzahl 0.732 number means the type of tidal that is formed is mixed tide prevailing semidiurnal, two high and low tide, two high and one low tide or two times low tide one high tide in a day. Mean Sea Level (MSL) was caused by water conditions, coastlines and bathymetry, the gravitational forces of the moon and sun. The MSL was obtained 98 cm. large tidal range occurs during full moon conditions and low tides occur during perbani (1.62-2.44 m). The amplitude Mean High Water Level  level reaches 279 cm and Mean Low Water Level reaches -83 cm.Komponen pasang surut perairan sangat penting bagi kepentingan pelabuhan, transportasi laut, industri perikanan, rekayasa pantai dan mitigasi kawasan pesisir. Ketinggian pasang surut yang terbentuk merupakan superposisi dari amplitudo komponen pasang surut akibat gaya tarik gravitasi matahari, bulan dan bumi terhadap massa air lautan. Komponen pasang surut yaitu K1, O1, P1, S2, M2, K2, M4, MS4. Penelitian ini bertujuan menentukan komponen dan tipe pasang surut pada alur pelayaran Manokwari-Papua Barat menggunakan metode admiralty. Bilangan Formzahl yang diperoleh yaitu 0.732 yang berarti bahwa perairan memiliki pasang surut Campuran Condong ke Harian Ganda  (mixed tide prevailing semidiurnal) yang berarti bahwa pasang surut yang terbentuk terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari dan antara pasang pertama dan pasang kedua memiliki ketinggian hampir sama dan kadang terjadi dua kali pasang dan satu kali surut atau sebaliknya dua kali surut satu kali pasang dalam sehari. Perubahan kedudukan air rata-rata MSL berbeda-beda disebabkan selain kondisi perairan baik garis pantai dan batimetri adalah akibat gaya gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi. Tinggi muka laut rata-rata (Mean Sea Level) diperoleh  98 cm. Kisaran pasut besar terjadi pada kondisi purnama dan pasang surut rendah terjadi pada kondisi perbani. Level permukaan laut pada kondisi air pasang rata-rata (Mean High Water Level) amplitudo mencapai 279 cm dan pada kondisi air surut rata-rta (Mean Low Water Level) mencapai amplitudo -83 cm

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇