Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    STRUKTUR KOMUNITAS GASTROPODA PADA HAMPARAN LAMUN DI WILAYAH PESISIR NUSI DAN GERSEN, KABUPATEN NABIRE

    Get PDF
    Gastropods plays an important role in the food chain on seagrass ecosystem and its existence are depend on the physical-chemical factors in the seagrass ecosystem. This study aims to determine the density and diversity of gastropods associated in seagrass habitat in Nusi and Gersen coastal waters. The measurement results of some physical-chemical waters variables, are still quite good for the life of gastropods. Species composition of gastropod in Nusi at higher than at the Gersen, but instead of individual density in Gersen more higher than Nusi. Diversity index of gastropods at Nusi station is higher (3,757) than Gersen (3.053), on the contrary the eveness and dominance index are higher at Gersen station than Nusi station. Community similarity index by species is low between the two stations, which indicates that the species of gastropods at both stations is quite different. The influence of human activity and higher utilizatin of gastropods in Nusi has lowered the density of gastropods in seagrass habitat, so it needs awareness efforts on the importance of gastropods and the seagrass habitat for coastal ecosystem.Gastropoda berperan penting dalam rantai makanan pada ekosistem lamun dan keberadaanya sangat tergantung pada faktor fisik-kimia lingkungan dalam ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan keanekaragaman gastropoda yang berasosiasi dalam habitat lamun di perairan pesisir Nusi dan Gersen. Hasil pengukuran beberapa variabel fisik-kimia perairan, masih tergolong baik bagi kehidupan gastropoda. Komposisi spesies gastropoda di Nusi lebih tinggi dibandingkan di Gersen, namun sebaliknya kepadatan individu di Gersen lebih tinggi dibandingkan di Nusi. Indeks keanekaragaman gastropoda di stasiun Nusi lebih tinggi (3,757) dibandingkan Gersen (3,053), sebaliknya indeks keseragaman indeks dominansi lebih tinggi di stasiun Gersen dibandingkan di stasiun Nusi. Indeks kesamaan komunitas berdasarkan spesies tergolong rendah antara kedua stasiun, yang menunjukkan bahwa spesies gastropoda pada kedua stasiun cukup berbeda. Pengaruh aktivitas manusia dan pemanfaatan gastropoda di Nusi yang lebih tinggi telah menurunkan kepadatan gastropoda pada habitat lamun, sehingga perlu upaya penyadaran tentang pentingnya gastropoda dan habitat lamun bagi ekosistem pesisir

    Komunitas Epifit Berdasarkan Kedalaman Perairan Laut pada Daun Lamun di Pulau Maitara, Provinsi Maluku Utara

    Get PDF
    Seagrasses are  habitat of various types of sea animals, including association epiphytic in rhizoma, leave and steam. Research about community structure microepiphytic based on depth and ecology index, important as community conditions information. The goal research for  ecology index analysis microepiphytic based on depth  sea and seagrasses community condition. Sample collections epiphytic on seagrass leave used 1x1 meters quadrant based on depth. Epiphytic sample cutted and scraped in leave surface, than into to bottles sample contain 70% alcohol. The research method used line trasect 50 meters toward sea. The result founded 23 genus epiphytic with biodiversity medium, low dominance and high uniformity.Padang lamun menjadi habitat bagi banyak organisme laut, diantaranya  epifit yang hidup berasosiasi dengan  lamun dengan cara menempel pada rhizoma, batang dan daun lamun. Penelitian tentang struktur komunitas mikroepifit berdasarkan kedalaman dan indeks ekologi lamun penting dilakukan untuk memberikan penjelasan tentang kondisi komunitas khususnya di perairan laut Pulau Maitara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indeks ekologi mikroepifit berdasarkan kedalaman perairan dan kondisi komunitas lamun di perairan pulau Maitara. Pengambilan sampel epifit pada daun lamun menggunakan kuadran 1x1 meter berdasarkan kedalaman. Sampel epifit diambil menggunakan cutter dengan cara mengikis perlahan permukaan daun lamun, kemudian dimasukan kedalam botol sampel berisi alkohol 70%.  Metode penelitian menggunakan garis transek sepanjang 50 meter kearah laut pada setiap stasiun.  Hasil penelitian di ditemukan 23 genus epifit dengan tingkat keanekaragaman sedang pada setiap kedalaman, dominansi rendah dan keseragaman tiap kedalaman tinggi

    Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Sebagai Sumber Energi Pada Kapal Nelayan: Suatu Kajian Literatur

    Get PDF
    Seiring dengan kebutuhan dan berbagai jenis kapal yang berkembang, kebutuhan tenaga listrik di atas kapal akan sangat beragam. Pembangkit listrik di atas kapal selain menggunakan mesin diesel juga dapat memanfaatkan energi dari sinar Matahari sebagai sumber energi listrik alternatif. Potensi energi surya di Indonesia sebesar 4,8 kWh/m2. Energi baru dan terbarukan ini sesuai dengan tofografi Indonesia. Energi dari sinar Matahari di sekitar daerah ekuator begitu melimpah sehingga ketersediaannya selalu ada sepanjang tahun, kecuali pada saat hujan. Pemanfaatan energi Matahari dapat digunakan sebagai pengganti energi konvensional yang mulai terbatas dan harganya yang cukup mahal. Data yang disajikan dalam tulisan ini diperoleh dari publikasi, pabrikan, departemen pemerintah terkait, publikasi ilmiah dan publikasi lainnya. Pemanfaatan energi surya sebagai energi listrik dapat dilakukan dengan menggunakan panel surya yang dipasang di atas kapal. Energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghidupkan peralatan listrik dan lampu kapal di malam hari, dan digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan. Penggunaan PLTS juga dapat memberikan dampak positif kepada para nelayan, seperti peningkaatan kesehatan, ekonomi, kelestarian lingkungan dan membangun nelayan yang mandiri.The need of electricity in every ship are very diverse. Power plants for using diesel as an engine can also come from sunlight as an alternative source of electrical energy. The measurement of solar energy in Indonesia is 4.8 kWh /m2. This renewable energy is in suitable for the Indonesian topography. Thus, the energy from the sunlight around the equator is so abundant that its availability is always available throughout the year, except when it rains. Utilization of solar energy can be used as a substitute for conventional energy which is starting to be limited and the price is quite expensive. Therefore, the data that are presented in this paper comes from publications, manufacturers, relevant official government documents, scientific publications and other publications. Utilization of solar energy as electrical energy can be done by using solar panels mounted in ships. The generated electricity can be used to turn on electrical equipment and send lights at night, and can be used as fishing aids. The use of solar power plant can also have a positive impact on fishermen, such as improving health, economy, environmental sustainability, and building independent fishermen. &nbsp

    Kenaikan Suhu Perairan Mengakibatkan Mastigias papua Menghilang Di Danau Laut Lenmakana Misool Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat

    Get PDF
    Mastigias papua is a jellyfish that is trademark of marine lakes. Ongeim’l Tketau Lake in Palau, Hang Du I  Lake in Vietnam, Kakaban Lake in Kalimantan, and Lenmakana Lake in Raja Ampat Papua are exotic tourist destinations because of presence of these biota in the lake. Water temperature is very influential on the life of a jellyfish because of its mutual symbiosis with brown algae zooxanthellae. Mastigias has totally disappeared in several places due to water temperature increasing, including Lenmakana Lake in the West Monsoon 2017/2018 and 2018/2019. The absence of Mastigias in this lake will be explained by recorded logger data installed in the lake and at sea. Secondary data from NOAA and BMKG will be used to explain the condition of absence of jellyfish. Water lake temperature data showed an increase to 2.5oC when the Mastigias disappeared. Temperature increasing occur due to seasonal cycle patterns of lake water temperatures and weather cycles which change in time, the dry season occurs faster and the rainy season occurs slower. Conversely, in the West Monsoon 2019/2020, Mastigias still found in the lake. The rainy season which is 20 days faster than normal condition helps reduce the heat in West Monsoon.Mastigias Papua adalah ubur-ubur yang menjadi trademark danau laut.  Danau  Ongeim’l Tketau Palau, Danau Hang Du I Vietnam, Danau Kakaban di Kalimantan, dan Danau Lenmakana di Raja Ampat Papua menjadi tujuan wisata eksotis karena kehadiran biota ini di danau.  Suhu perairan sangat berpengaruh terhadap kehidupan ubur-ubur karena simbiosis mutualismenya dengan alga coklat zooxanthellae. Mastigias pernah menghilang total di beberapa tempat karena kenaikan suhu perairan, termasuk Danau Lenmakana pada Musim Barat 2017/2018 dan 2018/2019.  Ketidakhadiran Mastigias di danau ini akan jelaskan dengan data rekaman logger yang dipasang di danau dan di laut.  Data-data sekunder dari NOAA dan BMKG akan dipakai untuk menjelaskan kondisi saat hilang-hadirnya ubur-ubur ini. Hasil rekaman data suhu perairan danau memperlihatkan terjadi kenaikan 2,5oC saat Mastigias lenyap. Kenaikan suhu terjadi karena pola siklus musiman suhu air danau dan siklus cuaca yang mengalami perubahan waktu, musim kemarau terjadi lebih cepat dan musim hujan lebih lambat.   Sebaliknya pada Musim Barat 2019/2020, Mastigias tetap ditemukan di danau. Musim hujan yang lebih cepat dua dasarian dari kondisi normal membantu mengurangi suhu panas di Musim Barat ini

    Pola zonasi ekosistem mangrove di Desa Juanga Kabupaten Pulau Morotai

    No full text
    ABSTRACTMangroves are one of the most important natural resources in coastal areas. Availability of various types of food that are on ecosystems is already making its presence as a local nursery, where searching for eating and also serve as a regional tourist ecosystem of mangrove. In use as Regional tourist mangrove need to attention the condition of the physical environment and the distribution pattern of zoning. Research is carried out in the month October to November 2019 in the village of Juanga Regency island of Morotai. Data zoning mangrove using the method of the combination is to combine the methods of plots to track transects, to determine the four stations of observation of each respective stations and each station is divided into three zones: zone front, zone of middle and zone back starting from the point of the outermost growth of types of mangrove constituent primary to the point of transition between sea and land. The research results of the study found 5 types of mangroves namely Rhizophora mucronata, Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, Xylocarpus granatum and Sonneratia alba. The distribution of zoning patterns in the front zones of station I and the middle zone is dominated by Rhizophora mucronata and Rhizophora apiculata types, the rear zone is dominated by Ceriops decandra. Station II front zone is dominated by Sonneratia alba, middle zone (Rhizophora mucronata), rear zone (Ceriops decandra). At station III the front zone (Rhizophora apiculata), the middle zone and the rear zone (Ceriops decandra) while at station IV the front zone, the middle zone and the rear zone are dominated by the Ceriops decandra type.ABSTRAKMangrove merupakan salah satu sumberdaya alam di wilayah pesisir yang sangat penting. Ketersedian berbagai jenis makanan yang terdapat pada ekosistem ini telah menjadikan keberadaannya sebagai daerah asuhan, tempat mencari makan dan juga dijadikan sebagai kawasan wisata ekosistem mangrove. Dalam pemanfaatannya sebagai kawasan wisata mangrove perlu memperhatikan kondisi fisik lingkungan dan sebaran pola zonasinya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2019 di Desa Juanga Kabupaten Pulau Morotai. Pengambilan data zonasi mangrove menggunakan metode kombinasi yaitu mengkombinasikan antara metode petak dengan jalur transek, dengan menentukan 4 stasiun pengamatan dari masing masing stasiun dan setiap stasiun dibagi menjadi 3 zona: zona depan, zona tengah dan zona belakang dimulai dari titik terluar tumbuhnya jenis mangrove penyusun utama sampai titik peralihan antara laut dan darat. Hasil penelitian ditemukan 5 jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata, Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, Xylocarpus granatum dan Sonneratia alba. Sebaran pola zonasi pada stasiun I zona depan dan zona tengah didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata, zona belakang didominasi oleh Ceriops decandra. Stasiun II zona depan didominasi Sonneratia alba, zona tengah (Rhizophora mucronata), zona belakang (Ceriops decandra). Pada stasiun III zona depan (Rhizophora apiculata), zona tengah dan zona belakang (Ceriops decandra) sedangkan pada stasiun IV zona depan, zona tengah dan zona belakang didominasi oleh jenis Ceriops decandra

    Pengaruh Lama Waktu Perendaman Telur dalam Larutan Hormon Tiroksin (T4) Terhadap Daya Tetas, Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)

    Get PDF
    The thyroxine hormone is a hormone that can reduce high mortality and increase fish growth. The aim of this study was to determine the effect of long immersion time in the thyroxine hormone solution and a good time to increase hatching rate, growth and survival rate of Gourami larvae. The method used was a laboratory experiment with a completely randomized design. Treatment of egg immersion time in thyroxine hormone solution with a dose of 0.1 mg / L, namely 0, 8, 16, 24 and 32 hours. Each treatment was carried out three replications. The results of the study indicated that the immersion time did not affect hatching rate, but it did affect the length growth and survival of gourami larvae (O. gouramy). The good immersion time is 16-24 hours with hatching rate values 97.67-99.00%, absolute length growth of 6.50-6.92 mm, relative length growth of 4.93-5.25%, and survival rate of 91.26-92.15%.Hormon tiroksin merupakan hormon yang mampu menurunkan tingginya mortalitas dan meningkatkan pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu perendaman telur dalam larutan hormon tiroksin dan waktu yang baik untuk meningkatkan daya tetas, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup larva gurami. Metode yang digunakan adalah eksperimen di laboratorium dengan rancangan acak lengkap. Perlakuan lama waktu perendaman telur dalam larutan hormon tiroksin dengan dosis 0.1 mg/L yaitu 0, 8, 16, 24 dan 32 jam. Tiap perlakuan dilakukan tiga ulangan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa lama waktu perendaman tidak berpengaruh terhadap daya tetas, namun berpengaruh terhadap pertumbuhan panjang dan kelangsungan hidup larva gurami (O. gouramy). Lama waktu perendaman terbaik adalah 16 - 24 jam dengan nilai daya tetas 97.67 - 99.00%, pertumbuhan panjang mutlak 6.50 - 6.92 mm, pertumbuhan panjang relatif 4.93 - 5.25 %, dan kelangsungan hidup sebesar 91.26 - 92.15 %

    Tingkat Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengelolaan Ekowisata di Kampung Saporkren Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat

    Get PDF
    Saporkren village at Raja Ampat Islands is well-known for international and domestic icons for  community based ecotourism in West Papua Province. This research is designed to investigate the levels of participation, functions and intensity of five groups of respondents (leader, interested group, family members, women, and teenager), influenced factors  and benefits received from participation are also investigated. The results indicated that levels of participation of five groups of respondents are classified into extremely inactive (1-25) with an average for their index PEI of less than 25, and levels of participation for children are absent. Leaders had function in planning with intensity for total control and decision making. Other respondent of interested groups, family members and women had funstions in implementation, maintenance, and distribution with intensity for decision making, consultation, and information. However, five groups of respondents are absent in management function and initiation action of intensity involvement. Counseling from official government (70.8%), invitation from local officer (41.7%), and income generating (37.5%) are three main factors influenced the local community interested in ecotourism participation. Various direct and indirect benefits from ecotrourism management are confirmed  such as famous ecotourism destination, local entrepreneur (homestay, handycraft, local cuisine), tour guides, local nature conservation guards, motorist, and the others. Three important issues for ecotourims based community in Saporkren village are management, initiation action, and absence of the teenagers in levels of participation.Kampung Saporkren Raja Ampat merupakan salah satu ikon ekowisata berbasis masyarakat lokal di Provinsi Papua Barat. Partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan ekowisata sangat beragam, baik peran, unsur kelompok, maupun bentuk kegiatannya, sehingga diperlukan kajian tetang tingkat partisipasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat, fungsi/bentuk dan intensitas partisipasi lima kelompok responden masyarakat lokal (kepala/pemimpin, kelompok minat, anggota rumah tangga, wanita dan remaja), faktor-faktor yang mempengaruhi dan manfaat partisipasi pengelolaan ekowisata. Penelitan ini dilakukan dengan survey, dan wawancara semi struktural berpedoman kepada daftar pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi empat kelompok responden dikategorikan sangat tidak aktif (1-25), dengan nilai indeks participation-empowerment index (PEI) di bawah 25, bahkan tingkat partisipasi kelompok responden remaja adalah nihil. Kepala/pemimpin memiliki fungsi partisipasi dalam perencanaan dengan intensitas pada pengendalian dan pengambilan keputusan. Kelompok anggota rumah tangga, kelompok minat dan wanita memiliki fungsi implementasi, perawatan, dan distribusi dengan intensitas pada pengambilan keputusan, konsultasi, dan memberi informasi. Akan tetapi kelima kelompok responden absen dalam fungsi partisipasi manajemen dengan intensitas partisipasi pada inisiasi kegiatan. Penyuluhan instansi teknis (70.8%), ajakan instansi teknis (41.7%), dan memperoleh pendapatan (37.5%) merupakan tiga faktor dominan yang mendorong partisipasi masyarakat lokal. Destinasi ekowisata, pendapatan melalui homestay, motorist, dan pemandu wisata, terbentuknya kelompok tani hutan, kader konservasi alam, smart patrol adalah beberapa manfaat dari partisipasi tersebut. Pendampingan dalam hal manajemen, inisiasi kegiatan dan keterlibatan kelompok remaja adalah tiga hal penting perlu dipertimbangkan dalam peningkatan tingkat partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan ekowisata di Kampung Saporkren

    Limbah Cangkang Kerang Temberungun (Telescopium telescopium) Sebagai Adsorben Logam Berat Besi (Fe2+)

    Get PDF
    The decrease in water quality is caused by the presence of pollutants in the form of organic and inorganic components. Inorganic components, including heavy metals, one of which is iron (Fe). Adsorption is one of the technologies that can be used to absorb heavy metals where the adsorbent used in this study is a shell of a shell (Telescopium telescopium) to absorb iron (Fe2+). This research aims to utilize the waste of the mussel shells (Telescopium telescopium) as an adsorbent for heavy metal iron (Fe2+). The study was divided into three stages, namely the adsorbent surface characterization, determining the optimum time and determining the adsorption capacity. All stages of the study were carried out on adsorbents that were not activated and NaOH. The results showed the largest pore size after activation was 1,398 µm, while the adsorbent before activation, the largest pore size was 844.8 nm. The surface acidity of the adsorbent before activation is 5.28 mmol / g and after activation has a value of 6.74 mmol / g. The optimum time of absorption of ferrous metal ions (Fe2+) before and after activation is 60 and 30 minutes. The adsorption capacity of the adsorbents before and after activation was 11,07899 mg / g and 459,3038 mg / g, respectively. It was concluded that the shell of a temberungun shell (Telescopium telescopium) can be used as an adsorbent for heavy metal ions (Fe2+)Penurunan kualitas air diakibatkan oleh adanya zat pencemar berupa komponen-komponen organik maupun anorganik. Komponen-komponen anorganik, diantaranya adalah logam berat, salah satunya besi (Fe). Adsorpsi adalah salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk menyerap logam berat dimana adsorben yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkang kerang temberungun (Telescopium telescopium) untuk menyerap besi (Fe2+). Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah cangkang kerang temberungun (Telescopium telescopium) sebagai adsorben logam berat besi (Fe2+). Penelitian terbagi menjadi tiga tahap, yaitu karekterisasi permukaan adsorben, penentuan waktu optimum dan penentuan kapasitas adsorpsi. Seluruh tahapan penelitian dilakukan pada adsorben yang tidak dan telah teraktivasi NaOH. Hasil penelitian menunjukkan  ukuran pori terbesar setelah aktivasi adalah 1.398 µm, sedangkan adsorben sebelum aktivasi, ukuran pori terbesar adalah 844,8 nm. Keasaman permukaan adsorben sebelum aktivasi bernilai 5,28 mmol/g dan sesudah diaktivasi memiliki nilai 6,74 mmol/g. Waktu optimum penyerapan ion logam besi (Fe2+) sebelum dan sesudah diaktivasi yakni 60 dan 30 menit. Kapasitas adsorpsi dari adsorben sebelum dan sesudah aktivasi berturut-turut adalah 11,07899 mg/gr  dan 459,3038 mg/gr. Disimpulkan bahwa, cangkang kerang temberungun (Telescopium telescopium) dapat dimanfaatkan sebagai adsorben ion logam berat besi (Fe2+

    Karakteristik Morfologi dan Indeks Ekologi Bulu Babi (Echinoidea) di Perairan Desa Wawama Kabupaten Pulau Morotai

    Get PDF
    Sea urchins are found in almost every area of ​​the islands which are scattered in Indonesia. One of them in Wawama Village, Morotai Island Regency. Local people use sea urchins as food, but the knowledge of sea urchins themselves is a food that has economic value. While the morphological and ecological aspects so far have not been known. This aims to study the morphological characteristics and analyze the ecological index of sea urchins. This research was conducted in November-December 2019 in the Village of Wawama, South Morotai District, Pulau Morotai District. The results showed that there were differences in the morphological characteristics of the types of sea urchins found in the study location both from body shape, color and external organs. The results of the ecological index analysis for the value of the density of sea urchins look varied, where the type of Diadema setosum has the highest value in all research stations. Species diversity at the three stations with a range of values ​​from 0.658 to 1.032-1.336 with an average value of 1.009, according to the species diversity criteria (H ') in the medium category Shannon Winner analysis. Evenness index (E) category is quite evenly distributed because the values ​​obtained ranged from 0.329 to 0.346 on average by 0.336 and the dominance index (C) was declared to be no species dominance because the values ​​obtained ranged from 0.275 to 0.535 with the mean of the three stations amounted to 0.396. Key words: Morphological characteristics; ecological index; sea ​​urchinsBulu babi ditemukan  hampir  disetiap  wilayah perairan pulau-pulau  yang  tersebar  di Indonesia. Salah-satunya  adalah  di Desa Wawama Kabupaten  Pulau  Morotai. Masyarakat setempat memanfaatkan bulu babi sebagai bahan makanan, namun pengetahuan mengenai bulu babi sendiri hanyalah semata-mata sebagai  bahan  makanan  yang bernilai  ekonomis. Sedangkan aspek morfologi dan ekologi sampai sejauh ini belum diketahui. Penelitian ini bertujuan mempelajari karateristik morfologi dan menganalisis indeks ekologi bulu babi  (Echinoidea).  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Novermber-Desember 2019 bertempat di Desa Wawama Kecamatan Morotai Selatan Kabupaten Pulau Morotai. Hasil penelitian menunjukan bahwa  ada perbedaan karateristik morfologi dari jenis bulu babi yang ditemukan dilokasi penelitian baik dari bentuk tubuh, warna maupun organ lainnya. Hasil analisis indeks ekologi untuk nilai kepadatan bulu babi terlihat bervariasi,  dimana jenis Diadema setosum memiliki nilai tertinggi disemua stasiun penelitian. Keanekaragaman jenis pada ke tiga stasiun dengan kisaran nilai 0,658-1,032-1,336 dengan nilai rata-rata sebesar 1,009, sesuai pada kriteria  keanekaragaman jenis (H’) pada analisis Shannon Winner kategori sedang. Indeks kemerataan (E) kategori cukup merata karena nilai yang diperoleh berkisar antara 0,329-0,346 rata-rata sebesar 0,336 dan indeks dominasi (C) dinyatakan tidak ada spesies yang mendominasi karena nilai yang diperoleh berkisar antara 0,275-0,535 dengan niali -rata dari tiga stasiun sebesar 0,396. Kata-kata kunci : Kateristik morfologi; indeks ekologi; bulu bab

    BIOEKOLOGI IKAN MANGGABAI (Gloss BIOEKOLOGI IKAN MANGGABAI (Glossogobius giuris) DI DANAU LIMBOTO

    No full text
    The purpose of this study was to determine the relationship between the length and weight of Manggabai fish (Glossogobius giuris) and to know the relationship between the presence of Manggabai fish (Glossogobius giuris) and water quality in Limboto Lake. This research was conducted in February 2019, located in the waters of Lake Limboto, Gorontalo Province. The method used in determining the location of sampling is Purposive Sampling. Fish sampling is determined by considering fishing locations, litoral areas, the presence of residential areas, agricultural and plantation areas, the existence of floating net cages and in the middle of the lake. The study was conducted at 20 observation stations using fish traps in the form of bamboo and used motorcycle tires that have been modified and become traditional fishing gear. The results showed that the physical and chemical parameters in Lake Limboto and showed temperature values ​​ranged from 29.77 to 31.630C, dissolved oxygen levels ranged from 2.1 to 5.48 ppm, pH ranged from 7.09 to 8.94, TDS ranging from 0.251 to 0.369, Nitrite Levels 0.04-0.08 ppm, Nitrate Levels 1.2-4.7 ppm, BOD ranges from 2.5-57 ppm and phosphate levels 0.1-1.14 ppm. The relationship between length and body weight of fish are allometric, where W = 0.8769 L10,023 and constant b (10,023)> 3.  Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek ekologi  ikan Manggabai (Glossogobius giuris) dan aspek biologi panjang dan bobot serta rasionya  di Danau Limboto. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2019, berlokasi di perairan Danau Limboto Provinsi Gorontalo. Metode yang digunakan dalam menentukan lokasi pengambilan sampel adalah Purposive Sampling. Pengambilan sampel ikan ditetapkan dengan mempertimbangkan pada lokasi penangkapan ikan, daerah litoral, keberadaan daerah pemukiman, areal pertanian dan perkebunan, keberadaan keramba jaring apung dan pada bagian tengah danau. Penelitian dilakukan pada 20 stasiun pengamatan dengan menggunakan perangkap ikan berupa bambu dan ban motor bekas yang telah dimodifikasi dan menjadi alat tangkap tradisional. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa parameter fisika dan kimia di Danau Limboto serta menunjukkan nilai suhu berkisar antara 29,77-31,630C, kadar oksigen terlarut berkisar antara 2,1-5,48 ppm, pH berkisar antara 7,09-8,94, TDS berkisar 0,251-0,369, Kadar Nitrit 0,04-0,08 ppm, Kadar Nitrat 1,2-4,7 ppm, BOD berkisar 2,5-57 ppm dan kadar posfat 0,1-1,14 ppm. Hubungan panjang dan bobot tubuh ikan bersifat allometrik dimana W=0,8769L10,023 dan konstanta b (10,023) > 3. Kata kunci : Glossogobius giuris, Kualitas air, Habita

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇