Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Efektivitas Infusum Daun Durian (Durio zibethinus) Sebagai Anestesi Alami Ikan Lele (Clarias gariepinus)
Artificial or natural anesthetic ingredients are needed in the transportation of live fish, because fish must be physiologically alive and healthy to their destination. Durian leaf is one of the natural ingredients that can be used as anesthetics in transport because it contains secondary metabolites such as saponins, tannins and flavonoids. The purpose of this study was to determine the effective concentration of durian leaf infusion as catfish anesthesia during transportation on induction and sedative time, blood glucose profile and survival rate. Fish with an average weight of 185,62 ± 9,06 g in 3 L of water with different concentrations of durian leaf anesthetics are used to determine the status of fish fainting. A complete randomized design (CRD) with four treatments (5%, 15%, 25%, and 35% durian leaf infusion concentrations) and three replications were applied in this study. The results of this study indicated that the best concentration obtained was 35%, with an inductive time of 9 min.19 sec. and a sedative time of 1 min.42 sec. The survival rate of catfish in the best treatment was 88.89%, with a blood glucose level of 63.23 mg/dL.Bahan anestesi buatan atau alami sangat dibutuhkan dalam transportasi ikan hidup, karena ikan secara fisiologi harus tetap hidup dan sehat sampai tempat tujuan. Daun durian adalah merupakan salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai anetesi dalam transport karena mengandung mengandung senyawa metabolit sekunder seperti saponin, tanin dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsentrasi efektif infusum daun durian sebagai anestesi ikan lele terhadap waktu induksi dan sedatif, profil glukosa darah dan sintasan. Ikan dengan berat rataan 185,62 ± 9,06 g dalam 3 L air dengan konsentrasi bahan anestesi daun durian yang berbeda digunakan untuk mengetahui status pingsan ikan. Rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan (konsentrasi infusum daun durian 5%, 15%, 25%, dan 35%.) dan tiga ulangan digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik yang diperoleh adalah 35%, dengan waktu induktif 9 menit-19 detik dan waktu sedatif 1 menit-42 detik. Sintasan ikan lele pada perlakuan terbaik sebesar 88.89%, dengan kadar glukosa darah sebesar 63,23 mg/dL
Parameter Ekologis Sebagai Dasar Pengelolaan Bivalvia di Ekosistem Lamun di Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara
Ponelo Islands is an important area to be developed with the economic potential of fisheries and marine resources. This research was conducted in May-September 2019 aimed to find out Ecological Parameters as the Basis of Bivalvia Management in Seagrass Ecosystems. The sampling method is done by using the method used in determining the observation point is the linear quadratic transect method with sampling bivalves determined intentionally with a systematic perpendicular direction using a transect measuring 1x1 m. All bivalves contained in transects / quadrants are counted and identified. The sampling locations were divided into 4 (four) stations, namely Station I (Otiola Village), Station II (Ponelo Village), Station III (Malambe Village), and Station IV (Tihengo Village). Observations at the study site found several types of seagrass ecosystems including Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, Thalassia hemprichii, and Cymodocea raotundata. Furthermore, 8 (eight) types of bivalves were found which were divided into 4 (four) stations in Ponelo Islands, namely Isognomon isognomum, Pinna muricata, Semele crenulata, Tellina virgata, Trachycardium subrugosum, Spondylus tenellus, Tapes sulcarius, Anadara pilula. The highest abundance index value is Tellina virgata found in Otiola Village with a value of 77.78%. The dominance index value for the highest is in Ponelo Village with a value of 0.88 in the high category. diversity index (D') with a value of 0.63 found in the medium category Malambe village.
Keywords: Bivalvia, Seagrass, Abundance, Dominance, Diversit
Variabilitas Suhu Permukaan Laut Dan Implikasinya Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) Di Perairan Manokwari, Papua Barat
The presence of skipjack fish resources in a fishing area is related to the suitability of the environmental conditions of the waters. This study aims to examine the relationship of sea surface temperature (SPL) to skipjack catches and the characteristics of skipjack catches in Manokwari waters. Data, both catch data and sea surface temperature data, are collected through field surveys by following fishing operations. Furthermore, the data were analyzed descriptively using graphs and mathematically like von Bertalanffy's growth model. The results of this study found that the very small variability of SPL could not explain the variation in the volume of fishermen's catches in Manokwari waters. However, a high SST during the May - August 2013 period is thought to affect the size of the skipjack caught, where the average size of the fish caught inhabited areas near sea level. In addition, the growth of skipjack fish in Manokwari waters is relatively fast with a growth coefficient of 0.42 per year1 and natural mortality between 0.79 per year and 0.81 per year.Kehadiran sumberdaya ikan cakalang di suatu daerah penangkapan berkaitan dengan kesesuaian kondisi lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan suhu permukaan laut (SPL) terhadap hasil tangkapan ikan cakalang dan karakterisitik hasil tangkapan cakalang di perairan Manokwari. Data, baik data hasil tangkapan dan data suhu permukaan laut, dikumpulkan melalui survey lapangan dengan cara mengikuti kegiatan operasi penangkapan dari nelayan. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif menggunakan grafik dan secara matematis seperti model pertumbuhan von Bertalanffy. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa variabilitas SPL yang sangat kecil belum dapat menjelaskan variasi volume hasil tangkapan nelayan di perairan Manokwari. Namun, SPL yang tinggi selama periode Mei – Agustus 2013 diduga mempengaruhi ukuran cakalang yang tertangkap, dimana rata-rata ikan yang tertangkap berukuran kecil yang mendiami daerah dekat permukaan laut. Selain itu, pertumbuhan ikan cakalang di perairan Manokwari tergolong cepat dengan nilai koefisien pertumbuhan 0.42 per tahun dan mortalitas alami antara 0.79 per tahun dan 0.81 per tahun
Potensi Ekstrak Etanol Seledri (Apium graveolens) untuk Maskulinisasi Ikan Cupang (Betta sp)
Betta fish is one of the excellent ornamental fish because it has high economic value. Betta fish that have economic value are male betta fish because it has a beautiful shape. To increase male fish production, steps can be done by masculinization. This study aims to determine the effect of celery extract on the percentage of male betta fish by masculinization. This study uses a completely randomized design (CRD) with 6 treatments and 3 replications. The treatment in this study was 7-day-old betta fish larvae soaked in celery extract media with different concentrations for 8 hours. The treatment is the addition of celery extract as much as 5 mg / L (P1), 10 mg / L (P2), 20 mg / L (P3), 40 mg / L (P4), 80 mg / L (P5) and without the addition of celery extract as a control (P0). Based on phytochemical testing, celery ethanol extract contains steroids, flavonoids, tannins, and phenols. The results showed that the addition of celery extract with different concentrations had a significant effect on the percentage of male betta fish, but there was no significant effect on survival rates.Ikan cupang salah satu ikan hias primadona karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Ikan cupang yang bernilai ekonomis yaitu ikan cupang jantan, karena memiliki bentuk yang indah. Untuk meningkatkan produksi ikan jantan, langkah yang dapat dilakukan dengan cara maskulinisasi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh ekstrak seledri terhadap persentase ikan cupang jantan dengan cara maskulinisasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah larva ikan cupang umur 7 hari yang direndam dalam media ekstrak seledri dengan konsentrasi berbeda selama 8 jam. Perlakuannya adalah penambahan ekstrak seledri sebanyak 5 mg / L (P1), 10 mg / L (P2), 20 mg / L (P3), 40 mg / L (P4), 80 mg / L (P5) dan tanpa penambahan ekstrak seledri sebagai kontrol (P0). Berdasarkan uji fitokimia, ekstrak etanol seledri mengandung steroid, flavonoid, tannin dan fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak seledri dengan perbedaan konsentrasi berpengaruh signifikan terhadap persentase ikan cupang jantan, tetapi tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup
Karateristik Massa Air di Perairan Ekuator Pasifik Barat pada Bulan Agustus 2018
The Western Pacific Equator waters are a meeting place for water masses coming from the Northern and Southern Hemispheres. This study aims to identify the characteristics of water masses formed in the waters of Northern Papua. The study of water mass characteristics in the northern waters of Papua was carried out based on reanalysis data from the World Ocean Atlas (WOA) in August 2018. There were 12 stations divided into 3 transects to be analyzed in this study, namely transect 1 and transect 2 which stretched north-south and transect 3 which stretches east-west. The analysis were performed by method of the core layer and was processed with Sofware Ocean Data View (ODV). The results showed in the waters of North Papua there was a meeting of 2 water masses from the North Pacific and South Pacific. The water masses characteristics in latitudes <5 oLU are affected by surface and intermediates of the South Pacific carried by the Papua New Guinea Coastal Current that flows along the northern coast of Papua New Guinea and into Papua waters and beyond into the waters of the Halmahera Sea. Whereas the mass of water in latitudes > 5 oLU is dominated by surface and intermediate water masses from the North Pacific carried by North Equatorial Counter Current.Perairan Ekuator Pasifik Barat merupakan tempat bertemunya massa air yang datang dari belahan bumi Utara dan belahan bumi selatan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik massa air yang terbentuk di perairan ekuator Pasifik barat. Penelitian karateristik massa air di perairan ekuator Pasifik barat dilakukan menggunakan data reanalysis dari World Ocean Atlas (WOA) bulan Agustus 2018. Terdapat 12 stasiun yang terbagi dalam 3 transek untuk dianalisis dalam kajian ini, yaitu transek 1 dan transek 2 yang membentang utara-selatan dan transek 3 yang membentang barat-timur. Analisis dilakukan dengan metode core layer yang diolah dengan perangkat lunak Ocean Data View (ODV). Hasil penelitian memperlihatkan di perairan ekuator Pasifik barat terjadi pertemuan 2 massa air dari Pasifik utara dan Pasifik selatan. Karateristik massa air pada lintang <5 oLU dominan dipengaruhi oleh massa air permukaan dan intermediate Pasifik selatan yang dibawa oleh Arus bawah Pantai Papua (New Guinea Coastal Current) yang menyusur pantai utara Papua New Guinea dan masuk ke perairan Papua dan seterusnya ke perairan Laut Halmahera. Sedangkan massa air pada daerah lintang >5 oLU didominasi massa air permukaan dan intermediate dari Pasifik Utara yang dibawa oleh Arus Sakal Ekuator
Pengaruh Jenis Umpan Pancing Ulur Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus)
The fishing of kurisi fish (nemipterus nematophorus) using handline in Watdek waters Southeast Maluku district in November 2019. Types of anchovy bait (sardinella leiogaster) and tumel (dendronereis pinnaticirris) are used to catch kurisi fish. The fishing time is divided into two, namely at 07.00 – 10.00 a.m and at 14.00 – 17 p.m. The method used is a comparative descriptive analysis method to see the difference in the time of catching kurisi fish to the catching result and statistical analysis of a completely randomized design (CRD) to see the influence of the bait on the number of catching result. The total number of kurisi fish caught was 498. Tumel bait gets the most catches, 352 (71%), while anchovy bait only get 146 fish (29%). The most effective time for catching kurisi fish is at 07.00 a.m – 10.00 a.m, getting 349 fish (74%) and at 14.00 – 17.00 p.m get 123 fish (26%).Penangkapan ikan kurisi (nemipterus nematophorus) menggunakan pancing ulur di perairan Watdek, kabupaten Maluku Tenggara pada bulan November 2019. Jenis umpan teri (sardinella leiogaster) dan tumel (dendronereis pinnaticirris) yang digunakan untuk menangkap ikan kurisi. Waktu pemancingan dibagi menjadi dua, yaitu pada pukul 07.00 – 10.00 WIT dan pukul 14.00 – 17.00 WIT. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif komparatif untuk melihat perbedaan waktu penangkapan ikan kurisi terhadap hasil tangkapan dan analisis statistik rancangan acak lengkap (RAL) untuk melihat pengaruh jenis umpan terhadap jumlah hasil tangkapan. Jumlah total ikan kurisi yang tertangkap adalah 498 ekor. Umpan tumel mendapatkan hasil tangkapan terbanyak yaitu, 352 ekor (71%), sedangkan umpan teri hanya mendapatkan 146 ekor (29%). Waktu penangkapan ikan kurisi yang paling efektif adalah pada pukul 07.00 WIT – 10.00 WIT mendapatkan 349 ekor (74%) dan pukul 14.00 – 17.00 WIT memperoleh 123 ekor (26 %)
Ekologi Perairan Pulau Tunda Serang Banten: Keadaan Umum Hutan Mangrove
Hutan mangrove kini menghadapi ancaman serius, dimana tekanan antropogenik manusia telah meningkat pesat di wilayah pesisir sekitar kawasan mangrove. Kajian ekologi perairan Pulau Tunda Serang Banten khususnya keadaan umum hutan mangrovenya telah dilakukan pada bulan Januari 2014. Hal ini bertujuan sebagai data dasar dalam mengevaluasi pengelolaan mangrove di Indonesia (khususnya Pulau Tunda Serang Banten) dan kedepannya keberadaan hutan mangrove Indonesia dapat dipertahankan. Data kondisi vegetasi mangrove Pulau Tunda Serang Banten dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan (tegakan mangrove terluar) dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan. Sementara pengukuran kualitas perairan dilakukan secara in-situ. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan hutan mangrove Pulau Tunda Serang Banten pada bagian Timur (Stasiun 1) lebih muda dibandingkan bagian Selatan (Stasiun 2). Kemudian kerapatannya juga lebih tinggi di bagian Timur daripada bagian Selatan, namun kondisi hutan mangrove kedua stasiun masih tergolong baik dan sangat padat. Selain itu, kualitas lingkungan vegetasi mangrove Pulau Tunda masih tergolong tinggi, keanekaragaman maupun dominansi hutan mangrovenya tergolong rendah, keseragaman dalam keadaan agak seimbang, pola penyebarannya tergolong beraturan (regular) dan parameter kualitas perairan tidak menjadi penghambat bagi pertumbuhan mangrovenya.Mangrove forests now face serious threats, where human anthropogenic pressure has increased rapidly in coastal areas around mangrove areas. The ecological study of the waters of Tunda Serang Banten Island, especially the general condition of its mangrove forests, was carried out in January 2014. This was intended as a baseline in evaluating mangrove management in Indonesia (especially Tunda Serang Banten Island) and the presence of Indonesian mangrove forests could be maintained in the future. Data on the condition of the mangrove vegetation of Tunda Serang Banten Island was collected by making line transects and plots drawn from the reference point (outermost mangrove stands) and perpendicular to the coastline to the mainland. While the measurement of water quality is done in-situ. The results showed that the growth of the mangrove forest of Tunda Serang Island in Banten on the East (Station 1) was younger than that in the South (Station 2). Then the density is also higher in the East than in the South, but the condition of the mangrove forests of both stations is still relatively good and very dense. In addition, the environmental quality of Tunda Island's mangrove vegetation is still relatively high, the diversity and dominance of mangrove forests is low, uniformity in a somewhat balanced condition, regular distribution patterns and water quality parameters are not a barrier to the growth of mangroves
Famili Rhizophoraceae di Hutan Mangrove KKPD Rupat Utara Provinsi Riau Bagian I, Deskripsi Anggota
Monitoring the richness of mangrove species is very much needed in formulating management and conservation of mangroves, so a study of the description of the members of the Rhizophoraceae family was conducted in July 2018 in the mangrove forest of the North Rupat KKPD. This study aims to explore the Rhizophoraceae family members who compile the North Rupat KKPD mangrove forest and also aims as a baseline in evaluating the mangrove ecosystem of the North Rupat KKPD in the future. The method used is line transect and cruising. This means that the collected specimens become more complete. A total of 5 species of Rhizophoraceae members have been identified as compilers of the North Rupat KKPD mangrove forest namely Bruguiera gymnorrhiza, B. sexangula, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata and R. mucronata.Pemantauan kekayaan spesies mangrove sangat diperlukan dalam merumuskan suatu pengelolaan dan konservasi mangrove, sehingga kajian deskripsi angota-anggota famili Rhizophoraceae dilakukan pada bulan Juli 2018 di hutan mangrove KKPD Rupat Utara. Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi anggota famili Rhizophoraceae yang menyusun hutan mangrove KKPD Rupat Utara dan juga bertujuan sebagai data dasar dalam mengevaluasi ekosistem mangrove KKPD Rupat Utara dikemudian harinya. Metode yang digunakan adalah transek garis dan jelajah. Hal ini bermaksud agar spesimen yang dikumpulkan menjadi lebih lengkap. Sebanyak 5 spesies anggota Rhizophoraceae teridentifikasi sebagai penyusun hutan mangrove KKPD Rupat Utara yaitu Bruguiera gymnorrhiza, B. sexangula, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata dan R. mucronata
DINAMIKA PARAMETER OSEANOGRAFI TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN TERI PADA BAGAN PERAHU DI TELUK DODINGA, KABUPATEN HALMAHERA BARAT
Teri (Stolephorus spp) is the mainly catched of boat life nets in Bodinga Bay, West Halmahera district. The life of teri like other small pelagic fish was needed seas parameter as well as Its live needed. The aims of this study are to know the dynamic of sea’s parameter affected to boat liftnets catched in Dodinga Bay. The data of water’s parameters like sea surface temperature, salinity, water brightness, current velocity, wind speed and teri’s catches are collected by in situ way. Data analysis by using descriptic and statistic method to explain the connection between the factors with multiple linear regression method. The result of f test showing that all water’s parameters is together had have real impact on fish catches with fcount is 9.058 and significant values is less than 0.004 while the t test show that in individual parameter only wind speeds are had have real impact on teri catches with t test value is-3.010 at significant value is 0.005 (α= ( 0.05 ). The regression equation formed to explain the wind speed and anchovies catch him are = 526.666 - 72.513 X1 + e. Furthermore get also that the optimal of teri (Stolephorus spp) catches at Dodinga Bay was occurs on range of sea surface temperature are 24 – 28oC, salinitas of 25 - 30 ppt, wind speed of 0 - 2,5 m/s, current velocity are 0,1 - 0,7 m/s and the brightness of waters are 8-11 meters.Ikan teri (Stolephorus spp) merupakan hasil tangkapan utama perikanan bagan perahu di Teluk Dodinga. Kehidupan ikan teri seperti ikan pelagis kecil lainnya juga membutuhkan parameter kondisi lingkungan perairan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan mengetahui dinamika parameter oseanografi terhadap hasil tangkapan Bagan Perahu di Teluk Dodingga Kabupaten Halmahera Barat. Data parameter oseanografi perairan berupa suhu permukaan laut, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, kecepatan angin dan hasil tangkapan ikan teri dikumpulkan secara in situ. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan statistik untuk menerangkan hubungan antar faktor menggunakan regresi linear berganda. Hasil uji F menunjukan bahwa secara bersama-sama semua faktor oseanografi berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan ikan teri dengan nilai Fhitung sebesar 9.058 dan nilai signifikansi kurang dari 0.004 sedangkan hasil uji t menunjukan bahwa secara individu hanya kecepatan angin yang berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan ikan teri dengan nilai signifikasi sebesar -3.010 dengan nilai signifikansi 0.004 (a = (0.05). Model persamaan regresi untuk menjelaskan hubungan kecepatan angin dan hasil tangkapan teri adalah = 26.666 - 72.513 X1 + e. Selanjutnya didapat pula bahwa hasil tangkapan ikan teri (Stolephorus spp) yang optimal pada teluk Dodinga pada rentang suhu permukaan laut 24 – 28 oC, Salinitas sebesar 25 – 30 ppt, kecepatan angin sebesar 0 – 2,5 meter/detik, kecepatan arus sebesar 0,1 – 0,7 meter/detik dan kecerahan perairan sebesar 8-11 meter
Potensi Lamun di Kampung Aisandami Kabupaten Teluk Wondama dan Strategi Pengelolaanya
Seagrass ecosystem have primary and secondary productivity with great support to the abundance and diversity of fishes and it’s biota associations. Seagrass ecosystems are also as a coastal resources that have an important role of environmental services. Some community activities will directly or indirectly can have an impact on habitat degradation and biodiversity of seagrass ecosystems. The importance oto assess the potential of seagrass ecosystem and it’s biotas association is to know of sea grass’s role to provides of environmental services is the aim of this study. This research was conducted in the waters of Kampung Aisandami, Teluk Wondama Regency during June - July 2019. Data collection methodology was used is structured random methods quadrant transects at two observations to reveal data on seagrass community structure. The datas obtained were tabulated and displayed in tables and figures. Thalassia hemprichii and Enhalus acoroides were found at two observation sites. Another type found outside the observation transect is Halophila ovalis. E. acoroides seagrass species have a frequency value is 0.77 which shows that distribution of E. acoroides is wider than T. hemprichii which has a frequency is 0. 58. Both of station show that T. hemprichii has a frequency value of 0.7 where it indicates that distribution is wider compare with E. Acoroides. T hemprichii has the highest relative density at both observation stations. The status of seagrass of both stations is classified as poor or unhealthy with seagrass value ≥ 30-59.9%. The highest importance index is the T. hemprichii seagrass at both stations and has a higher role than the E. acoroides. The community-based management model is the a suitable model that can be used to developing coastal ecosystem management including seagrass ecosystems in this village.Ekosistem lamun memiliki produktivitas primer dan sekunder dengan dukungan yang besar terhadap kelimpahan dan keragaman ikan serta biota asosiasi. Ekosistem lamun juga merupakan sumberdaya pesisir yang memiliki peran sangat besar dalam penyediaan jasa lingkungan. Beberapa aktivitas masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dapat berdampak pada degradasi habitat dan keanekaragaman hayati ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi ekosistem lamun dan strategi pengelolaannya. Lokasi studi berada di perairan Kampung Aisandami Kabupaten Teluk Wondama, dan berlangsung pada bulan Juni – Juli 2019. Pengumpulan data menggunakan metode acak terstruktur dengan transek kuadran pada dua lokasi pengamatan untuk mengungkapkan data struktur komunitas lamun. Data yang diperoleh dianalisis secara tabulasi dan ditampilkan dalam bentuk tabel serta gambar. Jenis Thalassia hemprichii dan Enhalus Acoroides ditemukan pada 2 lokasi pengamatan. Jenis lain yang ditemukan di luar transek pengamatan adalah Halophila ovalis. Jenis lamun E. acoroides memiliki nilai frekunsi 0.77 yang menujukan bahwa jenis E. Acoroides penyebarannya lebih luas dibandingkan dengan jenis T. hemprichii yang memiliki nlai Frekuensi 0. 58. Pada Stasiun 2 jenis T. hemprichii memiliki nilai frekunsi 0.7 yang menunjukan bahwa penyebaran lebih luas dibandingkan jenis E. Acoroides. Jenis T hemprichii memiliki kerapatan relatif tertinggi pada kedua stasiun pengamatan. Status padang lamun kedua stasiun tergolong miskin atau kurang sehat dengan nilai penutupan lamun ≥ 30-59,9 %. Indeks Nilai Penting tertinggi adalah jenis lamun T. hemprichii pada kedua stasiun dan mempunyai peranan yang lebih tinggi dari jenis E. acoroides. Potensi lamun di Kampung Aisandami memerlukan pengelolaan yang terintegrasi dengan baik. Model pengelolaan berbasis masyarakat menjadi model yang tepat dalam mengembangkan pengelolaan ekosistem pesisir termasuk ekosistem padang lamun di perairan kampung Aisandami