Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Kelimpahan dan Indeks Ekologis Perifiton di Sungai Bone Kabupaten Bone Bolango Gorontalo
Periphyton is an organism that lives attached to natural substrates such as rocks. The purpose of this study was to determine the abundance, abundance and ecological index of peryphyton in bone river bone bolango in gorontalo regency. This research was conducted in two stations, namely Panggulo Village, East Suwawa District and Tolomato Village, Suwawa Tengah District, Bone Bolango Regency. The results showed that in the Bone River there were 23 genera consisting of 8 classes. The highest relative abundance of periphyton was from the class Bacillariophyceaeby 33%. The periphyton diversity index at Station 1 ranges from 1,80 to 1,90 and at Station 2 ranges from 1,81 to 1,99. The periphyton uniformity index at Station 1 ranges from 0,70 to 0,75 and at Station 2 ranges from 0,86 to 0,93. The dominance index is almost no individual who dominates.Perifiton merupakan organisme yang hidup menempel pada substrat alam iseperti batu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kelimpahan perifiton di Sungai Bone Kabupaten Bone Bolango. Penelitian ini dilakukan di dua stasiun yakni di Desa Panggulo Kecamatan Suwawa Timur dan Desa Tolomato Kecamatan Suwawa Tengah Kabupaten Bone Bolango. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Sungai Bone ditemukan 23 genus yang terdiri dari 8 kelas. Kelimpahan relatif perifiton yang tertinggi yaitu dari kelas Bacillariophyceae sebesar 33%. Indeks keanekaragaman perifiton di Stasiun 1 berkisar 1,80-1,90 dan pada Stasiun 2 berkisar 1,81-1,99. Indeks keseragaman perifiton di Stasiun 1 berkisar 0,70-0,75 dan di Stasiun 2 berkisar 0,86-0,93. Indeks dominansi hampir tidak ada individu yang mendominasi
Kinerja Pertumbuhan Larva Ikan Depik (Rasbora tawarensis) dengan Tingkat Pemberian Pakan yang Berbeda
Depik fish (Rasbora Tawarensis) is one of the endemic fish of Lake Laut Tawar which has high economic value. However, now Depik fish are in endangered status, so it is necessary to conserve Depik fish by one way, namely domestication. To carry out domestication, information is needed about proper feed management, one of which is feeding rate. This research was conducted experimentally using a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications. The treatments in this study included: feeding rates of 2% (A), 3% (B), 5 (C) and 7% (D). Parameters observed were absolute weight growth (PMB), absolute length growth (PPM), coefficient of diversity (KK) and water quality. The data analysis used was the F test and Duncan's test, while the water quality data were analyzed descriptively. Based on the two tests, it was found that the best feeding rate for the growth performance of Depik fish larvae was 5%. Water quality during the study was also considered normal for the life of Depik fish.Ikan Depik (Rasbora tawarensis) adalah salah satu ikan endemik Danau Laut Tawar yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Namun kini ikan Depik masuk dalam status terancam punah, sehingga perlu dilakukan pelestarian ikan Depik. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu melalui domestikasi. Untuk melakukan domestikasi diperlukan informasi tentang manajemen pakan yang tepat, salah satunya adalah tingkat pemberian pakan. Penelitian ini dilakukan dengan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga pengulangan. Perlakuan pada penelitian ini meliputi: tingkat pemberian pakan 2% (A), 3 % (B), 5 (C) dan 7 % (D). Parameter yang evalusi adalah pertumbuhan berat mutlak (PMB), pertumbuhan panjang mutlak (PPM), koefisiensi keragaman (KK) dan kualitas air. Analisa data menggunakan analisis ragam dan uji Duncan, sementara data kualitas air dianalisis secara deskripif. Berdasarkan kedua uji tersebut diperoleh hasil bahwa tingkat pemberian pakan terbaik bagi kinerja pertumbuhan ikan Depik adalah 5%. Kualitas air selama penelitian juga tergolong normal bagi kehidupan ikan Depik
Aspek Reproduksi Ikan Nyalian (Barbodes binotatus Valenciennes, 1842) di Danau Tamblingan
The reproduction aspects of spotted barb (Barbodes binotatus Valenciennes, 1842) in Tamblingan Lake are not yet known, so that efforts to manage the resources of this fish cannot be carried out. This study aims to determine the reproduction aspects of spotted barb in Tamblingan Lake. Sampling was conducted from January to June 2019. This research used descriptive and quantitative methods. Purposive sampling method used for catched the spotted barb at five stations. Sampling was done once in a month. The fish were collected used gill net with a mesh size of 0.5; 1.0; 1.5; 2.0; 2.5; 3.0 cm. The samples of spotted barb that found during data collection were 208 individuals. The results showed that the ratio between the sex ratio of male and female spotted barb was 1.17: 1 which indicates a balanced sex ratio, with the gonad maturity stage of male fish more varied (I-IV) than female fish (III and IV). The highest average gonadosomatic index (male and female) was found in March and the lowest in January. The fecundity ranges from 57-23,897 eggs.Aspek reproduksi ikan nyalian (Barbodes binotatus Valenciennes, 1842) di Danau Tamblingan belum diketahui, sehingga upaya pengelolaan sumber daya ikan ini belum dapat dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi ikan nyalian di Danau Tamblingan. Sampling dilakukan kurun waktu Januari-Juni 2019. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling di lima titik stasiun. Pengambilan sampel dilakukan satu kali pada setiap bulan. Alat tangkap yang digunakan adalah jaring insang yang memiliki ukuran mata jaring 0,5; 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; 3,0 cm. Sampel ikan nyalian yang ditemukan selama pengambilan data sebanyak 208 individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan antara nisbah kelamin ikan nyalian jantan dan betina yaitu 1,17:1 yang menunjukkan nisbah kelamin seimbang. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan jantan lebih bervariasi (I-IV), dibandingkan ikan betinanya (III dan IV). Rata-rata indeks kematangan gonad (IKG) tertinggi (jantan dan betina) ditemukan pada bulan Maret dan terendah pada bulan Januari. Fekunditasnya berkisar antara 57-23.897 butir
Kandungan Logam Berat Pb, Cd, Cu, Zn, Ni dan Senyawa Polisiklik Aromatik Hdrokarbon (PAH) dalam Sedimen di Teluk Jakarta
Research on heavy metals content Pb, Cd, Cu, Zn, Ni and Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) in sediment were carried out in Jakarta Bay in Mei 2016. The purpose of this research is to known the degree of heavy metals pollution Pb, Cd, Cu, Zn, Ni and PAH in sediment in its relation to marine biotas protection. Research location were Ancol/Marunda waters, Gembong Estuary and Pari Island waters. Sediment samples analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) and Gas Chromatography. The results showed that according to contamination factor values, geo accumulation and load pollution index, sediment in Jakarta Bay including to low contamination and unpolluted category by Pb, Cd, Cu, Zn, and Ni, while PAH content also still lower compared to sediment quality guideline.Penelitian kandungan logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, Ni dan Senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dalam sedimen telah dilakukan di perairan Teluk Jakarta pada bulan Mei 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, Ni dan PAH dalam kaitnnya dengan perlindungan biota laut. Lokasi penelitian berada di Perairan Ancol/Marunda, Muara Gembong dan Pulau Pari. Contoh sedimen di analisis dengan menggunakan Spektofotometer Penyerapan Atom (AAS) dan Gas Chromatografi. Hasilnya menunjukkan berdasarkan nilai faktor kontaminasi (CF), indek geoakumulasi (I_geo) dan indek beban pencemaran (PLI), sedimen di Perairan Teluk Jakarta ini termasuk kategori terkontaminasi rendah dan kategori tidak tercemar oleh logam berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni, sedang kandungan total PAH juga masih rendah dibandingkan dengan baku mutu sedimen
Trend Kunjungan Wisatawan Mancanegara di Kawasan Konservasi Taman Nasional Teluk Cenderawasih dengan Wisata Minat Khusus Hiu Paus (Rhincodon typus)
Tourist areas have a significant role in several aspects including economic, social and environmental. The national park has a considerable potential in the aspect of tourism. In addition to having mega biodiversity, the Cenderawasih Bay National Park (TNTC) also has a strong special attraction in term of whale shark, available year-round. Therefore, foreign tourism potential at TNTC is very high and much in demand by both local and foreign tourists. By processing visitation data, we were able to obtain trend and potentials in supporting the carrying capacity of whale shark tourism areas. Through these data, the estimated number of visitors in 2020 at TNTC was also obtained. Data were performed by country grouping and quantified the number of tourists visiting TNTC. By determining the number of foreign visitors, it was found out the intensity of the visit of each country and also countries which are targeted for TNTC’s future promotions. Countries with high intensity visit are suitable for future promotion targets including Australia, USA, UK, Germany and Switzerland.Kawasan wisata memiliki peran yang signifikan dalam beberapa aspek diantaranya aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Taman Nasional memiliki potensi yang cukup besar dalam aspek wisata. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, kawasan konservasi Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) juga mempunyai daya tarik khusus yang cukup kuat berupa keberadaan hiu paus yang selalu ada tiap tahunnya, sehingga potensi wisata pada TNTC sangat tinggi dan karenanya banyak diminati oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Data diolah untuk mengelompokan negara dan jumlah wisatawan yang mengunjungi TNTC. Melalui pengolahan data kunjungan wisatawan mancanegara antara tahun 2013-2019, terlihat trend dan potensi minat khusus whale shark dalam menunjang daya dukung kawasan wisata TNTC. Trend juga dapat menduga jumlah wisatawan mancanegara pada tahun 2020. Dari jumlah pengunjung dapat diketahui intensitas kunjungan pengunjung berdasarkan negara sehingga dapat diketahui negara mana yang menjadi sasaran/potensi bagi TNTC untuk melakukan promosi wisata. Negara yang memiliki intensitas kunjungan yang tinggi cocok menjadi sasaran promosi TNTC diantaranya Australia, Amerika, Inggris, Jerman, dan Swiss
Aktivitas Pemijahan, Perkembangan Awal, dan Pertumbuhan Larva Ikan Pelangi Arfak dalam Kondisi Laboratorium: Studi Pendahuluan untuk Penangkarannya
Comprehensive information regarding the reproduction, early development, and growth of larvae is very important in the efforts of captive breeding and reintroduction of endangered fish species. One of the species that is starting to be threatened is the Arfak rainbowfish, Melanotaenia arfakensis which is already in the vulnerable category and its information is still relatively limited. Therefore, this study was conducted to describe the spawning activity, early development, and growth of the larvae of this rainbow fish species under laboratory conditions. Experiments on a laboratory scale were carried out in March-September 2017. The fish used came from the Nimbai Stream. A total of three pairs of individual males and females ranging in size from 46.5 to 60.1 mm were selected for treatment. However, only one pair was successfully observed spawning activity completely. Spawning takes place between morning and noon in three spawning periods. In each period, spawning lasts between 8 and 11 days. Between spawning periods takes 14 to 22 days. After fertilization, the eggs are attached with filaments to the spawning substrate and placed at a depth of 7.3-24.3 cm from the surface of the water. One group of eggs spawned consists of 78-116 eggs with a diameter range between 1.05 and 136 mm. The eggs hatch in a period of 4 to 10 days. The body length of the newly hatched larvae ranges from 4.13-4.40 mm and will reach a size of 7.85 mm with a survival rate of 48.1% after 41 days. The results of this study found several advantages from the characteristics of spawning and growth in the early stages that are useful for captive breeding efforts and reintroduction of this rainbowfish to their natural habitat. Thus, its population in the Prafi River system can be maintained.Informasi yang lengkap mengenai reproduksi, perkembangan awal, dan pertumbuhan larva menjadi sangat penting dalam upaya penangkaran dan reintroduksi spesies ikan yang terancam punah. Salah satu di antara spesies yang mulai terancam adalah ikan elangi Arfak, Melanotaenia arfakensis yang sudah berada dalam kategori rentan dan informasinya masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan aktivitas pemijahan, perkembangan awal, dan pertumbuhan larva spesies ikan elangi ini dalam kondisi laboratorium. Percobaan dalam skala laboratorium dilaksanakan pada bulan Maret-September 2017. Ikan yang digunakan berasal dari Sungai Nimbai. Sebanyak tiga pasang individu jantan dan betina dengan kisaran ukuran 46,5 sampai 60,1 mm dipilih untuk perlakuan. Namun, hanya satu pasangan yang berhasil diamati aktivitas pemijahannya secara lengkap. Pemijahan berlangsung di antara waktu pagi hari sampai siang hari dalam tiga periode pemijahan. Dalam setiap periode, pemijahan berlangsung di antara 8 dan 11 hari. Antarperiode pemijahan membutuhkan waktu 14 sampai 22 hari. Setelah dibuahi, telur dilekatkan dengan filamen pada substrat pemijahan dan diletakkan pada kedalaman 7,3-24,3 cm dari permukaan air. Satu kelompok telur yang dipijahkan terdiri atas 78-116 butir dengan kisaran diameter di antara 1,05 dan 136 mm. Telur menetas dalam periode 4 sampai 10 hari. Panjang tubuh larva yang baru menetas berkisar 4,13-4,40 mm dan akan mencapai ukuran 7,85 mm dengan tingkat sintasan 48,1% setelah 41 hari. Hasil penelitian ini menemukan beberapa kuntungan dari karakteristik pemijahan dan pertumbuhan tahap awal yang bermanfaat untuk upaya penangkaran dan pelepasliaran ikan ini ke habitat aslinya. Dengan demikian, populasinya di sistem Sungai Prafi dapat tetap dilestarikan
Kelayakan Ekonomi Alat Tangkap Ikan Bandrong Cakalang di Perairan Dangkal
The district waters of Barru, South Sulawesi have enormous fishery potential and taken by various fishing gears. One of the fishing gears is the Cakalang bandrong (skipjack tuna blanket net) which is a fishing gear modified by the local community, catch large pelagic fish in shallow water. This study aims to determine the economic feasibility of the skipjack tuna blanket net used by fishermen in the shallow waters Barru. Data collection was carried out through interviews with bandrong owners and fishermen, while observations were made on 3 units of Cakalang bandrong fishing gear and methods. The results showed that the NPV and B/C ratio>1, IRR> 12% interest rates, with a payback period of less than 2 years, so that the fishing using the skipjack tuna blanket net fishing gear is considered profitable, so it is feasible to be developed.Perairan Kabupaten Barru Sulawesi Selatan memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar dengan beragam alat tangkap yang digunakan. Salah satunya adalah bandrong Cakalang (Skipjack Tuna Blanket Net) yang merupakan alat tangkap hasil modifikasi masyarakat setempat dengan menggabungkan kemampuan melihat tanda-tanda alam dan kemampuan merancang alat yang dapat menangkap ikan pelagis besar di air dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan aspek ekonomi bandrong Cakalang yang digunakan nelayan di di Perairan dangkal Kabupaten Barru. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan pemilik bandrong dan nelayan, sedangkan observasi dilakukan terhadap 3-unit alat dan metode penangkapan bandrong Cakalang. Hasil penelitian memperoleh nilai NPV dan B/C ratio >1, IRR > 12% suku bunga berlaku, dengan masa pengembalian modal kurang dari 2 tahun, sehingga usaha penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap bandrong Cakalang dianggap menguntungkan dan layak untuk dikembangkan
Potensi Karbon pada Lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides di Perairan Pantai Waai Pulau Ambon
Seagrass as a high-level plant utilizes carbon dioxide to produce organic matter and stores it in biomass, so that this plant has the potential to reduce carbon dioxide pollution in the environment. This study aimed to analyze the carbon stock and carbon sequestration of two seagrass species in Waai Coastal Waters, Ambon Island. Thalassia hemprichii and Enhalus acoroides were the main focus of this research. These species are the dominant species in Waai Coastal Waters. This research was conducted in June 2019 at two research stations based on substrate differences, namely Station 1 representing a muddy substrate, and Station 2 representing a sandy substrate. The analysis of carbon stocks was carried out using a biomass analysis approach, which was divided into above the substrate and below the substrate. The analysis of carbon sequestration was carried out using the production rate analysis approach. The carbon content analysis was based on the Walkley and Black method. Based on the research results, it was found that the potential carbon stock in E. acoroides ranged from 112.38 - 126.34 gC.m-2. It was higher than T. hemprichii that ranged from 9.31 - 11.28 gC.m-2. This carbon stock was higher at below substrate, especially in the rhizome, which reached 50% of the total carbon stock. The potential of carbon sequestration was also higher in E. acoroides (1.45 - 1.81 gC.m-2.d-1) compared to T. hemprichii (0.43 - 0.54 gC.m-2.d-1). The ability of these two species to absorb and store carbon was better in the muddy substrate area because of the sufficient nutrient content.Lamun sebagai tanaman tingkat tinggi memanfaatkan karbondioksida untuk menghasilkan bahan organik dan menyimpannya dalam biomassa, sehingga tanaman ini berpotensi mengurangi pencemaran gas karbondioksida di lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cadangan dan serapan karbon dua spesies lamun di Perairan Pantai Waai, Pulau Ambon. Dua spesies lamun yang menjadi fokus penelitian adalah Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides yang merupakan spesies dominan pada perairan tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2019 pada dua stasiun penelitian berdasarkan perbedaan substrat yaitu Stasiun 1 mewakili substrat berlumpur, dan Stasiun 2 mewakili substrat berpasir. Analisis cadangan karbon dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis biomassa, yang dibedakan atas bagian di atas substrat dan bagian di bawah substrat. Analisis serapan karbon dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis laju produksi. Analisis kandungan karbon didasarkan pada metode Walkley and Black. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh potensi cadangan karbon pada spesies E. acoroides berkisar antara 112,38 – 126,34 gC.m-2 dan lebih tinggi dari pada T. hemprichii yang berkisar antara 9,31 – 11,28 gC.m-2. Cadangan karbon ini lebih tinggi pada bagian bawah substrat khususnya pada bagian rhizoma yang mencapai 52% dari total cadangan karbon. Potensi penyerapan karbon juga lebih tinggi pada spesies E. acoroides yang berkisar antara 1,45 – 1,81 gC.m-2.h-1 dibandingkan T. hemprichii yang berkisar antara 0,43 – 0,54 gC.m-2.h-1. Kemampuan kedua spesies tersebut dalam menyerap dan menyimpan karbon lebih baik pada daerah substrat berlumpur didukung dengan kandungan nutrien yang cukup
Kajian Profil Kearifan Lokal Lilifuk: Traditional Ecological Knowledge (Tek) di Desa Kuanheum
This research was conducted in Kuanheum Village, West Kupang District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara from May to June 2020. The purpose of this study is to describe the values of local wisdom found in the coastal communities of Kuanheum Village, Kupang Regency. The research method used in this research is descriptive qualitative method and case studies with an ethnographic study approach. The number of respondents taken was 30 people. Respondents consist of traditional elders, village heads, and representatives of non-governmental organizations. The management concept of Lilifuk is a community based management model to build management based on a subjective approach and a structural approach.Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kuanheum Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur pada bulan Mei hingga Juni 2020. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal apa saja yang terdapat pada masyarakat pesisir Desa Kuanheum Kabupaten Kupang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan studi kasus dengan pendekatan studi etnographic. Jumlah responden yang diambil sebanyak 30 orang. Responden terdiri dari tetua adat, kepala desa, dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat. Konsep pengelolaannya Lilifuk bersifat community based management Model membangun pengelolaan berbasis pada pendekatan subyektif dan pendekatan struktural
Survei Kualitas Air Danau Pandan yang Terletak di Kecamatan Pinangsori Kabupaten Tapanuli Tengah: Ekologi
Lake Pandan had an area of ± 103 hectares located in the village of Parjalihotan Baru, Pinangsori sub-district, Tapanuli Tengah district. The status of Lake Pandan was still rarely known by the people of Central Tapanuli and outside communities of the Central Tapanuli Regency, so research on Lake Pandan was still rarely done. The purpose of this study was to determine the water quality observed from the physical parameters of temperature and depth, while the chemical parameters observed the pH and DO (Dissolved Oxygen) in waters, and to know the hydrological conditions of the lake pandan. The results of the measurement of Lake Pandan water temperature during the study showed that the water temperature at 10 station points ranged from 32.0 ºC - 36.0 ºC, while the depth of the lake ranged from 0.8 m - 1.7 m. DO value or dissolved oxygen content of lake pandan waters range from 4.91 mg / l - 9.03 mg / l. Lake Pandan water pH ranges from 6.8 to 9.02. The hydrological condition of Lake Pandan was formed by the flow of ditches and rivers that flow into Lake Pandan, among others: Aek Kemuning River and Aek Lobu River. While the Lake Pandan outlet naturally flows northward through the Aek Kemuning River and empties into Sitardas Village, Badiri Central Tapanuli.Danau pandan memiliki luas ± 103 Ha yang terletak di desa Parjalihotan Baru kecamatan Pinangsori kabupaten Tapanuli Tengah. Status keberadaan danau pandan masih jarang diketahui oleh masyarakat Tapanuli Tengah maupun masyarakat luar dari kabupaten Tapanuli Tengah, sehingga penelitian mengenai danau pandan masih jarang dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air danau pandan yang diamati dari parameter fisika yaitu suhu dan kedalaman, sedangkan parameter kimianya mengamati kandungan pH (Potensial Hidrogen) dan DO (Dissolved Oxygen) perairan, serta mengetahui kondisi hidrologi dari danau pandan tersebut. Hasil pengukuran suhu air danau pandan selama penelitian memperlihatkan bahwa suhu air pada 10 titik stasiun berkisar antara 32,0 ºC – 36,0 ºC, sedangkan kedalaman danau berkisar 0,8 m – 1,7 m. Nilai DO atau kandungan oksigen terlarut perairan danau pandan kisaran dari 4,91 mg/l – 9,03 mg/l. pH air danau Pandan berkisar antara 6,8 – 9,02. Kondisi hidrologi Danau Pandan dibentuk oleh aliran parit-parit dan sungai yang yang bermuara ke Danau Pandan antara lain: Sungai Aek Kemuning dan Aek Lobu. Sedangkan outlet Danau Pandan secara alami mengalir ke arah utara melalui Sungai Aek Kemuning dan bermuara ke Desa Sitardas, Badiri Tapanuli Tengah