Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Evaluasi Penerapan Konsep Ekowisata di Kampung Wisata Arborek, Raja Ampat
Evaluation the application of the ecotourism concept in a tourist destination is considered important in maintaining the sustainability of tourism management. Arborek tourism village is one of the best tourist villages in Raja Ampat so that the selection as a research location is considered appropriate to evaluate the application of the ecotourism concept to every tourist activity so that the existence of Arborek Tourism Village is maintained. The purpose of this study is to evaluate the application of the ecotourism concept in the Arborek tourist village. The data was taken using a closed ended questionnaire and then analyzed using the One Score One Criteria Scoring System method. The results showed that tourism managers in Arborek Tourism Village had understood the concept of ecotourism; has a unique and distinctive characteristic, the existence of the carrying capacity of the community, government and has a selling value. It is the same with public perception which states that in terms of village conditions, the impact of tourism activities on the community and tourist facilities has an average score of 6 which means it is good. The same perception was expressed by tourists in terms of facilities and accessibility, namely a score of 6 (good) while for the tourist attraction aspect, tourists stated a score of 7 which means very good. In general, Arborek Tourism Village has implemented the concept of ecotourism well, however, to maintain the sustainability of tourism activities, cooperation between stakeholders involved (community, government and NGOs) is needed so that the sustainability of Arborek Tourism Village is maintained.Evaluasi penerapan konsep ekowisata pada sebuah destinasi wisata dinilai penting dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan wisata. Kampung wisata Arborek tmerupakan salah satu kampung wisata terbaik di Raja Ampat sehingga pemilihan sebagai lokasi penelitian dirasa tepat untuk mengevaluasi penerapan konsep ekowisata pada setiap kegiatan wisata sehingga eksistensi Kampung W isata Arborek tetap terjaga. adapun tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penerapan konsep ekowisata di kampung wisata Arborek. Data diambil menggunakan kuisioner closed ended selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode One Score One Criteria Scoring System. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelola wisata di Kampung Wisata Arborek telah memahami konsep ekowisata; memiliki keunikan dan ciri khas, adanya daya dukung masyarakat, pemerintah dan memiliki nilai jual. Sama halnya dengan persepsi masyarakat yang menyatakan bahwa dari sisi keadaan kampung, dampak kegiatan wisata bagi masyarakat dan fasilitas wisata rata-rata memiliki skor 6 yang artinya adalah baik. Persepsi yang sama diutarakan oleh wisatawan dari sisi fasilitas dan aksesbilitas yaitu skor 6 (baik) sedangkan untuk aspek atraksi wisata wisatawan menyatakan skor 7 yang artinya sangat baik. Secara umum, Kampung Wisata Arborek telah menerapkan konsep ekowisata dengan baik, Namun untuk menjaga keberlanjutan kegiatan wisata diperlukan kerjasama antar stakeholder yang terlibat (masyarakat, pemerintah dan NGO) sehingga keberlanjutan Kampung Wisata Arborek tetap terjaga
Komposisi Makrozoobentos di Sungai Desa Tolomato Kecamatan Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Tolomato Stream is a small river located in Tolomato Village which is directly connected to the main river in Gorontalo Province, namely the Bone River. The method used was a survey and purposive sampling. The research objective was to determine the structure of the macrozoobenthic community in the Tolomato stream. The results showed that 1,181 individuals were divided into 11 families. There were 6 orders of macrozoobenthos (Diptera, Ephemeroptera, Coleoptera, Trichoptera, Plecoptera, Lepidoptera) and 11 families (Chironomidae, Ceratopogonidae, Tabanidae, Limoniidae, Athericidae, Baetidae, Caenidae, Elmidae, Hydropsychidae, Perlodidae, Crambidae classes). The composition of macrozoobenthos that was mostly found was from the Diptera order of 80%.Sungai Tolomato merupakan sungai kecil yang berada di Desa Tolomato yang terhubung langsung dengan sungai utama yang ada di Provinsi Gorontalo yaitu Sungai Bone. Metode yang digunakan adalah survey dan purposive sampling. Tujuan penelitian untuk mengetahui struktur komunitas makrozoobentos di sungai Tolomato. Hasil penelitian ditemukan 1.181 individu yang terbagi dalam 11 famili. Ditemukan makrozoobentos sebanyak 6 ordo (Diptera, Ephemeroptera, Coleoptera, Tricoptera, Plecoptera, Lepidoptera) dan 11 famili (Chironomidae, Ceratopogoninae, Tabanidae, Limoniidae, Athericidae, Baetidae, Caenidae, Elmidae, Hydropsychidae, Perlodidae, Crambidae) dari kelas insekta. Komposisi makrozoobentos yang paling banyak ditemukan yaitu dari ordo Diptera sebesar 80%
Profil Kawasan Reboisasi Mangrove Kepulauan Seribu Berdasarkan Karakteristik Lingkungan dan Fauna Makrobentik Terkait
Macrobenthic fauna is often used as a bioindicator of environmental quality. However, information about the environmental characteristics and the existence of macrobenthic fauna in the mangrove reforestation area is still very limited. The study of the profile of the Seribu Island mangrove reforestation area based on the characteristics of the macrobenthic environment and fauna was carried out in March 2014. The aim of this study is to determine the ecological conditions of the waters around the Seribu Island mangrove reforestation area. To find out the relationship between environmental characteristics and macrobenthic fauna with observation stations carried out by statistics on Correspondence Analysis (CA), while the environmental characteristics that determine macrobenthic fauna and their relationships are carried out with Principal Component Analysis (PCA) statistics and simple linear regression. The results of the study show that the concentration of measured environmental characteristics is not very different between stations and does not exceed the quality standard threshold for marine life. Then the macrobenthic fauna found consisted of 6 species with the highest density at Station 3 (05.00 ind/m2) and the lowest at Station 1 (02.00 ind/m2). At Station 1 the pH and temperature concentration is very high, while Station 2 and 3 have high salinity concentrations. Macrobenthic fauna Atilia (Columbella) scripta, Metopograpsus latifrons, Littoraria scabra, Saccostrea cucculata, and Cardisoma carnifex can be associated with mangroves at all stations. In addition, the environmental characteristics that determine the presence of C. carnifex macrobenthic fauna are pH parameters, where the higher the pH concentration, the lower the density of C. carnifex. Then the environmental characteristics that determine the presence of the macrobenthic fauna of S. cucculata, M. latifrons and A. scripta are determined by DO (Dissolved Oxygen) and salinity parameters namely the lower DO (Dissolved Oxygen) concentration and salinity, the higher the density of S. cucculata, M. latifrons and A. scripta.Fauna makrobentik sering digunakan sebagai bioindikator kualitas lingkungan dan informasi tentang karakteristik lingkungan maupun keberadaan fauna makrobentik di kawasan reboisasi mangrove masih sangat terbatas. Kajian profil kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu berdasarkan karakteristik lingkungan dan fauna makrobentiknya telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekologi perairan di sekitar kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Untuk mengetahui keterkaitan karakteristik lingkungan dan fauna makrobentik dengan stasiun pengamatan dilakukan dengan statistik Correspondence Analysis (CA), sedangkan karakteristik lingkungan penentu fauna makrobentik serta hubungannya dilakukan dengan statistik Principal Component Analysis (PCA) dan regresi linier sederhana. Hasil kajian memperlihatkan bahwa konsentrasi karakteristik lingkungan yang diukur tidak begitu berbeda antar stasiun dan tidak melebihi ambang baku mutu untuk kehidupan biota laut. Selanjutnya fauna makrobentik yang ditemukan terdiri dari 6 spesies dengan kepadatan tertingginya berada di Stasiun 3 (05.00 ind/m2) dan terendahnya di Stasiun 1 (02.00 ind/m2). Pada Stasiun 1 konsentrasi pH dan suhunya sangat tinggi, sedangkan Stasiun 2 dan 3 konsentrasi salinitasnya yang tinggi. Fauna makrobentik Atilia (Columbella) scripta, Metopograpsus latifrons, Littoraria scabra, Saccostrea cucculata dan Cardisoma carnifex dapat berasosiasi dengan mangrove di semua stasiun. Selain itu, karakteristik lingkungan yang menentukan keberadaan fauna makrobentik C. carnifex adalah parameter pH, dimana semakin tinggi konsentrasi pH, maka kepadatan C. carnifex semakin menurun. Selain itu, karakteristik lingkungan yang menentukan keberadaan fauna makrobentik S. cucculata, M. latifrons dan A. scripta ditentukan oleh parameter DO dan salinitas yakni semakin rendah konsentrasi DO dan salinitas, maka kepadatan S. cucculata, M. latifrons maupun A. scripta akan semakin tinggi
Peningkatan Kegiatan Dinas Jaga Mesin pada Pengoperasian Mesin Penggerak Utama pada KM. Hasil Melimpah 18
Watchkeeping is guard work carried out on ships or in ports to create situations and conditions to be safe and under control for 24 hours carried out with the aim of work affairs in order to create safety and security while on duty. Hasil Melimpah 18 Vessel is classified as a fishing vessel of a special type only to accommodate fish cargo and does not carry out fishing operations. In an effort to achieve the goal of watchkeeping, a study is carried out related to the evaluation of the activities of the watchkeeping in the operation of the machine. From the results of observations, it is necessary to increase the activities of the watchkeeping in the operation of the main engine. This needs to be done to improve the performance before and after the machine is operated, and the watchkeeping when the machine is operating. The increase in the activities of the watchkeeping in the operation of the main engine can be done by several improvements, such as in the preparation, operation, and watchkeeping duty activities. In preparation activities, it is necessary to increase the availability of OHS equipment, logbooks, and spare parts as needed. In operating activities, it is necessary to increase the availability of OHS equipment, communication tools, and electrical panels. In watchkeeping duty activities, it is necessary to increase the availability of the watchkeeping schedule, machine daily journals, and measuring tools. Periodic control while the machine is operating is very important. The watchkeeper must have a big responsibility because machine damage can occur if the duty officer on duty commits negligence.Kegiatan dinas jaga adalah suatu pekerjaan jaga yang dilakukan di kapal atau di pelabuhan untuk menciptakan situasi dan kondisi agar aman dan terkendali selama 24 jam yang dilakukan dengan tujuan urusan pekerjan supaya terciptanya keselamatan dan keamanan saat sedang bertugas. KM. Hasil Melimpah 18 tergolong dalam kapal perikanan yang bertipe khusus hanya untuk menampung muatan ikan dan tidak melaksanakan operasi penangkapan. Dalam upaya pencapaian tujuan dinas jaga yang lebih baik dilakukan suatu kajian terkait evaluasi kegiatan dinas jaga mesin pada pengoperasian mesin penggerak. Dari hasil observasi diperlukan adanya peningkatan kegiatan dinas jaga mesin pada pengoperasian mesin penggerak utama. Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan sebelum dan sesudah mesin dioperasikan, dan dinas jaga mesin pada saat mesin beroperasi. Peningkatan kegiatan dinas jaga mesin pada pengoperasian mesin penggerak utama dapat dilakukan dengan adanya beberapa peningkatan dikegiatan persiapan, pengoperasian, dan tugas jaga. Pada kegiatan persiapan diperlukan peningkatan pada ketersediaan peralatan K3, logbook, dan suku cadang sesuai kebutuhan. Pada kegiatan pengoperasian diperlukan peningkatan ketersediaan peralatan K3, alat komuniasi, dan panel listrik. Pada kegiatan tugas jaga diperlukan peningkaktan pada ketersediaan jadwal dinas jaga, jurnal harian mesin, dan alat ukur. Pentingnya pengontrolan secara berkala pada saat mesin sedang beroperasi merupakan tugas dinas jaga. Kerusakan mesin bisa saja terjadi apabila petugas dinas jaga melakukan suatu kelalaian kerja sehingga ini adalah tanggung jawab yang besar
Histopatologi Dan Ekspresi TNF-α (Tumor Necrosis Factor-α) Terhadap Kerusakan Hati akibat Invasi Parasit pada Ikan Kembung (Rastrelliger brachysoma)
Mackerel (Rastrelliger brachysoma) is a type of small pelagic fish lives on the coast and offshore that common infected by parasites. This study aims to identify endoparasits in fish and the effect of the invasion on fish liver tissue through immunohistochemistry technique. The results indicate that there were parasitic agents attack fish livers, including Contracaecum sp and Henneguya sp. The histopathology of liver tissue shows some cells infiltration, cells degeneration and necrosis. The TNF-α expression were positive that was almost all tissue of fish liver infected and cause damage to fish specifically.
Ikan kembung (Rastrelliger brachysoma) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang hidup di pesisir dan lepas pantai yang sering terinfeksi parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi endoparasit pada ikan dan pengaruh invasi pada jaringan hati ikan melalui teknik imunohistokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat parasit yang menyerang hati ikan, antara lain Contracaecum sp dan Henneguya sp. Gambaran histopatologi jaringan hati menunjukkan beberapa infiltrasi sel, degenerasi sel dan nekrosis. Ekspresi TNF-α yang positif hampir semua jaringan hati ikan terinfeksi dan menyebabkan kerusakan pada ikan secara spesifik
Efektivitas Pemanenan Mikroalga (Spirulina platensis) dengan Metode Elektrokoagulasi menggunakan Tegangan yang Berbeda
Research on laboratory scale Spirulina platensis cultivation in Indonesia has developed quite a lot, however, several obstacles occur at harvest time, ranging from high prices and a very long time. Therefore this study aims to determine the effectiveness of the use of electrocoagulation in harvesting S. platensis using different voltage. The research phase included microalgae cultivation, electrocoagulation process, and harvesting of S. platensis, then continued with an analysis of biomass S. platensis, proximate composition, and water quality (pH, temperature, and Ferro (Fe) content). The treatment of electrocoagulation method harvesting of microalgae with voltages 0, 5, 10, and 15 volts (F0, F1, F2, and F3, respectively) were applied in this study. The best biomass harvested with electrocoagulation from F3 treatment was 6.05 gr/L. The proximate content of S. platensis with F0, F1, F2, and F3 treatments were moisture 24.58%, 12.32%, 15.36%, 17.8%, ash 26.56%, 22.42%, 26.53%, 34.99%, protein 34.24%, 30.26%, 25.81%, 21.67%, fat 1.27%, 0.86%, 1.65%, 0.65%, and carbohydrate 13.35%, 34.15%, 30.66%, 25.22%, respectively. The water quality result showed with, F0, F1, F2, and F3 treatments were pH 7, 7, 9, 8, temperature 32°C, 32°C, 32°C, 34°C, Ferro (Fe) 0.1 mg/L, 8.01 mg/L, 12.58 mg/L, 12.29 mg/L, respectively. The best treatment with electrocoagulation method harvesting was F3.Penelitian budidaya Spirulina platensis skala laboratorium di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan, tetapi banyak kendala pada saat pemanenan yaitu mulai dari harga yang tinggi, cara pemanenan yang kurang efektif dan waktu pemanenan yang sangat lama. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode elektrokoagulasi dalam pemanenan S. platensis menggunakan tegangan yang berbeda. Tahapan penelitian meliputi budidaya mikroalga, proses elektrokoagulasi, dan pemanenan S. platensis, kemudian dilanjutkan dengan analisis biomassa S. platensis, komposisi proksimat, dan kualitas air (pH, suhu, dan kadar besi (Fe)). Perlakuan panen mikroalga dengan metode elektrokoagulasi menggunakan tegangan 0, 5, 10 dan 15 volt (kode masing-masing F0, F1, F2, dan F3). Panen biomassa terbaik dengan elektrokoagulasi dari perlakuan F3 adalah 6,05 gr/L. Hasil analisis proksimat S. platensis pada perlakuan F0, F1, F2, dan F3 berturut-turut yaitu kadar air sebesar 24,58%; 12,32%; 15,36%; 17,48%, kadar abu sebesar 26,56%; 22,42%; 26,53%; 34,99%, kadar protein sebesar 34,24%; 30,26%; 25,81%; 21,67%, kadar lemak sebesar 1,27%; 0,86%; 1,65%; 0,65%, dan kadar karbohidrat sebesar 13,35%; 34,15%; 30,66%; 25,22%. Hasil kualitas air perlakuan F0, F1, F2, dan F3 berturut-turut adalah pH 7, 7, 9, 8, suhu 32°C, 32°C, 32°C, 34°C, kadar besi (Fe) 0,1 mg/L; 8,01 mg/L; 12,58 mg/L; 12,29 mg/L. Perlakuan terbaik terjadi pada pemanenan F3 karena biomassa yang dipanen sangat tinggi
Studi Jenis Alat Penangkapan Ikan Tradisional di Sungai Batang Bungo Kabupaten Bungo Provinsi Jambi
Batang Bungo River is one of the main rivers in Bungo Regency and is open water with a length of ± 50 km. Information about the construction of types of fishing gear in the Bungo river is still very limited. The purpose of this study is to identify and classify the types of traditional fishing gear used by Batang Bungo River fishermen in Bungo Regency, Jambi Province. The method used is the survey method. The study was conducted in October-November 2018 in the Batang Bungo watershed, passing four sub-districts consisting of: Rantau Pandan, Muko-Muko Bathin Tujuh, Bathin Tiga Ulu and Bungo Dani. The results showed that there were five groups and seven types of fishing gear consisting of gill net (jaring), traps (bubu/luka, tekalak dan sukam), falling gears (jala tebar), hook and lines (pancing tajur), grappling and wounding (tembak).Sungai Batang Bungo merupakan salah satu sungai utama di Kabupaten Bungo dan merupakan perairan terbuka dengan panjang mencapai ± 50 km. Informasi tentang kontruksi jenis alat penangkapan ikan di sungai batang bungo masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis-jenis alat penangkapan ikan tradisional yang digunakan nelayan Sungai Batang Bungo Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2018 di DAS Batang Bungo, melewati empat Kecamatan terdiri dari: Rantau Pandan, Muko-Muko Bathin Tujuh, Bathin Tiga Ulu dan Bungo Dani. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat lima kelompok dan tujuh jenis alat penangkapan ikan terdiri dari gillnet (jaring), traps (bubu/luka, tekalak dan sukam), falling gears (jala tebar), hook and lines (pancing tajur), grappling and wounding (tembak)
Kelulushidupan Biota pada Sistem Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA)-Padi
Survival rate is a determinant factor of success in multibiota cultivation. This study aims to determine the survival rate of biota cultivated in various combinations in the Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA)-Paddy system. Three combinations (K) of biota and three replications, namely milkfish and paddy(K-2), milkfish, tiger prawns, and paddy (K-3), and milkfish, tiger prawns, and shellfish (K-4) were investigated experimentally in the field using a tarpaulin pond model. Biota was reared for 80 days with a density of 30 individuals each integrated with 30 clumps of rice by floating method. The results showed that the difference in the survival rate of milkfish at K-2 (97.8±1.91%), K-3 (94.4±1.96%), and K-4 (98.9±1.90%) was in the range of 1.1- 3.6% which was not statistically significant (P> 0.05). The survival rate of tiger prawns in K-4 (88.9±1.91%) was descriptively 2.2% higher than K-3 (86.7±1.90%). The survival rate of shellsfish on K-4 biota is 85.6±1.90%. Water quality during experimental is in the range that can be tolerated by each biota. More research is needed which in-depth to optimize the IMTA-Paddy system in brackishwater.Kelulushidupan merupakan faktor determinan keberhasilan pada budidaya multibiota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelulushidupan biota yang dipelihara pada berbagai kombinasi pada sistem Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA)-Padi. Tiga kombinasi (K) biota dan tiga ulangan, yaitu ikan bandeng dan padi (K-2), ikan bandeng, udang windu, dan padi (K-3), dan ikan bandeng, udang windu, dan kerang kijing (K-4) diinvestigasi secara eksperimental lapangan dengan model tambak terpal. Biota dipelihara selama 80 hari dengan kepadatan masing-masing 30 individu yang diintegrasikan dengan 30 rumpun padi metode apung. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan persentase kelulushidupan ikan bandeng pada K-2 (97,8±1.91%), K-3 (94,4±1.96%), dan K-4 (98,9±1.90%) berada pada kisaran 1,1-3,6% yang secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05). Kelulushidupan udang windu pada K-4 (88,9±1.91%) secara deskriptif lebih tinggi 2,2% daripada K-3 (86,7±1.90%). Kelulushidupan kerang pada K-4 biota sebesar 85,6±1.90%. Kualitas air selama pemeliharaan berada pada kisaran yang dapat ditolerir oleh masing-masing biota. Lebih banyak penelitian yang lebih mendalam perlu dilakukan untuk mengoptimalkan potensi budidaya sistem IMTA-Padi di perairan payau
Karakteristik Kimia Rumput Laut Hijau (Caulerpa microphysa dan Codium sp) dari Perairan Kepulauan Riau: tes
Green seaweed is one of the leading marine products from the Riau Islands Province. Types of green seaweed such as Caulerpa microphysa and Codium sp. have potential as functional and pharmaceutical food, but their utilization is not optimal in the Riau Islands region. This study aims to examine the proximate characteristics of seaweed types C. microphysa and Codium sp. The method used in this research is seaweed sampling in the coastal of Natuna and Tanjungpinang, which are the Riau Islands region with abundant green seaweed commodities. The next method is the proximate analysis of dried seaweed, which includes analysis of water content, ash, protein, fat, and carbohydrates and calculating the total energy and energy from fat. The results showed that the proximate content of C. microphysa and Codium sp. respectively for moisture content was 19.88 ± 0.14 and 11.29 ± 0.08%, the ash content was 30.74 ± 0.27 and 55.51 ± 0.41%, protein is 8.97 ± 0.08 and 6.84 ± 0.12%, total fat is 1.20 ± 0.01 and 1.09 ± 0.01%, carbohydrates are 39.22 ± 0.32 and 25.28 ± 0.37%, energy from fat is 10.76 ± 0.06 and 9.77 ± 0.06 Kcal / 100g, total energy is 203.49 ± 1.68 and 138.23 ± 2.02 Kcal / 100g. These results indicate that the type of seaweed C. microphysa is better than Codium sp. in chemical composition and total energy.Rumput laut hijau merupakan salah satu komoditas unggulan hasil laut dari Provinsi Kepulauan Riau. Jenis rumput laut hijau seperti Caulerpa microphysa dan Codium sp. memiliki potensi sebagai makanan fungsional dan farmaseutika, tetapi pemanfaatannya belum optimal di wilayah Kepulauan Riau. Penelitian ini bertujuan untuk menguji karakteristik kimia dari rumput laut jenis C. microphysa dan Codium sp. serta perhitungan total energinya. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah sampling rumput laut di beberapa perairan Natuna dan Tanjungpinang yang merupakan wilayah Kepulauan Riau dengan komoditas rumput laut hijau yang melimpah. Metode selanjutnya yaitu analisis proksimat dari rumput laut kering yang meliputi analisis kadar air, abu, protein, lemak dan karbohidrat serta perhitungan total energi dan energi dari lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan proksimat C. microphysa dan Codium sp masing-masing untuk kadar air yaitu 19,88 ± 0,14 dan 11,29 ± 0,08%, kadar abu yaitu 30,74 ± 0,27 dan 55,51 ± 0,41%, protein yaitu 8,97 ± 0,08 dan 6,84 ± 0,12%, lemak total yaitu 1,20 ± 0,01 dan 1,09 ± 0,01%, karbohidrat yaitu 39,22 ± 0,32 dan 25,28 ± 0,37%, energi dari lemak yaitu 10,76 ± 0,06 dan 9,77 ± 0,06 Kkal/100g, energi total yaitu 203,49 ± 1,68 dan 138,23 ± 2,02 Kkal/100g. Hasil ini menunjukkan bahwa rumput laut jenis C. microphysa lebih baik bila dibandingkan dengan Codium sp. secara komposisi kimia dan energi totalnya
Pengaruh Penggunaan Substrat yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Larva Rajungan (Portunus pelagicus)
Swimming crab is a among Portunidae crab, and in some countries this crab is wellknown as an export commodity. The present study was done to determine the best substrate to improve survival and growth rate of Portunus pelagicus. This study used a completely randomized design with 4 treatments in triplicate. The treatments were: Sand (P1), Mud (P2), Gravel (P3), and Combination of Sand and Gravel (P4). The observed parameters were survival rate, larval weight and length, feed conversion ratio (FCR) and water quality. The results showed that the highest survival rate was seen at P1 (33.67%), the best weight and length gain was at P1 (1.69 g and 0.39 cm) and the lowest was at P2 (1.54 g and 0.34 cm). Data showed that the best FCR is found in treatment P3 of 3.92,.This study showed that the use of sand substrate has the best effect on growth and survival during the rearing of crab larvae.Rajungan termasuk kedalam kelas Portunidae dan di beberapa negara kepiting ini terkenal sebagai komoditas ekspor.Penelitian ini dilakukan untuk menentukan substrat terbaik yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan Portunus pelagicus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan tiga ulangan.Perlakuan tersebut adalah: penggunaan substrat pasir (P1), lumpur (P2), kerikil (P3), dan kombinasi pasir dan kerikil (P4). Parameter yang diamati adalah tingkat kelangsungan hidup, berat dan panjang larva, rasio konversi pakan (FCR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi terlihat pada P1 (33,67%), pertambahan berat dan panjang terbaik terdapat pada P1 (1,69 gr dan 0,39 cm) dan terendah pada P2 (1,54 gr dan 0,34 cm). Data menunjukkan bahwa FCR terbaik terdapat pada perlakuan P3 yaitu 3,92. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan substrat pasir memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva rajungan