Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    Studi Komunitas Padang Lamun di Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara

    Get PDF
    Tanggetada District has a large area of seagrass beds and is often used by the community. Seagrass beds in this area have not been scientifically confirmed, both in terms of species, density and seagrass communities. This study aims to determine the type and density of seagrass in Tanggetada District. The method used in this study is a quadratic transect method in an area of 100 m2 at each station. The location of the research was carried out at 3 stations, namely Station 1 in Tanggetada Village, Station 2 in Palewai Village and Station 3 in Anaiwoi Village. The results showed that 6 species of seagrass were found in Tanggetada District, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila ovalis, and Syringodium isoetifolium. Seagrass density is included in the category of dense and rare. Station 1 has a high density of seagrass with a dense category of 160.46 ind/m2, then Station 2 with a rather dense seagrass density of 117.49 ind/m2 and Station 3 with a low density of seagrass with a rare category of 60.59 ind/m2. Thalassia Hempricii is a seagrass that has the highest density value compared to other seagrass speciesseagrass density in the rare category. Thalassia Hempricii is a seagrass that has the highest density value compared to other seagrass species. Kecamatan Tanggetada memiliki areal padang lamun yang luas dan sering dimannfaatkan oleh masyarakat. Padang lamun di daerah ini belum terkonfimasi secara ilmiah baik itu dari jenis, kerapatan dan komunitas lamunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kerapatan lamun di Kecamatan Tanggetada. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode transek kuadrat pada areal 100 m2 ditiap stasiun. Lokasi penelitian berada di 3 stasiun yaitu Stasiun 1 di Kelurahan Tanggetada, Stasiun 2 di Desa Palewai dan Stasiun 3 Kecamatan Anaiwoi. Hasil penelitian, ditemukan 6 jenis lamun tersebar di Kecamatan Tanggetada yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila ovalis, dan Syringodium isoetifolium. Kerapatan lamun termasuk dalam kategori rapat dan jarang. Stsiun 1 memiliki kerapatan lamun yang tinggi dengan ketegori rapat yaitu 160.46 ind/m2, kemudian Stasiun 2 dengan kerapatan lamun agak rapat yaitu 117.49 ind/m2 dan Stasiun 3 dengan kerapatan lamun yang rendah dengan kategori jarang yaitu 60.59 ind/m2. Thalassia Hempricii merupakan lamun yang memiliki nilai kerapatan paling tinggi dibandingkan jenis lamun lainnya

    Rancang Bangun Media Pertumbuhan Karang Dengan Menggunakan Metode Bioreeftek

    Get PDF
    Coral reefs are one of the invertebrates that inhabit an ecosystem, and there is various aquatic biota. Coral reef ecosystems have an essential role both ecologically for aquatic biota and physically as a barrier to sea waves leading to coastal areas. Artificial reef media (bioreeftek) is a new technology in developing of transplantation methods using natural materials such as coconut shell waste and bamboo. The research objective is about the resistance level of the design of coral growth media (bioreeftek). This research was conducted from August to October 2020 by designing the coral reef bioreeftek media, starting with studying the bioreeftek media design method, collecting tools and materials, to making and placing the media in a predetermined location. Making bioreeftek media as many as eight media, with 81 bamboo poles (9 poles for one medium) and 243 coconut shells were prepared. From the observations' results when placing and the first observation to the second observation with the integrity of 100%, which indicates a reasonably efficient media construction.Terumbu karang merupakan salah satu hewan avertebrata yang mendiami suatu ekosistem dan terdapat berbagai biota perairan. Ekosistem terumbu karang memiliki peranan penting baik secara ekologis untuk biota perairan, juga secara fisik sebagai penahan gelombang laut yang menuju ke daerah pantai. Media terumbu buatan (bioreeftek) merupakan metode yang telah lama dikembangkan, namun penelitian ini dimodifikasikan dengan menggunakan bambu dan tempurung kelapa dengan posisi  tempurung tertutup menghadap kebawah. Tujuan penelitian yaitu mengetahui tingkat ketahanan rancang bangun media pertumbuhan karang (bioreeftek). Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus - Oktober 2020, dengan melakukan perancangan media bioreeftek terumbu karang dimulai dengan mempelajari metode rancang bangun media bioreeftek, pengumpulan alat dan bahan, sampai dengan pembuatan dan penempatan media pada lokasi yang telah di tentukan. Pembuatan media bioreeftek sebanyak 8 media, dengan tiang bambu sebanyak 81 (9 tiang untuk satu media) dan tempurung kelapa sebanyak 243 yang disiapkan. Dari Hasil pengamatan saat penempatan dan pengamatan pertama sampai pengamatan ke dua didapatkan keutuhan media sebesar 100% yang menunjukkan konstruksi media yang cukup efisien

    Strategi Pengelolaan Perikanan Udang Pasca Moratorium Perikanan Di Provinsi Papua Barat

    Get PDF
    The implementation of the fisheries moratorium has an impact on the shrimp industry, namely the cessation of shrimp fishing operations and termination of employees of some shrimp companies in the West Papua Province. The aim of this research is develop a shrimp fisheries management strategy at West papua Province after the end of the moratorium on fisheries so that the shrimp industry can contribute to job creation and increase local revenue. SWOT analysis is used to identify internal and external factors as the basis for the shrimp fisheries policy direction. Recommended strategies for managing Shrimp fisheries; 1) Increasing awareness of coastal communities towards environmental sustainability. 2) Optimizing the productivity of small-scale capture fisheries through improving the quality of fishermen's human resources. 3) Strict law enforcement and improvement of community based fish resource utilization monitoring systems, including improving the quality of HR supervisors. 4) Development of capture fisheries infrastructure, including fuel supply logistics systems. 5) Increased cooperation in fishing business through partnership programs, to ensure the sustainability of operational costs, and the development of business investment. 6) Development of value-added capture fisheries for the welfare of fishermen's income.Pemberlakuan moratorium berdampak pada industri perikanan udang yaitu terjadinya penghentian operasi penangkapan udang dan pemutusan hubungan kerja bagi karyawan bagi sebagian perusahaan udang di Provinsi Papua Barat. Tujuan penelitian adalah menyusun strategi Pengelolaan Perikanan udang di Provinsi Papua Barat setelah penghentian moratorium perikanan agar industri perikanan udang dapat memberikan kontribusi bagi penciptaan lapangan kerja serta peningkatan pendapatan asli daerah. Analisis SWOT digunakan untuk melakukan identifikasi faktor internal dan eksternal sebagai dasar arahan kebijakan perikanan udang. Rekomendasi strategi pengelolaan Perikanan Udang; 1) Peningkatan kesadaran masyarakat pesisir terhadap kelestarian lingkungannya. 2) Optimalisasi produktivitas perikanan tangkap skala kecil melalui peningkatan kualitas SDM nelayan. 3) Penegakkan hukum secara tegas dan peningkatan sistem pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan berbasis masyarakat, termasuk peningkatan kualitas SDM pengawas. 4) Pengembangan infrastruktur perikanan tangkap, termasuk sistem logistik penyediaan BBM. 5) Peningkatan kerjasama usaha penangkapan ikan melalui program kemitraan, untuk menjamin keberlanjutan biaya operasional, dan pengembangan investasi usaha. 6) Pengembangan nilai tambah hasil perikanan tangkap untuk mensejahterakan pendapatan nelayan

    Strategi Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Daya Dukung Wisata Dan CHSE Pada Masa Pandemi Covid-19

    Get PDF
    The reopening of Red Island Beach since July 2020 still has several important problems that must be solved in order to overcome the spread of Covid-19 in tourism areas. The limitation of tourists has not been implemented properly by the tourist managers. It can be seen from the unrealistic decision of the tourist managers to still allow the visitors come even though it already passed the maximum of tourists that can visit during the pandemic. Meanwhile, based on the CHSE facilities, the result showed there are several things which still inappropriate and must be fixed. This research aim to examine the external and internal factors in the reopening of Red Island Beach and also form both of alternative and priority strategies which can be used for the future growth. The results of the data collected through interviews and questionnaires will be analyzed deeply using SWOT-AHP. After the SWOT analysis was found, it showed that the current position of Red Island Beach is in Quadrant VII, which means that the strategy suggested for the development of Red Island Beach is using the concentric diversification strategy. Meanwhile, the result of AHP analysis in all criteria and sub-cateria has a value CR < 0.1, it means the study is consistent and can be used for choosing the priority strategies in Red Island Beach. Those priority strategies are about increasing visitor managements and adding the supporting infrastructure that related with the value of the carrying capacity of Red Island Beach.Pembukaan kembali Pantai Pulau Merah sejak Juli 2020 masih memilki beberapa permasalahan yang penting untuk diselesaikan agar tidak terjadi penyebaran covid-19 di area wisata. Penerapan tentang batasan jumlah wisatawan masih belum dilakukan dengan baik oleh pihak pengelola wisata. Hal tersebut terlihat dari tindakan pengelola wisata yang tetap memasukkan wisatawan meskipun jumlah maksimal yang telah ditetapkan sudah penuh. Sedangkan berkaitan dengan fasilitas CHSE, berdasarkan pengamatan ada beberapa fasilitas yang masih kurang memadai dan perlu untuk dilakukan penambahan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor internal dan eksternal pada pembukaan kembali Pantai Pulau Merah serta merumuskan strategi alternatif dan strategi prioritas yang bisa digunakan untuk pengembangan kedepannya. Hasil dari data yang dikumpulkan melalui wawancara dan kuisioner kemudian dianalisis menggunakan SWOT-AHP. Setelah dilakukan analisis SWOT, Posisi pantai Pulau Merah berada pada kuadran VII yaitu disarankan untuk mengembangkan strategi diversifikasi konsentrik. Sedangkan hasil analisis AHP pada masing-masing kriteria dan subkriteria memiliki nilai CR < 0.1 artinya analisis yang dilakukan konsisten dan dapat digunakan untuk memilih strategi prioritas Pantai Pulau Merah. Strategi prioritas yang didapatkan diantaranya adalah meningkatkan manajemen pengelolaan pengunjung dan menambah sarana prasarana pendukung CHSE yang sesuai dengan nilai daya dukung wisata Pantai Pulau Merah

    Identifikasi Keberadaan Mikroplastik Pada Caranx sexfasciatus Yang Dibudidayakan Di Perairan Teluk Ambon Dalam

    No full text
    The plastic waste production is continuing to increase in waters and has become a problem worldwide. This material, in particular for the size less than 5mm, called microplastic, has been polluting the environment and humans. The aim of this research, therefore, is to identify the presence of types and amount of microplastics in Caranx sexfasciatus cultivated in Ambon Bay waters. The research was conducted in April 2020 in some floating cages as a sampling site located in the Inner Ambon Bay. A purposive sampling method was applied to collect data. The types and amount of microplastics were analysed in zoology laboratory, Mathematics and Science Faculty University of Pattimura (FMIPA Unpatti). Data analysis was carried out by displaying the type and number of microplastics and discussed further. The result revealed that there were types of film and fiber with 95 particles and 685 particles, respectively. The presence of these two types of microplastics is due to the waste disposal activities that derive from the adjacent community and are carried away by tidal currents.Produksi sampah plastik yang dihasilkan terus mengalami peningkatan di perairan sehingga menjadi permasalahan global. Potongan sampah plastik berukuran kurang <5 mm yang disebut mikroplastik, saat ini telah mencemari lingkungan perairan baik bagi organisme maupun bagi manusia. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi keberadaan jenis dan jumlah mikroplastik pada ikan Caranx sexfasciatus yang dibudidayakan di perairan Teluk Ambon. Penelitian dilakukan pada April 2020 dengan lokasi pengambilan sampel ikan pada keramba jaring apung di perairan Teluk Ambon. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu penentuan sampling dengan tujuan tertentu. Analisa jenis dan jumlah mikroplastik dilakukan pada laboratorium zoology FMIPA Unpatti. Analisa data dilakukan dengan menampilkan jenis dan jumlah mikroplastik dan dibahas lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan terdapat jenis film dan fiber dengan jumlah masing-masing 95 partikel dan 658 partikel. Keberadaan kedua jenis mikroplastik ini disebabkan adanya aktivitas pembuangan sampah yang berasal dari masyarakat sekitar maupun yang terbawa arus pasang surut. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang kandungan kimia mikroplastik pada saluran pencernaan ikan serta dampaknya melalui proses biomagnifikasi di perairan

    Distribusi Spasial Tutupan Karang di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua

    Get PDF
    Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) memiliki potensi karang sebanyak 145 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil.  Namun kondisi ekosistem terumbu karang di TNTC mulai terancam akibat fenomena alam dan aktifitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tutupan karang di TNTC berdasarkan bentuk pertumbuhan (lifeform) karang. Penelitian dilakukan dengan metode Point-Intercept Transect (PIT) pada Bulan Mei 2012, dengan pengambilan data terumbu karang per titik (point) sepanjang transek. Penempatan garis transek dilakukan pada 30 stasiun penelitian pada kedalaman 9 - 10 meter. Hasil penelitian menunjukan bahwa persen tutupan karang berdasarkan bentuk pertumbuhan (lifeform) karang hidup berkisar 44 %, karang mati  15%, pasir 31 %, alga 8% dan OT (others) 2%.  Kisaran persentasi tutupan karang hidup antara 31 - 50 % sehingga dikategorikan kondisi sedang. Kondisi tutupan karang tidak jauh berbeda antara zona larang tangkap dan zona tangkap. Penelitian ini mengindikasikan pula bahwa diperlukan pengawasan pada zona larang tangkap karena masih ada masyarakat yang menangkap ikan menggunakan alat tangkap yang merusak di TNTC

    Filogenetik Bulu Babi Tripneustes gratilla menggunakan Gen Sitokrom Oksidase Subunit 1

    Get PDF
    Sea urchin Tripneustes gratilla is multifunction organism that can be used as potential food source because of its high nutrient content. This organism can also be utilized bioindicator of sea waters and as a modal of organism for studying biology’s purposes. The purposes of this research is studying Filogenetic of sea urchin T. gratilla from waters of Wasior and Serui. The research has been doing at the Biotechnology Laboratory of the state of University of Papua on November to December 2009. The sample was extracted by using Chelex 10 % and was amplified with PCR technic (polymerase chain reaction). Sequencing of CO I gens (cythocrome oxidase subunit I) was done using sequencher ABI 377 (Apllied Biosystem). The result of nucleotid sequence data was analyzed utilizing MEGA 4.0.2. This researchs result showed that the gen fragment that was succesfully amplified 601 bp. The sequence result of nucleotid which was analyzed the variaty of nucleotid between the sample from two waters. Filogenetic analyzing toward individu of the two waters produce the two clusters. The first cluster consist of SER 01 and sub cluster which is consisted of WSR 02 and SER 02. While, the second cluster consist of only WSR 01. This result showed that every individu from Wasior (WSR 02) has close genetic relation with other individu from Serui (SER 02), that proved there is genetic flow between the two waters.Bulu babi Tripneustes gratilla merupakan organisme multifungsi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan potensial karena kandungan gizinya yang cukup tinggi. Organisme ini juga dapat digunakan sebagai bioindikator perairan laut dan sebagai organisme model dalam mempelajari aspek-aspek biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari filogenetik (hubungan kekerabatan) bulu babi T. gratilla dari perairan Wasior dan Serui. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Universitas Negeri Papua pada bulan November - Desember 2009. Sampel diekstraksi dengan menggunakan Chelex 10 % dan diamplifikasi melalui teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Perunutan urutan nukleotida (Sequenching) fragmen gen CO I (Cythocrome oxidase sub unit I) dilakukan dengan menggunakan sequencher ABI 377 (Apllied Biosystem). Data urutan nukleotida yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak (software) MEGA 4.0.2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fragmen gen yang berhasil diamplifikasi berukuran 601 pasang basa (pb). Hasil pembacaan urutan nukleotida yang diperoleh memperlihatkan adanya variasi nukleotida diantara individu dari kedua perairan. Analisis filogenetik terhadap individu dari kedua perairan menghasilkan dua kelompok (cluster). Kelompok pertama terdiri dari SER 01 dan sub kelompok yang terdiri WSR 02 dan SER 02. Sedangkan kelompok kedua hanya terdiri dari WSR 01. Hasil ini memperlihatkan bahwa individu yang berasal dari Wasior (WSR 02) memiliki hubungan genetik yang dekat dengan individu yang berasal dari Serui (SER 02). Sehingga menunjukkan adanya keterkaitan genetik antara spesies Tripeneustes gratilla dari kedua perairan tersebut

    Pemanfaatan Bahan Lokal Biji Pala (Myristica sp.) Sebagai Bahan Anestesi Pada Kegiatan Budidaya Ikan Hias Blue Devil (Chrysiptera cyanea)

    Get PDF
    Blue Devil (Chrysiptera cyanea) is one of the very popular seawater ornamental fish commodities that is often sought after in international trade because of its attractive morphology. The trading ornamental fish commodities are very different from the consumption fish commodity because the trade is alive. Handling and transportation play a critical role in this system. However, the problem of delivering these goods is high mortality happened before the fish arrive at their destination. In this study, the delivery of ornamental fish using anesthetic ingredients. The anesthetic ingredients are MS-222, benzocaine, 2-phenoxyethanol, and quinaldine sulfate. The application of this material is not recommended because it will harm fish that can reduce fish immunity. The application of natural anesthetic ingredients can be used as an alternative environment. Nutmeg (Myristica sp.) is one of the local natural ingredients that have anesthetic potential. Nutmeg (Myristica sp.) contains essential oils that are useful as adaptive substances. This study aims to determine the potential of local Nutmeg (Myristica sp.) Seeds as an anesthetic material for Blue Devil (Chrysiptera cyanea) by lethal concentration / LC-50 testing. LC-50 testing in this study is an initial step to determine the appropriate anesthetic dose for Blue Devil (Chrysiptera cyanea). Making extracts from nutmeg seeds (Myristica sp.) Aims to obtain essential oils. The procedure for obtaining nutmeg (Myristica sp.) Essential oils are carried out by steam distillation. The results showed that the seeds of the Nutmeg plant (Myristica sp.) Were very influential for Blue Devil (Chrysiptera cyanea) with a very significant dose of 10ml, but not recommended for use. For development as an anesthetic material, then use a dose <2 ml.Ikan Blue Devil (Chrysiptera cyanea) merupakan salah satu komoditi ikan hias air laut yang sangat populer sehingga sering dicari diperdagangan internasional karena morfologinya yang menarik. Proses perdagangan komoditi ikan hias sangat berbeda dengan komoditi ikan konsumsi karena perdagangannya dalam keadaan hidup. Penanganan dan transportasi memegang peranan yang sangat penting pada sistem ini. Namun, kendala yang sering dihadapi adalah kematian sebelum ikan sampai di tempat tujuan. Selama ini, proses perdagangan ikan hias menggunakan bahan anestesi, bahan-bahan anestesi tersebut adalah MS-222, benzocaine, 2-phenoxyethanol dan quinaldine sulphate. Aplikasi bahan ini tidak direkomendasikan untuk digunakan karena memiliki dampak negatif bagi ikan yang dapat menurunkan imunitas ikan. Aplikasi bahan anestesi alami menjadi alternatif yang dapat digunakan karena lebih rama lingkungan. Tanaman pala (Myristica sp.) merupakan salah satu bahan alami lokal yang dapat digunakan sebagai bahan anastesi. Tanaman pala (Myristica sp.)  mengandung minyak atsiri yang bermanfaat sebagai zat sadaptif. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biji tanaman Pala (Myristica sp.) lokal sebagai bahan anastesi ikan Blue Devil (Chrysiptera cyanea) dengan pengujian lethal konsentrasi/LC-50. Pengujian LC-50 pada penelitian ini sebagai tahapan awal menentukan dosis anastesi yang tepat bagi ikan Blue Devil (Chrysiptera cyanea). Pembuatan ekstrak dari biji Pala (Myristica sp.) bertujuan untuk memperoleh minyak atsiri. Prosedur dalam mendapatkan minyak atsiri biji pala (Myristica sp.) dilakukan dengan cara destilasi uap air. Hasil penelitian menunjukan bahwa biji tanaman Pala (Myristica sp.) sangat berpengaruh bagi ikan Blue Devil (Chrysiptera cyanea) dengan dosis yang sangat berpengaruh adalah 10ml, namun tidak dianjurkan digunakan. Untuk pengembangan sebagai bahan anastesi, maka gunakan dosis <2 ml

    Pola Sebaran dan Kelimpahan Hiu Berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera) di Teluk Weda Maluku Utara, Indonesia

    Get PDF
    The Halmahera walking shark is a nocturnal species that lives at the bottom of waters and is a species endemic to North Maluku. Weda Bay is one of the largest bays on the island of Halmahera and contains marine resources and high diversity. The aims research was analyze the distribution pattern and abundance of Halmahera walking shark at that location. The research was conducted in September - November 2020. The sampling in Weda Bay, is carried out in two methods, (1) catch of nets with a mesh size of 2,5 cm stretched from the mangrove ecosystem, seagrass to coral reefs with a length of ± 50 meters and a height of 1,5 meters, (2) hand sampling equipment namely the sample catch it by hand with transect area (50x50m2) or 0,25 ha using basic diving equipment (snorkeling) to a depth of 3 meters at high tide in the night. Distribution pattern data analysis used Morisita Index and abundance analysis used reef fish abundance equation. Results the research found 28 individuals, namely 17 females and 11 males. There are 2 distribution patterns of the Halmahera epaullette shark, namely Grouping and Random. The clustered distribution pattern is found at stations 1, 2 and 4, while the random distribution pattern is found at station 3. Overall the distribution pattern of the Halmahera walking shark in Weda Bay is grouped. The highest abundance of Halmahera walkingshark was at station 1, namely 17,33 ind/ha and the lowest abundance at stations 3 and 4 was 5,33 ind/ha. The highest abundance is at station 1, this is because the habitat is still very good from the mangrove, seagrass and coral reef ecosystems to find food and the growth of the Halmahera walking shark.Hiu Berjalan Halmahera merupakan spesies nokturnal yang hidup di dasar perairan dan merupakan spesies endemik Maluku Utara. Teluk Weda merupakan salah satu teluk terluas di pulau Halmahera dan menyimpan sumberdaya perairan serta keanekaragaman tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui analisis pola sebaran dan kelimpahan Hiu Berjalan Halmahera, yang dilaksanakan pada September - November 2020. Pengambilan sampel di Teluk Weda, dilakukan dengan dua cara yaitu (1) menggunakan jaring dengan ukuran mata jaring 2,5 cm yang dibentangkan dari ekosistem mangrove, lamun sampai terumbu karang sepanjang ± 50 meter dan tinggi 1,5 meter, dan (2) menggunakan metode hand sampling equipment yaitu sampel ditangkap menggunakan tangan dengan luasan transek jelajah (50x50m2) atau 0,25 ha menggunakan alat selam dasar (snorkeling) sampai kedalaman 3 meter pada saat pasang di waktu malam hari. Analisis data pola sebaran menggunakan Indeks Morisita dan kelimpahan menggunakan persamaan kelimpahan ikan karang. Hasil penelitian dapat ditemukan 28 individu, yaitu 17 individu betina dan 11 individu jantan. Terdapat 2 pola sebaran dari Hiu Berjalan Halmahera, yaitu mengelompok dan acak. Pola sebaran mengelompok ditemukan pada stasiun 1, 2 dan 4, sedangkan pola sebaran acak terdapat pada stasiun 3. Secara keseluruhan pola sebaran Hiu Berjalan Halmahera di Teluk Weda adalah mengelompok. Kelimpahan Hiu Berjalan Halmahera tertinggi berada di stasiun 1 yaitu 17,33 ind/ha dan kelimpahan terendah pada stasiun 3 dan 4 yaitu 5,33 ind/ha. Kelimpahan tertinggi berada pada stasiun 1, hal ini dikarenakan habibat yang masih sangat baik dari ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang untuk mencari makan dan pertumbuhan Hiu Berjalan Halmahera

    Sistem Pendeteksi Keberadaan Nelayan Menggunakan GPS Berbasis Arduino

    Get PDF
    Global Position System (GPS) is a navigation system that can provide information from a device related to it from satellites. The related device is called a GPS receiver. Information obtained includes, among others, the latitude and longitude positions. This latitude and longitude information can tell the position of an object from the satellite. In this research, a search tool with Arduino-based GPS was made. What is needed to be able to find fishermen is that a fisherman must be able to send latitude and longitude coordinates from the satellite, which will later be translated by a mobile application, namely the Google Map, where this application is able to translate numbers from latitude and longitude coordinates. To be able to send these coordinates, we need a tool that can capture the coordinates and then send them to the specified user. From the research results, it can be seen that searching for missing fishermen using GPS is easier to find and more efficient in terms of time.Global Position System (GPS) adalah sistem navigasi yang dapat memberikan informasi dari suatu alat yang berhubungan dengannya dari satelit. Alat yang berhubungan tersebut dinamakan GPS receiver. Informasi yang diperoleh antara lain berupa posisi lintang (latitude) dan posisi bujur (longitude). Informasi latitude dan longitude inilah yang dapat memberitahukan posisi suatu benda dari satelit. Dalam penelitian ini dilakukan proses pencarian nelayan dengan menggunakan GPS sebagai sistem pendeteksi keberadaan nelayan berbasis Arduino. Adapun yang dibutuhkan untuk dapat mencari nelayan adalah seorang nelayan harus mampu mengirimkan koordinat latitude dan longitude dari satelit yang nantinya koordinat-koordinat tersebut akan diterjemahkan oleh sebuah aplikasi mobile yang yaitu Google Map, dimana aplikasi ini mampu menerjemahkan angka-angka dari koordinat latitude dan longitude. Untuk dapat mengirimkan koordinat tersebut maka diperlukan suatu alat yang dapat menangkap koordinat lalu mengirimkannya ke user yang telah ditentukan. Dari hasil penelitian terlihat bahwa pencarian nelayan yang hilang menggunakan GPS dapat lebih mudah ditemukan dan lebih efisien dari segi waktu

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇