Jurnal Online Universitas Galuh
Not a member yet
8739 research outputs found
Sort by
Pelatihan Pembuatan Desain Pembelajaran dengan Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) Untuk Mengembangkan Kompetensi Pedagogik Guru MGMP PPKn SMP Kabupaten Ogan Komering Ilir
Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat (PPM) ini berangkat dari analisis situasi yang mengidentifikasi mayoritas guru masih memiliki pemahaman yang rendah mengenai bagaimana merancang pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching (CRT) dalam rangka meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Kegiatan PPM ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam mendesain Pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching (CRT). Metode dan bentuk kegiatan pengabdian sesuai dengan tujuan kegiatan meliputi 3 langkah kegiatan yaitu pertama; pelatihan terbimbing peningkatan pengetahuan dan pemahaman guru tentang pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching (konsep, prinsip, karakteristik pembelajaran) dan desain pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching, kedua; simulasi pembuatan desain pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching, ketiga observasi dan evaluasi dan presentasi produk desain pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching Yang menjadi sasaran kegiatan pembinaan dan pelatihan ini adalah guru-guru PPKn Sekolah Menengah Atas (SMP) yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran PPKn SMP Kabupaten Ogan Ilir. Target dari pelaksanaaan PPM ini adalah peserta pembinaan dan pelatihan mampu merancang pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching (CRT) sebagai upaya perbaikan dan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Hasil kegiatan pembinaan dan pelatihan menyimpulkan guru peserta pelatihan dan pendampingan sudah mememilki pengetahuan yang baik tentang desain pembelajaran dengan pendekatan culturally Responsive Teaching (CRT). Perbandingan hasil pre test dan post test menunjukkan peningkatan yang signifikan dari 63 menjadi 89,4 dengan nilai n gain sebesar 0,7135 kategori cukup efektif. Hasil observasi terhadap produk desain pembelajaran yang dibuat, menunjukkan untuk 17 item indikator karakteristik desain pembelajaran dengan pendekatan CRT didapat rerata skor sebesar 4.68 (rentangan skor min 1 maksimal. Artinya peserta sudah bisa mengintegrasikan pendekatan CRT pada produk Modul Ajar yang dibuat dengan sangat bai
Pemberdayaan Ekonomi Lansia Melalui Pelatihan Batik di Desa Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang
Analisa awal yang telah dilakukan didapatkan beberapa permasalahan di Kelompok Lansia Desa Sumberporong, yakni prosentase keaktifan/ produktifitas lansia kurang, kurang optimalnya variasi kegiatan yang dilaksanakan serta kurangnya daya ungkit kemampuan dan produktifitas yang dimiliki lansia, selain itu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan belum membantu meningkatkan ekonomi dan daya ungkit kemandirian lansia dalam membantu menambah pendapatan diri dan keluarga, paling tidak lansia tidak menjadi beban bagi keluarga. Dari hasil analisa didapatkan beberapa hal untuk mengatasi permasalahannya yakni peningkatan pengetahuan kader dan lansia mengenai pembuatan batik sebagai salah satu kegiatan awal meningkatkan keaktifan lansia dalam berkegiatan. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kegiatan dan ekonomi lansia. Metode yang digunakan adalah dengan penyuluhan serta pelatihan. Dilanjutkan aktifitas pembuatan dan produksi batik serta pemasaran melalui koperasi yang dibentuk untuk lansia. Kegiatan ini dilanjutkan dengan monitoring dan evaluasi juga akan dilaksanakan setelah pelaksanaan PKM selesai, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan ekonomi dan kualitas hidup lansia secara mandiri dan meringankan beban keluarga
Penerapan Ekonomi dan Inovasi Hijau dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Lokal Kelompok Wanita Tani Desa Paulan, Solo
Kelompok Wanita Tani (KWT) Paulaan Makmur memiliki usaha yang bergerak dibidang pertanian, salah satunya adalah usaha menanam dengan teknik hidroponik dan konvensional. Jenis tanaman yang ditanam yaitu selada air, pak coy, dan kangkung. KWT ini sudah menjalankan usaha tanaman hidroponik selama kurang lebih satu tahun dan sudah mengalami satu kali panen. Ada 4 permasalahan utama mitra yang difokuskan pada aspek produksi, yaitu: 1. Penggunaan tempat menanam baik teknik hidroponik maupun non-hidroponik, sama-sama masih menggunakan bahan plastik; 2. Media pupuk yang digunakan masih berupa pupuk kimia; 3. Pengemasan produk masih menggunakan media plastik; dan 4. Tidak maksimalnya laba yang diperoleh karena metode pemasaran yang konvensional. Metode pelaksanaan kegiatan berupa pendampingan dan pelatihan. Dari kegiatan ini diperoleh hasil dan kesimpulan bahwa mitra telah menggunakkan media menanam yang berasal dari limbah rumah tangga berupa galon air minum, secara mandiri mitra telah mampu memproduksi pupuk organik cair, penggunaan daun pisang sebagai pengganti plastik dalam pengemasan produk dan penggunaan media pemasaran digital dalam memasarkan produk. Dari kegiatan ini mitra berhasil meningkarkan penjualan sebesar 149%. Saran yang diberikan yaitu Menambah lahan penanaman agar terjadi peningkatan produktivitas dan peningkatan kebermanfaatan pupuk dan bahan lainnya sebeperti limbah gallon air mineral, daun pisang dan website serta melakukan riset untuk mengetahui tanaman apa yang dapat menghasilnya nilai lebih tinggi dengan masa tanam yang tidak terlalu lama
Peningkatan Produktivitas Tanaman Hortikultura dan Pangan dengan Menggunakan Pupuk Organik menuju Pertanian Berkelanjutan
Pupuk organik merupakan salah satu alternatif ramah lingkungan yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman hortikulturan dan pangan secara berkelanjutan. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura dan pangan melalui penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan, dan untuk mendorong praktik pertanian berkelanjutan dengan meminimalkan penggunaan pupuk kimia yang berpotensi merusak lingkungan. Metode pelaksanaan dalam program ini ada beberapa tahapan yaitu persiapan, sosialisasi dan penyuluhan, pendampingan serta praktik langsung oleh masyarakat sasaran. Pada tahap persiapan, dilakukan identifikasi kebutuhan masyarakat, pemilihan lokasi, serta pengadaan bahan dan alat. Sosialisasi dan penyuluhan dilaksanakan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya pupuk organik bagi keberlanjutan pertanian. Selanjutnya, pendampingan dan praktik dilakukan untuk mengajarkan masyarakat cara membuat dan menggunakan POC batang pisang secara langsung. Respon masyarakat terhadap kegiatan pengabdian ini sangat positif, ditunjukkan dengan tingginya partisipasi dan antusiasme dalam setiap tahapan. Hasil kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengelola limbah organik menjadi pupuk yang bermanfaat, sekaligus mendukung terciptanya sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan
PENGARUH EFEKTIVITAS PLP, PERSEPSI PROFESI GURU TERHADAP KESIAPAN MENJADI GURU DIMODERASI EFIKASI DIRI PADA MAHASISWA RUMPUN EKONOMI FKIP UNS
Penelitian ini memiliki tujuan guna mengkaji pengaruh efektivitas PLP dan persepsi tentang profesi guru terhadap kesiapan menjadi guru dengan efikasi diri sebagai variabel moderasi pada mahasiswa rumpun ekonomi FKIP UNS. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa rumpun ekonomi FKIP UNS angkatan 2020 berjumlah 249 mahasiswa. Sampel penelitian berjumlah 153 mahasiswa ditentukan dengan menggunakan proportional random sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan yaitu: 1) uji asumsi kalsik terdiri dari uji normalitas, uji multikolineraritas, dan uji heteroskedastisitas; 2) uji hipotesis menggunakan metode statistik deskriptif untuk menguji efektivitas PLP dan uji Moderating Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) efektivitas PLP terhadap kesiapan menjadi guru; 2) persepsi tentang profesi guru berpengaruh terhadap kesiapan menjadi guru; 3) efikasi diri tidak dapat memoderasi pengaruh efektivitas PLP terhadap kesiapan menjadi guru; dan 4) efikasi diri tidak dapat memoderasi pengaruh persepsi tentang profesi guru terhadap kesiapan menjadi guru
BUDAYA MARITIM NUSANTARA SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN IDENTITAS NASIONAL DI ERA GLOBALISASI
Penelitian ini mengkaji peran penting budaya maritim Indonesia dari masa kerajaan sampai konteks masa kini sebagai benteng pertahanan identitas nasional di era globalisasi. Kejayaan maritim Nusantara masa lampau bisa menjadi gambaran dalam pengembangan Identitas nasional di era globalisasi yang memberikan tantangan melalui perubahan preferensi masyarakat dalam mengatasi penurunan minat terhadap budaya maritim. Tujuan dari penelitian ini yaitu membuka wawasan tentang Budaya Maritim Nusantara masa lampau dan penerapannya di masa kini sebagai bentuk pertahanan identitas nasional. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui studi literatur seperti kajian artikel jurnal terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merawat identitas nasional di tengah era globalisasi sudah seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia, supaya jati diri kita sebagai bangsa dan negara Indonesia tidak memudar bahkan hilang oleh arus globalisasi yang sangat pesat, salah satunya dengan adanya wawasan mengenai budaya maritim. Sejak masa kerajaan Nusantara telah menjadi pusat pelayaran dan perdagangan yang penting. Kerajaan-kerajaan maritim seperti Sriwijaya, Majapahit dan Demak memainkan peran dominan dalam perdagangan internasional dan penguasaan wilayah perairan. Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia berupaya membangun kembali kejayaan maritim melalui berbagai kebijakan baik oleh pemerintahan, dalam dunia pendidikan formal dan non formal, termasuk dengan adanya Deklarasi Djuanda
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN MEDIA QUIZIZZ TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMA NEGERI 1 BANJARSARI
Rendahnya hasil belajar siswa merupakan masalah dalam penelitian ini, karena hasil belajar salah satu tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran, maka pendidik dituntut untuk segera mencari berbagai upaya untuk mencapai keberhasilan, rendahnya hasil belajar dilatarbelakangi oleh berbagai faktor diantaranya pemilihan model pembelajaran yang tepat digunakan oleh pendidik, tujuan dari penelitian untuk mengetahui: 1) Perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media quizizz pada pengukuran awal dan pengukuran akhir. 2) Perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional pada pretest dan posttest. 3) Perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division dengan media quizizz dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada posttest. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian eksperimen dengan bentuk quasi experimental design tipe nonequivalent control grup design. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media quizizz, model pembelajaran konvensional pada pengukuran awal dan pengukuran akhir serta model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division dengan media quizizz dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada posttest
PARADIGMA DEEP LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH ABAD 21: UPAYA MEMBANGUN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS SISWA
Materi pembelajaran sejarah dari tingkat SD-SMA/SMK terkesan hanya melakukan pengulangan saja, sehingga dianggap kurang relevan dengan perkembangan zaman. Hal ini berdampak pada minat peserta didik untuk belajar sejarah. Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi paradigma deep learning dalam pembelajaran sejarah pada abad 21. Metode penelitian yang digunakan, yaitu metode kualitatif studi pustaka, dengan pengumpulan data melalui buku, artikel jurnal, makalah, prosiding, hasil penelitian, dan sumber relevan lainnya. Teknik analisis data yang digunakan, yaitu teknik analisis isi melalui langkah-langkah menentukan tujuan khusus yang akan dicapai, mengartikan istilah-istilah yang penting, mengkhususkan unit yang akan dianalisis, mencari data yang relevan, membangun rasional konseptual untuk menjelaskan bagaimana data berkaitan dengan tujuan, merencanakan penarikan sampel, dan merumuskan pengkodean kategori. Hasil penelitian menunjukan bahwa paradigma deep learning dalam pembelajaran sejarah di abad 21 sangat relevan dengan mengimplementasikan strategi serta metode pendekatan yang sesuai dengan teknologi informasi, sehingga materi sejarah lebih kontekstual dan sesuai dengan kondisi saat ini. Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran sejarah abad 21 melalui implementasi paradigma deep learning akan lebih menarik, bukan sekedar hafalan, namun peserta didik mampu memahami dan menganlisis secara mendalam, sehingga bisa berinovasi. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada pembelajaran sejarah di sekolah abad 21 supaya pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, pendidik harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, terutama dalam penggunaan strategi, model, metode, maupun materi ajar
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA KONTEKSTUAL MATERI ARITMATIKA SOSIAL
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan komunikasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita konstekstual pada materi aritmatika sosial berdasarkan tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan dalam mengekspresikan ide matematikanya melalui bahasa, notasi atau simbol matematika sehingga mampu memahami, menginterpretasikan, menggambarkan hubungan dan menyelesaikan masalah konstektual ke dalam model matematika dan mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian adalah soal tes kemampuan komunikasi matematis berupa 3 butir soal esai serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan tinggi mampu memenuhi indikator yang digunakan dengan baik dan jelas, siswa dengan kemampuan sedang hampir memenuhi indikator yang digunakan namun masih mengalami kesulitan dalam menyusun argumen matematis yang lengkap, sedangkan siswa dengan kemampuan rendah kurang dalam karena memenuhi indikator masih cenderung kesulitan memahami makna soal, kurang tepat dalam menggunakan simbol matematika, dan belum mampu mengkomunikasikan ide secara jelas
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MATEMATIS DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Kemampuan pemecahan masalah adalah suatu potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga siswa dapatmenyelesaikan permasalahan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuanpemecahan masalah matematis sangat penting dimiliki oleh siswa. Kemampuan tersebut diperlukan siswabaik dalam proses memahami konsep matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pada kenyataannya,tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih tergolong rendah. Oleh karena itu, diperlukanpendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaranmatematika. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahanmasalah matematis yaitu pendekatan kontekstual. Dengan pendekatan ini siswa dapat menyelesaikanmasalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat meningkatkan kemampuanpemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini menggunakan studi literatur dengan mengumpulkanbeberapa sumber berupa artikel, jurnal, dan dokumen lain yang relevan. Hasil studi menunjukkan bahwadengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis