e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
Struktur Populasi Hirangan (Trachypithecus cristatus) di Desa Beringin Kencana Kabupaten Barito Kuala
Beringin Kencana is a village located in Barito Kuala Regency, South Kalimantan Province. The Beringin Kencana area contains mangrove areas, swamp forests, rice fields, settlements and oil palm plantations. The Beringin Kencana area, which is located on the border of the Barito Kuala and Central Kalimantan regions, is an area that has not been widely publicized, especially the diversity of flora and fauna that exist, so it needs to be introduced to the public widely. The results showed that the population of Hirangan in Beringin Kencana Village was obtained from adults 2.61 individuals/Ha, young 1.07 individuals/Ha and tillers 1.90 individuals/Ha. Pyramid on the population structure of hirangan in Banyan Kendi village is in the form of an urn/kendi. Pyramid shaped caddy shows that the number of young people is less than the number of adults.Beringin Kencana merupakan sebuah desa yang berada di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan. Daerah Beringin Kencana terdapat kawasan mangrove, hutan rawa, persawahan, pemukiman dan perkebunan sawit. Daerah Beringin Kencana yang terletak di perbatasan wilayah Barito Kuala dan berbatasan dengan Kalimantan Tengah, merupakan daerah yang belum terpublikasi luas, terutama keberagaman flora dan fauna yang ada, sehingga perlu diperkenalkan kepada publik secara luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Hirangan di Desa Beringin Kencana diperoleh dari adalah dewasa 2,61 individu/Ha muda 1,07 individu/Ha dan anakan 1,90 individu/Ha. Piramida pada struktur populasi hirangan di desa beringin kencana berbetuk pasu/kendi. Piramida berbetuk pasu/kedi menunjukan bahwa jumlah umur muda lebih sedikit dari jumlah umur dewasa
Riparian Zone Vegetation Quality Using the Index of Riparian Quality in Coban Talun Tourism Area, Batu-City-East Java
Vegetasi riparian yang ada di tepi kanan-kiri sungai adalah tumbuhan yang tumbuh dengan karakteristik morfologis, fisiologis dan reproduksi dengan adaptasi dengan lingkungan lembab. Wilayah ini memiliki perbedaan dari daerah lain karena lingkungan dan perairannya. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui jenis-jenis serta mengetahui keanekaragaman Vegetasi riparian yang ada di kawasan wisata Coban Talun kota Batu. Penelitian dilakukan bulan November-Maret 2020, di bagian Hulu sungai Brantas Coban Talun kota Batu. Vegetasi riparian terdapat 88 spesies dengan 42 famili. Berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP) dengan hasil dominan pada stasiun 2 yaitu spesies Shorea leprosula dengan nilai 46,9% Indeks Keanekaragaman Shanon-Wienner dengan hasil dominan pada stasiun 1 dengan nilai 2,55% dan indeks QBR menunjukkan 3 stasiun memiliki nilai kualitas vegetasi riparian yang berbeda pada stasiun 1 dan 2 termasuk dalam kategori sangat baik dalam kondisi alami dengan skor 95 dan pada stasiun 3 kualitas bagus dan terdapat gangguan dengan skor 80. Faktor abiotik yang diamati meliputi pH tanah dan Konduktivitas tanah.
Kata kunci: Indeks keanekaragaman, Indeks Nilai Penting, Indeks QBR (Index of Riparian Quality), Vegetasi riparian.Riparian vegetation on the banks of rivers is a plant that grows with morphological, physiological and reproductive characteristics with adaptation to the humid environment. This region has differences from other regions due to its environment and waters. The purpose of this research is to know the types and to know the diversity of riparian vegetation in the tourist area of ​​Coban Talun, Batu. The study was conducted in November-March 2020, in the upper reaches of the Brantas Coban Talun river in the city of Batu. Riparian vegetation consists of 88 species with 42 families. Based on the Importance Value Index (INP) with the dominant result at station 2, namely the Shorea leprosula species with a value of 46.9% Shannon-Wienner Diversity Index with the dominant result at station 1 with a value of 2.55% and the QBR index showing 3 stations having vegetation quality values Different riparians at stations 1 and 2 fall into the very good category under natural conditions with a score of 95 and at station 3 of good quality and there are disturbances with a score of 80. Abiotic factors observed include soil pH and soil conductivity.
Keywords: Diversity index, Importance Value Index, QBR (Index Of Riparian Quality), Riparian Vegetation
Studi Etnobotani Pada Prosesi Pernikahan Masyarakat Desa Tanjung Pauh Kabupaten Kerinci
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi dan mengetahui macam ragam dan jenis etnobotani yang ada dalam prosesi pernikahan masyarakat Kerinci yaitu di desa Tanjugn Pauh. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Informan penelitian merupakan tokoh adat, tokoh Agama dan masyarakat Kerinci. Sampel dari berbagai tokoh adat, tokoh agama dan masyarakat ini dengan menggunakan purposif sampling. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan 5 jenis tumbuhan dalam prosesi pernikahan masyarakat Kerinci yang kesemuanya mempunya fungsi uniknya masing-masing
Analisis Molecular Docking Senyawa dari Jamur Endofit Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa) Sebagai Inhibitor Lipase Pankreas
Nowadays some efforts are being made to reduce obesity by using drugs that aim to reduce appetite of the drug users. However, the use of drugs still has harmful side effects. Endophytic fungi originating from the Dayak onion plant are thought to have secondary metabolites that have potential as anti-obesity. The aims of this study were to determine the compounds produced by endophytic fungi of Dayak onion and to determine the potential components as inhibitors of pancreatic lipase enzymes. Samples of Dayak onions were collected from Palangka Raya using purposive sampling method. Isolation of endophytic fungi was conducted using surface sterilization method and the isolates were grown on PDA. Isolates were characterized and fermented on PDB for 14 days. The selected isolate was analyzed by using GCMS then molecular docking was performed using Autodock Vina and PyRx. The research results showed that there were 7 isolates of endophytic fungi isolated from leaves and roots tissues of Dayak onion. GCMS analysis showed that EBD1 contains 38 compounds. Molecular docking analysis showed that 1,3-Di-O-Acetylpentopyranose, a test ligand, has the closest binding affinity value (-6.6 kcal/mol) to orlistat (control) (-6.8 kcal/mol). Thus, it has the potential as an inhibitor of pancreatic lipase enzyme protein.Saat ini penggunaan obat-obatan penurun nafsu makan bagi penderita obesitas masih memiliki efek samping yang membahayakan kesehatan. Jamur endofit asal tanaman obat diduga memiliki metabolit sekunder yang berpotensi menjadi alternatif obat antiobesitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen senyawa yang dihasilkan oleh jamur endofit bawang dayak dan mengetahui potensinya sebagai inhibitor enzim lipase pankreas secara in silico. Sampel bawang dayak diperoleh menggunakan metode purposive sampling dari Kota Palangka Raya. Isolasi jamur endofit dilakukan dengan metode sterilisasi permukaan dan ditumbuhkan pada media PDA. Isolat jamur endofit yang didapatkan selanjutnya dikarakterisasi dan difermentasi pada media PDB selama 14 hari. Filtrat isolat jamur terpilih dianalisis menggunakan GC-MS dan dilakukan molecular docking menggunakan Autodock Vina dan PyRx. Hasil penelitian ini didapatkan 7 isolat yang berasal dari jaringan daun dan akar. Hasil GC-MS menunjukkan filtrat isolat EBD1 mengandung 38 senyawa. Berdasarkan hasil molecular docking, Senyawa 1,3-Di-O-Acetylpentopyranose merupakan ligan uji dengan nilai binding affinity terendah (-6.6 kcal/mol) mendekati orlistat (-6.8 kcal/mol) dan berpotensi sebagai antiobesitas dengan menginhibisi protein enzim lipase pankreas
ANALISIS KUALITAS PERAIRAN PANTAI SEBELUM DAN SESUDAH AKTIVITAS TRADISI BAU NYALE DI PANTAI SEGER KUTA LOMBOK TENGAH NTB
Pollution is a problem for most of the territorial waters in Indonesia including the territorial waters on the coast of Seger Kuta, Central Lombok. One way to analyze the quality of waters in coastal areas is by analyzing water quality in the form of parameters, physics, chemistry, and biology. This method can provide information about the condition of a waters. The purpose of this study is to identify the condition of the quality of the waters of the Seger Coast before and after the Bau Nyale tradition based on physical, chemical and biological parameters. This research was conducted in February 2020 at three research stations and the results were compared with sea water quality standards based on the Minister of Environment Decree No. 51 of 2004 concerning Sea Water Quality Standards and other references. The results showed in general the quality of coastal waters before and after the Bau Nyale tradition at Seger Kuta beach, Central Lombok is still classified as good or lightly polluted waters. Plankton found in the study site before the Bau Nyale tradition there are 8 genera derived from 4 plankton groups namely Diatomae 5 genus, Dinophyceae 1 genus, Cynophiceae 1 genus and Cilliata 1 genus. The number of genera from each observation station before the Bau Nyale tradition ranged from 6-8 genera with a total abundance of 95-227, whereas after the Bau Nyale tradition there were 8 genera originating from 3 plankton groups, namely 6 genera Diatomae, 1 genus Mastigophora and 1 Cynophiceae . The number of genera from each station after the Nyale Odor tradition ranges from 7-8 genera with a total abundance of 62-171.Pencemaran merupakan sebuah permasalahan bagi sebagian besar wilayah perairan di Indonesia termasuk wilayah perairan di pesisir pantai Seger Kuta Lombok Tengah,yang berasal dari aktivitas Tradisi Bau Nyale. Salah satu cara untuk menganalisis kualitas perairan di wilayah pesisir adalah dengan melakukan analisis kualitas perairan baik itu parameter,fisika, kimia dan biologi. Metode ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi suatu perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi kualitas perairan Pantai Seger sebelum dan sesudah tradisi bau nyale berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2020 di tiga stasiun penelitian,kemudian hasilnya dibandingkan dengan baku mutu air laut berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut dan referensi lainnya. Hasil penelitian menunjukan secara umum kualitas perairan pantai sebelum dan sesudah tradisi bau nyale di pantai Seger Kuta Lombok Tengah masih tergolong perairan yang baik atau tercemar ringan berdasarkan baku mutu air laut untuk biota air laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup NO 51 Tahun 2004 dan referensi yang lain.Sedangkan untuk hasil Plankton yang di temukan di lokasi penelitian sebelum tradisi bau nyale yaitu terdapat 8 genus yang berasal dari 4 kelompok fitoplankton yaitu Diatomae 5 genus , Dinophyceae 1 genus , Cynophiceae 1 genus dan Cilliata 1 genus .Jumlah genus dari setiap stasiun pengamatan sebelum tradisi bau nyale berkisar antara 6-8 genus dengan total kelimpahan 95-227. Sedangkan Sesudah tradisi bau nyale terdapat 8 genus yang berasal dari 3 kelompok fitoplankton yaitu Diatomae 6 genus, Mastigophora 1 genus dan Cynophiceae 1 genus. Jumlah genus dari setiap stasiun sesudah tradisi bau nyale berkisar antara 7-8 genus dengan total kelimpahan 62-171. Kata Kunci: Sebelum dan Sesudah Aktivitas Tradisi Bau Nyale, Kualitas Perairan, Pantai Seger Kuta Lombok Tengah NTB
Efektivitas Antiseptik Ekstrak Jeruk Nipis dan Lidah Buaya Terhadap Jamur Candida Albicans
The use of hand antiseptics in the form of preparations among the community has become a lifestyle. Several hand antiseptic preparations can be found in the market. How to use it is to be dropped on the palm of the hand, then flattened on the surface of the hand. Alcohol is widely used as an antiseptic to disinfect surfaces and clean skin, but not for wounds. Alcohol as an antiseptic has bactericidal activity, works against various types of bacteria, viruses and fungi. This study aims to make an antiseptic with lime and aloe vera extracts that can kill the fungus candida albicans. In this study, the pH of the preparation was measured, the pH was 5 and for determining the specific gravity, the specific gravity was 0.9736 g/ml. The test is carried out using the percentage kill method at two contact times, namely 30 and 60 seconds. The percentage kill results for antiseptic preparations with lime and aloe vera extracts at the two contact times were 99.9% percentage kill. There is an impact of using an antiseptic with an active ingredient of alcohol with the addition of lime and aloe vera extracts on pH, specific gravity and fungal killing power.
Keywords: Antiseptic, Lime, Aloe Vera, Candida AlbicansPemakaian antiseptik tangan dalam bentuk sediaan di kalangan masyarakat sudah menjadi suatu gaya hidup. Beberapa sediaan antiseptik tangan dapat dijumpai di pasaran. Cara pemakaiannya adalah dengan diteteskan pada telapak tangan, kemudian diratakan pada permukaan tangan. Alkohol banyak digunakan sebagai antiseptik untuk disinfeksi permukaan dan kulit yang bersih, tetapi tidak untuk luka. Alkohol sebagai antiseptik mempunyai aktivitas bakterisidal, bekerja terhadap berbagai jenis bakteri, virus dan jamur. Penelitian ini bertujuan unutuk membuat antiseptik dengan ekstrak jeruk nipis dan lidah buaya yang dapat membunuh jamur candida albicans. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran pH sediaan didapat hasil pH adalah 5 dan untuk penetapan bobot jenis dihasilkan bobot jenis yaitu 0,9736 g/ml. Pengujiam dilakukan dengan metode percentage kill pada dua waktu kontak yaitu 30 dan 60 detik. Didapatkan hasil percentage kill sediaan antiseptik dengan ekstrak jeruk nipis dan lidah buaya pada dua waktu kontak tersebut yaitu dengan nilai percentage kill sebesar 99,9%. Ada dampak penggunaan antispetik dengan bahan aktif alkohol dengan penambahan ekstrak jeruk nipis dan lidah buaya terhadap pH, bobot jenis dan daya bunuh jamur.
Kata kunci: Antiseptik, Jeruk Nipis, Lidah Buaya, Candida Albican
Efek Antiinflamasi dan Antipiretik Ekstrak Batang Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk) pada Mencit (Mus musculus L.)
Exploration of the plants used to treat inflammation and fever continues to grow. One of the plants with great potential is Bajakah tampala (Spatholobus littoralis Hassk). Phytochemical test results showed bajakah contains flavonoids, tannins, saponins, phenolics, and terpenoids that function as anti-inflammatory and antipyretic so as to reduce inflammation and fever. The purpose of this study was to examine the anti-inflammatory effect of Bajakah stem extract (EBB) on the edema area and leukocyte numbers, as well as its antipyretic effect on the rectal temperature of mices. Total experimental study design with a completely randomized factorial design consisted of 5 treatments (EBB doses 0, 25, 50, 100 and aspirin 80 mg/kg) and 4 replications. EBB was extracted by maceration with 70% ethanol. Mices used were 20 healthy males, aged 13-14 weeks, and weighed 30-35 grams. 1% carrageenan was used to induce inflammation and baker's yeast was used to induce fever. EBB is given orally after 30 minutes of inflammation and an increase in rectal temperature. Data were analyzed by variance analysis (ANOVA) and continued with Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 1% level. The results showed that EBB administration had an effect on reducing edema area and leukocyte numbers after 1% carrageenan induced, and the rectal temperature of mices after baker's yeast induced. In conclusion, EBB has good anti-inflammatory and antipyretic effects with the most effective dose of 25 mg/kg.
Keywords: Bajakah tampala, Edema, Leukocytes, Rectal temperatureEksflorasi pemanfaatan tumbuhan untuk mengobati peradangan dan demam terus berkembang. Salah satu tumbuhan yang berpotensi besar yaitu bajakah tampala (Spatholobus littoralis Hassk). Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa bajakah memiliki kandungan flavonoid, tannin, saponin, fenolik, dan terpenoid yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan antipiretik sehingga dapat menurunkan peradangan dan demam. Tujuan penelitian ini mengkaji efek antiinflamasi ekstrak batang bajakah (EBB) terhadap luas edema dan jumlah leukosit, serta efek antipiretiknya terhadap suhu rektal mencit. Desain penelitian eksperimen total dengan rancangan faktorial acak lengkap terdiri atas 5 perlakuan (EBB dosis 0, 25, 50, dan 100 mg/kg serta aspirin 80 mg/kg) dan 4 ulangan. EBB diekstraksi secara maserasi dengan etanol 70%. Mencit yang digunakan adalah 20 ekor jantan sehat, berumur 13-14 minggu, dan bobot 30-35 gram. Karagenan 1% digunakan untuk menginduksi peradangan dan ragi roti digunakan untuk menginduksi demam. EBB diberikan secara oral setelah 30 menit terjadi peradangan dan peningkatan suhu rektal. Data dianalisis dengan analisis varian (ANOVA) dan dilanjutkan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EBB berpengaruh dalam menurunkan edema dan jumlah leukosit setelah diinduksi karagenan 1%, dan suhu rektal mencit setelah diinduksi ragi roti. Kesimpulannya EBB memiliki efek antiinflamasi dan antipiretik yang baik dengan dosis paling efektif 25 mg/kg.
Kata kunci: Bajakah tampala, Edema, Leukosit, Suhu rekta
The Population of Fungi in Potato Dextrose Media With Energy Sources Cells
The growth of fungi can be influenced by nutrients is in the environment, With the additional two kinds of nutrients from sugar plant waste of molasses, and waste of the pepaya taken the filtrate. Both of these wastes contain sugar which is needed by fungal microorganisms to grow and reproduce. The fungus Aspergillus niger, Hansenulla sp, Trichoderma viride, and Candida sp have a synergy interaction in a media. This study aims to learn in the growth of fungal cell populations as cell masses in potato dextrose media with the addition of two kinds of nutrients. The method used in this study was a two-population mean test with 2 treatments, namely the first treatment with the addition of sugarcane drops, and the next with the addition of papaya fruit filtrate, consisting of 11 replications, with incubation for 3 days. The analysis used was the T test and the analysis results obtained were significant, which was shown from P> 0.05. The mass of fungi cells in the addition of nutrients from sugar factory waste was greater than that of papaya fruit filtrate wastePertumbuhan jamur dapat dipengaruhi oleh nutrisi yang ada dalam lingkungan sekitar, dengan adanya penambahan dua macam sumber nutrisi yang berasal dari limbah pabrik gula yang berupa tetes tebu, dan limbah dari buah pepaya yang diambil filtratnya. Pada kedua limbah tersebut terdapat gula yang dibutuhkan oleh mikroorganisme jamur untuk tumbuh dan berkembangbiak. Jamur Aspergillus niger, Hansenulla sp, Trichoderma viride, dan Candida sp memiliki interaksi sinergis dalam suatu media. Penelitian ini bertujuan mempelajari pertumbuhan jamur sebagai berat sel dalam media dekstrosa kentang dengan penambahan dua macam nutrisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji rerata dua populasi dengan 2 perlakuan yaitu perlakuan pertama dengan penambahan tetes tebu, dan yang selanjutnya dengan penambahan filtrat buah pepaya, yang terdiri dari 11 ulangan, dengan inkubasi selama 3 hari. Analisis yang digunakan yaitu Uji t dan diperoleh hasil analisa terdapat beda nyata yang ditunjukkan dari P > 0,05. Berat sel jamur pada penambahan nutisi limbah tetes pabrik gula lebih besar dibandingkan dengan limbah filtrate buah pepaya
Prevalensi Buta Warna pada Siswa Sekolah Dasar di Pulau Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo
Buta warna merupakan salah satu kendala dalam proses pembelajaan setiap siswa tingkat dasar yang harus diketahui sejak dini. Buta warna utamanya disebabkan oleh faktor genetik. Buta warna merupakan kelainan genetik sex linkage pada kromosom X. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui prevalensi penderita buta warna, frekuensi alel buta warna dan normal, dan mengetahui diagram silsilah keluarga penderita buta warna. Pengujian buta warna menggunakan metode Ishihara. Siswa yang diambil sebagai sampel yaitu 255 siswa yang telah dipilih secara acak, dengan rentang usia 8-12 tahun. Pengambilan sampel sesuai dengan prosedur pada Ethical clearance nomor 1224/UN25.8/KEPK/DL/2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penderita buta warna sebesar 3.14% dan prevalensi rang normal sebesar 96.86%. Frekuensi alel buta warna dan alel normal berturut-turut adalah 0,023 dan 0,977. Diagram silsilah pada keluarga penderita buta warna menunjukkan bahwa pola pewarisan buta warna adalah pola pewarisan bersilang (criss cross inheritance).
 
Pertumbuhan rumput jepang (Zoysia japonica) pada berbagai tingkat kemiringan dengan aplikasi Hydroseeding
Research on Hydroseeding in Indonesia is still limited. The application of this hydroseeding technique can be developed for landslide management. This study aims to analyze the percentage of growth (viability) and growth of Japanese grass (Zoysia japonica) planted on landslide soil media at various levels of slope. This research was carried out at the Central Laboratory and greenhouse of the Malang Agricultural Institute in March – July 2020. The soil media used was obtained from landslides in Ngantang, Malang Regency. A total of 5 kg of media was put in a plastic box. Then the box is placed on a shelf with a slope of 30o, 50o, and 70o. Japanese Grass Seeds obtained from the market are mixed with compost, soil conditioner, guar gum, water to form a Hydroseeding formula. The formula is then sprayed onto the growing media. The results showed that the application of hydroseeding with Japanese grass seed (Z. japonica) on media placed with a slope of 70o could potentially be used as a formula for the revegetation process of landslide-affected land. The hydroseeding treatment at this slope resulted in the highest seed viability and growth rate. Thus, Japanese grass (Zoysia japonica) has the potential to be used as a pioneer plant in land reclamation.Penelitian tentang Hydroseeding di Indonesia masih masih terbatas. Penerapan teknik hydroseeding ini dapat dikembangkan untuk pengelolaan longsor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat persentase pertumbuhan (viabilitas) dan pertumbuhan Rumput Jepang (Zoysia japonica) yang ditanam pada media tanah bekas longsor pada berbagai tingkat kemiringan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Sentral dan rumah kaca Institut Pertanian Malang pada bulan Maret – Juli 2020. Media tanah yang digunakan diperoleh dari tanah longsor di Ngantang Kabupaten Malang. Sebanyak 5 kg media dimasukkan ke dalam kotak plastik. Kemudian kotak diletakkan pada rak dengan kemiringan 30o,50o, dan 70o. Benih Rumput Jepang yang diperoleh dari pasar dicampur dengan kompos, kondisioner tanah, guar gum, air untuk membentuk formula Hydroseeding. Formula kemudian disemprotkan ke media tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi hydroseeding dengan benih rumput Jepang (Z. japonica) pada media yang diletakkan dengan kemiringan 70o potensial digunakan sebagai formula untuk proses revegetasi lahan bekas longsor. Perlakuan hydroseeding pada kemiringan ini menghasilkan viabilitas benih dan laju pertumbuhan yang paling tinggi. Dengan demikian, Rumput Jepang (Zoysia japonica) potensial digunakan sebagai tanaman pionir dalam reklamasi lahan.