e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
    254 research outputs found

    The Public Perception About Agroforestri in The Village Sumberejo Poncokusumo Malang

    No full text
    The affected agricultural land from the rate of conversion is approximately 100,000 ha / year, while 40,000 ha / year of new agricultural land can be printed by the government.  Population growth, land tenure by farmers has diminished in size. The area of ​​land ownership in 2012, per farmer is approximately 0.22 ha. It is estimated that it will decrease by 0.18 ha in 2050. This condition makes farmers' welfare decreases due to the inefficient land for farming. The research was conducted on 28 January - 28 February 2019 in 2 locations, Jajang Hamlet and Wonokerto Hamlet which were included in Sumberejo Village, Sumberejo Village at 980 meters above sea level. Sumberejo Village is one of the villages included in the Poncokusumo District, Malang Regency. The data obtained in the form of images were obtained through direct observation at the location of the study. From the exploration carried out found 27 types of supporting plants (shade and interlude) consisting of trees and other commodity crops. In this case the problem of the Sumberejo village plantation community from the one we interviewed directly complained about the lack of knowledge about plants suitable for agroforestry and knowledge about hatcheries and buffer plants. Based on the value of the perceptions of the percentage of Wonokerto and Jajang Hamlet communities the highest score was 93% related to the mixed cropping system problem, while the lowest percentage value was found in the knowledge about 79% in Jajang Hamlet and 80% in the Wonokerto Hamlet perception.Lahan pertanian yang terkena dampak dari Laju konversi kurang lebih 100.000 ha/tahun, Sedang 40.000 ha/tahun lahan pertanian baru mampu dicetak oleh pemerintah. Sehingga berpengaruh pada luas lahan pertanian yang semakin berkurang. Pertambahan jumlah penduduk, Penguasaan lahan oleh petani luasnya semakin berkurang. Luas penguasaan lahan pada tahun 2012, per petani kurang lebih 0,22 ha. Diperkirakan akan menurun 0,18 ha ditahun 2050. Kondisi ini menjadikan kesejahteraan petani berkurang dikarenakan lahan sempit usaha tani tidak efisen lagi. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28 januari – 28 februari 2019 dilaksanakan di 2 lokasi yaitu Dusun Jajang dan Dusun Wonokerto yang masuk dalam wilayah Desa Sumberejo, Desa sumberejo berada  pada ketinggian  980 mdpl Desa sumberejo merupakan salah satu desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. pada hasil survei jenis jenis agroforestri Desa Sumberejo terdapat 2 jenis agroforestri. Dari eksplorasi yang dilakukan ditemukan 27 jenis tanaman penyokong (penaung dan selingan) terdiri dari pohon dan tanaman komoditi lainnya. Pada hal ini problem masyarakat perkebun desa sumberejo dari yang kami wawancara langsung mengeluhkan minimnya pengetahuan tentang tanaman yang sesuai untuk agroforestri serta pengetahuan tentang pembenihan dan tanaman penyangga. Berdasar kan nilai persentase persepsi masyarakat Dusun Wonokerto dan Dusun Jajang nilai tertinggi sama sama 93% terkait masalah sistem tanam campur, sedangkan pada nilai persentase terendah terdapat pada pengetahuan tentang angroforestri  79% di Dusun Jajang dan  pada persepsi di Dusun wonokerto 80%

    Uji Toksistas Subkronik 28 Hari Ekstrak Metanolik kombinasi Daun Benalu Teh dan Benalu Mangga terhadap fungsi Hepar Pada Tikus (Rattus norvegicus) Betina

    No full text
    ABSTRACT Flavonoids and quercetin are metabolite compounds contained in parasite plants. The role of the compounds is as an antioxidant that can protect cell damage from free radicals,for example liver. The presence of antioxidant can neutralize and protect the liver from free radicals. Liver is an organ that is vulnerable to damage caused by drugs or toxic chemicals because the liver is the center of metabolism in the body. Can be known with indicators of increasing level of SGOT, SGPT total bilirubin and histopathologic liver. The purpose of this study to determine the effect of the combination of extracts of tea parasite and mango parasite (EMBTBM) on levels of liver function in female rats (Rattus norvegicus) for 28 days. Data were analyzed using ANOVA version Jamovi 1.0.1.0.. The number of test animals is 20 female rats were divided into four groups, group 1 as a control, group 2,3,4 as a treatment. The treatment groups was given EMBTBM with different doses of 250 mg/kgBW, 500 mg/kgBW and 1000 mg/kgBW. Based on the research results show that a significant value difference between the group was p> 0,05. Therefore EMBTBM given to female rats for 28 days with a dose of 250 mg/BW, 500 mg/kgBW and 1000 mg/kgBW in the treatment group all dose were not significantly different compared with controls. So that the level of liver function in female rats was safe (not toxic) and has no effect on liver histopathology of female wistar rats. Keyword: Subchronic, Extract and liver functionABSTRAK Flavonoid dan kuersetin merupakan salah satu senyawa metabolit yang terkandung dalam tanaman benalu. Peran senyawa tersebut adalah sebagai antioksidan yang dapat melindungi kerusakan sel- sel dari radikal bebas, salah satunya adalah sel hati. Hati rentan terhadap kerusakan yang  diakibatkan bahan kimia beracun maupun obat- obatan. Kerusakan pada hati dapat diketahui dengan meningkatnya kadar SGOT, SGPT, bilirubin total dan histopatologi hepar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek toksik ekstrak metanolik kombinasi daun benalu teh dan benalu mangga (EMBTBM) terhadap fungsi hepar tikus (Rattus norvegicus) betina secara subkronik selama 28 hari. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA menggunakan Jamovi 1.01.0. Jumlah tikus yang digunakan adalah 20 ekor tikus wistar betina yang dibagi menjadi 4 kelompok, kelompok 1 sebagai kontrol, kelompok 2, 3, 4 sebagai perlakuan. Kelompok perlakuan diberi EMBTBM dengan dosis yang berbeda- beda yaitu 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB. Dosis diberikan dengan cara penyondean dan dilakukan selama lima kali dalam seminggu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa nilai signifikan antara semua kelompok adalah p>0,05. Maka dari itu EMBTBM yang diberikan kepada tikus betina selama 28 hari dengan dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB pada kelompok perlakuan tidak berbeda nyata apabila dibandingkan dengan kontrol, sehingga kadar fungsi hepar pada tikus putih betina tidak toksik dan tidak berpengaruh pada histopatologi hepar tikus (Rattus norvegicus) betina Kata Kunci : Subkronik, Ekstrak dan Fungsi hepar &nbsp

    Pengaruh Ekstrak Batang Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk) Terhadap Perilaku Mencit Jantan (Mus musculus) yang Terinfeksi Bakteri Salmonella typhimurium

    No full text
    Bajakah tampala stem (Spatholobus Littoralis Hassk) has the potential to be used for health, especially to increase immunity. The results of the phytochemical screening test showed that the main ingredients of bajakah were saponins, flavonoids, and tannins. The study used an experimental design with a completely randomized design (CRD), which consisted of 5 treatments (dose) and 6 replications. The dose is aquadest (K1/control); 25 mg/kg (K2); 50 mg/kg (K3); 100 mg/kg bw (K4) and 30 mg/kg of brand X immunomodulatory drug (K2). Mice were injected orally with the treatment according to the prescribed dose for 30 days. On the 31st day, the mice were infected with Salmonella typhimurium bacteria. On the 32nd-34th day, physical condition and activity were observed. data on changes in physical condition and activity were processed by descriptive statistics. Batang bajakah tampala extract (Spatholobus littoralis Hask) can improve the immune system as seen from the behavior and external morphology of mice (Mus Musculus) exposed to salmonella typhimurium, especially at a dose of K4 (100 mg/kg bw).  Keywords: Bajakah tampala, behavior, mice, salmonella typhimuriumBatang bajakah tampala (Spatholobus Littoralis Hassk) berpotensi dimanfaatkan untuk kesehatan khususnya meningkatkan imunitas. Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan kandungan utama bajakah adalah saponin, flavonoid, dan tanin. Penelitian menggunakan desain eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL), yaitu terdiri atas 5 perlakuan (dosis) dan 6 ulangan. Dosis yaitu aquadest (K1/kontrol); 25 mg/kg (K2); 50 mg/kg (K3);100 mg/kg BB (K4) dan 30 mg/kg obat imunomudulator merk X (K2). Mencit diinjeksi oral dengan perlakuan sesuai dosis seperti yang sudah ditentukan selama 30 hari. Hari ke-31, mencit diinfeksikan bakteri Salmonella typhimurium. Hari ke-32-34 dilakukan pengamatan keadaan fisik dan aktifitas. data perubahan keadaan fisik dan aktifitas diolah secara statistik deskriptif. Ekstrak batang bajakah tampala (Spatholobus littoralis Hask) dapat meningkatkan sistem imunitas yang dilihat dari perilaku dan morfologi eksternal mencit (Mus Musculus) yang terpapar bakteri salmonella typhimurium terutama pada dosis K4 (100 mg/kg).  Kata kunci: Bajakah tampala, perilaku, mencit, salmonella typhimuriu

    Penatalaksanaan Kadar Gula Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) Model Diabetes Mellitus Tipe 2 Menggunakan Rebusan Umbi Yakon (Smallanthus sonchifolius)

    Full text link
    The world health organization recommends the use of traditional medicines for chronic and degenerative diseases in maintaining health and helping to improve their safety and efficacy. The Yakon (SS) tubers contain FOS (Fructooligosaccharides) as a lowering of blood sugar levels. The purpose of this study was to determine blood sugar levels after treatment with boiled Yakon tubers (SS). This type of research is an experimental design with a pre-post test with a control-group design. The independent variable is the boiled water of Yakon tubers, the dependent variable is blood sugar levels. The samples were divided into 2 groups: the treatment group of boiled Yakon tuber (Smallanthus s) dose 1 (350 mg/kg/BW) and dose 2 (700 mg/kg/BW), the control group. Each group consisted of 6 rats. Mice were conditioned to hyperglycemia by being given a high-glucose diet for 9 weeks. Blood sugar measurement using Gluco-D, data analysis used is Paired Sample T-Test, Independent, Sample T-Test, and One Way Anova. The results showed that treatment dose 1 experienced an average decrease in blood sugar levels by 158.5 mg/dl (p 0.004) and dose 2 by 161.17 mg/dl (p 0.001). The results of the study were the control group and treatment 1 (Sig.2-tailed) = .000 (0.05) and the control group with treatment 2 (Sig.2-tailed) = .000 (0.05) While the comparison results showed that there was a difference between the control group with treatment group 1, and control group with treatment 2 respectively (Sig.2-tailed)=0.000, =0.05. The results of this study indicate that there is an effect of boiled water from Yakon tubers. The Yakon tuber boiled water can be implemented as an alternative in the management of blood sugar in conditions of diabetes mellitus.Organisasi kesehatan dunia menyarankan penggunaan obat tradisional untuk penyakit kronik dan degenerative dalam menjaga kesehatan serta ikut mendukung peningkatan keamanan dan khasiatnya. Umbi Tanaman Yakon (SS) mengandung FOS (Fruktooligosakarida) sebagai penurun kadar gula darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar gula darah setelah mendapat perlakuan rebusan umbi Yakon (SS). Jenis penelitian ini eksperimen dengan desain pre-posttest with control-groups design. Variabel independen adalah air rebusan umbi Yakon, variabel dependen adalah kadar gula darah. Sampel terbagi menjadi 2 kelompok: kelompok perlakuan rebusan umbi Yakon (Smallanthus sonchifolius) dosis 1 (350 mg/kg/BB ) dan dosis 2 (700 mg/kg/BB), kelompok  kontrol. Tiap kelompok terdiri 6 ekor tikus. Tikus dikondisikan hiperglikemi dengan diberikan diit tinggi glukosa selama 9 minggu.  Pengukuran gula darah menggunakan Gluco-D, analisa data yang digunakan adalah Paired Sample T-Test, Independent, Sample T-Test, dan One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan dosis 1 mengalami penurunan rata-rata kadar gula darah sebesar 158,5 mg/dl (p 0,004) dan dosis 2 sebesar 161,17 mg/dl (p ,001). Hasil penelitian kelompok kontrol dan perlakuan 1 (Sig.2-tailed)=,000 (0,05) dan kelompok kontrol dengan perlakuan 2 (Sig.2-tailed)=,000 (0,05) Sedangkan hasil perbandingan menunjukan adanya perbedaan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 1, dan kelompok kontrol dengan perlakuan 2 masing-masing (Sig.2-tailed)=0,000, α=0,05. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh air rebusan umbi Yakon. Air rebusan umbi Yakon dapat diimplementasikan sebagai alternatif dalam penatalaksaan gula darah pada kondisi diabetes mellitus

    Karakterisasi Morfologi Anggrek Epifit di Kawasan Wisata Curug Cibereum Selabintana Gunung Gede Pangrango Jawa Barat

    Full text link
    The Curug Cibereum tourist area located in Selabintana, Sukabumi, is part of the Gunung Gede Pangrango National Park which consists of various types of orchids. This study aims to determine the types of epiphytic orchids in the Cibereum Curug Path based on the morphological characterization of epiphytic orchids, both stems, leaves, and flowers. The results of the study found as many as 31 species of epiphytic orchids from 11 genera. Based on the morphological observations of stems, pseudobulbs, leaves, and flowers on each type of epiphytic orchid, each has its characteristics. Observation of stem growth morphology found monopodial and sympodial orchids. The stems are found to belong short and do not even have stems but have pseudobulbs. The shape of the pseudobulb was found to be round, flattened, oval, and oval. Then for the shape of the leaves found lanceolate, oval, needle, and ovoid. As for the shape of flowers, each type has various shapes and colors. Some are big or small according to the species   Keywords: Epiphytic Orchid, Cibereum Waterfall, Morphology, Characterization, PseudobulbKawasan wisata Curug Cibereum yang terletak di Selabintana, Sukabumi merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam jenis anggrek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis anggrek epifit di Jalur Curug Cibereum berdasarkan karakter morfologi dari anggrek epifit baik batang, daun, dan bunga. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 31 jenis anggrek epifit dari 11 genus. Berdasarkan pengamatan morfologi batang, pseudobulb, daun, dan bunga pada setiap jenis anggrek epifit, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Pengamatan morfologi pertumbuhan batang dijumpai anggrek monopodial dan simpodial. Batang dijumpai panjang, pendek, dan bahkan tidak memilki batang tetapi memiliki pseudobulb. Bentuk pseudobulb dijumpai berbentuk bulat, bulat pipih, bulat telur, dan lonjong. Kemudian untuk bentuk daun dijumpai bentuk lanset, lonjong, jarum, dan bulat telur. Sedangkan untuk bentuk bunga masing-masing jenis memiliki berbagai macam bentuk dan warna ada yang besar atau kecil sesuai dengan spesiesnya. Kata kunci: Anggrek Epifit, Curug Cibereum, Morfologi, Karakterisasi, Pseudobul

    Kajian Etnobotani dan Reproduksi Tumbuhan Obat Di Desa Jagalan Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan

    Full text link
    Ethnobotany is a botanical science that studies the use of plants in the needs of daily life and tribal customs. The use of plants as traditional medicine (herbal) has been known for a long time by the people in Desa Jagalan. This study aims to identify medicinal plants, utilization of medicinal plants, and reproduction of medicinal plants by the people of Jagalan Village, Kwanyar District, Bangkalan Regency. This research was conducted in May-2019 using qualitative methods. Qualitative methods are used to collect data through interviews. Respondents were selected using purposive sampling, namely community members who knew about medicinal plants, especially for parents with an age range (35-80 years). Research shows the average data of respondents encountered 150 respondents. There are 14 types of medicinal plants used in Jagalan Village, namely Bingbuluh (Belimbing wuluh), jeih (ginger). Kencur (kencor), Sere (Sirih), Molabek Temulawak), Moereng (Temuireng), Binahong, Meronggih (Kelor), Konyek (turmeric), Mores (Soursop), Jembuh (Guava), Orange Porot (Lime), Kodduk (Noni), Blimbing (Starfruit). Reproduction is divided into two parts, namely asexual and sexual, bingbuluh, merongguh, gembuh, orange porous, mores, codduk, and blimbing including the generative and vegetatf reproduction, jihor, kencor, molabek, moereng, binahong, and konyek including rhizoma reproduction (rhizome, live root) is a stem that grows horizontally in the soil resembling roots and then in sere including artificial vegetative reproduction by grafting and ducking.  Etnobotani merupakan ilmu botani yang mempelajari tentang pemanfaatan tumbuhan dalam keperluan hidup sehari-hari dan adat suku bangsa. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional (herbal) telah di kenal sejak lama oleh masyarakat di Desa jagalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tumbuhan obat, pemanfaatan tumbuhan obat, dan reproduksi tumbuhan obat oleh masyarakat Desa Jagalan Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini dilakukan pada bulan mei-juni 2019 dengan menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mengumpulkan data melalui wawancara. Responden dipilih menggunakan purposive sampling yaitu anggota masyarakat yang mengetahui tumbuhan obat khususnya kepada orang tua dengan rentang usia (35-80 tahun). Penelitian menunjukkan data rata-rata responden yang ditemui 150 responden.  Ada 14 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan di Desa Jagalan, yaitu Bingbuluh (Belimbing wuluh), jeih (jahe). Kencur (kencor), Sere (Sirih), Molabek Temulawak), Moereng (Temuireng), Binahong, Meronggih (Kelor), Konyek (kunyit), Mores (Sirsak), Jembuh (Jambu biji), Jeruk Porot (Jeruk nipis), Kodduk (Mengkudu), Blimbing (Belimbing). Reproduksi dibagi menjadi dua bagian yaitu aseksual dan seksual, bingbuluh, meronggih, jembuh, jeruk porot,mores, kodduk, dan blimbing termasuk pada reproduksi generative dan vegetatf, jeih, kencor, molabek, moereng, binahong, dan konyek termasuk reproduksi rhizoma (rimpang, akar tinggal) merupakan batang yang tumbuh menjalar secara horizontal di dalam tanah menyerupai akar dan kemudian pada sirih termasuk pada reproduksi vegetatif buatan yang dengan cara mencangkok dan merunduk. &nbsp

    Struktur Makroinvertebrata Bentos Sebagai Bioindikator Kualitas Air di Kawasan Wisata Coban Talun, Kota Batu - Jawa Timur

    Full text link
    Makroinvertebrata bentos merupakan hewan yang memiliki kepekaan terhadap perubahan lingkungan, sehingga dapat dijadikan sebagai bioindikator untuk menentukan kualitas suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi makroinvertebrata bentos dan mengetahui status perairan di Kawasan Wisata Coban Talun, Kota Batu-Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 hingga Januari 2020. Pengambilan sampel penelitian mengunakan metode Purposive sampling. Makroinvertebrata dikumpulkan dari tiga lokasi (stasiun satu dengan karakteristik daerah wisata dan penambangan pasir, stasiun dua daerah konversi bendungan dan aktivitas wisata, stasiun daerah wisata dan aktivitas merumput) dengan mengunakan  Surber net dan hand net. Kualitas periaran berdasarkan struktur komunitas makroinvertebrata bentos dianalisis mengunakan indeks keanekaragaman, Family Biotic Index (FBI) dan Biological Monitoring Working Party-Average Score Per Taxon (BMWP-ASPT). Hasil penelitian mendapatkan 9 taksa dari ketiga stasiun yaitu Coleoptera, Diptera, Ephemeroptera, Mollusca, Odonata Plecoptera, Thricoptera ,Tricadida dan Rhyanchobdellida. Indek keanekaragaman dari ketiga stasiun memiliki nilai 2.4 – 2.58, yang menunjukan keanekragaman sedang dengan status perairan mengalami pencemaran ringan. Kualitas air dari semua stasiun menujukan cukup hingga cukup tercemar (berdasarkan FBI) dan kualiatas perairan tercemar ringan (berdasarkan BMPW-ASPT). Berdasarkan profil struktur komunitas makroinvertebrata bentos kualitas perairan pada kawasan wisata Coban Talun, memiliki kualitas tercemar ringan hingga sedang. Sehingga diperlukan penggelolaan daerah aliran sungai secara berkelanjuatan untuk menjaga kualitas perairan. Kata kunci: Makroinvertebrata bentos, Kualitas perairan, Coban talun, Batu- Jawa Timur Makroinvertebrata bentos merupakan hewan yang memiliki kepekaan terhadap perubahan lingkungan, sehingga dapat dijadikan sebagai bioindikator untuk menentukan kualitas suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi makroinvertebrata bentos dan mengetahui status perairan di Kawasan Wisata Coban Talun, Kota Batu-Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 hingga Januari 2020. Pengambilan sampel penelitian mengunakan metode Purposive sampling. Makroinvertebrata dikumpulkan dari tiga lokasi (stasiun satu dengan karakteristik daerah wisata dan penambangan pasir, stasiun dua daerah konversi bendungan dan aktivitas wisata, stasiun daerah wisata dan aktivitas merumput) dengan mengunakan  Surber net dan hand net. Kualitas periaran berdasarkan struktur komunitas makroinvertebrata bentos dianalisis mengunakan indeks keanekaragaman, Family Biotic Index (FBI) dan Biological Monitoring Working Party-Average Score Per Taxon (BMWP-ASPT). Hasil penelitian mendapatkan 9 taksa dari ketiga stasiun yaitu Coleoptera, Diptera, Ephemeroptera, Mollusca, Odonata Plecoptera, Thricoptera ,Tricadida dan Rhyanchobdellida. Indek keanekaragaman dari ketiga stasiun memiliki nilai 2.4 – 2.58, yang menunjukan keanekragaman sedang dengan status perairan mengalami pencemaran ringan. Kualitas air dari semua stasiun menujukan cukup hingga cukup tercemar (berdasarkan FBI) dan kualiatas perairan tercemar ringan (berdasarkan BMPW-ASPT). Berdasarkan profil struktur komunitas makroinvertebrata bentos kualitas perairan pada kawasan wisata Coban Talun, memiliki kualitas tercemar ringan hingga sedang. Sehingga diperlukan penggelolaan daerah aliran sungai secara berkelanjuatan untuk menjaga kualitas perairan. Kata kunci: Makroinvertebrata bentos, Kualitas perairan, Coban talun, Batu- Jawa TimurMacroinvertebrates bentos are animals that have sensitivity to environmental changes, they can be used as a bioindicator to determine the waters quality. The purpose of this study was to inventory macroinvertebrates and to determine the status of the waters in the Coban Talun Tourism Area, Batu- City East Java. This research was down from October 2019 to January 2020. The Sampling was performed through purposive sampling method. Macroinvertebrates are collected from three locations (station one with the characteristics of tourism and sand mining areas, two stations for the conversion of dams and tourist activities, tourist area stations and grazing activities) using Surber net and hand net. Macroinvertebrates bentos data was used to analyze diversity index ,Family biotic index (FBI)  and Biological Monitoring Working Party-Average Score Per Taxon (BMWP-ASPT)  . The result showed there were 9 benthic macroinvertebrate orders found which included Coleoptera, Diptera, Ephemeroptera, Mollusca, Odonata Plecoptera, Thricoptera, Tricadida and Rhyanchobdellida. Diversity index from the three stations has a value of 2.4 - 2.58, which indicates moderate diversity with water status low pollution. Water quality from all stations is fair to fairly poor (based on the FBI) and water quality is quite polluted (based BMWP-ASPT) . Based on the of structure community makcroinvertebrata bentos warter quality in the Coaban Talum torism is quite polluted to moderate.  There are need environmental management to sustainability maintain water quality.    Keywords: Macroinvertebrates bentos, water quality, Coban talun. Batu East-Java

    Ethnobotany Study of Corn (Zea mays. L) in Tamberu Village West Sokobanah Subdistrict Sampang Madura District

    Full text link
    Corn, which is a tropical grass that is very adaptive to climate change and corn, also has a life span of 75-150 days. Corn can usually grow to reach a height of 3 meters. Corn which usually has a scientific name Zea mays is not like other grain plants, Corn and commonly called jhegung in the language of Madura is a plant that has often been made into cultivated plants and has often been used by the community groups of West Tamberu Village as food as fuel or as animal feed. This study aims to determine the public perception of the benefits of corn plants found in Tamberu Barat Village, Sokobanah District, Sampang Madura Regency. In this study, researchers used descriptive exploratory methods which included: first-hand study, direct observation in the field, interviews using questionnaire guidance, data analysis and documentation of utilization of corn plants. The characteristics of the varieties found in Tamberu Barat Village consist of three varieties, namely local maize plants, hybrid maize plants, sweet corn plants. Public perceptions of corn plants in the western tamberu village are very high potential of corn plants which are used as food (59%), as fuel (10%), as animal feed (13%) and economic needs (18%).  Jagung yaitu tanaman rerumputan tropis yang sangat adaptif terhadap perubahan iklim dan jagung juga memiliki masa hidup 75-150 hari. Jagung dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 3 meter. Jagung yang biasa memiliki nama ilmiah Zea mays tidak seperti tanaman biji-bijian yang lainnya, Jagung dan biasa di sebut jhegung dalam bahasa Madura ialah tanaman yang sudah sering dijadikan tanaman budidaya serta sudah sering dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat Desa Tamberu Barat sebagai bahan pangan sebagai bahan bakar maupun sebagai pakan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang manfaat tanaman jagung yang terdapat di Desa Tamberu Barat Kecamatan Sokobanah Kabupaten Sampang Madura. Penelitian imenggunakan metode deskriptif eksploratif yang meliputi : studi putaka, pengamatan langsung di lapangan, wawancara menggunakan panduan kuesioner, analisis data dan dokumentasi pemanfaatan tanaman jagung. Karakteristik varietas yang terdapat di Desa Tamberu Barat terdiri dari tiga varietas yaitu tanaman jagung lokal, hibrida dan manis. Persepsi masyarakat tentang tanaman jagung di Desa Tamberu Barat sangat tinggi potensi tanaman jagung dimanfaatkan sebagai bahan pangan (59%), sebagai bahan bakar (10%), sebagai pakan ternak (13%) dan kebutuhan ekonomi (18%).    &nbsp

    Etnobotani dan Persentase Frekuensi Tumbuhan Suruhan (Peperomia pellucida) di Pekarangan Desa Jombok Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang: Ethnobotany and frequency percentage of Suruhan plants (Peperomia pellucida) in the Jombok village yard, Ngantang District, Malang Regency

    Full text link
    Plants of Suruhan (Peperomia pellucida) is one of the wild plants that usually grow in moist and population in places. It can be used as antibacterial, anti-inflammatory, and analgesic. People of Jombok Village are still not much aware of the benefits of this plant. The purpose of this research is to know the percentage of frequency and community perception of Jombok Village regarding the utilization of the plant. The methods used in this study are qualitative and quantitative descriptive methods through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The results of this research show that the percentage of Suruhan plants based on their habitat with the highest percentage is in the house fence that there is no ditch about 45% and the lowest is in the pot about 11.67%. Meanwhile, the percentage of Suruhan plant is based on each hamlet, a Bulurejo hamlet with the highest percentage around 26% and the lowest in Kasin  around 11%. The public perception of the plant's knowledge is about 58.34% which knows and about 41.66% who do not know. The knowledge of people who know the benefits of the plant is 48.54% and who do not know that is 51.46%. The Use Value test result is the use of plant parts, the most widely used are the leaves and stems with a percentage of each – approximately 28%, the plant is least used by the roots and flowers of each – Approximately 22%. Second is the utilization of plant of plants as medicine and health drink is the highest percentage of uric acid of 38.23%, muscle aches 23.52%, cholesterol-lowering 11.67%, aches, 8.82%, health drinks 8.82%, heat in 5.88%, and a fever of 2.94% Keywords: Peperomia pellucida, ethnobotany, and knowledge society ABSTRAK Tumbuhan Suruhan (Peperomia pellucida) merupakan salah satu tumbuhan liar yang biasanya tumbuh di tempat-tempat lembab dan bergerombol. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai antibakteri, antiinflamasi, dan analgesik. Masyarakat Desa Jombok masih belum banyak yang mengetahui manfaat dari tumbuhan ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui persentase frekuensi dan persepsi masyarakat Desa Jombok mengenai pemanfaatan tumbuhan suruhan. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase frekuensi tumbuhan Suruhan berdasarkan habitatnya dengan persentase tertinggi yaitu di pagar rumah yang tidak ada selokan sekitar 45% dan terendah yaitu di dalam pot sekitar 11,67%. Sedangkan persentase masing – masing dusun, dusun dengan persentase tertinggi yaitu Bulurejo sekitar 26% dan  terendah di Kasin sekitar 11%. Adapun persepsi masyarakat terhadap pengetahuan tumbuhan suruhan yaitu sekitar 58,34% yang mengetahui dan 41,66% tidak mengetahui. Pengetahuan masyarakat yang mengetahui manfaat tumbuhan suruhan yaitu 48,54% dan tidak mengetahui 51,46%. Adapun hasil uji Use Value yang pertama yaitu pemanfaatan bagian tumbuhan, yang paling banyak digunakan yaitu daun dan batang dengan persentase masing – masing sekitar 28%, bagian tumbuhan suruhan paling sedikit digunakan adalah akar dan bunga yaitu masing – masing sekitar 22%. Kedua yaitu pemanfaatan tumbuhan suruhan sebagai obat dan minuman kesehatan yaitu persentase tertinggi asam urat sebesar 38,23%, nyeri otot 23,52%, penurun kolesterol 11,67%, pegal-pegal 8,82%, minuman kesehatan 8,82%, panas dalam 5,88%, dan demam 2,94%. Kata kunci: Peperomia pellucida, Etnobotani, dan Pengetahuan Masyarakat

    Daya Dukung Fisik Kegiatan Ekowisata Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang – Jawa Timur: Physical Carrying Capacity of Ecotourism Activity in Kondang Merak Beach, Bantur District, Malang

    Full text link
    Kondang Merak Beach is one of the beaches that has the potential for marine ecotourism which has various kinds of tourist activities with an increasing number of visitors. Therefore it is necessary to analyze its physical carrying capacity so that the preservation of natural resources in Kondang Merak can support ecotourism activities in a sustainable. This study aims to analyze the physical carrying capacity of the aquatic and terrestrial ecosystems at Kondang Merak Beach. This study used the observation method with semi-structured interview techniques. Physical carrying capacity data analysis is shown descriptively in tabular form. The results showed that tourism activities utilizing the aquatic ecosystem consisted of diving and snorkeling activities. The value of the physical carrying capacity of the diving activity is 3 people / day and the physical carrying capacity for snorkeling is 40 people / day. In addition, terrestrial tourism has a physical carrying capacity of 1000 people / day. However, the number of visitors can exceed the physical carrying capacity so that it is necessary to limit the number of visitors so that the sustainability of the ecosystem in it can be maintained.  Keywords: ecotourism, kondang merak, physical carrying capasity ABSTRAK Pantai Kondang Merak merupakan salah satu pantai yang memiliki potensi ekowisata bahari yang memiliki berbagai macam kegiatan wisata dengan jumlah pengunjung yang terus mengalami peningkatan. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis daya dukung fisiknya sehingga kelestarian sumber daya alam di Kondang Merak dapat mendukung aktivitas ekowisata secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung fisik ekosistem akuatik dan terestrial di Pantai Kondang Merak. Penelitian menggunakan metode observasi dengan teknik wawancara semi terstruktur. Analisis data daya dukung fisik ditampilkan secara deskriptif dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan wisata dengan memanfaatkan ekosistem akuatik terdiri dari kegiatan selam dan snorkeling. Nilai daya dukung fisik kegiatan selam yaitu 3 orang/hari dan daya dukung fisik untuk kegiatan snorkeling yaitu sebanyak 40 orang/hari. Selain itu wisata terrestrial memiliki nilai daya dukung fisik sebanyak 1000 orang/hari. Namun, jumlah pengunjung dapat melebihi kapasitas daya dukung fisik sehingga diperlukan pembatasan jumlah pengunjung agar kelestarian ekosistem didalamnya dapat terjaga.  Kata kunci: daya dukung fisik, ekowisata, kondang mera

    211

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇