e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
Kandungan Lemak Surimi Ikan Ekor Kuning (caesio cuning) Akibat Penyimpanan Beku dan Sumbangan Angka Kecukupan Lemak (AKL): (Surimi Fat Content of Ekor Kuning Fish (Caesio cuning) as Freeze Storage Consequences and Fat Adequacy Rate )
Yellow tail fish (Caesio cuning) surimi contains high protein levels but low fat levels. Freeze storage as an alternative toward surimi in order to does not occur putrefaction that is been caused by microorganism. The purpose of this research is to study the difference fat content in surimi of yellow tail fish before and after frozen storage. This study used purposive sampling experiments with methods and techniques of analysis test average of two populations (Independent t-Test) with two treatment products surimi freezing storage before and after each with five replications. Quantitative data were analyzed using SPSS version 17 software. The results of the research there is a difference in fat levels decrease significantly that is average in frozen surimi prior to 30.274% while after frozen storage 20.961%. It can be concluded that the storage of frozen surimi experienced a significant decrease in fat levels, so there is a difference between before and after frozen storage, where fat loss of 9.31%. Result is a high decrease of fat in freezer, because fat loss more than 5%.
Keywords: freeze storage, fat content, surimi yellow tail fish
ABSTRAK
Surimi ikan ekor kuning (Caesio cuning) mengandung kadar protein tinggi tetapi kadar lemaknya rendah. Penyimpanan beku sebagai salah satu alternatif agar surimi tidak membusuk sebab aktifnya mikroorganisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari perbedaan lemak surimi ikan ekor kuning (Caesio cuing) sebelum dan sesudah penyimpanan beku. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan purposive sampling dan teknik analisis uji rerata dua populasi dengan dua perlakuan produk surimi sebelum dan sesudah penyimpanan beku masing-masing dengan lima kali ulangan. Data kuantitatif dianalisis menggunakan softwere SPSS versi 17. Hasil penelitian terdapat perbedaan penurunan kadar lemak yang signifikan yaitu rerata pada surimi sebelum penyimpanan beku 30,2741% sedangkan sesudah penyimpanan beku 20,9608%. Surimi penyimpanan beku mengalami penurunan kadar lemak yang signifikan, sehingga terdapat perbedaan antara produk surimi sebelum dan sesudah penyimpanan beku, penurunan lemak sebesar 9,31% dan hasil tersebut merupakan penurunan lemak yang tinggi dalam penyimpanan beku, karena penurunan lemak lebih dari 5%.
Kata kunci: penyimpanan beku, kadar lemak, surimi ikan ekor kuning
Aktivitas Jamur Trichoderma viride Pada Substrat Pasta Tepung Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum) Menggunakan Tolok Ukur Glukosa: (Fungi Activity of Trichoderma viride in Substrat of Rind Powder Paste of Rambutan ( Nephelium lappaceum))
The rind of rambutan (Nepehelium lappaceum) fruit there is a cellulosa high contain of 24.28%. However, the utilization of rambutan rind is still rare and tends to become agricultural waste. This research used rambutan’s rind for glucose production in fermentation with Trichoderma viride fungi. The aim of this research is to study the pH of substrate and fermentation time in producing the highest value of glucose. This research is an experimental study with Randomized Block Design with replications of fermentation time category; 0, 3,6, and 9 days and two replicates of research unit. Analyzed data with ANOVA α = 0.95% and polynomial regression test. Determination of glucose was used phenol sulphate method with UV-vis spectrophotometer technique. pH treatments do not haveeffect toward fungi activity and pH of substrate with high activity of Trichoderma viride is on pH 5. The optimum fermentation time in producing glucose is 112.104 hours produce 38.552 mg/mL.
Keywords: Rind of rambutan fruit, Trichoderma viride, cellulosa
ABSTRAK
Selulosa yang cukup tinggi didalam kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum) sebesar 24,28%. Namun, pemanfaatan kulit buah rambutan masih jarang dilakukan dan cenderung menjadi limbah pertanian. Penelitian ini menggunakan kulit buah rambutan untuk produksi glukosa secara fermentasi dengan jamur Trichoderma viride. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pH substrat dan waktu fermentasi dalam menghasilkan nilai glukosa tertinggi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok dengan ulangan kategori waktu fermentasi; 0, 3, 6, dan 9 hari dan dan dua ulangan unit penelitian untuk masing masing perlakuan, diambil rata-rata sehingga berjumlah 12 unit penelitian. Data dianalisis dengan ANOVA α= 0,95% serta uji regresi polinomial. Penentuan kadar glukosa dengan metode sulfat fenol dengan teknik spektrofotometer UV-sinar tampak. Perlakuan pH tidak mempunyai pengaruh kepada aktivitas jamur dan pH substrat dengan aktivitas Trichoderma viride tertinggi pada pH 5. Waktu fermentasi optimum dalam menghasilkan glukosa pada jam ke 112,104 menghasilkan 38.552 mg/mL.
Kata kunci: Kulit buah rambutan, Trichoderma viride, Selulosa
Studi Etnozoologi Ikan Hias Kelompok Nelayan Samudera Bakti Desa Bangsring Wongsorejo Banyuwangi: Ethnozoology Study about Ornamen Fish of the Samudera Bakti Fisherman Group in Bangsring Wongsorejo Banyuwangi
Indonesia is a maritime country that has the potential of marine ornamental fish is quite large. The management of marine natural resources has been widely developed by fishermen. This study aims to determine the types of ornamental fish caught by Samudera Bakti fisherman group and the ornamental fishing process. The method used is qualitative descriptive with field observation, interview and identification of ornamental fish. The results of this study fisherman catch ornamental fish on Monday - Friday by using tools nets, scoop net and compressor as a breathing apparatus. Fishermen catch fish in the dry season while the rainy season does not catch. The captured fish species consisted of 35 species belonging to 16 families and new species. Environmental management is done that is catching fish according to size and amount that have been determined, not damage and step on coral reef. Abstinence when catching ornamental fish is not to dispose of hot water and ‘sambel’ (chillies paste) into the sea water because fishermen believe it can reduce the sustenance. If the ornamental fish begin to decrease the Bangsring fishermen perform a ritual in the form of offerings i.e 7 Flowers, 7 traditional foods, red-white of ‘jenang’ (red-white porridge) with grated coconut and incense, placed on the boat when catching ornamental fish.
Keywords: Ethnozoology, Ornamental Fish, Ornamental fishing
ABSTRAK
Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai potensi ikan hias laut cukup besar. Pengelolaan sumberdaya laut peisisir telah banyak dikembangkan oleh nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis – jenis ikan hias yang ditangkap oleh kelompok nelayan Samudera Bakti dan proses penangkapan ikan hias. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif dengan observasi lapangan, wawancara dan identifikasi ikan hias. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nelayan menangkap ikan hias pada hari senin – jumat dengan menggunakan alat jaring, serok dan kompresor sebagai alat bantu pernapasan. Nelayan menangkap ikan pada musim kemarau sedangkan musim hujan tidak menangkap. Jenis – jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan Bangsring terdiri dari 34 spesies yang termasuk dalam 14 famili dan 1 spesies baru. Nelayan menangkap ikan hias sesuai dengan ukuran dan jumlah yang sudah ditentukan, tidak merusak dan menginjak terumbu karang, hal ini dilakukan untuk menjaga diversitas ikan hias dan keseimbangan ekologi laut. Pantangan pada saat menangkap ikan hias adalah tidak boleh membuang air panas dan sambel ke dalam air laut karena nelayan percaya dapat mengurangi rezeki. Jika ikan hias mulai berkurang nelayan bangsring melakukan sebuah ritual berupa sesaji yaitu Bunga 7 rupa, jajanan pasar 7 rupa, jenang merah putih dengan parutan kelapa dan dupa, yang ditaruh diatas kapal saat menangkap ikan hias.
Kata kunci: Etnozoologi, Ikan Hias, Penangkapan Ikan Hia
Pengaruh Ekstrak Metanolik (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans) Yang Diberikan Secara Subkronik 90 Hari Pada Tikus Betina (Rattus norvegicus) Terhadap Necrosis Otak: (Metanolic Extraction of (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans) Effect which is given 90-Days Sub-chronic on Female Rats (Rattus norvegicus) toward Necrosis of Brain )
The goals of this research is to know the effect of MESA (Extraction of Methanolic Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans toward the description of necrosis of brain female rats (Rattus norvegicus) by sub-chronic 90 days. The method of this research uses True Experimental Design by complete randomized design. The samples which are used are 40 rats that divided into 4 treatments, a control group (without exposed by MESA) 3 treatment groups are exposed by multilevel MESA those are 250 mg/Kg BW, 500 mg/KgBW and 1000 mg/KgBW. In the 90th day, the rats are sacrificed, the rats are anesthesia then the rats are observed by macro-pathology that will be pondered (absolute weight) must be dried with absorbent paper. Meanwhile the analyzed data is relative weight that is absolute organs weight divided by body weight. Organs examined histopathologies which are observed are brain organs. Every organs and tissues were separated, entered into formaldehyde solution 10% and made histopathology preparations then examined under microscope. The result of this research is shown that giving MESA between groups of treatment compared to group of control are insignifican. means is not getting toxic toward female rats. Due the active substances contained in MESA is Flavonoids and Kuersetin that contain antioxidans and can inhibit free radicals.
Keyword: Brain, Necrosis, Mistle Toe
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh EMSA (Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (BI.) Dans) terhadap gambaran nekrosis otak tikus (Rattus norvegicus) betina secara subkronik 90 hari. Metode penelitian ini menggunakan True Experimental Design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel yang digunakan sebanyak 40 ekor tikus. dengan dibagi 4 perlakuan, 1 kelompok kontrol (tanpa diberi EMSA) 3 kelompok perlakuan dengan diberi EMSA yang bertingkat yaitu 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB. Pada hari ke-90 tikus dikorbankan, tikus dibius kemudian dilakukan pengamatan secara makropatologi yang akan ditimbang (bobot absolut) harus dikeringkan terlebih dahulu dengan kertas penyerap. Sedangkan data yang di analisis adalah bobot relatif, yaitu bobot organ absolut dibagi bobot badan. Organ yang diperiksa histopatologi yang diamati adalah organ otak. Setiap organ dan jaringan yang sudah dipisahkan dimasukkan dalam larutann formalin 10% dan dibuat preparat histopatologi kemudian di periksa dibawah mikroskop. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian EMSA pada perlakuan tikus kontrol (tanpa perlakuan) tidak berbeda nyata dibandingkan dengan tikus perlakuan, sehingga EMSA aman (tidak toksik ) terhadap tikus betina dikarenakan zat aktif yang terkandung dalam EMSA.
Kata kunci: Otak, Nekrosis, Benalu Te
Studi Sub-Kronik 90 Hari: Profil Histopatologi Pada Jaringan Pulmo Tikus (Rattus norvegicus) Akibat Paparan Ekstrak Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans.: (Study of 90 Days Sub Chronic: The Histopathology Profile in The Pulmo Tissue Rats Exposured Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans. Extraction)
Leave of Scurrula atropurpurea (Bl.)Dans. Contains antioxidants that are active substances particularly flavonoids (quercetin, rutin, saponin et.al) used to lower necrosis lungs. The purpose of this study, that is knowing the influence Methanolic Extract Scurrula atropurpurea (Bl.)Dans and (MESA) for toxicity test on lungs necrosis sub-chronic for 90 days. MESA is made through maceration with methanol and the extraction process to shaped paste. The subject of this study, 40 female rats Rattus norvegicus wistar which are divided into 4 groups: control, P1 (250 mg/KgBW), P2 (500 mg/KgBW) and P3 (1000 mg/KgBW). MESA is fed 5 times a week for 90 days. After 90 days, the rats were sacrificed, all the treatment taken organ lungs and made slides histopathology. Data analysis use One way ANOVA test. MESA contain flavonoids that inhibit the concentration of lipids in a way enhance the activation of macrophages thus lowering inflammation in necrosis lungs. Results of the study prove an average dose of EMSA lungs necrosis not the real difference compared to all treatment. This is confirmed with a test MESA dose of histopathology, which show wasn’t a real difference with control. It shows the EMSA has no effect against female rat lungs necrosis and no toxic effects posed so sub-chronic test 90 days EMSA declared safe to foundation of the alternative herbal medicine preparations.
Keywords:Necrosis, Pulmo, Mistletoe tea
ABSTRAKÂ
Daun kering benalu Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans. mengandung antioksidan berupa zat aktif flavonoid (kuersetin, rutin, saponin, dll) yang berfungsi menurunkan nekrosis pulmo. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh Ekstak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans dan (EMSA) terhadap nekrosis pulmo pada uji toksisitas subkronik selama 90 hari. EMSA dibuat melalui proses maserasi dengan metanol dan proses ekstraksi sampai EMSA berbentuk pasta. Subyek penelitian ini adalah 40 tikus betina Rattus norvegicus galur wistar yang terbagi dalam 4 kelompok perlakuan, yaitu: Kontrol, P1(250 mg/KgBB), P2(500 mg/KgBB) dan P3(1000 mg/KgBB). EMSA disondekan 5 kali dalam seminggu selama 90 hari. Setelah 90 hari, tikus dikorbankan, semua perlakuan diambil organ pulmo dan diuji histopatologi. Analisis data menggunakan uji One way ANOVA.Hasil penelitian menunjukkan EMSA mengandung flavonoid yang menghambat peroksidasi lipid dengan cara meningkatkan aktivasi makrofag sehingga menurunkan inflamasi. Analisis ANOVA menunjukkan rata-rata nekrosis pulmo dosis EMSA dan kontrol tidak beda nyata. Hal ini dikonfirmasi dengan uji histopatologi dosis EMSA yang menunjukkan tidak beda nyata dengan semua perlakuan. Hal tersebut menunjukkan EMSA tidak berpengaruh terhadap nekrosis pulmo tikus betina dan tidak ada efek toksik yang ditimbulkan, sehingga secara uji subkronik 90 hari EMSA dinyatakan aman digunakan sebagai sediaan obat herbal.
Kata kunci: Nekrosis, Pulmo, Benalu te
Efek Pemberian Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl) Dans Terhadap Total Kolesterol Tikus Wistar Secara Subkronik: (Methanolic Extract of Scurrula atropurpurea (Bl) Dans Effect to Cholesterol Level of Wistar Rat in Sub-Chronic)
Cholesterol is an essential structural of component that makes up the cell membrane and external layer of plasma lipoproteins. This research was conducted to find out the influence of Methanolic Extract of Scurrula atropurpurea (Bl) Dans (MESA) against female wistar rats cholesterol levels (Rattus norvegicus) for 28 days (exposure to subchronic). This research is experiment that is True Experimental Design with Complete Random Design. MESA presented in rats 5 times in 1 week for 28 days, the animals try to mice used is rat females totalled 20 rats and divided into 4 groups. First, control group and second a treatment group with 3 different doses of 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW, and 1000 mg/KgBW. The inspection is carried out at regular intervals and at the end of the treatment period, all rats were sacrificed to do an examination of total cholesterol in serum of rats. Data analysis using SPSS 17.0 Statistics examination and results of average is significant differences with one-way analysis of variance. MESA does not have an effect on cholesterol levels of female rats through Clinical Biochemistry test of total cholesterol (p > 0.05). Comparison between treatment groups and groups who were denied treatment (not being MESA) is not real so that different stated MESA with a dose of 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW, and 1000 mg/KgBW no effect on cholesterol levels.
Keywords : Cholesterol, Sub-Chronic, Loranthus tea
ABSTRAK
Kolesterol merupakan komponen struktural yang esensial dan membentuk membran sel serta lapisan eksternal lipoprotein plasma. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl) Dans (EMSA) terhadap kadar kolesterol tikus wistar betina (Rattus norvegicus) selama 28 hari (paparan subkronik). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yaitu True Experimental Design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). EMSA dipaparkan pada tikus 5 kali dalam 1 minggu selama 28 hari, Hewan coba tikus yang digunakan adalah tikus betina yang berjumlah 20 ekor dan dibagi menjadi 4 kelompok, 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan dengan dosis yang berbeda yaitu 250 mg/KgBB; 500 mg/KgBB; 1000 mg/KgBB. Pemeriksaan dilakukan secara berkala dan pada akhir periode perlakuan, semua tikus dikorbankan untuk dilakukan pemeriksaan total kolesterol pada serum tikus. Analisis Data menggunakan SPSS Statistic 17.0, dan hasil pemeriksaan menunjukkan perbedaan signifikan rata-rata dengan analisis anava satu arah. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa EMSA tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol tikus betina melalui uji biokimia klinis total kolesterol (p>0,05). Jika dibandingkan antara kelompok perlakuan dan kelompok yang tidak diberi perlakuan (tidak dipapar EMSA) tidak berbeda nyata sehingga dinyatakan EMSA dengan dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB, dan 1000 mg/KgBB tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol.
Kata kunci : Kolesterol, Subkronik, Benalu Te
Pengaruh Lama Penyimpanan Benih Tembakau (Nicotiana tabacum) Terhadap Viabilitas Benih Dengan Menggunakan Metode UDK: (The Influence of Storage Duration Againts Tobacco (Nicotiana tabacum) Seed Viability by Using UDK Method)
Seed testing is important, means farmers avoid any kinds of losses that can happen in their farming implementation. The purpose of this research is to learn how to examine seed viability by examining the germanition and amount of water. The method was used experiment with Complete Randomized Design and four replications. The observed parameter is the normal quantity of germination, for amount water with performing calculation on seed before and after oven. Data analysis using SPSS V17 for ANOVA and Duncan examination. The result of the research shows that the germination which is already stored and not stored yet has a significant difference. The percentage of germination capacity decreased along with the storage time which is 96% not stored seed, 94.65% after the seed stored (5 years), 85.35% (10 years), 73.6% (15 years), 25.3% (20 years), and 6% (25 years). The duration of storage 5 up to 10 years tend still well because the germination capacity are over 80%. The duration storage does not affect the seed’s amount of water.
Keywords: viability, germination capacity, amount of water, duration of storage.
ABSTRAK
Pengujian benih sangat penting, terujinya benih berarti terhindarnya para petani dari berbagai kerugian yang dapat timbul dalam pelaksanaan usaha taninya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya kecambah benih yang belum disimpan dan benih yang sudah disimpan, kadar air sebelum dan sesudah disimpan,. Metode yang digunakan yaitu eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap, 4 kali ulangan. Parameter yang digunakan untuk daya kecambah yaitu dengan menghitung jumlah kecambah normal, untuk kadar air yaitu dengan melakukan perhitungan pada benih sebelum dan sesudah di oven. Sedangkan analisis data menggunakan SPSS V17 untuk uji ANAVA dan uji Duncan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa daya kecambah benih yang belum disimpan dengan benih yang sudah disimpan memiliki perbedaan yang nyata. Persentase daya kecambah benih mengalami penurunan seiring dengan lama penyimpanannya, yaitu 96% benih yang belum disimpan, 94,65% sesudah benih disimpan (5 tahun), 85,35% (10 tahun), 73,6% (15 tahun), 25,3% (20 tahun), dan 6% (25 tahun). Lama penyimpanan 5 sampai 10 tahun masih baik karena daya kecambahnya di atas 80%. Lama penyimpanan tidak berpengaruh terhadap kadar air benih
Kata kunci: viabilitas, daya kecambah, kadar air, lama penyimpana
Profil Histopatologi pada Jaringan Jantung Tikus Subkronik 90 Hari Menggunakan Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans: (Histopathologic Profile in the Heart Tissue of 90-Days Sub-Chronic Rats Using Metanolic Extract of Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans)
The goal of this research is to study the effect of Scurrrula atropurpurea (BI). Dans Metanolic Extraction toward cardiac necrosis in sub-chronic of 90- days of female rat. The method of this research is Experiment by complete randomized design. The numbers of rats that will be used are 40 female rats, with 100-200 gram weight that is divided into four groups; one group as control and 3 treatment groups. Treatment groups are given Metanolic Extract of Scurrrula atropurpurea (MESA) with different doses thoses are 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW, and 1000 mg/KgBW, the rats will be satisfied for 14-18 hours before it will be sonde. MESA is given minimal 5 times in a week for 9- days, rats is scarified and taken the cardiac organ. The cardiac organ is fed into a 10% formalin solution and a histopathologic preparation is then examined under microscope. The result showed ANOVA in SPSS 15.0. the treatment not significantly different than control rats, this shows that the effect of MESA toward necrosis of cardiac rat no effect toxic so the MESA is safe by sub-chronic test. Myocardial cell has signs of necrosis such as pycnotics; shrinking cell nucleus, cariorecsis; crushed cell nucleus, and cariolysis; cell nucleus disappear.
Keyword: Cardiac, Necrosis, Exctract, Sub-chronic, MESA
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans secara subkrobik 90 hari pada tikus betina terhadap nekrosis Jantung. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap. Jumlah tikus yang digunakan 40 ekor tikus betina dengan berat badan 100-200 gr yang dibagi menjadi 4 kelompok, 1 sebagai kontrol dan 3 kelompok adalah perlakuan. Kelompok perlakuan diberi EMSA dengan dosis berbeda yaitu 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB, dan 1000 mg/KgBB, tikus dipuasakan selama 14-18 jam sebelum disonde. EMSA diberikan minimal 5 kali dalam seminggu selama 90 hari, tikus dikorbankan dan diambil organ jantung. Organ jantung dimasukkan ke dalam larutan formalin 10% dan dibuat preparat histopatologi kemudian diperiksa dibawah mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji ANOVA pada SPSS 15.0. tikus perlakuan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan tikus kontrol, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh EMSA terhadap nekrosis jantung tikus tidak ada efek toksik sehingga EMSA aman secara uji subkronik. Sel miokardium memiliki tanda-tanda nekrosis seperti piknotik; penyusutan inti sel, karioreksis; inti sel hancur dan kariolisis; inti sel menghilang.
Kata Kunci: Jantung, Nekrosis, Ekstrak, Subkronik, EMS
Uji Kualitas Air Sungai Bengawanjero Di Desa Bojoasri Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan: Water Quality Test of Bengawanjero River in Bojoasri Village of Kalitengah District of Lamongan Regency
The research has the objective to know the water quality of Bengawanjero River in terms of the quality of physics and chemistry, and compare the test result with the standard quality of water in government rule of Indonesian Republic No. 28 year 2001. Research use Survey-Qualitative and Quantitative Descriptive method. Qualitatively measured parameters were odor, color, taste, depth, current velocity, brightness. Descriptive quantitative parameters were temperature, turbidity, TSS, TDS, Conductivity, Current velocity, Salinity, DO, BOD, CO2, Ammonia, and pH. Color parameters obtained few turbid, ground smell odor and slightly salty taste. Physical parameters; brightness, depth, current velocity, turbidity, TSS, TDS, conductivity of every station fulfill criteria or as classified normal in accordance with water quality standard of No.82 year 2001 for class II. Based on the quality of the Bengawanjero River waters at every station of the chemical parameters; salinity, BOD, CO2, ammonia, and pH fulfill the water quality standard criteria. The condition of the Bengawanjero River in terms of physical and chemical parameters is normal quality. In the Wates, however, the dissolved oxygen value is lower i.e 3.86 than the permitted quality standard with BOD and turbidity values higher than others were possible by organic factor.
Keywords: Water Quality, Physical and Chemical Parameter, Bengawanjero River
ABSTRAK
Penelitian mempunyai tujuan untuk mengetahui kualitas air sungai Bengawanjero ditinjau dari kualitas fisika dan kimia, dan membandingkan hasil uji dengan standar baku mutu kualitas air PP No 28 tahun 2001. Metode yang digunakan adalah metode Survei-Deskriptif Kualitatif dan Kuantitatif. Secara Kualitatif diukur parameter: Bau, warna, rasa, kedalaman, kecepatan arus, kecerahan. Deskriptif kuantitatif adalah parameter : Suhu, Kekeruhan, TSS, TDS, Konduktivitas, Kecepatan arus, Salinitas, DO, BOD, CO2, Amonia, dan pH.. Parameter warna didapatkan agak sedikit keruh, berbau tanah dan rasa agak sedikit asin. Parameter fisika; kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, kekeruhan, TSS, TDS, konduktifitas tiap stasiun memenuhi kriteria atau tergolong normal sesuai dengan baku mutu air PP No.82 tahun 2001 untuk kelas II. Berdasarkan kualitas perairan sungai Bengawanjero pada tiap-tiap stasiun dari parameter kimia; salinitas, BOD, CO2, amonia, dan pH memenuhi kriteria baku mutu air. Kondisi sungai Bengawanjero ditinjau dari parameter fisika dan kimia masih tergolong kualitas yang normal. Akan tetapi pada dusun Wates nilai DO lebih rendah yaitu 3,86 dari baku mutu yang diizinkan dengan nilai BOD dan kekeruhan lebih tinggi dibanding lainnya dimungkinkan oleh faktor bahan organik.
Kata kunci : Kualitas Air, Parameter Fisika dan Kimia, Sungai Bengawanjer
Uji Kandungan Senyawa Aktif pada Kombinasi Kudu Laos (Morinda citrifolia dan Alpinia galanga): (Test of Active Compound in Combination of the Kudu-Laos (Morinda citrifolia and Alpinia galanga))
Herb or herbal medicine namely Kudu Laos potential as afitness therapy used in health care. This research aims to know contains of active compound in the combination of Morinda citrifolia and Alpinia galanga which had different treatments, by finding the correlation among of the active compound. The kind of this research is experimental laboratory using Complete Random Design (CRD) with observation of color result. Using the newton’s reversed ring scale which concentrated color has scale 4 and the bright color has scale 1. The research was conducted by three treatments of volume comparison with four replications. Using application of SPSS version 15.0 to test of Pearson correlation and examine alkaloid in the combination of mengkudu (Morinda citrifolia) and galangal (Alpinia galanga) there is a change of color become orange, that’s mean positive (+) contains alkaloid. Examining flavonoid, there is change of color become yellow, that’s mean positive (+) contains flavonoid. Examining of saponin by seeing the positive stable foam (+), it contains saponin. The correlation result of active compound on the mengkudu galangal, flavonoids that correlate with alkaloid is very strong also between alkaloid with saponin, and flavonoid with saponin.
Keywords : active compound, combination, mengkudu and galangal
ABSTRAK
Jamu kudu laos potensial sebagai terapi kebugaran yang digunakan dalam perawatan kesehatan. Tujuan penelitian adalah mempelajari kandungan senyawa aktif dalam perasan dari perlakuan perbandingan volume Kudu-Laos yang berbeda dan mendapatkan korelasi diantara senyawa aktif. Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengamatan warna. Menggunakan skala cincin newton yang dibalik yaitu warna pekat mempunyai skala 4 dan warna lebih terang dengan skala 1. Dilakukan tiga kali perlakuan berbandingan volume dengan empat kali pengulangan. Menggunakan data analisis tes korelasi Pearson aplikasi SPSS versi 15.0. Hasil penelitian kombinasi mengkudu dan lengkuas uji alkaloid terdapat perubahan warna menjadi oranye yang berarti positif (+) mengandung alkaloid. Uji flavonoid terjadi perubahan warna menjadi kuning positif (+) adanya flavonoid. Uji saponin dengan melihat busa stabil banyak busa positif (+) mengandung saponin. Hasil korelasi senyawa aktif pada jamu kudu-laos flavonoid berkorelasi dengan alkaloid sangat kuat, demikian pula antara alkaloid dengan saponin serta antara flavonoid dengan saponin.
Kata kunci: senyawa aktif, kombinasi, mengkudu dan lengkua