e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
PERSEPSI MASYARAKAT TRADISIONAL PULAU MANDANGIN KABUPATEN SAMPANG TERHADAP TANAMAN MIMBA (Azadirachta indica Juss)
Plant of neem (Azadirachta indica Juss) is one kind of plant that is quite known by the people of Indonesia. Neem is a multipurpose plant, among other things wood for building materials and home furnishings, ornamental plants, fodder or protective curbs and soil conservation. Ethnobotany is the science of botany that studies on the use of herbs in everyday use and indigenous tribes. This study aims to determine the public perception Mandangin in utilizing plants Neem in the area of traditional societies Mandangin. Research method use descriptive method (qualitative) by jumping directly to the field or community Mandangin for data retrieval. Qualitative research aims to obtain a full picture about something humanly studied. The results showed in the community based on community respondents who once planted a neem plant in the neighborhood of 5% the percentage obtained frequently and tend intensive, 13.3% often, 35% rarely and 46% never and based on interviews with respondents note that the use of plants that used as medicine by people Mandangin done in two categories, namely as a drug outside and inside. Regarding how the use of plants as medicines classified into threes, namely: Boiled drinking water with a percentage of 65%; pounded, affixed with a percentage of 23%; warmed, affixed with a percentage of 12%.Tanaman mimba (Azadirachta indica  juss) merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup di kenal oleh masyarakat Indonesia. Mimba merupakan tanaman serbaguna, anatara lain kayunya untuk bahan bangunan dan perabot  rumah  tangga sebagai tanaman hias, pakan ternak atau pelindung di tepi jalan dan untuk konservasi tanah. Etnobotani merupakan ilmu botani yang mempelajari tentang pemanfaatan tumbuh-tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangsa. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui persepsi masyarakat Mandangin dalam memanfaatkan tanaman mimba (Azadirachta Juss) pada daerah masyarakat tradisional Mandangin Metode penelitian ini menggunakan Metode deskriptif (kualitatif) dengan cara terjun langsung ke lapangan atau masyarakat Mandangin untuk pengambilan data. Penelitian kualitatif bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan pada masyarakat berdasar responden masyarakat yang pernah menanam tanaman mimba di lingkungan didapatkan presentase 5% sering dan cenderung intensif, 13,3% Sering, 35% Jarang dan 46% tidak pernah dan berdasarkan hasil wawancara dengan responden diketahui bahwa dalam pemanfaatan tumbuhan yang digunakan sebagai obat oleh masyarakat Mandangin dilakukan dengan dua kategori yaitu sebagai obat luar dan dalam. terkait cara pemanfaatan tumbuhan sebagai obat digolongkan menjadi tiga, yaitu: Direbus, dimimun airnya dengan presentase 65%;ditumbuk, ditempelkan dengan presentase 23%; dihangatkan, ditempelkan dengan presentase 12%
UJI KUALITAS AIR SUMUR KELURAHAN MERJOSARI KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG
The purpose of this research is to know the value of well water quality with quality testing in terms of physics, chemistry and biology, as well as compare the test results with the drinking water quality of No. 492/MENKES/PER/1V/2010. The method used in this study is a Qualitative Descriptive method for the parameters: temperature, TDS, TSS, salinity, pH, DO, CO2 and Coli form bacteria, whereas Quantitative Descriptive for parameters: color, odor, and taste. The result parameter of the physics, chemistry and biology showed the quality of well water is still feasible because of the low level of pollution. TDS results mostly dissolved ionic material, high TSS value because of waste organic or non-organic and high levels of mud due to annihilation. The temperature of the well water is still at maximum temperature range (24.3-27.3 ° c) belongs to the normal water temperature. Values of dissolve oxygen (DO) shows all the samples are in the normal range of good raw water quality. Result of CO2  53,3-42.3 mg/L, well water pH range 6.5 to 8.5 which means normal. The salinity of the water wells are at standard quality raw fresh water. Biological parameters a total of coli from are high of 7. Potential components can contaminate well water is liquid waste penetrate of organic and inorganic fertilizer, domestic waste, and the distance of making the well with septic tank but are still at normal thresholds according to the quality of drinking water No. 492/MENKES/PER/IV/2010.Tujuan penelitian adalah mengetahui nilai kualitas air sumur ditinjau dari uji kualitas fisika, kimia dan biologi serta membandingkan hasil uji dengan kualitas air minum No.492/MENKES/PER/1V/2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif Kualitatif yang digunakan untuk parameter: Suhu, TDS, TSS, Salinitas, pH, DO, CO2 dan bakteri Coliform, sedangkan Deskriptif Kuantitatif untuk parameter: Warna, Bau, dan Rasa. Hasil parameter fisika, kimia dan biologi menunjukan kualitas air sumur masih layak karena tingkat pencemaran yang rendah. Hasil TDS sebagian besar material terlarut yang tinggi ion, Nilai TSS yang tinggi disebabkan karena limbah organik maupun non-organik dan tingkat lumpur yang tinggi akibat pengikisan. Suhu air sumur masih berada pada kisaran suhu maksimum (24,3-27,3 oC) tergolong suhu air normal. Nilai DO menunjukkan semua sampel berada pada kisaran normal baku mutu air yang baik, hasil CO2 53,3-42,3 mg/L, pH air sumur berkisar 6,5-8,5 yang berarti normal. Salinitas air sumur berada pada standar baku mutu air tawar. Hasil parameter biologi dengan total Coliforom tertinggi 7. Komponen berpotensi mencemari air sumur adalah limbah cair resapan pupuk organik dan anorganik, limbah domestik, dan jarak pembuatan sumur dengan saptitenk, tetapi masih berada pada ambang batas normal menurut kualitas air Minum No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Â
KAJIAN PEMBERIAN KOLKISIN DENGAN METODE TETES TERHADAP PROFIL POLIPLOIDI TANAMAN ZAITUN (Olea europaea)
The olive (Olea europaea) included in the family Oleaceae. Olive (Olea europaea) has 2n = 46 chromosomes. Accelerated evolution in higher plants can be characterized by an increase in the number of chromosomes as a result of polyploidy. Polyploidy can be done by duplicating the number of chromosomes and this can be caused by several antimitotic agent and the most common of which is colchicine. Colchicine many successfully used to obtain polyploidy in Olive plants for increasing secondary metabolite ingredients. This study aims to determine chromosome profiles olive plants after administration concentration of colchicine 0 %, 0.25 %, 0.50 %, 0.75 % and 1 % using drip method. The method used in this research is descriptive qualitative method. The results showed that administration of colchicine with a drip method can affect the olive plant chromosome profile. Observations at a concentration of 1 % indicate that chromosomes in the concentrations seen more. It can be used as an indication of polyploidy in Olive plants. Keywords: Polyploidy, Olives, Colchicine.ABSTRAKPohon zaitun (Olea europaea) termasuk ke dalam famili Oleaceae. Zaitun (Olea europaea) memiliki kromosom 2n = 46. Evolusi yang dipercepat pada tanaman tingkat tinggi dapat ditandai oleh bertambahnya jumlah kromosom sebagai hasil poliploidi. Kromosom dapat diduplikasi melalui mutasi sehingga memunculkan peristiwa poliploidi. Poliploidi dapat dilakukan dengan menggunakan kolkisin sebagai agen antimitosis. Kolkisin telah banyak digunakan untuk memperoleh poliploidi pada tanaman zaitun untuk meningkatkan kandungan metabolit sekundernya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kromosom tanaman zaitun setelah pemberian konsentrasi kolkisin 0%, 0,25%, 0,50%, 0,75% dan 1% dengan menggunakan metode tetes. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian kolkisin dengan metode tetes dapat mempengaruhi profil kromosom tanaman zaitun. Hasil pengamatan pada konsentrasi 1% menunjukkan bahwa kromosom pada konsentrasi tersebut cenderung lebih banyak. Hal ini dapat digunakan sebagai indikasi adanya poliploidi pada tanaman zaitun. Kata Kunci: Poliploidi, zaitun, kolkisi
KAJIAN SUBKRONIK EKSTRAK METANOLIK Scurrula atropurpurea (BI) Dans TERHADAP KADAR GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE TIKUS BETINA
Liver is an organ that susceptible to the ravages of drugs or toxic chemicals substance because liver is central’s organ occurrence of body’s metabolism. Liver damage can be known with increasing levels of Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) in the blood. This study aimed to know levels of SGOT on female wistar rats after administering Metanolic extract of Scurrula atropurpurea for 28 days (Sub-Chronic exposure). This re-search used a True Experimental Design with Complete randomized design. Twenty female wistar rats, weight 100-200 gr are divided into 4 groups, 1 group as control and 3 groups is the treatment, treatment groups were given different doses with EMSA i.e. 250 , 500, and 1000 mg/Kg BW. Rats were fasted for 14-18 hours before it had given treatment. EMSA awarded at least 5 times a week for 28 days. After 28 days, rats were sacrificed and done the examination levels of SGOT, serum levels of SGOT treatment group compared the control. The results showed that levels of SGOT in serum of mice have an increased dose of 250, 500, and 1000 mgKg BW compared with controls, but having tested the ANOVA showed that the treatment group of mice did not differ markedly compared the control, this means that Metanolic extract of Scurrula atropurpurea has no effect against a female rat serum levels of SGOT and no toxic effects so securely test sub-chronic.Keywords: Liver, Loranthus tea, SGOT, Sub-ChronicABSTRAKHati merupakan organ yang sangat rentan terhadap kerusakan akibat obat atau bahan kimia beracun karena hati merupakan organ pusat terjadinya metabolisme dalam tubuh. Kerusakan hati dapat diketahui dengan indikator meningkatnya kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dalam darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar SGOT pada tikus wistar betina setelah pemberian Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (EMSA) selama 28 hari (paparan subkronik). Jenis penelitian ini merupakan True Experimental Design dengan Rancangan Acak Lengkap. Jumlah tikus yang digunakan 20 ekor tikus wistar betina dengan berat badan 100-200 gr yang dibagi menjadi 4 kelompok, 1 kelompok sebagai kontrol dan 3 kelompok adalah perlakuan, kelompok perlakuan diberi EMSA dengan dosis berbeda yaitu 250 mg/Kg BB, 500 mg/Kg BB, dan 1000 mg/Kg BB, tikus dipuasakan selama 14-18 jam sebelum disonde. EMSA diberikan minimal 5 kali dalam seminggu selama 28 hari. Setelah 28 hari, tikus dikorbankan dan dilakukan pemeriksaan kadar SGOT dari serum, hasil kadar SGOT kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar SGOT pada serum tikus mengalami peningkatan dari dosis 250, 500, dan 1000 mgKgBB dibandingkan dengan kontrol, namun setelah diuji ANOVA menunjukkan bahwa tikus kelompok perlakuan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan tikus kontrol, hal ini berarti bahwa EMSA tidak berpengaruh terhadap kadar SGOT serum tikus betina dan tidak ada efek toksik yang dituimbulkan sehingga EMSA aman secara uji subkronis.Kata kunci: Hati, SGOT, Benalu Teh, Subkroni
PERANAN PENAMBAHAN BAP DAN NAA PADA PERTUMBUHAN KALUS KEDELAI (Glycine max Merr) MENGGUNAKAN MEDIA B5
Soybean is known as a protein source for the nutrient content and protein content is very important and safe for consumption. The main cause is the decline in the quality of production of soybean production and pest attack. One way that is optimal for the regeneration of callus into shoots, therefore the researchers performed regeneration method callus into shoots through the stages in vitro. This method is by way of regeneration through callus through stages of organogenesis and embryogenesis. The resultof this study use experimental method and data analysis ANOVA test for a completely randomized design (CRD). Deuteronomy done three times, each given a BAP concentration control, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm and given the concentration control NAA, 0.2 ppm, 0.3 ppm, 0.4 ppm. Callus has been through the stages of subculture undergo different color changes this because the callus change color because there changes in pigment, light, part of the plant used as explants. This is due to inadequate nutrition which is in the media so that a callus treatment discoloration. The result showed that the concentrations of different hormones that give different results in the formation of callus. Callus formation varied between PGR concentration tested. The result of descriptive analysis showed that the average value of each treatment has not difference obvious. The result of ANOVA test obtained significance value of 0.99 and a significance value> α of 5%, the decision was taken H0is accepted, which there is no any significance difference of the four treatment groups.Regenerasi kalus dalam kultur jaringan, hal ini dapat berupa regenerasi kalus menjadi tunas dalam tahapan in vitro. Dalam regenerasi melalui kultur jaringan ada tahapan – tahapan organogenesis dan embriogenesis. Metode eksperimen dilakukan dalam penelitian, denganRancangan Acak Lengkap (RAL) sedangkan data dianalisismenggunakan uji anova. Penambahan BAP dan NAA berbagai kosentrasi BAP, kontrol; 2 ppm ; 3 ppm ; 4 ppm dan kosentrasi NAA, kontrol; 0,2 ppm; 0,3 ppm; 0,4 ppm.induksi kalus dilakukan dengan menggunakan hormon 2,5-D 4 ppm dalam media B5.BAP dan NAA dilakukan dalam subkultur dari kalus yang terbentuk. Hasil penelitian ini terlihat bahwa pertumbuhan kalus yang semula berwarna putih terjadi perubahan. Perlakuan BAP 3 ppm dan NAA 0,3 ppm kalus berubah menjadi hijau, hal ini menunjukkan warna hijau akan tumbuh menjadi tunas. Ternyata pemberian kosentrasi yang berbeda akan menghasilkan variasi warna maupun struktur kalus. Ternyata perlakuan kontrol menunjukkan warna hijau dengan struktur kompak, sedangkan perlakuan BAP 4 ppm dan NAA 0,4 ppm bewarna coklat kekuningan dengan struktur remah. Secara deskriptiv berat maupun diameter mengalami peningkatan pada BAP 4 ppm dan NAA 0,4 ppm mengalami peningkatan dari 0,63 g menjadi 4,21 g dan mengalami peningkatan diameter sebesar 0,38 g menjadi 0,67 g dibandingkan dengan perlakuan kontrol tidak mengalami peningkatan. Sehingga hasil yang terbaik pada kombinasi BAP 4 ppm dan NAA 0,4 ppm. pada hasil uji anova menunjukkantidak adanya perbedaan signifikan pada 4 kelompok perlakuan tersebut
PENENTUAN KUANTITAS SEL Saccharomyces cerevisiae DENGAN TURBIDIMETRI
The purpose of this research is first, study turbidity levels that consistent of fungal cell suspensions form of Saccharomyces cerevisiae with turbidimeter instrument. Second, to obtain the S cerevisiae cells quantity using visible spectrophotometer instrument at a wavelength of 600 nm. Third, to obtain a significant linear between the number of S cerevisiae cells and the absorption of that spectrum result of spectrophotometer instruments and quantity of cells with turbidity. Research using randomized block design experiment. The variables in the study consisted of: independent variable of amount suspended cells that have different types and levels of concentration are shown turbidity (NTU) and the criteria on the interval readings% T 20-80 wavelength spectrum of 600 nm as the fulfilment of the law of Lambert-Beer; dependent variable is the number of cells per volume. Using a statistical analysis of covariance to test the consistency of the group replicates, each of which has a regression relationship. The experiments were performed with the replication of the type of granule cells 2 x 10 times and totalling 40 units. Turbidity caused by Saccharomyces cerevisiae cells have a consistent characters such as the use of its interaction with a wavelength of 600 nm spectrum that meets the Lambert-Beer law. Four replications follow the covariance analysis showed every value of slopes is not different. Linear equation between the quantity of cells and light of turbidimeter by light scattering in this study did not result yet in the value of accuracy that expected.Keywords: Saccharomyces cerevisiae cell, a wavelength of 600 nm, turbidityABSTRAKTujuan penelitian adalah pertama, mempelajari tingkat kekeruhan yang konsisten bentuk suspensi sel jamur Saccharomyces cerevisiae dengan instrumen Turbidimeter. Kedua, mendapatkan kuantitas sel S cerevisiae menggunakan instrumen spektrofotometer sinar tampak pada panjang gelombang 600 nm. Ketiga, mendapatkan sifat linier yang nyata antara jumlah sel S cerevisiae dan serapan spektrum tersebut hasil kerja instrumen spektrofotometer dan kuantitas sel dengan kekeruhan pada turbidimeter.Penelitian menggunakan metode eksperimen rancangan acak kelompok. Variabel dalam penelitian terdiri atas: Variabel bebas jumlah padatan tersuspensi yang mempunyai jenis dan tingkat konsentrasi berbeda ditunjukkan kekeruhan (NTU) dan memiliki kriteria pada selang pembacaan %T 20 – 80 spektrum panjang gelombang 600 nm sebagai pemenuhan hukum Lambert-Beer; variabel tergantung yaitu jumlah sel tiap volume.Menggunakan analisis statistik kovariansi untuk menguji konsistensi kelompok ulangan yang masing-masing memiliki hubungan regresi. Percobaan dilakukan dengan replikasi jenis granul sel 2 x 10 kali dan keseluruhan berjumlah 40 unit.Kekeruhan yang ditimbulkan oleh sel Saccharomyces cerevisiae mempunyai karakter konsisten seperti penggunaan interaksinya dengan spektrum panjang gelombang 600 nm yang memenuhi hukum Lambert-Beer. Setiap ulangan yang dilakukan menghasilkan slope yang sama. Persamaan linier antara kuantitas sel dan cahaya lampu turbidimeter dengan hamburan cahaya dalam penelitian ini belum menghasilkan nilai ketepatan yang diharapkan.Kata kunci: Sel Saccharomyces cerevisiae, panjang gelombang 600 nm, kekeruha
PENGARUH PEMBERIAN KOLKISIN TERHADAP KARAKTER STOMATA DAUN ZAITUN (Olea europeae L.)
The olive plant (Olea europaea L.) is a plant in the area with a hot climate to a temperate climate. Polyploids can be ocur naturally or unnaturally in plants. Artificially polyploids can be done with chemical substances, one of them is Colchicine. Induction of polyploids in colchicine with a high concentration because the size of stomata became larger and the number of stomata will be decline. The plants that are polyploids in anatomy can be marked with the size of his cell becomes larger. This research is attempted to know the influence of various concentrations of colchicine against the shape, size, and density of stomata, olive leaf (Olea europaea L.). This research use the method of complete Random design experiments that is consist of 5 treatment with the soaking and drops. Research parameters include form/type stomata density, stomata and the size of the length and width of the stomata. The results showed that the present of colchicine can affect the size of stomata, olive leaf (Olea europaea L.). 0.75% concentration is the better results than other concentrations. However, the present of colchicine has not effect to the change of shape and density of stomata, olive leaf (Olea europaea L.). Key words: Colchicine, Polyploidy, Stomata, olive (Olea europaea L.).ABSTRAKTanaman zaitun (Olea europaea L.) merupakan tanaman yang banyak terdapat di daerah dengan iklim panas sampai iklim sedang. poliploid ini dapat terjadi secara alami maupun buatan pada tanaman. Poliploid secara buatan dapat dilakukan dengan zat kimia, salah satunya dengan kolkisin. Induksi poliploid pada kolkisin dengan konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan ukuran stomata menjadi lebih besar dan jumlah stomata akan mengalami penurunan. Tanaman yang bersifat poliploid secara anatomi dapat ditandai dengan ukuran selnya menjadi lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi kolkisin terhadap bentuk, ukuran, dan kerapatan stomata daun zaitun (Olea europaea L.). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dengan perendaman dan tetes. Parameter penelitian meliputi bentuk/ tipe stomata, kerapatan stomata dan ukuran panjang dan lebar stomata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolkisin dapat berpengaruh terhadap ukuran stomata daun zaitun (Olea europaea L.). Konsentrasi 0,75% merupakan hasil yang paling baik daripada konsentrasi yang lain. Akan tetapi pemberian kolkisin tidak berpengaruh terhadap perubahan bentuk dan kerapatan stomata daun zaitun (Olea europaea L.).Kata Kunci: Kolkisin, Poliploidi, Stomata, Zaitun (Olea europaea L.)
KAJIAN EKSTRAK METANOLIK Scurrula atropurpurea B1. DANS TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA PADA TIKUS WISTAR BETINA
High trigliserida can health endangered causes some high lipoprotein into trigliserida contain colesterol. The leaf and stem tea parasite Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans contains is alkaloid, flavonoid, glikosida, triterpen, saponin, dan tanin shared as antioksidan. To observe safety and obtain information of effect toxic after explanation experiment in a recur for curtain time, so a sediaan perlu dilakukan toxic tests with used 2-3 test animal from difference galur, wherther in a akut (24 hour), sub-chronic (28 day) and sub-chronic (90 day). Subkronik test doing of male rats for 28 day, and result showed that, the Methanolic Extract of Scurrula atropurpurea(Bl.) Dans (MESA) not causes for serum trouble biochemical clinic of rats liver.  Research aims is assess further the gift Methanolic Extract of Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans of trigliserida for female rats (Rattus norvegicus ) strain Wistarfor 28 days (study sub-chronic). This research used the female rats Rattus norvegicus Strain Wistar and have done for 28 day, with the laboratoric experiment metode witha model test only post control grup desain. There are 4 treatment grup is control, P1(dosage 250 mg/KgBW), P2 (dosage 500 mg/KgBW), P3 (dosage 1000 mg/KgBW). Rats were fasted for 14-18 hours before it given treatment. EMSA awarded at least 5 times a week during 28 day. The analysis used is One Way ANOVA to figure out the difference of the increase of Trigliserida.Result showed that the Methanolic Extractof Scurrula atropurperea (Bl.) Dansor treatment group did not differ to control, this mean that, have not effect of trigliserida for female rats with dosage 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW dan 1000 mg/KgBW. Kadar trigliserida yang tinggi dapat membahayakan kesehatan karena beberapa lipoprotein yang tinggi kandungan trigliseridanya juga mengandung kolesterol. Daun dan batang benalu teh Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans tanaman ini mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida, triterpen, saponin, dan tanin yang berperan sebagai antioksidan. Untuk melihat keamanan dan memperoleh informasi adanya efek toksik setelah pemaparan sediaan uji secara berulang dalam jangka waktu tertentu, maka suatu sediaan perlu dilakukan uji toksisitas dengan menggunakan 2-3 hewan uji coba dari galur yang berbeda, baik secara akut(24 jam), subkronik(28 hari) dan subkronik (90 hari). Penelitian bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut pengaruh pemberian ekstrak metanolik Scurrula atropurpurea (EMSA) terhadap kadar trigliserida pada tikus betina selama 28 hari (studi subkronik).Penelitian ini menggunkan tikus betina dan telah dilakukan selama 28 hari, dengan metode eksperimental laboratorik dengan model post test only control grup design. Terdapat 4 kelompok perlakuan yaitu Kontrol, P1(dosis 250 mg/KgBB), P2(dosis 500 mg/KgBB), P3 (dosis 1000 mg/KgBB),sebelum diberi perlakuan tikus dipuasakan selama 14-18 jam. EMSA diberikan minimal 5 kali dalam seminggu selama 28 hari. Analisa yang digunakan yaitu uji one way ANOVA untuk mengetahui perbedaan pada setiap kadarTrigliserida.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ekstrak Metanolik Scurrula atropurperea(Bl.) Dans terhadap tikus perlakuan tidak beda nyata dibandingkan kontrol, hal ini dapat diartikan bahwa EMSA tidakmempengaruhi kadartrigliserida padatikus betina dengan dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB
PEMBERIAN EKSTRAK METANOLIK Scurrula atropurpurea (BI) Dans SECARA SUBKRONIK TERHADAP PROTEIN TOTAL DAN ALBUMIN TIKUS BETINA
Parasites species of Scurrula atropurpurea (Bl) Dans is plants parasitic on tea tree (Thea sinensis L). Extract of parasites species containing sixteen of bioactive substances. Attention preparation security test need to undergone a toxicity sub-chronic to see the biochemical reactions (protein total and albumin). Using clinical biochemistry parameter as an indicator of the damaged hepar. Research aim is to understand the provision influence of Scurrula atropurpurea (Bl) Dan metanolic extract toward levels of a total protein and albumin serum in female mice for 28 days. A method use true experiment with complete random design. EMSA were presented in mice for 28 days (sub-chronic). The number of mice is 20 and divided into 4 groups; one group as control and three groups have different doses of EMSA. Level of a protein total and albumin in serum of mice examined. The group directly compared to the control then done data analysis of ANOVA in SPSS 17. The analysis shows the treatment is not significant difference (P>0.05) with control. Provision of doses 250 mg/kg body weight (BW), 500 mg/kg BW and 1000 mg/kg BW are not influence toward levels of a total protein and albumin in serum of mice.Keywords: sub-chronic, total proteins and albuminABSTRAKEkstrak tanaman benalu Scurulla atropurpurea Bl. Dans memiliki enam belas bahan bioaktif dan tumbuh pada pohon teh (Thea sinensis L). Protein Total dan Albumin digunakan untuk melihat reaksi biokimia yaitu perhatian kepada keamanan sediaan uji dan perlu dilakukan uji toksisitas subkronik. Penggunaan parameter biokimia klinis adalah indikator adanya kerusakan hepar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak metanolik Scurrulla atropurpurea (Bl) Dans terhadap kadar Protein Total dan albumin serum tikus betina selama 28 hari. Jenis penelitian ini adalah True Experimental Design dengan rancangan Acak Lengkap. EMSA dipaparkan pada tikus selama 28 hari (subkronis) dengan jumlah tikus sebanyak 20 ekor dan dibagi menjadi empat kelompok; satu kelompok sebagai kontrol dan tiga kelompok mempunyai dosis EMSA yang berbeda. Serum tikus diperiksa tingkat kadar Protein Total dan Albumin. Kelompok perlakuan langsung dibandingkan dengan kontrol kemudian analisis data menggunakan ANOVA pada SPSS 17. Analisis ANOVA pada perlakuan tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan kontrol, hal ini menunjukkan bahwa pada pemberian dosis 250 mg/kg berat badan (BB), 500 mg/kg BB dan 1000 mg/kg BB tidak berpengaruh terhadap kadar Protein Total dan Albumin serum tikus.Kata Kunci : Subkronik, Protein Total dan Albumi
KARAKTERISASI PROFIL ZONA PELUSIDA MANUSIA (Homo sapiens) MENGGUNAKAN ANALISIS IN SILICO
Most important in mammlian fertilization were egg binding sperm, whose fusion generates a zygote that will develop into a new individual. In mammals, zona pellucida (ZP) is a specialized extracellular matrix of the egg. The matrix is important for this process by directly mediating species-restricted recognition between gametes. The aims of this study was to analyze the profile of human (Homo sapiens) zonna pellucida (hZP) using in silico method, position of O-linked and N-linked glycosilation units on human ZP amino acid sequence and to predict interaction between ZP and ADAM 2. The method of research was using in silico analysis. ZP protein profile was using data mining in UNIPROT database. Profile exploration searched primery funtion of protein, location, expression place, protein structure and ZP-interaction protein. The Primer data was compared each other. Determining O-linked and N-linkedglycosilation units in hZP amino acid sequence was analyzed using O and N-Glycosylation sites prediction. The results showed that in silico analysis conducted that profile of ZP3 identified as a primary receptor sites for spermatozoa and induced acrosome reaction. Amino acid sequence in ZP have potential site in N-Linked and O-linked glycosilation units, but have quantity different. Keywords : human zonna pellucida, N- Glycosylation, O- Glycosylation, in silico.ABSTRAKTahapan awal yang paling penting dalam fertilisasi mamalia adalah ikatan antara sel telur dan sperm yang dilanjutkan terbentuknya zigot dan terjadi perkembangan individu baru. Pada mamalia, zona pelusida merupakan lapisan ekstraseluler sel telur. Lapisan ini sangat penting dalam proses pengenalan secara langsung yang dimediasi oleh interaksi gamet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil zona pelusida manusia secara in silico, untuk mengetahui posisi O-linked dan N-linked pada sekuen ZP manusia (Homo sapiens) serta memprediksi interaksi antara ZP dengan ADAM 2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis in silico.Profil Protein Zona pelusida dilakukan dengan cara data mining di database UNIPROT. Eksplorasi profil dilakukan pada pencarian fungsi utama protein, lokasi protein, tempat ekspresi, struktur protein,dan juga protein yang berinteraksi dengan zona pelusida. Informasi dasar tersebut kemudian dikomparasi agar diketahui peranan protein yang paling krusial. Penentuan sisi potensial O-linked dan N-linked pada sekuen ZP manusia dianalisis menggunakan O dan N-Glycosylationsites prediction. Interaksi ZP dengan ADAM 2 menggunakan moleculer docking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil zona pelusida (ZP) secara in silico diperoleh bahwa ZP3 berperan sebagai reseptor primer yang berperan dalam ikatan dengan spermatozoa pada oosit dan menginduksi reaksi akrosom. ZP memiliki sisi potensial pada N-glikosilasi maupun O-glikosilasi, namun memiliki jumlah yang berbeda.Kata kunci: Zona Pelusida manusia, N-glikosilasi, O-glikosilasi, in silic