e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
    254 research outputs found

    Antibakteri Keracunan Bahan Pangan Pada Formulasi Sediaan Sabun Mandi Kombucha Bunga Telang Sebagai Produk Bioteknologi Farmasi Dari 3 Lokasi Budidaya

    Full text link
     Produk bioteknologi farmasi dalam bentuk formulasi dan sediaan sabun mandi cair kombucha bunga telang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sediaan farmasi atau kosmetik yang bersifat antibakteri penyebab keracunan bahan pangan dan sebelumnya telah teruji pada formulasi dan sediaan sabun cuci tangan berbahan aktif kombucha bunga telang, sehingga pada penelitian ini penulis tertarik untuk menggunakan 3 lokasi budidaya tanaman bunga telang. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi dan sediaan sabun mandi cair berbahan aktif kombucha bunga telang yang diperoleh dari tiga lokasi budidaya yaitu kampung pekuncen kota cilegon, kampung cinangka anyer kabupaten serang, dan desa banjarwangi kabupaten pandeglang banten. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium yaitu dengan cara membuat basis sabun mandi cair tanpa zat aktif, membuat basis sabun mandi cair dengan bahan aktif kombucha bunga telang pada konsentrasi 20%, 30%, dan 40% yang diperoleh dari 3 lokasi budidaya, dan menyediakan sabun mandi pasaran sebagai kontrol positif. Metode dalam pengujian sediaan farmasi (kosmetik/sabun mandi cair) melalui difusi cakram. Data mengenai rata-rata diameter zona hambat dianalisis melalui ANOVA satu jalur jika terdapat perbedaan secara signifikan dilanjut melalui analisis pos hoc Hasil penelitian ini telah terbukti bahwa masing-masing bunga telang yang dibudidayakan dari 3 lokasi dan juga dibuat sebagai formulasi dan sediaan sabun mandi cair kombucha berkolerasi secara positif dalam menghambat keemepat pertumbuhan bakteri uji. Berdasarkan analisis ANOVA satu jalur dengan masing-masing nilai P<0,05, maka dapat dilakukan uji lanjut berupa analisis pos hoc dimana formulasi dan sediaan sabun mandi cair berbahan aktif kombucha bunga telang dari 3 lokasi budidaya pada konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 20% dan 30% sebagai antibakteri penyebab keracunan bahan pangan baik yang dihasilkan dari Lokasi budidaya kampung pekucen, kota cilegon banten, kampung cinangka kabupaten serang, banten, dan desa banjarwangi, kabupaten pandeglang, banten. Produk bioteknologi farmasi dalam bentuk formulasi dan sediaan sabun mandi cair kombucha bunga telang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sediaan farmasi atau kosmetik yang bersifat antibakteri penyebab keracunan bahan pangan dan sebelumnya telah teruji pada formulasi dan sediaan sabun cuci tangan berbahan aktif kombucha bunga telang, sehingga pada penelitian ini penulis tertarik untuk menggunakan 3 lokasi budidaya tanaman bunga telang. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi dan sediaan sabun mandi cair berbahan aktif kombucha bunga telang yang diperoleh dari tiga lokasi budidaya yaitu kampung pekuncen kota cilegon, kampung cinangka anyer kabupaten serang, dan desa banjarwangi kabupaten pandeglang banten. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium yaitu dengan cara membuat basis sabun mandi cair tanpa zat aktif, membuat basis sabun mandi cair dengan bahan aktif kombucha bunga telang pada konsentrasi 20%, 30%, dan 40% yang diperoleh dari 3 lokasi budidaya, dan menyediakan sabun mandi pasaran sebagai kontrol positif. Metode dalam pengujian sediaan farmasi (kosmetik/sabun mandi cair) melalui difusi cakram. Data mengenai rata-rata diameter zona hambat dianalisis melalui ANOVA satu jalur jika terdapat perbedaan secara signifikan dilanjut melalui analisis pos hoc Hasil penelitian ini telah terbukti bahwa masing-masing bunga telang yang dibudidayakan dari 3 lokasi dan juga dibuat sebagai formulasi dan sediaan sabun mandi cair kombucha berkolerasi secara positif dalam menghambat keemepat pertumbuhan bakteri uji. Berdasarkan analisis ANOVA satu jalur dengan masing-masing nilai P<0,05, maka dapat dilakukan uji lanjut berupa analisis pos hoc dimana formulasi dan sediaan sabun mandi cair berbahan aktif kombucha bunga telang dari 3 lokasi budidaya pada konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 20% dan 30% sebagai antibakteri penyebab keracunan bahan pangan baik yang dihasilkan dari Lokasi budidaya kampung pekucen, kota cilegon banten, kampung cinangka kabupaten serang, banten, dan desa banjarwangi, kabupaten pandeglang, banten

    Kelimpahan dan Struktur Ukuran Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Pada Habitat Mangrove Di Desa Banyuurip Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik

    Full text link
    Penelitian ini dilaksanakan di Banyuurip mangrove center (BMC), Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik selama bulan Juli-Agustus 2020. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis vegetasi mangrove, indeks nilai pentingnya, membandingkan kelimpahan kepiting bakau beserta struktur ukuranya dan analisis hubungannya dengan parameter lingkungan di habitat mangrove yang berbeda yaitu daerah muara dengan air payau dan tepi pantai dengan air asin. Metode  penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan sampling secara sistematis dengan menggunakan Belt Transeck. Hasil pengamatan mangrove didapatkan 12 spesies dari 6 familia dan hasil pengamatan kelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata) didapatkan nilai 1,24 ind/m2 untuk stasiun 1 dan 1,32 ind/m2 untuk stasiun 2. Data penelitian ini dianalisis menggunakan rumus Indeks nilai penting (INP), kelimpahan kepiting bakau dan korelasi peorsen dengan bantuan softwere PAST 3.25 B. Parameter lingkungan yang diamati yaitu suhu, ph, salinitas dan jenis substrat.Penelitian ini dilaksanakan di Banyuurip mangrove center (BMC), Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik selama bulan Juli-Agustus 2020. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis vegetasi mangrove, indeks nilai pentingnya, membandingkan kelimpahan kepiting bakau beserta struktur ukuranya dan analisis hubungannya dengan parameter lingkungan di habitat mangrove yang berbeda yaitu daerah muara dengan air payau dan tepi pantai dengan air asin. Metode  penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan sampling secara sistematis dengan menggunakan Belt Transeck. Hasil pengamatan mangrove didapatkan 12 spesies dari 6 familia dan hasil pengamatan kelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata) didapatkan nilai 1,24 ind/m2 untuk stasiun 1 dan 1,32 ind/m2 untuk stasiun 2. Data penelitian ini dianalisis menggunakan rumus Indeks nilai penting (INP), kelimpahan kepiting bakau dan korelasi peorsen dengan bantuan softwere PAST 3.25 B. Parameter lingkungan yang diamati yaitu suhu, ph, salinitas dan jenis substrat

    Analisis Kelimpahan Gastropoda Di Perairan Pantai Nguling Di Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan

    Full text link
    Pantai merupakan satu di antara beberapa ekosistem yang telah lama dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai aktivitas dalam menunjang kehidupan. Fungsi pantai semakin beragam seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan manusia yang mengakibatkan fungsi dari pantai tidak sesuia dengan peruntukan unuk mendukung kehidupan organisme akuatik dan kebutuhan masyarakat sekitar pantai. Hal ini yang menyebabkan penurunan kualitas pantai disebabkan oleh masuknya berbagai buangan limbah dari berbagai aktivitas manusia sehingga menyebabkan terjadi perubahan kualitas fisika dan kimia pantai tersebut. Salah satu biota laut yang diduga secara langsung akan langsung terpengaruh keberadaannya akibat penurunan kualitas air dan sedimen di lingkungan pantai adalah gastropoda. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, metode deskriptif dengan pengujian langsung di lakukan di lapangan dan di laboratorium. Hasil pada penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa kondisi perairan pantai berbeda antara tiap stasiun antar tercemar sedang dan tercemar ringan. Indeks Diversitas Gastropoda yang di teliti pada ketiga stasiun menunjuka perbedaan 1-2 (kategori tercemar sedang) dan pada stasiun 2 (kategori tercemar sangat ringan) dan stasiun 3 bernilai antar 2-3 (tercemar ringan). Pantai merupakan satu di antara beberapa ekosistem yang telah lama dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai aktivitas dalam menunjang kehidupan. Fungsi pantai semakin beragam seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan manusia yang mengakibatkan fungsi dari pantai tidak sesuia dengan peruntukan unuk mendukung kehidupan organisme akuatik dan kebutuhan masyarakat sekitar pantai. Hal ini yang menyebabkan penurunan kualitas pantai disebabkan oleh masuknya berbagai buangan limbah dari berbagai aktivitas manusia sehingga menyebabkan terjadi perubahan kualitas fisika dan kimia pantai tersebut. Salah satu biota laut yang diduga secara langsung akan langsung terpengaruh keberadaannya akibat penurunan kualitas air dan sedimen di lingkungan pantai adalah gastropoda. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, metode deskriptif dengan pengujian langsung di lakukan di lapangan dan di laboratorium. Hasil pada penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa kondisi perairan pantai berbeda antara tiap stasiun antar tercemar sedang dan tercemar ringan. Indeks Diversitas Gastropoda yang di teliti pada ketiga stasiun menunjuka perbedaan 1-2 (kategori tercemar sedang) dan pada stasiun 2 (kategori tercemar sangat ringan) dan stasiun 3 bernilai antar 2-3 (tercemar ringan).

    Persepsi Masyarakat dan Kondisi Lingkungan di Sekitar Tempat Penampungan Sampah Sementara Tegalgondo dan Kepuharjo Kecamatan Karangploso

    Full text link
    Community behavior in disposing of waste plays an important role in improving public health. Community participation is needed to reduce the amount of waste, especially the role of housewives. Efforts to reduce the amount of household waste require support, one of which is the public perception of household waste processing. So far, people do not have the habit of sorting and selecting waste so that the amount of waste disposed of at TPS continues to increase. This increase can affect the environmental conditions around the TPS if there is an accumulation of waste in the long term. This study aims to analyze public perceptions of TPS Tegalgondo and TPS Kepuharjo and to analyze the environmental conditions around TPS Tegalgondo and TPS Kepuharjo in Karangploso District. The method used in this research is descriptive quantitative and direct field surveys. Based on the results of research conducted. The results of public perceptions of TPS Kepuharjo got very high perceptual scores about household waste management and low perceptions about TPS. The results of the analysis of environmental conditions at TPS Tegalgondo for the total risk value is 170 which is included in the medium category which means it requires high level management attention. The results of the analysis of the total risk value for TPS Kepuharjo is 112 which is in the low category, meaning that it requires management with routine procedures.Perilaku masyarakat dalam membuang sampah berperan penting dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengurangi jumlah sampah, terutama peran serta ibu rumah tangga. Usaha untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga memerlukan dukungan, salah satunya yaitu persepsi masyarakat tentang pengolahan sampah rumah tangga. Selama ini masyarakat belum memiliki kebiasaan untuk memilah dan memilih sampah sehingga jumlah sampah yang dibuang ke TPS terus meningkat. Apabila terjadi penumpukan sampah dapat mempengaruhi kondisi lingkungan di sekitar TPS. Tujuan dalam penelitian ini yaitu menganalisis persepsi masyarakat terhadap TPS Tegalgondo dan TPS Kepuharjo dan menganalisis kondisi lingkungan di sekitar TPS Tegalgondo dan TPS Kepuharjo di Kecamatan Karangploso. Metode penelitian dalam penilitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan observasi yang dilakukan di lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan Hasil persepsi masyarakat terhadap TPS Kepuharjo mendapat nilai persepsi sangat tinggi tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan nilai persepsi rendah tentang TPS. Hasil analisis kondisi lingkungan di TPS Tegalgondo untuk nilai risiko total yaitu 170 yang termasuk kategori sedang dengan arti memerlukan perhatian manajemen tingkat tinggi. Hasil analisis nilai risiko total untuk TPS Kepuharjo yaitu 112 yang termasuk kategori rendah dengan arti memerlukan pengelolaan dengan prosedur rutin

    Uji Kepekaan Antibiotik Klebsiella pneumoniae dari Sampel Sputum, Darah, dan Pus

    Full text link

    Isolasi Dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Dari Susu Kuda Bima (Equus sp.) Yang Berpotensi Sebagai Probiotik

    Full text link
    The aim of this research is to isolate and characterize lactic acid bacteria from mare's milk which have the potential to act as probiotics. Bacterial identification includes gram staining, antimicrobial activity test, hemolytic activity test, pH and bile salt tolerance test. The research results showed that C5 isolates isolated from horse milk samples had potential as probiotics. Characterization includes the form of bacillary bacteria, antimicrobial activity against the pathogenic bacteria Escherichia coli ATCC of 0.40 mm, gamma hemolysis, tolerance to pH 2, 3, 5 and tolerance to bile salts of 0.4-1%.Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan karakterisasi bakteri asam laktat dari susu kuda yang berpotensi sebagai probiotik.  Identifikasi bakteri meliputi pewarnaan gram, uji aktivitas antimikroba, uji aktivitas hemolitik, uji toleransi terhadap pH dan garam empedu. Hasil penelitian menunjukkan isolat C5 yang diisolasi dari sampel susu kuda memiliki potensi sebagai probiotik. Karakterisasi meliputi bentuk bakteri basil, memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri patogen Escherichia coli ATCC sebesar 0,40 mm, bersifat gamma hemolisis, toleransi terhadap pH 2, 3, 5 dan toleransi terhadap garam empedu 0,4-1%

    Faktor Penyebab Terjadinya Gastritis pada Remaja Di Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan

    Full text link
    Banyaknya masyarakat yang menganggap gastritis adalah penyakit ringan tidak berbahaya, sehingga jika tidak segera ditangani dapat bertambah parah dan dapat menurunkan kualitas hidup serta menjadikan hidup kurang produktif. Mencegah penyakit gastritis sebaiknya dengan cara memahami faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gastritis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya gastritis pada remaja di Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan. Jenis penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan simple random sampling di dapatkan 96 responden. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan lembar kuesioner. Setelah ditabulasi data akan dianalisis dengan menggunakan uji Spearman Rank (Rho) dengan tingkat kemaknaan p=<0,05. Hasil penelitian menununjukkan 62 responden (64,6%) mengalami gastritis akut, pola makan kurang 71 responden (74%), sering mengkonsumsi kopi 66 responden (68,8%), merokok ringan 60 responden (62,55%), stress normal 67 responden (59,8%). Sedangkan dari hasil uji analisis diperoleh hasil ada hubungan antara pola makan dengan frekuensi kejadian gastritis sebesar (P=0,000), konsumsi kopi (P=0,027), konsumsi rokok (P=0,022),  tingkat stress (P=0,045), yang memiliki kekuatan korelasi hubungan cukup kuat yaitu pada faktor pola makan. pola makan merupakan faktor utama dalam terjadinya kekambuhan penyakit gastritis. Karen secara alami lambung akan terus memproduksi asam lambung setiap waktu dalam jumlah yang kecil setelah 4-6 jam bila seseorang telat makan sampai 2-3 jam, maka asam lambung yang diproduksi dan berlebih dapat mengiritasi mukosa lambung serta menimbulkan rasa nyeri di sekitar epigastrium semakin banyak.Banyaknya masyarakat yang menganggap gastritis adalah penyakit ringan tidak berbahaya, sehingga jika tidak segera ditangani dapat bertambah parah dan dapat menurunkan kualitas hidup serta menjadikan hidup kurang produktif. Mencegah penyakit gastritis sebaiknya dengan cara memahami faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gastritis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya gastritis pada remaja di Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan. Jenis penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan simple random sampling di dapatkan 96 responden. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan lembar kuesioner. Setelah ditabulasi data akan dianalisis dengan menggunakan uji Spearman Rank (Rho) dengan tingkat kemaknaan p=<0,05. Hasil penelitian menununjukkan 62 responden (64,6%) mengalami gastritis akut, pola makan kurang 71 responden (74%), sering mengkonsumsi kopi 66 responden (68,8%), merokok ringan 60 responden (62,55%), stress normal 67 responden (59,8%). Sedangkan dari hasil uji analisis diperoleh hasil ada hubungan antara pola makan dengan frekuensi kejadian gastritis sebesar (P=0,000), konsumsi kopi (P=0,027), konsumsi rokok (P=0,022),  tingkat stress (P=0,045), yang memiliki kekuatan korelasi hubungan cukup kuat yaitu pada faktor pola makan. pola makan merupakan faktor utama dalam terjadinya kekambuhan penyakit gastritis. Karen secara alami lambung akan terus memproduksi asam lambung setiap waktu dalam jumlah yang kecil setelah 4-6 jam bila seseorang telat makan sampai 2-3 jam, maka asam lambung yang diproduksi dan berlebih dapat mengiritasi mukosa lambung serta menimbulkan rasa nyeri di sekitar epigastrium semakin banyak

    Efek Ekstrak Biji Kapas (Gossypium hirsutum) terhadap Kualitas dan Perkembangan Embrio Mencit (Mus musculus)

    Full text link
    The cottonseed contained gossypol which can reduce fertility by distrupting follicles and oocytes formation process and development. Folliculogenesis disorder can reduce quality and competence of oocytes to be fertilized. It has an impact on the quality and development of the embryo. The objective of this study was to evaluate the cottonseed extract effect on the quality and development of mice embryos. The research used a total experiment with completely randomized design consist of 4 treatments (0; 1.5; 2.1; and 2.7 g/kg BW EBK) and 6 replications. EBK are extracted maceration using ethanol 80%. EBK administration was orally injection for 24 days. Last day of EBK administration, mices were mated. Embryos were collected on the 4 days of pregnancy by flushing the uterine cornua, then development stage and quality of embryos were determined. Embryos were then cultured in vitro for 48 hours in culture medium PBS supplemented by 10% FBS. The result showed that EBK 2.7 g/kg BW dose can reduce embryos quality by finding retarded, degenerated, and unfertilized oocytes. The decreased embryos number and ability to progress to the blastocysts, expanded blastocysts, and hatched blastocysts stage occurred after culture for 48 hours. Retarded (4-8 cells) and degenerated embryos are not development in 24 hours culture. In conclusion, EBK is able reduce quality and development inhibit of mice embryos, so that it can be used as candidates for herbal contraception.Biji kapas mengandung senyawa metabolit sekunder gosipol yang mampu menurunkan fertilitas dengan mengganggu proses pembentukan dan perkembangan folikel serta oosit. Gangguan folikulogenesis dapat menurunkan kualitas dan kompetensi oosit untuk difertilisasi sehingga berdampak pada kualitas dan perkembangan embrio. Tujuan penelitian ini mengkaji efek ekstrak biji kapas (EBK) terhadap kualitas dan perkembangan embrio mencit. Desain penelitian eksperimen total dengan rancangan acak lengkap terdiri atas 4 perlakuan (0; 1.5; 2.1; dan 2.7 g/kg BB) dan 6 ulangan. EBK diekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 80%. Pemberian EBK dilakukan melalui oral selama 24 hari. Mencit dikawinkan pada hari terakhir pemberian EBK. Embrio dikoleksi pada hari ke-4 kebuntingan dengan melakukan flushing kornua uterus, kemudian ditentukan stadium perkembangan dan kualitas embrionya. Embrio dikultur secara in vitro selama 48 jam dalam medium kultur PBS yang disuplementasikan 10% FBS. Hasil penelitian menunjukkan EBK dosis 2.7 g/kg BB menurunkan kualitas embrio dengan ditemukannya embrio retarded dan degenerasi, serta oosit unfertilisasi. Penurunan jumlah dan kualitas embrio yang berhasil berkembang ke tahapan blastosis, expanded blastosis, dan hatched blastosis terjadi setelah dikultur selama 48 jam. Embrio retarded (4-8 sel) dan degenerasi tidak berkembang pada kultur 24 jam. Kesimpulannya EBK menurunkan kualitas dan menghambat perkembangan embrio mencit sehingga dapat dijadikan sebagai kandidat bahan kontrasepsi herbal

    Hubungan Malnutrisi Jumlah Total Albumin dan Protein Serum Terhadap Aktivitas Siswa

    Full text link
    Albumin dan Protein merupakan salah satu tolak ukur terhadap penentuan malnutrisi terhadap status gizi manusia. Keduanya dapat mengidentifikasi apakah ada korelasi terhadap aktivitas siswa yang rutin sarapan pagi dan yang tidak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat konsentrasi siswa selama menempuh pendidikan dalam kelas yang diukur menggunakan observasional analitik desain cross-sectional dan kadar albumin dan protein serum siswa. Sebanyak 22 siswa skrining risiko malnutrisi menggunakan Subjective Global Assessment (SGA) dilanjutkan dengan wawancara. Kadar diambil dari serum siswa dan Analisis statistik menggunakan uji korelasi nonparametric test menggunakan SPSS 26. Terdapat perbedaan signifikan perubahan kadar albumin p=0.001 dan protein p=0.002 antara siswa yang sarapan pagi dan yang tidak (p<0.05). SGA mampu mendeteksi risiko malnutrisi pada 6 orang (27,3%) dan tidak berisiko manlutrisi pada 16 orang (48,4%), secara statistik albumin dan protein tidak signifikan berisiko malnutrisi dengan p-value 0.65 dan 0.70. Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara siswa yang sering sarapan pagi dan tidak dengan kadar total protein dan albumin (p > 0.05), hanya saja ada penurunan konsentrasi pada saat kegiatan belajar mengajar terutama menjelang siang sekola

    Eksplorasi Etnobotani Sebagai Obat Tradisional Masyarakat Desa Duko Kecamatan Rubaru - Sumenep

    Full text link
    The utilization of plants as traditional medicine has been known for a long time by the people of Duko Village, Rubaru Subdistrict, Sumenep District. However, there is no data that can be used as an archive about plants in Duko Village, Rubaru District, Sumenep Regency. This study aims to determine the exploration of ethnobotanical diversity as traditional medicine and its parts used in traditional medicine and how it is utilized. This research is a non-experimental qualitative descriptive research and literature study. This research used field survey methods, semi-structured interviews, and documentation. This research was conducted in March-May 2023 in Duko Village, Rubaru District, Sumenep Regency. Sampling was carried out using purposive sampling technique in three hamlets, namely East Pedatar Hamlet, West Pedatar Hamlet, and Laok Lorong Hamlet, so that 97 respondents were obtained. Data analysis in this study used the Use Value Species (Uvs) method. The results showed that there were 107 species used by the people of Duko Village as traditional medicine to treat various diseases. Plant parts used include leaves with a percentage of 51%, fruit 26%, rhizomes 14%, flowers 11%, seeds 8%, tubers 7%, roots 7%, sap 6%, stems 4%, bark 2%, and plant hair parts 1%. Ways of utilizing plants in medicine include boiling, extracting, mashing, consuming directly, and roastingPemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional telah dikenal sejak lama oleh masyarakat Desa Duko Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep. Namun belum ada data yang bias dijadikan sebagai arsip tentang tumbuhan yang ada di Desa Duko Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksplorasi keanekaragaman etnobotani sebagai obat tradisional dan bagiannya yang digunakan dalam pengobatan tradisional serta cara pemanfaatannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif non-eksperimental dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2023 di Desa Duko Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling pada tiga Dusun, yaitu Dusun Pedatar Timur, Dusun Pedatar Barat, dan Dusun Laok Lorong, sehingga didapatkan responden sebanyak 97 orang. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode Use Value Spesies (Uvs). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 107 spesies yang digunakan oleh masyarakat Desa Duko sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi daun dengan persentase sebesar 51%, buah 26%, rimpang 14%, bunga 11%, biji 8%, umbi 7%, akar 7%, getah 6%, batang 4%, kulit batang 2%, dan bagian rambut tumbuhan 1%. Cara pemanfaatan tumbuhan dalam pengobatan antara lain direbus, diekstraksi, dihaluskan, dikonsumsi secara langsung, dan dipanggang.&nbsp

    211

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇