e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
Dinamika Populasi Jamur Pada Media Starter Tepung Beras Diperkaya Nutrisi Potato Dextrose Agar: The Population Dynamics of Fungi on the Rice Flour Starter Media Enriched Nutrients of Potato Dextrose Agar
Yeast and fungus are important biomass in the food industry. Rice flour is one of the alternative basic ingredients of composite flour and consists of carbohydrates, fats, proteins, minerals and vitamins. Yeast multiplies by a process known as germination, which causes fermentation. This study aims to determine the development of fungal cell population dynamics in making starter with rice flour rich in PDA (Potato Dextrose Agar) nutrition. PDA (Potato Dextrose Agar) is one of the good media used to breed a microorganism, either in the form of fungus / function, bacteria, or living cells. The method used in this study is a different test method for two populations with 2 variables with PDA levels of 0% and 4% with 9 times of repetition. Which is observed once every eight hours the growth dynamics of the fungus by identifying the following fungal species Aspergillus niger is white and has a good composition, Candida utilis is white, Hansenulla anomala is opaque, Trichoderma viride is clear.
Keywords: Rice flour, Yeast, PDA (Potato Dextrose Agar), Aspergillus niger, Candida utilis, Trichoderma viride, Hansenula saturnus.
ABSTRAK
Jamur adalah biomasa yang penting di dalam industri makanan. Tepung beras merupakan salah satu alternatif bahan dasar dari tepung komposit dan terdiri atas karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin. Starter adalah populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui perkembangan dinamika populasi sel jamur pada pembuatan starter dengan media tepung beras kaya nutrisi PDA (Potato Dextrose Agar). PDA (Potato Dextrose Agar) merupakan salah satu media yang baik digunakan untuk membiakkan suatu mikroorganisme, baik itu berupa cendawan/fungsi, bakteri, maupun sel mahluk hidup. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Uji beda rerata dua populasi dengan 2 variabel dengan kadar PDA 0% dan 4% dengan 9 kali ulangan waktu. Yang mana pada setiap 8 jam sekali diamati dinamika pertumbuhan jamurnya dengan mengidentifikasi spesies jamur sebagai berikut Aspergillus niger berwarna putih dan berbenang, Candida utilis berwarna putih, Hansenulla saturnus berwarna buram, Trichoderma viride berwarna bening.
Kata Kunci : Tepung beras, Ragi, PDA (Potato Dextrose Agar), Aspergillus niger, Candida utilis, Trichoderma viride, Hansenula saturnus
Diversitas dan Asosiasi Tumbuhan Liar pada Lahan Padi (Oryza sativa) dan Jagung (Zea mays) di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari Kabupaten Malang: Diversity and Association of Wild Plants in Rice (Oryza sativa) and Corn (Zea mays) Field at Technical Implementation Unit of Palawija Seeds Development of Singosari, Malang Regency
The research aims to find out the diversity and association between wild plant species on rice fields (Oryza sativa) and corn (Zea mays) at technical unit of Singosari Seed Crop Development, Malang Regency. In this study using the survey method, by observing directly any wild plants found in the fields of rice and corn. The exploration of wild plants was carried out by exploratory methods, namely observing wild plants found around rice and maize plantations in predetermined plots. Analysis of the data used is the Shannon-Wienner Diversity Index and Pielou Evenness Index. Whereas to find out the association between wild plant species that is by calculating the Chi-square test based on the results of the 2x2 contingency table whose value is obtained from the presence or absence of speces in a plot. Furthermore, to find out the positive or negative interactions that occur, the correlation coefficient calculation is also based on the 2x2 contingency table. The results obtained for the highest Diversity Index value of 2.729 was on land II from the corn field. Whereas the high palin value of Pielou's Tightness Index of 0.371 is on land II from the corn field.
Keywords: Diversity, association, wild plants
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui diversitas dan asosiasi antar spesies tumbuhan liar pada lahan tanaman padi (Oryza sativa) dan jagung (Zea mays) di UPT Pengembangan Benih Palawija Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini mengunakan metode Eksploratif, dengan mengamati langsung setiap tumbuhan liar yang terdapat pada lahan tanaman padi dan jagung. Pengambilan sampel tumbuhan liar dilakukan cara purposive sampling yaitu mengamati tumbuhan liar yang terdapat di sekitar pertanaman padi dan jagung pada plot-plot yang sudah ditentukan. Analisis data yang digunakan yaitu Indeks Keanekaragaman shannon-Wienner dan Indeks Kemerataan Pielou. Sedangkan untuk mengetahui asosiasi antar spesies tumbuhan liar yaitu dengan menghitung uji Chi-square berdasarkan hasil tabel kontingensi 2x2 yang nilainya didapatkan dari ada atau tidak adanya spesies dalam suatu plot. Selanjutnya untuk mengetahui positif atau negatifnya interaksi yang terjadi dilakukan perhitungan koifisien korelasi yang juga didasarkan pada tabek kontingensi 2x2. Hasil yang didapatkan untuk Indeks Keanekaragaman yaitu nilai paling tinggi berada pada lahan II dari lahan tanaman jagung yaitu 2,729. Sedangkan nilai paling tinggi dari Indeks Kemeratan Pielou berada pada lahan II dari lahan tanaman jagung yaitu 0,371.
Kata kunci: Diveritas, asosiasi, tumbuhan liar
Keanekaragaman Koloni Mikroorganisme Rizosfer Lahan Tebu (Saccharum officinarum) Pada Penggunaan Pupuk Bio-Slurry dan Pupuk Kimia: Colony Diversity of Rizosphere Microorganisms of Sugarcane (Saccharrum officinarum) Field on Bio-Slurry and Chemical Fertilizers Utilization
The diversity of microorganisms is very important in the balance of soil ecosystems is also an indicator of soil health and can affect the condition of plants that grow on it. Rizosphere is a part of the soil around the root of a plant. The activity of some rhizosphere microorganisms plays a role in the nutrient cycle and the process of soil formation, plant growth, affecting microorganism activity, and as biological control of root pathogens. The research objective was to determine the value of the sugarcane (Saccharum officinarum) rhizosphere microorganism index using Bio-slurry and chemical fertilizers. This study uses descriptive explorative methods. The data analyzed in the form of measurement of pH, number of microorganism colonies and diversity index. Diversity of Colonies Rhizosphere microorganisms Sugarcane land that uses Bio-slurry and those using Chemical Fertilizer are classified as low respectively 0.47 and 0.69. Colony groups found in each land are bacteria and fungi.
Keywords: Diversity, Rizosphere, Saccharum officinarum, Bio-slurry, Chemical Fertilizers
ABSTRAK
Keanekaragaman mikroorganisme sangat penting dalam keseimbangan ekosistem tanah juga merupakan indikator kesehatan tanah dan dapat mempengaruhi kondisi tanaman yang tumbuh di atasnya. Rizosfer merupakan bagian tanah yang berada di sekitar perakaran tanaman. Aktivitas beberapa mikroorganisme rizosfer berperan dalam siklus hara dan proses pembentukan tanah, pertumbuhan tanaman, memengaruhi aktivitas mikroorganisme, serta sebagai pengendali hayati terhadap patogen akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai indeks keanekaragaman mikroorganisme rizosfer tebu (Saccharum officinarum) yang menggunakan Bio-slurry dan pupuk kimia. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif eksploratif. Data yang dianalisis berupa hasil pengukuran pH, jumlah koloni mikroorganisme dan indeks keragaman. Keanekaragaman koloni mikroorganisme rizosfer lahan tebu yang menggunakan Bio-slurry dan yang menggunakan Pupuk kimia tergolong rendah masing-masing bernilai 0,47 dan 0,69. Kelompok koloni mikroorganisme yang ditemukan pada masing-masing lahan yaitu bakteri dan jamur.
Kata kunci: Keanekaragaman, Rizosfer, Saccharum officinarum, Bio-slurry, Pupuk Kimi
Etnobotani Aspek Pemanfaatan dan Konservasi Katuk (Sauropus androgynus L. Merr.) pada Masyarakat Pandalungan Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan: Ethnobotany of Utilization Aspect and Conservation of Sauropus androgynus in Pandalungan Society of Prigen District of Pasuruan Residence
Katuk is one of the many floras that grow on Indonesian soil, one of which is in the Pasuruan area. Katuk plants have many benefits for humans, including can be used as food ingredients in the form of vegetables and traditional medicines. Traditional uses of plants that emphasize the cultural relationship of the community with plant resources in their environment, directly or indirectly, are called ethno botany studies. This study aims to determine the public perception about aspects of knowledge, utilization and conservation strategies of katuk plants in Prigen District, Pasuruan Regency. This research uses descriptive qualitative method by conducting observations, questionnaires, interviews, and documentation. The results showed that as many as 42% of respondents used katuk in the field of food, 27% in the health sector, 19% as hedgerows, 12% in the economic field. The part of the katuk plant that is widely used is the leaf part. The distribution of katuk in Klataan sub-village consists of 11 points with a total of 63 individuals, and there are 10 points in Tonggowa sub-village with 49 individuals.
Keywords: Ethnobotany, Sauropus androgynus L. Merr, Prigen district
ABSTRAK
Katuk merupakan salah satu flora yang banyak tumbuh di tanah Indonesia, salah satunya di daerah Pasuruan. Tanaman katuk memiliki banyak manfaat bagi manusia, diantaranya dapat dijadikan sebagai bahan dasar makanan berupa sayur serta obat-obatan tradisional. Pemanfaatan tumbuhan secara tradisional yang menekankan pada hubungan budaya masyarakat dengan sumberdaya tumbuhan di lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung di sebut dengan kajian ilmu etnobotani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pengetahuan, pemanfaatan dan strategi konservasi tanaman katuk di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan cara melakukan observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 42 % responden memanfaatkan katuk dibidang pangan, 27 % bidang kesehatan, 19 % sebagai tanaman pagar, 12 % dibidang ekonomi. Bagian tanaman katuk yang banyak digunakan adalah bagian daun. Distribusi katuk di dusun Klataan terdapat 11 titik dengan jumlah 63 individu, dan di dusun Tonggowa terdapat 10 titik dengan jumlah 49 individu.
Kata kunci: Etnobotani, Sauropus androgynus L. Merr, Kecamatan Prigen
 
Studi Etnobotani dan Distribusi Tanaman Siwalan (Borassus flabillifer) di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep Suku Madura: Ethnobotany Study and Distribution of Siwalan Plant (Borassus flabillifer) in East Gapura Village of Gapura District of Sumenep-Madura Regency
Siwalan merupakan produk unggulan daerah yang dapat diangkat menjadi produk unggulan nasional. Tumbuhan siwalan yang seluruh bagiannya dimanfaatkan bagi masyarakat desa. Salah satu tanaman siwalan banyak tumbuh di Desa Gapura Timur yang terletak di Kecamatan Gapura Kaupaten Sumenep yang luas wilayahnya 582 Ha dengan jumlah penduduk 2.656 jiwa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pemanfaatan dan konservasi tanaman siwalan di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dan untuk mengetahui distribusi tanaman siwalan di Desa Gapura Timur kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dengan menggunakan metode deskriptif eksploratif, analisis datanya menggunakan Uji validitas dan Reabilitas, hasil penelitian untuk responden didata dari jenis kelamin, pekerjaan , pendidikan, usia sedangkan hasil uji validitasnya berjumlah 96,37 dibulatkan menjadi 100, persepsi masyarakat dalan aspek konservasi dan pemanfaatanyya yaitu di ambil 50% untuk dusun battangan dan 50% dan distribus pada tanaman siwalan terdapat di dusun pangabasen karena mayoritas masyarakatnya mengelolah tanaman siwalan, penyebarannya terdapat di 3 lokasi yaitu di perkebunan masyarakat, pinggir jalan dan pekarangan rumah.
Kata kunci: Etnobotani, Distribusi, Tanaman SiwalanSiwalan(Borassus flabillifer) merupakan produk unggulan daerah Desa Gapura Timur yang dapat diangkat menjadi produk unggulan nasional, karena seluruh bagian tanamannya dapat digunakan oleh masyarakat desa Gapura Timur. Tanaman Siwalan banyak tumbuh di Desa Gapura Timur yang terletak di Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep yang luas wilayahnya 582 Ha dengan jumlah penduduk 2.656 jiwa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pemanfaatan, konservasi tanaman siwalan, dan distribusi tanaman Siwalan di Desa Gapura Timur kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep. Metode deskriptif eksploratif dengan analisis data menggunakan Uji validitas dan Reabilitas. Hasil penelitian untuk responden didata dari jenis kelamin, pekerjaan , pendidikan, usia sedangkan hasil uji validitasnya 96,37 dibulatkan menjadi 100, persepsi masyarakat dalan aspek konservasi dan pemanfaatanyya yaitu di ambil 50% untuk dusun Battangan dan dan 50% distribusi pada tanaman siwalan terdapat di dusun Pangabasen karena mayoritas masyarakatnya mengelolah tanaman siwalan. Penyebarannya terdapat di 3 lokasi yaitu di perkebunan masyarakat, pinggir jalan dan pekarangan rumah.
Kata kunci: etnobotani, distribusi, tanaman Siwala
Studi Etnobotani pada Upacara Adat “Pujan Kasanga†Di Desa Tosari Pasuruan: Ethno-botany Study on “Pujan Kasanga†Traditional Ceremony in the Tosari Village of Pasuruan
Upacara Adat Pujan Kasanga merupakan upacara pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tosari untuk menetralisir alam atau tolak balak. Upacara adat tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Hindu saja, akan tetapi masyarakat Islam juga ikut melakukannya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis tumbuhan, persepsi masyarakat dan distribusi tumbuhan yang dipakai dalam upacara Adat Pujan Kasanga. Metode yang digunakan dalam upacara Adat Pujan Kasanga adalah survey, wawancara dan metode deskriptif eksploratif dengan menggunakan 85 responden.Nilai analisis pemanfaatan tumbuhan menggunakan rumus index concencus (IC) dan UVis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam upacara Adat Pujan Kasanga terdiri atas 13 jenis.Nilai persepsi masyarakat terhadap upacara Adat Pujan Kasanga sangat tinggi. Begitu juga dengan penggunaan organ tumbuhan dalam upacara tersebut juga sangat tinggi untuk biji 82% dan buah 76%. Adapun distribusi tumbuhan yang digunakan dalam upacara Adat Pujan Kasanga terdapat di 3 dusun yaitu Tosari, Kertanom, dan Ledoksari.
Kata kunci:Etnobotani, Pujan Kasanga, Desa Tosari
Uji Kombinasi Air Perasan Daun Mimba, Cengkeh, dan Pandan terhadap Daya Hinggap Lalat Kandang (Stomoxys calcitrans) pada Kulit Sapi: Testing the Concentration of Mimba-Pandanus-Clove Leaves Combination Extract toward Flies (Stomoxys calcitrans) arrival-rest on Cow skin
Traditional cattle breeders are lack attention to clean cattle and cages. The cattle dung in the cage can invite the insect’s arrival like the flies that caused cattle disease especially to the cow. The flies (Stomoxys calcitrans) become intermediaries for disease agent. This study aimed to know the influence and the concentration of extract mimba-pandanus-clove leaves for preventing arrival-rest of flies (Stomoxys calcitrans) on cow skin. The design of this study was Quasi Experimental design which used Post-test with Control Group Design. The result was analyzed descriptively and analytically. The data was analyzed descriptively and analytically with level of significance α=95%. If the difference treatment is significant than done by LSD test. The extract concentration of mimba leaves, clove leaves, and pandanus leaves combination was significant influence and at the concentration 100% was effective to decrease arrival-rest of flies (Stomoxys calcitrans). The higher extract concentration of it show to decrease the population of fly (Stomoxys calcitrans) arrival-rest on cow.
Keywords: Stomoxys calcitrans, extract, amount of individual fly
ABSTRAK
Peternak tradisional biasanya kurang perhatian kepada kebersihan ternak dan kandang. Kotoran ternak yang ada di kandang dapat mengundang kedatangan serangga, seperti lalat yang dapat menimbulkan penyakit bagi ternak. Lalat kandang (Stomoxys calcitrans)dapat menjadi perantara bagi agen penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air perasan kombinasi ekstrak daun mimba, daun cengkeh dan daun pandan dalam mencegah hinggapan lalat pada permukaan kulit sapi dan juga untuk mengetahui berapa konsentrasi yang paling efektif dalam mencegah hinggapan lalat pada permukaan kulit hewan ternak. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimental Design dengan rancangan Posttest With Control Group Design, yang hasilnya dianalisis secara deskriptif dan analitik dengan derajat kepercayaan α=95% dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini Air perasan daun mimba, cengkeh, dan pandan berpengaruh nyata pada berkurangnya populasi lalat (Stomoxys calcitrans). Konsentrasi air perasan daun mimba, cengkeh, dan pandan yang efektif terhadap berkurangnya densitas lalat kandang (Stomoxys calcitrans) ialah konsentrasi 100%. Semakin besar konsentrasi air perasan maka semakin berkurang populasi lalat kandang (Stomoxys calcitrans).
Kata kunci: Stomoxys calcitrans, air perasan, jumlah individu lala
Etnobotani Delima (Punica granatum L) di Desa Gulbung Kecamatan Pangarengan Kabupaten Sampang Madura: Etnobotany of Pomegranate (Punica granatum L) in Gulbung Village of Pangarengan District of Sampang Madura
This research aims to know the perceptions of the public about the benefits of pomegranate plant and distribution aspects of the pomegranate plant conservation in the Gulbung village of Pengarengan district of Sampang Regency. This research uses descriptive exploratory methods include: library studies, pomegranate plant observations, interviews, analysis of the data. To find out the public perception about the pomegranate conducted interviews with respondents using a questionnaire. The results of this study suggest that the public perception of Gulbung village of Pengarengan district of Sampang Regency, pomegranate plants utilize a variety of daily necessities, as food, traditional medicine, ritual and plant a fence or ornamental plants. The public perception of the village of Gulbung about the pomegranate plants as medicine 48%, while some use as an ingredient in food 18%, 32% ofornamental plants and 2% ritual. In the aspect of conservation, namely the cultivation of Pomegranate plant appears to 68% of the public often do, besides plant 50% and make use of 56%. This plant part often used by the public is the form of fruit and seeds 54% as medicine and foodstuffs, 28% leaf used as medicines dan18% pomegranate stem used as wood fuel. The source of the knowledge obtained from parents or ancestors of hereditary. The pomegranate plant is located in the village of Gulbung there are two hamlets the Larangan hamlet of 61.54% and 3.5% in the Tampengan including at least compared to the Larangan hamlet.
Keywords: Etnobotani, potention of Punica granatum L, perception of the community.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang manfaat tanaman delima dan distribusi aspek konservasi tanaman delima di Desa Gulbung Kecamatan Pengarengan Kabupaten Sampang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif meliputi: studi pustaka, pengamatan tanaman delima, wawancara, analisis data. Untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai delima dilakukan wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Desa Gulbung Kecamatan Pengarengan Kabupaten Sampang memanfaatkan tanaman delima berbagai macam keperluan sehari-hari, mulai dari bahan pangan, obat tradisional, ritul dan tanaman pagar atau tanaman hias. Persepsi masyarakat Desa Gulbung tentang tanaman delima sebagai obat 48% paling tinggi, disamping itu ada yang menggunakan sebagai bahan pangan 18%, 32% tanaman hias dan ritual 2%. Dalam aspek konservasi yaitu pembudidayaan tanaman delima nampak 68% masyarakat sering melakukannya, disamping menanam 50% dan memanfaatkan 56%. Bagian yang sering digunakan oleh masyarakat berupa buah dan biji 54% sebagai obat dan bahan pangan, daun 28% digunakan sebagai obat, dan 18% batang delima sebagai bahan bakar. Sumber pengetahuan masyarakat diperoleh dari nenek moyang atau orang tua secara turun temurun. Tanaman delima yang terdapat di Desa Gulbung persebaran terdapat di dua dusun yaitu Dusun Larangan 61,54% dan Dusun Tampengan 3,5% termasuk paling sedikit dibandingkan dengan Dusun Larangan.
Kata kunci : Etnobotani, potensi Punica granatum L, persepsi masyaraka
Profil Bioaktif pada Tanaman Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Beluntas (Pluchea indica Less): Profile of Bioactive in “Temulawak†(Curcuma xanthorriza Roxb) and “Beluntas†(Pluchea indica Less) Plants
“Temulawak†(Curcuma xanthorrhiza Roxb.) is one of the raw materials to makes traditional medicine that many spreads in Indonesia and many had been cultivated by society. Utilization of “temulawak†empirically that is one of them as an appetite enhancer. “Beluntas†(Pluchea indica Less) is one of plants in Indonesia that is able to used as herbal medicine from generation to generation used as drug relief body odor. Bioactive contained in the plants is the active compounds are utilized in the field of health, particularly Pharmacology. The research aim to know the active compound that is in the combination of†temulawak†and†beluntasâ€, and to know the correlation between the compounds in the correlation test. The research method in this research study is experimental laboratory by complete random design by scale of the value of the ring Newton upside down. The data analyzed by Pearson correlation testing. The qualitative result for the active compound test by variety combinations between “temulawak†(Curcuma xanthorriza Roxb) and “Beluntas†(Pluchea indica Less) was positive and contain alkaloid, flavonoid, and kuinon. Tannin and saponin were undetected. The results of the correlation test showed a positive relationship in alkaloid Mayer 1:1; dragondroff 2:1 alkaloid and alkaloid Meyer 2:1; alkaloid meyer 1:2. The alkaloids 2:1 and dragondroff 1:1 flavonoids; dragendroff 1:2 alkaloids and flavonoids 1:2; Quinones and 1:2 and alkaloids dragendroff 1:2 shows a negative relationship.
Keywords: Temulawak, Beluntas, bioactive
ABSTRAK
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu bahan baku obat tradisional yang banyak tersebar di Indonesia dan telah banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Pemanfaatan temulawak secara empiris yaitu salah satunya sebagai penambah nafsu makan. Beluntas (Pluchea indica Less) merupakan salah satu tanaman Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal yang secara turun temurun dimanfaatkan sebagai obat penghilang bau badan. Bioaktif yang terkandung dalam tanaman tersebut merupakan senyawa aktif yang dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, khususnya farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan atau bioaktif yang terkandung dalam kombinasi temulawak dan beluntas serta mengetahui hubungan antar senyawa dalam uji korelasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimental laboratorik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAK) dengan menggunakan skala nilai cincin newton terbalik. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis fitokimia pada kombinasi antara Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Beluntas (Pluchea indica Less) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan positif mengandung alkaloid, flavonoid dan kuinon. Sedangkan tanin dan saponin tidak terdeteksi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yaitu pada alkaloid mayer 1:1 ; alkaloid dragondroff 2:1 dan alkaloid meyer 2:1 ; alkaloid meyer 1:2. Alkaloid dragondroff 2:1 dan flavonoid 1:1; alkaloid dragendroff 1:2 dan flavonoid 1:2; dan Kuinon 1:2 dan alkaloid dragendroff 1:2 menunjukkan hubungan yang negatif.
Kata Kunci : Temulawak, Beluntas, bioakti
Uji Kualitas Air Sungai Metro Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang: The Water Quality Test of Metro River in Merjosari Sub-District of Lowokwaru District of Malang City
Metro River is one of rivers in Malang city, located at Merjosari sub-District. The River is used as irrigation by citizen in surroundings. The aim of this research is to know the quality of water in Metro River based on the physical parameter, Chemical parameter and biological parameter. To know correlation between the physical and the Chemical parameter of the water quality test. The research method is Survey-Descriptive Quantitativ., water quality test Metro River used physical, chemical, and biological parameter relate to the Government rules Number 82 year 2001, about The Management of Water Quality and Control of Water Pollution, and the analyzed data by Microsoft Excel with calculation of correlation. The result of the research showed that the waters quality at three stations showed that the pollution levels based on the result of DO is heavily polluted to all station because the result of DO under the water standard that was set by government. While if reviewed from biological parameter that is the total of coliform bacteria sample in the Metro River is lightly contaminated. Because, the total number of coliform under standard which was set by government. The correlation analysis showed that there is real relationship between several parameters those are CO2 and pH. Base of the parameters test result is presumable the water contain organic matter.
Keywords: Physical, Chemical, Biological parameter, Quality of water in Metro River, Merjosari District
ABSTRAK
Sungai Metro merupakan salah satu sungai yang ada di kota Malang, tepatnya di Kelurahan Merjosari. Sungai ini dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai irigasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kualitas air sungai Metro berdasarkan parameter fisika, parameter kimia, parameter biologi. Mengetahui korelasi antara parameter kimia dan fisika pada uji kualitas air sungai Metro. Metode penelitian yang digunakan adalah Survei-Deskriptif Kuantitatif. Uji kualitas air sungai sungai Metro menggunakan parameter fisika, kimia, dan biologi yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Analisis data menggunakan Mikrosoft Exel dengan perhitungan Korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan yang diteliti pada tiga stasiun menunjukkan tingkat pencemaran berdasarkan nilai DO, yaitu tercemar berat pada semua stasiun karena nilai DO berada dibawah standar mutu air yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan jika di tinjau dari parameter biologi yaitu total bakteri coliform sample air sungai metro tercemar ringan. Karena jumlah total coliform masih berada di bawah standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Analisis korelasi menunjukkan ada hubungan nyata antara parameter CO2 dan pH. Berdasarkan hasil uji parameter tersebut diduga air mengandung materi organik.
Kata kunci: Parameter Fisika, Prameter kimia, Parameter Biologi, Kualitas air, sungai Metro Kelurahan Merjosari