e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
    254 research outputs found

    Studi Osifikasi Anggota Tubuh Embrio Ayam Buras dengan Pewarnaan Alizarin Red: Study of a Embryonic Organ Member of the Buras Chicken with Pigmentation Alizarin Red

    Get PDF
    Free-range chicken is a germplasm whose existence needs to be preserved. The quality of the skeleton (skeleton) in livestock is one of the important factors in determining the quality of livestock chickens, to know the ossification of the wing and leg chicken embryo in the stained area of ​​the bone marked with a change of color to dark red. The results of the observation showed that in the part of 9-days-old embryo wing, the bone that had calcified is carpometacarpo, ulna, radius and humerus at the 13-days-old embryo, in the 2nd digiti, carpometacarpo, pollex, ulna, radius and humerus. At the 17-days-old, 1st digiti, 2nd digiti, carpometacarpo, pollex, ulna, radius and humerus. At the chickens aged 1-day-old 1st digiti, 2nd digiti, 3rd digiti, carpometacarpo, pollex, radius, ulna and humerus. And in the part of the 9-days-old leg embryo found calcified bones were femur bone, tibia and tarsometatarso, at the age of 13-days the femur, tibia, tarsometatarso, digiti 1, digiti 2 and digiti 3, at the age of 17 femur, tibia, tarsometatarso, 1st digiti, 2nd digiti, 3rd digiti, and 4th digiti. And at the chicken aged 1-day-old femur, tibia, tarsometatarso, 1st digiti, 2nd digiti, 3rd digiti, and 4th digiti. The conclusion can be taken is that in wing and leg   chicken embryo  9-days-old, 13-days-old, 17-days-old dan the chicken aged 1-day-old is  humerus, radius, ulna, carpometacarp, femur, tibiotarsus and tarsometatarsus had osification which differentiation is digiti. Keywords: Chicken, calcification, ossification, alizarin red. ABSTRAK Ayam buras adalah turunan dari proses penyilangan ayam hutan dengan  ayam pedaging, yang didomestikasi dan dikembang-biakan. Osifikasi anggota tubuh embrio ayam diawali dari tulang rawan dan berkembang menjadi tulang keras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui osifikasi embrio ayam umur 9, 13, 17 dan 21 hari. Metode penelitian digunakan deskriptif kuantitatif dengan purposive sampling,  dengan pewarna alizarin red. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan warna tulang embrio ayam dari merah muda sampai merah keunguan. Bagian tulang yang terosifikasi meliputi humerus, radius, ulna, carpometacarpo, femur, tibiotarsus, tarsometatarsus dan digiti. Tulang yang berwarna merah keunguan pada embrio umur 9 hari adalah carpometacarpo, ulna, radius, humerus, femur, tibia dan tarsometatarso, yang berwarna merah muda yakni pada seluruh tulang digiti dan pollex. Pada embrio umur 13 hari adalah digiti ke 2, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humeru,  femur, tibia, tarsometatarso,digiti ke 1, digiti ke 2 dan digiti ke 3, yang berwarna merah muda yakni digiti ke 1 dan ke 3 pada sayap dan digiti ke 4 pada kaki . Pada umur 17 hari digiti ke 1, digiti ke 2, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humerus, femur, tibia, tarsometatarso,digiti ke 1, digiti ke 2, digiti ke 3 dan digiti ke 4 dan yang berwarna merah muda digiti ke 4 pada kaki. Pada umur 21 hari digiti ke 1, digiti 2, digiti 3, carpometacarpo, pollex,radius, ulna, humerus, femur, tibia, tarsometatarso, digiti ke 1, digiti ke 2,  digiti ke 3 dan digiti ke 4. Tulang yang berwarna merah keunguan telah mengalami osifikasi sedangkan tulang yang berwarna merah muda belum mengalami osifikasi. Kata kunci: embrio, osifikasi, alizarin red.Free-range chicken is derivative of the process a cross patridge with broiler, that domesticated and cultivated. Osification limb embryos of chickens started with cartilage and develop into the hard bone. This study aims to know ossification of the embryo chicken the age of 9, 13, 17 and 21 days. Research methodology used descriptive quantitative with purposive sampling, with alizarin red. The results of the study shows differences in color chicken bone the embryo from pink to red in wait. The bone that ossification is  humerus, radius, ulna, carpometacarpo, femur, tibiotarsus, tarsometatarsus and digiti. Differences in the hues occurs in the age of an embrio 9 day portion of a bone in red parents is carpometacarpo, ulna, radius, humerus, femur, tibia and tarsometatarso. In the embryo chicken age 13 days is digiti ke 2, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humeru,  femur, tibia, tarsometatarso, first digiti, second digiti and third digiti. In the embryo chicken age 17 days is first digiti, second digiti, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humerus, femur, tibia, tarsometatarso, first digiti, second digiti, third digiti and fourth digiti. In the embryo chicken age 21 days is first digiti, second digiti, third digiti, carpometacarpo, pollex,radius, ulna, humerus, femur, tibia, tarsometatarso, first digiti, second digiti, third digiti and fourth digiti.A bone that is of purplish red color has been undergoes ossification whilw a bone that is of pink in color have not yet undergone ossification. Keywords: embryo, calcification, ossification, alizarin red. ABSTRAK Ayam buras adalah turunan dari proses penyilangan ayam hutan dengan  ayam pedaging, yang didomestikasi dan dikembang-biakan. Osifikasi anggota tubuh embrio ayam diawali dari tulang rawan dan berkembang menjadi tulang keras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui osifikasi embrio ayam umur 9, 13, 17 dan 21 hari. Metode penelitian digunakan deskriptif kuantitatif dengan purposive sampling,  dengan pewarna alizarin red. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan warna tulang embrio ayam dari merah muda sampai merah keunguan. Bagian tulang yang terosifikasi meliputi humerus, radius, ulna, carpometacarpo, femur, tibiotarsus, tarsometatarsus dan digiti. Tulang yang berwarna merah keunguan pada embrio umur 9 hari adalah carpometacarpo, ulna, radius, humerus, femur, tibia dan tarsometatarso, yang berwarna merah muda yakni pada seluruh tulang digiti dan pollex. Pada embrio umur 13 hari adalah digiti ke 2, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humeru,  femur, tibia, tarsometatarso,digiti ke 1, digiti ke 2 dan digiti ke 3, yang berwarna merah muda yakni digiti ke 1 dan ke 3 pada sayap dan digiti ke 4 pada kaki . Pada umur 17 hari digiti ke 1, digiti ke 2, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humerus, femur, tibia, tarsometatarso,digiti ke 1, digiti ke 2, digiti ke 3 dan digiti ke 4 dan yang berwarna merah muda digiti ke 4 pada kaki. Pada umur 21 hari digiti ke 1, digiti 2, digiti 3, carpometacarpo, pollex,radius, ulna, humerus, femur, tibia, tarsometatarso, digiti ke 1, digiti ke 2,  digiti ke 3 dan digiti ke 4. Tulang yang berwarna merah keunguan telah mengalami osifikasi sedangkan tulang yang berwarna merah muda belum mengalami osifikasi. Kata kunci: embrio, osifikasi, alizarin red

    Kadar Creatine Kinase Myocardial Band Pada Tikus Wistar Betina Yang Dipapar Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea Subkronik 28 Hari: Creatine Kinase Myocardial Band Level in Female Wistar Rats Exposed to Metanolic Extract Scurrula atropurpurea on Subchronic 28 Days

    Get PDF
    Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans is a parasitic plant that lives on the tea plant (Tea sinensis L.) and it is very potential as medicine. The purpose of this study was to determine the level Creatine Kinase Myocardial Band (CK-MB) in female wistar rats after giving Metanolic extract Scurrula atropurpurea (MESA) for 28 days (subchronic exposure). The type of this research is True Experimental Design with Completely Randomized Design (CRD). The number of animal research was 20 female wistar rats weighing 100-200 g. Then divide into 4 treatments; control, MESA dose 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW, 1000 mg/KgBW. MESA is given 5 times a week for 28 days orally. After 28 days the rats were dissected and done the examination of CK-MB levels from the blood serum, the result of CK-MB levels of the treatments were compared with the controls. The result showed that the CK-MB levels in the rats treated serum 250, 500, 1000 mg/KgBW was decreased when compared with controls, and after the One-way ANOVA test showed that the treatments were not significantly different then compared with controls. In this case showed that giving MESA to with female wistar rats (Rattus norvegicus) is not toxic, so MESA is safe by subchronic test. Keyword: MESA, CK-MB, Subkronik ABSTRAK Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans merupakan tanaman parasit yang hidup menumpang pada tanaman teh (Tea sinensis L.) dan sangat berpotensi sebagai obat obatan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar Creatine Kinase Myocardial Band (CK-MB) pada tikus wistar betina setelah pemberian Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (EMSA) selama 28 hari (paparan subkronik). Jenis penelitian ini merupakan True Experimental Design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Jumlah hewan uji adalah 20 ekor tikus wistar betina dengan berat badan berkisar 100-200 g, kemudian dibagi menjadi 4 perlakuan yaitu kontrol, EMSA dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB, 1000 mg/KgBB. EMSA diberikan 5 kali dalam seminggu selama 28 hari secara oral. Setelah 28 hari tikus di bedah dan dilakukan pemeriksaan kadar CK-MB dari serum darah, hasil kadar CK-MB pada perlakuan dibandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar CK-MB pada serum tikus perlakuan 250, 500, 1000 mg/KgBB mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kontrol, dan setelah di uji One-way ANOVA menunjukkan bahwa pada perlakuan tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pemberian EMSA pada tikus putih (Rattus norvegicus) wistar betina adalah tidak toksik sehingga EMSA aman secara uji subkronik. Kata Kunci : EMSA, CK-MB, Subkroni

    Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh, Media dan Jenis Batang Pada Pertumbuhan Stek Tin (Ficus carica L.): The Use of Growth Regulator, Media and the Stem Type in the Growth of Tin (Ficus carica L.) Cuttings

    Get PDF
    Tin (Ficus carica L.) is a plant that has a wide range of benefits in healing various diseases. Many herbal medicines derived from the fruit of the tin. Some bioaktif compounds such as benzaldehyde, phenol, these Terpenoids, alkaloids and flavonoids, which are antioxidants and is able to inhibit the proliferation of cancerous cells. Response regulator substances usage is growing against the growth of root cuttings, the kind best stem cuttings to plant reproduction and suitable in media duplication plant cuttings tin (Ficus carica l.). This research was conducted with a random Design through experimental methods Group (RAK) 3 factors. First factor is the treatment of root growing up regulatory substances, type of stem cuttings and planting medium. Data analysis was done using the ANOVA analysis with level 0.05. If the effect is not real then conducted further trials Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5% to find out response regulator substances usage grows on cuttings Rod tin (Ficus carica L.) with different media. The results showed the giving substance to balance growing may give a positive response toward the growth of the root cuttings so that affects the growth of cuttings next, the media that is suitable for the growth of the tin is a medium sand and type of stem cuttings produce the best growth is part of the middle and the bottom.  Keywords: plant growth regulators, stem cuttings, Tin Plant (Ficus carica l.), different growing media ABSTRAK Tanaman Tin (Ficus carica L.) merupakan tanaman yang memiliki berbagai macam manfaat dalam penyembuhan berbagai penyakit. Obat-obatan herbal banyak berasal dari buah tin. Beberapa kandungan senyawa aktif seperti flavonoid dan alkaloid bersifat antioksidan dan mampu menghambat proliferasi sel kanker. Tujuan penelitian untuk mengetahui respon penggunaan zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan akar stek, jenis stek batang yang paling baik untuk perbanyakan tanaman dan media yang cocok dalam perbanyakan stek. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen melalui Rancangan Acak Kelompok 3 faktor. Faktor pertama adalah perlakuan zat pengatur tumbuh root up, jenis stek batang dan macam media tanam. Analisis menggunakan ANOVA dengan taraf 0,05. Apabila berpengaruh tidak nyata maka dilakukan uji (DMRT) 5% untuk mengetahui respon penggunaan zat pengatur tumbuh pada stek batang tin (Ficus carica L.) dengan media yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan pemberian zat pengatur tumbuh dapat memberikan respon positif terhadap pertumbuhan akar stek sehingga mempengaruhi pertumbuhan stek selanjutnya, media yang cocok untuk pertumbuhan tin adalah media pasir dan jenis batang stek yang menghasilkan pertumbuhan terbaik adalah bagian tengah dan bawah. Kata kunci: zat pengatur tumbuh, stek batang, Tanaman Tin (Ficus carica L.), media tanam berbed

    Isolasi dan Identifikasi Mikroba Berpotensi Pendegradasi Limbah Cair Laboratorium Kesehatan STIKes Maharani Malang: The Isolation and Identification Waste Water Degradation Potential Microbes of Maharani Health College Laboratory

    Get PDF
    Laboratory waste produced unique characteristics, contrast to waste produced by industrial activities. Material waste that comes from the laboratory has greater variety of waste types; although the amount of material discarded is not many. The research objective was to obtain bacterial isolates that were able to survive in laboratory waste as potential waste-degrading bacteria. Research method is observartional laboratory with isolate reaction testing that was detected by the ability to degrade starch, cellulose, proteins and non-organic compounds. The sampling method was purposive sampling. The stages in this study were divided into two; first, the manufacture of pure cultures from the inoculants previously diluted, then microscopic observations. The second, identification and biochemical test according to Bergey's Manual of Bacteriology Determination. Bacteria were rejuvenated on medium nutrient so that the isolates were obtained twenty four hours old. Then an examination was carried out include Gram staining. Enzymatic test of amylase, protease, and cellulose, and biochemical test to identify microbes that degrade chemical compounds includes; oxidase test, motility, nitrate, lysine, ornithine, H2O, Glucose, Mannitol, xylose, ONPG, Indole, urease, V-P, citrate, TDA. The results of the study were found Pseudomonas stutzeri, Proteus mirabilis, and Pseudomonas aeruginosa. Isolates that have an amylolytic index are C1, C2 and O7 namely Pseudomonas stutzeri, Proteus mirabilis, and Pseudomonas aeruginosa. The resulting index was C1 = 0.45, C2 = 0.65 and O7 = 0.87. Keywords: Isolation, identification, laboratory liquid waste, waste degradation microbes ABSTRAK Limbah laboratorium menghasilkan karakteristik yang unik, kontras dengan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri. Limbah bahan yang berasal dari laboratorium memiliki jenis sampah yang lebih banyak, meskipun jumlah bahan yang dibuang tidak banyak. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh isolat bakteri yang mampu bertahan hidup di dalam limbah laboratorium sebagai bakteri pengurai limbah potensial. Metode penelitian adalah observasional laboratorium dengan melakukan tes reaksi isolat untuk mengetahui kemampuan degradasi pati, selulosa, protein dan senyawa non-organik. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Tahapan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu pertama, pembuatan kultur murni dari inokulan yang sebelumnya diencerkan, kemudian pengamatan mikroskopis. Kedua, identifikasi dan uji biokimia sesuai dengan Manual Penentuan Bakteriologi Bergey. Bakteri diremajakan pada nutrisi sedang sehingga isolat diperoleh dalam dua puluh empat jam. Uji pemeriksaan adalah pewarnaan Gram. Selanjutnya uji enzimatik amilase, protease, dan selulosa, dan uji biokimia untuk mengidentifikasi mikroba yang mendegradasi senyawa kimia meliputi; uji oksidase, motilitas, nitrat, lisin, ornithine, H2O, Glukosa, Mannitol, xilosa, ONPG, Indole, urease, V-P, sitrat, TDA. Hasil penelitian ditemukan Pseudomonas stutzeri, Proteus mirabilis, dan Pseudomonas aeruginosa. Isolat yang memiliki indeks amilolitik adalah C1, C2 dan O7 yaitu Pseudomonas stutzeri, Proteus mirabilis, dan Pseudomonas aeruginosa. Indeks yang dihasilkan adalah C1 = 0,45, C2 = 0,65 dan O7 = 0,87. Kata kunci: Isolasi dan identifikasi mikroba, Limbah cair laboratorium, mikroba pendegradasi limba

    Konsumsi Pakan Pada Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) Di Kandang Sebelum Dilepasliarkan Di Kondang Merak Kabupaten Malang: Feed Consumption at Javan Slow Loris (Nycticebus Javanicus) in The Cage before Released in Kondang Merak Malang

    No full text
    Javan loris is a protected animal whose population decreases. One way of preservation is to release the livestock Java pet and confiscated into their natural habitat. A research has been conducted to determine the type of feed and the level of preference for the type of feed of Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) in rehabilitation and adaptation cage before it is released in Protected Forest Kondang Merak of Malang Regency. This research is conducted by providing feed that is adapted to the needs of loris. Type of feed given consists of Insects, Gum (Gum arabica), Carrots, Potatoes, Ubi, Siam Pump, Nuts, and Cucumber. The method used is observation of four male and female lorises placed in two cages measuring 2 x 2 m. Observation of feed intake was done for twelve days, and weighing the feed before giving and after feeding to know palatabititasnya. Abiotic factors measured are temperature and humidity. The results showed that the level of preference to feed based on the percentage of consumptive amount was 18.7%, Siam Pump 17.2%, Carrot 15.5%, Sweet Potatoes 15.5%, Beans 9,3%, Cucumber 9% and Potatoes 7.7%, while the lowest is Insect that is 7%. The feeding rate is not related to the temperature and humidity in the rehabilitation and adaptation cages based on the correlation test using SPSS version 22.  Keywords: Nycticebus javanicus,feed, palatability, cage ABSTRAK Kukang Jawa merupakan satwa dilindungi yang populasinya semakin menurun.Salah satu cara pelestariannya adalah melepaskan KukangJawapeliharaan dan sitaan ke habitat alamnya.Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan jenis pakan dan tingkat kesukaan terhadap jenis pakan KukangJawa (Nycticebus javanicus) di kandang rehabilitasi dan adaptasi sebelum dilepasliarkandi Hutan Lindung Kondang Merak Kabupaten Malang.Penelitian ini dilakukan dengan memberikan pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan Kukang. Jenis pakan yang diberikan terdiri dari Serangga, Getah (Gum arabica), Wortel, Kentang, Ubi, Labu Siam, Kacang Panjang, dan Mentimun. Metode yang digunakan adalah Observasi terhadap empat ekor Kukang Jawa betina dan jantan yang ditempatkan di dalam dua kandang berukuran 2 x 2 m. Pengamatan konsumsi pakan dilakukan selama dua belas hari, dan dilakukan penimbangan pakan sebelum pemberian dan sesudah pemberian pakan untuk mengetahui palatabititasnya.Faktor abiotik yang diukur yaitu suhudan kelembaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesukaan terhadap pakan berdasarkan persentase jumlah konsumsinya berturut-turut adalah Getah 18.7%, Labu Siam 17,2%, Wortel 15,5%, Ubi 15,5%, Kacang Panjang 9,3%, Mentimun 9%, dan Kentang 7,7%, sedangkan terendah adalah Serangga yaitu 7%.Tingkat kesukaan terhadap pakan tidak berhubungan dengan suhu dan kelembaban di kandang rehabilitasi dan adaptasi berdasarkan uji korelasi menggunakan SPSS versi 22. Kata kunci: Nycticebus javanicus, pakan, palatabilitas, kandan

    Persepsi Masyarakat terhadap Sanitasi Pasar Tradisional (Pasar Blimbing dan Pasar Mergan) di Kota Malang: Society Perception toward Sanitation on Tradisional Market (Blimbing and Mergan Market) in Malang City

    Get PDF
    Traditional market condition currently have cleanless image, especially in Malang district needed more attention to be reapired soon, if this not done immediately traditional market will be leaved by consumer alongside with the increasing amount of modern market. This research located at blimbing traditional market and mergan traditional market. The firts aim of this research to know condition of sanitation in both market, and the second aim to know society perception againts condition of sanitation in both market. Method of this research use quantitative descriptive and direct observation on field. Questionnaire is data collection technique that use to give some written question to respondent. In this research data source is market buyers in both market. determination of respondent sample use purposive sampling. Based on outcome research indicate sanitiation of blimbing and mergan traditional market still poor. This statetement based on the high of disagree answer on questionnaire.Kondisi pasar tradisional yang saat ini masih mempunyai kesan kurang bersih, terutama di daerah Malang memerlukan perhatian khusus untuk segera diperbaiki sebab apabila kondisi ini tidak segera diperbaiki, pasar tradisional lambat laun akan mulai ditinggalkan konsumen seiring dengan menjamurnya pasar modern. Penelitian ini dilakukan di pasar tradisional Blimbing dan pasar Mergan Kota Malang. Tujuan penelitian ini yang pertama yaitu untuk mengetahui kondisi sanitasi pasar yang ada di pasar Blimbing dan pasar Mergan, yang kedua untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap kondisi sanitasi di pasar Blimbing dan pasar Mergan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan melalui observasi langsung di lapangan. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Dalam penelitian ini, sumber data kuesioner yaitu pengunjung/pembeli di pasar tradisional Blimbing dan pasar tradisional Mergan Kota Malang. Penentuan sampel responden ditetapkan secara purposive sampling. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa sanitasi di pasar Blimbing dan pasar Mergan masih kurang baik, hal tersebut dinyatakan dengan tingginya presentase jawaban kurang setuju pada kuesioner

    Pengaruh Electrical Conductivity pada Sistem Hidroponik yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Akar dan Tunas Stek Krisan (Chrysanthemum sp.): The Effect of Electrical Conductivity in the Hydroponic System Differences for the Growth of Roots and Shoots of Chrysanthemum sp.

    Get PDF
    The increasing of consumptions demand of chrysanthemum (Chrysanthemum sp.), has spurred farmers and ornamental flowers entrepreneurs, especially chrysanthemums to increase their production. But in this case, farmers experienced various obstacles including the limited availability of quality seeds. To produce quality seeds, can be done by vegetative propagation, shoot cuttings on floating hydroponic system and substrate system. The objective of this study was of investigate the effect of electrical conductivity at different hydroponic systems and to determine the optimal value of EC on the growth of roots and shoots of chrysanthemum cuttings. This research uses experimental methods with Completely Randomized Design (CRD) with 4 factor and 1 control treatments, it is control (e0), EC 1,5 mS cm-1(e1), EC 1,8 mS cm-1 (e2), EC 2,1 mS cm-1 (e3), EC 2,4 mS cm-1(e4) and four repetitions. Parameters observed that the time arises root, root length, a lot of roots, while emerging buds, shoots high and abiotic factors. The results showed that floating hydroponic system and substrate system influences the growth of roots and shoots of chrysanthemum cuttings on each parameter that had analyzed. The treatment of e4: EC 2.4 mS cm-1 is EC optimal value for nutrient solution of floating hydroponic system and substrate systems.  Keywords:Hydroponics, EC (Electrical Conductivity), Chrysanthemum Cuttings (Chrysanthemum sp.) ABSTRAK Terjadinya peningkatan permintaan konsumen terhadap bunga krisan (Chrysanthemum sp.), telah memacu para petani dan pengusaha bunga hias terutama bunga krisan untuk meningkatkan produksinya. Namun dalam hal ini para petani mengalami berbagai kendala diantaranya, keterbatasan tersedianya bibit yang bermutu. Untuk menghasilkan bibit yang berkualitas perbanyakan tanaman krisan dapat dilakukan secara vegetatif yaitu dengan stek pucuk pada teknik hidroponik sistem rakit apung dan substrat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh electrical conductivity pada sistem hidroponik yang berbeda dan untuk mengetahui nilai EC yang optimal terhadap pertumbuhan akar dan tunas stek krisan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan setra 1 kontrol yaitu kontrol (e0), EC 1,5 mS cm-1(e1), EC 1,8 mS cm-1 (e2), EC 2,1 mS cm-1 (e3), EC 2,4 mS cm-1(e4) dan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan hidroponik sistem rakit apung dan sistem substrat memberi pengaruh terhadap pertumbuhan akar dan tunas stek krisan pada setiap parameter yang diamati. Dan perlakuan e4 : EC 2,4 mS cm-1 merupakan nilai EC optimal untuk larutan nutrisi pada hidroponik sistem rakit apung dan sistem substrat. Kata kunci: Hidroponik, EC (Electrical Conductivity), Stek Pucuk Krisan (Chrysanthemum sp.

    Isolasi dan Analisis Koloni Bakteri Rizosfer Untuk Agen Pengendali Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Stroberi (Fragaria sp): Isolation and Analysis of Rhizosphere Bacterial Colony for Controlling Agents of Fusarium Wilt in Strawberry Plants (Fragaria sp)

    Get PDF
    Rhizosphere bacteria are soil microbes that can be isolated from the rhizosphere of strawberry plants (Fragaria sp). Rhizosphere bacteria are included in the group of antagonistic microbes which have the potential to inhibit the growth of the pathogenic fusarium sp fungi that infect plants that cause fusarium wilt in the roots of strawberry plants. This study aims to determine the diversity index of rhizosphere bacteria isolated from strawberry plants which are antagonistic to Fusarium sp. This study uses descriptive and experimental methods. The results of the analysis of the diversity of rhizosphere bacteria have a diversity index value of 1.35. This indicates that the diversity of rhizosphere bacteria isolated from the rhizosphere of strawberry plants is in the moderate category (1.0 <H '<3.322). Analysis of potential friendship of 5 types of colonies (R1, R2, R3, R4, R5) were obtained, rhizosphere bacteria R5 had a percentage of inhibition of 51.9%. So that this R5 bacteria has the potential and inhibits the growth of Fusarium sp fungi, because the R5 bacteria have the same macroscopic and microscopic characteristics and characteristics as those possessed by the bacterium Pseudomonas fluorescens. Keywords: Rhizosphere bacteria, strawberry plants, Fusarium sp ABSTRAK  Bakteri rizosfer merupakan mikroba tanah yang dapat diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi (Fragaria sp). Bakteri rizosfer termasuk dalam kelompok mikroba antagonis yang berpotensi dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen Fusarium sp yang menginfeksi tanaman yang menyebabkan penyakit layu fusarium pada akar tanaman stroberi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks keragaman bakteri rizosfer yang diisolasi dari tanaman stroberi yang bersifat antagonis terhadap jamur Fusarium sp. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan eksperimen. Hasil analisis keragaman bakteri rizosfer memiliki nilai indeks keragaman sebesar 1,35. Hal ini menandakan bahwa keanekaragaman bakteri rizosfer yang diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi termasuk dalam kategori sedang (1,0<H’<3,322). Analisis potensi penghamabatan dari 5 macam koloni (R1, R2, R3, R4, R5) yang didapatkan, bakteri rizosfer R5 memiliki persentase daya hambat sebesar 51,9%. Sehingga bakteri R5 ini memiliki potensi dan menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp, sebab bakteri R5 memiliki ciri-ciri dan karakter makroskopis dan mikroskopis yang sama dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh bakteri Pseudomonas fluorescens. Kata kunci: Bakteri rizosfer, tanaman stroberi, Fusarium spBakteri rizosfer merupakan mikroba tanah yang dapat diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi (Fragaria sp). Bakteri rizosfer  termasuk dalam kelompok mikroba antagonis yang berpotensi dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen Fusarium sp yang menginfeksi tanaman yang menyebabkan penyakit layu fusarium pada akar tanaman stroberi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks keragaman bakteri rizosfer yang diisolasi dari tanaman stroberi yang bersifat antagonis terhadap jamur Fusarium sp. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan eksperimen. Hasil analisis keragaman bakteri rizosfer memiliki nilai indeks keragaman sebesar 1,35. Hal ini menandakan bahwa keanekaragaman bakteri rizosfer yang diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi termasuk dalam kategori sedang (1,0<H’<3,322). Analisis potensi penghamabatan dari 5 macam koloni (R1, R2, R3, R4, R5) yang didapatkan, bakteri rizosfer R5 memiliki persentase daya hambat sebesar 51,9%. Sehingga bakteri R5 ini memiliki potensi dan menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp, sebab bakteri R5 memiliki ciri-ciri dan karakter makroskopis dan mikroskopis yang sama dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh bakteri Pseudomonas fluorescens

    Identifikasi Serangga Pada Lahan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari Kabupaten Malang: Identification of Insects in Maize (Zea mays L.) Land of Technical Implementation Unit of Crops Seed Development, Singosari, Malang

    Get PDF
    Corn is a seasonal plant. Corn is one of the crop commodities that has an important role in agriculture and the economy in Indonesia. Problems that often occur in the cultivation of corn (Zea mays) are such as water availability, land area, weather, disease and pest attacks. Insects are animals which include an important role in the agricultural ecosystem, but not all insects are beneficial for these plants. Insects also consist of several types of Orders, namely the Order of Coleoptera, Order of Diptera, Order of Lepidoptera, Order of Homoptera, Order of Hemiptera, and Order of Thysanoptera. Insects also have their respective statuses as predators, pests, pollinators, and suckers. This study aims to identify the types of insects on cornfields and determine the effect of abiotic factor correlations on the number of insects on cornfields. This research uses quantitative descriptive method, the retrieval of insects with the absolute method and this study makes direct observations (visual) and the determination of plots using purposive sampling. The results showed 5 orders (Odonata, Lepidoptera, Orthoptera, Coleoptera, and Hemiptera), 6 families (Libellulidae, Nymphalidae, Pieridae, Acrididae, Coccinellidae, and Pentatomidae) and 9 kinds of insects. The most common insects are found in the Odonata Order, as many as 51 birds and the least insects found were found in the order of 2 Lepidoptera Familia Acrididae. Abiotic factors measured are temperature, humidity, wind speed and light intensity. Wind speed is related to the arrival of insects that come on cornfields. Keywords:corn plant (Zea mays),Insects, abiotic factor. ABSTRAK Jagung merupakan tanaman musiman. Jagung termasuk salah satu komoditas tanaman yang mempunyai peranan penting dalam pertanian dan juga perekonomian di Indonesia. Masalah yang sering terjadi dalam budidaya tanaman jagung (Zea mays) yaitu seperti ketersediaan air, luas lahan, cuaca, serangan penyakit dan hama. Serangga merupakan hewan yang termasuk memegang peranan penting dalam ekosistem pertanian, tetapi tidak semua serangga menguntungkan untuk tanaman tersebut. Serangga juga terdiri dari beberapa jenis Ordo yaitu Ordo Coleoptera, Ordo Diptera, Ordo Lepidoptera, Ordo Homoptera, Ordo Hemiptera, dan Ordo Thysanoptera. Serangga juga memiliki status masing-masing yaitu sebagai predator, hama, penyerbuk, dan penghisap. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi macam-macam serangga pada lahan tanaman jagung dan mengetahui pengaruh korelasi faktor abiotik terhadap jumlah serangga pada lahan tanaman jagung. penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, pengambilan serangga dengan metode mutlak dan penelitian ini melakukan pengamatan secara langsung (visual) dan penentuan plot menggunakan Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan 5 ordo (Odonata, Lepidoptera, Orthoptera, Coleoptera, dan Hemiptera), 6 familia (Libellulidae, Nymphalidae, Pieridae, Acrididae, Coccinellidae, dan Pentatomidae) dan 9 macam serangga. Serangga yang paling banyak ditemukan yaitu terdapat pada Ordo Odonata yaitu sebanyak 51 ekor dan serangga yang paling sedikit ditemukan yaitu terdapat pada Ordo Lepidoptera Familia Acrididae sebanyak 2 ekor. Faktor abiotik yang diukur yaitu suhu, kelembaban, kecepatan angin dan intensitas cahaya. Kecepatan angin berhubungan terhadap kedatangan serangga yang datang pada lahan tanaman jagung. Kata kunci: tanaman jagung (Zea mays), Serangga, faktor abioti

    Uji Kandungan Senyawa Aktif Minuman Jahe Sereh (Zingiber officinale dan Cymbopogon citratus): Active Compound Test of Lemongrass Ginger (Zingiber officinale and Cymbopogon citratus)

    Get PDF
      Ginger and lemongrass are both natural ingredients that are often used for spices in making various dishes. Ginger and lemongrass have a delicious smell and sting and can warm the body. Lemongrass ginger drink presents a flavor that is able to warm the body and make the body more fit and healthy. The purpose of this study determine the content of active compounds contained in lemongrass ginger drink (Zingiber officinale and Cymbopogon citratus). The research method used is experimental method using a combination of rhizome of ginger and lemongrass stem using 3 comparison that is 1: 1; 1: 2; and 2: 1 consist of 3 treatments and 4 replications with color scoring using newton reversed circle reversed circle reference and data analysis performed using Pearson correlation test. Lemongrass ginger drinks (Zingiber officinale and Cymbopogon citratus) contain active compounds in the form of alkaloids, flavonoids, and saponins and there are no quinons and no tannins. Correlation between alkaloid compounds (reagent dragendrof) 1: 2 with 1: 1 flavonoid compound alleged lemongrass ginger drink efficacious as anti-inflammatory, analgesic and correlation between saponin 1: 2 compounds with alkaloid (reagent dragendrof) 1: 1 allegedly efficacious as anti-inflammatoryLemongrass ginger drink in addition to efficacious as a body warmer drink is also thought to be nutritious to refresh the body. Keywords: Ginger, lemongrass, the active compound ABSTRAK Jahe dan sereh merupakan kedua bahan alami yang sering dipergunakan untuk bumbu dalam membuat berbagai masakan. Jahe dan sereh memiliki aroma sedap dan menyengat serta dapat menghangatkan tubuh. Minuman jahe sereh menyuguhkan rasa yang mampu menghangatkan tubuh dan membuat tubuh semakin bugar. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui kandungan zat aktif yang ada pada minuman jahe sereh (Zingiber officinale dan Cymbopogon citratus).  Metode  penelitian adalah metode eksperimen menggunakan kombinasi dari perasan rimpang jahe dan batang sereh sebagai variabel bebas; terdiri atas tiga perlakuan dan empat ulangan. Variabel terikat adalah intensitas warna hasil reaksi dan diberi skor warna menggunakan referensi lingkaran cincin newton skala terbalik dan analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson. Minuman jahe sereh (Zingiber officinale dan Cymbopogon citratus) terdapat senyawa aktif berupa alkaloid, flavonoid, dan saponin dan tidak terdapat senyawa kuinon dan tanin. Korelasi pertama diduga minuman jahe sereh berkhasiat sebagai antiinflamasi, analgesik dan  korelasi kedua diduga berkhasiat sebagai antiinflamasi. Minuman jahe sereh selain berkhasiat sebagai minuman penghangat badan juga diduga berkhasiat untuk menyegarkan tubuh. Kata kunci : Jahe, sereh, Senyawa akti

    211

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇