e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
    254 research outputs found

    Eksplorasi Vegetasi Kawasan Hutan Pantai Sebagai Atraksi Edu-Wisata Di Pantai Gatra Dusun Sendang Biru Desa Sitihatjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang: The Vegetation Eksploration of the Coastal Forest Areas as Edu-Tourism in Gatra Beach of Sendang Biru Hamlet, Sitiharjo Village, Sumbermanjing Wetan Sub Distric, Malang Regency

    No full text
    Gatra Beach in Malang Regency has the concept of ecotourism, but the reality is this beach for camping that is at risk of damaging vegetation in Gatra beach. The purpose of this study are to find out the structure and composition of the Gatrah beach vegetation, knowing the perception of tourists on the vegetation of Gatra beach and knowing the potential of Gatra beach vegetation as a tourist attraction. The method used is the belt-transect method with four stations. Analyses are used i.e., RFC analysis and the SWOT analysis.  Analysis of the results obtained by the two vegetation formations that make up the beach Gatra i.e. formation Barringtonia  and the formation of lowland forests.  Formation Barringtonia found 10 species with index value important highest are Barringtonia asiatica  (65,9) and  Samanea saman (57,6)  Formation  the lowland forest  found 11 species with index value important highes Musa acuminate (80,2) and Samanea saman (59,5).  Tourist perceptions of species of interest in the Barringtonia formation is Samanea saman (0,29), while species of interest in lowland forest formation is Musa acuminata (0,11). So that the beach of Gatra has the potential as an edu-tourism attraction area. Keywords: analysis of vegetation, RFC, tourist attractions, ecotourism, Barringtonia ABSTRAK Pantai Gatra di kabupaten Malang memiliki konsep ekowisata, namun kenyataan di lapangan pantai Gatra menjadi tempat berkemah yang beresiko merusak vegetasi pantai Gatra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi pantai Gatra, mengetahui persepsi wisatawan terhadap vegetasi pantai Gatra dan mengetahui potensi vegetasi pantai Gatra sebagai atraksi wisata. Metode yang digunakan yakni metode belt-transek dengan empat stasiun. Analisis yang digunakan melalui analisis RFC dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua formasi yang menyusun pantai Gatra yakni formasi Barringtonia dan formasi hutan dataran rendah. Formasi Barringtonia dengan 10 spesies, indeks nilai penting tertinggi yakni Barringtonia asiatica (65,9) dan Samanea saman (57,6). Formasi hutan dataran rendah dengan 11 spesies, indeks nilai penting tertinggi spesies Musa acuminata (80,2) dan Samanea saman (59,5).  Persepsi wisatawan terhadap spesiesdiminati pada formasi Barringtonia  adalah  Samanea saman (0,29), sedangkan pada formasi hutan dataran rendah yakni spesies Musa acuminata  (0,11). Sehingga pantai Gatra berpotensi sebagai kawasan atraksi edu-wisata. Kata kunci: analisis vegetasi, RFC, atraksi wisata, ekowisata, Barringtoni

    Studi Etnobotani Jahe (Zingiber officinale) pada Masyarakat Desa Banyior Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan: Etnobotany Study of Ginger (Zingiber officinale) on Banyior Village Society of Sepulu District of Bangkalan Regency

    Get PDF
    Ginger (Zingiber officinale) is a plant belonging to the Rhizoma group, ginger plants are relatively easy to find and its use has expanded not only for cooking purposes, but also for health, Ginger or commonly called "Jheih" in Madura is a plant that has often been used by the Banyior community as food or traditional medicine or more commonly called jamu or "jhemoh" in the Maduran language. In general, drinking herbs which are formulated from plants has become the habit of Maduran families and communities. This study aims to determine the public perception of the benefits of Ginger plants in the Banyior Village, Sepulu District, Bangkalan Regency. This study uses descriptive exploratory methods which include: literature studies, field observations, interviews, data analysis, and documentation of the distribution of ginger plants. The results of this study indicate the potential of Ginger plants in Banyior Village as food ingredients 54%, and as traditional medicine 46%. The ginger plant parts that are used are 38% leaves, 50% rhizomes, 12% stems. The number of ginger found was 7 clusters in Sabungan Hamlet and 6 clumps in Lenden HamletJahe  (Zingiber officinale) merupakan tanaman yang termasuk dalam kelompok Rhizoma, tanaman jahe relatif mudah ditemukan dan penggunaannya sudah meluas bukan hanya untuk keperluan memasak, tetapi juga untuk kesehatan, Jahe atau biasa disebut “Jheih†dalam bahasa Madura adalah tanaman yang sudah sering di manfaatkan oleh masyarakat Banyior sebagai bahan pangan maupun obat tradisional atau yang lebih sering disebut  jamu atau dalam bahasa Madura “jhemohâ€. Secara umum minum jamu yang diracik dari tumbuh-tumbuhan telah menjadi kebisaan keluarga dan masyarakat Madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang manfaat tanaman Jahe di Desa Banyior Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eskploratif yang meliputi: studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara, analisis data, dan dokumentasi persebaran tanaman Jahe. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya potensi tanaman Jahe di Desa Banyior sebagai bahan pangan 54%, dan sebagai obat tradisional 46 %. Bagian organ tanaman Jahe yang di manfaatkan daun 38 %, rimpang 50%, batang 12%. Jumlah Jahe yang ditemukan sebanyak 7 rumpun di Dusun Sabungan dan 6 rumpun di Dusun Lenden.  &nbsp

    Isolasi Bakteri Endofit pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Madura dan Uji Potensi Antagonis dengan jamur Diplodia sp.: Endophytic Bacteria Isolation in Keprok Orange Plants (Citrus reticulata)-Madura and Potensial Antagonistic Test to Fungus of Diplodia sp

    Get PDF
    Endophytes can produce large quantities of bioactive metabolites, which are involved in the relationship between endophytes and hosts. Among the potential antagonistic bacteria that can be used as biological controllers are endophytic bacteria, namely bacteria that live in plant tissues and can move between tissues. One alternative to controlling diseases in citrus plants is to use biological agents that are antagonistic to the cause of the disease. Exploration of biological agents was carried out by isolating endophytic bacteria leaves of Madura varieties. The aim of researh was to determine the diversity index of endophytic bacteria from the leaves of Madura variety and to know the antagonistic colonies of endophytic bacteria toward Diplodia sp. The study used descriptive and experimental methods with taking into account the research objectives. Observations were carried out using PCA (Plate Count Agar) media, NA (Nutrient Agar), and MCA (Mac Conkey Agar). Diversity index of endophytic bacterial microorganisms isolated from the leaves of Madura varieties, namely 9 types of bacterial colonies obtained E1 milky white, E2 milky white, E3 milky white, E4 milky white, E5 white, E6 white, E6 white, E7 white, E8 Yellow and E9 clear white. After the antagonistic test of the nature of the bacterial colonies with the diplodia fungus sp, there were four types of antagonistic endophytic bacteria colonies namely E3 percentage (47.5%), E4 percentage (35.31%), E6 percentage (35%), lastly E9 percentage (63, 43%). Keywords: Endophytic bacteria, orange leaves, diplodia fungus. ABSTRAK Endofit dapat menghasilkan bioaktif metabolit dalam jumlah banyak, yang terlibat didalam hubungan antara endofit dan inang. Diantara bakteri potensial antagonis yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati adalah bakteri endofit yaitu bakteri yang hidup didalam jaringan tanaman dan dapat berpindah antar jaringan. Salah satu alternatif pengendalian penyakit pada tanaman jeruk adalah menggunaan agen hayati yang bersifat antagonis terhadap penyebab penyakit. Eksplorasi agen hayati dilakukan dengan mengisolasi bakteri endofit daun tanaman jeruk keprok varietas Madura. Tujuan penelitian adalah menentukan indeks keragaman mikroorganisme bakteri endofit daun jeruk keprok varietas Madura dan mempelajari sifat Antagonis koloni bakteri Endofit kepada jamur Diplodia sp. Penelitian menggunakan metode deskrptif dan eksperimental dengan dengan mempertimbangkan tujuan penelitian. Pengamatan dilakukan dengan mengunakan media PCA (Plate Count Agar), NA (Nutrient Agar), dan MCA (Mac Conkey Agar). Indeks keragaman mikroorganisme bakteri endofit yang diisolasi dari daun jeruk keprok varietas Madura yaitu ada 9 macam koloni bakteri yang didapat E1 warna putih susu, E2 putih susu, E3 putih susu, E4 putih susu, E5 putih, E6 putih, E7 putih, E8 Kuning dan E9 putih bening. Setelah dilakukannya uji antagonis sifat dari koloni bakteri dengan jamur diplodia sp ada empat macam koloni bakteri endofit yang bersifat antagonis yaitu E3 persentase (47,5%), E4 persentase (35,31%), E6 persentase (35%), terakhir yaitu dari E9 persentase (63,43%). Kata kunci: Bakteri Endofit, daun jeruk, jamur Diplodia sp

    Kajian Faktor Lingkungan Abiotik pada Kolam Ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) dengan Suspected Parasites di Desa Balongpanggang: Abiotic Environmental Factors Study of Bandeng Fish (Chanos chanos Frosskal) with Suspected Parasit in Balongpanggang Village

    Get PDF
    Kematian ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) banyak dijumpai di tambak budidaya Kecamatan Balongpanggang. Hal tersebut diduga karena serangan endoparasit dan pengaruh dari kualitas lingkungan abiotik tambak yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase infeksi cacing endoparasit pada ikan Bandeng, mengetahui faktor lingkungan abiotik yang mempengaruhi kolam ikan Bandeng dan pengaruh faktor lingkungan abiotik dengan endoparasit pada ikan Bandeng. Penelitian dilakukan dengan mengamati ikan secara morfologi dan anatomi. Pengamatan lingkungan abiotik juga di amati seperti Biological Oxygen Demand (BOD), Dissolved Oxygen (DO), pH, kadar garam, karbondioksida terlarut (CO2), suhu, Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolve Solid (TDS). Data yang di ambil yaitu 5 sampel ikan dari masing-masing kolam ikan dan pengukuran air dilakukan selama 3 minggu sebanyak 3 kali ulangan dan menggunakan analysis of variance (ANOVA) dengan aplikasi SPSS. Hasil yang diperoleh menunjukkan kolam 3 banyak ditemukan larva endoparasit (4.2 ekor/ikan). Kondisi kualitas lingkungan dari setiap kolam tidak sesuai dengan standar kualitas air PP No.2 Tahun 2011. Banyaknya persentase endoparasit pada kolam 3 di pengaruhi dengan faktor lingkungan abiotik yang kurang baik. Nilai TDS, TSS, CO2 terlarut dan BOD pada kolam 3 paling rendah di banding kolam 1 dan 2.Kematian ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) banyak dijumpai di tambak budidaya Kecamatan Balongpanggang. Hal tersebut diduga karena serangan endoparasit ikan Bandeng dan pengaruh dari kualitas lingkungan abiotik tambak yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase infeksi cacing endoparasit pada ikan Bandeng, mengetahui faktor lingkungan abiotik yang mempengaruhi kolam ikan Bandeng dan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan abiotik dengan endoparasit pada ikan Bandeng. Penelitian dilakukan dengan mengamati ikan secara morfologi dan anatomi. Pengamatan lingkungan abiotik juga di amati seperti BOD, DO, pH, kadar garam, karbondioksida terlarut (CO2), suhu, Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolve Solid (TDS). Data yang di ambil yaitu 5 sampel ikan dari masing-masing kolam ikan dan pengukuran air dilakukan selama 3 minggu sebanyak 3 kali ulangan. Hasil pengamatan endoparasit menggunakan analisis ANOVA dengan aplikasi SPSS. Hasil yang diperoleh menunjukkan kolam 3 banyak ditemukan larva endoparasit (4.2 ekor/ikan). Kondisi kualitas lingkungan dari setiap kolam tidak sesuai dengan standar kualitas air PP No.2 Tahun 2011. Banyaknya persentase endoparasit pada kolam 3 di pengaruhi dengan faktor lingkungan abiotik yang kurang baik. Nilai TDS, TSS, CO2 terlarut dan BOD pada kolam 3 paling rendah di banding kolam 1 dan 2.   Kata Kunci : Bandeng, Endoparasit, Lingkungan, Abioti

    Pola Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa untuk Retting-Embun Serat Kasar pada Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata): The Growth Pattern of Pseudomonas aeruginosa for Retting-Dew of Coarse Fiber in Lidah Mertua Plants (Sansevieria trifasciata)

    Get PDF
    Sansivieria trifasciata has a cell wall consisting of high cellulose components which are reinforced by lignin, pectin and hemicellulose. Separation of fibers from bonds that strengthen fibers is still a major problem because the cell walls that are owned are very strong and stiff. In the activity of separating selolusa fiber there needs to be a process called retting. Residues from the retting process with chemicals can pollute the environment, separation by mechanical means produces fibers that are still rigid, and with soaking requires a lot of water and causes odor. The purpose of this study is how long the Pseudomonas earuginosa used can show cell proliferation; get a graph of growth patterns in Sansevieria trifasciata leaf preparations by adding nutrients and fiber quality from dew retting. This study uses an experimental method; there are 2 treatments, namely the addition of nutrition and without nutrition with 6 replications time 5 days, 10, days, 15 days, 20 days and 30 days. The results of this study were the number of treated cells with the addition of nutrients and without the addition of nutrients experiencing the lag phase of the 5th to 10th day and the exponential phase starting from the 10th day to the 30th day. Pseudomonas aeruginosa can soften the cell wall with dew-retting ability obtained by 3.0 nutritional treatment scores and a score of 1.5 treatments without nutrition. In the regression analysis  â‰¥ , where there is a significant influence between the number of cells per unit and the addition of nutrients and without the addition of nutrients. Keywords: growth pattern, Pseudomonas aeruginosa, coarse fiber, Sansevieria trifasciata ABSTRAK Sansivieria trifasciata memiliki dinding sel yang terdiri dari komponen selulosa tinggi yang diperkuat oleh lignin, pektin dan hemiselulosa. Pemisahan serat dari ikatan yang memperkuat serat masih menjadi masalah utama karena dinding sel yang dimiliki sangat kuat dan kaku. Dalam kegiatan pemisahan serat selolusa perlu adanya proses yang dinamakan retting. Residu dari proses retting dengan bahan kimia dapat mencemari lingkungan, pemisahan dengan cara mekanik menghasilkan serat yang masih kaku, dan dengan perendaman membutuhkan air yang cukup banyak serta menimbulkan bau. Tujuan dari penelitian ini adalah berapa lama Pseudomonas earuginosa yang digunakan dapat menunjukkan perkembangbiakan sel, mendapatkan grafik pola pertumbuhan pada sediaan daun Sansevieria trifasciata dengan penambahan nutrisi dan kualitas serat dari retting-embun. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, terdapat 2 perlakuan yaitu penambahan nutrisi dan tanpa nutrisi dengan 6 ulangan waktu 5 hari, 10, hari, 15 hari, 20 hari dan 30 hari. Hasil dari penelitian ini jumlah sel perlakuan dengan penambahan nutrisi dan tanpa penambahan nutrisi mengalami fase lag hari ke-5 sampai hari ke-10 dan fase eksponensial dimulai dari hari ke-10 sampai hari ke-30. Pseudomonas aeruginosa dapat melunakkan dinding sel dengan kemampuan retting-embun diperoleh skor 3,0 perlakuan nutrisi dan skor 1,5 parlakuan tanpa nutrisi. Pada analisa regresi  â‰¥ , dimana adanya pengaruh yang signifikan antara jumlah sel setiap unitnya dengan penambahan nutrisi dan tanpa penambahan nutrisi. Kata kunci: Pola Pertumbuhan, Pseudomonas aeruginosa, Serat Kasar dan Sansevieria trifasciat

    Kajian Subkronik 28 Hari Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea terhadap Kadar Laktat Dihidrogenase Tikus Betina: A Subcronic 28 Days Study of Metanolic Extract Scurrula Atropurpurea to Lactate Dihidrogenase Levels of Female Rats

    Get PDF
    Lactate Dihydrogenase (LDH) enzyme levels can detect physiological changes in the body. LDH has 5 isoenzymes (LDH1, LDH2, LDH3, LDH4, LDH5) that is almost all the cells metabolism. LDH is one of an enzyme which is found in the blood serum in the heart. On specification of the heart there are LDH1 and LDH2. Heart muscle damage can be detected with an indicator of increased LDH levels. The aim of this research is to know the toxic effect of Metabolic Extract Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans (MESA) on female wistar rats (Rattus norvegicus) subcronic for 28 days. The design of this research is True Experimental Design with Completely Randomized Design (RAL). MESA described 5 times a week for 28 days to tailed rat wistar female and divide into 4 treatment, 1treatment as control and 3 treatment as those who are doses different MESA the 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW and 1000 mg/KgBW. The rat in acclimatization for approximately 7 days before given the treatment. After 28 days, the animal tried in surgery and taken blood serum to test the levels of LDH. The results of LDH levels of the treatment were compared with the control. The results showed that the serum rat LDH concentration increased at 1000 mg/KgBW dose compared to control, but after the ANOVA test showed that the treatment rats were not significantly different from the rat control, meaning that MESA had no effect on the serum rat LDH females and no toxic effects are generated so that MESA is safe. Keywords: LDH, Heart, Scurrula atropurpurea, Subcronic. ABSTRAK Kadar enzim Laktat Dihidrogenase (LDH) dapat mendeteksi perubahan fisiologis dalam tubuh. LDH memiliki 5 isoenzim yakni (LDH1, LDH2, LDH3, LDH4, LDH5) yang terdapat hampir semua sel yang bermetabolisme. LDH merupakan salah satu enzim yang terdapat pada serum darah yang berada dijantung. Pada spesifikasi jantung terdapat LDH1 dan LDH2. Kerusakan otot jantung dapat diketahui dengan indikator meningkatnya kadar LDH. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui efek toksik Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans  (EMSA) pada tikus wistar betina (Rattus norvegicus) secara subkronik selama 28 hari. Desain penelitian ini adalah True Experimental Design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). EMSA dipaparkan 5 kali dalam seminggu selama 28 hari kepada 20 ekor tikus wistar betina dan dibagi menjadi 4 perlakuan, 1 perlakuan sebagai kontrol dan 3 perlakuan sebagai perlakuan yang diberi dosis EMSA yang berbeda yaitu 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB. Sebelum diberi perlakuan tikus diaklimatisasi selama kurang lebih 7 hari. Setelah 28 hari, hewan coba dibedah dan diambil serum darahnya untuk dilakukan uji kadar LDH. Hasil kadar LDH perlakuan dibandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar LDH serum tikus mengalami peningkatan pada dosis 1000 mg/KgBB dibandingkan dengan kontrol, tetapi setelah dilakukan uji ANOVA menunjukkan bahwa tikus perlakuan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan tikus kontrol. Hal ini berarti bahwa EMSA tidak berpengaruh terhadap kadar LDH serum tikus betina dan tidak ada efek toksik yang ditimbulkan sehingga EMSA bersifat aman. Kata kunci : LDH, Jantung, Scurrula atropurpurea, Subkronik

    Studi Etnobotani Tanaman Cabe Jamu (Piper retrofractum Valh) Di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep: Etnobotany Study of Cabe Jamu (Piper retrofractum Valh) in East Gapura Vilage Gapura District of Sumenep

    Get PDF
    Tanaman cabe jamu (Piper retrofractum Vahl) merupakan jenis tanaman yang banyak digunakan di Indonesia yang tumbuh merambat. Tanaman ini memiliki banyak kandungan bahan alami yang bermanfaat untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang morfologi, Distribusi dan aspek pemanfaatan tanaman cabe jamu di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif meliputi: Studi pustaka, pengamatan tanaman cabe jamu, wawancara, analisis data,kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa morfologi tanaman cabe jamu di desa Gapura Timur memiliki batang berbentuk bulat panjang 12 m, daun berbentuk bulat memanjang dengan lebar 14 cm dan lebar 5 cm dan buah berwarna merah. Distribusi Pesebaran tanaman cabe jamu yang terdapat di Desa Gapura Timur yaitu Dusun Pangabasen (74 %) dan Dusun Dik Kodik (26 %) yang paling sedikit dibandingkan dengan Dusun Pangabasen. Aspek persepsi masyarakat Desa Gapura pada pemanfaatan tanaman cabe jamu terbagi dalam keperluan seperti bahan pangan (1 %), tanaman hias (4 %) obat tradisional (37 %), dan untuk nilai tambah ekonomi (58 %). Bagian organ tanaman cabe jamu yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Desa Gapura Timur yaitu buah (65 %), daun (25 %) dan akar sebanyak (10 %).      Kata kunci: Etnobotani, Cabe jamu (Piper retrofractum Vahl), persepsi masyarakatCabe Jamu (Piper retrofractum Vahl) is a type of plant that is widely used in Indonesia that grows vine. This plant has many natural ingredients that are beneficial for health. This study aims is to determine the public's perception of morphology, distribution, and utilization aspects of Cabe Jamu plants in East Gapura Village of Gapura District of Sumenep Regency. This study uses descriptive exploratory methods including: Literature study, observation of Cabe Jamu plants, interviews using questionnaires, data analysis. The results of this study indicate that the morphology of the herbal chili plant in the village of East Gapura  has long rounded sticks, long elongated leaves with a length of 14 Cm and a width of 5 Cm and red fruit. Individual distribution of Cabe Jamu plants found in East Gapura Village, namely Pangabasen Hamlet (74%) and Dik Kodik Hamlet (26%). Aspects of the perception of the people in the use of Cabe Jamu plants are divided into needs such as foodstuffs (1%), ornamental plants (4%) traditional medicines (37%), and for economic value added (58%). The organ part of the herbal chili plant that is most widely used by the people of East Gapura village is fruit (65%), leaves (25%) and roots as much (10%)

    Pengaruh Air Leri dan Emulsi Ikan terhadap Pertumbuhan Tanaman Anggrek Dendrobium pada Tahap Vegetatif: The Effect of Leri Water and Fish Emulsion on Dendrobium Orchid Growth of Vegetative Stage

    Get PDF
    Dendrobium orchids are a type of epiphytes that are easy to maintain and flower throughout the year. Fertilizer for the growth of orchid plants commonly used is NPK fertilizer or fertilizer with complete elements. Research has been conducted that aims to determine the effect of leri water and fish emulsion on the growth of Dendrobium orchids and to find out how leri water and fish emulsions differ in concentration to the growth of Dendrobium orchids at the vegetative stage. This study used a randomized block design (RBD) using 66% leri water treatment, 100% leri water, 0.4% fish emulsion, 0.6% fish emulsion, 66% leri water plus 0.4% fish emulsion, lime 66% plus fish emulsion 0.6%, 100% leri water plus 0.4% fish emulsion and 100% lyric water plus 0.6% fish emulsion. Observation data were tested by ANOVA and the results showed that 66% of leri water treatment affected plant length. Effect on plant length, leaf length and number of leri leaves added by fish emulsion at all concentrations affecting the leaf length. All treatments except 100% liquid water and fish emulsion and K1 (-) affected the number of leaves Keyword: leri water, fish emulsion, orchid Dendrobium, vegetative stage ABSTRAK Anggrek Dendrobium merupakan jenis epifit yang mudah dipelihara dan berbunga. Pupuk anggrek yang biasa digunakan adalah pupuk NPK atau pupuk dengan unsur lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air leri dan emulsi ikan terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium dan untuk mengetahui bagaimana air leri dan emulsi ikan dengan berbeda konsentrasi terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium pada tahap vegetatif. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan uji ANOVA. Menggunakan perlakuan air leri 66%, air leri 100%, emulsi ikan 0,4%, emulsi ikan 0,6%, air leri 66% ditambah emulsi ikan 0,4%, air leri 66% ditambah emulsi ikan 0,6%, air leri 100% ditambah emulsi ikan 0,4%, air leri 100% ditambah emulsi ikan 0,6%. Hasil penelitian ini adalah perlakuan air leri 66% pada panjang tanaman, air leri 66% ditambah emulsi ikan 0,4% pada panjang daun dan air leri 100% ditambah emulsi ikan 0,4% pada jumlah daun dan panjang akar. Kata Kunci: air leri, emulsi ikan, anggrek Dendrobium, tahap vegetativ

    Persepsi Masyarakat Terhadap Ruang Terbuka Hijau di Alun – alun Kota Malang dan Kota Batu: Community Perception of Green Open Space in Malang City Square and Batu City

    Get PDF
    Ruang terbuka hijau merupakan komponen yang selalu diperhitungkan dalam proses perencanaan perkotaan apabila ruang terbuka hijau berkurang akan menimbulkan suatu permasalahan lingkungan. Menurut undang – undang no. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang perkotaan, bahwa minimal untuk memenuhi ketentuan 20 % RTH publik dan 10 % RTH privat, diketahui area ruang terbuka hijau di wilayah Kota Malang dan Kota Batu maksimal dari ketentuan tersebut. Maka dibutuhkan peran dan tanggapan dari masyarakat tentang ruang terbuka hijau. Berdasarkan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan jumlah vegetasi di area ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Malang ada 49 jenis tanaman dan rata rata suhu 29,9 ̊C, kelembaban udara 60,6 % dan kecepatan angin 1,26 m/s. Sedangkan jumlah vegetasi di area ruang terbuka hijau Alun – alun Kota Malang ada 40 jenis tanaman rata – rata suhu 28,1 ̊C, kelembaban udara 60,7 dan kecepatan angin 1,9 m/s. Persepsi pengunjung terhadap ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Malang tentang area ruang terbuka hijau memberikan kesan yang baik dan menarik mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 70,33 %, sedangkan untuk vegetasi di area ruang terbuka hijau sudah tertata rapi dan indah mempunyai kategori rendah dengan nilai sebesar 45,67 %. Persepsi pengunjung terhadap ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Batu tentang Kondisi ruang terbuka hijau sudah bebas dari banjir mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 69,00 %, sedangkan untuk Kondisi ruang terbuka hijau sudah bebas dari pencemaran udara mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 56,00 %.&nbsp

    Kajian Pola Hidup Pasien Malaria yang Dirawat di Rumah Sakit Islam Unisma Tahun 2016-2017: Study of Life Pattern of Malaria Patients Taken in Islamic Hospital of Unisma Year 2016-2017

    Get PDF
    Malaria is a disease caused by Plasodium sp which is transmitted through the bite of a female Anopheles mosquito. The purpose of this study was to determine the percentage of malaria patients and the lifestyle of malaria patients treated at UNISMA RSI in 2016-2017. This research was conducted on June 28 201- 05 05 2018 in 3 Subdistricts of Lowokwaru, Klojen and Kedung Stables. This research method is a descriptive method that is observational (non-experimental). Data collection uses two methods: primary data collection and secondary data. The questionnaire was tested for validity and reliability. The results showed that based on the sex of the most sufferers were male sex (56%), the age of post-malaria patients was more prevalent in the productive age of 15-25 years (62.5%) and at the level of education a lot occurred in Bachelor (S1) ) with a percentage (87.5%) and the main diagnosis of most diagnoses of Plasmodium vivax (83.3%). The pattern of life in 16 malaria patients collected from these 12 questionnaires is an unhealthy lifestyle that affects the occurrence of malaria, which is not cleaning the cattle shed every day, not closing water reservoirs and not cleaning garbage around the house.  Keywords: Malaria, Plasmodium vivax, descriptive. ABSTRAK Malaria merupakan penyakit yang disebakan oleh Plasodium sp yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase pasien malaria dan pola hidup pasien malaria yang dirawat di RSI UNISMA tahun 2016-2017. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28 juni 2018- 05 Agustus 2018 di 3 Kecamatan Lowokwaru, Klojen dan Kedung kandang. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat observasional (non-eksperimental). Pengumpulan data menggunakan dua cara yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Kuesioner diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin penderita terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki (56%), Usia pasien pasca malaria lebih banyak terjadi pada usia produktif 15-25 tahun (62,5%) dan pada tingikat pendidikan banyak terjadi pada Sarjana (S1) dengan persentase (87,5%) serta diagnosa utama paling banyak diagnosa Plasmodium vivax (83,3%). Pola hidup pada 16 pasien malaria yang terkumpul dari 12 kusioner tersebut dan pola hidup yang tidak sehat yang mempengaruhi terjadinya penyakit malaria yaitu tidak memebersihkan kandang ternak setiap hari, tidak menutup tempat penampungan air dan tidak membersihkan sampah disekitar rumah. Kata kunci : Malaria, Plasmodium vivax, deskriptif

    211

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇