e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
    254 research outputs found

    Pengaruh Penambahan Tepung Biji Durian pada Pembuatan Bioplastik

    Full text link
    Plastic is a type of packaging that is often used in everyday life, however, in general, the plastic used is synthetic plastic which takes a very long time to decompose. Bioplastic is an environmentally friendly plastic film made from organic materials so that it can decompose naturally with the help of microorganisms. This study aims to determine the effects which have the potential as a supporting material in increasing bioplastic characteristics such as thickness, water absorption and biodegradation. The research method was to use experiment and analysis of varian. Durian seed flour is carried out through a process of sorting, washing, stripping, soaking, slicing, drying, packing and storing. Meanwhile, the method of making bioplastics is done by mixing tapioca flour, cornstarch, durian seed flour of adding various durian seed flour: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 grams, distilled water, acetic acid and glycerin. The analysis results obtained on the test of bioplastic characteristics, namely, thickness test ranging from 0.63 mm - 0.84 mm and  water resistance test ranging from 71,43%-86,54% which water absorption test ranging from 13.46% - 28.57% and the biodegradability test ranging from 17.78% - 47 , 06%.  Keywords: durian seeds, bioplastics, biodegradability, flour ABSTRAK Plastik adalah jenis pengemas yang sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi pada umumnya plastik yang digunakan merupakan plastik sintetik yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk  terurai. Bioplastik merupakan film plastik yang ramah lingkungan yang terbuat dari bahan-bahan organik sehingga dapat terurai secara alami dengan bantuan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung biji durian yang berpotensi sebagai bahan penunjang dalam meningkatkan karakteristik bioplastik seperti ketebalan, ketahanan terhadap air dan biodegradasi. Metode penelitian adalah menggunakan eksperimen dan sidik ragam data. Tepung biji durian dilakukan melalui proses penyortiran, pencucian, pengupasan, perendaman, pengirisan, pengeringan, penepungan dan penyimpanan. Sedangkan untuk metode pembuatan bioplastik dilakukan dengan mencampurkan tepung tapioka, tepung maizena, tepung biji durian dengan variasi: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 gram, akuades, asam asetat dan gliserin. Hasil analisa yang didapat pada pengujian karakteristik bioplastik yaitu, uji ketebalan yang berkisar 0,63 mm – 0,84 mm, uji ketahanan terhadap air yang berkisar 71,43%-86,54% dengan penyerapan air berkisar 13,46 % - 28,57% dan uji biodegradibilitas yang berkisar 17,78% - 47,06%. Kata kunci: biji durian, bioplastik, biodegradibilitas, tepung

    Studi Nilai Etnobotani dan Sosio-Ekologi Generasi Milenial Sumba

    Full text link
    Ethnic and natural environments coexist together. However, along with the development of modernization to various corners of the region also makes challenges for indigenous peoples to remain in the future. The purpose of this study is to describe ethnobotany values in the Sumba millennial generation and to examine the socio-ecological aspects as a new perspective in ethnobotany studies. Sumba millennials are students of the Tribhuwana Tunggadewi University who are regional children who still live with a cultural environment, especially the Sumba area, East Nusa Tenggara. Through questionnaires, open questions and in-depth interviews with key respondents, it can be assessed the extent to which cultural values exist in the Sumba millennial generation who have received education and modern life. Socio-ecological studies are important to be carried out as a perspective in making various policy directions. Particularly in the direction of education, selection, and determination of customary values and how efforts to conserve them become co-existent ethnicities and environments. The results obtained by most of the millennial generation still hold customary values in their daily behavior (48%). This aspect is reflected in the use of traditional medicine, akar kayu/Linno, Psidium guajava, Annona muricata, Zingiber officinale, Curcuma zedoaria, Swietenia mahagoni, Piper betle, Cocos nucifera, Persea americana, Chromolaena odorata, Muntingia calabura, Ocimum basilicum, Coffea Sp., Anredera cordifolia, Phaleria macrocarpa. Skills in weaving, natural coloring, eating betel-nut, and positive perceptions (48%) of the preservation of its culture in the future.Etnis dan lingkungan alam hidup berdampingan. Namun, dengan seiring berkembangnya modernisasi hingga ke berbagai pelosok daerah juga menjadikan tantangan untuk masyarakat adat tetap bertahan di masa depan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan nilai-nilai etnobotani pada generasi milenial Sumba serta mengkaji aspek sosio-ekologi sebagai perspektif baru dalam kajian etnobotani. Milenial Sumba yaitu mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi yang merupakan anak daerah yang masih hidup dengan lingkungan kebudayaan khususnya daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur. Melalui kuesioner, pertanyaan terbuka serta wawancara mendalam pada responden kunci dapat dikaji sejauh mana nilai-nilai kebudayaan yang ada pada generasi milenial Sumba yang telah mengenyam pendidikan dan kehidupan modern di Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia. Kajian sosio-ekologi menjadi penting untuk dilakukan sebagai perspektif dalam pengambilan arah berbagai kebijakan. Khususnya dalam arah pendidikan, pemilihan, dan penentuan nilai-nilai adat dan bagaimana upaya pelestariannya menjadi etnis dan lingkungan yang saling berdampingan. Hasil yang diperoleh sebagian besar (48%) generasi milenial masih memegang nilai adat dalam perilakunya sehari-hari. Aspek tersebut tercermin dalam penggunaan obat tradisional akar kayu/Linno, Psidium guajava, Annona muricata, Zingiber officinale, Curcuma zedoaria, Swietenia mahagoni, Piper betle, Cocos nucifera, Persea americana, Chromolaena odorata, Muntingia calabura, Ocimum basilicum, Coffea Sp., Anredera cordifolia, Phaleria macrocarpa. Keterampilan menenun, mewarnai secara alami, makan sirih-pinang, serta persepsi positif (48%) terhadap kelestarian budayanya di masa depan

    Keanekaragaman Belalang (Orthoptera: Acrididae) padaEkosistem Sawah di Desa Banyuasin Kecamatan Riau Silip Kabupaten bangka: The Diversity of Grasshoppers (Orthoptera: Acrididae) in the Paddy Field Ecosystem in Banyuasin Village, Riau Silip District, Bangka Regency

    Full text link
    The paddy field ecosystem is a place for interactions between plants and animals, especially between rice plants and grasshoppers. Grasshoppers act as eaters of rice plants, of course, become a threat to agriculture so that they can reduce agricultural productivity. This study aims to determine the diversity of Orthoptera: Acrididae in the rice fields of Banyuasin Village, Riau Silip District, Bangka Regency and the habitat conditions of Orthoptera: Acrididae in the rice fields of Banyuasin Village, Riau Silip District, Bangka Regency. This research is a descriptive quantitative research using purposive sampling method using insect net and handsorting techniques. Measurement of environmental factors is carried out by taking data on soil temperature, soil moisture, and light intensity. The research data were analyzed using the Shannon diversity index and the evenness index. Based on observations, there were 6 types of Acrididae family found in the rice field ecosystem, namely 16 individuals of Valanga nigricornis, 12 of Xenocatantops humilis, 11 of Phlaeoba fumosa, 13 Traulia azureipennis, 9 Oxya hyla and 3 Trimerotropis pallidipenni. The analysis showed that the diversity index of grasshoppers was 1.70 which was classified as moderate criteria and the evenness index was 0.41 which was classified as moderate. The locust habitat that has been obtained has optimal soil temperatures ranging from 35oC-45oC, with 50% soil moisture. Keywords: Acrididae, diversity, Ecosystem, Orthoptera, Rice Fields ABSTRAK Ekosistem sawah merupakan tempat terjadinya interaksi antara tumbuhan dan hewan khususnya antara tumbuhan padi dan Belalang. Belalang bertindak sebagai pemakan tumbuhan padi tentunya menjadi ancaman bagi pertanian sehingga dapat menurunkan produktivitas pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Orthoptera:Acrididae di ekosistem sawah Desa Banyuasin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka dan  kondisi habitat Orthoptera:Acrididae di ekosistem sawah Desa Banyuasin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka. Penelitian ini berupa deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode purposive sampling  dengan menggunakan tehnik insect net dan handsorting. Pengukuran faktor lingkungan dilakukan dengan mengambil data suhu tanah, kelembaban tanah, dan intensitas cahaya. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shanon, dan indeks kemerataan. Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan sebanyak 6 jenis family Acrididae yang terdapat pada ekosistem sawah, yaitu Valanga nigricornis sebanyak 16 individu, Xenocatantops humilis berjumlah 12 individu, Phlaeoba fumosa berjumlah 11 individu, Traulia azureipennis 13 individu, Oxya hyla  berjumlah 9 individu dan Trimerotropis pallidipennis berjumlah 3 individu. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman belalang sebesar 1,70 tergolong kriteria sedang dan indeks kemerataan sebesar 0,41 tergolong sedang. Habitat belalang yang telah didapatkan ini memiliki suhu tanah yang optimal mulai dari 35oC-45oC, dengan kelembaban tanah 50%. Kata kunci: Acrididae, Ekosistem, keanekaragaman, Orthoptera, Sawa

    Studi Etnozoologi Reptil di Masyarakat Desa Sumberejo Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang: Reptile Ethnozoology Study in Community of Sumberejo Village, Poncokusumo District, Malang Regency

    Full text link
    Ethnozoological studies examine community knowledge about fauna biological resources. Sumberejo Village, Poncokusumo Subdistrict, there has been no research on reptiles and their use by the community. The purpose of this study is to know the types of reptiles used by the community, and to find out people's perceptions of reptiles in Sumberejo Village, Poncokusumo District, Malang Regency. This research was conducted in May-June 2019, using a qualitative descriptive method which included: observation, open interview, identification and analysis of data. Respondents' data recorded included the results of interviews with the community regarding reptile potential, reptile descriptions and documentation photos. The results showed that there were 100 respondents interviewed. There were 6 animals found but only 5 animals that were used by the community for medicine, among others Gecko which was used as an itchy and shortness of breath, lizards were used as medicine for itching and bedwetting, then lizards were used for allergies (itching) and asthma. Then the snake is used for strength for men and monitor lizards which are used as medicine for itching, skin diseases, to soften the skin and asthma. Keywords: ethnozoologi, Poncokusumo, reptile ABSTRAK Studi etnozoologi mengkaji pengetahuan masyarakat tentang sumberdaya hayati fauna. Desa Sumberejo kecamatan Poncokusumo belum ada penelitian tentang reptilia dan pemanfaatannya oleh masyarakat, Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jenis-jenis reptil yang dimanfaatkan oleh masyarakat, dan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang reptil di Desa Sumberejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei- Juni tahun 2019, menggunakan metode deskriptif kualitatif yang meliputi : observasi, wawancara terbuka, identifikasi dan analisis data. Data responden yang dicatat meliputi hasil wawancara dengan masyarakat mengenai potensi reptil, deskripsi reptil dan foto hasil dokumentasi.. Hasil penelitian menunjukkan ada 100 responden yang diwawancarai. Terdapat 6 hewan yang ditemukan tetapi hanya 5 hewan yang dimanfaatkan masyarakat untuk obat-obatan, antara lain Tokek yang dimanfaatkan sebagai obat gatal dan sesak nafas, cicak digunakan sebagai obat gatal dan mengompol, kemudian kadal yang digunakan untuk alergi(gatal) dan asma. Lalu ular yang digunakan untuk kekuatan bagi pria dan biawak yang dimanfaatkan sebagai obat gatal, penyakit kulit, untuk menghaluskan kulit dan asma.         Kata kunci: etnozoologi, Poncokusumo, repti

    Studi Etnobotani Mangrove di Desa Daun Kecamatan Sangkapura dan Desa Sukaoneng Kecamatan Tambak Pulau Bawean Kabupaten Gresik: Ethnobotany Study of Mangroves in Daun Village, Sangkapura District and Sukaoneng, Tambak, Bawean Island, Gresik Regency

    Full text link
    Bawean Island Gresik Regency East Java Province also uses mangroves in their daily lives. This study aims to determine the types of trees that make up mangroves that are utilized and to determine the community perceptions of Daun and Sukaoneng Village, Bawean Island in terms of the utilization of mangrove tree species. Descriptive explorative methods are used which include: literature studies, field observations, interviews with questionnaires, data analysis and observation documentation. Determination of the sample used purposive sampling with 100 respondents. The results of this study indicate that there are 14 species of trees that make up mangroves belonging to 8 families, namely the Euphorbiaceae family, which is only 1 species (Excoearia agallocha), Combretaceae family with 3 species (Lumnitzera littorea, Lumnitzera racemosa and Terminalia catappa), Acanthaceae family only 1 species ( Avicennia alba), Rhizophoraceae which are 3 species (Rhizophora aphiculata, Rhizophora mucronata and Ceriops tagal), Lythraceae family with 3 species (Phemphis acidula, Sonneratia alba and Sonneratia ovata), Meliaceae family only 1 species (Xylocarpus moluccensis), Arecaceae family only 1 species (Nypa fruticans) and the Malvaceae family are only 1 species (Thespesia populnea) which belongs to 2 types of mangroves namely true mangroves and mangroves. The people of Daun and Sukaoneng Village, Bawean Island use the most mangrove as building material 32%, fuel wood 17%, dye 2%, believed to have 9% spiritual power, 2% ornamental plants and 12% food ingredients. With the most widely used organs including 62% wood, 7% bark (tannin), 5% fruit, 25% leaves and 1% interest. Keywords: ethnobotany, mangrove, community perception, Bawean island. ABSTRAK Pulau Bawean Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur masyarakatnya juga memanfaatkan mangrove dalam kesehariannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis pohon penyusun mangrove yang dimanfaatkan serta untuk mengetahui persepsi masyarakat Desa Daun dan Desa Sukaoneng pulau Bawean dalam aspek pemanfaatan jenis-jenis pohon penyusun mangrove. Digunakan metode deskripstif eksploratif yang meliputi : studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara dengan kuesioner, analisis data dan dokumentasi pengamatan. Penentuan sampel menggunakan Purposive samplingdengan 100 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 14 jenis pohon penyusun mangrove yang tergolong kedalam 8 famili yaitufamili Euphorbiaceae yakni hanya 1 spesies (Excoearia agallocha), famili Combretaceae dengan 3 spesies (Lumnitzera littorea, Lumnitzera racemosadanTerminalia catappa), famili Acanthaceae hanya 1 spesies (Avicennia alba), Rhizophoraceae yakni 3 spesies (Rhizophora aphiculata, Rhizophora mucronata dan  Ceriops tagal), famili Lythraceae dengan 3 spesies (Phemphis acidula, Sonneratia alba dan Sonneratia ovata), famili Meliaceae hanya 1 spesies (Xylocarpus moluccensis), famili Arecaceae hanya 1 spesies (Nypa fruticans) dan famili Malvaceae hanya 1 spesies (Thespesia populnea) yang termasuk kedalam 2 tipe mangrove yakni mangrove sejati dan mangrove ikutan. Masyarakat Desa Daun dan Desa Sukaoneng pulau Bawean memanfaatkan mangrove paling banyak sebagai bahan bangunan 32%, bahan kayu bakar 17%, pewarna 2%, dipercaya mempunyai kekuatan spiritual (jimat) 9%, tanaman hias 2% dan bahan pangan 12%. Dengan organ-organ yang paling banyak dimanfaatkan meliputi kayu 62%, kulit kayu (tanin) 7%, buah 5%, daun 25% dan bunga 1%. Kata kunci : etnobotani, mangrove, persepsi masyarakat, pulau Bawean

    Etnobotani Cabai Jawa (Piper retrofractum) pada Masyarakat Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi: Ethnobotany of Java Chili (Piper retrofractum) in the community of Kalipait Village, Tegaldlimo District, Banyuwangi Regency

    Full text link
    Java Chili Plants (Piper retrofractum) is a medicinal plant that has economic value and can be developed is a family of Piperaceae. The purpose of this study was to determine the public perception of the morphology, distribution and aspects of utilization of Java chili plants in the community of Kalipait Village, Tegaldlimo District, Banyuwangi Regency. This research was conducted in Kalipait Village, Tegaldlimo Subdistrict, Banyuwangi Regency in March to June 2019. This study used descriptive exploratory techniques which included literature study, field observations, and interviews using questionnaires, data analysis and documentation of the distribution of Java chili plants. The results of this study indicate that the morphology of the Java chilli plant in Kalipait Village has a round and brown color stem, single leaves, interspersed, pinnate pinnate. Red leaves. Distribution of Java Chili in Kalipait Village has 15 points with 49 individuals. The perception of the people of Kalipait Village on the utilization of Java Chili plants is divided into needs (1%) of food, ornamental plants (4%) of traditional medicine (37%) and for economic value added (58%). The most widely used parts of the Java chili plant by the people of Kalipait Village are fruit (65%), leaves (25%), and roots as much as (10%). Keywords: ethnobotany, Piper retrofractum, medicinal plants Tanaman  Cabe jawa (Piper retrofractum) merupakan tanaman obat yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dikembangkan, merupakan famili dari Piperaceae.  Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang morfologi, distribusi dan aspek pemanfaatan tanaman cabe jawa  masyarakat Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi pada bulan Maret sampai dengan Juni 2019. Penelitian ini menggunakan Teknik deskriptif eksploratif yang meliputi studi studi pustaka, pengamatan dilapang, wawancara menggunakan kuesioner, analisis data dan dokumentasi persebaran tanaman cabe jawa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa morfologi tanaman cabe jawa di Desa Kalipait memiliki batang bentuk bulat, warna coklat. Daun tunggal, berseling, pertulangan menyirip. Daun berwarna merah. Distribusi Cabe Jawa di Desa Kalipait terdapat 15 titik dengan jumlah 49 individu. Persepsi masyarakat Desa Kalipait pada pemanfaatan tanaman Cabe Jawa terbagi dalam keperluan (1%) pangan, tanaman hias (4%) obat tradisional (37%) dan untuk nilai tambah ekonomi (58%). Bagian organ tanaman cabe jawa yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Desa Kalipait yaitu buah (65%), daun (25%), dan akar sebanyak (10%). Kata kunci : etnobotani, Piper retrofractum, tumbuhan oba

    Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Air Sungai di DAS Metro Kecamatan Lowokwaru Kota Malang: Community Perception of River Water Quality in the Metro Watershed of Loawokwaru District, Malang City

    Full text link
    Water is an element that plays an important role and for the lives of all beings on earth. Therefore living things have the right to get water for survival. Humans as a water user community, argue that this existence naturally, is available in sufficient quantities to meet their daily needs. This study aims to determine the public perception of river water quality in the Metro Watershed Merjosari Subdistrict, Lowokwaru District, Malang City. This research was conducted in April-June 2019 using survey and observation methods. The population in this study was the community of Merjosari Village. The samples taken are people who are in the river environment. The technique used in sampling is purposive sampling. The number of respondents taken in this study was 100 respondents. Data obtained from the results of the research that have been carried out in the form of perception value and results of laboratory tests regarding the water quality of the Metro River Lowokwaru District. The results showed that the community's perception of Metro water quality has a high value on the question of water quality, clean river water, polluted metro river water, Metro river water is used for social purposes, many residents dispose of waste in rivers and river water used for building materials while the low to very low perception value is found in the question of river water used as a daily necessity. Laboratory test results on the river water quality of Metro indicate that the Metro river water is polluted. Keywords; polluted, quality, physical parameter, chemical parameter ABSTRAK Air merupakan unsur yang berperan penting dan bagi kehidupan semua makhluk di bumi. Oleh sebab itu makhluk hidup berhak mendapatkan air untuk kelangsungan hidup. Manusia sebagai masyarakat pengguna air, berpendapat bahwa keberadaan ini secara alami, tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap kualitas air sungai di DAS Metro Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2019 dengan menggunakan metode survey dan observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Merjosari. Sampel yang diambil adalah masyarakat yang berada di lingkungan sungai. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah Purposive Sampling. Jumlah responden yang di ambil dalam penelitian ini sebanyak 100 responden.  Data yang didapatkan dari hasil penellitian yang sudah dilakukan berupa nilai presepsi dan hasil uji Laboratorium mengenai kualitas air sungai Metro Kecamatan Lowokwaru. Hasil penelitian didapatkan hasil nilai presepsi masyarakat tentang kualitas air sungai Metro memiliki nilai tinggi pada pertanyaan kualitas air, air sungai bersih, air sungai metro tercemar, air sungai Metro digunakan untuk kepentingan sosial, banyak penduduk membuang limbah di sungai serta air sungai digunakan untuk bahan bangunan sedangkan nilai presepsi yang rendah sampai sangat rendah terdapat pada pertanyaan mengenai air sungai digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari. Hasil uji Laboratorium tentang kualitas air sungai Metro menunjukkan bahwa air sungai Metro tercemar. Kata kunci; tercemar, kualitas, parameter fisik, parameter kimi

    Ekstraksi Astaxanthin Kulit Udang (Litopenaeus vannamei) Pantai Gunung Kidul Menggunakan Pelarut Minyak Bunga Matahari dan Etanol

    Full text link
    ABSTRACT   As a maritime country with vast waters, Indonesia has many opportunities to utilize marine resources as a source of bioactive compounds that have the potential as active medicinal ingredients. One of the marine biotas that potentially contains the active compounds is the Vannamei shrimp's shell (Litopenaeus vannamei), which is commonly found as waste along the coast of Gunungkidul, Yogyakarta. The shrimp’s shell contains astaxanthin, a potential source of antioxidants for the health industry. The purpose of this study was to compare the astaxanthin extraction yield from L. vannamei shrimp shells using sunflower oil and 70% ethanol. The Astaxanthin extraction used sunflower oil and ethanol 70% as solvents and was done by maceration method, while the phytochemical test and Astaxanthin profiling used Thin Layer Chromatography and Spectrophotometer with Kelly and Harmon (1972) [5] calculations as well as pure Astaxanthin standards. The extraction yield of the 70% ethanol extraction was further processed by column chromatography using ether: ethanol (8: 2) as mobile phase. The highest Astaxanthin yield (220 mg / g of shrimp powder) was obtained from the extraction with sunflower oil compared to the 70% ethanol solvent, while the fractionation result with a chromatographic column from a crude extract of ethanol 70% showed high astaxanthin yield of 220.77 mg. / g fraction. The results of the fraction test on rat neutrophils, the best percentage reduction was at a concentration of 150 mg / g bw of rats.Sebagai negara maritim dengan perairan yang sangat luas Indonesia memiliki banyak peluang untuk memanfaatkan sumber daya kelautan sebagai sumber senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai bahan aktif obat. Salah satu biota laut yang menyimpan potensi senyawa aktif adalah   kulit udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yang banyak ditemukan sebagai limbah di sepanjang pantai Gunungkidul Yogyakarta. Kulit udang ini memiliki kandungan Astaxanthin   yang merupakan sumber antioksidan yang potensial untuk industri kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah memabndingkan ekstraksi   Astaxanthin dari kulit udang L. vannamei menggunakan minyak bunga matahari dan etanol 70%. Ekstraksi Astaxanthin kulit udang digunakan pelarut   minyak bunga matahari dan etanol 70% dengan metode maserasi, sedangkan uji fitokimia dan profiling Astaxanthin digunakan Thin Layer Chromatography dan   Spektrofotometer dengan perhitungan Kelly dan Harmon (1972) [5] serta standar Astaxanthin murni. Hasil pemisahan ekstraksi etanol 70%, dilanjutkan dengan   kolom kromatografi menggunakan fase gerak eter: etanol (8:2). Hasil   kadar Astaxanthin tertinggi (220 mg/g serbuk udang) didapatkan dari   ekstraksi dengan pelarut bunga matahari, sedangkan hasil fraksinasi dengan kolom kromatografi dari ekstrak kasar etanol 70%, memberikan hasil Astaxanthin cukup tinggi yaitu 220,77 mg/ g fraksi. Hasil uji fraksi terhadap   neutrofil tikus, persentase penurunan terbaik pada konsentrasi 150 mg/g bb tikus.   Kata kunci: Astaxanthin, kulit udang Litopenaeus vannamei, minyak bunga matahari, Gunungkidul &nbsp

    Distribusi dan Frekuensi Alel Golongan Darah Sistem ABO dan Rhesus pada Penduduk Pulau Gili Ketapang Probolinggo

    No full text
    Sistem penggolongan darah pada manusia yang banyak dikenal adalah sistem ABO dan rhesus. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui distribusi golongan darah sistem ABO dan rhesus serta frekuensi alel pada populasi penduduk pulau Gili Ketapang, kabupaten Probolinggo. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan cara dilakukan pengundian jumlah sampel yang diambil sebanyak 384 jiwa. Identifikasi golongan darah sistem ABO pada penelitian ini dilakukan dengan metode slide dengan prinsip antigen (aglutinogen) yang direaksikan dengan antibodi (aglutinin).  Hasil penelitian menunjukkan distribusi  golongan darah sistem ABO dan Rhesus O+ (46,61%), B+ (24,22%), A+ (23,18%), dan AB+ (5,99%). Frekuensi alel IA(0,16), frekuensi alel IB (0,16),  frekuensi alel i (0,68), dan frekuensi alel rhesus positif (Rh+) adalah 1&nbsp

    Studi Persepsi Masyarakat Tentang Agroforestri Tanaman Kopi di Desa Patokpicis Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.: The Public Perceptions Study about Agroforestri of Coffee Plants in Patokpicis Village of Wajak District of Malang Regency

    Full text link
    Coffee crop agroforestry is a forest plantation system (mixed) with a coffee plant base that is in accordance with the plantation system in Indonesia, which has good ecological service value. Patokpicis village has long time used coffee agroforestry systems. The two types of coffee planted, namely Robusta (Coffea canephora) and Arabica coffee (Coffea arabica). The agroforestry namely simple and complex which has 27 species of shade and intercropping plants dominated by Sengon (Paraserianthes falcataria), Mahogany (Swietenia macrophylla) and Pinus (Pinus merkusii), for intercropping plants dominated by Elephant Grass (Pennisetum purpureum schaum), Talas (Colocasia esculenta Scho) and Chili (Capsicum annuum). The community perceptions value of coffee plant agroforestry with parameters measuring aspects of knowing, accepting, and liking high value and aspects of trusting the value is very high. The percentage value of the concencus index is the use of coffee plant parts on seeds (100%), fruit (100%), leaves (64.5%), stems (71.8%), with significant reliability tests at the levels of 0.001 and 0.005. Value r count> r tabel (0.088). Key words: Public perception, coffee plants, agroforestry the coffee plants ABSTRAK Agroforestri tanaman kopi merupakan sistem kebun hutan (campur) dengan basis tanaman kopi yang sesuai dengan sistem perkebunan di Indonesia yang memiliki nilai layanan ekologis yang baik. Desa Patokpicis sejak lama menggunakan sistem agroforestri kopi. terdapat 2 jenis kopi yang ditanaman yaitu kopi Robusta (Coffea canephora) dan kopi arabika  (Coffea arabica) dengan 2 jenis agroforestri yaitu kompelks dan sederhana yang memiliki 27 jenis tanaman penaung dan tumpangsari yang didominansi oleh Sengon (Paraserianthes falcataria), Mahoni (Swietenia macrophylla) dan Pinus (Pinus merkusii ), untuk tanaman tumpang sari didominansi oleh Rumput Gajah (Pennisetum purpureum schaum), Talas (Colocasia esculenta Scho) dan Cabai (Capsicum annuum). Nilai persepsi masyarakat terhadap agroforestri tanaman kopi dengan parameter pengukuran aspek mengenal, menerima, dan menyukai yang bernilai tinggi dan pada aspek mempercayai nilai sangat tinggi. Nilai persentase Indeks concencus  pemanfaatan bagian tanaman kopi pada Biji (100%), Buah (100%), Daun (64.5%), Batang (71.8%), dengan uji reabilitas signifikan pada taraf  0,001 dan 0,005. Nilai  r_hitung  > r_tabel (0,088). Kata kunci: Persepsi masyarakat, tanaman kopi, agroforestri kop

    211

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇