e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
Persepsi Masyarakat terhadap Sanitasi Pasar Tradisional Asem Jajar Dan Pasar Kokop di Kabupaten Bangkalan: Community Perception of Traditional Market Sanitation of Asem Jajar and Kokop in Bangkalan Regency
Traditional markets are places that are always visited by everyone, because the market must be free from all diseases caused by dirt and garbage around. The current traditional market conditions still have a poor and unclean impression. This research was conducted at the Asem Jajar traditional market and Kokop market in Bangkalan Regency. The purpose of this study is to determine the sanitization conditions of the traditional markets of Asem Jajar and Kokop markets, to determine the public perception of the sanitation of the traditional markets of Asem Jajar and Kokop markets. This study uses descriptive quantitative methodology and direct observation, distributing questionnaires or direct interviews and determining the sample of respondents using purposive sampling method. The results of this study are sanitation conditionns that are being or said to be healthy, while for the condition of the draen asem jajar market draenase it is not feasible to say a healthy market, draenase conditions that can cause overflom and flooding during the rainy season. The sanitary conditions of the kokop market is still not clean or unhealthy, for the condition of the kokop market TPS the market is not feasible because there is no availability of temporary landfills. The results of the perception of the asem jajar market are quite good, while the results of public perception in the kokop market are said to be poor.
Keywords: Asem Jajar market, Kokop market and sanitation
ABSTRAK
Pasar tradisional merupakan pasar yang selalu dikunjungi semua orang, karena demikian pasar harus bersih dari segala penyakit yang ditimbulkan oleh kotoran dan sampah disekitar. Kondisi pasar tradisional saat ini masih mempunyai kesan kurang baik dan kurang bersih. Tujuan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi kondisi sanitasi pasar tradisional Asem Jajar dan pasar Kokop, untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap sanitasi pasar tradisional Asem Jajar dan pasar Kokop. Penelitian ini menggunakan metodelogi deskriftif kuantitatif dan observasi langsung, membagikan kuesioner atau wawancara langsung dan penentuan sampel responden menggunakan cara purposif sampling. Hasil dari penelitian ini kondisi sanitasi yang sedang atau dikatakan sehat, sedangkan untuk kondisi drainase pasar Asem Jajar tidak layak dikatakan pasar sehat, kondisi drainase yang bisa mengakibatkan luapan air dan terjadi banjir dikala musim hujan. Kondisi sanitasi pasar Kokop masih kurang bersih atau kurang sehat, untuk kondisi TPS pasar Kokop masih kurang layak dikatakan pasar sehat dikarenakan tidak ada ketersediaan tempat pembuangan sampah sementara. Hasil persepsi masyarakat pasar Asem Jajar bisa dikatakan cukup baik, sedangkan hasil persepsi masyarakat di pasar kokop dikatakan kurang baik.
Kata Kunci : pasar asem jajar, pasar kokop dan sanitas
Penambahan Konsentrasi Antibiotik Monensin dan Efeknya Terhadap Performa Ayam Broiler (Gallus gallus domestica): The Addition of Monensin Antibiotic Concentration and its Effect on the Performance of Broilers (Gallus gallus domestica)
Broiler chicken is one of the poultry farms whose growth is fast, can meet the needs of meat in the community. To accelerate chicken growth, addition of Antibiotic Growth Promoter (AGP) was added to the beverage. This study aims to analyze the effect of monensin antibiotic administration on weight gain. The research method uses a Completely Randomized Design (CRD), consisting of 4 treatments and 6 replications. P0 Treatment (Control): Basal ration + Water boiled in 1 liter; P1: Basal ration + Boiled water + 0.1 gr / day Antibiotic Monensin in 1 liter of water; P2: Basal ration + Boiled water + 0.5 gr / day Antibiotic Monensin in 1 liter of water; P3: Basal ration + Boiled water + 1 gram / day Antibiotic Monensin in 1 liter of water. Data analysis used ANOVA one way variance and continued with the Least Significant Difference Test (LSD) with a confidence level of 5%. The results of the study by giving various concentrations of monensin antibiotics to broilers had significantly affected ration conversion, drinking water consumption and final weight. The administration of 1 gram monensin antibiotic concentration tends to be better for ration consumption, body weight gain, drinking water consumption and final weight of broiler chickens compared to lower concentrations or controls.
Keywords: Broiler Chicken, Monensin, Performance
ABSTRAK
Ayam broiler merupakan salah satu usaha ternak unggas yang pertumbuhannya cepat, dapat memenuhi kebutuhan daging dimasyarakat. Untuk mempercepat pertumbuhan ayam dilakukan penambahan Antibiotic Growth Promoter (AGP) pada minuman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh pemberian antibiotik monensin terhadap penambahan berat badan ayam. Metoda penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan P0 (Kontrol): Ransum Basal + Air yang direbus dalam 1 liter; P1 : Ransum Basal + Air yang direbus + 0,1 gr/hari Antibiotik Monensin dalam 1 liter air; P2 : Ransum Basal + Air yang direbus + 0,5 gr/hari Antibiotik Monensin dalam 1 liter air; P3 : Ransum Basal + Air yang direbus + 1 gr/hari Antibiotik Monensin dalam 1 liter air. Analisa data menggunakan sidik ragam ANOVA one way dan dilanjutkan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian dengan pemberian berbagai konsentrasi antibiotik monensin terhadap ayam broiler berpengaruh nyata terhadap konversi ransum, konsumsi air minum dan bobot akhir. Pemberian konsentrasi antibiotik monensin 1 gr cenderung lebih baik untuk konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konsumsi air minum dan bobot akhir ayam broiler dibandingkan dengan konsentrasi yang lebih rendah maupun kontrol.
Kata kunci: Ayam Broiler, Monensin, Perform
Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Emulgator terhadap Karakterisasi Fisik Sediaan Krim Ekstrak Rosella (Hibiscus sabdariffa)
The formulation and physical characterization test of rosella extract cream preparations have been carried out using various types of non-ionic emulsifier concentration ratios (combination of tween 80 and span 80). Comparison of the concentrations of tween 80 and span 80 used in this study were 2%, 3%, and 4%. The aim of this study included organoleptic test, homogeneity test, pH test, viscosity test, dispersion test, and emulsion type test. The result obtained from the physical characterization test were the organoleptic tests for the three formulas showed the same organoleptic results, namely red color, characteristic smell of rosella, and semisolid consistency. Homogeinity test shows that the formula is homogenous. The pH test showed that F1 4,29; F2 4,6; F3 5. Viscosity test showed that F1 432,4 mPas; F2 434,3 mPas; 435,3 mPas. The dispersion test was carried out without using a load of 50 g, 100 g, and 200 g. the results shown form the spreadability test of three formulas were were F1 5 cm; 5,5 cm; and 6 cm; F2 6 cm; 6,35 cm; 7,25; and 7,5 cm. F3 6,25 cm; 7,5 cm; 7,75 cm; 8 cm. The emulsion type indicated by the three formulas is oil in water. Based on these results, it can be seen that the emulsifier concentration has an effect on PH, viscosity, and spreadibility. The higher the concentration of emulsifier used, the higher pH value, viscosity, and spreadibility.Telah dilakukan formulasi dan uji karakterisasi fisik sediaan krim ekstrak rosella dengan menggunakan berbagai jenis perbandingan konsentrasi emulgator nonionik (kombinasi tween 80 dan span 80). Perbandingan konsentrasi tween 80 dan span 80 yang digunakan pada penelitian ini adalah 2%, 3%, dan 4 %. Peneilitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi emulgator terhadap karakterisasi fisik kirm ekstrak rosella. Uji karakterisasi fisik yang dilakukan pada penelitian ini meliputi, uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, dan uji tipe emulsi. Hasil yang didapatkan dari uji karakterisasi fisik adalah uji organoleptis untuk ketiga formula menunjukkan hasil organoleptis yang sama, yaitu warna merah, bau khas rosella, dan konsistensi setengah padat. Uji homogenitas menunjukkan ketiga formula adalah homogen. Uji pH menunjukkan F1 memiliki PH 4,29; F2 memiliki PH 4,6; dan F3 memiliki PH 5. Uji viskositas menunjukkan bahwa F1 memiliki viskositas 432,4 mPas, F2 memiliki viskositas 434,3 mPas, dan F3 memiliki viskositas 435,3 mPas. Uji daya sebar dilakukan dengan tanpa menggunakan beban, serta dengan menggunakan beban 50 g, 100 g, dan 200 g. Hasil yang ditunjukkan untuk uji daya sebar dari ketiga formula adalah F1, 5 cm, 5,5 cm, 5,55 cm, dan 6 cm; F2 6 cm, 6,35 cm, 7,25 cm, dan 7,5 cm; F3 6,25 cm, 7,5 cm, 7,75 cm, 8 cm. Tipe emulsi yang ditunjukkan oleh ketiga formula adalah tipe minyak dalam air. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa konsentrasi emulgator memberikan pengaruh terhadap ph, viskositas, dan daya sebar. Semakin tinggi konsentrasi emulgator yang digunakan maka semakin tinggi nilai PH, viskositas, dan daya sebar.
Telah dilakukan formulasi dan uji karakterisasi fisik sediaan krim ekstrak rosella dengan menggunakan berbagai jenis perbandingan konsentrasi emulgator nonionik (kombinasi tween 80 dan span 80). Perbandingan konsentrasi tween 80 dan span 80 yang digunakan pada penelitian ini adalah 2%, 3%, dan 4 %. Peneilitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi emulgator terhadap karakterisasi fisik kirm ekstrak rosella. Uji karakterisasi fisik yang dilakukan pada penelitian ini meliputi, uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, dan uji tipe emulsi. Hasil yang didapatkan dari uji karakterisasi fisik adalah uji organoleptis untuk ketiga formula menunjukkan hasil organoleptis yang sama, yaitu warna merah, bau khas rosella, dan konsistensi setengah padat. Uji homogenitas menunjukkan ketiga formula adalah homogen. Uji pH menunjukkan F1 memiliki PH 4,29; F2 memiliki PH 4,6; dan F3 memiliki PH 5. Uji viskositas menunjukkan bahwa F1 memiliki viskositas 432,4 mPas, F2 memiliki viskositas 434,3 mPas, dan F3 memiliki viskositas 435,3 mPas. Uji daya sebar dilakukan dengan tanpa menggunakan beban, serta dengan menggunakan beban 50 g, 100 g, dan 200 g. Hasil yang ditunjukkan untuk uji daya sebar dari ketiga formula adalah F1, 5 cm, 5,5 cm, 5,55 cm, dan 6 cm; F2 6 cm, 6,35 cm, 7,25 cm, dan 7,5 cm; F3 6,25 cm, 7,5 cm, 7,75 cm, 8 cm. Tipe emulsi yang ditunjukkan oleh ketiga formula adalah tipe minyak dalam air. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa konsentrasi emulgator memberikan pengaruh terhadap ph, viskositas, dan daya sebar. Semakin tinggi konsentrasi emulgator yang digunakan maka semakin tinggi nilai PH, viskositas, dan daya sebar
Analisis Viabilitas Spermatozoa Sapi Friesian Holstein (Bos taurus) Post Thawing Semen Beku Dengan Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Thawing Berbeda: Spermatozoa Viability Analysis of Post Thawing Semen of the Friesian Holstein Cow (Bos taurus) with Different Effects of Temperature and Length of Thawing Time
The principle of freezing semen is to maintain the survival of sperm in the long term (long term preservation). Thawing is the process of thawing frozen cattle semen before it is used in the artificial insemination process (IB). This thawing has a big influence on the state of sperm, especially on the integrity of sperm in semen, depending on the temperature and length of time. The choice of temperature and length of time thawing is good and right can prevent damage to spermatozoa. The purpose of this study was to analyze the effect of differences in temperature and the length of post thawing time on the viability of FH (Frisian Holstein) cow spermatozoa and to find the optimal temperature and length of thawing time in the IB process. The research method was experimental using RAK with 3 treatment groups and 2x replications. The research material used frozen semen of FH cattle from the Singosari Center for Artificial Insemination (BBIB). The observed variable was Viability with Eosin staining of 2%. Data analysis used the Factorial ANOVA test. The results of this study are the length of time thawing did not differ significantly namely P> 0.05, temperature 25 ° C 20 seconds: 66.30%, 25 ° C 30 seconds: 66.80%, 25 ° C 40 seconds: 63, 30%, 37 ° C 20 seconds: 65.00%, 37 ° C 30 seconds: 74.30%, 37 ° C 40 seconds: 69.00%, 40 ° C 20 seconds: 75.50%, 40 ° C 30 seconds: 65.50%, 40 ° C 40 seconds: 67.50%, the highest percentage of life (viability) of spermatozoa is at 40°C with a duration of 20 seconds with a value of 75.50%. Conclusions the higher temperature with the short thawing time can support the high viability.
Keywords: Bos taurus, Frozen semen, Thawing, Spermatozoa Viability
ABSTRAK
Prinsip pembekuan semen adalah untuk mempertahankan kelangsungan hidup sperma dalam jangka waktu yang lama (long term preservation). Thawing adalah proses pencairan kembali semen beku sapi sebelum digunakan dalam proses inseminasi buatan (IB). Pencairan ini memiliki pengaruh besar pada keadaan sperma, terutama pada integritas sperma dalam semen, tergantung pada suhu dan lamanya waktu. Pemilihan suhu dan lama waktu thawing yang baik dan tepat dapat mencegah kerusakan spermatozoa. Tujuan penelitian untuk menganalisa pengaruh perbedaan suhu dan lama waktu post thawing terhadap viabilitas spermatozoa sapi FH (Frisian Holstein) dan mencari suhu dan lama waktu thawing yang optimal dalam proses IB. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan RAK dengan 3 perlakuan kelompok dan 2x ulangan. Bahan penelitian menggunakan semen beku sapi FH dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Variabel yang diamati adalah Viabilitas dengan pewarnaan Eosin 2%. Analisis data mengguakan uji ANOVA Faktorial. Hasil penelitian diperoleh lama waktu thawing tidak berbeda secara signifikan yaitu P>0,05, suhu 25°C 20 detik : 66,30%, 25°C 30 detik : 66,80%, 25°C 40 detik : 63,30%, 37°C 20 detik :65,00%, 37°C 30 detik :74,30%, 37°C 40 detik : 69,00%, 40°C 20 detik : 75,50%, 40°C 30 detik : 65,50%, 40°C 40 detik : 67,50%, presentase hidup (Viabilitas) spermatozoa tertinggi terdapat pada suhu 40°C dengan lama waktu 20 detik dengan nilai 75,50%. Semakin tinggi suhu dengan waktu thawing yang singkat dapat mendukung tingginya viabilitas.
Kata Kunci: Bos taurus, Semen beku, Thawing, Viabilitas Spermatozo
Prevalansi Malaria di Puskesmas Sanggeng Kabupaten Manokwari Periode November sampai Desember 2019: Prevalence of Malaria in Sanggeng Public Health Center, Manokwari Regency on November to Desember 2019 Period
Malaria is a disease caused by parasitic infection, named Protozoa from the genus Plasmodium which is transmitted to humans by the bite of Anopheles mosquito. Manokwari Regency, which is located in West Papua Province, is a high malaria endemic area with Annual Parasite Incidence (API) 22.88 in 2018, this numbers is included in the High Case Incidence (HCI)> 5 category. The aim of this study is to analyze malaria cases in patients who treated at Sanggeng Public Health Center from November to December 2019 based on; the number of cases, patient characteristics (age group and gender) and type of Plasmodium. This research method is descriptive with a laboratory approach, namely microscopic examination of thin and thick blood preparations using a microscope. The results of the study of 730 patients, there were 35 malaria positive blood supplies. The highest prevalence of people with malaria were aged ≥ 15 years (51.42%). Most of the patients with malaria based on gender were women (51.43%) and the types of plasmodium found were Plasmodium falciparum (20%) and Plasmodium vivax (80%).
Keywords: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Anopheles, malaria endemic
ABSTRAK
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan infeksi parasit yaitu Protozoa dari genus Plasmodium yang ditular pada manusia oleh gigitan nyamuk Anopheles. Kabupaten Manokwari yang berada di wilayah Provinsi Papua Barat merupakan daerah endemis tinggi malaria dengan Annual Parasite Incidence (API) 22,88 tahun 2018, angka ini termasuk dalam kategori High Case Incidence (HCI) > 5. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kasus malaria pada pasien yang berobat di Puskemas Sanggeng dari bulan November sampai Desember 2019 . Berdasarkan jumlah kasus, karakteristik pasien (berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin) dan jenis Plasmodium. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan laboratorium yaitu pemeriksaan secara mikroskopik sediaan darah tipis dan sediaan darah tebal menggunakan mikroskop. Hasil penelitian dari 730 pasien terdapat 35 sedian darah positif malaria. Prevalensi usia yang kena malaria paling tinggi pada usia ≥ 15 tahun (51,42 %). Penderita malaria berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (51,43 %) dan jenis plasmodium yang ditemukan adalah Plasmodium falciparum (20%) dan Plasmodium vivax (80%).
Kata kunci: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Anopheles, endemis malari
Potensi Ekstrak Daun Jamblang (Syzigium cumini L.) Sebagai Larvasida Untuk Pengendalian Larva Nyamuk Aedes aegypti: Potential of Jamblang Leaf Extract (Syzygium cumini L.) as Larvicide for Control of Aedes aegypti Mosquito Larva
The leaves of jamblang (Syzygium cumini L.) are known to contain active compounds including flavonoids, tannins, alkaloids, triterpenoids, monoterpenens, and essensial oil. The various concentrations of jamblang leaves extract are expected to affect the mortality of 3rd instar Aedes aegypti mosquitoes larvae. The purpose of this reseacrh was to identify the active compound of jamblang leaves and determine the effective concentration of LC50 of jamblang leaves methanol extract to affect the mortality of 3rd instar A. aegypti mosquitoes larvae. This research used parts of young leaves, mixed leaves (young leaves and old leaved), and old leaves with a concentration of 0 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 750 ppm, 1000 ppm and three replications. Observations were made for 96 hours the mortality of 3rd instar A. aegypti mosquitoes larvae. The result showed that extract concentration became higher, the mortality of 3rd instar A. aegypti mosquitoes larvae will be higher too. The higher average mortality was found in the extract of old jamblang leaves with s concentration of 1000 ppm and the result of probit analysis showed that the LC50 value which effectively killed 3rd instar A. aegypti mosquitoes larvae was the old leaves extract with a concentration of 733 ppm.
Key words: Aedes aegypti, larvicide, mortality, Syzygium cumini L.
ABSTRAK
Daun jamblang (Syzygium cumini L.) diketahui mengandung senyawa aktif antara lain flavonoid, tanin, alkaloid, triterpenoid, monoterpen, dan minyak atsiri. Macam konsentrasi ekstrak daun jamblang diharapkan berpengaruh terhadap mortalitas nyamuk Aedes aegypti instar III. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa aktif daun jamblang dan menentukan konsentrasi efektif LC50 ekstrak metanol daun jamblang terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti instar III.. Penelitian ini menggunakan bagian daun muda, daun campuran (daun muda dan daun tua), dan daun tua dengan konsentrasi 0 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 750 ppm, 1000 ppm dan tiga kali ulangan. Pengamatan dilakukan selama 96 jam terhadap mortalitas larva A. aegypti instar III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka semakin tinggi pula mortalitas larva nyamuk A. aegypti instar III. Hasil rerata mortalitas tertinggi terjadi pada ekstrak daun jamblang tua dengan konsentrasi 1000 ppm dan hasil analisa probit menunjukkan nilai LC50 yang efektif membunuh larva nyamuk A. aegypti yaitu ekstrak daun tua dengan konsentrasi 733 ppm.
Kata Kunci: Aedes aegypti, larvasida, mortalitas, Syzygium cumini L
Uji Bakteri Coliform dan (Escherichia coli) pada Air Tercemar Dengan Penggunaan Susunan Filter
Clean water is a serious problem in Indonesia, the availability of clean water has shrunk drastically due to deteriorating environment and pollution. Drinking water that meets safety standards is increasingly scarce. More than 100 million people need safe water sources. Filter media is able to remove chemicals in water such as turbid, odor, oily, yellowish, rusty and muddy making it unfit for consumption. In addition, the purpose of the clarification results must also be considered whether to drink household needs or other needs. This study uses Lauryl Tryptose Broth (LTB) media and petrifilm media. Petrifilm results show that it is very easy to count the bacteria Colifrom and Escerichia coli using petrifilm media. From the analysis of calculations using the Paired Samples T-Test on the sample before filtering and after filtering it was obtained the Tcount value of 2.28 with a P value 0.015 which showed very successful or significant results between the samples before and after the filter. In this analysis have normally distributed data with a significant value of P = 0.015 (<0.05). In this case the Paired Samples T-Test was tested for normality (Shapiro-Wilk) and the results were obtained in the form of a P value of <.001 which would indicate that the data was normally distributed, indicated by a P value <0.05. The filter on this filter is very useful for filtering on Escerichia coli bacteria because this filter removes the bacteria, but Colifrom bacteria can still escape the use of the filter, because it depends on environmental conditions. Colifrom and Escerichia coli bacteria occur is seen from the relationship between sources of pollution such as, for example, such as septic tanks, distance of wells with waste, trash, and livestock pollution. The quality of drinking water is very close to the presence of Colifrom and Escerichia coli bacteria which are likely to have pathogenic bacteria that are harmful to health in the quality of well water. Water samples to be observed using well water using 2 treatments as many as 12 repetitions. Thus the total sample obtained as many as 24 water samples will be observed. While the test making of Lauryl Triptose Broth medium was observed by incubating 48 hours at 35oC + gas. Before making the test tube medium must be sterilized first. Subsequent tests were observed with a petrifilm medium to determine the presence or absence of Colifrom and Escherichia coli bacteria by looking at the color of the battery being sought.
Keywords: Drinking Water, Coliform Bacteria and Escherichia coli
Air bersih menjadi masalah serius di Indonesia, ketersediaan air bersih meyusut drastis karena memburuknya lingkungan dan polusi. Air minum yang memenuhi standar keamanaan semakin langka. Lebih dari 100 juta orang perlu sumber air yang aman. Media filter mampu menghilangkan zat kimia dalam air seperti keruh, bau, berminyak, kekuningan, berkarat dan berlumpur menjadikan tidak layak dikonsumsi. Selain itu tujuan hasil penjernihan juga harus diperhatikan apakah untuk minum kebutuhan rumah tangga atau kebutuhan lainnya. Penelitian ini mengunakan media Lauryl Triptose Broth (LTB) dan media petrifilm. Pada hasil petrifilm menunjukan bahwa sangat mudah untuk mengitung bakteri Colifrom dan Escerichia coli menggunakan media petrifilm. Dari hasil analisa perhitungan yang menggunakan Paired Samples T-Test pada sampel sebelum di filter dan sesudah di filter didapatkan nilai Thitung sebesar 2,28 dengan nilai P adalah 0,015 yang menunjukkan hasil sangat berhasil atau segnifikan antara sampel sebelum dan sesudah di filter. Dalam analisa ini memiliki data terdistribusi secara normal dengan nilai segnifikan P = 0,015 (< 0,05). Dalam hal ini uji Paired Samples T-Test dilakukan uji normalitas (Shapiro-Wilk) dan didapatkan hasil berupa nilai P sebesar <.001 yang akan menunjukan bahwa data tersebut terdistribusi noraml yang ditandai dengan adanya nilai P < 0,05. Penyaring pada filter ini sangat berguna untuk penyaring pada bakteri Escerichia coli dikarenakan penyaring ini meniadakan bakteri tersebut, akan tetapi bakteri Colifrom masih bisa lolos pada penggunaan alat penyaring filter tersebut, dikarenakan tergantung kondisi lingkungan sekitar. Terjadi bakteri Colifrom dan Escerichia coli ini dilihat dari hubungan antara sumber pencemaran seperti contoh yakni, seperti septic tank, jarak sumur dengan limbah, tempat sampah, dan pencemaran hewan ternak. Kualitas air minum sangat erat dengan adanya bakteri Colifrom dan Escerichia coli yang kemungkinan adanya pencemaran bakteri patogen yang berbahaya bagi kesehatan pada kualitas air sumur. Sampel air yang akan di amati menggunakan air sumur dengan menggunakan 2 perlakuan sebanyak 12 kali pengulangan. Dengan demikian total sampel yang di dapatkan sebanyak 24 sampel air yang akan diamati. Sedangkan uji pembuatan medium Lauryl Triptose Broth diamati dengan inkubasi 48 jam dengan suhu 35oC + gas. Sebelum pembuatan medium tabung reaksi harus disteril terlebih dahulu. Uji selanjutnya diamati dengan medium petrifilm untuk mengetahui ada dan tidaknya baktri Colifrom dan Escherichia coli dengan cara meliat warna bateri yang dicari.
Kata Kunci : Air Minum, Bakteri Coliform dan Escherichia coli
 
The Effect of Exposure of Cigarette Smoke With Herb Additives on Leukocyte and Lung Histopathology of Mice (Mus musculus)
Smoking habits have been around since ancient times, but nowadays this habit is considered to be detrimental, especially to health. The impact that is often felt by smokers is difficulty in breathing because the lungs are exposed to cigarette smoke. Cigarette smoke contains about 1015-1017 oxidants or free radicals, as well as 4700 harmful chemicals, including aldehydes / carbonyls, NO2, and SO2. Herbal cigarettes are tobacco cigarettes with added ingredients from plants. Gurah terapi sin cigarettes are herbal cigarettes that are sold commercially. The aim of this study was to determine the effect of gurah cigarette smoking on the leukocytes and lung histology of mice. This study used a comparative method consisting of 3 groups, namely the control was not exposed to cigarette smoke, treatment 1 was exposed to commercial cigarette smoke and treatment 2 was exposed to cigarette smoke with herbal ingredients and each group consisted of 10 replications. The results showed that there were significant differences (p <0.05) regarding the number of cell necrosis, type II pneumocytes, inflammatory cell infiltration, hemorrhage, and alveolar dilation. While the results of the analysis of the number of leukocytes showed no significant difference where p > 0.05. The results showed that there was no significant difference in the number of leukocytes in the control group, treatment 1 and treatment 2 (p > 0.05). herbs containing various kinds of antioxidants cause a tendency for differences in the number of leukocytes where there is a decrease in the number of lymphocytes and neutrophils and an improvement in the histopathological structure of the lung against type I pneumocyte cell necrosis, hemorrhage, alveolar dilation, type II pneumocyte cell proliferation, and inflammatory cell infiltration in exposed mice. commercial cigarette smoke without herbal ingredients.Kebiasaan merokok sudah ada sejak jaman dahulu, tetapi dewasa ini kebiasaan tersebut dianggap sebagai hal yang merugikan terutama bagi kesehatan. Dampak yang sering dirasakan oleh para perokok adalah kesulitan dalam bernafas. Asap rokok mengandung sekitar 1015-1017 oksidan atau radikal bebas, serta 4700 bahan kimia yang berbahaya, termasuk aldehid/carbonyls, NO2, dan SO2. Rokok herbal adalah rokok tembakau yang ditambahkan beberapa bahan dari tumbuhan. Rokok gurah herbal terapi sin merupakan rokok herbal yang dijual secara komersil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rokok gurah terapi sin terhadap leukosit dan histologi paru-paru mencit. Penelitian ini menggunakan metode Komparatif yang terdiri atas 3 kelompok yaitu kontrol tidak dipaparkan asap rokok, perlakuan 1 dipaparkan asap rokok komersil dan perlakuan 2 dipaparkan asap rokok dengan kandungan herbal serta masing-masing kelompok terdiri dari 10 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata ( p <0,05) mengenai jumlah nekrosis sel, sel pneumosit tipe II, infiltrasi sel radang, hemoragi, dan pelebaran alveolus. Sedangkan hasil analisis mengenai jumlah leukosit menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dimana p > 0,05 Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata pada jumlah leukosit kelompok kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2 (p > 0,05), Disimpulkan penggunaan rokok dengan tambahan bahan herbal yang mengandung berbagai macam antioksidan menyebabkan terjadinya kecenderungan perbedaan jumlah leukosit dimana terjadi penurunan jumlah limfosit serta neutrophil. Rokok dengan tambahan berbagai macam herbal menunjukka perbaikan struktur histopatologis paru terhadap nekrosis sel pneumosit tipe I, hemoragi, pelebaran alveolus, proliferasi sel pneumosit tipe II, dan infiltrasi sel radang dibandingkan pada mencit yang terpapar asap rokok komersil tanpa bahan herbal
Analisis Normalitas dan Abnormalitas Spermatozoa Sapi Friesian Holstein (Bos taurus) Tahap Post Thawing Motility pada Suhu dan Lama Waktu Berbeda Menggunakan Pengencer Andromed: Normality and Abnormality Analysis of the Spermatozoa of Friesian Holstein Cattle (Bos taurus) on the Post Thawing Motility Stage at Temperatures and Time Differences using Andromed Diluent
The success of Artificial Insemination (ai) depends on the quality of cement that will be used for the technique of Artificial Insemination, and semen quality is seen from the normality and abnormality of spermatozoa.. From the results obtained in this study, namely Abnormality of spermatozoa of cattle FH for a long time thawing are not significantly different (P=0.05), with the value of the average percentage of abnormality high of 4.25 ± 0,354 obtained in the long time of 40 seconds, and the average value of the percentage of the best achieved of 1.75 ± 0,354 with the time of 20 seconds. Long-time thawing against the normality of spermatozoa of cattle FH not significantly different (P=0.05), it can be seen from the value of the average percentage of normality highest achieved 98.3 ± 0.354 with the time of 20 seconds. The percentage of normality of the lowest obtained value of the average percentage to 96.0 ± 0.707 with the time of 20 seconds. But the temperature obtained in the both Abnormality and Normality is significant (P=0.05). It can be seen the results of Abnormality high in get at Temperature of 25°C and Abnormality the lowest obtained at a Temperature of 37°C. For Normality the Highest obtained at a temperature of 37°C and the lowest obtained at a temperature of 25°C.
Key words : Artificial Insemination (ai), Normality, Abnormality, Spermatozoa, Bovine FH
ABSTRAK
Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) tergantung dari kualitas semen yang akan digunakan untuk teknik Inseminasi Buatan, dan kualitas semen dilihat dari normalitas dan abnormalitas spermatozoa.. Dari hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu Abnormalitas spermatozoa sapi FH untuk lama waktu thawing tidak berbeda nyata (P˃0,05), dengan nilai rata rata presentase abnormalitas tertinggi 4,25 ± 0,354 didapatkan pada lama waktu 40 detik, dan rata rata nilai presentase terendah didapatkan 1,75 ± 0,354 dengan lama waktu 20 detik. Lama waktu thawing terhadap normalitas spermatozoa sapi FH tidak berbeda nyata (P˃0,05), hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata rata presentase normalitas tertinggi didapatkan 98,3 ± 0,354 dengan lama waktu 20 detik. Presentase normalitas terendah didapatkan nilai rata rata presentase 96,0 ± 0,707 dengan lama waktu 20 detik. Tetapi suhu yang didapatkan pada keduanya pada Abnormalitas dan Normalitas berpengaruh nyata (P˂0,05). Hal tersebut bisa dilihat hasil Abnormalitas yang tinggi di dapatkan pada Suhu 25°C dan Abnormalitas terendah didapatkan pada Suhu 37°C. Untuk NormalitasTertinggi didapatkan pada suhu 37°C dan terendah didapatkan pada suhu 25°C.
Kata Kunci : Inseminasi Buatan (IB), Normalitas, Abnormalitas, Spermatozoa, Sapi FH
 
Persepsi Masyarakat tentang Ruang Terbuka Hijau di Alun-Alun Dan Taman Kota Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwang: Public Perception about Green Open Space at the Square and City Park in Banyuwangi District and Regency
Green Open Space is spaces in a city or a wider area both in the form of area or in the form of elongated lanes areas where the use is more open in nature in the form of buildings. This study aims to determine the state and value of public perceptions about the benefits of green open space. The method used in this study uses a hygrometer and anemometer. The material used is a questionnaire. This research method uses descriptive quantitative method and through direct observation in the field. The results of the study show the average yields of temperatures 29 and 29 in each park. Humidity 70 and 71 wind speeds 0.20 and 0.23 for abiotic factors. While the biotic factor were 25 vegetation in the city of Blambangan and 37 in the city of Sritanjung. The Blambangan city has very high perception value to esthetical and sustainable plants. Sritanjung city has very high perception value to only esthetical plants.
Keywords:Vegetation, Green Open Space, Public Perception
ABSTRAK
Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya berupa bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan dan nilai persepsi masyarakat tentang manfaat ruang terbuka hijau. Metode yang diguakan dalam penelitian ini meggunakan alat hygrometer dan anemometer bahan yang digunakan adalah kuesioner. Mertode penelitian ini menggunakan metode descriptive kuantitatif dan melalui observasi langsung dilapangan. Dari hasil penenlitian tersebut menunjukkan rata-rata hasil Kelembapan 70 Blambngan dan 71 Sritanjung kecepatan angin 0,20 dan 0,23 untuk faktor abiotik. Sedangkan faktor biotik terdapat 25 vegetasi di taman kota blambangan dan 37 di taman kota sritanjung. Kota Blambangan memiliki nilai persepsi sangat tinggi terhadap tentang estetika dan kelestarian tumbuhan. Kota Sritanjung nilai persepsi sangat tinggi hanya pada tentang estetika.
Kata kunci: Vegetasi, Ruang Terbuka Hijau, Persepsi Masyaraka