e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
Identifikasi Serapan Karbondioksida (CO2) Pada Pohon Mahoni (Swietenia Mahagoni) di Jalan Raya Ahmad Yani Desa Sukowati Kabupaten Bojonegoro
Jalan Raya Ahmad Yani Desa Sukowati merupakan salah satu jalur nasional yang padat dengan aktivitas kendaraan. Selain adanya sarana Pendidikan juga terdapat layanan Kesehatan seperti Poskesdes Sukowati. Kesibukan aktivitas kendaraan pribadi maupun transportasi umum dapat berpotensi mempengaruhi kegiatan Pendidikan dan layanan Kesehatan. Tujuan pada penelitian ini adalah menghitung massa jenis pohon mahoni, jumlah biomassa yang tersimpan dan serapan karbondioksida. Metode pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Mengukur keliling pohon dan mencari nilai massa jenis pohon, selanjutnya menghitung biomassa menggunakan rumus allometric. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah biomassa semua pohon baik berukuran kecil, sedang maupun besar, sehingga diperoleh total biomassa pohon (Wt) adalah 107.675,83 kg/pohon. Pengujian karbon tersimpan menunjukkan hasil 49.530,88 kg serta hasil serapan karbondioksida pada pohon mahoni di sepanjang Jalan Raya Ahmad Yani Desa Sukowati Kabupaten Bojonegoro menunjukkan hasil sebesar 181.778,30 kg
Klasifikasi Tanah Di Kapanewon Kasihan Kabupaten Bantul Berdasarkan Metode MASW
Kapanewon Kasihan merupakan daerah berisiko tinggi terhadap gempa bumi karena dekat dengan dua sumber gempa utama ayitu zona subduksi Jawa dan Sesar Opak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan klasifikasi jenis tanah di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, menggunakan metode Multi-channel Analysis of Surface Waves (MASW). Penelitian ini melibatkan pengukuran kecepatan gelombang geser (Vs) untuk memperkirakan Vs30 dan mengklasifikasikan jenis tanah berdasarkan SNI 1726:2019. Hasil menunjukkan nilai Vs30 berkisar antara 260-440 m/s, dengan dominasi tanah sedang (SD) di sebagian besar wilayah, terutama di Kalurahan Ngestiharjo, Tamantirto, Tirtonirmolo, dan wilayah timur Kalurahan Bangunjiwo. Tanah keras (SC) ditemukan di bagian barat dan utara Kalurahan Bangunjiwo. Pemahaman karakteristik tanah ini penting untuk perencanaan fondasi bangunan yang aman, desain infrastruktur, dan manajemen risiko bencana gempa bumi. Metode MASW terbukti efektif dalam menganalisis sifat mekanik tanah, berkontribusi pada mitigasi bencana dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap gempa di wilayah seismik aktif seperti Indonesia
Pemeriksaan Kadar C-Reactive Protein (CRP) Penderita Hipertensi Pada Ibu-Ibu PKK Dusun Semanding, Malang
Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular “the silent killer” tanpa gejala, menyebabkan komplikasi inflamasi kronis. C-Reactive Protein (CRP) adalah penanda inflamasi, diproduksi hati saat terjadi inflamasi. Tujuan penelitian mengetahui kadar CRP penderita hipertensi ibu-ibu PKK Dusun Semanding, Malang. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan teknik purposive sampling. Sampel 30 responden, 20 teridentifikasi mengalami hipertensi. Hasil penelitian separuh responden 10 (50%) menderita hipertensi tingkat 1 (140-159 atau 90-99 mmHg). Sebagian besar responden berusia pertengahan (46-59 tahun) sebanyak 12(60%) responden. Hasil tes untuk kadar C-Reactive Protein (CRP) metode lateks aglutinasi menunjukkan bahwa hampir keseluruhan responden 17 (85%) memiliki kadar CRP normal (<6 mg/L) pada rentang usia dewasa akhir – usia pertengahan (36 -59 tahun). sementara sebagian kecil 3 (15%) responden kadar CRP positif; 2 responden (10%) dengan titer 1/2 (12 mg/L), dan satu responden (5%) dengan titer 1/8 (48 mg/L) semuanya berusia lanjut (60-90 tahun). Hasil korelasi pearson tidak ada hubungan antara tingkat keparahan hipertensi dengan kadar C-Reactive Protein (CRP) pada ibu-ibu PKK (p=0,064). Hasil kuesioner sejalan dengan penelitian disebabkan sebagian besar penderita hipertensi melakukan aktivitas fisik seperti jalan kaki, jogging, bulu tangkis 11 (55%) responden dan rutin mengonsumsi obat antihipertensi 8 (40%) responden. Kedua faktor ini berperan penting dalam menstabilkan tekanan darah dan mengurangi resiko inflamasi
Evaluasi Kesiapsiagaan Indonesia Saat Menghadapi Serangan Senjata Biologi (Lesson Learned Dari Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), Tahun 2020-2022)
Ancaman senjata biologis semakin nyata di era globalisasi. Senjata biologis yang menggunakan agen biologis seperti virus, bakteri, jamur, atau racun untuk menginfeksi atau membunuh manusia, hewan, atau tumbuhan memiliki potensi kerusakan yang sangat besar. Penggunaan senjata biologis dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi kesehatan manusia, ekonomi, dan masyarakat. Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 menunjukkan kerentanan global, termasuk Indonesia, terhadap agen biologis yang dapat digunakan sebagai senjata biologis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metodologi asesmen. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, internet, dan jurnal. Temuan studi ini menunjukkan bahwa upaya evaluasi perlu dilakukan untuk meningkatkan koordinasi antar lembaga pemerintah, ketersediaan fasilitas medis dan kapasitas laboratorium di seluruh Indonesia, kesadaran publik, dan kerja sama internasional dalam menangani ancaman biologis. Dengan melakukan evaluasi ini, Indonesia dapat lebih siap menghadapi serangan senjata biologis di masa mendatang.
Uji Antiketombe (Tiga Fungi Patogen Rambut) Pada Produk Bioteknologi Farmasi Berupa Formulasi dan Sediaan Sampo Gel Kombucha Bunga Telang (Clitoria ternatea L)
Kombucha bunga telang berdasarkan penelitian sebelumnuya telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antifungi penyebab ketombe. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi dan sediaan sampo gel yang berbahan aktif larutan fermentasi kombucha bunga telang pada konsentrasi gula yang meliputi 20%, 30%, dan 40%. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium yaitu dengan cara membuat basis sampo gel tanpa zat aktif sebagai kontrol negatif. Membuat sampo gel yang berbahan aktif larutan fermentasi kombucha bunga telang yang meliputi konsentrasi gula sebesar 20%, 30%, dan 40%. Difusi cakram merupakan salah satu metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menguji formulasi dan sediaan sampo gel kombucha bunga telang terhadap ketiga pertumbuhan fungi uji. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ANOVA satu jalur dilanjutkan analisis pos hoc. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa formulasi dan sediaan sampo gel kombucha bunga telang pada konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 20% dan 30% sebagai antifungi, sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 40% pada formulasi dan sediaan sampo gel kombucha bunga telang merupakan perlakuan yang terbaik sebagai antifungi. Kombucha bunga telang berdasarkan penelitian sebelumnuya telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antifungi penyebab ketombe. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi dan sediaan sampo gel yang berbahan aktif larutan fermentasi kombucha bunga telang pada konsentrasi gula yang meliputi 20%, 30%, dan 40%. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium yaitu dengan cara membuat basis sampo gel tanpa zat aktif sebagai kontrol negatif. Membuat sampo gel yang berbahan aktif larutan fermentasi kombucha bunga telang yang meliputi konsentrasi gula sebesar 20%, 30%, dan 40%. Difusi cakram merupakan salah satu metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menguji formulasi dan sediaan sampo gel kombucha bunga telang terhadap ketiga pertumbuhan fungi uji. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ANOVA satu jalur dilanjutkan analisis pos hoc. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa formulasi dan sediaan sampo gel kombucha bunga telang pada konsentrasi 40% berbeda nyata dengan konsentrasi 20% dan 30% sebagai antifungi, sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 40% pada formulasi dan sediaan sampo gel kombucha bunga telang merupakan perlakuan yang terbaik sebagai antifungi. 
Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Temper Tantrum pada Anak Usia Prasekolah (3-6 Tahun) di RA Aisyatul Wahidah
Temper Tantrum merupakan ledakan emosi pada anak di karenakan anak tidak mampu mengungkapkan perasaannya secara positif. Faktor yang menyebabkan temper tantrum salah satunya adalah pengetahuan ibu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian temper tantrum pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) di RA Aisyatul Wahidah Desa Turi Banjaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan simple random sampling. Sample untuk penelitian ini berjumlah 62 ibu dengan anak usia prasekolah di RA Aisyatul Wahidah Desa Turi Banjaran. Data dalam penelitian ini diambil menggunakan kuisioner pengetahuan ibu dan kejadian temper tantrum. Analisis statistik menggunakan uji spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu hampir seluruhnya (87,1%) memiliki kategori pengetahuan baik. Sedangkan kejadian temper tantrum pada anak prasekolah sebagian besar (64.5%) memiliki kategori temper tantrum sedang. Berdasarkan hasil uji spearmen rho diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) dan r=0,356 yang artinya terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian temper tantrum dengan kekuatan hubungan sedang. Semakin baik tingkat pengetahuan ibu maka semakin ringan temper tantrum pada anak dikarenakan ibu mampu memberikan pencegahan dan penanganan yang tepat jika anak mengalami temper tantrum. Untuk mencegah terjadinya temper tantrum pada anak perlu ditingkatkan pengetahuan ibu tentang temper tantrum.
 
Kandungan Senyawa Ekstrak Daun Jarak Merah (Jatropha gossypifolia L.) dan Potensinya sebagai Antibakteri
Tanaman jarak merah (Jatropha gossypifolia L) sejak dahulu dikenal sebagai tanaman obat-obatan. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa daun tanaman jarak merah dapat digunakan sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri dapat dihasilkan karena adanya kandungan senyawa fitokimia yang dihasilkan oleh daun tanaman tersebut. Tujuan penelitian ini mengetahui kandungan senyawa fitokimia daun ekstrak daun jarak merah dan mengkaji potensinya sebagai antibakteri. Metode penelitian ini adalah eksperimen yang menjelaskan proses ekstraksi, kandungan senyawa fitokimia dan potensi kandungan fitokimia tersebut sebagai antibakteri. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Senyawa fitokimia diuji secara kualitatif terhadap kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid atau terpenoid. Potensi senyawa fitokomia sebagai antibakteri dikaji melalui berbagai sumber literatur. Analisis data menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak daun jarak merah adalah sebesar 6,73%. Ekstrak daun jarak merah tersebut positif mengandung fitokimia alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin. Berdasarkan kajian literatur diketahui bahwa 1) alkaloid memiliki aktivitas antibakteri dengan menghambat sintesis peptidoglikan sel bakteri, 2) flavonoid sebagai antibakteri yang dapat mempengaruhi fungsi membran sel bakteri, 3) tanin sebagai antibakteri dengan cara menghambat enzim DNA transkriptase dan topoisomerase, dan 4) saponin sebagai antibakteri dengan merusak dinding sel bakteri
Uji Nanoemulsi Ecoenzym Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
The discovery of eco enzyme as a fermented liquid from organic vegetable and fruit waste has been used as an organic plant fertilizer, disinfectant, hand sanitizer, antiseptic soap, and domestic waste degradation agent. However, trials of eco enzymes as raw materials for health preparations have not yet been carried out. Seeing this, trial research is needed on the use of ecoenzyme nanoemulsion against Staphylococcus aureus bacteria. This research aims to determine the antibacterial ability of ecoenzyme nanoemulsion against S. aureus bacteria. The design of this research is experimental. The samples used were ecoenzyme nanoemulsions with Formula 1 (F1) 20%, Formula 2 (F2) 25%, and Formula 3 (F3) 30%. This research includes making ecoenzyme, making ecoenzyme nanoemulsion, testing ecoenzyme nanoparticles, and testing ecoenezyme nanoemulsion against S. aureus bacteria using the Kirby-Baeur method. The results showed that the sizes of ecoenzyme nanoparticles in F1 20%, F2 25%, and F3 30% were 38.9 nm, 65.07 nm, and 146.2 nm, respectively. The results of the antibacterial ability test of nanoemulsion eco enzyme F1 20%, F2 25%, and F3 30% against S. aureus produced an inhibitory zone 4.3 mm (resistant), 4.3 mm (resistant), and 6.7 mm (resistant). This research concludes that the eco enzyme nanoemulsion is not effective in inhibiting the growth of S. aureus bacteria.Penemuan ecoenzyme sebagai cairan fermentasi dari sampah organik sayuran dan buah-buahan telah dimanfaatkan untuk pupuk organik tanaman, disinfektan, hand sanitizer, sabun antiseptik, dan agen degradasi limbah domestik. Namun uji coba ecoenzym sebagai bahan baku sediaan kesehatan masih belum dilakukan. Melihat hal tersebut maka diperlukan penelitian uji coba kemampuan antibakteri nanoemulsi ecoenzyme terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antibakteri nanoemulsi ecoenzyme terhadap bakteri S.aureus. Desain penelitian ini adalah eksperimental. Sampel yang digunakan adalah nanoemulsi ecoenzyme dengan Formula 1 (F1) 20%, Formula 2 (F2) 25%, dan Formula 3 (F3) 30%. Cara kerja penelitian ini meliputi pembuatan ecoenzyme, pembuatan nanoemulsi ecoenzyme, uji nanopartikel ecoenzyme, dan pengujian nanoemulsi ecoenezyme terhadap bakteri S. aureus dengan metode Kirby baeur. Hasil penelitian menunjukkan ukuran nanopartikel ecoenzyme pada F1 20%, F2 25%, dan F3 30% masing-masing sebesar 38,9 nm, 65,07 nm, dan 146,2 nm. Hasil uji kemampuan antibakteri nanoemulsi ecoenzyme F1 20%, F2 25%, dan F3 30% terhadap S. aureus menghasilkan diameter zona hambat masing masing sebesar 4,3 mm (resisten), 4,3 mm (resisten), dan 6,7 mm (resisten). Kesimpulan penelitian ini adalah sediaan nanoemulsi ecoenzyme belum efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus
Kajian Etnoekonomi Tumbuhan Masyarakat Dayak Bakumpai di Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan
Etnobotani merupakan ilmu yang mengkaji interaksi antara manusia dan tumbuhan di sekitarnya. Etnobotani bermanfaat bagi masyarakat khususnya daerah yang memiliki potensi lokal beragam. Fokus penelitian yakni pada kajian etnoekonomi masyarakat Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala yang dimana masyarakat masih memanfaatkan tumbuhan potensi lokal sebagai mata pencaharian atau untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan etnoekonomi tumbuhan masyarakat Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala. Metode yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan snowball sampling. Subjek penelitian yakni tokoh adat, tokoh masyarakat, dan sesepuh desa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai penunjang ekonomi warga Dayak Bakumpai dan hampir seluruh bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan nilai ekonominya dengan hasil 3 spesies sebagai pewarna alami pembuatan makanan, 2 spesies untuk bahan “menginang” yang diperjualbelikan di pasaran, 2 spesies sebagai hiasan pekarangan bunga dan diperjualbelikan, 5 spesies untuk bumbu masakan yang dikonsumsi rumahan atau diperjualbelikan, 3 spesies sebagai perabot rumahan, tali/bakul, dan kayu bakar. 1 spesies untuk perawatan wajah “pupur sadingen”, 3 spesies untuk bahan makanan secara langsung yang diperjualbelikan, dan 1 spesies sebagai pewangi/parfu
Identifikasi Vegetasi Gulma di Lahan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Kelapa Sawit di Lahan Marginal
Gulma dapat menjadi faktor pembatas produksi kelapa sawit akibat terjadinya persaingan dalam memperoleh energi cahaya, air, O2, CO2, dan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, komposisi dan struktur vegetasi gulma di lahan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) kelapa sawit di lahan mineral. Penelitian menggunakan metode Purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 blok kebun pada lahan TBM, yang di dalamnya dibuat plot berbentuk persegi empat berukuran 1 x 1 m dengan jumlah petakan sebanyak 9 plot dari total 3 blok. Pada setiap plot pengamatan dilakukan identifikasi jenis, komposisi dan sturuktur vegetasi gulma dan dihitung indeks keanekaragamannya. Dari penelitian ditemukan 10 jenis gulma yang terdiri dari gulma berdaun lebar dan gulma rumputan. Komposisi gulma yang terdapat pada perkebunan kelapa sawit TBM ada10 jenis dengan jumlah individu 334. Gulma yang banyak ditemukan adalah gulma rumput torpedo (Panicum repens). Struktur vegetasi gulma yang dominan pada perkebunan kelapa sawit TBM adalah gulma rumputan Panicum repens yang memiliki nilai NJD sebesar 26,76%. Nilai indeks keanekaragaman gulma memiliki nilai 1,84 yang termasuk kedalam kategori tinggi. Gulma dapat menjadi faktor pembatas produksi kelapa sawit akibat terjadinya persaingan dalam memperoleh energi cahaya, air, O2, CO2, dan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, komposisi dan struktur vegetasi gulma di lahan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) kelapa sawit di lahan mineral. Penelitian menggunakan metode Purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 blok kebun pada lahan TBM, yang di dalamnya dibuat plot berbentuk persegi empat berukuran 1 x 1 m dengan jumlah petakan sebanyak 9 plot dari total 3 blok. Pada setiap plot pengamatan dilakukan identifikasi jenis, komposisi dan sturuktur vegetasi gulma dan dihitung indeks keanekaragamannya. Dari penelitian ditemukan 10 jenis gulma yang terdiri dari gulma berdaun lebar dan gulma rumputan. Komposisi gulma yang terdapat pada perkebunan kelapa sawit TBM ada10 jenis dengan jumlah individu 334. Gulma yang banyak ditemukan adalah gulma rumput torpedo (Panicum repens). Struktur vegetasi gulma yang dominan pada perkebunan kelapa sawit TBM adalah gulma rumputan Panicum repens yang memiliki nilai NJD sebesar 26,76%. Nilai indeks keanekaragaman gulma memiliki nilai 1,84 yang termasuk kedalam kategori tinggi.