Aulad - Journal on Early Childhood
Not a member yet
533 research outputs found
Sort by
Analisis Kesiapan Guru PAUD dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka adalah suatu pendekatan pembelajaran inovatif yang bertujuan untuk merevolusi sistem pendidikan dengan menekankan otonomi siswa, berpikir kritis, dan kreativitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan guru PAUD dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Pendekatan Mixed Methods dengan strategi Concurrent Triangulation digunakan. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan side-by-side comparison, menyajikan hasil statistik kuantitatif terlebih dahulu, diikuti dengan pembahasan data kualitatif untuk menentukan keselarasan atau ketidaksesuaian dengan hasil kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 94% dari total 25 guru dan kepala sekolah di KB-TK Permata Safira, TK Bona dan TK Aisyiah Bustanul Athfal Athfal 3 Serang siap menerapkan Kurikulum Merdeka. Beberapa tantangan ditemui, seperti perubahan paradigma dalam proses pengajaran dan keterbatasan dalam penggunaan teknologi pendidikan. Dukungan sekolah, pemerintah, tambahan pelatihan, dan alokasi sumber daya memadai dibutuhkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman praktis bagi para pendidik
Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada Tahap Pembiasaan di Sekolah Dasar
Salah satu cara untuk membiasakan literasi yaitu disebut dengan gerakan literasi sekolah (GLS). Gerakan literasi sekolah (GLS) memiliki tiga tahapan salah satunya adalah tahap pembiasaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan gerakan literasi sekolah di sekolah dasar pada tahap pembiasaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian inquiry naturalistic. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan program gerakan literasi pada tahap pembiasaan di SDN 48 Pekanbaru sudah berjalan antara lain yaitu (1) membaca 15 menit sebelum memulai pembelajaran, (2) Menata sarana dan lingkungan kaya literasi seperti perpustakaan, sudut baca, dan area baca di luar kelas yang disediakan oleh sekolah namun buku yang disediakan masih kurang beragam dan monoton hanya buku pembelajaran saja, (3) Menciptakan lingkungan teks, (4) Memilih buku bacaan di SD, dan (5) Pelibatan publik yaitu mengikutsertakan orang tua
Penerapan Sekolah Ramah Anak untuk Pencegahan Kekerasan Seksual
Penelitian ini berfokus untuk mengetahui bagaimana peran sekolah ramah anak dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual di sekolah. Kasus kekerasan seksual yang dialami anak usia dini di sekolah memerlukan upaya pencegahan agar kekerasan pada anak usia dini dapat diatasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan sekolah ramah anak dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak di TK Himawari Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan naratif. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dengan kepala sekolah. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif melalui pengumpulan data, penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sekolah ramah anak dapat mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak di sekolah. Bentuk pencegahannya berupa simulasi ke anak, penerapan SOP, dan sosialisasi dengan orang tua ketika parenting
Gambaran Kompetensi Guru dalam Memahami Kurikulum Merdeka
Kurikulum merdeka adalah inovasi pendidikan di Indonesia yang dirancang untuk memberikan kebebasan dan fleksibilitas dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kompetensi guru dalam memahami kurikulum Merdeka. Data yang dikumpulkan dan dianalisis terkait pemahaman guru terhadap kurikulum merdeka, serta hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam implementasinya. Metode penelitian yaitu menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui wawancara dan observasi. Subjek dalam penelitian ini ada 4 orang diantaranya 3 guru kelas dan 1 kepala sekolah. Teknik analisis data melalui proses mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan positif bahwa guru telah memahami esensi kurikulum merdeka, yaitu penekanan pada perkembangan potensi individual siswa melalui pembelajaran yang lebih kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Namun tantangan muncul terutama terkait dengan pemahaman mendalam terhadap strategi pembelajaran yang sesuai dengan prinsip kurikulum baru serta penyesuaian terhadap perubahan pendekatan ini
Studi Literatur : Implementasi Experiential Learning Terhadap Kemampuan 4C Anak Usia Dini
Kemampuan 4C (Critical thinking, Communication, Collaboration, Creativity) sangat esensial untuk mendukung perkembangan anak di masa depan. Pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung dapat membantu membangun keterampilan tersebut, sehingga meningkatkan kesiapan anak dalam menghadapi tantangan di dunia yang terus berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembelajaran eksperiensial terhadap kemampuan 4C anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, yakni dengan mengumpulkan dan mengkaji berbagai sumber yang relevan tentang pembelajaran eksperiensial. Data dianalisis melalui peninjauan dan evaluasi kritis terhadap literatur yang dikumpulkan, fokus pada konsep, praktik, dan hasil penerapan pembelajaran eksperiensial yang terkait dengan topik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung dapat meningkatkan keterampilan 4C anak. Penelitian ini mengidentifikasi strategi yang dapat diterapkan dalam pendidikan anak usia dini untuk mendukung pengembangan kemampuan ini. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya penerapan metode pembelajaran yang aktif dan partisipatif untuk memfasilitasi perkembangan keterampilan abad ke-21 pada anak-anak
Pengembangan Pengembangan Permainan Congklak dalam Meningkatkan Kemampuan Numerasi pada Anak Usia 4-5 Tahun
Kemampuan numerasii pada anak usia dini sangat penting karena menjadi dasar untuk perkembangan kognitif dan akademik mereka di masa depan. Numerasii bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan mengolah informasi matematika dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengembangan permainan congklak dalam meningkatkan kemampuan numerasii pada anak usia 4-5 tahun. Jenis penelitian ini yaitu R&D (Research and Development) dengan model pengembangan Borg & Gall yang yang terdiri dari 10 tahap pengembangan yaitu : potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian, revisi produk, dan produksi massal. Pada penelitian ini hanya dilakukan sampai pada tahap ke 7 yaitu revisi produk. Hasil uji kevalidan ahli media didapatkan nilai 83% dan ahli materi 97%, hasil uji kepraktisan didapatkan nilai 92% dan hasil uji keefektifan didapatkan nilai 89%. Implikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa melalui permainan congklak dapat meningkatkan kemampuan numerasii pada anak usia 4-5 tahu
Peran Guru dalam Menanamkan Nilai Moderasi Beragama pada Anak Usia Dini di RA Darul Mukhlisin
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam menanamkan nilai moderasi beragama pada anak usia dini di RA Darul Mukhlisin Pademawu Pamekasan. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan melibatkan 1 kepala sekolah, 5 guru, dan 10 anak sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga strategi utama: penerapan metode pembelajaran variatif seperti bercerita dan bermain peran yang secara efektif meningkatkan perilaku prososial siswa, penggunaan media pembelajaran kontekstual yang membantu pemahaman konsep moderasi, dan sistem evaluasi berkelanjutan yang menunjukkan perkembangan positif dalam kemampuan anak menghargai perbedaan. Implementasi program dipengaruhi oleh faktor pendukung berupa dukungan kelembagaan dan SDM memadai, serta faktor penghambat meliputi kesenjangan kompetensi guru dan keterbatasan sumber belajar. Program ini berhasil mentransformasi pemahaman dan perilaku anak dalam menghargai perbedaan, yang tercermin dari berkurangnya konflik berbasis perbedaan dan meningkatnya kolaborasi antaranak dalam aktivitas pembelajaran.
Rekonstruksi Pemahaman Guru tentang Keragaman melalui Program Sekolah Guru Kebinekaan (SGK)
Program SGK bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru tentang keragaman dan mendorong peran aktif guru menerapkan prinsip keragaman dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana program Sekolah Guru Kebinekaan (SGK) merekonstruksi pemahaman guru tentang keragaman. Metode penelitian menggunakan model deskriptif kualitatif dengan pendekatan rekonstruksi pengalaman dengan tiga unit observasi, yaitu do/experience, reflection, dan apply. Lokasi pengumpulan data dilakukan di Jakarta dengan melibatkan 12 guru peserta program SGK dan Kepala Program sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi pemahaman keragaman guru melibatkan tiga tindakan utama, yaitu reflektif, kolaboratif, dan kontekstual. Tindakan reflektif dilakukan dengan menganalisis tiga kasus yang berkaitan dengan isu-isu keragaman, seperti layanan adminduk bagi penghayat Marapu, layanan pendidikan agama anak Aliran Kepercayaan Perjalanan, dan aturan penggunaan seragam sekolah di Padang. Tindakan kolaboratif dilakukan dengan berbagi dan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda dari mereka. Tindakan kontekstual dilakukan dengan mengimplementasikan solusi yang tepat dan relevan dalam pembelajaran.
Pengaruh Pola Asuh Demokratis Orang tua Terhadap Kemampuan Bilingualisme Anak Usia 5-6 Tahun
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berbahasa anak, salah satunya yaitu kemampuan bilingualisme. Hal ini disebabkan oleh pola asuh orang tua yang hanya mengenalkan satu bahasa saja kepada anak, yang berujung pada keterbatasan kemampuan berbahasa anak. Akibatnya, anak hanya mampu menguasai satu bahasa saja karena kurangnya paparan terhadap bahasa lain. Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan bilingualisme anak yakni melalui pola asuh demokratis, dimana kedua bahasa yang ingin diajarkan kepada anak dapat diajarkan secara setara dan diberikan paparan yang cukup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pola asuh demokratis orang tua terhadap kemampuan bilingualisme anak usia 5-6 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan gambaran yang jelas dan terperinci tentang hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dan kemampuan bilingualisme anak. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada keluarga yang memiliki anak berusia 5-6 tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola asuh demokratis orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan bilingualisme anak usia 5-6 tahun dengan nilai signifikansi 0.00
Analisis Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak Usia Dini Dengan Gejala ADHD
Peran orang tua sangat signifikan dalam membantu anak-anak dengan ADHD untuk mengelola gejalanya dan beradaptasi dalam lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran orang tua dalam mendampingi anak usia dini dengan gejala ADHD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data yang terkumpul dianalisis secara tematik untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai pengalaman dan strategi yang diterapkan oleh orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dengan ADHD cenderung memiliki kesulitan dalam bersosialisasi, sering kali lebih suka bermain sendiri, serta mengalami tantangan dalam bermain kelompok. Upaya terapi yang diterapkan berupa modifikasi perilaku melalui penguatan positif, seperti pemberian hadiah atas perilaku yang sesuai dan hukuman yang edukatif, terbukti efektif dalam mengurangi gejala hiperaktif. Selain itu, aktivitas fisik seperti bermain di luar rumah menjadi salah satu cara yang efektif untuk membantu anak dalam mengatasi emosinya. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya dukungan lingkungan dan edukasi kepada masyarakat terkait ADHD, serta perlunya peran aktif orang tua dalam memberikan terapi dan dukungan emosional yang konsisten kepada anak