eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
4795 research outputs found
Sort by
The Relationship between Hypertension and Dyslipidemia with Degree of Coronary Stenosis in Patients with Coronary Artery Disease at Abdoel Wahab Sjahranie Hospital in Samarinda
Coronary Heart Disease or Coronary Artery Diseae (CAD) is the leading cause of death in worldwide, including in Indonesia. CAD is caused by blockage of the coronary arteries, which a coronary angiography examination can confirm to assess the degree of stenosis. Hypertension and dyslipidemia are the main risk factors in patients with CAD. This study aims to analyze the relationship between hypertension and dyslipidemia with the degree of coronary stenosis in patients with CAD who undergo angiography at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital. This study is a type of analytic observational research with a cross-sectional approach. The data used in this study was from medical records. The study sample was 93 patients with CAD who underwent angiography at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital in 2022 and met the inclusion and exclusion criteria selected by purposive sampling. The result showed that the relationship between hypertension and the degree of coronary stenosis showed a p-value of 0.632 and a p-value of 0,034 for the relationship between dyslipidemia and the degree of coronary stenosis. The conclusion of this study is that hypertension has no relasionship with the degree of coronary stenosis and dyslipidemia has a significant relationship with the degree of coronary stenosis in patients with CAD who undergo angiography. Keywords: Coronary Artery Disease, Hypertension, Dyslipidemia, Degree of Coronary Stenosis, Angiograph
Perbedaan Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Pemberian Video Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak SDN 009 Palaran Samarinda
Rendahnya perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut anak di Indonesia menyebabkan masalah kesehatan gigi dan mulut. Masalah kesehatan gigi dan mulut terbanyak di Kota Samarinda terjadi di Kelurahan Bukuan Kecamatan Palaran. Media video dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang baik serta dapat membantu meningkatkan pengetahuan pada anak mengenai kesehatan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan video edukasi kesehatan gigi dan mulut pada anak di SDN 009 Palaran. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan pada 174 siswa yang pilih dengan teknik stratified random sampling di SDN 009 Palaran pada bulan April 2023. Kemudian data dianalsia menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Didapatkan nilai rata-rata pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak sebelum diberikan media video sebesar 76,245 dan setelah pemberian sebesar 85,493. Setelah dianalisa (p <0,05) terdapat pengaruh video edukasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak
Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Tingkat Pengetahuan Mengenai Penambalan Gigi Pada Masyarakat Kota Samarinda
Penambalan gigi adalah salah satu cara untuk memperbaiki kerusakan gigi agar gigi bisa kembali ke bentuknya semula dan bisa kembali berfungsi dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana hubungan faktor sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan mengenai penambalan gigi pada masyarakat Kota Samarinda. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain studi cross sectional dan dilakukan uji chi-square dengan nilai signifikansi p<0,05. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 100 responden masyarakat Kota Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 75,15% masyarakat Kota Samarinda memiliki pengetahuan mengenai penambalan gigi dalam kategori cukup. Uji chi-square menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan mengenai penambalan gigi pada masyarakat Kota Samarinda dengan nilai p=0,02. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status ekonomi dengan tingkat pengetahuan mengenai penambalan gigi pada masyarakat Kota Samarinda dengan nilai p=0,558
MANAGEMENT OF SEPTIC SHOCK PATIENTS WITH INTRABDOMINAL TRAUMATICS IN THE INTENSIVE CARE UNIT
Management of patients with septic shock with intrabdominal trauma is a complex medical treatment in the intensive care unit because the patient must be closely monitored and given adequate therapy. This case report is a case from the intensive care unit at Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar. The patient was treated for 30 days starting on 10/24/23. The patient is a 15 year old male with the main complaint of a stab wound from a wooden beam that was stuck in his buttocks after falling from an 8 meter high building. The patient suffered stab wounds from the rectal, intrabdominal, diaphragm, left hemithorax to the pericard. The patient was referred from Pelamonia Hospital, Makassar, which had undergone airway treatment, then referred to Wahidin Hospital, Makassar. This patient underwent resuscitation and surgery, then was transferred to the intensive care unit. During the operation, serous laceration of the transverse colon, rectal laceration, urethral rupture, diaphragm and pericardial laceration were found. Patients had an APACHE II score of 17, SOFA score of 6 predicted mortality of 33.3%. Management during in the intensive care unit is treating the source of infection, fluid resuscitation, administering vasopressors. Norepinephrine as a first-line vasopressor agent with an initial target mean arterial pressure (MAP) is > 65mm Hg. Vasopressin is the second choice for treating septic shock, targeting MAP ≥ 65mmHg. Complicated intrabdominal infections are often caused by polymicrobial infections and require a combination of parenteral antibiotics during treatment. Therefore, it is necessary to select an antimicrobial agent appropriate to the patient's individual dosage. In cases of suspected intrabdominal infection, an aminoglycoside in combination with a beta lactam is recommended once daily, as gram-negative multidrug resistance often occurs. The empirical antibiotic given was a combination of meropenem 1gr/8 hours/IV + Amikacin 1gr/24 hours/IV for 6 days, continuous renal replacement therapy on treatment days 2 to 3 for 24 hours with CVVDHF modality. The results of the procalcitonin examination showed a downward trend followed by improvement in hemodynamics, decreased need for vasopressors, improved consciousness, gradual removal of the ventilator and transition to usual care on day 20. Comprehensive sepsis management resulted in better patient outcomes.Key words: Septic shock, Intrabdominal infection, Resuscitation, Continuous renal replacement therapy
Us Against Them, Analisis Wacana Kritis Fairclough dalam Poster Suporter Indonesia di Laga Kualifikasi PD 2026 versus Bahrain
Artikel ini membahas kritik terhadap federasi sepak bola (PSSI) dan pemerintah (Indonesia) oleh salah satu kelompok masyarakat. Melalui Analisis Wacana Kritis (AWK) menggunakan pendekatan Norman Fairclough artikel ini membedah tiga dimensi utama, yaitu teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Penelitian ini mengungkapkan bagaimana frasa Federation Destroyed Our Football, Government Destroyed Our Country yang ada di poster suporter Indonesia dan tersebar di media sosial mencerminkan relasi kekuasaan, ideologi, dan dinamika sosial-politik.
‘Barangnya ready ya, wal…!’: Language use of Facebook group as a marketing platform
This current study aims to explore language use in Facebook groups as a marketing platform, viewed from linguistic and localized features. It was conducted in a qualitative study by involving two Facebook public groups in Samarinda as the research subjects. In collecting data, observation and documentation of FB’s posts and comments were employed. In analyzing data, it was conducted quantitatively and qualitatively. Based on the findings, it can be summarized that language use in the platform can be categorized within several features, namely: (1) lexical and syntactical features. In lexical features, it was primarily found in reduced forms (6 data), word choice (1 data), and spelling (3 data). In contrast, in syntactical features, it was mostly found capitalization (6 data), grammar (1 data), and punctuation (2 data), (2) localized features found from posts and comments in the two selected FB groups as a marketing place in Samarinda are code-switching (1 data), code-mixing (10 data), lexical borrowing (3 data), and shift (2 data), and (3) Banjar and Java language mainly were employed to communicate in those FB groups beside of using Indonesia language
Digital-traditional knowledge convergence: How hybrid methodologies generate new forms of wisdom in ethnomusicological research
Penelitian ini merupakan tinjauan Sitematic Review yang mengeksplorasi konvergensi metode digital dan tradisional dalam etnomusikologi serta dampaknya terhadap kerangka epistemologis. Dengan menggunakan pendekatan epistemologi Bayesian subjektif, studi ini menunjukkan bahwa paradigma komputasional dan kritis memiliki prior beliefs yang kuat dan sering kali saling menolak. Ketegangan ini menjelaskan mengapa data yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda dan mengapa ketidakadilan epistemik seperti testimonial dan hermeneutic injustice terus terjadi.Temuan utama mengidentifikasi empat bentuk kebijaksanaan yang muncul dari interaksi digital-tradisional: (1) Objektivitas Kontekstual, di mana algoritma mulai dirancang untuk menghargai konteks budaya lokal; (2) Kerendahan Hati Teknologis, saat peneliti komputasional mulai menempatkan kebutuhan komunitas di atas kemampuan teknologinya; (3) Digital yang Berjiwa Tradisi, ketika pendekatan kritis menyadari potensi teknologi dalam pelestarian budaya tanpa mengorbankan nilai; dan (4) Kebijaksanaan Kolaboratif, yang lahir dari dialog antara paradigma yang berbeda.Pada akhirnya, penelitian ini berpendapat bahwa masa depan etnomusikologi tidak bergantung pada menangnya pendekatan digital atau tradisional, tetapi pada kemampuan untuk menyatukan keduanya secara bermakna. Konvergensi ini menciptakan ruang dialog yang adil, kontekstual, dan transformative menuju etnomusikologi yang peka budaya, beretika, dan adil secara epistemik
Effectiveness of Projection Mapping Technology Development for Education
One of the main challenges that education will always face in the future is the change in teaching methods. Conventional teaching approaches and strategies are increasingly seen as less able to adapt to the digital society.The development of projection mapping in education opens up opportunities to create interactive learning experiences by transforming classrooms into visual media that support conceptual understanding. The purpose of this study is to find out how education uses projection mapping, the effectiveness of projection mapping in educating and find out what technologies are used. The research method used in this study is a systematic literature review (SLR) with a prism approach (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). The Prisma method provides a standard framework that improves quality in the process of systematic review and research replication. This shows that projection mapping is a very effective and innovative tool in creating immersive educational experiences in various contexts, including festivals, museums, and education, where video mapping has been shown to be able to convey messages in an interesting and easy-to-understand way through the combination of narrative, visual, and audio elements. Overall, projection mapping not only expands the boundaries of visual experience, but also offers a more effective and enjoyable educational method, and shows great potential to increase engagement, understanding, and appreciation of art, culture, and education
Determinan Kebutuhan Pelayanan Kesehatan pada Lansia: Sebuah Studi di Samarinda, Indonesia
Meningkatnya kebutuhan perawatan lansia di Indonesia menunjukkan tantangan dalam memenuhi tuntutan kesehatan fisik, mental, dan sosial individu lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan utama yang memengaruhi kebutuhan dan preferensi layanan kesehatan pada lansia. Menggunakan desain observasional potong lintang, data dikumpulkan dari 61 lansia berusia 54 hingga 82 tahun di 14 Posyandu Lansia di Samarinda. Kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari alat yang telah divalidasi, termasuk SF-36 dan UCLA Loneliness Scale, digunakan untuk menilai karakteristik demografi, tingkat kelemahan, aktivitas harian, kesehatan kognitif, dan kesejahteraan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 32,8% responden membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya, dengan kelemahan fisik (p=0,021), kemandirian aktivitas harian (p=0,039), dan penurunan kognitif (p=0,036) secara signifikan memengaruhi kebutuhan tersebut. Sebagian besar responden menilai kondisi kesehatan fisik (78,7%) dan mentalnya (75,4%) baik, meskipun 39,3% melaporkan gejala depresi. Dukungan sosial cukup umum, dengan 75,4% memiliki pendamping dari keluarga atau pengasuh, namun hal ini tidak secara signifikan memengaruhi kebutuhan kesehatan (p=0,186). Temuan ini menegaskan sifat multidimensi kebutuhan kesehatan lansia, dengan kelemahan fisik, penurunan kognitif, dan kemandirian aktivitas harian sebagai determinan utama. Intervensi yang berfokus pada area ini, disertai dengan peningkatan sistem dukungan, dapat meningkatkan akses dan hasil layanan kesehatan untuk populasi lansia. Studi ini menemukan pentingnya model layanan kesehatan terpadu yang mencakup dimensi fisik, kognitif, dan sosial untuk memberikan perawatan yang komprehensif bagi lansia
Pengembangan Biogas Ramah Lingkungan dari Limbah Tanaman Pisang (Musa paradisiaca) dan Kotoran Sapi
Biogas adalah gas yang terbentuk melalui proses fermentasi anaerobik bahan organik, seperti kotoran ternak, limbah pertanian, maupun sisa makanan, dengan bantuan aktivitas mikroorganisme. Dalam penelitian ini perlakuan awal campuran untuk peningkatan produksi biogas dari berbagai bagian dari limbah tanaman pisang yang dicampur dengan kotoran sapi diselidiki. Perlakuan awal atau sampel meliputi P1 (kotoran sapi : air : daun pisang); P2 (kotoran sapi : air : batang pisang); P3 (kotoran sapi : air : kulit pisang); P4 (kotoran sapi : air : tangkai daun pisang); P5 (kotoran sapi : air : buah pisang). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan produksi biogas dari berbagai bagian dari tanaman pisang dengan campuran kotoran sapi. Langkah-langkah penelitian ini meliputi penyiapan bahan baku, proses anaerobic digestion, mengamati kondisi fisik campuran dan analisa yang meliputi pengukuran pH awal dan pH akhir campuran, serta pengukuran volume biogas yang dihasilkan.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi campuran sebelum fermentasi terlihat homogen dan basah, sedangkan setelah fermentasi tampak pemisahan fase serta pertumbuhan jamur pada beberapa sampel. Nilai pH awal berada pada kisaran 7,1–7,7 dan menurun setelah fermentasi menjadi 4,1–7,0. Adapun volume biogas tertinggi dicapai pada P3 (98,31 mL), diikuti P2 (82,84 mL), sedangkan volume terendah terdapat pada P1 (2,11 mL)