eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
4795 research outputs found
Sort by
Growth to Grit: The Role of Growth Mindset In Grit Among Students Who Are Active in The Student Council
The Student Council (OSIS) is a forum for high school/vocational school students to develop soft skills and character building, but often students who are actively involved in the Student Council do not understand its meaning and lack persistence in carrying out each program activity that is held. This study aims to examine the role of growth mindset on grit among high school/vocational school student council members in Madiun City. The sample consisted of 70 students from high schools/vocational schools in Madiun City. The data collection tools used were the growth mindset scale developed by Dweck, C.S. (1999) and the grit scale developed by Duckworth (2009). The analysis technique used in this study was regression analysis. The results showed that there was an effect of growth mindset on grit (t = 4.715, p = 0.033). The effective contribution of growth mindset to grit was 65%, while the remaining 35% was influenced by other factors not explored in this study. This study supports the theory that growth mindset influences grit. These findings can be used as a basis for developing an intervention model aimed at increasing grit in students who are active in student council organizations.OSIS merupakan wadah bagi siswa SMA/SMK untuk pengembangan soft skill dan pembentukan karakter, namun kerapkali siswa yang terlibat aktif dalam OSIS belum memaknai dan kurang gigih dalam melaksanakan setiap program kegiatan yang di adakan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran growth mindset terhadap grit pada siswa OSIS SMA/SMK di Kota Madiun. Sampel terdiri dari 70 siswa dari SMA/SMK di Kota Madiun. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala growth mindset yang dikembangkan oleh Dweck, C.S. (1999) dan skala grit yang dikembangkan oleh Duckworth (2009). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh growth mindset terhadap grit (t = 4.715, p = 0.033). Besar sumbangan efektif growth mindset terhadap grit adalah 65%, sementara 35% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dieksplorasi dalam penelitian ini. Penelitian ini mendukung teori bahwa growth mindset mempengaruhi grit. Temuan ini dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan model intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan grit pada siswa yang aktif berorganisasi OSIS.
Self-Esteem and Life Satisfaction Among Adolescents in Semarang: Communication with Peers as a Mediator
The decline in life satisfaction during adolescence is a significant concern due to its negative effects on psychological well-being and development. Factors contributing to life satisfaction include self-esteem and communication with peers. This study aimed to examine the relationship between self-esteem and life satisfaction among adolescents in Semarang, with communication with peers as a mediating variable. The proposed hypothesis was that communication with peers mediates the relationship between self-esteem and life satisfaction. The population of this study includes students who are actively attending junior high schools in Semarang. A quantitative approach with a simple mediation design was used. Data were collected from 296 participants using three instruments: the Rosenberg Self-Esteem Scale, the Satisfaction with Life Scale–Children (SWLS-C), and the Adolescent Peer Communication Scale. Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results showed a positive and significant relationship between self-esteem and life satisfaction, mediated by communication with peers (coefficient = 0.019; 95% CI [0.008–0.029]). These findings highlight the important role of peer communication in mediating the relationship between self-esteem and life satisfaction in adolescents. This underscores the importance of developing peer communication skills as a strategy to enhance adolescents’ life satisfaction.Penurunan life satisfaction selama masa remaja merupakan masalah penting yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan perkembangan remaja. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap life satisfaction adalah self-esteem dan communication with peers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dan life satisfaction pada remaja di Kota Semarang yang dimediasi oleh communication with peers. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara self-esteem dan life satisfaction pada remaja di Semarang yang dimediasi oleh communication with peers. Populasi penelitian meliputi siswa yang aktif bersekolah di tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota Semarang. Pendekatan kuantitatif dengan desain mediasi sederhana digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari 296 partisipan menggunakan tiga instrumen, yaitu Rosenberg Self-Esteem Scale, Satisfaction with Life Scale–Children (SWLS-C), dan skala Adolescent Peer Communication. Analisis data dilakukan dengan metode Structural Equation Modelling (SEM). Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-esteem dan life satisfaction yang dimediasi oleh communication with peers (koefisien = 0,019; 95% CI [0,008–0,029]). Hasil penelitian ini menegaskan peran penting communication with peers dalam memediasi hubungan antara self-esteem dan life satisfaction remaja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengembangan keterampilan komunikasi antar teman sebaya sebagai strategi untuk meningkatkan kepuasan hidup remaja
Discovery Learning-Based Learning Strategies in the Implementation of Literature Learning in Elementary Schools
This study aims to explore the implementation of Discovery Learning-based learning strategies in literature learning in elementary schools. A qualitative method with a case study design is used to gain an in-depth understanding of the effectiveness and challenges faced in the application of this method. Data was collected through participatory observations, in-depth interviews with teachers and students, and analysis of documents such as syllabus and student work. The results show that Discovery Learning can increase student active engagement, encourage critical and creative thinking, and strengthen communication skills. Students appear to be more enthusiastic and engaged in reading, analyzing, and discussing literary texts, as well as demonstrating better abilities in interpreting the meaning of texts and relating them to personal experiences. However, some challenges such as the need for more thorough preparation, time constraints, and resources need to be overcome to ensure the successful implementation of this method. This research also emphasizes the importance of support from schools and teacher training to improve competence in implementing Discovery Learning. Overall, the study concludes that Discovery Learning has great potential to improve the quality of literature learning in primary schools, but its success is highly dependent on teacher readiness, institutional support, and adequate curriculum adaptation. The findings of this study provide a solid foundation for the further development and wider application of Discovery Learning in literary education in Indonesia, as well as provide practical recommendations for educators and policymakers.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi strategi pembelajaran berbasis Discovery Learning dalam pembelajaran sastra di sekolah dasar. Metode kualitatif dengan desain studi kasus digunakan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang efektivitas dan tantangan yang dihadapi dalam penerapan metode ini. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, analisis dokumen seperti silabus dan karya siswa juga pre-test dan post-test. Hasil penelitian menunjukkan hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pemahaman siswa yang signifikan. Rata-rata skor pre-test sebelum penerapan strategi ini adalah 65, sedangkan setelah pembelajaran menggunakan Discovery Learning, skor rata-rata post-test meningkat menjadi 85. Dimana Discovery Learning mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa, mendorong pemikiran kritis dan kreatif, serta memperkuat keterampilan komunikasi. Siswa tampaknya lebih antusias dan terlibat dalam membaca, menganalisis, dan mendiskusikan teks sastra, serta menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menafsirkan makna teks dan menghubungkannya dengan pengalaman pribadi. Namun, beberapa tantangan seperti perlunya persiapan yang lebih matang, kendala waktu, dan sumber daya perlu diatasi untuk memastikan keberhasilan penerapan metode ini. Penelitian ini juga menekankan pentingnya dukungan dari sekolah dan pelatihan guru untuk meningkatkan kompetensi dalam melaksanakan Discovery Learning. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Discovery Learning memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sastra di sekolah dasar, tetapi keberhasilannya sangat tergantung pada kesiapan guru, dukungan kelembagaan, dan adaptasi kurikulum yang memadai. Temuan-temuan penelitian ini memberikan landasan yang kuat bagi pengembangan lebih lanjut dan penerapan Discovery Learning yang lebih luas dalam pendidikan sastra di Indonesia, serta memberikan rekomendasi praktis bagi para pendidik dan pembuat kebijakan
Treatment of Adults with Major Depressive Disorder with Peripartum Onset Using Cognitive Behavior Therapy
This study aims to determine the experiences of clients with major depressive disorders with peripartum onset and the application of cognitive behavior therapy in intervention. The client in this study was a 24-year-old mother who experienced symptoms during pregnancy and postpartum and even had the desire to harm herself and her child. A series of psychological examinations are carried out such as observation, interviews, graphics, BDI and postpartum depression scale to determine the client's condition. The intervention carried out with Cognitive Behavior Therapy consisted of 6 sessions. The results of this examination and intervention found that unpreparedness to have children, sexual harassment/coercion, lack of family support and late examination and treatment influenced symptoms which resulted in the emergence of cognitive distortions (unsuccessful becoming a mother, blaming oneself) and had an impact on daily behavior as well as thoughts and trying to hurt yourself and your child. Clients changed cognitive distortions and applied adaptive cognitive in daily behavior to reduce the appearance of symptoms of major depressive disorder with peripartum onset.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman klien dengan major depressive disorder with peripartum onset dan penerapan cognitive behavior therapy pada intervensi. Klien dalam penelitian ini adalah seorang perempuan berusia 24 tahun yang mengalami gejala ketika mengandung hingga pasca melahirkan bahkan memiliki keinginan untuk menyakiti diri dan anak. Serangkaian pemeriksaan psikologis dilakukan seperti observasi, wawancara, grafis, BDI dan skala depresi postpartum untuk mengetahui kondisi klien. Intervensi dilakukan dengan Cognitive Behavior Therapy terdiri dari 6 sesi. Hasil dari pemeriksaan dan intervensi ini menemukan bahwa ketidaksiapan dalam memiliki anak, pelecehan/pemaksaan seksual, kurangnya dukungan keluarga dan pemeriksaan serta penanganan yang terlambat mempengaruhi gejala yang berdampak pada munculnya distorsi kognitif (tidak berhasil menjadi seorang Ibu, menyalahkan diri) dan berdampak pada perilaku sehari-hari serta pikiran dan mencoba untuk melukai diri dan anak. Klien merubah distorsi kognitif serta menerapkan kognitif adaptif dalam perilaku sehari-hari sehingga mengurangi munculnya gejala major depressive disorder with peripartum onset
Becoming a Police Officer: Self-Efficacy and Adversity Quotient in Facing Police Education
The National Police School (SPN PolDa DIY) is an educational institution that trains prospective members of the Indonesian National Police (Polri) tasked with maintaining public security and order. Education at SPN emphasizes not only academic aspects but also physical, mental, and technical skills to prepare non-commissioned officers (NCOs) who are ready for use in the field. SPN students face numerous educational demands, including physical readiness and high mental resilience. SPN Diktukba students face difficulties in enduring educational pressures. This condition is related to low adversity quotient (AQ), which is an individual's ability to respond to and survive life's difficulties (Stoltz, 2018). Students have problems with mental strength to survive and thrive despite being faced with challenges or difficulties in life (adversity quotient) and lack confidence in themselves to achieve their goals. Self-efficacy is one factor that influences adversity quotient. The hypothesis of this study is that there is a positive relationship between self-efficacy and adversity quotient in DikTukBa students. The subjects of this study were 95 DikTukBa students of SPN PolDa DIY. This study uses a quantitative approach with a questionnaire survey design that has been validated by professional judgment, with the results of Aiken's V for the self-efficacy variable being 0.75 while the adversity quotient variable was 0.833. The reliability of the self-efficacy variable was 0.983 and the adversity quotient variable was 0.982, meaning both variables were reliable. The results of this study showed a very significant positive relationship between self-efficacy and adversity quotient in Students of the Bintara Formation Education (Diktukba) of the Yogyakarta Special Region Police School (SPN Polda DIY) with the category of both variables being moderate with an effective contribution of 41.4%. From the results of the significance test, it shows that there is a probability value of 0.000 <0.05. Partially, self-efficacy has a very significant positive relationship with each dimension of the adversity quotient, namely the dimensions of control, origin & ownership, reach, and endurance. This finding strengthens the conclusion that self-confidence is the foundation that helps students have a higher fighting spirit.Sekolah Polisi Negara (SPN PolDa DIY) sebagai lembaga pendidikan pembentukan calon anggota Polri yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Pendidikan di SPN tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga melatih fisik, mental, dan keterampilan teknis untuk menyiapkan bintara yang siap pakai di lapangan. Banyaknya tuntutan pendidikan yang harus dihadapi oleh para siswa SPN seperti kesiapan fisik dan ketahanan mental tinggi dari para siswanya. Siswa Diktukba SPN menghadapi kesulitan dalam bertahan menghadapi tekanan pendidikan. Kondisi ini berkaitan dengan rendahnya adversity quotient (AQ), yaitu kemampuan individu dalam merespon dan bertahan terhadap kesulitan hidup (Stoltz, 2018). Siswa memiliki masalah pada kekuatan mental untuk bertahan dan berkembang meskipun dihadapkan pada tantangan atau kesulitan hidup (adversity quotient) dan tidak yakin pada diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan. Self-efficacy menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi adversity quotient. Hipotesis penelitian ini terdapat hubungan positif antara self-efficacy dan adversity quotient pada Siswa DikTukBa. Subjek penelitian ini adalah 95 siswa DikTukBa SPN PolDa DIY. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei kuesioner yang telah diuji validasi oleh profesional judgement, dengan hasil Aiken’s V variabel self-efficacy adalah 0.75 sedangkan variabel adversity quotient adalah 0.833. Reliabilitas varibel self-efficacy 0,983 dan variabel adversity quotient 0,982 artinya kedua variabel reliabel. Hasil dari penelitian ini terdapat hubungan positif sangat signifikan antara self-efficacy dan adversity quotient pada Siswa Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Sekolah Polisi Negara Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (SPN Polda DIY) dengan kategori kedua variabel sedang dengan sumbangan efektif 41,4%. Dari hasil pengujian signifikansi menunjukkan bahwa terdapat nilai probabilitas sebesar sebesar 0,000 < 0,05. Secara parsial self-efficacy memiliki hubungan positif yang sangat signifikan dengan setiap dimensi dari adversity quotient, yaitu dimensi control, origin & ownership, reach, dan endurance.Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa keyakinan diri adalah fondasi yang membantu siswa memiliki daya juang yang lebih tinggi
Bridging Innovation and Adoption: The Mediating Role of Trust in The Influence of Personal Innovativeness and Perceived Usefulness on Intention to Use
Technological innovation has become an essential part of daily life, where personal innovativeness and perceived usefulness significantly influence individuals' intention to adopt new technologies. This study aims to examine the role of trust as a mediator in the relationship between personal innovativeness and perceived usefulness toward intention to use. Using a quantitative approach, data were collected from 190 users of the PLN Mobile application in East Java through a Likert-scale survey. Mediation analysis using SEM-PLS was applied to evaluate relationships. The results show that both personal innovativeness and perceived usefulness have a significant direct effect on intention to use. Trust was found to mediate these relationships, but with a low mediating effect. This indicates that in the context of well-established technologies, trust may no longer be a dominant factor, while personal innovativeness and benefit perception play a more direct and influential role in shaping usage intentions. The implications of these findings suggest that technology adoption strategies should focus more on enhancing personal innovativeness and clearly communicating the tangible benefits of technology rather than building trust. Future research is recommended to explore the mediating role of trust in the context of newer or higher-risk technologies.Inovasi teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, di mana inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan secara signifikan memengaruhi niat individu untuk mengadopsi teknologi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kepercayaan sebagai mediator dalam hubungan antara inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan terhadap niat untuk digunakan. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 190 pengguna aplikasi PLN Mobile di Jawa Timur melalui survei skala Likert. Analisis mediasi menggunakan SEM-PLS diterapkan untuk mengevaluasi hubungan. Hasilnya menunjukkan bahwa inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan memiliki efek langsung yang signifikan pada niat untuk digunakan. Kepercayaan ditemukan untuk menengahi hubungan ini, tetapi dengan efek mediasi yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks teknologi yang sudah mapan, kepercayaan mungkin tidak lagi menjadi faktor dominan, sementara inovasi pribadi dan persepsi manfaat memainkan peran yang lebih langsung dan berpengaruh dalam membentuk niat penggunaan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa strategi adopsi teknologi harus lebih fokus pada peningkatan inovasi pribadi dan mengkomunikasikan dengan jelas manfaat nyata dari teknologi daripada membangun kepercayaan. Penelitian di masa depan direkomendasikan untuk mengeksplorasi peran mediasi kepercayaan dalam konteks teknologi yang lebih baru atau berisiko lebih tinggi
Behind the Scenes of Instagram: The Relationship Between Self-Esteem and Narcissistic Tendencies Among Gen Z
The phenomenon of Gen Z's existence is beginning to increase on social media, potentially giving rise to narcissistic tendencies, especially about the level of self-esteem that individuals have. This study aims to analyze the relationship between self-esteem and narcissistic tendencies in Gen Z on Instagram social media. The study used a quantitative approach with a correlational design, with a purposive sampling technique involving 148 Gen Z participants who actively use Instagram social media. Data collection was conducted using the Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) and the Narcissism on Social Media Scale (NSMS). The results of data analysis using Spearman correlation, showed a significant negative relationship between self-esteem and narcissistic tendencies (r = -0.645, p < 0.05). The lower the self-esteem, the higher the narcissistic tendencies on Instagram social media, and vice versa. The findings reinforce the view that narcissistic tendencies are often used as a compensation mechanism for low self-esteem. This study provides practical implications to help Gen Z understand the importance of improving self-esteem to prevent maladaptive narcissistic tendencies on social media.Fenomena eksistensi Gen Z mulai meningkat di media sosial, berpotensi memunculkan kecenderungan narsistik, terutama berkaitan dengan tingkat self-esteem yang dimiliki individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dengan kecenderungan narsistik pada Gen Z di media sosial Instagram. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 148 partisipan Gen Z yang aktif menggunakan media sosial Instagram. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) dan Narcissism on Social Media Scale (NSMS). Hasil analisis data menggunakan korelasi Spearman, menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan kecenderungan narsistik (r = -0,645, p < 0,05). Semakin rendah self-esteem, semakin tinggi kecenderungan narsistik di media sosial Instagram, dan sebaliknya. Temuan memperkuat pandangan bahwa kecenderungan narsistik sering dijadikan mekanisme kompensasi atas self-esteem yang rendah. Penelitian ini memberikan implikasi praktis yang dapat membantu Gen Z dalam memahami pentingnya meningkatkan self-esteem untuk mencegah kecenderungan narsistik yang maladaptif di media sosial
Pengaruh Efikasi Diri dan Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Langsa
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh efikasi diri dan kompetensi terhadap kinerja pegawai pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kota Langsa. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di instansi pemerintah daerah dalam rangka mendukung pelayanan publik yang efektif dan berdaya saing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 54 responden yang merupakan pegawai pada instansi terkait. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dengan skala Likert, sedangkan analisis data menggunakan regresi linier berganda, uji t, uji F, dan uji koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai signifikansi 0,013 < 0,05. Kompetensi juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai signifikansi 0,020 < 0,05. Secara simultan, efikasi diri dan kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai, yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi uji F sebesar 0,000 < 0,05. Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = 3,220 + 0,150X1 + 0,224X2. Hasil uji koefisien determinasi mengungkapkan bahwa efikasi diri dan kompetensi mampu menjelaskan variasi kinerja pegawai sebesar 55,1%, sedangkan 44,9% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian ini. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan efikasi diri dan kompetensi sebagai faktor kunci dalam mengoptimalkan kinerja pegawai, sehingga dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan manajemen sumber daya manusia di sektor pemerintahan daerah
Pengaruh Price dan Brand Image terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Scarlett Whitening di Tamalanrea
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tamalanrea dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh harga dan citra merek terhadap keputusan pembelian produk Scarlett Whitening. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan asosiatif. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah Proportionate Stratified Random Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Harga produk Scarlett Whitening pada masyarakat Kecamatan Tamalanrea memiliki nilai rata-rata 3,37 yang termasuk dalam kategori sangat sesuai. 2) Citra merek produk juga menunjukkan nilai rata-rata 3,37 yang termasuk dalam kategori sangat baik. 3) Keputusan pembelian masyarakat terhadap produk ini memiliki nilai rata-rata 3,30 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi. 4) Analisis menunjukkan bahwa harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. 5) Citra merek juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. 6) Secara keseluruhan, harga dan citra merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk Scarlett Whitening pada masyarakat Kecamatan Tamalanrea
Raising Awareness About Sensory Issues: Psychoeducation of Sensory Issues in Parents with Early Childhood
Sensory processing difficulties in early childhood have become a prominent concern for both educators and parents due to their potential to impact multiple areas of child development. Children who present with sensory challenges often experience delays in cognitive, emotional, and motor domains. One significant protective factor in addressing such issues is sufficient parental knowledge regarding sensory processing and the application of appropriate stimulation strategies. This community engagement program was designed to enhance parents’ understanding of sensory processing, common sensory issues in young children, and effective approaches to support their development. The initiative targeted 63 parents of children aged 2 to 6 years and utilized a direct psychoeducational method delivered by a licensed psychologist. Feedback from participants indicated that the psychoeducational content was well-received and deemed valuable. Additionally, the intervention proved effective in improving parents’ knowledge and awareness of sensory processing issues in early childhood. Considering the critical role sensory processing plays in early learning and development, it is recommended that similar psychoeducational initiatives be replicated on a broader scale to reach a larger population of parents and caregivers.Permasalahan mengenai sensori pada anak usia dini menjadi salah satu fokus perhatian baik guru maupun orangtua. Anak-anak usia dini yang menunjukkan permasalahan sensori cenderung mengalami hambatan dalam aspek perkembangan lainnya. Salah satu faktor protektif isu sensori pada anak adalah pengetahuan yang memadai dari orangtua mengenai permasalahan sensori dan langkah stimulasi yang tepat. Pengabdian dilaksanakan dengan tujuan memberikan pengetahuan pada orangtua mengenai pemrosesan sensori pada anak, permasalahan sensori yang dapat muncul, dan cara yang tepat untuk mengoptimalkan pemrosesan sensori anak. Pengabdian dilaksanakan kepada 63 orangtua dengan anak usia 2-6 tahun. Bentuk pengabdian yang dilakukan adalah psikoedukasi bersama dengan psikolog dengan metode psikoedukasi langsung tanpa pelatihan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa materi yang diberikan dinilai baik dan bermanfaat untuk orangtua. Selain itu, psikoedukasi yang dilakukan efektif untuk meningkatkan pengetahuan orangtua mengenai isu sensori pada anak usia dini. Kegiatan serupa disarankan untuk direplikasi kepada lebih banyak orangtua mengingat pentingnya pemrosesan sensori sebagai landasan belajar pada anak usia dini