eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
4795 research outputs found
Sort by
Solusi Kemacetan Lalu Lintas Kota Bandung Melalui Pemerataan Arus Kendaraan
Kemacetan lalu lintas merupakan permasalahan yang menghambat berbagai kegiatan masyarakat, khususnya di Kota Bandung. Terdapat Banyak sekali kerugian yang dialami karena kemacetan, diantaranya adalah waktu, biaya, polusi udara, pemborosan bahan bakar, dan lain-lain. Penyebab umum kemacetan adalah karena arus kendaraan berkumpul pada satu jalur tertentu. Pada artikel ini diusulkan salah satu metode untuk menurunkan tingkat kemacetan lalu lintas di Kota Bandung, yaitu melalui pemerataan arus kendaraan. Titik awal objek penelitian ini adalah Jalan Jakarta, Kota Bandung, yang merupakan salah satu jalan terpadat dengan volume kendaraan terbanyak. Setiap jam dilewati oleh rata-rata 8.565 kendaraan sedangkan kapasitas jalan hanya menampung sebanyak 5.675 kendaraan. Pemerataan arus kendaraan ditunjukkan melalui simulasi menggunakan aplikasi SimEvents MATLAB. Model aplikasi simulator disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip didalam Teori Antrian. Penerapan metode pemerataan arus kendaraan dapat menurunkan tingkat kepadatan lalu lintas hingga 80%, juga mengurangi panjang antrian, dan waktu menunggu kendaraan di dalam antrian.Kemacetan lalu lintas merupakan permasalahan yang menghambat berbagai kegiatan masyarakat, khususnya di Kota Bandung. Terdapat Banyak sekali kerugian yang dialami karena kemacetan, diantaranya adalah waktu, biaya, polusi udara, pemborosan bahan bakar, dan lain-lain. Penyebab umum kemacetan adalah karena arus kendaraan berkumpul pada satu jalur tertentu. Pada artikel ini diusulkan salah satu metode untuk menurunkan tingkat kemacetan lalu lintas di Kota Bandung, yaitu melalui pemerataan arus kendaraan. Titik awal objek penelitian ini adalah Jalan Jakarta, Kota Bandung, yang merupakan salah satu jalan terpadat dengan volume kendaraan terbanyak. Setiap jam dilewati oleh rata-rata 8.565 kendaraan sedangkan kapasitas jalan hanya menampung sebanyak 5.675 kendaraan. Pemerataan arus kendaraan ditunjukkan melalui simulasi menggunakan aplikasi SimEvents MATLAB. Model aplikasi simulator disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip didalam Teori Antrian. Penerapan metode pemerataan arus kendaraan dapat menurunkan tingkat kepadatan lalu lintas hingga 80%, juga mengurangi panjang antrian, dan waktu menunggu kendaraan di dalam antrian
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DAN CARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI PUSKESMAS SEGIRI SAMARINDA
Persentase bayi berusia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI Eksklusif di Kalimantan Timur sebesar 75,87%, khususnya di Kota Samarinda sebesar 66%. Puskesmas Segiri merupakan salah satu puskesmas di Kota Samarinda dengan persentase keberhasilan ASI eksklusif masih di bawah target yaitu 69%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan cara pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Segiri Samarinda. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik purposive sampling. Data didapatkan dari wawancara dengan ibu menyusui menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 96 responden mayoritas berusia 31-35 tahun (66,7%), mayoritas tingkat pendidikan responden adalah SMA (42,7%) dan sebanyak 83 responden (86,5%) tidak bekerja atau IRT. Tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif sebanyak 40 responden (41,7%) dalam kategori cukup dan tingkat pengetahuan tentang cara pemberian ASI eksklusif sebanyak 74 responden (77,1%) dalam kategori cukup. Berdasarkan hasil penelitian ini, karakteristik ibu menyusui ASI eksklusif sebagian besar berusia 31-35 tahun, tingkat pendidikan adalah SMA, dan tidak bekerja dengan tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif dan cara pemberian ASI eksklusif dalam kategori cukup. Kata kunci: ASI eksklusif, pengetahuan, cara pemberian ASI eksklusif
The Effect of Interactive Media on Adolescent Behavior to Prevent Risky Sexual in Manado City
Adaptation to adolescent growth and development needs to be optimized, this is because it will harm adolescent health when that age is confused. Various health problems in adolescents include risky sexual (kissing, masturbation, sex). Various previous studies have stated that the misuse of media or technology (smartphones, internet) to access various information including pornographic sites can increase adolescents' engagement in sexual activity because when adolescents continue to be exposed to it, adolescents will feel challenged to do so in real life. Therefore, it is necessary to increase the behavior (Knowledge, Attitude, and Skills) of adolescents through the implementation of interactive media interventions to prevent risky sexual behavior in adolescents. The purpose of this study is to analyze the effect of interactive media on the ability of adolescents through increasing knowledge, attitudes, and skills in preventing risky sexual behavior. The target of the research is teenagers who are in school and are included in the inclusion criteria, including 10-19 years old and unmarried with a large sample of 109 people. The method used in this study is a quasi-experimental without a control group which compares before (pre-test) and after (post-test) the intervention. Each intervention session has different media including lectures, videos, card games, and role plays. Each session will be conducted 1-2x every week with a total of 8 intervention sessions. The results of this study indicate that there is a significant effect between the implementation of interactive media and the knowledge, attitudes, and skills of adolescents to prevent risky sexual intercourse with p-values of 0.002,; 0.001; 0.014. This study concludes that it is hoped that it can improve the ability of adolescents and can be used as a pilot project that continues to be developed into nursing interventions in community settings so that adolescents can avoid deviant behavior, especially risky sexual behavior
Literacy Skills Intervention Program in Preschoolers with Speech Sound Disorder
Speaking skill is considered imperative at various age categories, including preschool age. Speech sound disorder, or SSD, is classified as a communication disorder that hinders a person from producing the right sound. This issue then becomes substantial because the ability of young children to speak is one of the main aspects of literacy, which is needed at later age categories. This research aims to collect scientific studies that examine interventions related to the literacy of preschoolers with SSD. Based on three databases (i.e., SAGE, ScienceDirect, ProQuest), six scientific studies are relevant to this research topic and its characteristics. The results of this study indicate four aspects of literacy skills that preschoolers with SSD tend to lack: phonological awareness, articulation, vocabulary, and print knowledge. Additionally, the involvement of the social environment, such as parents and educators, is mentioned to be an essential factor in the success of literacy interventions given to preschoolers with SSD. These findings can be used as reference material to be adapted in the context of SSD and literacy in preschoolers in Indonesia.Keterampilan seseorang dalam berbicara tergolong penting pada berbagai jenjang usia, tidak terkecuali saat usia prasekolah. Speech Sound Disorder atau SSD merupakan gangguan komunikasi yang menghambat seseorang dalam memproduksi bunyi suara yang tepat. Hal ini kemudian menjadi isu substansial sebab kemampuan anak usia dini dalam berbicara merupakan salah satu aspek utama dalam literasi, yang dibutuhkan pada jenjang-jenjang usia selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menghimpun studi-studi ilmiah yang mengkaji intervensi yang berkaitan dengan kemampuan literasi anak prasekolah dengan SSD. Berdasarkan pencarian melalui tiga database (i.e., SAGE, ScienceDirect, ProQuest), didapati enam studi ilmiah yang relevan dengan topik dan karakteristik penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat aspek kemampuan literasi yang anak prasekolah dengan SSD cenderung kurang kuasai yakni kesadaran fonologis (phonological awareness), artikulasi, kosa kata, dan pengetahuan buku (print knowledge). Selain itu, keterlibatan lingkungan sosial seperti orangtua maupun tenaga pendidik dikatakan sebagai faktor esensial dalam keberhasilan intervensi literasi yang diberikan pada anak prasekolah dengan SSD. Temuan ini kemudian dapat menjadi bahan referensi untuk diadaptasi pada konteks SSD dan literasi pada anak prasekolah yang ada di Indonesia.
Pengaruh Kualitas Produk Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Warunk Upnormal Cafe
Penelitian ini bertujuan untuk (i) menguji pengaruh variabel kualitas produk dan kualitas pelayanan secara simultan terhadap kepuasan konsumen pada Warunk Upnormal Café di Samarinda, (ii) menguji pengaruh variabel kualitas produk dan kualitas pelayanan secara parsial terhadap kepuasan konsumen pada Warunk Upnormal Café di Samarinda, (iii) menguji variabel yang berpengaruh dominan terhadap kepuasan konsumen pada Warunk Upnormal Café di Samarinda. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu kualitas produk (X1) dan kualitas pelayanan (X2) serta variabel dependen yaitu kepuasan konsumen (Y). Metode analisis menggunakan metode kuantitatif. Populasi tidak terhingga dengan sampel sebanyak 100 orang responden. Penelitian ini menggunakan metode “Purposive sampling. Teknik pengumpulan data penelitian kepustakaan, riset internet, dan penelitian lapangan berupa wawancara, observasi, dan kuesioner. Hasil penelitian ini (i) dari hasil perhitungan Uji F (simultan) menunjukkan bahwa variabel kualitas produk dan kualitas pelayanan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen pada Warunk Upnormal Cafe Samarinda, (ii) dari hasil analisis Uji t (parsial) menunjukkan bahwa secara parsial variabel kualitas produk dan kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen pada Warunk Upnormal Cafe Samarinda, (iii) dari hasil standardized coefficients beta terbesar adalah variabel kualitas pelayanan (X2) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel yang paling berpengaruh adalah variabel kualitas pelayanan (X2)
ANALISIS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) MENGGUNAKAN METODE HAZARD ANALYSIS (STUDI KASUS PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT KORPRI KOTA SAMARINDA)
Dalam dunia konstruksi tidak luput dengan adanya perhatian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dalam suatu pekerjaan konstruksi terdapat banyak sekali unsur bahaya yang dapat membahayakan pekerja. Identifikasi keselamatan dan kesehatan kerja dilakukan menggunakan metode hazard analysis yaitu HIRA dan HAZOP. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer dan data sekunder yaitu data primer yang mencakup wawancara kepada safety officer, menyebarkan kuesioner ke pekerja hingga project manager, dan hasil pengamatan langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder mencakup struktur organisasi perusahaan. Berdasarkan hasil terdapat 34 variabel resiko yang telah diidentifikasi dan dilakukan uji validitas terdapat 6 variabel resiko yang tidak valid sehingga dari 34 variabel resiko yang telah diidentifikasi hanya 28 variabel resiko yang valid. Kemudian dilakukan uji reliabilitas dan hasilnya 28 variabel resiko konsisten dan didapat nilai reliabilitas 0,886 yang memiliki reliabilitas tinggi. Hazard analysis dengan metode HIRA terdapat 2 variabel resiko yang paling tinggi dengan kategori extreme yaitu pada variabel B1 dan C1. Hazard analysis dengan metode HAZOP terdapat beberapa penyebab yang disebabkan dari potensi bahaya yaitu tidak adanya pelatihan dan pengarahan tentang K3, minimnya staff HSE pada proyek, minimnya pemberian sanksi yang tegas, minimnya anggaran dana untuk APD, tidak menggunakan APD, mengabaikan SOP, pekerja tidak memahami SOP
Pengaruh substitusi mocaf terhadap sifat kimia dan sensoris boba
Boba adalah bahan tambahan pada makanan berbahan dasar tepung tapioka yang dimasak bersama dengan cairan gula jawa atau madu dengan proses perebusan untuk menghasilkan bola berbentuk bundar dan memiliki tekstur kenyal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan enam perlakuan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah substitusi tepung mocaf adalah 0, 20, 40, 60, 80 dan 100%, masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi sifat kimia (kadar air, protein, dan karbohidrat terhitung sebagai pati, gula total), sifat fisik (warna sebagai L*, a* dan b*, dan struktur permukaan), serta sifat sensoris (hedonik dan mutu hedonik). Data dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil. Hasil penelitian menunjukan bahwa substitusi mocaf terhadap tepung tapioka memberikan pengaruh nyata terhadap sifat kimia dan sensoris boba. Substitusi mocaf sebesar 40% terhadap tepung tapioka menghasilkan boba dengan respons sensoris paling disukai dengan mutu hedonik berwarma coklat muda, berasa manis, tidak beraroma tepung mocaf dan bertekstur lembek
Mutu organoleptik pempek ikan tongkol (Euthynnus affinis) dengan penambahan albumin
Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang memiliki kuliner yang khas dan telah menjadi ikon daerah, yaitu pempek yang diolah secara tradisional. Salah satu jenis ikan yang ekonomis untuk membuat pempek adalah ikan tongkol. Namun, pempek ikan tongkol memiliki tekstur yang kurang kenyal dan warna cenderung gelap, bahkan kehitaman. Oleh sebab itu, perlu ditambahkan bahan lain untuk memperbaiki mutu organoleptiknya. Penelitian faktor tunggal (kadar albumin) menggunakan metode RAK non faktorial dengan tiga perlakuan, yaitu pempek ikan tongkol dengan 5, 10, dan 15% albumin. Pempek ikan gabus digunakan sebagai kontrol pembanding. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati adalah sifat organoleptik untuk aroma, warna, rasa dan tingkat kekenyalan pempek ikan tongkol dibandingkan dengan pempek ikan gabus menggunakan uji sensoris pembanding jamak. Data dianalisis dengan Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan albumin sampai dengan 15% pada pengolahan pempek ikan tongkol memberikan respons organoleptik berbeda tidak nyata untuk rasa, dan aroma pempek ikan gabus, tetapi berbeda nyata untuk warna dan kekenyalan. Penambahan albumin pada pembuatan pempek ikan tongkol belum dapat memperbaiki respons organoleptik untuk kekenyalan pempek setara dengan pempek ikan Gabus. Penambahan 5-10% albumin direkomendasikan dalam pengolahan pempek ikan tongkol untuk mendapatkan respons organoleptik hedonik yang mirip dengan pempek ikan gabus
Telepractice Reading Intervention using Orton-Gillingham Approach for Child with Dyslexia
Specific learning disorders are one of the neurodevelopmental disorders that cause obstacles in a person's academic performance. One category of specific learning disorders is dyslexia, which is a learning disorder caused by reading difficulties. Dyslexia can have a negative impact on children's well-being and learning motivation, therefore special interventions need to be carried out to improve reading skills. One of the most widely used interventions in the world is the reading intervention with the Orton-Gillingham approach. Current technological developments allow practitioners to conduct telepractice, or the implementation of assessments and therapies through online means. Telepractice is gaining popularity because with this method, practitioners can reach groups in need even though they are far apart. This study aimed to see if reading interventions with the Orton-Gillingham approach given through telepractice could improve beginning reading skills. The study participants were 10-year-old boys who had mild dyslexia. This study consisted of 10 sessions divided into pre-test, 8 intervention sessions, and post-test. Early Grade Reading Assessment (EGRA) was used to measure participants' reading ability before and after the intervention. The results showed an increase in participants' EGRA scores after the intervention was given. In conclusion, interventions with the Orton-Gillingham approach can be provided using telepractice methods and are useful in improving the early reading skills of children with mild dyslexia.Gangguan belajar spesifik merupakan salah satu gangguan neurodevelopmental yang menyebabkan hambatan dalam performa akademik seseorang. Salah satu kategori dari gangguan belajar spesifik adalah disleksia, yaitu gangguan belajar yang disebabkan oleh kesulitan membaca. Disleksia dapat menimbulkan dampak negative terhadap kesejahteraan dan motivasi belajar anak, oleh karena itu perlu dilakukan intervensi khusus untuk meningkatkan kemampuan membaca. Salah satu intervensi yang paling banyak digunakan di dunia adalah intervensi membaca dengan pendekatan Orton-Gillingham. Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan praktisi untuk melakukan telepraktik, atau pelaksanaan asesmen dan terapi melalui sarana daring. Telepraktik mulai populer karena dengan metode ini, praktisi dapat menjangkau kelompok yang membutuhkan meskipun terpisah jarak yang jauh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah intervensi membaca dengan pendekatan Orton-Gillingham yang diberikan melalui telepraktik dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan. Partisipan penelitian adalah anak laki-laki berusia 10 tahun yang memiliki disleksia taraf ringan. Penelitian ini terdiri dari 10 sesi yang terbagi menjadi pre-tes, 8 sesi intervensi, dan post-tes. Early Grade Reading Assessment (EGRA) digunakan untuk mengukur kemampuan membaca partisipan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada skor EGRA partisipan setelah intervensi diberikan. Sebagai kesimpulan, intervensi dengan pendekatan Orton-Gillingham dapat diberikan menggunakan metode telepraktik serta bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak dengan disleksia taraf ringan
Relationship Level of Knowledge About Covid-19 With Physical Distancing Program Compliance in Adolescents
Coronavirus 2019 (Covid-19) is a disease that has become a worldwide pandemic. Covid-19 infection can cause mild, moderate, or severe symptoms. Covid-19 can be transmitted from humans through close contact and droplets, not through the air. The World Health Organization recommends implementing 3M, namely washing hands, wearing masks, and physical distancing. To find out the relationship between the level of knowledge about the Covid-19 physical distancing program in adolescents. This research is a quantitative study with a cross sectional design, with a sampling technique using a total sampling technique, data obtained from a google form filled out by respondents. The results showed that 46% of respondents had good knowledge, 52.1% had a fairly good level of knowledge, and 1.9% of respondents had a poor level of knowledge about Covid-19. The respondents who implemented physical distancing were as many as 86% of respondents and those who did not apply as many as 14%. From the cross tabulation calculation between the level of knowledge about Covid-19 and compliance with the physical distancing program using SPSS with the chi-square test, the p-value is 0.000 with a significant level of 0.05. There is a significant relationship between knowledge about Covid-19 and compliance with physical distancing programs