Beta - Jurnal Tadris Matematika
Not a member yet
100 research outputs found
Sort by
Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri: Perbedaan siswa bertemperamen choleric dengan melancholic
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa bertemperamen choleric dan melancholic dalam menyelesaikan masalah geometri. Proses berpikir dalam penelitian ini adalah proses berpikir konseptual atau proses berpikir prosedural. Proses berpikir konseptual meliputi 5 (lima) kompetensi, yaitu menggunakan aturan dasar, melihat pola, menerapkan konsep, mengklarifikasi situasi, dan mengembangkan masalah. Proses berpikir prosedural adalah cara berpikir siswa yang terbiasa menghafal rumus dan menggunakan cara-cara rutin dalam menyelesaikan masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 2 (dua) siswa perempuan dengan kemampuan matematika tinggi dan setara di kelas IX Salatiga, Indonesia, terdiri dari 1 (satu) siswa bertemperamen choleric dan 1 (satu) siswa bertemperamen melancholic. Pemilihan subjek penelitian berdasarkan hasil tes temperamen dan hasil tes kemampuan matematika. Data penelitian diperoleh dari pemberian tugas penyelesaian masalah geometri dan wawancara kepada para subjek penelitian sebanyak 2 (dua) kali. Pemberian tugas penyelesaian masalah kedua dan wawancara kedua merupakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir siswa terungkap melalui tugas penyelesaian masalah geometri yang diberikan. Siswa bertemperamen choleric menggunakan proses berpikir prosedural dalam menyelesaikan masalah geometri, sedangkan siswa bertemperamen melancholic menggunakan proses berpikir konseptual dalam menyelesaikan masalah geometri.
Kata kunci: Proses Berpikir; Choleric; Melancholic; Masalah Geometri
[English]: This study aims to describe the thinking process of students with choleric and melancholic temperament in solving geometry problems. The thinking process in this research is conceptual thinking process or procedural thinking process. The conceptual thinking process includes 5 (five) competencies, i.e. using basic rules, seing patterns, applying concepts, clarifying situations, and developing problems. The process of procedural thinking is a way of thinking of students who are used to memorizing formulas and using routine ways of solving problems. This research was a descriptive research with qualitative approach. The subjects consisted of 2 (two) female students with high and equivalent mathematics abilities in the ninth grade in Salatiga, Indonesia consisting of 1 (one) choleric student and 1 (one) melancholic student. The selection of research subjects is based on temperament test and mathematical ability test. Research data obtained from geometry problem solving task and interview to the research subjects twice. The second task of problem solving and interview is triangulation of data. The results reveal the thinking process of students through the task of solving the geometry problem given. Student with choleric temperament used procedural thinking processes in solving geometry problems, while student with melancholic temperament used conceptual thinking processes in solving geometry problems.
Keywords: Thinking; Choleric; Melancholic; Geometry Problem
Peningkatan kemampuan spasial dan self-efficacy siswa melalui model discovery learning berbasis multimedia
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan spasial melalui penerapan model pembelajaran discovery learning dengan atau tanpa menggunakan multimedia (GeoGebra), self-efficacy siswa sebelum dan sesudah pembelajaran, dan interaksi antara pembelajaran dengan tingkat kemampuan (level) matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan spasial. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VIII SMPN 2 Lhokseumawe. Kelas VIII2 diambil sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII4 sebagai kelas kontrol. Data kemampuan spasial diperoleh dengan tes uraian yang diadopsi dari Maier (1994). Analisis data secara kuantitatif menunjukan bahwa peningkatan kemampuan spasial siswa dengan penerapan model discovery learning berbasis multimedia lebih baik daripada penerapan discovery learning tanpa multimedia. Dalam hal ini, tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran discovery learning berbasis multimedia dan discovery learning tanpa multimedia dengan level siswa terhadap peningkatan kemampuan spasial siswa. Analisis kualitatif menunjukan bahwa self-efficacy siswa setelah penerapan model discovery learning meningkat.
[English]: This research aims to identify the increase of spatial ability through the implementation of discovery learning model with or without the use of multimedia (Geogbera), students’ self-efficacy before and after the learning, and the interaction between learning and the level of students’ ability towards the increase of spatial ability. The population is all students of grade VIII SMPN 2 Lhokseumawe. Grade VIII2 is selected as the experimental class while Grade VIII4 as the controlled class. Data of spatial ability is collected through essay test adopted from Maier (1994). The quantitative data analysis shows that the increase of students’ spatial ability through the implementation of discovery learning model with multimedia is better than discovery learning without multimedia. In this research, there is no interaction between discovery learning model and the level of students’ ability in mathematics towards the increase of students’ spatial ability. The qualitative analysis shows that student’s self-efficacy increases after implementing discovery learning model
Keterampilan mahasiswa dalam melakukan penelitian pendidikan matematika melalui pembelajaran berbasis riset
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kecenderungan lintasan belajar mahasiswa dalam melakukan penelitian pendidikan matematika, khususnya dalam kemampuan mendesain, melaksanakan, dan mempublikasikan hasil penelitian, dengan menggunakan model pembelajaran berbasis riset. Metode yang digunakan adalah design research dengan 3 tahapan, yaitu preliminary design, teaching experiment, dan retrospective analysis. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana lintasan belajar yang dikembangkan memberikan kontribusi dalam menumbuhkan keterampilan meneliti pada 9 mahasiswa pendidikan matematika di STKIP Surya, dengan mendeskripsikan kegiatan dosen, mahasiswa, dan melihat hasil akhir pembelajaran, selama kurun waktu 5 bulan. Hasilnya, 2 orang mahasiswa mampu memenuhi semua indikator keterampilan meneliti sampai tahapan publikasi karya ilmiah dalam jurnal yang terindeks Google Scholar, 1 orang mahasiswa sampai tahapan penulisan hasil penelitian (skripsi), 2 orang mahasiswa sampai tahapan pembuatan proposal penelitian dan sudah diseminarkan, 3 orang mahasiswa sampai tahapan pembuatan proposal penelitian, dan 1 orang mahasiswa masih dalam tahapan mendesain suatu penelitian. Selain itu, penelitian ini juga memberikan gambaran faktor-faktor penyebab keberagaman hasil yang diperoleh mahasiswa selama proses pembelajaran.
[English]: This study aims to reveal the tendency of students' learning trajectory in doing research in mathematics education, especially in the ability to design, implement, and publish the research result by using research-based learning model. The method used is design research with three phases, i.e., preliminary design, teaching experiment, and retrospective analysis. This study describes how the learning trajectory that was developed to contribute to enhancing the research skills of nine pre-service mathematics’ teacher at Surya College of Education with describing the activities of lecturer, students, and the final result of learning during five months. As a result, two students were able to meet all the indicators of research's skill until publishing a scientific paper in journals indexed by Google Scholar. One student was able to the stage of writing the research result (undergraduate thesis). Two students were able to the stage of making a research proposal and already seminar. Three students were able to the stage of making a research proposal. One student is still in the stage of research design. Besides, this study also illustrates the diversity of the factors that cause results obtained by students during the learning process
Analisis kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika ditinjau dari kemampuan verbal
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan verbal, kemampuan menyelesaikan soal cerita, dan pengaruh kemampuan verbal terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah Se-Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah ex-post facto yang bersifat kausalitas dengan populasi siswa kelas VII SMP Muhammadiyah se-kota Makassar sebanyak 1048 siswa yang tersebar di 10 sekolah. Sampel diambil sebanyak 145 siswa dengan teknik stratified cluster random sampling. Tes digunakan sebagai instrumen penelitian. Data dianalisis menggunakan statistika deskriptif dan analisis inferensial (Analisis korelasi dan regresi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat kemampuan verbal siswa berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 51,83; (2) Tingkat kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 70,62; (3) Kemampuan verbal memiliki korelasi dengan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika dengan besar hubungan 67,5%; (4) Kemampuan verbal berpengaruh positif terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita dengan pengaruh sebesar 42% sedangkan sisanya sebesar 58% dipengaruhi oleh variabel lain. Dengan demikian dapat diartikan bahwa semakin baik atau semakin tinggi kemampuan verbal yang dimiliki oleh siswa maka kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa tersebut akan semakin baik atau semakin tinggi.
[English]: This study aims to determine the level of verbal ability, ability to solve word problems, and the effect of verbal ability toward the ability to solve word problem in grade 7 SMP Muhammadiyah se-Makassar. This study is causality ex-post facto with the population of 1048 grade 7 students which spread in 10 schools. The sample is 145 students selected through stratified cluster random sampling method. A test is used as the research instrument. Descriptive and inferential statistics (correlation and regression analysis) are used to analyze data. The results of this study show that: (1) the level of verbal ability is in middle category with average score 51,83; (2) the level of ability to solve word problem is in middle category with average score 70,62; (3) verbal ability relates to the ability of solving word problem with 67,5%; (4) verbal ability has positive effect toward the ability to solve word problem with influence rate 42% while the remaining rate 58% is affected by other variables. In conclusion, the better or the higher the students have verbal ability then the better or the higher the ability of students to solve word problem.  
Efektivitas pembelajaran matematika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing
oai:ojs2.jurnalbeta.ac.id:article/1[Bahasa]: Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen semu yang bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa SMP Negeri 13 Makassar yang diajar dengan menggunakan Model Kooperatif Tipe Snowball Throwing dan Metode Ekspositori, serta untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing efektif digunakan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar. Luaran yang akan dihasilkan dari penelitian ini adalah penerapan alternatif pembelajaran yang tidak monoton sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) yang berorientasi pada pembelajaran koperatif tipe Snowball Throwing. Subjek penelitian dibagi dalam 2 kelompok, yakni kelompok eksperimen yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing dan kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan metode ekspositori. Setiap kelompok diajar dengan frekuensi pertemuan yang sama dengan materi yang sama. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing lebih efektif jika dibandingkan dengan penerapan metode ekspositori untuk pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel.<%
Penalaran proporsional siswa kelas VII
[Bahasa]: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik penalaran proporsional siswa. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Tasikmadu Kabupaten Karanganyar. Prosedur pemilihan subjek dengan cara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara think aloud method. Validitas data menggunakan triangulasi waktu. Teknik analisis data dilakukan dengan cara: (1) mengelompokkan data dalam 2 kategori, kemudian mereduksi data yang tidak termasuk dalam 2 kategori tersebut, (2) menyajikan data dalam teks naratif, dan (3) menyimpulkan karakteristik penalaran proporsional siswa kemudian membandingkan subjek yang berada pada level yang sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada enam subjek siswa kelas VII SMP Negeri Tasikmadu, terdapat empat siswa yang sudah bisa bernalar kuantitatif yaitu mampu memanipulasi situasi perbandingan dengan menggunakan suatu bilangan dan dua siswa menggunakan perkalian silang tetapi tidak sepenuhnya memahami hubungan invarian dan kovarian.
[English]: This descriptive qualitative research is aimed at describing the characteristics of students proportional reasoning. The subjects are the seventh grade students at SMP Negeri 1 Tasikmadu Karanganyar. The subjects are selected through purposive sampling methods. Data collection applies think aloud method. Time triangulation is used for data validation. Data is analyzed by: (1) classifying data in two categories then reducing them which do not belong to both categories, (2) presenting the data in narrative text, and (3) summarizing the characteristics of students proportional reasoning then comparing the subjects based on same level. The research shows that 4 of 6 students are able to reason quantitatively which mean that they can manipulate the proportional situation using number and the remaining students use cross product but they did not fully understand about the relation of invariant and covariant
Komparasi pembelajaran SAVI dan REACT pada kemampuan pemecahan masalah siswa kelas-VIII materi kubus dan balok
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil komparasi antara model pembelajaran SAVI dan REACT terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan post test-only control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ungaran tahun ajaran 2013/2014 dengan sampel diambil secara cluster random sampling, terpilih tiga kelas sampel dimana setiap kelas terdiri dari 24 siswa. Kelas eksperimen 1 diberi perlakuan dengan model pembelajaran SAVI, kelas eksperimen 2 diberi perlakuan dengan model pembelajaran REACT, dan kelas kontrol dengan model pembelajaran Direct Instruction. Pengambilan data dilakukan dengan metode observasi untuk mengetahui aktivitas siswa dan guru, dan metode tes untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa yang kemudian dianalisis dengan uji proporsi, uji perbedaan rata-rata, dan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan kemampuan pemecahan masalah antara kelas eksperimen 1 dan 2. Jadi, baik model pembelajaran SAVI maupun REACT sama-sama efektif dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah siswa.
[English]: This study aims to evaluate the result of comparison between SAVI and REACT learning model toward problem-solving ability of students. This research is an experimental research with a post test-only control group design. The population of this research is the eight grade students of Junior High School 1 Ungaran 2013/2014 academic year. The sample is taken by random cluster sampling technique which select three sample classes where each class consists of 24 students. The experimental class 1 was treated with SAVI learning model, the experimental class 2 was treated with REACT learning model, and a control class was taught with the Direct Instruction learning model. Data is collected by observation method to determine the activity of students and teacher, and test method to determine the students' problem solving abilities are then analyzed by the proportion test, the mean difference test, and Tukey's test. The results of this study indicate that there is no significant difference between the problem solving ability of students in the experimental class 1 and 2. Thus, both SAVI and REACT learning models are effective to improve students’ problem solving abilities
Hubungan antara konsepsi penilaian dan kecemasan siswa sekolah dasar di kelas matematika
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsepsi siswa tentang penilaian dan kecemasan mereka terhadap matematika. Subjek penelitian adalah 40 siswa di salah satu sekolah dasar negeri di Bekasi. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan desain cross-sectional. Adapun instrumen penelitian yaitu angket konsepsi tentang penilaian dan angket kecemasan matematika. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa siswa yang cenderung memiliki konsepsi penilaian sebagai cara-cara yang dilakukan guru untuk memberikannya informasi terkait apa, bagaimana, mengapa tentang belajarnya berkorelasi secara signifikan terhadap penurunan kecemasan mereka terhadap matematika. Sebaliknya, siswa yang memiliki konsepsi bahwa penilaian yang dilakukan guru sebagai sebuah cara untuk membandingkan performanya dengan kriteria-kriteria eksternal, maka secara signifikan berkorelasi terhadap peningkatan kecemasan matematika. Temuan ini juga mengindikasikan perlunya mengubah paradigma teaching to the test ke arah assessment as learning untuk membentuk sebuah konsepsi yang utuh terhadap penilaian.
[English]: This study aims to examine the relationship between students' conceptions about assessment and their mathematics anxiety. Participants in this study were 40 elementary school students in one of the public elementary schools in Bekasi. This research employed survey method with cross-sectional design. Instruments in this study consisted of conception about assessment and mathematics anxiety questionnaires. Hypothesis testing is done with correlation of Spearman's rho. The findings of this study reveal that students who tended to view assessment as a process that supports learning correlated significantly to the reduction of their anxiety towards mathematics. On the other case, students who have the conception that the assessment is used only as comparing between performance and external criterions, it significantly correlates with the increase of mathematical anxiety. This study also indicates the need to change the paradigm of “teaching to the test” towards “assessment as learning” to establish a complete conception of the assessment
Analisis hubungan kecemasan, aktivitas, dan motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika siswa
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecemasan matematika, aktivitas, dan motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional menggunakan metode analisis regresi. Data diambil dari 146 responden yang merupakan siswa MTsN 1 Pacitan kelas VIII. Variabel bebas pada penelitian ini yaitu kecemasan matematika (X1), aktivitas (X2) dan motivasi berprestasi (X3), sedangkan variabel terikatnya yaitu hasil belajar matematika siswa (Y). Berdasarkan kombinasi dari 3 variabel bebas dan variabel terikat diperoleh 7 model regresi yang dianalisis. Analisis regresi dilakukan dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) hubungan kecemasan matematika dengan hasil belajar matematika masuk dalam kategori rendah, 2) hubungan aktivitas siswa dengan hasil belajar matematika masuk dalam kategori rendah, 3) hubungan motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika masuk dalam kategori rendah, 4) hubungan kecemasan matematika dan aktivitas siswa dengan hasil belajar matematika masuk dalam kategori rendah, 5) hubungan kecemasan matematika dan motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika masuk dalam kategori rendah, 6) hubungan aktivitas dan motivasi berprestasi tidak dapat ditentukan karena koefisien regresi dari motivasi tidak dapat digunakan, dan 7) hubungan kecemasan matematika, aktivitas dan motivasi berprestasi masuk dalam kategori rendah. Hal ini terjadi karena adanya variasi nilai hasil belajar siswa pada setiap kategoris variabel-variabel bebasnya.
[English]: This study aims to analyze the relationship between mathematics anxiety, learning activity, and achievement motivation towards the students' mathematics learning outcomes. This study is a correlational study using regression analysis method. Data were taken from 146 eight grade students of MTsN 1 Pacitan. Independent variables in this study are mathematics anxiety (X1), learning activity (X2), and achievement motivation (X3) while the dependent variable is students' mathematics learning outcomes (Y). The combination of three independent variables and the dependent variable provides seven regression models that had been analyzed. SPSS is used to conduct regression analysis. The results of this study show that: 1) the relationship between mathematics anxiety and the students' mathematics learning outcomes is in the low category; 2) The relationship between student’s activity and learning outcomes of mathematics is in the low category; 3) the relationship between achievement motivation and learning outcomes is in the low category; 4) the relationship of students mathematics anxiety and activity with the students learning outcomes is in the low category; 5) the relationship of mathematics anxiety and achievement motivation with learning outcomes is in the low category; 6) the relationship of activity and achievement motivation could not be determined because the regression coefficient of motivation variable could not be used; and 7) the relationship of mathematics anxiety, activity and achievement motivation with student learning outcomes is in the low category. This occurs because of the variation of student learning outcomes in each category of the independent variables
Sejarah matematika: Alternatif strategi pembelajaran matematika
[Bahasa]: Sejarah merupakan sumber pengetahuan. Sejarah memberikan informasi berharga terkait perkembangan di masa lampau yang mendukung kemajuan di masa sekarang. Dalam hal ini, sejarah matematika juga memberikan pengetahuan bagaimana konsep matematika berkembang. Sejarah matematika menjelaskan, sebagai contoh, bagaimana al-Khwarizmi mengembangkan metode kuadrat sempurna dalam menyelesaikan persamaan kuadrat. Melalui sejarah matematika, kerja keras para matematikawan dalam menemukan dan mengembangkan suatu konsep atau penyelesaian suatu permasalahan bisa menjadi kisah inspiratif. Pengetahuan yang diperoleh melalui sejarah matematika sangat bermanfaat untuk digunakan dalam pembelajaran. Tulisan ini mencoba menjawab kenapa dan bagaimana penerapan sejarah matematika dalam pembelajaran melalui kajian pustaka (library research). Referensi terkait berupa ebook, artikel jurnal online dan proceedings konferensi dianalisis dengan memfokuskan pada dua hal, yaitu: manfaat sejarah matematika dalam membangun sikap positif siswa terhadap matematika; dan cara menerapkan sejarah matematika dalam pembelajaran matematika di Indonesia.
[English]: History is a source of insight. History gives valuable information regarding the development in the past which contributes to the advance nowadays. In this case, the history of mathematics (HoM) also provides knowledge on how mathematics concept developed. The history of mathematics explains, for example, how al-Khwarizmi developed one of the methods in solving a quadratic equation. In the history of mathematics, how mathematicians worked hard in inventing and developing a concept or a solution upon a mathematics problem can be inspired story. Insight from the history of mathematics can be very useful for learning mathematics. This paper tries to answer why and how the use of history of mathematics in mathematics learning through library research. References consist of e-books, online journal articles and conference proceedings are thoroughly analyzed focusing on two cases, i.e. how the history of mathematics builds positive attitude of students toward mathematics; and how it can be implemented in Indonesia mathematics classroom