Beta - Jurnal Tadris Matematika
Not a member yet
100 research outputs found
Sort by
Kemampuan representasi matematis siswa SMP melalui pendekatan pendidikan matematika realistik
[Bahasa]: Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan representasi matematis siswa melalui pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Penelitian ini dilakukan di kelas VII-2 SMP Negeri 6 Banda Aceh yang melibatkan enam siswa. Kemampuan representasi siswa dianalisis dari hasil tes dan wawancara setelah penerapan PMR melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil tes, subjek penelitian dikategorikan menjadi siswa dengan kemampuan representasi matematika tinggi, sedang dan rendah. Keenam siswa tersebut diwawancara untuk mengonfirmasi hasil tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi dan sedang memenuhi ketiga indikator kemampuan representasi matematis yaitu menyajikan data atau informasi dari suatu masalah ke representasi tabel, menyelesaikan masalah yang melibatkan ekspresi matematis, serta menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah matematika dengan kata-kata. Siswa berkemampuan rendah memenuhi dua indikator kemampuan representasi matematis yaitu menyelesaikan masalah yang melibatkan ekspresi matematis dan menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah matematika dengan kata-kata.
Kata kunci: Representasi Matematis; Kemampuan; Pendidikan Matematika Realistik
[English]: This qualitative reseach aims at describing students’ representation ability through realistic mathematics education (RME). It is conducted in grade VII-2 SMP Negeri 6 Banda Aceh focusing on the six students. Students’ representation ability is analyzed from the developed test and interview after applying RME through data reduction, data display and conclusion. Based on the result of the test, the subjects are categorized into students who have high, medium and low ability in mathematical representation. They are then interviewed to confirm the test. The research finds that students in high and medium category fulfill the three indicators of mathematical representation, i.e. displaying data or information of a problem into table, solving problems that involve mathematical expression, and write the steps in solving the problems using words. Meanwhile, students in low category can only fulfill the second and third indicator.
Keywords: Mathematics Representation; Ability; RM
Pengembangan perangkat pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual budaya Lombok
[Bahasa]: Budaya merupakan hal yang dekat dengan kehidupan manusia termasuk siswa. Budaya merupakan salah satu hal yang dapat dijadikan media untuk dapat belajar oleh siswa, sekaligus mempelajari budaya itu sendiri. Seseorang akan belajar dengan baik jika hal yang dipelajari adalah hal yang dekat dengan lingkungannya salah satunya adalah budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan dan mendeskripsikan karakateristik perangkat pembelajaran matematika SMP dengan pendekatan kontekstual budaya Lombok berorientasikan prestasi belajar matematika dan apresiasi nilai budaya bangsa yang valid, praktis, dan efektif. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid ditunjukkan dengan hasil penilaian RPP dan LKS berada pada kategori “baik”. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan praktis ditunjukkan dengan hasil penilaian guru, penilaian siswa, dan observasi keterlaksanaan pembelajaran berada pada kategori “baik”. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan efektif ditinjau dari prestasi dan apresiasi nilai budaya bangsa. Perangkat pembelajaran matematika yang dikembangkan memiliki karakteristik sebagai berikut: (a) kegiatan pembelajaran memuat langkah-langkah pendekatan kontekstual budaya Lombok yang terdiri dari relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring, (b) memuat konteks budaya Lombok, dan (c) menggunakan instrumen untuk mengukur apresiasi nilai budaya bangsa.
Kata kunci: Perangkat Pembelajaran; Pendekatan Kontekstual; Budaya Lombok; Prestasi Belajar; Apresiasi Nilai Budaya
[English]: Culture is the thing close to a human life including students. Culture is one of the things that can be used as a media to be studied by students while learning about the culture itself. The students will learn best when they have something familiar with their environment, one of them is culture. The aim of this research is to develop and describe the characteristics of mathematics instructional kits for junior high school with contextual approach of Lombok culture oriented to the learning achievement and appreciation of the cultural values which is valid, practical, and effective. This study is developmental research that uses ADDIE’s model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The research shows that the developed instructional kits are valid. It is shown by validation result of lesson plan and student’s worksheet is in good category. The instructional kits that have been developed are practical shown by result of teacher’s assessment, student’s assessment, and implementation of learning in good category. They are also effective based on student’s mathematics achievement and appreciation of cultural values. The mathematics instructional kits have the following characteristics: (a) Learning activities contains steps based on the contextual approach of Lombok culture which consist of relating, experiencing, applying, cooperating, and transferring; (b) It contains Lombok cultural context; and (c) It uses instruments to measure the appreciation of the cultural values.
Keywords: Instructional Kits; Lombok Culture; Contextual Approach; Learning Achievement; The Appreciation of Cultural Value
Pengembangan problem based learning dengan assessment for learning berbantuan smartphone dalam pembelajaran matematika
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model Problem Based Learning (PBL) menggunakan penilaian Assessment for Learning (AfL) berbantuan smartphone, disingkat PBL-AfL-S yang valid, praktis dan efektif untuk mendukung implementasi kurikulum 2013 di SMA. Tahap-tahap pengembangan model PBL-AfL-S terdiri dari penelitian pendahuluan, pengembangan/prototiping, dan evaluasi. Kualitas model PBL-AfL-S mengacu pada kriteria kualitas menurut Nieveen (1999) yaitu valid, praktis, dan efektif. Model PBL-AfL-S diujicobakan di SMA Negeri 3 Klaten dalam dua tahap uji coba. Uji coba tahap I dilaksanakan di kelas XI-IPA 6 dan uji coba tahap II dilaksanakan di kelas XI-IPA 7. Instrumen penelitian terdiri dari: 1) Instrumen penilaian kevalidan komponen model dan perangkat pendukung pembelajaran, 2) Instrumen kepraktisan aktivitas guru dan siswa, dan 3) Instrumen keefektifan yang meliputi angket penilaian diri, lembar penilaian proyek, tes prestasi belajar, dan lembar respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PBL-AfL-S dan perangkat pembelajarannya telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif.
Kata kunci: Pembelajaran; Masalah; Asesmen; Smartphone
[English]: This study aims to develop a Problem Based Learning (PBL) model using Assessment for Learning (AFL) with smartphone, abbreviated as PBL-AfL-S as valid, practical and effective to support the implementation of the 2013 curriculum in High School. The stages of developing the PBL-AfL-S model consist of preliminary research, development or prototyping, and evaluation. The quality criteria of PBL-AfL-S refer to Nieveen (1999), i.e. valid, practical, and effective. The PBL-AfL-S model was piloted in SMA Negeri 3 Klaten in two phases. Tryout 1 was conducted in class XI-IPA 6 and tryout 2 was in class XI-IPA 7. The research instruments consist of: 1) The validity instrument of the model and its learning support tools, 2) the practicality of the teacher’s and students’ activity, and 3) The effectiveness instruments including self-assessment questionnaires, project appraisal sheets, achievement tests, and student response sheets. The results show that the PBL-AfL-S model and learning tools have met the valid, practical and effective criteria.
Keywords: Problem based Learning, Assessment; Smartphon
Analisis kesulitan siswa SMP dalam memahami konsep kubus balok dan alternatif pemecahannya
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa SMP dalam memahami materi kubus balok dan menemukan alternatif pemecahannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah tes geometri dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menguasai konsep kubus dan balok, menemukan rumus luas permukaan kubus balok, dan menggunakan rumus luas permukaan kubus dan balok. Kesulitan menggunakan rumus pada penyelesaian soal sebagai akibat dari menghafal rumus siap pakai, sehingga siswa sering lupa dengan rumus. Alternatif pemecahan kesulitan belajar siswa tersebut, yaitu: (a) Menggunakan aplikasi komputer (Power point, Ms Word dengan SmartArt Graphic) dan software seperti Cabri Geometry, The Geometer’s Sketchpad (GSP), Geometry Expert, Logo, Geogebra, dan Wingeom; (b) Mengaktifkan dengan baik materi prasyarat tentang bangun datar yang menjelaskan sisi-sisi pada bangun ruang; (c) Menerapkan metode penemuan terbimbing menggunakan LKS terbimbing; dan (d) Memperbanyak mengerjakan latihan soal baik yang bersifat kontekstual maupun soal-soal yang bersifat non-kontekstual.
Kata Kunci: Analisis; Kesulitan; Pemahaman; Kubus Balok; Alternatif Pemecahan
[English]: The descriptive research aims to diagnose the difficulties of secondary school students in understanding Cube and Rectangular Prism and formulate the alternative solution. Geometry test and interview are used as the instrument. The subjects are 3 seventh grade students who respectively represent high, medium and low ability in mathematics. This research finds that the students have difficulties in understanding the properties of cube and rectangular prism, inventing the surface area, and using the formula to determine the surface area. The difficulty in using the formula to solve related problems is an effect of memorizing ready-made formula without understanding so the students are easy to forget it. The alternative ways to cope with the difficulties are: (a) Using computer application (PowerPoint, Ms Word with SmarArt Graphic) and other current softwares like Cabri Geometry, The Geometer’s Sketchpad (GSP), Geometry Expert, Logo, Geogebra, and Wingeom; (b) Activating students’ prior knowledge about plane which explains the side of the solid figures; (c) Implementing guided discovery learning with students’ worksheet; and (d) giving variative exercises involving contextual or non-contextual problems.
Keywords: Analysis; Difficulties; Understanding; Cube Prism; Alternative Solutio
Integrasi concise learning method dengan mind mapping dalam pembelajaran matematika di perguruan tinggi
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan, pemahaman konsep, dan respon mahasiswa terhadap pembelajaran CLM yang diintegrasikan dengan mind mapping pada mata kuliah aljabar linier elementer I. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif, dengan subjek penelitian adalah mahasiswa prodi matematika dan pendidikan matematika semester gasal tahun ajaran 2016/2017 yang mengambil mata kuliah aljabar linier elementer I. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan instrumen pendukung yaitu lembar observasi, tes pemahaman konsep, angket respon, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Langkah-langkah pembelajaran CLM yang diintegrasikan dengan mind mapping meliputi preview, participate, process (mengolah informasi dalam bentuk mind mapping), practice, dan produce. 2) Pemahaman konsep mahasiswa mengalami peningkatan setelah pembelajaran. Dan 3) Mahasiswa memberikan respon positif terhadap pelaksanaan pembelajaran CLM yang diintegrasikan dengan mind mapping.
Kata kunci: Concise Learning Method; Mind Mapping; Pemahaman Konsep; Respon; Aljabar Linier Elementer.
[English]: This research aimed to describe the implementation, students’ understanding and their responses on CLM integrated with mind mapping on Linear Elementary Algebra I course, This research was qualitative descriptive research with the subjects involved were students of mathematics and mathematics education on 2016/2017 academic year who took Linear Elementary Algebra I course. The main instrument in this research was the researcher and the supporting instruments used are observation sheet, test, response questionnaire, and interview guide. The results showed that: 1) The steps of CLM integrated with mind mapping include preview, participate, process (process all information into mind mapping), practice, and produce. 2) The students’ understanding of the mathematics concept of were developed. And 3) the students responded positively to the implementation of CLM integrated with mind mapping by showing enjoyment in the course.
Keywords: Concise Learning Method; Mind Mapping; Understanding of Concept; Responses; Linear Elementary Algebra
Kemampuan literasi matematika siswa SMP ditinjau dari gaya belajar
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kemampuan literasi matematika siswa ditinjau dari gaya belajar. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 Mataram kelas VII. Subjek dalam penelitian ini adalah 3 siswa dari 82 siswa kelas VIIIA dan VIIIB yang masing-masing memiliki gaya belajar auditori, visual dan kinestetis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan yaitu angket gaya belajar dan tes kemampuan literasi matematika. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan hasil tes literasi matematika siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Siswa dengan gaya belajar auditori memiliki kemampuan literasi matematika level 4, yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal literasi matematika level 4 (soal nomor 1 dan 2) meskipun mereka kesulitan dalam menyelesaikan soal literasi matematika dengan level 3 (soal nomor 3 dan 4). 2) Siswa dengan gaya belajar visual memiliki kemampuan literasi matematika level 3 yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal literasi matematika level 3 (soal nomor 3 dan 4) dan tidak mampu menyelesaikan soal literasi matematika level 4 (soal nomor 1 dan 2). 3) Siswa dengan gaya belajar kinestetis memiliki kemampuan literasi matematika level 4 yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal literasi matematika level 4 (soal nomor 1) dan level 3 (soal nomor 3 dan 4). Pada soal nomor 2 (level 4) siswa dengan gaya belajar kinestetis kurang teliti sehingga jawaban yang dihasilkan salah.
Kata kunci: Literasi Matematika; Gaya Belajar; Auditori; Visual; Kinestetis
[English]: This research aims to describe and analyze student’s mathematic literacy referring to learning style. This research was conducted at SMPN 1 Mataram for VIII class. The subjects are 3 students from 82 students of class VIIIA dan VIIIB who respectively have auditory, visual and kinesthetic learning style. The method used in this research is qualitative. Instruments used in this research are a questionnaire of learning style and tests of mathematical literacy. Data analysis was conducted descriptively to portray students’ mathematics literacy referring to learning styles. This research shows that: 1) The students with auditory learning style are in the 4th level of mathematical literacy, it is indicated by their ability in solving 4th level math literacy problem (question 1 and 2) although they have difficulties in solving 3th level math literacy problem (questions 3 and 4). 2) The students with visual learning styles are in 3rd level of mathematical literacy indicated by their ability to solve 3rd level math literacy problems (questions 3 and 4) and can’t solve the 4th level math literacy problem (questions 1 and 2). 3) The students with kinesthetic learning styles have 4th level of mathematical literacy shown by their ability to solve 4th level of math literacy problems (question 1) and 3rd level (question 3 and 4). They are less accurate in solving question 2 (4th level) so as they have wrong answer.
Keywords: Mathematics Literacy; Learning Style; Auditory; Visual; Kinestheti
Kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa melalui penerapan model project based learning
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa sesudah penerapan model Project based learning dibandingkan dengan sebelum penerapan model tersebut serta korelasi antara kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian one-group pretest-postest group design. Populasi penelitian ini adalah siswa Madrasah Tsanawiyah Swasta Darul Ulum Banda Aceh sedangkan sampel penelitian yaitu siswa kelas VIII2 sebanyak 30 siswa. Instrumen dalam penelitian ini terdiri atas tes kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Analisis data dilakukan secara kuantitatif menggunakan uji t yaitu Paired Samples T-Test untuk pengujian perbedaan skor yang diperoleh siswa sebelum pembelajaran (pretes) dan setelah pembelajaran (postes). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa setelah penerapan model Project based learning lebih baik dari sebelum penerapan. Selain itu, terdapat hubungan antara kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa yang belajar melalui penerapan model Project based learning. Hubungan kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah berada pada kategori cukup.
Kata kunci: Berpikir Kreatif; Pemecahan Masalah; Project based learning
[English]: This research aims to understand the students’ creative thinking and problem solving ability after implementing project based learning compared to before implementation and correlation between creative thinking and problem solving ability. It is an experiment research with one-group pretest-postest group design. The population is all students in Madrasah Tsanawiyah Swasta Darul Ulum Banda Aceh, 30 students are selected as samples. The instruments used are creative thinking and problem solving test. Data analysis used t-test, i.e. paired samples T-test to examine score difference before the implementation of project based learning (pretest) and after it (posttest). The result shows that creative thinking and problem solving ability after implementation is better than before it. In addition, there is a correlation between creative thinking and problem solving ability in ‘enough’ category.
Keywords: Creative Thinking; Problem Solving; Project Based Learning
 
Membangun koneksi matematis siswa dalam pemecahan masalah verbal
[Bahasa]: Penelitian ini mendeskripsikan proses membangun koneksi matematis dalam pemecahan masalah verbal atau soal cerita. Pada proses penyelesaian masalah verbal, diidentifikasi beberapa jenis koneksi yang dibangun siswa. Jenis soal dikembangkan berdasarkan karakteristik koneksi matematis menurut NCTM, yaitu koneksi antar topik matematika, koneksi dengan disiplin ilmu lain, dan koneksi dalam kehidupan sehari-hari. Pengumpulan data dilakukan melalui hasil kerja siswa dan wawancara semi terstruktur terhadap 2 orang subjek yang dipilih dengan tehnik purposive sampling. Penelitian ini mengunkap ada tujuh jenis koneksi yang dibangun oleh siswa pada saat menyelesaikan masalah verbal, yaitu: koneksi pemahaman, koneksi jika maka, koneksi representasi yang setara, koneksi hirarki, koneksi perbandingan melalui bentuk umum, koneksi prosedur, dan koneksi justifikasi dan representasi.
Kata kunci: Koneksi Matematis; Pemecahan Masalah; Soal Verbal
[English]: The current research aims to describe the process of developing mathematical connection in solving verbal or word mathematics problems. In solving problems, the mathematical connections developed by the subjects are identified. The mathematics problems refer to the characteristics of mathematical connections by NCTM, i.e. connections within mathematics topics, connection with other fileds, and connections with daily life. Data collection is conducted through students’ work and semi-structure interview with two subjects. The subjects are selected through purposive sampling. This research reveals seven kinds of mathematical connections developed by the subjects in solving verbal mathematics problems, i.e. connection in understanding, if then connection, equal representation connection, hierarchy connection, proportion connection through general form, procedure connection, and justification and representation connection.
Keywords: Mathematical Connection; Problem Solving; Verbal Problem
Implikasi multimedia interaktif berbasis flash terhadap motivasi dan prestasi belajar matematika
[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan multimedia berbasis flash pada mata kuliah statistika ditinjau dari motivasi belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan desain pretest-posttest non-equivalent group design. Penelitian ini dilaksanakan di STKIP PGRI Pacitan pada tahun 2016. Instrumen yang digunakan adalah tes prestasi belajar dan angket motivasi belajar mahasiswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji one sample t-test, uji T2 Hotelling’s, dan uji t-Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan multimedia berbasis flash pada mata kuliah statistika lebih efektif daripada pembelajaran menggunakan media powerpoint ditinjau dari motivasi belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Prestasi belajar statistika mahasiswa yang menggunakan media flash lebih baik daripada mahasiswa yang menggunakan media powerpoint. Demikian halnya pada aspek motivasi belajar, mahasiswa yang menggunakan flash mengalami peningkatan motivasi yang lebih signifikan daripada mahasiswa yang menggunakan media powerpoint.
Kata kunci: Multimedia Flash; Motivasi Belajar; Prestasi Belajar; Statistika
[English]: This study aims to test the effectiveness of the use of flash-based multimedia in the course of statistics toward learning motivation and student achievement. This research is a quasi-experimental research with pretest-posttest nonequivalent group design. This research was conducted at STKIP PGRI Pacitan in 2016. The instrument used was the test of student achievement and questionnaire of student's motivation. Data analysis techniques used one sample t-test, T2 Hotelling's test, and t-Bonferroni test. The results showed that the use of flash-based multimedia in the course of statistics is more effective than learning using powerpoint in terms of learning motivation and student achievement. Students’ achievement in statistics using flash media are better than students who use powerpoint. Similarly, in the aspect of motivation to learn, the motivation of students who use flash get increased significantly than students who use powerpoint.
Keywords: Flash Multimedia; Learning Motivation; Achievement; Statistic
Berpikir kritis siswa ditinjau dari gaya kognitif visualizer dan verbalizer dalam menyelesaikan masalah geometri
[Bahasa]: Strategi siswa dalam menyelesaikan masalah matematika tentunya tidak lepas dari cara siswa menerima dan mengolah informasi yang disebut sebagai gaya kognitif. Siswa mempunyai gaya kognitif yang berbeda ketika belajar. Ada siswa memiliki gaya kognitif visualizer dan ada juga yang memiliki gaya kognitif verbalizer. Perbedaan gaya kognitif tersebut akan memicu kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Daru’l Hikam Kota Cirebon dengan menggunakan metode kuantitatif jenis kausal-komparatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 45 siswa, yaitu 24 siswa visualizer dan 21 siswa verbalizer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa visualizer memperoleh nilai rata-rata sebesar 50,15 sedangkan siswa verbalizer memperoleh nilai rata-rata 40,05. Apabila dilihat dari rata-rata persentase hasil tiap aspek berpikir kritis, siswa visualizer dapat dikategorikan cukup baik, sedangkan siswa verbalizer dapat dikategorikan kurang. Hal ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan berpikir kritis antara siswa dengan gaya kognitif visualizer dan siswa dengan gaya kognitif verbalizer dalam menyelesaikan masalah geometri.
Kata kunci: Berpikir Kritis; Gaya Kognitif; Pemecahan Masalah; Geometri
[English]: Student's strategy in solving mathematics problem cannot be separated from the way students receive and process the information which is called as cognitive style. Students have different cognitive styles as they learn. They tend to have visualizer cognitive style and the others have verbalizer. The different cognitive styles will trigger students' critical thinking skills. This research was conducted in Madrasah Tsanawiyah Daru'l Hikam Cirebon using the quantitative method of a causal-comparative. The sampling technique used cluster random sampling, with a total sample of 45 students, 24 students are visualizer and the remaining is verbalizer. The results showed that the visualizer students obtained an average score of 50.15, while the verbalizer students got 40.05. Viewing from the average percentage of the results of each aspect of critical thinking, visualizer students can be categorized quite well, while the verbalizer students can be categorized less. This research implies that there are differences in critical thinking between students with visualizer cognitive style and students with verbalizer in solving geometry problems.
Keywords: Critical Thinking; Cognitive Style; Problem-solving; Geometr