e-Journal STT Intheos Surakarta
Not a member yet
370 research outputs found
Sort by
Kekuasaan Politik, Rivalitas Keagamaan, dan Xenofobia dalam Sejarah Kemartiran Kristen di Asia
Abstract. Martyrdom plays a fundamental role in shaping the identity and faith journey of Christians in Asia. This study aimed to obtain understanding the factors that shape Christian martyrdom in Asia, especially the role of political power, religious rivalry, and xenophobia. Using a historical-comparative method, this study analyzed cases of persecution from the early Christian period to the modern era, such as in the Roman Empire, Persia, China, and Japan. The result of the study showed that martyrdom is a phenomenon that is closely related to social, political, and cultural dynamics. Thus, the results of this study can be a guide for more contextual evangelism efforts to minimize conflict and violence.Abstrak. Kemartiran memainkan peran fundamental dalam membentuk identitas dan perjalanan iman kekristenan di Asia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang membentuk kemartiran Kristen di Asia, terutama peran kekuasaan politik, rivalitas agama, dan xenofobia. Dengan menggunakan metode historis-komparatif, penelitian ini menganalisis kasus-kasus persekusi dari periode awal kekristenan hingga abad modern, seperti di Kekaisaran Romawi, Persia, Tiongkok, dan Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemartiran merupakan fenomena yang sangat terkait dengan dinamika sosial, politik, dan budaya. Dengan demikian hasil penelitian ini dapat menjadi petunjuk bagi upaya penginjilan yang lebih bersifat kontekstual sehingga meminimalkan terjadinya konflik dan kekerasan
Paradigma Misi dalam Konteks Kemajemukan Agama: Analisis Matius 5:13-16 sebagai Teks Misi
Abstract. The former mission paradigm often displays an arrogant, triumphalistic and imperialist face. Such missions often trigger disharmony in a society characterized by religious pluralism. Therefore, this paper intended to propose a new paradigm in missions by starting from the text Matthew 5:13-16 as a mission text, and not from the text Matthew 28:18-20 which is usually used as a paradigmatic text in missions. The method used in this study was context and literary analysis of Matthew 5:13-16. The result is that the mission should aim public glory for God, and not for the main aim of increasing the number of the religion adherent, through living production that is able to salt and light the public space.Abstrak. Paradigma misi lama seringkali menampilkan wajah yang arogan, triumfalistik, dan imperialis. Misi yang demikian sering kali memantik ketidakharmonisan dalam masyarakat dengan ciri kemajemukan agama. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud untuk mengusulkan paradigma baru dalam misi dengan berangkat dari teks Matius 5:13-16 sebagai teks misi, dan bukan dari teks Matius 28:18-20 yang biasanya dijadikan sebagai teks paradigmatik dalam misi. Metode yang digunakan dalam kanjian ini adalah analisis konteks dan literer Matius 5:13-16. Hasilnya, bahwa misi sudah seharusnya bertujuan untuk menghasilkan kemuliaan bagi Allah, dan bukan untuk tujuan utama menambah jumlah pengikut, melalui karya hidup yang mampu menggarami dan menerangi ruang publik
Analisis Implementasi Capacity Building dalam Penguatan Organisasi Sekolah Tinggi Teologi
Abstract. Theological Colleges (STT) in Indonesia have an important role in preparing religious leaders and strengthening religious organizations. Facing the challenges, STT needs organizational strengthening based on the development of right management science. This study aimed to analyze the implementation of Merilee Serrill Grindle's capacity building theory in organizational strengthening at STT. Using descriptive qualitative methods, this research was conducted through observation, document study, and in-depth interviews with leaders and staff at STT Satyabhakti (Sati). The result of this research showed that the implementation of capacity building in organizational strengthening at STT Sati is going well, but it is necessary to improve the activities of the incentive system and organizational structure, as well as maximizing the function of leaders in developing organizational goals and objectives.Abstrak. Sekolah Tinggi Teologi (STT) di Indonesia memiliki peran penting dalam mempersiapkan pemuka agama dan memperkuat organisasi keagamaan. Menghadapi tantangan dalam perkembangan zaman STT perlu melakukan penguatan organisasi berdasarkan perkembangan ilmu manajemen yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan teori capacity building Merilee Serrill Grindle dalam penguatan organisasi STT. Dengan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini dilakukan melalui observasi, studi dokumen, dan wawancara mendalam kepada pimpinan dan staf di STT Satyabhakti (Sati). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi capacity building dalam penguatan organisasi di STT Sati berjalan dengan baik, namun perlu dilakukan peningkatan pada aktivitas sistem insentif dan struktur organisasi, serta pemaksimalan fungsi pimpinan dalam mengembangkan tujuan dan sasaran organisasi
Dialektika Semantik Strukturalisme, Post Strukturalisme dan Teologi Injili
Abstract. Meaning is correlated with actual actions, both in communication and ideology and social relations, so that the issue of meaning is now the focus of contemporary scientific study and criticism. The Christian faith, which specifically constructs a system of theology, worldview and ethics based on Biblical texts, is also faced with the challenge of interpreting the meaning of Biblical texts. From this struggle, this article discusses the issue of semantic theory from three perspectives, namely: structuralism, post-structuralism, and evangelical theology. Through this article, the author aimed to analyze semantic issues so that it is hoped that it will be able to present appropriate semantic constructions for approaches to Christian hermeneutics and theology in facing existing challenges. The method used was literature study. The results of this research showed that there are several similarities between the semantic theory of structuralism and Christian theology which is characterized by a constructive approach to meaning with several important notes. On the other hand, these two approaches are not in line with the semantic pattern of post-structuralism which is deconstructive, radical and tends to be agnostic.Abstrak. Makna terkorelasi dengan tindakan aktual, baik dalam komunikasi maupun ideologi dan relasi sosial, sehingga persoalan makna kini menjadi fokus kajian dan kritik keilmuan kontemporer. Iman Kristen yang secara khusus mengonstruksikan sistem teologi, wawasan dunia hingga etika yang berbasis pada teks-teks Alkitab, juga diperhadapkan dengan tantangan persoalan pemaknaan teks-teks Kitab Suci. Dari pergumulan tersebut, artikel ini membahas mengenai persoalan teori semantik dalam tiga perspektif yaitu: strukturalisme, post strukturalisme, dan teologi Injili. Melalui artikel ini penulis hendak mengurai persoalan semantik sehingga diharapkan mampu menghadirkan konstruksi semantik yang tepat bagi pendekatan hermeneutika dan teologi Kristen dalam menghadapi tantangan yang ada. Metode yang digunakan adalah studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa kesamaan antara teori semantik strukturalisme dengan teologi Kristen yang bercirikan pendekatan makna konstruktif dengan beberapa catatan penting. Sebaliknya, kedua pendekatan tersebut tidak sejalan dengan pola semantik post strukturalisme yang dekonstruktif, radikal dan cenderung agnostik
Manusia sebagai Citra Allah di Bait Semesta: Tinjauan terhadap Imago Dei, Homo Liturgicus, dan Implikasi terhadap Pendidikan Kristen
Abstrak. Pendidikan Kristen yang terlalu menekankan aspek rasio dari natur manusia terpengaruh oleh rasionalisme yang mereduksi konsep imago Dei. Di dalam tulisan ini, saya menyajikan studi biblis dan ekstrabiblis tentang gambar dan rupa Allah. Visi citra Allah yang diciptakan untuk menyembah Allah dan mewakili pemerintahan-Nya di bait semesta merupakan kemuridan yang menjadi tujuan dari pendidikan Kristen. Konsep imago Dei di bait semesta ini diperbandingkan juga dengan model homo liturgicus yang diajukan oleh James K. A. Smith. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pendidikan Kristen tidak berhenti pada hanya mengomunikasikan bahan ajar Kristiani, melainkan pembentukan orang-orang yang hasratnya diarahkan kepada Kerajaan Allah.Abstract. Christian education which places too much emphasis on the rational aspect of human nature is influenced by rationalism which reduces the concept of the imago Dei. In this article, I present a biblical and extrabiblical study of the image and likeness of God. The vision of the image of God created to worship God and represent His reign in the universal temple is the discipleship that is the goal of Christian education. The concept of the imago Dei in this cosmic temple is also compared with the homo liturgicus model proposed by James K. A. Smith. The results of this study show that Christian education does not stop at only communicating Christian teaching materials, but rather forms people whose desires are directed towards the Kingdom of God
Agama Dan Etika Politik: Peran Gereja dalam Diskursus Etika Politik Era Reformasi
Abstract. The argument of this research is that the church has a moral and ethical responsibility to conduct political education through discourse on political ethics in public spaces. This is based on historical facts that the Cristianity since the independence movement until now has had potential power and significant influence in politics in Indonesia. This research used the hermeneutic phenomenology method in the context of socio-political history. The result of the research showed that the church is quite proactive in responding to national and state issues in the Reformation Era, but it is still not optimal to conduct discourse on political ethics in public spaces. The political role of the church in general is still limited to carrying out liturgical ritual activities, praying together, and issuing formal shepherding calls at every election event.Abstrak. Argumentasi penelitian ini adalah gereja memiliki tanggung jawab moral dan etis melakukan pendidikan politik melalui diskursus etika politik di ruang-ruang publik. Hal ini didasarkan atas fakta sejarah bahwa agama sejak masa pergerakan perjuangan kemerdekaan sampai dengan masa kini memiliki kekuatan potensial dan pengaruh signifikan dalam perpolitikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi hermeneutik dalam konteks sejarah sosio-politik. Hasil peneliteian menunjukkan bahwa gereja cukup pro aktif menyikapi persoalan bangsa dan negara di Era Reformasi, namun masih kurang maksimal memanfaatkan ruang publik untuk melakukan diskursus etika politik. Peran politik gereja secara umum masih sebatas melakukan kegiatan ritual liturgis, doa bersama, dan mengeluarkan seruan formal penggembalaan pada setiap perhelatan pemilu
Dunia yang Lestari: Eko-Eskatologi Gereja Toraja Berdasarkan Eskatologi Jürgen Moltmann
Abstract. The Toraja Church in its confession also discusses eschatology but does not adequately explain the concept of a sustainable world. With these issues in mind, the aim of this research is to enrich the Toraja Church Confession's conversation regarding the world and the end times from Jürgen Moltmann's eschatological perspective. This research was conducted by library research approach. The result of the research showed that the concept of a sustainable world must be understood in the cosmic escatology dimension, namely a new heaven and earth in quality. There, the Church plays an active role today as an eschatological response to ecology.Abstrak. Gereja Toraja dalam pengakuan imannya juga membahas eskatologi, namun belum menjelaskan secara memadai mengenai konsep dunia yang lestari. Dengan persoalan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memperkaya percakapan Pengakuan Gereja Toraja mengenai dunia dan zaman akhir dari perspektif eskatologi Jürgen Moltmann. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep dunia yang lestari harus dipahami dalam dimensi eskatologi kosmik, yaitu langit dan bumi yang baru secara kualitas. Di situ peran aktif Gereja adalah sebagai respons eskatologis terhadap lingkungan hidup
Pendidikan Kristiani bagi Penghapusan Kekerasan Seksual yang Dialami Anak Perempuan Penyandang Disabilitas untuk Keadilan Gender
Abstract. Sexual violence experienced by girls with disabilities is one of the Indonesian contexts. This context should not be left alone. Various methods have been taken. This method should also be captured by Christian Education. With the theological provision of Jesus healing a woman who was bleeding, the construction of Christian education began to be built. Not only that, the challenges of the construction also need to be considered. Therefore, this article attempts to offer such discussions using library research methods. In the end, construction was built by bringing awareness to build action to eliminate sexual violence experienced by girls with disabilities for gender justice.Abstrak. Kekerasan seksual yang dialami anak perempuan penyandang disabilitas menjadi salah satu konteks di Indonesia. Konteks ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Beragam cara telah ditempuh. Cara ini seharusnya turut ditangkap oleh Pendidikan Kristiani. Dengan bekal teologi dari Yesus menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan, konstruksi Pendidikan Kristiani mulai dibangun. Tidak hanya itu, tantangan dari konstruksi tersebut juga perlu dipertimbangkan. Oleh karenanya, artikel ini mencoba menawarkan diskusi-diskusi demikian dengan menggunakan metode penelitian pustaka. Pada akhirnya, konstruksi terbangun dengan menghadirkan kesadaran membangun aksi penghapusan kekerasan seksual yang dialami anak perempuan penyandang disabilitas untuk keadilan gender
Optimalisasi Penggunaan Media Digital oleh Lembaga Keagamaan untuk Pendidikan Agama: Sebuah Analisis dan Rekomendasi Strategi
Abstract. This research aimed to analyze the use of digital media by Catholic religious institutions in providing substantial and in-depth religious education material. The research method used is netnography, with the target of researching the use of digital media as a means of delivering religious education material by Catholic religious institutions in East Flores and Lembata Regencies. The research result showed that information or religious education material delivered via digital media is still lacking in substance, depth and relevance to spiritual needs, although it must also be acknowledged that it has provided an emotional and visual experience for students.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media digital oleh lembaga-lembaga keagamaan Katolik dalam penyediaan materi pendidikan agama yang substansial dan mendalam. Metode penelitian yang digunakan adalah netnografi, dengan sasaran penelitian penggunaan media digital sebagai alat penyampaian materi pendidikan agama oleh lembaga-lembaga keagamaan Katolik di Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi atau materi pendidikan agama yang disampaikan melalui media digital masih kurang substantif, mendalam, dan relevan dengan kebutuhan spiritual, meskipun juga harus diakui telah memberikan pengalaman emosional dan visual bagi peserta didik