e-Journal STT Intheos Surakarta
Not a member yet
    370 research outputs found

    Strategi Gereja dalam Misi Penginjilan kepada Generasi Alpha

    Full text link
    Abstract. The purpose of this research is to describe the church's strategy in its mission of evangelizing the Alpha generation. Alpha generation is the first truly post-Christian generation and is numerically the largest in population demographic. This makes the Alpha generation the most influential religious force. This research was conducted using the literature study method. The results of this research show that this generation is spiritually shaped a lot by digital and virtual media. Therefore, the church needs to utilize digital and virtual media in its mission to evangelize them, while maintaining the role of the family, especially fathers.Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan strategi gereja dalam misi penginjilan kepada generasi Alpha. Generasi Alpha merupakan generasi pertama yang benar-benar pasca Kristen dan secara numerik merupakan yang terbesar dalam demografi kependudukan. Hal ini menjadikan generasi Alpha sebagai kekuatan agama paling berpengaruh. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa generasi ini secara spiritual banyak dibentuk oleh media-media digital dan virtual. Oleh karena itu, gereja perlu memanfaatkan media-media digital dan virtual dalam misi penginjilan kepada mereka, dengan tetap mempertahankan peran keluarga, terutama ayah

    Teologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal

    Full text link
    Abstract. The conflict that occurred in Ambon in 1999 between Christians and Muslims still left deep trauma for the people in the city of Ambon, especially for members of the congregation at the Church X. This research aimed to examine the post conflict traumatic experience on the Church X conggregations and  seeking remedial steps for them. The method used in this research was a case study with a trauma theology approach based on the culture of the Orang Basudara.The research result showed that the integration of trauma theology with local cultural philosophy can be an effective means for healing trauma resulting from communal conflict because it departs from a philosophy of life that has been lived together regardless of religious differences.Abstrak. Konflik yang terjadi di Ambon pada tahun 1999 antara umat Kristen dan Muslim masih meninggalkan trauma yang mendalam bagi masyarakat di kota Ambon, khususnya bagi warga jemaat di Gereja X. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman traumatik di Gereja X pasca konflik sekaligus mengupayakan langkah-langkah pemulihan bagi korban di Gereja X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan teologi trauma berbasis budaya Orang Basudara. Hasil penelitian menunjukan bahwa integrasi antara teologi trauma dengan falsafah budaya lokal dapat menjadi sarana efektif bagi penyembuhan trauma akibat konflik komunal oleh karena berangkat dari falsafah hidup yang selama ini dihidupi bersama terlepas dari adanya perbedaan agama

    Keutamaan Kristus dalam Karya Pemulihan-Nya: Pembacaan Kolose 1:20 Melalui Apokatastasis Balthasar dan Ware

    Full text link
    Abstract. This article seeks to show God's work of restoration of all things in order to restore all creation to the order of creation. Using Hans Urs von Balthasar and Kallistos Ware's thoughts on apocatastasis as a lens through which I read Colossians 1:20, I argue that this restoration of all things demonstrates God's Christocentric and comprehensive redemptive work. In Christ, this comprehensive redemption brings a memory to the goodness and beauty of God's creation and has a dimension of hope for all creatures, to be restored to become new creations.Abstrak. Artikel ini berupaya memperlihatkan karya pemulihan Allah atas segala sesuatu yang bertujuan untuk mengembalikan seluruh ciptaan kepada tatanan penciptaan. Dengan menggunakan pemikiran Hans Urs von Balthasar dan Kallistos Ware tentang apokatastasis (konsep pemulihan segala sesuatu) sebagai lensa dalam membaca teks Kolose 1:20, saya beragumen bahwa pemulihan segala sesuatu ini memperlihatkan karya penebusan Allah yang Kristosentris dan bersifat menyeluruh. Di dalam Kristus penebusan yang bersifat menyeluruh ini menghadirkan ingatan kepada kebaikan dan keindahan ciptaan Allah dan berdimensi pengharapan bagi seluruh makhluk, yaitu dipulihkan untuk menjadi ciptaan baru

    Eklesiologi Disabilitas dalam Perspektif Budaya Jawa

    Full text link
    Abstract. This research question is how the principle of disability ecclesiology are seen from the perspective of the philosophy of welcoming guest in Javanese culture is. To answer this question, the author used a descriptive qualitative approach. The data collection technique was carried out by means of participant observation, where the author was present and directly involved in ministry activities by the Special Needs Congregation Commission (KJBK) at the Javanese Christian Church (GKJ) Klaten. The result of the research showed that the Javanese philosophy of welcoming guest can become the spirit and philosophical-theological basis for disability ministry. Disability ecclesiology is a principle of collaborative and participatory church ministry. In the end, disability ecclesiology places disabilities not as the others but as fellow members of the body of Christ.Abstrak. Bagaimana prinsip eklesiologi disabilitas dalam perspektif filsafat menerima tamu dalam budaya Jawa inilah yang menjadi pertanyaan penelitian ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipatif, di mana penulis hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan pelayanan oleh Komisi Jemaat Berkebutuhan Khusus (KJBK) di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat penerimaan tamu masyarakat Jawa dapat menjadi semangat dan dasar filosofis-teologis bagi pelayanan disabilitas. Eklesiologi disabilitas menjadi prinsip pelayanan gereja yang bersifat kolaboratif dan partisipatif. Pada akhirnya, eklesiologi disabilitas menempatkan disabilitas bukan sebagai liyan melainkan sebagai sesama bagian dari tubuh Kristus

    Pendidikan Teologi Multikultural: Belajar Dari Pendidikan Multikultural James A. Banks

    Full text link
    Abstract. The Evangelical Christian Church (GKI) in the Land of Papua is a multicultural church with 250 tribes in Papua and all ethnic groups inhabiting Papua Land. GKI in the Land of Papua is not only faced with a multicultural congregation, but also cultural changes that occur and affect the lives of the Papuan people. In such conditions, many problems arise, along with the emergence of primordialist thinking that leads to internal and external conflicts. Therefore, a multicultural theological education is needed that has an impact on harmony, where everyone can accept and appreciate the differences. In this article, I try to describe multicultural theological education using the concept of James A. Banks' multicultural education. Through dialogue between the concept of James A. Banks' multicultural education and GKI in the Land of Papua as a multicultural church, multicultural theological education is present for GKI in the Land of Papua, namely identity awareness, cultural communication, transformation, spirituality and values.Abstrak. Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua merupakan gereja multikultural dengan 250 suku di Papua dan semua suku bangsa yang mendiami Tanah Papua. GKI di Tanah Papua tidak hanya berhadapan dengan jemaat yang multikultural, tetapi juga perubahan budaya yang terjadi dan memengaruhi kehidupan masyarakat Papua. Dalam kondisi demikian, banyak masalah yang muncul, seiring dengan munculnya pemikiran primodialisme yang berujung pada konflik internal maupun eksternal. Karena itu dibutuhkan sebuah pendidikan teologi multikultural yang berdampak pada keharmonisan, di mana setiap orang bisa saling menerima dan menghargai perbedaan. Dalam tulisan ini, saya berupaya menguraikan pendidikan  teologi multikultural dengan menggunakan konsep pendidikan multikultural James A. Banks. Melalui dialog antara konsep pendidikan multikultural James A. Banks dan GKI di Tanah Papua sebagai gereja multikultural, maka hadir pendidikan teologi multikultural bagi GKI di Tanah Papua, yaitu kesadaran identitas, komunikasi budaya, transformasi, spiritualitas dan nilai

    The Homeless Liturgy: Meliturgikan Ratapan, Harapan, dan Transformasi Kaum Miskin

    Full text link
    Abstract. Poverty is a well-known and complex issue. Poverty has a bad impact on the poor. Thus, poverty is the duty of society, including the church. The purpose of this paper is to investigate the relationship between liturgy and poverty. The homeless liturgy is the phrase selected to describe liturgical practices in the face of poverty. This essay was conducted by socio-liturgical studies and field research. This essay suggests that the homeless liturgy is a manifestation of the church's preference for the poor, which speaks hope-lament, liberation, and promotes transformation.Abstrak. Kemiskinan adalah permasalahan klasik dan kompleks. Kemiskinan berdampak pada keberlangsungan hidup orang banyak. Untuk itu, kemiskinan bukan hanya menjadi tanggung jawab negara, melainkan juga masyarakat dan termasuk gereja. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi relasi-interaksi liturgi dan kemiskinan. Homeless liturgy merupakan istilah yang dipilih untuk merepresentasikan praktik berliturgi di tengah-tengah kemiskinan. Melalui kajian sosio-liturgis dan penelitian lapangan, artikel ini menyimpulkan bahwa homeless liturgy merupakan wujud sikap keberpihakan gereja terhadap mereka yang miskin, yang menyuarakan harapan-ratapan, yang membebaskan dan menggerakkan transformasi

    Resolusi Konflik Berbasis Permohonan Kelima dalam Doa Bapa Kami dan Purpur Sage dalam Masyarakat Karo

    Full text link
    Abstract. The phrase of kαὶ ἄφες ἡμῖν τὰ ὀφειλήματα ἡμῶν … (and forgive us our debts) in Matthew 6:12 requires forgiveness of others' faults to obtain divine forgiveness. By using the word analysis approach and the Sermon on the Mount in The Gospel of Matthew as a framework, forgiveness in the fifth petition of the Lord's Prayer is a marker and moral ethic of the disciples' identity. The theology of forgiveness which requires forgiveness of others' sins, which is built on an analysis of purpur sage based cultural reconciliation in Karo society, can become an agreement to conflict resolution in the Karo-Christian community.Abstrak. Frasa kαὶ ἄφες ἡμῖν τὰ ὀφειλήματα ἡμῶν … (dan ampunilah kami akan kesalahan kami) dalam Matius 6:12 seolah mensyaratkan pengampunan atas kesalahan sesama untuk mendapatkan pengampunan illahi. Dengan menggunakan Khotbah di Bukit dalam Injil Matius sebagai bingkai kerja atau hermeneutical framework, pengampunan pada permohonan kelima (the fifth petition) dalam Doa Bapa Kami merupakan penanda kualitas dan identitas para murid. Teologi pengampunan yang mensyaratkan pengampunan atas dosa sesama yang dibangun dalam analisis rekonsiliasi berbasis kultural purpur sage dalam masyarakat Karo menjadi tawaran resolusi konflik dalam komunitas Karo-Kristen

    Meretas Jalan Pembebasan: Hermeneutik Silang Budaya antara Cerita Rakyat Perempuan-Perempuan Pelarian dan Ratu Wasti

    Full text link
    Abstract. The topic discussed in this article is the issue of gender justice related to sex discrimination and violence in a patriarchal society, where women lose their inspiring voice. Christian women can look for values in the Bible, but sometimes they only find that women's voices that are very weak because of patriarchal gender bias. They can trace their path of searching for spiritual riches in their oral traditions, namely folklore. Based on this background, this article offers a cross-cultural reading of the Bible between the authority of values originating from folklore and other local wisdom, and the authority of the Bible as the basis for church teaching. The cultural context of Mamasa and the stories of “Runaway Women” will be in dialogue with the story of Queen Vashti in the book of Esther. As the result, women's struggle in seeking gender justice can be achieved if relationships and networks of empowering power are built with other women around them.Abstrak. Topik yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah seputar persoalan keadilan gender terkait diskriminasi seks dan kekerasan dalam masyarakat yang patriarkhal, di mana perempuan kehilangan suara inspirasinya. Para perempuan Kristen dapat saja mencari-cari pijakan nilai  dalam Akitab, namun terkadang hanya menemukan kenyataan bahwa suara-suara perempuan di sana sangat lemah karena bias gender yang patriarkhal. Mereka dapat menyusuri jalan pencarian mereka dalam kekayaan spiritual dalam tradisi lisan mereka, yaitu cerita rakyat. Dengan latar belakang tersebut, tulisan ini menawarkan pembacaan Alkitab silang budaya antara otoritas nilai yang bersumber dari cerita rakyat dan kearifan lokal lainnya, dan otoritas Alkitab sebagai dasar pengajaran gereja. Konteks kultural Mamasa dan cerita “Perempuan-perempuan Pelarian” akan didialogkan dengan kisah Ratu Wasti dalam kitab Ester. Hasilnya, perjuangan perempuan dalam mengusahakan keadilan gender apabila terbangun relasi dan jejaring kekuatan pemberdaya dengan perempuan lain di sekitarnya

    Mengurung Kebebasan dan Kebiasaan Manusia Melalui Keutamaan-keutamaan Teologis: Perspektif Karl Rahner

    Full text link
    Abstract. This article explores Karl Rahner's theological perspective on the intersection of human freedom, habit, and theological virtues. Rahner offers a distinctive idea of human freedom in the context of divine grace and the theological virtues of faith, hope, and love. This study examines how theological virtues function as transformative structures that shape human freedom and habit. The method used in this study was a literature study of Karl Rahner's thought. The results of this study showed that true freedom is not the absence of limitations, but rather the ability to respond authentically to the divine call. This call directs humans towards a deeper communion with God and others. Rahner's views highlight the inevitable connection between human freedom, habit, and theological virtues in the context of Christian faith.Abstrak. Artikel ini mengeksplorasi perspektif teologis Karl Rahner mengenai persinggungan antara kebebasan manusia, kebiasaan, dan keutamaan-keutamaan teologis. Rahner menawarkan sebuah gagasan yang khas tentang kebebasan manusia dalam konteks anugerah ilahi dan keutamaan-keutamaan teologis, yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Penelitian ini mengkaji bagaimana keutamaan teologis berfungsi sebagai struktur transformatif yang membentuk kebebasan dan kebiasaan manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka terhadap pemikiran Karl Rahner. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa kebebasan sejati bukan sebagai ketiadaan batasan, melainkan sebagai kemampuan untuk merespons secara otentik terhadap panggilan ilahi. Panggilan ini mengarahkan manusia menuju persekutuan yang lebih dalam dengan Tuhan dan sesama. Pandangan Rahner menyoroti keterkaitan yang tidak terelakkan antara kebebasan manusia, kebiasaan, dan keutamaan teologis dalam konteks iman Kristen

    Iman yang Hidup Melalui Perjumpaan dengan Budaya: Studi Etnografi Praktik Sunat di Kalangan Umat Kristen Sunda

    Full text link
    Abstract. Among Christians from the Sundanese tribe, there are pros and cons towards the tradition of circumcision. There are those who carry out circumcision and there are those who don't. Each of these practices also has various reasons. Therefore, this research aimed to express how Sundanese Christians live their faith while living in a society with traditions that seem contrary to their faith. The method used in this research was the ethnographic method. The results showed that the acceptance or rejection of circumcision cannot be separated from family background and the beliefs held before becoming a Christian. Thus it can be concluded that faith will become dynamic when it encounters cultural realities in society.Abstrak. Di kalangan orang Kristen yang berasal dari suku Sunda terdapat sikap pro dan kontra terhadap tradisi sunat. Ada yang melaksanakan sunat dan ada yang tidak. Masing-masing sikap tersebut juga memiliki alasan yang beragam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran bagaimana orang Kristen Sunda menghayati imannya di saat bersamaan hidup dalam masyarakat dengan tradisi yang terasa bertentangan dengan iman tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi. Hasilnya menunjukkan bahwa sikap menerima atau menolak sunat tidak dapat dilepaskan dari latar belakang keluarga dan kepercayaan yang dianut sebelum menjadi orang Kristen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa iman akan menjadi dinamis ketika berjumpa dengan realitas budaya di tengah masyarakat

    356

    full texts

    370

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal STT Intheos Surakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇