e-Journal STT Intheos Surakarta
Not a member yet
    370 research outputs found

    Dari Injil ke Realitas: Tantangan Spiritual dan Sosial di Papua Pasca-Misi Ottow Dan Geisler

    Full text link
    Abstract. Papua has received the Gospel since 1855, yet the anticipated social transformation has not been fully realized. Structural poverty, poor quality of education, moral degradation, and development inequality reveal a significant gap between spiritual growth and social change. This study aimed to explore the role of the church in embodying shalom through a practical theological approach. Employing a qualitative method framed by Don S. Browning and Richard R. Osmer’s practical theological cycle, this research examined historical, social, and theological reflections. The findings indicate that the stagnation of social transformation is primarily influenced by three factors: the dogmatization of church ministry, uneven modernization, and limited access to education. Therefore, an incarnational praxis model that integrates contextual evangelism, early faith formation through Early Childhood Christian Education aligned with local culture, and synergy between the church, government, and community is a necessity.Abstrak. Papua telah menerima Injil sejak 1855, namun transformasi sosial yang diharapkan belum sepenuhnya terwujud. Kemiskinan struktural, rendahnya mutu pendidikan, degradasi moral, serta ketimpangan pembangunan menunjukkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan rohani dan perubahan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran gereja dalam menghadirkan shalom melalui pendekatan teologi praktis. Menggunakan metode kualitatif dengan kerangka lingkaran teologi praktis Don S. Browning dan Richard S. Osmer, penelitian ini menelaah data historis, sosial, serta refleksi teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stagnasi transformasi sosial dipengaruhi oleh tiga hal utama: dogmatisasi pelayanan gereja, modernisasi yang timpang, dan rendahnya akses pendidikan. Karena itu diperlukan model praksis inkarnasional yang mengintegrasikan penginjilan kontekstual, formasi iman sejak usia dini melalui Pendidikan Kristen Anak Usia Dini yang selaras dengan budaya lokal, serta sinergi antara gereja, pemerintah, dan komunitas

    [Resensi Buku] Yesus Yang Berbicara Pada Abad Ke-21

    Full text link

    “Tersungkurlah Ia Memohon pada Yesus”: Kritik Naratif Markus 5:21-24, 35-43 dalam Perspektif Tanggung Jawab Seorang Ayah

    Full text link
    Abstract. This study aimed to re-read the Gospel text Mark 5:21-24, 35-43 from the perspective of a father's responsibility. This perspective emerged from researchers' concerns regarding the widespread phenomenon of fatherlessness in families. The method used in this research is the narrative criticism method. The research result showed that the narrative of Jairus' struggle to find healing for his daughter can be a reflection of a father's responsibility. From the result of this re-reading, it can be concluded that reading a text using a different approach and perspective can produce new meanings that are relevant to contextual needs.Abstrak. Kajian ini bertujuan untuk melakukan pembacaan ulang teks Injil Markus 5:21-24, 35-43 melalui perspektif tanggung jawab seorang ayah. Perspektif ini lahir dari keprihatinan peneliti atas maraknya fenomena fatherless dalam keluarga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kritik naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi perjuangan Yairus untuk mengupayakan kesembuhan bagi anak perempuannya dapat menjadi refleksi atas tanggung jawab seorang ayah. Dari hasil pembacaan ulang tersebut dapat disimpulkan bahwa pembacaan terhadap suatu teks dengan menggunakan pendekatan dan perspektif yang berbeda dapat menghasilkan makna baru yang relevan dengan kebutuhan kontekstual

    Panggilan Profetik Guru-guru Kristiani dalam Perspektif Pemikiran Paul Tillich

    Full text link
    Abstract. This research explored into the prophetic call of Christian teachers, viewing it through the perspective of theologian, Paul Tillich. Starting from the assumption that that teaching carries profound spiritual significance, the research explores how Tillich's insights impact modern Christian educators in comprehending the prophetic aspect of their vocation. By using a descriptive quantitative approach, this research tried to discover the manifestation of the prophetic dimensions of teachers in their daily lives. Through a survey, researchers explored their perceptions regarding the prophetic calling of teachers. The research result showed that religious teachers demonstrate the meaningfulness of prophetic teacher values through their willingness to be part of an inclusive community, teaching life values using inspirational stories, and practicing Christian values to influence society. The implementation of Paul Tillich's theological insights into the prophetic calling of Christian teachers suggested that Christian pedagogy is a kairos moment when the transformative potential of learners becomes a reality by God's grace.Abstrak. Studi ini mendalami konsep panggilan profetik guru-guru Kristiani melalui lensa teolog terkenal, Paul Tillich. Didasarkan pada keyakinan bahwa panggilan mengajar memiliki signifikansi spiritual yang mendalam, penelitian ini mengeksplorasi implikasi dari wawasan teologis Tillich terhadap pendidik Kristiani kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini mencoba untuk menemukan wujud dari dimensi profetik  guru-guru dalam kehidupan sehari-hari mereka. Melalui survey, peneliti menelusuri persepsi mereka mengenai panggilan kenabian para guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru agama menampakkan kebermaknaan nilai profetik guru melalui kesediaan untuk menjadi bagian komunitas inklusif, pengajaran nilai-nilai kehidupan dengan menggunakan cerita-cerita inspiratif, dan pengamalan nilai-nilai Kristiani untuk mempengaruhi masyarakat. Implementasi wawasan teologis Paul Tillich ke dalam panggilan profetik guru-guru Kristiani menyatakan bahwa  pedagogi Kristiani adalah momen kairos ketika potensi transformatif peserta didik menjadi kenyataan oleh kasih karunia Allah

    Trauma dan Penerimaan Luka: Pendampingan Pastoral atas Realitas Traumatis yang Tidak Dapat Diperdamaikan

    Full text link
    Abstract. Can emotional wounds heal? Pastoral theories generally have shown that it is possible to engage the complexity of emotional wounds problem. Some of it can be found in Clebsch and Jaekle’s pastoral functions and in crisis intervention methodology that presents the achievable result of responding to the counselee’s emotional wounds. However, what about the wounds that remain? Drawing from the author's accompanying research on the traumatic reality wounds that remain irreconcilable, the author offers a new way of pastoral care that responds to these wounds that remain. The posture of accepting the wounds that remain as a way of healing, would be central here. By using qualitative research methods, the author presents the ABCA crisis intervention method as a way of pastoral care that includes this posture as a way of healing. This method is relevant in that it answers the problem of the remaining wound through inviting the counselee to remember their past, reaffirming their present, and reauthoring their future as a way of healing.Abstrak. Apakah luka batin bisa sembuh? Teori-teori pastoral secara umum mengatakan bahwa kompleksitas permasalahan terkait luka batin dapat dijawab. Beberapa di antaranya dapat ditemukan dalam fungsi-fungsi pastoral menurut Clebsch dan Jaekle dan metodologi intervensi krisis yang memperlihatkan tercapainya kesembuhan dalam merespons luka batin konseli. Akan tetapi, bagaimana dengan luka yang tidak hilang? Berangkat dari penelitian dampingan penulis atas luka traumatis yang tidak kunjung hilang sekaligus tidak dapat diperdamaikan, penulis menawarkan sebuah cara baru pendampingan pastoral dalam merespons luka batin yang tidak hilang. Sikap penerimaan realitas luka yang masih ada sebagai wujud kesembuhan, menjadi penting dibahas. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penulis menawarkan metode intervensi krisis ABCA sebagai bentuk pendampingan pastoral yang mengikutsertakan sikap menerima tersebut sebagai bentuk kesembuhan. Metode ini menjadi relevan karena ia menjawab permasalahan realitas luka yang tidak dapat diperdamaikan tersebut dengan mengajak konseli untuk mengingat kembali pada masa lalunya, menegaskan kembali pada masa kininya, dan menarasikannya untuk masa depan sebagai wujud kesembuhannya

    Analisis Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja Penyuluh Agama Kristen

    Full text link
    Abstract. Christian Religion Extension Workers face great challenges in carrying out their duties, so they require a high work ethics to maximize their performance. The aim of this research was to analyze various factors that influence the performance of Christian Religion Extension Workers. Through quantitative research, an analysis of factors was carried out that had a significant influence on the work ethics of Christian Religion Extension Workers at the Ministry of Religion, Toba Regency. The research result showed that among the career development system factor, salary factor, work environment factor, social factor, competency factor and appreciation factor, the career development system factor is the most dominant in increasing the work ethics of Christian Religion Extension Workers. Thus, it can be concluded that the incentive in the form of challenges and opportunities to improve one's career can increase work ethics.Abstrak. Penyuluh Agama Kristen menghadapi tantangan besar dalam menjalankan tugas-tugasnya sehingga membutuhkan etos kerja yang tinggi agar dapat memaksimalkan kinerja mereka. Tujuan riset ini adalah untuk menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja para Penyuluh Agama Kristen. Melalui riset kuantitatif dilakukan analisis faktor yang memberi pengaruh signifikan terhadap etos kerja para Penyuluh Agama Kristen di Kementerian Agama Kabupaten Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara  faktor sistem pengembangan karir, faktor gaji, faktor lingkungan kerja, faktor sosial masyarakat, faktor kompetensi dan faktor apresiasi, faktor sistem pengembangan karir paling dominan dapat meningkatkan etos kerja para Penyuluh Agama Kristen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya insentif berupa tantangan dan kesempatan untuk meningkatkan karir dapat meningkatkan etos kerja

    Keterbukaan Sebagai Bentuk Keramahtamahan Dalam Konteks Keragaman Orientasi Seksual

    Full text link
    Abstract. The fact that there is diversity in sexual orientation is often unacceptable, especially by heterosexual groups. This then triggered acts of violence against people with homosexual orientation. Researcher believe that violence will not occur if each people promotes hospitality. The aim of this research is to find a model of hospitality that is relevant in the context of sexual orientation diversity. This research was conducted through Focus Group Discussion (FGD) with three gay individuals from three different religions. Next, the results of the FGD were put into dialogue with various theological understandings about hospitality. In the end, this research showed that stigmatization, which is the root of acts of violence, can be suppressed if there is an openness to accept the others, in this case people with different sexual orientations.Abstrak. Kenyataan adanya keberagaman orientasi seksual seringkali tidak dapat diterima terutama oleh kelompok heteroseksual. Hal itu kemudian memicu terjadinya tindak kekerasan terhadap orang-orang dengan orientasi homoseksual. Peneliti meyakini bahwa kekerasan tersebut tidak akan terjadi apabila masing-masing pihak mengembangkan sikap keramahtamahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan model keramahtamahan yang relevan dalam konteks keragaman orientasi seksual. Penelitian ini dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) kepada tiga orang individu gay dari tiga agama yang berbeda. Selanjutnya, hasil FGD didialogkan dengan berbagai pemahaman teologis tentang keramahtamahan. Pada akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa stigmatisasi, yang menjadi akar tindak kekerasan, dapat ditekan apabila ada sikap keterbukaan untuk menerima sang liyan, dalam hal ini orang-orang dengan orientasi seksual yang berbeda

    Dialektika Ideologi Tanah dalam Konflik Porto-Haria

    Full text link
    Abstract. Frequent land conflicts are often unconsiderly triggered by ideological differences. This is also what can be felt in the land conflict between the Porto and Haria communities. Therefore, this research aimed to clearly take to surface these ideological motifs by utilizing the categorization of land ideology in the Old Testament proposed by Norman C. Habel. The results of this study showed that the two conflicting societies each have an ideology that also can be found in the land ideology in the Old Testament, namely the ideology of kingship and the ideology of the ancestors. Therefore, to mediate the conflict, it is necessary to offer another ideology that does not put pressure on land ownership claims, namely the ideology of prophethood.Abstrak. Konflik tanah yang sering dijumpai seringkali tanpa disadari dipicu oleh adanya perbedaan ideologi. Hal itu jugalah yang dapat dirasakan dalam konflik tanah masyarakat Porto-Haria. Oleh karena itu, kajian ini bermaksud untuk menampilkan secara jelas ke permukaan motif-motif ideologis tersebut dengan memanfaatkan kategorisasi ideologi tanah dalam Perjanjian Lama yang dikemukakan oleh Norman C. Habel. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa kedua masyarakat yang berkonflik masing-masing memiliki ideologi yang mirip dengan ideologi tanah dalam Perjanjian Lama, yaitu ideologi kerajaan dan ideologi nenek moyang. Oleh karena itu untuk menengahi konflik tersebut perlu ditawarkan ideologi lainnya yang tidak menekankan pada klaim kepemilikan tanah, yaitu ideologi kenabian

    Homo Capax Dei: Kemampuan Penyandang Disabilitas Intelektual dalam Mengenal Allah

    Full text link
    Abstract. The church has always been faced with the issue of serving people with intellectual disabilities. The question arises, whether people with intellectual disabilities are whole human beings who the Image of God (Imago Dei) are, which is traditionally understood as only related to the intellectual and rational dimensions. This study aimed to explore the divine ability (Capax Dei) of people with intellectual disabilities in acknowleging God. The research method used was literature study. The result of this study confirmed that people with intellectual disabilities have a unique way of building a relationship with the Creator. Divine ability cannot only be determined based on cognitive capacity and fluency in expressing one's spiritual condition.Abstrak. Gereja selalu berhadapan dengan isu pelayanan terhadap penyandang disabilitas intelektual. Muncul pertanyaan, apakah penyandang disabilitas intelektual adalah manusia seutuhnya yang merupakan Gambar Allah (Imago Dei), yang mana secara tradisional konsep tersebut dipahami hanya terkait dengan dimensi intelektual dan rasionalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan ilahi (Capax Dei) penyandang disabilitas intelektual dalam mengenal Allah. Metode peneltian yang digunakan adalah studi literatur. Hasil kajian ini menegaskan bahwa penyandang disabilitas intelektual memiliki cara yang unik di dalam membangun relasi dengan Sang Pencipta. Kemampuan ilahi tidak bisa hanya ditentukan berdasarkan kapasitas kognitif dan kefasihan dalam mengekspresikan kondisi spiritualnya

    Kekuatan Jahat dalam Perspektif Teologi Paulus

    Full text link
    Abstract. Sin, as seen in various evil deeds, continues to color the lives of human beings even today. This paper is an attempt to understand the root of sin and evil from the perspective of Paul’s theology. The author used the literature study method with a descriptive qualitative approach. In addition, the exegetical interpretation method also be applied to several key texts related to the purpose of this paper. The result of this study concluded that the fight against the forces of evil can only be built on a living and personal faith with God in the experience and struggle of actual life. Religion and rituals are only a means, and not a guarantee, of escape from the bondage of sin and evil.Abstrak. Dosa, sebagaimana tampak dalam pelbagai perbuatan jahat, masih terus menerus mewarnai kehidupan manusia dewasa ini. Tulisan ini merupakan suatu ikhtiar untuk memahami akar kejahatan dan dosa itu dari perspektif teologi Paulus. Penulis menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Selain itu, metode penafsiran eksegetis juga diterapkan pada beberapa teks kunci yang terkait dengan tujuan dari tulisan ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perang melawan kekuatan jahat hanya dapat dibangun di atas iman yang hidup dan personal dengan Allah dalam pengalaman dan pergulatan hidup yang nyata. Agama dan pelbagai ritual hanyalah sarana dan bukan jaminan untuk melepaskan diri dari belenggu dosa dan kejahatan

    356

    full texts

    370

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal STT Intheos Surakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇