Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    The Symbols and Myths of Rice in Sasak’s Culture: A Portrait of Hybrid Islam in Lombok

    Get PDF
    This article aims at discussing two important points of rice ethnophilosophy in Sasak society. First, it explains how various symbols of language and culture and local mythos of rice in agricultural Sasak society experienced reinterpretation over key concepts of Islamic Worldview. Second, it illuminates how those modified symbols and mythos in Sasak society contains similarities with the ones in Malay culture as recorded in Hikayat Asay Pade manuscript and Kitab Berladang. The study uses ethnohermeneutic method in reading the text in the context of Sasak culture. The result shows some points of transformation in the symbols and mythos about rice in Sasak culture after being adapted to Islamic Worldview. The reinterpretation clarifies a spirited ethnophilosophy about harmony and equilibration of human life with nature and God. Adaptation conducted by the Islamic carrier among the agricultural Sasak society at the beginning of Islamic influence exemplifies how the spreading of Islam was undertaken peacefully through the confirmation of symbols and local mythos to maintain stability and harmony.[Tulisan ini mendiskusikan tentang simbol (bahasa dan budaya) dan mitos padi lokal dalam masyarakat Sasak agraris yang mengalami reinterpretasi setelah konsep-konsep kunci Islamic worldview mulai diadaptasi dan disebarkan oleh para penyebar Islam awal di kalangan petani tradisional. Selanjutnya, didiskusikan pula tentang persinggungan simbol dan mitos lokal Sasak tersebut (setelah mengalami reinterpretasi dengan konsep-konsep kunci Islam) dengan budaya Melayu yang terekam dalam manuskrip Hikayat Asay Pade dan Kitab Berladang. Berdasarkan hasil pembacaan dengan metode etnohermeneutik dapat dipahami tentang apa saja hasil reinterpretasi masyarakat Sasak agraris mengenai simbol dan mitos padi lokal setelah mengalami persentuhan dan penyesuaian dengan Islamic worldview. Hasil reinterpretasi tersebut menjelaskan pandangan budaya (etnofilosofi) yang sangat bernas tentang harmonisasi dan keseimbangan hidup manusia dengan Tuhan dan alam. Selain itu, adaptasi yang dilakukan oleh penyebar Islam awal di kalangan masyarakat Sasak agaris ini merupakan contoh bagaimana Islam disebarkan dengan damai dan adaptif terhadap simbol dan mitos lokal supaya keseimbangan dan keharmonian tetap terjaga.]

    Indonesian Interpretation of the Qur’an on Khilāfah: The Case of Quraish Shihab and Yudian Wahyudi on Qur'an, 2: 30-38

    Get PDF
    Today the issue of building al-khilāfah al-islāmīyah (Islamic Caliphate) has been raised by Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). One of its arguments is that it is obligatory, because Qur’an, 2:30 mentions the term khalīfah. However, this argument has been questioned by many Muslim scholars. Some of them are Quraish Shihab and Yudian Wahyudi. In this article a comparative study is conducted in such a way we can provide readers with a ‘direct’ comparasion between Shihab’s and Wahyudi’s thoughts. The emphasis of their differences is shown more clearly than their similarities. Some important points that are discussed here are their interpretations of Qur’an, 2: 30-38. After analyzing their statements expressed in their writings and interviews, we have found that both have the same idea that Qur’an, 2: 30 does not talk about the Islamic Caliphate, and therefore, it cannot be used as an argument for its building. We have also found that they have exegetical differences that might refer to the fact that Shihab has much emphasis on the ‘historical meaning’ of the verses, whereas Wahyudi prefers their ‘significance’ for human beings.[Wacana khilafah Islam di Indonesia menguat seiring dengan kehadiran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Salas satu argumen mereka adalah adanya istilah khalīfah dalam Qur’an, 2: 30. Namun argument tersebut justru menjadi persoalan bagi pemikir muslim lainnya, dua diantaranya Quraish Shihab dan Yudian Wahyudi. Dalam tulisan ini diharapkan pembaca dapat melihat secara langsung perbandingan dua pemikiran tersebut. Beberapa point penting yang diperdebatkan adalah tafsir ayat Qur’an, 2: 30-38. Berdasarkan analisis pada karya tulis dan wawancara, keduanya sama – sama menunjukkan bahwa ayat tersebut di atas tidak membahas al-khilāfah al-islāmīyah. Meskipun keduanya sependapat, masing-masing memberikan tekanan yang berbeda dimana Shihab lebih ke makna historis, sedangkan Wahyudi condong ke signifikasi bagi kemanusiaan.]

    Three Sufi Communities Guarding the Earth: A Case Study of Mitigation and Adaptation to Climate Change in Indonesia

    Get PDF
    Prasenjet Duara (2015) accuses divine religions as the cause of the environmental crisis and natural disasters. Duara's thesis was counterattacked by scientists and religionists who stated that religion has the spirit and teachings of careness for the environment. Nevertheless, the arguments they built are still theological, normative and theoretical. This study is an antithesis to the Duara’s statement and at the same time presents evidence based on the primary data that occurred in three Sufi communities. The focus of this study analyzes Sufi activism in Indonesia in safeguarding the earth, as a form of substantial religious responses to the environmental crisis due to climate change. Through the principles and mechanism of qualitative research methods, researchers sought to analyze mitigation and adaptation actions to climate change carried out by the Majlis Zikir Kraton Pekalongan, Jamaah Aoulia Panggang and Pesan Trend Ilmu Giri. The data are obtained through interviews, observation and documentation and they are analyzed interactively. The results of the study revealed that climate change is believed by the Sufis as God’s authority due to human destructive behavior. For Sufis, overcoming climate change must begin with a change in the perspective of human relations, nature and God. In the case of three Sufi communities, religion is not just a doctrine of the relationship between God and humans, but also operational guidance on how to synergize with nature. Through a substantial religious spirit, the Sufis guard the earth through the re-actualization of the narratives of takhalli, tahalli and tajalli, as ecological repentance, ecological movements, and ecological campaigns in mitigating and adapting to climate change. [Prasenjet Duara (2015) menuduh agama-agama samawi sebagai penyebab terjadinya krisis lingkungan dan bencana alam. Tesis Duara mendapat serangan balik dari ilmuwan dan agamawan yang menyatakan bahwa agama memiliki spirit dan ajaran kepedulian terhadap lingkungan. Hanya saja argumen yang mereka bangun masih bersifat teologis, normatif dan teoritis. Kajian ini merupakan antitesa terhadap pernyataan Duara, dan sekaligus menyajikan bukti berdasarkan data-data lapangan  yang terjadi pada tiga komunitas sufi. Fokus kajian ini menganalisis aktivisme kaum sufi di Indonesia dalam menjaga bumi, sebagai bentuk respons kaum beragama subtansial terhadap krisis lingkungan akibat perubahan iklim.  Melalui prinsip dan mekanisme metode penelitian kualitatif, peneliti berusaha menganalisis tindakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang dilakukan oleh Majelis Zikir Kraton Pekalongan, Jamaah Aoulia Panggang dan Pesan Trend Ilmu Giri Yogyakarta. Data-data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dan dianalisis secara interaktif. Hasil kajian mengungkap bahwa perubahan iklim diyakini oleh kaum sufi sebagai otoritas Tuhan yang disebabkan perilaku destruktif manusia. Bagi kaum sufi, mengatasi perubahan iklim harus dimulai dari perubahan cara pandang relasi manusia, alam dan Tuhan. Dalam kasus di tiga komunitas sufi, agama tidak sekedar menjadi doktrin tentang relasi Tuhan dan manusia, melainkan juga petunjuk operasional bagaimana bersinergi dengan alam. Melalui spirit agama yang subtansial, kaum sufi menjaga bumi melalui reaktualisasi narasi takhalli, tahalli dan tajalli, sebagai pertaubatan ekologi, gerakan ekologi, serta kampanye ekologi dalam perilaku mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

    The Subjectivity of Nawāl Al-Sa’dāwī: Critique on Gender Relations in Religious Construction in Adab Am Qillah Adab Work

    Get PDF
    This writing examines three short stories in the short story anthology of Adab Am Qillah Adab by Nawāl Al-Sa’dāwī, namely: “Adab.Am Qillah Adab”, “al Umm al-Suwisriyyah al-Qātilah”, and “Qiṣṣah Fatḥiyyah al-Miṣriyyah”. The analysis focuses on Nawâl al-Sa’dâwî’s critique of religious constructions of gender relations. The subjectivity of Salvoj Žižek is the theory used and hermeneutics is the method of analysis. The purpose of the study is to find out the reasoning behind the radical acts of Al-Sa’dāwī over her rejection of patriarchal religious constructions in her three short stories. The result of the analysis shows that the literary work is the explanation of the radicalization of the author’s actions, Al-Sa’dāwī, as a subject. Such radicalization is her rejection of the needy Symbolic (patriarchal religion construction) as her attempt to escape the Symbolic. Al-Sa’dāwī continues to move because the subject is split and empty. Therefore, Al-Sa’dāwī makes an effort to seek full self-fulfillment to and approach The Real in order to kill the old tyrannical Symbolic and pick up the new Symbolic, which is the construction of a just religion and liberate women.[Tulisan ini mengkaji tiga cerpen dalam antologi cerpen Adab Am Qillah Adab karya Nawâl al-Sa’dâwî, yaitu: “Adab..Am Qillah Adab”, “al-Umm al-Suwisriyyah al Qātilah”, dan “Qiṣṣah Fatḥiyyah al-Miṣriyyah”. Analisis difokuskan pada kritik Nawāl Al-Sa’dāwī terhadap konstruksi agama atas relasi gender. Subjektivitas Salvoj Žižek adalah teori yang dipakai dan hermeneutik merupakan metode analisisnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui alasan di balik tindakan radikal Al-Sa’dāwī atas penolakannya pada konstruksi agama yang patriarkis dalam tiga cerpennya. Hasil analisis menunjukkan bahwa karya sastra menjelaskan radikalisasi tindakan pengarang, Al-Sa’dāwī, sebagai sebuah subjek. Radikalisasi tersebut adalah penolakannya terhadap Yang Simbolik yang berkekurangan (konstruksi agama patriarkis) sebagai usahanya untuk melepaskan diri dari Yang Simbolik. Al-Sa’dāwī akan terus bergerak dikarenakan subjek itu terbelah dan juga kosong. Oleh sebab itu, Al-Sa’dāwī melakukan upaya untuk mencari pemenuhan dirinya secara terus-menerus dan mendekati The Real agar dapat membunuh The Symbolic lama yang tiranik dan menjemput The Symbolic baru, yaitu konstruksi agama yang adil dan membebaskan perempuan.

    A Tale of Two Royal Cities: The Narratives of Islamists' Intolerance in Yogyakarta and Solo

    Get PDF
    The article discusses the narratives of “Islamist” intolerance in two cities of Yogyakarta and Solo in the post-Suharto era. It aims to elucidate the multiplicity of intolerance acts and the complexity of underpinning factors to intolerance. It argues that Islamist intolerance has manifested in various forms, ranging from the ideological, instrumental, and symbolic form. However, these categorizations of ideological, instrumental, and symbolic are not clear-cut and permanent one, but there is always some possible overlap between them. There is also the possibility that the form of intolerance can change in different times and occasions. This study is based on fieldwork research taken during 2014-2016 in both cities. Methodologically, this research-based article used Extended Cased Method (ECM). The data was collected by employing indepth interview and participant observation with secondary sources such as local media and government documents.[Tulisan ini membahas narasi Islam intoleran di dua kota, Solo dan Yogyakarta, pasca rezim Soeharto. Selain itu juga menjelaskan sejumlah aksi intoleran dan kompleksitas faktor-faktor yang berkelindan dalam peristiwa tersebut. Tulisan ini mengajukan argumen bahwa Islam intoleran mempunyairagam bentuk, mulai dari ideologis, instrumentalis hingga simbolis. Meskipun demikian, kategori tersebut tidak bersifat kaku dan permanen, tetapi terkadang bersifat saling overlap satu sama lainnya. Ada kemungkinan juga bentuk intoleran berubah seiring dengan perubahan waktu dan kondisi. Kajian ini berdasarkan pada studi lapangan di dua kota pada rentang waktu 2014-2016. Secara metodologi kajian ini menggunakan pendekatan Extended Cased Method (ECM). Data dikumpulkan melalui serangkaian wawancara mendalam dan observasi partisipatif dengan didukung data sekunder dari arsip daerah dan sejumlah media surat kabar lokal.

    Expansion of Agricultural Zakat Revenue in Malaysia on the Basis of the Current Maslahah

    Get PDF
    The reality concerning the agricultural zakat in Malaysia only impose the zakah on the paddy crops based solely on the opinion of Imam Shafi`i rather than an opinion of other scholars. This paper aims to critically examine the agricultural zakat in Islam based on Malaysian context and analyse the transformation of expanding the agricultural zakat based on the objective of Shariah. A qualitative methodology was employed to analyse the data through inductive, deductive, comparative and field research. As for the field research, the study has conducted semi-structured interviews with the Zakat Corporation, Islamic Religious Council and Mufti`s Department in the selected states in Malaysia, namely: Selangor, Penang, Terengganu and Sarawak. The finding demonstrated that the revenue of the agricultural-based zakat could be expanded according to the view held by Imam Hanafi and its benefit to the current agricultural economy. Thus, this paper proposes that every State’s Zakat Corporations and Islamic Religious Councils in Malaysia should reassess the existing ruling and legal framework of agricultural zakat in order to realize its revenue expansion as an effective solution for the current zakat collection. [Realitas zakat pertanian di Malaysia lebih mengutamakan qaul Imam Shafi`i dibandingkan dengan qaul-qaul mazhab lain. Pengelolaan zakat di Malaysia hanya dikenakan pada zakat pertanian dan terbatas kepada makanan pokok, yaitu padi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis zakat pertanian dalam konteks Malaysia serta mengkaji transformasi isu meluaskan zakat pertanian kepada tanaman selain padi berdasarkan maqasid syari’ah. Kajian ini menggunakan metode kualitatif, dimana analisis data menggunakan kaedah induktif, deskriptif, dan komparatif. Kajian lapangan juga dilakukan dalam bentuk wawancara dengan Jabatan Mufti Negeri dan Baitulmal Negeri di Malaysia; seperti Selangor, Pulau Pinang, Perlis, Terengganu dan Sarawak. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil zakat pertanian dapat diperluas berdasarkan pendapat Imam Abu Hanifah yang lebih sesuai dengan maslahah ekonomi pertanian saat ini di Malaysia. Dengan demikian, studi ini mengusulkan bahwa lembaga zakat setiap negeri dan Dewan Agama Islam di Malaysia harus mengkaji kembali kerangka hukum zakat pertanian yang ada dalam rangka merealisasikan ekspansi penghasilannya sebagai solusi efektif untuk pengumpulan zakat saat ini.

    Document Falsification/Forgery from the View of Islamic Jurisprudence and Malaysian Law

    Get PDF
    Although the scholars of Islamic jurisprudence discussed the importance of document and its strength as a mean of proof, they did not discuss the issue of forgery unless slightly compared with the scholars of law. This is due to its limited extension and uses in the period of times. And with the frequent use of them in our time, the debates have extended towards several circumstances either to attempt for or to deny a forgery. Therefore, this research is conducted to study the document falsification from the perspectives of Islamic Jurisprudence and Malaysian Law. It is also to explain the definition, procedure and methods to identify the crime and its punishment. The study used inductive and content analysis methods on previous scholars’ opinions, discussions and explanation from two different legal institutions. This study found the following important results: The are many forms of forgery occur in this era and can be classified either as material or incorporeal fraud. Several implications have been issued against the forgery crime in the Malaysian Penal Code, such as imprisonment, lashes and fines. The Islamic jurisprudence and the Malaysian Evidence Act 1950 has established several methods to verify the validity of documents such as confession, testimony, expert opinion, and oath, but the opinion of the expert is the most important means in verifying the authenticity and originality of documents. This study also found that the Malaysian Evidence Law did not discuss the oath as a mean to verify documents. As analysed, the method to verify documents discussed in the books of jurisprudence is very different from that of the Malaysian Evidence Act 1950, which specifies the conditions of documents and the number of witnesses, but the law does not specify the number of witnesses and impose conditions only.[Meskipun para ahli tata hukum Islam membahas pentingnya sebuah dokumen sebagai alat bukti, namun mereka kurang membahas persoalan pemalsuan dokumen sedalam para ahli hukum konvensional. Hal ini terkait dengan terbatasnya waktu dan kuantitas penggunaan, sehingga frekuensi penggunaannya memunculkan debat yang panjang, baik yang menerima atau yang menolak soal pemalsuan. Oleh karena itu, artikel ini membahas pemalsuan dokumen dari perspektif tata hukum Islam dan hukum nasional di Malaysia. Artikel ini juga menjelaskan definisi, prosedur, dan metode identifikasi kejahatan ini serta hukumannya. Penulis menggunakan metode induktif dan analisis isi pada opini, perdebatan, dan penjelasan dari dua institusi hukum yang berbeda. Kajian ini menyimpulkan adanya beragam bentuk pemalsuan dewasa ini, baik material atau non material. Beberapa aturan hukum telah dikeluarkan di Malaysia dan sangsi nya seperti penjara, cambuk dan denda. Peradilan Islam dan Undang Undang Saksi Tahun 1950 telah menetapkan beberapa metode untuk validasi dokumen seperti: pengakuan, testimoni, pendapat ahli, dan sumpah, namun pendapat dari ahli masih merupakan cara utama untuk verifikasi keautentikan dan keaslian dokumen. Artikel ini juga menemukan bahwa peraturan hukum di Malaysia belum membahas sumpah sebagai alat verifikasi dokumen. Juga metodenya berbeda antara yang ada di dalam buku teks dengan Undang Undang 1950 yang lebih fokus pada kondisi dokumen dan jumlah saksi, padahal di dalam hukumnya tidak memperhitungkan jumlah saksi, hanya kondisinya saja.

    Madurese Christian: In Search of Christian Identity within Muslim Society

    Get PDF
    In many discussions and conversations with Muslim Madurese I often heard common belief that none of Madurese individuals embraces Christianity. They mostly conceive that almost one hundred percent of Madurese people are Muslim while Christian people living in Madura are generally non-Madurese. It might be right but the fact shows that some of the Madurese have embraced Christianity, besides Madurese Christian community in Sumber Pakem East Java which is practicing Christianity for more than four generations. The ignorance of Madurese Muslim toward Christian population, especially Madurese Christian in Madura, appear because of less interaction between Muslim and Christian on the one hand and social worries of Madurese Christians to express their identity on the other. This paper aims to describe the existence of Madurese Christians, examine how they survive inside and outside Madura island, and how they interact with Madurese Muslims. It also attempts to elucidate cultural connection between ethnicity (of Madurese) and religiosity (of Christian).[Dalam perlbagai diskusi dan perbincangan dengan orang Madura, seringkali terdengar pernyataan bahwa tidak ada orang Madura yang memeluk Kristen. Dipercaya bahwa 100 % orang Madura adalah muslim, sedangkan orang Kristen di Madura adalah bukan orang Madura. Hal ini mungkin benar, namun realitasnya berkata bahwa ada sekolompok orang Madura memeluk Kristen beberapa generasi dan tinggal di Sumber Pakem, Jawa Timur. Ketidaktahuan ini disebabkan oleh minimnya interaksi antara Madura muslim dan Kristen disatu sisi, dan di sisi yang lain karena adanya kegamangan kelompok Madura Kristen untuk menunjukkan identitasnya pada publik. Artikel ini menjelaskan keberadaan orang Madura Kristen dan bagaimana mempertahankannya dan berinteraksi dengan muslim, baik di dalam maupun luar Pulau Madura. Artikel ini juga mengeksplorasi hubungan kultural antara etnisitas (Madura) dengan agama (Kristen).]  

    The Qur’an, Woman and Nationalism In Indonesia: Ulama Perempuan’s Moral Movement

    Get PDF
    This paper discusses how 'ulama perempuan' (Female Muslim woman clerics) use religious sources particularly, Qur’an, in their expression of moral movement as seen in media. It also contends that they try to make identity and sense of belonging by inviting themselves and others to participate in improving the wellbeing and cohesion of Indonesia as the nation. Using a descriptiveanalytic method, the study questions about the factors that have made it possible for some Indonesian ulama perempuan to propose a different view, and what do their movement represent in terms of nationalism? In answering them, the study relies its data on their recommendations both at KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), April 25-27, 2017, Cirebon, West Java, and press release presented at Istiqlal Mosque, Jakarta on March 1, 2018, as well as two other recommendations that follow. The study finds that 'ulama perempuan' have made an alternative voice using some of religious sources (the Qur’an) and secular ones through their moral movements in improving the status and role of women, the well beings of children, and environment sustainability. Their movement attracts other agents particularly that of media to magnify the voice and make the movement gear as strong alternative message of soft nationalism.[Artikel ini membahas tentang bagaimana ulama perempuan di Indonesia menggunakan sumber hukum, khususnya al Qur’an dalam aktifitas gerakan moral yang terlihat dalam media massa. Mereka juga mencoba menunjukkan identitas dan perasaan kepedulian dengan melibatkan diri dalam perbaikan keadaan dan kesatuan bangsa. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis, tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan mengenai factor-faktor yang membuat gerakan mereka memungkinkan untuk mengajukan pandangan alternatif dan merepresentasikan diri dalam wacana nasionalisme. Untuk menjelaskan hal tersebut, studi ini mendasarkan pada hasil rekomendasi mereka pada Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama di Cirebon tahun 2017 dan press release mereka di Masjid Istiqlal pada tanggal 1 Maret 2018, termasuk dua rekomendasi lain berikutnya. Artikel ini memberikan kesimpulan bahwa ulama perempuan mampu membuat pandangan alternatif dengan menggunakan sumber hukum Islam (al Qur’an) dan sumber lain melalui gerakan moral dalam mengangkat status dan peran perempuan, kesejahteraan anak-anak dan isu lingkungan yang berkelanjutan. Gerakan mereka juga menarik perhatian media untuk menguatkan pendapat dan gerakan mereka sebagai pesan alternatif dalam nasionalisme moderat.]

    Administration of Islamic Law and Human Rights: The Basis and Its Trajectory in Malaysia

    Get PDF
    This paper looks at the interplay between the administration of Islamic law in Malaysia in relation to Islamic family law and Islamic criminal law; and human rights. The paper examines the basis of the administration of Islam in Malaysia in relation to its history and post-independence mandate. It looks at the position of human rights under the Federal Constitution and the position of the administration of Islamic law under the constitutional framework. The research found that entrenching fundamental liberties through the supremacy clause resulted in the prevalence of human rights over freedom of religion. However, this is not consistently arrived at since the constitutional frameworks allows for plurality of laws and exclusion of personal law from the principle of equality.[artikel ini membahas kelindan antara administrasi hukum islam, hukum keluarga islam, hukum pidana islam, dan HAM di Malaysia. Artikel ini berbasis pada sejarah administrasi Islam di Malaysia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pembahsan lain artikel mengamati posisi HAM di bawah Undang Undang Federal Malaysia dan administrasi hukum Islam dalam kerangka konstitusional. Berdasarkan hasil riset menunjukkan dasar kebebasan pada supremasi klausul perundangan yang cenderung lebih utama HAM daripada kebebasan beragama. Meskipun demikian, hal ini tidak selalu konsisten ketika perspektif konstitusi mengikuti pluralitas hukum dan eksklusi hukum personal dari prinsip kesetaraan.

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇