Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    The Image of The Prophet In Ibn Sīnā’s Thought

    No full text
    Artikel ini menganalisa gambaran tentang Nabi Muhammad dalam pandangan salah seorang filosof Muslim terbesar, Ibn Sinā. Penelitian tidak dimaksudkan untuk mendiskusikan pemikiran tersebut secara menyeluruh sebagaimana yang dapat kita temukan dalam karya-karya lbn Sinā, tetapi hanya dibatasi pada dua karyanya, yaitu Fī Ithbāt al-Nubuwwat  dan Metaphysics x (al-Ilāhiyyāt) dalam at-shifā’,dengan merujuk pada beberapa tulisannya yang terkait. Kedua karya tersebut menyajikan dua ekspresi yang berbeda atas Nabi. Dalam karyanya yang pertama, Ibn sinā menggunakan terma-terma yang sangat filosofis untuk menggambarkan sosok Muhammad, walaupun dia juga tidak menafikan bahasan agamis. Memang benar bahwa tujuan ditulisnya risalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan seseorang tentang argumentasi logis dan bukti dialektis atas eksistensi Nabi sehingga terkesan bahwa bisa jadi Ibn Slna sendiri tidak percaya akan bukti atas kenabian secara filosofis. Tetapi jika kita cermati lebih jauh, kondisi Ibn Sinā sendiri sebagai Muslim yang sekaligus seorang filosof sebenarnya ikut membentuknya untuk menghadirkan gambaran tentang Muhammad secara filosofis sekaligus Islamis. Gambaran Nabi sebagai seorang manusia biasa yang memiliki kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dan sebagai pemelihara hukum Allah bagi kesejahteraan manusia nampak secara jelas dalam karyanya yang kedua. Dengan merujuk pada kehidupan sosial, Ibn Sinā menggambarkan bahwa Muhammad harus menentukan hukuman dan larangan untuk mencegah ketidak taatan terhadap hukum Tuhan, serta membina kehidupan moral. Jelaslah bahwa figur Nabi di sini digambarkan secara lebih relijius. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah mengapa sosok Muhammad muncul secara berbeda pada dua risalah tersebut. Kita melihat bahwa definisi tradisional tentang peran Nabi tidak dapat memuaskan Ibn Sinā sebagai seorang filosof, sehingga dalam tulisan yang pertama ia lebih menghadirkan figur Muḥammad secara filosofis. Dalam tulisan kedua" nampak bahwa sebenarnya Ibn Sinā tidak dapat melepaskan diri dari kenyataannya sebagai seorang Muslim, sehingga ia perlu menjelaskan pada dirinya sendiri dan pada ummat Islam pada umumnya tentang peran Nabi sebagai seorang pemimpin sosial. Terlebih lagi lingkungan Islamnya "memaksa" Ibn Sinā untuk mengharmoniskan antara penyelidikan rasionalnya dengan ajaran-ajaran Islam

    Bingkai Teologi Kerukunan Beragama (Kembali Kepada Kitab Suci)

    Get PDF
    Di suatu malam, 27 Rayab, satu Tahun menjelang hiirah, Muhammad saw diisra'kan Allah dari masiid al Haram di Mekkah al-Mukarramah ke Masird al-Aqsa di Yerusalem dan dari maslid al-Aqsa Nabi naik sampai ke tingkat yang paling tinggi, Arsy Allah, di Sidratul Muntaha. Pada saat itulah Muhammad saw. dapat melihat Allah dengan persepsinya, yang tidak dapat dituturkan dengan lidah atau digambarkan dengan alat peraga apapun. Pengalaman rohaniah yang maha indah, berada diluar jangkauan otak manusia. Saat itulah Muhammad diliputi ketakiuban dan kekaguman luar biasa, berada dalam pangkuan ke Agungan Allah Maha Sempuna, dengan penuh rasa tenang damai. dan menikmati tanpa tara indahnya fana diri dihadapan Allah azza wa jalla. Seorang sufi besar, Abdul Quddus Gangoh dari India berkata: "Itu Muhammad dari negeri Arab naik ke langit yang paling tinggi lalu kembali lagi ke bumi. Demi Allab andai kata aku dapat mencapai langit itu selamanya aku tidak akan mau kembali ke bumi lagi". Memang Abdul Quddus, sufi, mencari kenikmatan untuk diri sendiri Muhammad, Rasul, membawa missi untuk seisi langit dan bumi. Dengan Isra' dan Mir'raj, jiwa dan kepribadian Rasul, yang sungguh kokoh dan kuat itu, telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini sampai pada puncak kesempurnaannya, untuk mengembangkan Risalah kenabianny yang terakhir yang sempuma pula, membimbing seluruh umat manusia mencapai hidup Bahagia dalam segala dimensinya

    Maintaining Indonesian Harmony

    Get PDF

    Al-Tadhkīr wa al-Ta’nīth fī al-Lughah al-Arabīyya wa al-Indūnīsīyya.

    No full text
    The present study is an attempt to compare between masculine and feminine in Arabic and Indonesian. The author applies both descriptive and comparative methods in order to discover the similarities and variances of masculine and feminine in these languages. In doing so, the author, first of all, elaborates in rather detail the general principles of masculine and feminine in Arabic, and finally, compared them to Indonesian. The essay presents some exhaustive examples and discusses them consecutively. The general principles of both masculine and feminine can be applied in teaching the two languages, particularly in translation. [Artikel ini membahas masalah mudhakkar dan mu'annath dalam dua bahasa: Arab dan Indonesia. Topik kajian ini menuntut digunakannya metode analisis deskriptif kontrastif, dengan cara mendeskripsikan gejala-gejala Bahasa yang dikaji dan menganilisisnya untuk mengetahui segi-segi persamaan dan perbedaan yang ada dalam dua bahasa tersebut. Apa yang diharapkan dari kajian ini adalah ditemukannya prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan, misalnya, dalam dunia pengajaran bahasa dan terjemah (Indonesia-Arab). Karena itu penulis, dengan metode kontrastif, berupaya mengidentifikasi titik-titik persamaan dan perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Pertama akan dibahas masalah mudhakkar dan mu'annath dalam bahasa Arab, kemudian masalah yang sama dalam bahasa Indonesia. Kedua, melakukan kajian kontrastif antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia untuk mengidentifikasi adanya persamaan dan perbedaan antara kedua Bahasa tersebut.

    The Rise of Muslim Elite Schools: A New Pattern of “Santrinization”

    No full text
    Makalah ini menyoroti gejala baru kemunculan sekolah lslam unggulan baik yang berbentuk madrasah, sekolah umum maupun pesantren sebagai kecenderungan baru "santrinisasi’ masyarakat lndonesia. Di antara sekolah tersebut adalah sekolah Islam Azhar yang dibangun oleh prof. Hamka dan Sekolah Islam Azhar yang merupakan pecahan dari sekotah pertama, SMU Madania yang dikelola oleh para aktivis yayasan paramadina, dan SMU lnsan Gendekia yang dibangun oleh para ilmuwan dari Badan pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT). Di samping sekolah umum, sejumlah madrasah juga mengembangkan sekolah unggulan. Di antaranya adalah Madrasah pembangunan tingkat lbtidaiyah Negeri (MIN) I Malang, Jawa Tirnur yang semula merupakan "sekolah pelatihan swasta bagi para siswa Pendidikan Guru Agama ditingkatkan menjadi madrasah unggulan. Kementerian Agama juga akan membangun 57 model Madrasah Tsanawiyah dan 35 model Madrsah Aliyah.di berbagai propinsi di Indonesia. Kemuculan sekolah unggulan ini ikut meningkatkan “santrinisasi” masyarakat Indonesia. Karena mahalnya biaya pendidikan, kebanyakan siswa berasal dari keluarga "kelas menengah.". Mereka akan membawa pengetahuan dan kesadaran keislarnan ke rumah yang pada gilirannya dalam banyak kasus mendorong orang tua murid untuk meningkatkan pengetahuaan dan aktivitas keislaman mereka

    Islamic Jurisprudence of Christian-Muslim Relations: Toward a Reinterpretation

    Get PDF
    Tulisan in mengkaji fiqih hubungan Islam-Kristen dengan focus pada masalah penelusuran kemungkinan reinterpretasi ketentuan-ketentuan hukum Islam mengenai masalah ini.  Kajian ini bertitik tolak pada suatu tesis bahwa fiqih Islam mengenai hubungan Islam Kristen yang ada terbentuk dalam kondisi-kondisi historis tertentu dan berdasarkan pada beberapa teori hukum Islam yang diterima luas seperti teori nasakh dan teori asbabun-nuzul. Menurut teori nasakh, hukum (Islam) didasarkan pada teks (nas) terakhir, sedangkan hukum yang didasarkan kepda nas terdahulu yang Bertentangan dengan Nas terakhir dinyatakan dibatalkan. Ini berarti bahwa nas terakhir menggambarkan ketentuan hukum final.Dalam tulisan ini penulis berargumentasi, dengan merujuk kepada teori-teori asy-Syatibi (w, 790/1388), bahwa hukum harus disimpulkan secara induktif tematis dari keseluruhan teks (nas) yang relevan dan tidak hanya dari nas terakhir, bahkan seperti dinyatakan oleh asy-Syatibi, nas-nas Makkiah merupakan fundamental hukum. menyangkut teori asbabun-nuzul, kita perlu memperluasnya hingga tidak terbatas-pada kasus-kasus dan konteks individual melainkan mencakup kondisi sosial historis masyarakat saat terbentuknya teks secara umum. Kesimpulannya antara lain adalah bahwa teks-teks al-Qur'an dan hadis mengenai hubungan Islam-Kristen lebih menggambarkan sikap sezaman dalam menanggapi respon yang diberikan oleh Ahlul-Kitab terhadap Islam. Oleh karena itu masih terbuka ruang untuk reinterpretasi hukum Islam mengenai hubungan Islam-Kristen sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman

    Acceptance, Approval and Aggression: Some Fatwās Concerning the Colonial Administration In The Dutch East Indies

    Get PDF
    Artikel ini mendiskusikan tentang sikap kaum Muslimin Indonesia terhadap pemerintahan kolonial Belanda sebagaimana terefleksikan dalam sejumlah fatwā yang dikeluarkan oleh Ahmad Dahlan (w. 1886), mufti syafi'i di Makkah yang menjadi tumpuan bertanya Muslim nusantara; Sayyid Utsman (7822-7914) penasihat honorer Belanda untuk masalah Arab; dan Hasyim Asy'ari (1,871-1947), pendiri Nahdlatul Ulama. Ahmad Dahlan dalam beberapa fatwanya yang termaktub dalam kitab Muhimmtat al-Nafa'is, bersikap "menerima" (acceptance) terhadap keberadaan pemerintahan kolonial Belanda selama tidak bertentangan dengan syari'at Islam, dan sayyid ‘utsman bukan hanya menerima bahkan menyetujuinya (approval), karena pemerintah Belanda memberikan keleluasaan bagi kaum Muslimin untuk melakukan ibadah. Berbeda dengan keduanya, Hasyim Asy’ari menentang (aggression) penjajahan Belanda.  Penulis melihat bahwa seringkali sebuah produk fatwā sangat dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik yang melingkupinya. Hal ini menunjukkan dinamika dan fleksibilitas hukum Islam pada satu sisi, tetapi pada sisi lain menujukkan pula betapa suatu produk fatwā menjadi rentan terhadap kepentingan-kepentingan politik tertentu. Fatwa Ahmad Dahlan dan sayyid 'Utsman yang bernada menerima dan menyetujui keberadaan pemerintah kolonial dikeluarkan pada akhir abad ke-19 di mana kekuasaan pemerintah Belada masih sangat kuat. sayyid 'Utsman sendiri digaji oleh pemerintah Belanda untuk membantu snouck Hurgronje dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan komunitas Arab dan pribumi. sedangkan fatwā Hasyim Asy'ari dikeluarkan ketika semangat nasionalisme sedang berkobar, segera setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dalam menghadapi agresi Belanda melalui NICA. Perubahan situasi politiklah yang melatarbelakangi munculnya perbedaan fatwā di antara ketiganya, meskipun mereka, menurut penulis, menggunakan metodologi istinbāṭ hukum yang sama dan mempunyai kerangka intelektual yang sama pula. Perbedaan atau perubahan fatwā yang disebabkan karena perubahan sosial dan politik semacam ini dijumpai pula pada kasus-kasus lain

    Kenabiaan (Sebuah Agenda Filsaft Islam)

    Get PDF
    Fazlur Rahman menyebut kenabian sebagai suatu fenomena universal, sebab tidak ada satu bagian bumi pun yang tidak pernah menyaksikan kehadiran seorang Nabi. Pendapat ini didasarkan pada al-Qur'an, 40 : 78 dan  4: 164: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu'jizat, melainkan dengan seizin Allah: maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil"  "Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu dan Rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." Rasul atau Nabi-nabi itu diutus kepada kaum mereka, tetapi ajaran yang mereka bawa bersifat universal dan harus diyakini oleh semua manusia. Oleh sebab itu maka kenabian adalah satu mata rantai panjang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Di dunia filsafat Islam, kajian tentang kenabian adalah esensial, karena selain berkaitan dengan prinsip pokok ajaran Islam, juga merupakan suatu perkembangan pemikiran kefilsafatan yang bersumber dari ajaran Islam, dan oleh karena itu ia merupakan suatu bidang kajian tersendiri khas Islam. Ini tidak berarti mengesampingkan pikiran-pikiran yang mungkin ada di luar Islam tentang kenabian, namun pokok kajian ini agaknya memiliki karateristik dan kecenderungan yang khas Islam. Kajian tentang kenabian sebagai obyek pemikiran kefilsafatan tidak dimaksud untuk menggugat otoritas para Nabi (kecuali barangkali al-Razi) dan meragukan kenabiannya, tetapi pembahasan itu justru merupakan panggilan religiusitas dan upaya peneguhan terhadap kenabian itu sendiri

    Al-Majāz fī al-Qur’ān al-Karīm (Dirāsah al-Muṣṭalahīyya wa al-Lughawīyya)

    No full text
    A debate on majāz (metaphor) in the Quran has begun a long time ago. The different opinions are actually caused by the different view point, e.q. the difference on majāz (metaphor), and the functions of language. In fact, each group tries to purify the Quran as the word of Allah from any lackness. Since they are different in this issue, they disagree on whether or not majāz exists in the Quran. majāz is sometime seen equal to a lie. This is because majāz does not hold literary meaning, or it is employed when the real expression (tarkib haqiqi) is impossible to be found. Impossibility is not for Allah, therefore those who see majāz equal to a lie reject the notion of majāz in the Quran. For those who consider majāz to be in the Quran do not see majāz as a lie due to its unreal meaning. The use of majāz does not necessarily indicate the lackness of Allah, but it shows rather the shortage of human language, that is the shortage of its descriptive function. Majāz style is used to express abstract meanings, such as beauty, dignity, mighty and so on. Using words for metaphorical meanings allows people to express their imagination in broad range by using the language symbols- This is one of language functions. Another aspect function of language is transformative function. This allows people to transform anything they read or hear concerning any aspects outside themselves into their mind in a form of symbols acquainted to them. The transformation is done by comparing the new knowledge with the old one already existed in their mind. Here, the metaphorical process occurs. Finally, it can be said that the use of majāz in the Quran is not merely language flower, or even a lie, but it is a need; a need of expression and understanding. The discussion around this problem is more complex because of the different views on the meaning of majāz and the functions of language. If this issue can be solved. the debate on majāz in the Quran can be reduced

    “Aku” dalam Budaya Jawa

    No full text
    Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki nivo tertinggi: ia disebut human. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah  karena hanya manusia saja yang benar-benar menyadari terhadap “aku”-nya dan yang benar-benar ingin mengetahui secara total “aku”-nya sendiri itu. Mengapa manusia senantiasa “menyadari” dan “ingin mengetahui” secara itu? Karena hanya manusia saja yang merasa senantiasa berharap dengan diri sendiri dalam dunianya, demikian menurut N. Driijakara, S.J. Penyadaran dan pengetahuan terhadap diri sendiri, bagi manusia, sangat bermakna bagi kehidupan mereka. Kata Soedjatmoko, “ada atau tidaknya keberanian hidup, ketabahan dalam menghadapi rintangan, inisiatif dan kreativitas seseorang, dan ada atau tidaknya tekad pada suatu bangsa untuk maju dan sekaligus menangani masalah kemiskinan masal, serta ketidakadilan masyarakatnya, sangat ditentukan oleh konsepsi tentang aku ini.

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇