Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Hadis Palsu

    No full text
    Hadits palsu menurut istilah Ilmu Hadits disebut "maudlu" ialah bentuk isim maf'ul dari kata-kata wadla'a yadla'u wadl'an artinya yang diletakkan, yang dibiarkan, yang digugurkan (masquth), yang ditinggalkan (matruk), yang dibuat-buat (mukhtaliq), dapat juga diartikan sebagai judul pidato atau makalah. Jika perkataan maudlu' dihubungkan dengan nama sebuah hadits maka menurut istilah ilmu hadits ialah:مانسبالىالرسول صلى الله عليه وسلم اختلافاوكذباممالم يقله اويفعله اويقرهSesuatu yang dibuat-buat dan dipalsukan berasal dari Nabi, padahal Nabi tidak pernah mengatakan, tidak pernah mengerjakan dan tidak pernah menyatakan hal itu. Membuat hadits palsu adalah larangan keras dalam Islam, karena merusak agama dan membohongi Rasul. Beliau bersabda:ان كذباعلي ليس ككذب على احد,ومن كذب علي متعمدافليتبوامقعده من النار(رواه كتب السنه)Berdusta atas namaku, tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, bersiap-siaplah untuk menempati neraka

    Agama dan Kebudayaan dalam Pembangunan Nasional: Persepektif Seorang Muslim

    Get PDF
    Agama dan kebudayaan merupakan dua substansi yang berlainan, tetapi dalam perwujudannya bisa saling bertaut, saling mempengaruhi, saling isi mengisi dan saling mewarnai perilaku seseorang. Agama merupakan suatu nilai normatif yang ideal, sedangkan kebudayaan merupakan suatu hasil budi daya manusia yang bisa bersumber atau berdasar dari agama atau dari akal pikirannya sendiri. Agama berbicara mengenai ajaran yang ideal, sedangkan kebudayaan merupakan realitas dari kehidupan manusia dan lingkungannya. Di dalam sejarah, agama selalu ditantang oleh kemajuan peradaban manusia: nilai dan cita ideal agama tidak selalu berjalan sejajar dengan nilai dan cita ideal serta realitas budaya yang ada. Agama (terutama dari sisi penghayatan pemeluknya) sering dikritik dan dituduh anti kemajuan karena menghalangi manusia dari dinamika dan merubah nasibnya menjadi lebih baik di dunia ini dengan mengajarkan pada manusia impian-impian khayal tentang dunia yang lain (akhirat). Agama menyandarkan diri pada ajaran-ajaran moral yang tidak praktis dan efektif. Sementara itu, kebudayaan modem membangun dunia berdasar motif­motif manusia yang nyata. Bagi kaum agama, pembangunan dan kemajuan dunia modern yang menekankan segi material hanya memperkuat motif-motif keserakahan, kecemburuan sosial, ingin menguasai sendiri, dan motif-motif yang sangat mendahulukan kepentingan pribadi (individualistik). Semua itu menghalangi kemungkinan pemenuhan kebutuhan rohani. Lebih-Iebih lagi, penekanan aspek hubungan manusia dengan alam dalam rangka kemajuan dan pembangunan cenderung untuk tidak memanusiakan manusia, artinya tidak manusiawi, karena manusia Iainnya dianggap sebagai fenomena sekunder. Akibatnya, kehidupan masyarakat tidak harmonis. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang berdasar aspirasi rohani bersama, saling mencintai dan sating mengasihi. Di sinilah agama berfungsi sebagai kritik sosial terhadap budaya sebagian manusia di dunia ini yang cenderung serakah, menumpuk harta dengan membiarkan orang lain kelaparan, mementingkan diri sendiri, mewah, boros dan ingin menguasai sendiri

    Pokok-Pokok Pikiran dalam Manifesto Humanisme

    No full text
    Barangkali kita akan merasa bingung, kalua diajak untuk mendefinisikan humanism, tetapi yang pasti ialah istilah ini mempunyai suatu nada yang simpatik. Istilah ini nampaknya menampilkan suatu dunia penuh dengan konsep-konsep penting, seperti “humanum”(yang manusiawi), martabat manusia, perikemanusiaan, hak-hak asasi manusia dan lain sebagainya. Biarpun seringkali belum diketahui bagaimana persisnya merumuskan secara persis definisinya, namun bagi humanism bukan suatu yang asing.setelah pasca perang dunia ke II selesai humanism dijunjung tinggi sebagai suatu faham alternatif yang dianggap cocok untuk mengungkapkan cita-cita dunia baru diatas puing-puing material dan social yang ditinggalkan oleh perang itu. Eksistensialisme, aliran filosofis yang cukup terkenal setelah perang duania ke II mengeklim dirinya secara humanism, maka Jean Paul Satre menulis buku yang berjudul Existensialisme and Humanism. Dari pihak Kristen pun diadakan percobaan untuk mengeklaim nama Humanisme. Sesudah tahun tiga puluhan pemikir-pemikir Kristen di Prancis berusaha untuk mengerti dan merumuskan pandangan agama Kristen sebagai Humanisme, sebagai reaksi atas humanism sosialis yang pada waktu itu dilontarkan oleh pihak Komunisme. Buku yang berjudul Humanism Intergran yang terbit pada tahun 1936 yang ditulis oleh Jacques Maritain dan seorangtokoh Neothomisme mengungkapkan pendiriannya, bahwa Humanisme Kristiani dapat dipandan sebagai sintesa yang paling baik dari unsur-unsur humanistis yang tampak sepanjang, dari humanism klasik dijaman Renaisssance sampai dengan humanism Marxistis. Sesudah perang dunia ke II Humanisme Kristiani terutama diwakili oleh Imanual Mounier dan kawan-kawannya dilingkungan majalah ESPRIT. Sekalipun ia menyebutkan pendiriannya dengan nama lain, yaitu personalisme, namun Mounier personalisme pada dasarnya sinonim dengan humanism

    Tempat Suci Sebagai Pusat Perhatian Politik Sultan Isma'il dan pengagungan Mawlana Idris I di Mawlay Idris dalam Jabal Zarhun

    Get PDF
    Sampai sekarang setiap tahun sangat banyak orang Maroko baik dari dekat maupun dari jauh datang ke kota Mawlay Idris yang berada dalam Jabal Zarhun pada kesempatan mawsim Idris I. Kelihatannya adanya perayaan tahunan ini menjelma karena perilaku orang mistik yang termasyhur yang bernama 'Abdal-Qadir al-'Alami al-Idrisi (meninggal dunia pada tahun 1850). Orang tersebut lebih dikenal sebagai Qaddur al-'Alami. Sebetulnya keturunan Idris I ini tinggal di kota Miknas yang terletak kira-kira 30 kilo dari kota Mawlay Idris, tetapi setiap hari Jum'at dia biasa mendirikan   salat pada makam nenek moyang Idris I di Mawlay Idris. Pada suatu tahun yang kering sekali penduduk Miknas datang kepadanya memajukan permintaan untuk menjadi perantara kepada Allah. 'Abd al-Qadir al-'Alami memerintahkan teman-teman sekotanya untuk berjalan ke Mawlay Idris dengan prosesi yang khidmat. Orang Miknas melaksanakan nasihat 'Abd al-Qadir al-'Alami. Permohonan mereka ditanggapi, dan sejak itu penduduk Miknas menziarahi makam Idris I pada setiap tahun. Demikianlah, kubur orang suci ini menjadi pusat pemujaan dengan banyak upacara agama, yang paling menyolok adalah mawsim tahunan. Dalam lintasan waktu mawsim untuk menghormati Idris I ini mengalami beberapa perubahan. Pada permulaannya hanya ada satu perayaan yang diselenggarakan oleh penduduk Miknas. Fas, Jabal Zarhun dan daerah sekelilingnya. Sebagai akibat dari kontroversi antara penduduk Fas dan Miknas tentang pimpinan upcara, sekarang mawsim ini terdiri dari dua pesta yang masing-masing dirayakan tidak lama satu setelah yang lain. Selama ini mawsim Idris I dirayakan pada bulan mei, tetapi pada waktu ini pesta itu terjadi pada akhir bulan September. Bermacam-macam upacara korban seperti sapi jantan dan binatang lain berubah, ada yang menjadi hadiah ada juga yang dilarang. Peranan yang dimainkan pada waktu mawsim ini oleh tarikat-tarikat agama, seperti tarikat 'Alamiyya, tarikat 'Isawa dan tarikat Hamadsha, juga tidak lagi sama. Bagi penduduk Fas yang setiap tahun merayakan pesta Idris II, yang adalah putra Idris I dan yang dianggap sebagai pendiri kota Fas itu, menziarahi makam ayahnya di kota Mawlay Idris, yang terletak kira-kira 60 kilo dari kota mereka, merupakan bagian dari kewajiban menjalankan upacara agama untuk menghormati orang suci kota mereka sendiri.

    Khadijah’s Image in 19th Century Orientalism

    Get PDF
    Khadijah, Prophet Muhammad’s first wife, has remained a victim in Latin and vernacular literature in the West until the 18th century. According to texts in Latin and some vernacular languages written and impacted more by the Church mindset, Muhammad is a manipulator man who used Khadijah to gain wealth and power through marriage. However, this image has changed decisively as a result to the new historical approach of the French Historical Scholar School followed at the beginning of the 19th century. The present study investigates the image of Khadijah in French texts based on the image studies analysis. Particularly, forty-nine French texts published in the 19th century were studied and analyzed. The texts include books, dictionaries, encyclopedias, journals of literature and science. The results show that the image of Khadijah has changed drastically. Khadijah, the rich widow made a major contribution to the founding of the new creed mentality of Islam. Khadijah is no longer the persecuted victim of Muhammad; but an intelligent, wise, supporter and loving wife. Moreover, another analysis of these texts shows that since the 18th century, the characters of Muhammad and Khadijah were used in French fantasia that imitates the Arabian Nights.[Istri pertama Nabi Muhammad, Khadijah, masih diceritakan sebagai obyek penderita dalam literatur bahasa Latin dan Eropa hingga abad 18. Berdasarkan teks-teks latin dan yang dipengaruhi oleh mindset gereja, Muhammad merupakan orang yang memanfaatkan perkawinannya dengan Khadijah untuk meraih kemakmuran dan pengaruh politik. Namun gambaran itu perlahan memudar seiring dengan berkembangnya pendekatan sejarah baru para sejarahwan Prancis dan diikuti oleh sarjana lainnya hingga awal abad 19. Pada tulisan ini akan mengkaji gambaran Khadijah dalam teks-teks berbahasa Prancis. Setidaknya ada 49 tulisan yang akan dibahas dan dianalisis termasuk diantaranya, buku, kamus, ensiklopedia, artikel jurnal sastra dan sains. Kesimpulannya menunjukkan bahwa gambaran tentang Khadijah berubah drastis, dia sebagai janda kaya telah memberikan kontribusi besar dalam meletakkan mentalitas baru umat Islam. Khadijah bukanlah obyek penderita, tapi seorang yang pandai, bijak, pendukung utama dan istri yang mencintai suaminya, Muhammad. Selain itu, karakter Muhammad dan Khadijah hingga abad 18 digunakan sebagai fantasi yang disejajarkan dengan kisah Seribu Satu Malam.

    Kata Pengantar

    Get PDF

    Abdurrahman III dan Sultan Akbar (Suatu Studi Perbandingan)

    Get PDF
    Berbicara tentang Islam di Spanyol dan India, sebetulnya masuknya Islam di kedua tempat ini hampir sama waktunya dan di bawah khalifah yang sama pula yaitu al-Walid I bin Abdul Malik (705-715) dari dinasti Umayyah. Islam masuk ke Spanyol. tanggal 30 April 711 di bawah Tariq bin Ziyad, sedangkan Islam masuk ke India dia tahun 711/12 di bawah Muhammad b. al-Qasim. Hanya saja bedanya Spanyol ini pada mulanya merupakan bagian dari provinsi Afrika Utara dengan ibukotanya Qairawan. Akan tetapi, tak lama kemudian dinasti Umayyah yang digulingkan oleh dinasti Abbasiyah tahun 750, dapat meneruskan kekuasaannya di Spanyol dengan datangnya Abdurrahman I  tahun 755. Dia dinobatkan menjadi Amir ke-1 tahun 756. Sejak itu kekuasaan Islam di Spanyol berdiri sendiri, tidak dipengaruhi oleh dinasti Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi, sebutan amir ini sebagai kepala negara diubah menjadi khalifah oleh Abdurrahman III tahun 929. Dinasti Umayyah Spanyol ini berakhir tahun 1031. Sesudah itu Spanyol diperintah raja-raja Islam kecil yang saling bermusuhan. Pada akhirnya kekuasaan Islam hancur tahun 1492. dengan jatuhnya Granada, benteng Islam terakhir, ke tangan penguasa Spanyol. Antara 1492 sampai dengan permulaan abad ke-17 ada kira-kira tiga juta kaum Muslimin Spanyol yang diusir atau dibunuh, sebab mereka tidak mau dipaksa masuk agama Katolik

    Memahami Masa lampau Dengan Pendekatan Multidimensional (Suatu Alternatif Metodologis)

    No full text
    Minat manusia untuk mengungkap kembali peristiwa yang sudah terjadi dalam upaya memahami masa lampau, bukan merupakan hal yang baru. Menurut catatan Historiografi Barat, hal itu sudah tampak, paling tidak, sejak kira-kira pertengahan abad V dengan munculnya Herodotus (490-430 SM) yang dianggap oleh Barat sebagai Bapak Sejarah kelahiran jaman kasik. Perlu diingat, bahwa peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu tidak terhingga banyaknya.  Pengungkapan   kembali peristiwa-peristiwa itu selalu didasarkan atas jejak atau rekaman yang bisa diperoleh, yang tentu saja hanya merupakan bagian terkecil dari peristiwa yang sesungguhnya pernah terjadi. Melalui proses atau teknik tertentu, jejak-jejak masa lampau itu direkonstruksikan menjadi sebuah bangunan ceritera sejarah yang kira-kira mampu memberi gambaran tentang kejadian yang sebenarnya dari peristiwa masa lampau itu. Lengkap atau tidaknya bangunan itu akan sangat tergantung pada   lengkap   atau   tidaknya jejak yang   ditinggalkan   atau   puing   yang ditemukan. Sehubungan dengan hal itu, Gilbert J. Garraghan mengemukakan, bahwa sejarah mengandung   tiga konsep yang berlainan, namun ketiganya saling berkaitan.  Ketiga konsep itu adalah: (1) peristiwa masa lampau umat manusia yang benar-benar   pernah terjadi; (2) rekaman mengenai peristiwa masa lampau; dan (3) proses atau teknik untuk membuat rekaman peristiwa masa lampau. Dengan kata lain, yang pertama sejarah sebagai peristiwa, yang kedua sejarah sebagai ceritera, sedangkan yang ketiga sejarah sebagai ilmu. Untuk apa jejak masa lampu itu direkonstruksi?  Terhadap pertanyaan ini banyak jawaban yang bisa diberikan.  Satu dari sekian banyak kemungkinan jawaban itu dapat dirujuk kepada pemyataan Sir John Seeley, sebagaimana dikucipoleh Roeslan Abdulgani, yang berbunyi, "History ought surely in some degree to anticipate the lessons of time.  We shall all no doubt be wise after the event; we study history that we may be wise before the event".    Sejalan dengan itu, Ibrahim Alfian dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Sejarah pada   Fakultas   Sastra Universitas Gadjah Mada, dengan   mengutip Cicero, mengatakan, "Tidak belajar sejarah herarti kita akan tetap menjadi kanak-kanak untuk selamanya". Jadi, dengan bercermin kepada pengalaman masa lampau diharapkan seseorang   akan mampu   melihat jauh ke depan, sehingga menjadi bijaksana dalam melangkah ke masa yang akan datang. Di sinilah rekonstruksi jejak masa lampau akan berfungsi sebagai pengajaran bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari masa lalunya. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, sekalipun seringkali amat pahit. Dalam menyingkap tabir masa lampau, seorang sejarawan biasanya akan bertolak   dari pengalaman masa kini. Hal itu disebabkan masa lcini bukan hanya merupakan kelanjutan masa lampau, melainkan juga sebagai produk dari rnasa   silam   itu.   Dernikian    pula   halnya   masa   yang   akan   datang, akan merupakan kelanjutan dan produk dari masa kini. Apabila mempelajari sejarah bertujuan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan, maka tidaklah berlebihan apabila   dikatakan   bahwa   sejarah berwatak   tiga dimensi dalarn waktu; masa   lampau, masa   kini   dan   masa   depan.   Dengan    kata   lain, mempelajari masa lampau harus berpijak dari kenyataan dan permasalahan masa kini, serta berorientasi ke masa depan. Tanpa   berorientasi   ke masa depan, sejarah seakan beku dan terpencil dari masa kini dan masa yang akan datang."  Oleh karena itu, timbul usaha manusia untuk merekonstruksi jejak-jejak masa lampau menjadi suatu bentuk yang bulat dan utuh, agar mampu memberi arti bagi  kehidupan  masa kini dan masa yang akan datang

    Bentuk Ideal Jurusan TH (Tafsir Hadist) Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga

    No full text
    Berpindahnya jurusan Tafsir Hadis dari fakultas Syariáh ke fakultas Ushuluddin memang belum lama, tepatnya baru dua tahun yang lalu. Mahasiswa baru jurusan Tafsir Hadis di fakultas Ushuluddin  sekarang sedang duduk disemester ke lima. Kita menyambut gembira aca sarasehan pemantapan jurusan Tafsir Hadis pada fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, lantaran pemindahan jurusan TH dari fakultas Syariáh ke fakultas Ushuluddin mengandaikan adanya latar belakang pemikiran tetentu, yang olehkarenanya jika tidak ada juklaknya, kita akan berjalan tanpa arah atau setidaknya kita hanya memindahkan jurusan secara pisik belaka.untuk menghindari kesan seolah-olah berpindahnya jurusan Th Cuma secara fisik tersebut, fakultas Ushuluddin yang sudah terlanjur ditugasi membina jurusan Th perlu waktu yang cukup untuk berbenah diri dengan memperbanyak forum dialog atau sarasehan seperti siang hari ini. Jika dilihat secara garis besar, perjalanan sejarah penulisan tafsir pada abad pertengahan, agaknya tidak teralalu meleset jika dikatakan bahwa dominasi corak penulisan tafsir al-Qur’an secara leksiografis  (lughawi) tampak lebih menonjol. Tafsir karya shihab al-Din al-khafffaji (1659) memusatkan perhatian pada Analisa gramatika dan Analisa sintaksis atas ayat-ayat al-Qur’an. Juga karya al-baydawi (1286), yang hingga sekarang masih dipergunakan  di pesantren-pesantren, memusatkan perhatiaan pada penafsiran al-Qur’an corak leksiografis seperti itu

    Menggugat Keakraban Al-Quran Melalui Qira’ah (Syiria-Aramaika)

    No full text
    Buku Berjudul Die Syro-Aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag Zur Entschlusselung der Koranspache karya sarjana Jerman Bernama samara Christoph Luxenberg menjadi bahan kontroversial, tidak saja di negara-negara Muslim, melainkan juga dinegara tempat ia berasal. Semula banyak penerbit akademik Jerman tidak mau mempublish karya ini khawatir akan reaksi bernada marah dari kalangan Muslim. Hal ini bisa dimengerti, sebab buku setebal 311 halaman plus ix halaman pengantar merupakan ‘pukulan’ bagi kajian teologi Islam yang selama ini telah mapan dan banyak dipahami oleh Islamisis Barat

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇