Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Tata Nilai Dalam Epistemologi Islam

    Get PDF
    Manusia menurut dienul Islam adalah makhluk terbaik yang diciptakan Allah, memiliki kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk, sebagaimana firman Allah:  "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk yang telali Kami ciptakan" (Al Isma : 70). Serta memiliki bentuk yang sebaik-baiknya, Allah berfirman:   "Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik­ baiknya" (At Tiin:4). Penciptaan manusia merupakan salah satu rahasia Allah, karena menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan makhluk lain. Dengan kewajiban dan hak yang berbeda dengan makhluk lainnya. Allah memberikan karunia akal dan pengetahuan yang merupakan kualitas keutamaan sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Sehingga manusia mempunyai hak untuk. mendapatkan penghormatan dari makhluk lainnya. Sesuai dengan martabatnya, manusia diberi tugas muliasebagai khalifatullah fil ardhi, sebagaimana firmanNya:  "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'. Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'. 'Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda­benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada para malaikat lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!". Mereka menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Allah berfiman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini'. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah  berfirman: 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan'. Dan (ingatlah) ketika Kami berfiman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan ia adalah termasuk golongan orang­orang yang kafir' (Al Baqarah: 30-34

    Etika Penelitian (Suatu Langkah Awal Mencari Dari Sudut Pandang Keislaman)

    No full text
    Dasar penelitian adalah mencari kebenaran. Kata kebenaran itu sendiri mempunyai dua pengertian yaitu kebenaran mutlak (yang sering disebut dengan kebenaran doktriner, kebenaran teologis, dan kebenaran qaṭ’iy dan kehenaran Sunnatu 'l-Lāh. Dari dua pengertian ini masih dapat dibedakan lagi pada sifat keduanya. Mencari kebenamn mutlak lebih berhubungan dengan masalah yang sifatnya ghayh dan mencari kebenaran sunnatu 'l-Lāh lebih berhubungan dengan masalah yang sifatnya shahadah, fenomenal. Dari literatur klasik -- dilihat dari dimensi manusia --ada dua ilmu yaitu  'ilm al-ghayh dan 'ilm al-shahādah. Corak keduanya ini juga berbeda. 'llm al-ghayb mempunyai corak wahyuwi (corak revelatif) dan 'ilm al-shahādah mempunyai corak selain alam (natur) juga sosial/ humaniora (sering disebut sebagai ilmu sosial dan budaya)

    The Advice Prof. Dr. P.S. Van Koningsveld for the promotion of Dr.Machasin sept. 2, 1994

    Get PDF
    Enough has been said already about all the technical details of your work, during your discussions with your supervisors, during the closed examination and also during this open, official ceremony. I am very grateful that you have also given me the opportunity to study your work and to give you, my remarks. Time will now come for you to prepare your work for its publication. This will give you the opportunity to think over everything that has been said and take it into account in one way or another. The INlS­ programme has already written to you that it is willing, in principle, to include your work in its printed series.  When I try to do justice to the scope of your work, I would say that it contains two major axes or points of orientation. The first of these is the purely philological and historical approach. Your work mainly consists of an analysis of the methods or methodology applied by an important representative of one of the schools of Islamic theological thought, viz. Qādī 'Abd al-Jabbar al-Basrī. For this analysis, you base yourself on a number of ancient Arabic sources and, in doing so, you take into account the studies of other scholars, both from the Muslim world and the West. The publication and sources you have quoted in your thesis are mainly written in Arabic, English, French and German. This proves, I believe, that your main ambition and concern were to present a study. primarily concerned with the general history of Islamic thought taking into account the results of international scholarship

    Spiritual Hermeneutics (Ta’wīl) A Study of Hendry Corbin’s Phenomenological Approach

    No full text
    Hermeneutika Henry Corbin tumbuh dari pemahamannya atas filsafat Barat, khususnya pemikiran metafisika Heidegger. Tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, Corbin lebih tertarik kepada filsafat Timur dan mentransformasikan hermeneutika Heidegger ke dalam hermeneutika spiritual. Postulat pertama dari "interpretasi spiritual" (spiritual interpretation, hermeneutique esoterique, atau ta'wil) ini adalah kepercayaan bahwa dalam segala sesuatu yang nyata (ẓāhir) terdapat sesuatu yang tersembunyi dan bersifat spiritual (bāṭin). Begitu pula, agama memiliki dua aspek, yaitu ẓāhir dan bāṭin. Corbin menegaskan bahwa untuk melacak makna yang benar dan tersembunyi dari agama ini hanya dapat dilakukan dengan cara ta'wil. Penting untuk digarisbawahi bahwa interpretasi spiritual bukan merupakan interpretasi alegoris. Dalam pemahaman Corbin, alegori merupakan representsi artifisial dari abstraksi-abstraksi yang dapat diekspresikan dengan cara-cara lain. Sedangkan simbol merupakan satu-satunya ekspresi yang mungkin bagi yang disimbolkan. Interpretasi yang membawa aspek-aspek dari agama ini kepada aspek esoteriknya, oleh Corbin disebut "fenomenologi". Fenomenologi ini berarti "menyingkap penutup" atau kashf al'mahjūb, yang tidak memiliki hubungan dengan aliran fenomenologi di Barat. Fenomenologi inilah yang merupakan metode interpretasi Corbin. Dengan metode ini ia ingin menolak historisisme yang mereduksi peristiwa-peristiwa sejarah ke dalam waktu historisnya dan menjelaskan peristiwa tersebut sebagai produk keadaan atau lingkungannya

    Arti Penting Mullā Ṣadrā dan Karatristik Aliran Pemikirannya

    No full text
    This article is intended to introduce Mullā Ṣadrā and his thought to Indonesian readers. Born and brought up in the Shi'i religious tradition. Mullā Ṣadrā has been known as one of the greatest Persian thinkers. Especially in metaphysics. In spite of the fact, the position of Mullā Ṣadrā and the significance of his thought have hardly been known outside Persia (Iran). In his attempt to find a truth. Mullā Ṣadrā used three approaches, i.e., by synthesizing and harmonizing revelation. Illumination and reason. In addition to these methods, he also reconciled various schools of Islamic Thought which had existed befor such as masysyā'ī (periparetic), isyrāqi (illumination). ‘irfānī (Gnosticism or sufism). And kalām (Islamic theology). In formulating his ideas. Mullā Ṣadrā employed Qur'ān verses. Prophetic tradition 'Sunnah), opinions of Shi’I Imāms, as well as his deep individual thinking and reflections. The way Mullā Ṣadrā formulated his ideas has made him a great thinker who could create a grand thesis called al-ḥikmat al-muta’aliyah. Mullā Ṣadrā grand thesis is very different from other thinkers, thesis such as al-ḥikmat al-masysyāī‎ah or al-ḥikmat al-Isyrāqīyah. So far, Mullā Ṣadrā’s influence has been confined to shií countries, chiefly Iran where his works and ideas have been broadly and profoundly studied from generation to generation. Based on this fact, the writer argues that it is groundless to say that Islamic philosophy in the Muslim world become stagnant after the demise of the great philosophers like ibn rushed were never produced in the sunnī Muslim countries. In Contrast to the writer, intellectual discourses and philosophical life in a shi’I Muslim Country like Iran has never stopped but always developed from time to time. The writer argues that Sunni Muslim scholar should pay attention to Islamic Studies in Iran, and Sunnis Negative views of shiísm should be wiped out.

    Makna Penting Hukum Kausalitas Dalam Peradaban Islam (Studi Tentang Pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Rusyd)

    No full text
    Kausalitas merupakan salah satu masalah fundamental dalam filsafat, sehingga wajar saja jika selalu ·dibicarakan. Filsafat Islam Abad Tengah membuktikan, melalui Tahafut al-Falasifah karya al-Ghazali dan Tahafut al-Tahafut karya lbn Rusyd, puncak ledakan perdebatan tentang kausalitas dilihat semata-mata dari sudut pandang filsafat dan teologi Islam, di mana al-Ghazali menghukumi bahwa para filosof (falasifah) terutama lbn Sina dan al-Farabi adalah kafir karena pendapat mereka tentang tiga persoalan metafisika. Kelemahan dalam memahami kausalitas akan menimbulkan banyak aspek negatif semisal keterbelakangan saintifik yang kini tengah melanda dunia lslam dan, sebaliknya, ketergantungan pada 'kekuatan spiritual'. 'Penuhanan sain-sain eksperimental dan penafian total terhadap kemungkinan adanya kekuatan spiritual --yang di zaman modem ini tercermin dalam kecenderungan sekelompok umat Islam yang dimotori oleh Ahmad Khan yang menafsirkan mukjizat dengan menggunakan terminologi naturalistik, yaitu "Islam is Nature and Nature is lslam"-- merupakan akibat ekstrim lainnya. Sekarang memang ada anggapan baru, yang dikemukakan oleh Ilai Alon dan Lenn Evan Goodman, bahwa al-Ghazali tidak menolak kausalitas. Namun demikian, anggapan sebaliknya sudah berakibat sangat jauh sehingga lebih pantas untuk dibicarakan disini, dengan enam fokus: latar belakang saintifik dan politik al-Ghazali dan Ibn Rusyd; kausalitas dalam tradisi pemikiran Islam; pandangan al-Ghazali tentang kausalitas; tanggapan Ibn Rusyd terhadap al-Ghazali; dan pengaruh perdebatan tentang kausalitas terhadap modernisme Islam. Tidak lupa diberikan pula catatan penyimpul

    Islam Rasional (Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution)

    Get PDF
    Islam Rasional serves a dual function. It is intended in the first place as a textbook for students of Islamic studies, especially those who wish to examine in a more sustained way than is usually the case how theology and religious studies are related to each other. Islam Rasional playing out two roles. 1) as a thought rationally looking at Islam and 2) as a thought rationally looking at al-Qur’an as a religious source which does not consist of everything and this is only accepted rationally. It is playing out both that some scholars would obviously like to see as quite disjunct and which others would see as indistinguishable one. This seems to create criticism. Islamic and rational thought can be engaged in a dialectical interaction which enhances the validity and authenticity of each and Islam Rasional allows these disciplines to bed down together or to be integrated combined this does not mean that offspring which might result from such of union will necessarily be a new integral theological science of religion though this is perhaps what a growing number of scholars seem to envisage, and if such is a felt necessity there is no point in the champions of methodological rigout on either side of the marital bed saying this must not be. Its position is that while it has to move beyond either polarized antagonism or tolerant coexistence, the rigorously desired mutual dependence will in fact more fully authenticate the distinctiveness of the two approaches. But in view of the intrinsic independence, to delineate any precise methodological autonomy for each will for great subtlety, or the distinctiveness will be overstated and oversimplified. The understanding of either approach, and certainly of their interrelation, must hinge largely on our analysis and interpretation of the intrinsic character of religion. And here Islam Rasional has to affirm the incongruity of setting ‘faith’ against ‘religion’, even if in all religions there are core points of experience that seem to transcend the religion. In particular, it is in the dialectical interdependence, that relation between the theology, the diverse forms in religion, and the religious studies process in further interaction with contextual life that provides the key for understanding how to relate theology to religion and thus to religious studies (Islamic Studies). Islam Rasional consists of basic and primary grinding of Islamicisty, a specifically religious one, which means that it should welcome any potentially instructive insight into the richly varied dimensions of religious life. The inner structuring of Islam, which could relate the existence of for example sciences in Islam. In the history of Islam, Prof. Dr. Harun Nasution observes, the conflicts are not between science and religion, but among more or less, the schools (madhhab) of Islamic theology, and Islamic law. A science of religion, even if concerned primarily in such particularity. Inclusiveness possible to many theologies, the inclusiveness which is hopefully increasingly realized in further inter-religious exchange, it seems to be a rather different order. Theology and religion (Rationality and Islam or reason and revelation, or al-‘aql and al-waḥy) must be recognized as thoroughly independent, but their distinctive procedures cannot be over liked

    Ijtihad dalam Kemantapan Hidup Bermadzhab (Dari Halaqah-Halaqah Di Pesantren sampai dengan Munas Alim Ulama NU Di Bandar Lampung)

    No full text
    Sebagaimana telah diberitakan secara luas dalam berbagai media massa, di Bandar Lampung pada tanggal 16 s/d 20 Rajab 1412 H yang bertepatan dengan tanggal 21 s/d 2 Januari 1992 telah berlangsung Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama dan Konperensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU). Sesuai dengan kata pengantar pengurus besar Nahlatul Ulama (PBNU) dalam setiap buku materi MUNAS dan KONBES, forum ini merupakan ajang permusyawaratan yang amat penting bagi NU, khususnya untuk konsolidasi organisasi, kebijakan dan program. Secara lebih terinci dinyatakan bahwa forum ini bertujuan untuk membahas dan merumuskan berbagai pandangan dan etika keagamaan serta ketentuan hukum agama yang menyangkut kehidupan masyarakat, bangsa dan negara; serta menegaskan partisipasi NU bagi kemajuaan dan keberhasilan pembangunan nasional; merumuskan garis kebijaksanaan jam’iyyah dalam rangka mendorong dan memayungi kepentingan ekonomi, politik dan budaya secara luas, terutama bagi masyarakat lapisan bawah yang menjadi akar kehidupan NU. Selain itu, forum Munas dan konbes akan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap berbagai permasalahan organisasi, intern maupun ekstern

    Pondok Pesantren Dalam Perjalanan Sejarah

    No full text
    W.J.S.  Poerwodarminto dalam buab karyanya Kamus Umum Bahasa Indonesia menganikan pesantren sebagai asrama dan tempat murid-murid belajar mengaji. Menurut suatu tim dari Departemen Agama RI pondok pesantren adalah "lembaga pendidikan Islam yang pada umumnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajarannya secara nonklasikal". Dewasa ini banyak pondok pesantren menjadi lembaga peodidikan gabungan antara sistem pendid.ikan  oonformal clan formal,  karena di dalam lingkungannya d.iseleoggarakan pula sistem pendidikan madrasah bahkan sekolah umum deogan berbagai  tingkatan dan  aneka jurusan  mengikuti kebutuhan masyarakat.    Menurut H.A.   Mukti Ali, poodok pesantren merupakan suatu sistem pendidikan dan pengajaran yang mempunyai ciri-ciri khas.  Ia bukan sekolah umum yang diselenggarakan oleh Depdikbud atau organisasi-organisasi yang bernaung di bawahnya.  Juga bukan pendidikan keluarga dan bukan pendidikan di luar pondok pesantren. Pada dasarnya istilah pondok atau pesantren atau pondok pesantren adalah nama saja. Hanya bedanya pesantren (tanpa pondok) tidak menyediakan pemondokan bagi para santri di komplek pesantren itu

    Semiotik dan Penerapannya dalam Studi Sastra

    Get PDF
    Perkembangan penelitian sastra pada masa kini cukup menggembirakan. Di Fakultas Adab lAIN Sunan Kalijaga sendiri sejak beberapa tahun terakhir ada kecenderungan di kalangan para mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Arab memilih bidang sastra sebagai ajang penulisan skripsi. Hal ini tentu tidak terlepas dari adanya peningkatan bimbingan dalam bidang kajian dan penelitian sastra pada Fakultas Adab, baik terhadap para mahasiswa maupun para pengajar. Kita dilanda oleh berbagai pendekatan sastra, sehingga tidak jarang menurut pengamatan saya, mahasiswa mendapat kesukaran untuk memilih salah satu pendekatan. Mereka berlomba-lomba untuk memasukkan berbagai teori dan pendekatan ke dalam penelitiannya. Hasil penelitiannya menjadi begitu "canggih", sehingga sukar dipahami, bahkan oleh pembuatnya sendiri. Menurut hemat saya, betapapun canggihnya, teori itu hanya merupakan alat untuk melakukan penelitian, sehingga si pemakai perlu memahami cara menggunakannya. Deretan istilah atau definisi teoritis yang berupa tempelan atau hiasan belaka, hanya akan menurunkan mutu penelitian sastra. Salah satu pendekatan yang kini banyak dibicarakan adalah semiotik, yaitu ilmu tanda

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇