Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
364 research outputs found
Sort by
Kajian Toksisitas Serbuk Biji Mahoni terhadap Perkembangan Tingkah Laku, Histologi Hati serta Hematologi Anak Mencit
This study aims to determine the effect of seed powder mahogany (Swietenia macrophylla King) on the development of behavior, liver histology and hematology of pups mice. Experimental animals used were 45 female mice were divided randomly into 5 groups. Group 1 as a control group. Groups 2, 3, 4, and 5, respectively mahogany seed powder given at a dose of 5, 10, 15, and 20 mg/20g/day from fetal life until lactation is completed. Developmental toxicity test carried out by behavioral test battery, observation of histology and hematology profile. The results showed that the provision of mahogany seed powder causes abnormal in the conduct reflex test and motor test on post natal day of 8 and 10, as well as the vision test on post natal day of 14-18. While the observation of liver histology and hematology profile did not show any effect.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian serbuk biji mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap perkembangan tingkah laku, gambaran histologi hati serta profil hematologi anak mencit. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih betina sebanyak 45 ekor dibagi secara acak menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 sebagai kelompok kontrol diberi NaCMC 0,5%. Kelompok 2, 3, 4, dan 5 berturut-turut diberi serbuk biji mahoni dengan dosis 5, 10, 15, dan 20 mg/ 20gBB/hari mulai masa janin hingga masa laktasi selesai. Toksisitas perkembangan dilakukan dengan metoda test perilaku berurutan, observasi terhadap histologi dengan pewarnaan Hematoxilin-Eosin serta penghitungan profil hematologi. Hasil penelitian menunjukan pemberian serbuk biji mahoni menyebabkan penyimpangan tingkah laku pada uji refleks dan uji motorik PND-8 dan PND-10, serta pada uji penglihatan PND-14 hingga PND-18. Sedangkan pada pengamatan histologi hati dan profil hematologi anak mencit tidak menunjukan adanya pengaruh
Uji Aktifitas Analgetik Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica papaya L.) pada Mencit Putih Jantan yang di Induksi Asam Asetat 1%
Analgesic activity of extract of papaya leaves (Carica papaya L.) to male mice has been evaluated. Twenty five of mice (20-30 g, 2-3 months old) were divided randomly into five groups. The first group was given sodium CMC as negative control, the second until fourth groups received ethanolic extract of Carica papaya leaves in the doses of 100, 300, and 600 mg/kgBW, respectively and the fifth group was given paracetamol 65 mg/kg BW. All interventions were administered as single dose by oral route on given day. Acetic acid 1% (w/v) was used as the pain inductor. Analgesic activity was measured by counting the percentage of writhing movements as a measure of the analgesic effect produced by each intervention. Data were analyzed with one way ANOVA to compare analgesic activity between treatment groups. The results showed that the analgesic effect of the extract on the doses of 100, 300, and 600 mg/kg BW was significantly different with control group (PEvaluasi aktivitas analgesia dari ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L.) pada mencit putih jantan telah dilakukan. Dua puluh lima ekor mencit (20-30 g, 2-3 bulan) dibagi secara acak menjadi lima kelompok. Grup pertama diberi NaCMC sebagai kontrol negatif, sedangkan kelompok 2-4 menerima ekstrak etanol daun Carica papaya dengan dosis 100, 300, dan 600 mg/kgBB dan kelompok kelima diberi parasetamol 65 mg/kgBB sebagai pembanding. Semua intervensi diberikan sebagai dosis tunggal secara oral. Asam asetat 1% (b/v) digunakan sebagai penginduksi nyeri. Aktivitas analgesik diukur dengan menghitung persentase geliatan sebagai ukuran efek analgesik yang dihasilkan oleh setiap intervensi. Data dianalisis dengan ANOVA satu arah untuk membandingkan aktivitas analgesik antara kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak pada dosis 100, 300, dan 600 mg/kgBB memberikan efek yang berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol (
Efektifitas Propolis Toothpaste sebagai Initial Therapy pada Mild Gingivitis
Characteristics of mild gingivitis are change in the color of the gums, slight edema, and no bleeding and painless. If it does not receive the proper treatment, gingivitis can become periodontitis which cause alveolar jaw bone tissue damage, resulting in further tissue damage locally and systemically through the blood vessels. The selection of appropriate therapy is essential to reduce the prevalence of the disease. In addition to scaling and plaque control, the propolis toothpaste can be used as initial therapy. The toothpaste contains propolis known for anti-inflammatory effects that is useful as one of the initial teraphy to treat mild gingivitis. Gingival index of 15 patients were measured before and after use of propolis toothpaste. Data analysis was performed by means of univariate to describe each variabel using Kolmogorov Smirnof Test. Gingival Index difference between before and after brushing with toothpaste containing propolis by paired t-test. Toothpaste contains propolis which proved effective in the initial therapy of mild gingivitis with an average difference of reduction in Gingival Index scores before and after was 0.40 ± 0.04 There are significant differences (p <0.05) difference between the average reduction in Gingival Index scores before and after the use of toothpaste containing propolis.Karakteristik gingivitis ringan adalah terjadinya perubahan warna gusi, edema ringan, tidak ada pendarahan dan tanpa ada rasa nyeri. Jika pasien tidak mendapatkan perawatan yang tepat, gingivitis dapat berubah menjadi periodontitis yang menyebabkan kerusakan jaringan tulang rahang alveolar, menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut secara lokal dan sistemik melalui pembuluh darah. Pemilihan terapi yang tepat sangat penting untuk mengurangi prevalensi dari penyakit ini. Selain proses scaling dan kontrol plak, penggunaan pasta gigi propolis dapat digunakan sebagai terapi awal. Komposisi pasta gigi yang mengandung propolis memiliki efek anti-inflamasi yang bermanfaat sebagai salah satu terapi awal untuk mengobati gingivitis ringan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Indeks gingiva dari 15 pasien diukur sebelum dan sesudah penggunaan pasta gigi propolis. Analisis data dilakukan dengan cara univariat untuk menggambarkan masing-masing variabel dengan Kolmogorov-Smirnof Test. Perbedaan indeks gingiva antara sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung propolis dianalisis dengan uji T berpasangan. Pasta gigi yang mengandung propolis ini terbukti efektif dalam terapi awal gingivitis ringan dengan rata-rata pengurangan skor indeks gingiva sebelum dan sesudah adalah 0,40 ± 0,04. Terdepat perbedaan yang signifikan (p <0,05) antara rata-rata penurunan nilai gingiva indeks sebelum dan setelah penggunaan pasta gigi yang mengandung propolis
Solubilsasi Parasetamol Dengan Ryoto® Sugar Ester dan Propilenglikol
Paracetamol was an active ingredient, which is poorly soluble in water. Absorption of poorly soluble or slightly soluble in water is influenced by the rate of dissolution. Solubilization is an alternative to improve drug solubility in water with the addition of surfactant. The addition of Ryoto® sugar ester surfactant and propylene glycol cosolvent conducted to determine the concentration of Ryoto® sugar ester and prophylene glycol that increase the solubility and stability of the dosage form. Solubilization of Paracetamol with the addition of Ryoto® sugar ester without propylene glycol and combinations Ryoto® sugar ester and propylene glycol at a concentration below the CMC point (Critical Micell Concentration), at the point of CMC, and above the CMC points in a row is 0.005 mg/ml, 0.006 mg/ml, and 0.007 mg/ml with 10% propylene glycol. The highest solubility of Paracetamol achieved in the formula 7 with a combination of the addition Ryoto® sugar ester (0.007 mg/ml) and propylene glycol (10%) by the recovery percentage of 99.6%, and the combination is also obtained the best preparation stability which is not occur the color change in the preparations during storage at room temperature and place protected from direct sunlight for a month. The addition of Ryoto® sugar ester surfactant and propylene glycol increase the solubility and stability of the solubilization of Paracetamol preparations.Parasetamol merupakan obat yang agak sukar larut dalam air. Absorbsi obat sukar larut atau agak sukar larut dalam air dipengaruhi oleh laju pelarutan. Solubilisasi merupakan alternatif untuk meningkatkan kelarutan obat dalam air dengan penambahan surfaktan. Penambahan surfaktan Ryoto® sugar ester dan kosolven propilen glikol dilakukan untuk menentukan konsentrasi Ryoto® sugar ester dan prolilen glikol yang dapat meningkatan kelarutan dan stabilitas sediaan. Solubilisasi parasetamol dengan penambahan Ryoto® sugar ester tanpa propilen glikol dan kombinasi penambahan Ryoto® sugar ester dan propilen glikol pada konsentrasi dibawah titik CMC (Critical Micell Concentration), pada titik CMC, dan diatas titik CMC berturut-turut adalah 0,005 mg/ml, 0,006 mg/ml, dan 0,007 mg/ml dengan 10% propilen glikol. Kelarutan parasetamol tertinggi dicapai pada formula 7 dengan kombinasi penambahan Ryoto® sugar ester (0,007 mg/ml) dan propilen glikol (10%) yaitu dengan persentase perolehan kembali 99,6 %, serta pada kombinasi ini juga diperoleh stabilitas sediaan yang paling bagus yaitu tidak terjadinya perubahan warna pada sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar dan ditempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung selama satu bulan. Penambahan surfaktan Ryoto® sugar ester dan propilen glikol dapat meningkatkan kelarutan dan stabilitas sediaan solubilisasi parasetamol
Profil Disolusi Tablet Sustained Release Natrium Diklofenak dengan Menggunakan Matriks Metolose 90 SH 4000
Diclofenac sodium (Na-diclofenac) is a non-steroidal anti-inflammatory drug that is commonly used for arthritis patients. However, its short half-life time which is about 1-2 hours causes the drug should be administered repeatedly over a short time interval for oral administration. Therefore, the purpose of this study was to formulate a sustained release tablet of diclofenac sodium with metolose 90 SH 4000 as the matrix. In order to see the influence metolose 90 SH 4000 to the dissolution profile of diclofenac sodium tablet, metolose 90 SH 4000 was added with a ratio of 0% (F0), 5% (F1), 10% (F2), 15% (F3), 25% (F4). The tablets was prepared by wet granulation method. The dissolution results showed the formula F0, F1, F2, and F3 can be reached within 120, 240, 300, and 480 minutes, respectively. Meanwhile, F4 did not reach the dissolution for 480 minutes. According to the USP 26, only F3 qualified the dissolution of sustained release tablet.Natrium diklofenak (Na-diklofenak) adalah obat anti inflamasi non steroid yang umumnya digunakan untuk penderita radang sendi. Namun, waktu paruh yang pendek sekitar 1-2 jam menyebabkan obat diberikan berulang kali dalam interval waktu yang pendek untuk pemberian secara oral. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu memformulasi Na-diklofenak tablet sustained release menggunakan metolose 90 SH 4000 sebagai matriks. Untuk melihat pengaruh metolose 90 SH 4000 terhadap profil disolusi Na-diklofenak tablet sustained release, metolose 90 SH 4000 ditambahkan dengan perbandingan 0% (F0), 5% (F1), 10% (F2), 15% (F3), 25% (F4). Tablet Na-diklofenak dibuat dengan metode granulasi basah. Hasil disolusi menunjukkan formula F0, F1, F2 dan F3 dapat dicapai dalam waktu 120, 240, 300 dan 480 menit, berturut-turut, namun F4 tidak mencapai disolusi selama 480 menit. Bedasarkan USP 26, hanya F3 yang memenuhi syarat disolusi tablet sustained release
Evaluasi Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe-2 di Suatu Rumah Sakit Pemerintah Kota Padang – Sumatera Barat
The appropriateness of antidiabetic usege on a public hospital in Padang - West Sumatra has been studied. This study was a descriptive study, which used patient’s medical record as data resources. The appropriateness of antidiabetic usage based on criterion which was established earlier, such as the appropriateness of indication, the appropriateness of patient, the appropriateness of regiment, and the appropriateness of drug administration. Evaluation also has been done to the potential of drug interaction. The results showed that antidiabetic usage on that hospital were 100% appropriate in term of indication and drug administration. While evaluation to appropriateness of patient and drug regiment were 95.59% and 40.82% respectively.Kajian terhadap ketepatan penggunaan antidiabetik pada suatu rumah sakit pemerintah di Padang, Sumatera Barat telah dilakukan. Penelitian ini berupa kajian deskriptif, menggunakan rekam medis sebagai sumber data. Ketepatan penggunaan obat didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu, meliputi beberapa indikator, yaitu; ketepatan indikasi, ketepatan penderita, ketepatan regimen dosis dan ketepatan rute pemberian. Kajian juga dilakukan terhadap potensi terjadinya interaski obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat antidiabetik pada rumah sakit tersebut 100% tepat indikasi dan tepat rute pemberian. Sedangkan kajian terhadap ketepatan penderita dan regimen dosis masing-masingnya hanya sebesar 95.59% dan 40.82%. Selain itu juga ditemukan potensi interaksi obat
Formulasi Sabun Transparan Minyak Ylang-Ylang dan Uji Efektivitas terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
Ylang-ylang oil transparent soaps in three concentration i.e. 3.1 %, 3.85 % and 4.58 % have been formulated using virgin coconut oil (VCO), olive oil and stearic acid as a base soap reacted with NaOH as alkalin base. Transparent soap were tested for its identification, pH, wetting test, the foam on distilled water, the foam on hard water, skin irritation consumen preference test and micobiology test using the agar diffusion technique against bacterium cause of acnes like Staphylococcus epidermidis. The results showed that all formulas were stable for six weeks during storage conditions. Ylang-ylang transparent soap had medium antimicrobial activity (12-16 mm) against S. epidermidis. Statistical evaluation of pH, wetting test and micobiology test from formulas against control by using one way ANOVA had significant difference (p<0,05).Sabun transparan minyak Ylang-ylang telah diformulasi dengan tiga konsentrasi yaitu 3,1%, 3,85% dan 4,58% dengan menggunakan VCO, minyak zaitun dan asam stearate sebagai bahan dasar pembentuk sabun yang direaksikan dengan NaOH sebagai basa alkali. Masing-masing formula dievaluasi berupa pemerian, pH, daya pembasah, uji busa dalam air suling dan air sadah, uji iritasi kulit, uji penerimaan oleh konsumen dan uji daya antibakteri dengan metode difusi agar terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis penyebab jerawat. Hasil evaluasi fisik sabun transparan menunjukkan bahwa semua formula stabil selama enam minggu penyimpanan. Hasil uji mikrobiologi sabun transparan minyak ylang-ylang menunjukkan daya hambat sedang (12-16 mm) terhadap bakteri S. epidermidis. Hasil statistik dengan analisa variasi (ANOVA) satu arah pada evaluasi pH, uji daya pembasah dan uji daya hambat bakteri terhadap S. epidermidis menunjukkan hasil saling berbeda nyata (p<0,05) untuk ketiga formula terhadap sediaan pembanding.Â
Pengembangan Instrumen Penilaian Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Instrument to assessing patient satisfaction to hospital pharmacy services has developed. The instrument consists of two dimensions which are friendly explanation and managing theraphy. The result of instrument developing are a instrument which have fair to good of the level of agreement (ĸ = 0.53), fair to good validity (r > 0.632) and good reliability (cronbach alpha = 0.97).Telah dilakukan pengembangan insrumen untuk pengukuran kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh suatu rumah sakit. Instrumen terdiri atas dua dimensi yaitu penjelasan yang bersahabat (friendly explanation) dan pengelolaan terapi (managing theraphy). Hasil pengembangan didapatkan suatu instrumen dengan tingkat kesepahaman yang cukup baik (ĸ = 0.53), valid (r > 0,632) dan reliabel (cronbach alpha = 0,97
Pembangan dan Validasi Metode Kromatografi Lapis Tipis–Densitometri untuk Analisis Pewarna Merah Sintentik pada Beberapa Merek Saus Sambal Sachet
Chili sauce sachet A, B and C containing synthetic red coloring agent were taken from three fast food premises in Padang. Synthetic red coloring agent were a food additives used by food manufacturers to enhance color of food products. The use of food coloring agent in Indonesia were regulated  in The Rule of Head of the Supervisory Food Board of the Republic of Indonesia Number 37 Year 2013 about the Limit Use of Food Coloring Agent. Thin-layer chromatography (TLC) -densitometry was a precision method for the analysis of food additives. Development and validation of TLC method for chromatographic separation used GF254 silica plate eluted with a mixture of ethanol: butanol: distilled water (4: 5: 5) and spots were detected visually. A red spots on the sample B was identified as Ponceau 4R with Rf value of 0.76. It was then followed by quantitative analysis using densitometry. The linearity of the method was found in the range of 2-10μg/ml with a correlation coefficient of 0.994. Precision intra-day and inter-day relative standard deviation was shown from 1.11% and 2.69% respectively. Accuracy of the method was shown on the percentage of recovery of the 3 different concentrations of solution which gave the average percentage of 108.17%. Limit of detection and limit quantitation was 0.8306μg/ml and 2.7687μg/ml. The concentration of Ponceau 4R in the sample B was 11.9520mg/kg of material. This value was not exceeded the maximum concentration of food coloring agent as stated in the rule which should not be above 70mg/kg of material.Saus sambel sachet A, B dan C yang mengandung pewarna merah sintetik diambil ditiga tempat makanan cepat saji dikota padang. Pewarna merah sintetik merupakan salah satu bahan tambahan pangan yang digunakan oleh produsen pangan untuk memberikan sensasi warna pada produk pangannya. Penggunaan pewarna pangan ini diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Makanan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pewarna. Metoda yang presisi untuk analisis bahan tambahan pangan ini adalah kromatografi lapis tipis (KLT)-densitometri. Pengembangan dan validasi metoda KLT untuk pemisahan secara kromatografi digunakan plat silica GF254 dengan fasa gerak campuran etanol:butanol:aquadest (4:5:5) dan bercak yang nampak dideteksi secara visual. Sebuah bercak merah pada sampel B teridentifikasi mengandung ponceau 4R dengan nilai Rf 0,76 dan dilanjutkan dengan analisis kadar dengan densitometry. Linieritas metode yang dilakukan ditemukan pada rentang 2-10 μg/ml dengan koefisien korelasi 0,994. Presisi intra-day ditunjukkan dari standar deviasi relative 1,11% dan inter-day 2,69%. Akurasi metode ditunjukkan dari persentase perolehan kembali terhadap 3 konsentrasi yang berbeda dengan persentase rata-rata 108,17%. Batas deteksi dan batas kuatitasi yang didapatkan adalah 0,8306μg/ml dan 2,7687μg/ml. Kadar ponceau 4R yang dikandung dalam sampel B adalah 11,9520 mg/kg bahan yang tidak melebihi batas maksimum penggunaan bahan pewarna menurut peraturan diatas yakni 70mg/kg bahan
Uji Toksisitas Subkronis Ekstrak Etanol Tali Putri (Cassytha filiformis L.) Terhadap Fungsi Ginjal Tikus
Sub-chronic toxicity test of the deffated ethanolic extract of tali putri (Cassytha filiformis L.) on the rat renal function has been carried out. A number of 16 male rats aged 2-3 months, weighing ±250 g were used as experimental animals. The rats were divided into 4 groups which consisted of 1 control group and 3 extract-treated groups given 1.25, 2.5, and 5 mg/kg extract administrated intraperitoneally once a day for 14 days. The creatinine clearance, renal function, and the ratio of renal were calculated and analyzed by two-way ANOVA followed by Duncan’s test. The study showed that the creatinine clearance and renal function decreased significantly during treatment (p<0.05). The kidney weight ratio of groups treated with extract, especially with greater doses, showed a very significant increase as compared with control (p<0,01). These indicated that the ethanolic extract of C. filiformis on the doses of 1.25 – 5 mg/kg might decrease the renal function, althought it seemed to be relatively safe when used for 14 days.Pengujian toksisitas subkronis ekstrak etanol tali putri (Cassytha filiformis L.) terhadap fungsi ginjal tikus telah dilakukan. Sebanyak 16 ekor tikus jantan berusia 2-3 bulan dengan berat badan ±250 gram digunakan sebagai hewan uji. Hewan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan yang diberi ekstrak etanol tali putri dengan dosis 1,25; 2,5; dan 5 mg/kg sekali sehari secara intraperitoneal selama 14 hari. Data bersihan kreatinin, persentase fungsi ginjal, dan rasio organ ginjal dianalisis dengan ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s post hoc test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bersihan kreatinin dan persentase fungsi ginjal rata-rata tikus mengalami penurunan secara bermakna selama perlakuan (p<0,05). Rasio berat organ ginjal kelompok ekstrak, terutama pada dosis besar mengalami peningkatan dengan sangat bermakna (p<0,01) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol tali putri dengan dosis 1,25-5 mg/kg dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal, tetapi masih relatif aman bila digunakan selama 14 hari