Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
364 research outputs found
Sort by
Kajian Regimen Dosis Penggunaan Obat Asma pada Pasien Pediatri Rawat Inap di Bangsal Anak RSUP. Dr. M. Djamil Padang
                  A study on dosage regimens of asthma medications in pediatric patients hospitalized at the pediatrics ward DR. M. Djamil Padang hospital has been carried out. The purpose of this study was to determine and compare the suitability of dosage regimen given to pediatric patients in the pediatrics ward of Dr. M. Djamil Padang hospital with the literature. This study was conducted retrospectively with consecutive sampling technique. Samples were obtained from medical records during 2013. The results showed that the appropriate dosage administration of asthma medication for the prednisone, Combivent® and ambroxol were 100%, salbutamol 75%, and theophylline 0%. On the other hand, the entire medications showed 100% suitability concerning the route of administration. While for the interval of administration, the study showed that dexamethasone, prednisone, salbutamol, theophylline and ambroxol were 100% appropriate, but Combivent® was lower at 95.24%. The study concludes that the dose and interval of administration are not in accordance with the literature, while the route of administration is considered to be in accordance with the literature.Telah dilakukan penelitian tentang kajian regimen dosis penggunaan obat asma pada pasien pediatri rawat inap di bangsal anak RSUP. DR. M. Djamil Padang yang bertujuan untuk membandingkan kesesuaian regimen dosis obat asma yang diberikan dengan regimen dosis pada literatur. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan teknik konsekutif sampling. Sampel diperoleh dari data rekam medik pasien selama tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prednison, Combivent® dan Ambroxol memenuhi tepat dosis pemberian 100%, Deksametason 7,14%, Salbutamol 75%, dan pemberian teofilin tidak ada yang tepat dosis. Untuk kriteria rute pemberian 100% dinyatakan tepat untuk semua obat. Sedangkan untuk kriteria interval pemberian, Deksametason, Prednison, Salbutamol, Teofilin, dan Ambroxol dinilai 100% tepat interval, namun Combivent® hanya 95,24%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa dosis dan interval pemberian obat asma belum sepenuhnya sesuai dengan literatur, sedangkan untuk rute pemberian dinilai sudah sesuai dengan literatur.Â
Dampak Karakteristik Sosiodemografi dan Tingkat Kepatuhan Terapi Antihipertensi Terhadap HRQoL Pasien Gagal Jantung Kongestif
Health Realted Qulity Of Life (HRQoL) is the patient perspective to their medication and illnes. The objective of study is to determine the impact of social demography characteristics, and medical adherence to the HRQoL of congestive heart failure patients in M. Djamil Hospital Padang. Data social demography, adherence, and HRQoL of 111 patients were collected by guided interview and completed by their medical record. We used T-test and one-way ANOVA, while 95% confidence intervals was taken for the significance. Patients who completed the education in senior high school possessed the best HRQoL score and the patients with lower level education had a worse HRQoL score (P<0,05). The best HRQoL score was showed by civil servant compared to other professions (P<0,05). While the worse HRQoL performed by the patient who had lower level of medication adherence (P<0,05). While the gender and age of the patients were not significantly affected the HRQoL score (P>0,1).Health Related Quality of Life (HRQoL) merupakan persepsi pasien terhadap efek terapi dan keparahan penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak karakteristik sosiodemografi dan tingkat kepatuhan terapi antihipertensi terhadap HRQoL pasien gagal jantung kongestif (GJK) di RSUP DR. M. Djamil Padang. Data sosiodemografi, tingkat kepatuhan, dan HRQoL 111 pasien GJK yang berpartisipasi dalam penelitian ini dikumpulkan dengan wawancara terpimpin dan dari rekam medis pasien. Metoda T-Test dan Anova satu arah digunakan untuk menganalisa dampak karakteristis sosiodemografi dan tingkat kepatuhan terhadap HRQoL pasien GJK dengan tingkat kepercayaan 95%. Pasien dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki nilai HRQoL yang lebih baik dibandingkan dengan pasien berpendidikan lebih rendah (P<0,05). Pasien yang berprofesi sebagai pegawai negeri memiliki nilai HRQoL paling baik dibandingkan dengan profesi lainnya (P<0,05). Pasien dengan tingkat kepatuhan kurang baik memiliki nilai HRQoL yang lebih buruk pula (P<0,05). Sedangkan jenis kelamin dan usia tidak berpengaruh terhadap HRQoL pasien (P>0,1)
Senyawa Antioksidan Ekstrak Metanol Glycine max (L.) Merr Varietas Detam 1 Hasil Estraksi Ultrasonik
The objective of this study is to find antioxidant compounds which are contained in methanol extract of Glycine max Detam 1 variety from Ultrasound extraction method. Extraction has done by two solvents; ¬n-hexane solvent to eliminate the soy fat which can affect the analysis result and methanol 80% to take the active compounds in soybean. The result of extraction was concentrated by using Rotary evaporator (BUCHI Rotavapor R-114) and BUCHI Water bath B-480. As the result of this study, there were three antioxidant compounds detected, i.e. Methyl-10-trans,12-cis-octadecadienoate, Methyl 9-cis,11-trans-octadecadienoate, and 9,12-Octadecadinoic acid.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa antioksidan yang terkandung dalam ekstrak metanol Glycine max varietas Detam 1 hasil dari ekstraksi dengan metode ultrasonik. Ekstraksi dilakukan dengan 2 pelarut yaitu pelarut n-heksan untuk menghilangkan lemak yang mungkin dapat mempengaruhi hasil selama analisis dan metanol 80% untuk mengambil senyawa aktif dalam kedelai. Hasil ekstraksi kemudian dipekatkan dengan Rotary evaporator (BUCHI Rotavapor R-114) dan BUCHI Waterbath B-480. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectra (GS-MS). Analisis terhadap senyawa antioksidan menggunakan GC-MS menunjukkan terdapat tiga senyawa antioksidan yaitu Methyl-10-trans,12-cis-octadecadienoate, Methyl 9-cis,11-trans-octadecadienoate, dan 9,12-Octadecadinoic acid
Pemeriksaan Residu Pestisida Profenofos pada Selada (Lactuca sativa L.) dengan Metode Kromatografi Gas
The determination of profenofos pesticidal residue in the lettuce (Lactuca sativa L.) by using gas chromatography using flame photometric detector (FPD) had been investigated. The lettuce was collected from Padang Luar area, Agam distric, West Sumatera. Sample for determination of profenofos residue divided into three groups: unwashed (A), washed with water (B), and washed with detergent (C). Maceration with sonication was used for the extraction using ethylacetateas a solvent. The results showed that profenofos pesticide residue in sample A, B and C were 0.204, 0.080 and 0.061 ppm, respectively. These profenofos pesticidal residue are over than the Maximum Residue Limits (MRL) that established by The Japan Food Chemical Research Foundation (0.05 ppm) even though World Health Organization (WHO) has not established Maximum Residue Limits (MRL) profenofos on lettuce. Based on the statistical analysis one-way method (Anova) using SPSS 20.0 showed that there was a significant concentrations difference between lettuce A from lettuce B and lettuce C with p < 0.05.Telah dilakukan pemeriksaan residu pestisida profenofos pada selada (Lactuca sativa L.) menggunakan metode kromatografi gas detektor fotometri nyala. Sampel sayuran selada di ambil dari daerah Padang Luar, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sampel untuk penentuan kadar residu profenofos dibagi atas tiga kelompok yaitu tidak dicuci (A), dicuci dengan air (B), dan dicuci dengan deterjen pencuci sayuran (C). Maserasi dengan sonikasi digunakan untuk ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu pestisida profenofos pada selada A, B dan C berturut-turut adalah 0,204; 0,080 dan 0,061 ppm. Residu pestisida profenofos ini melewati Batas Maksimum Residu (BMR) yang ditetapkan oleh The Japan Food Chemical Research Foundation (0,05 ppm) sedangkan World Health Organization (WHO) belum menetapkan Batas Maksimum Residu (BMR) profenofos pada selada. Hasil analisis statistik Anova satu arah menggunakan SPSS 20.0 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi yang signifikan antara selada A dengan selada B dan selada C dengan nilai p < 0,05
Aktivitas Ekstrak Daun Suji (Dracaena angustifolia Roxb.) sebagai Antianafilaksis Kutan Aktif pada Mencit Putih Jantan
An assay of the active cutaneous anti anaphylactic of the ethanolic extract of the Dracaena angustifolia Roxb. On male white mice has been studied. The assay was done by giving three different doses (100,300, 900 mg per/kg bw). Allergic reaction was induced by giving egg’s albumin as antigen. The anti anaphylactic effect was determined by measurement of the pro long of occurrence time, the dereased in diameter and the color intensity of the blue bump formed by using blue evan’s solution as indicator which was given intravenously. Result indicated the ethanolic extract of Dracaena angustifolia Roxb. (100, 300, 900 mg/kg bw) had significant effect for each dose (p<0.01). The dose of 900 mg per kg body weight showed best effect.Telah dilakukan pengujian efek anti anafilaksis kutan aktif dari ekstrak etanol daun suji (Dracaena angustifolia Roxb.) pada mencit putih jantan. Pengujian dilakukan dengan tiga variasi dosis ekstrak (100, 300 dan 900 mg/kg BB) yang diberikan secara oral. Adanya efek anti anafilaksis ditandai dengan perpanjangan waktu timbul, penurunan diameter dan intensitas warna bentolan biru yang terbentuk pada punggung mencit dengan menggunakan larutan biru Evans sebagai indikator yang disuntikan secara intra vena. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun suji (Dracaena angustifolia Roxb). (100, 300, 900 mg/kg BB) memberikan efek yang berbeda nyata antara masing-masing dosis (p<0,01). Efek yang paling baik diberikan pada dosis 900 mg/kg BB
Pengaruh Pemberian Vanadil Sulfat dan Kromium (III) Klorida terhadap Fungsi Ginjal Mencit Putih Diabetes
The objective of this study was to identify the effect of two heavy metals, vanadyl sulphate and chromium (III) chloride on creatinine level of hyperglycemic mice induced by dexamethasone 11mg/kg. The experimental animals were grouped into five groups comprised of 5 white mice. Group I was used as control group, only received standard feeding and food supplement. Group II-V were induced with dexamethasone 11mg/kg to increase the blood glucose level. Group III was also given chromium (III) chloride 5.2 ug/20g. Group IV was also given vanadyl sulphate at the dose of 0.78 mg/20g. Group V received combination of vanadyl sulphate 0.39 mg/20g and chromium (III) chloride 2.6 ug/20g. The level of blood creatininewas determined by enzymatic method conducted for 42 days and observations were taken at day 7, 21 and 42. This study concluded that administration of vanadyl sulphate and chromium (III) chloride combination significantly reduced blood creatinine level of white mice (p<0,05).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari dua logam berat vanadil sulfat dan krom (III) klorida pada tingkat kreatinin darah tikus putih hiperglikemia yang disebabkan oleh deksametason 11mg/kgBB. Hewan-hewan percobaan dikelompokkan menjadi lima kelompok yang terdiri dari 5 tikus putih. Kelompok I digunakan sebagai kelompok kontrol, yang hanya menerima makanan standar dan suplemen makanan. Kelompok II - V diinduksi dengan dexametason 11mg/ kgBB untuk meningkatkan kadar glukosa mereka. Kelompok III juga diberikan kromium (III) klorida 5,2 ug/ 20g BW. Kelompok IV juga diberi vanadil sulfat pada dosis 0,78 mg/ 20 gBB. Kelompok V menerima kombinasi vanadil sulfat dengan dosis 0,39 mg/ 20 gBB dan kromium (III) klorida pada dosis 2,6 ug/ 20 gBB. Tingkat kreatinin darah ditentukan dengan metode enzimatik yang dilakukan selama 42 hari dan pengamatan dilakukan pada hari ke-7, hari ke-21 dan hari ke-42. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian kombinasi vanadil sulfat dan kromium (III) klorida secara signifikan mengurangi tingkat kreatinin darah tikus putih (P <0,05)
Clinical Outcomes Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Kaki Diabetik
An amputation and antibiotic resistant bacteria on diabetic foot infection (DFI) are still big issue. The research aimed to evaluate clinical outcomes of antibiotic use among patients of DFI in internal medicine ward at Hospital X. An observation of prospective longitudinal methode was conducted during 3 months. Patients were selected based on diagnosis of DFI that had length of stay ≥ 3 days. Total samples were 30 patients, 16(53.3%) women and 14(46.7%) men. Only 5(16.67%) patients who did culture and sensitivity. One of them with no pathogen bacteria. The most frequently antibiotic use was ampicillin-sulbactam. Based on clinical outcomes, 11(36,7%) improve, 15(50%) worse, and others were passed away. Based on statistic, there were no influence among clinical outcomes with gender, age, BMI and duration of diabetes. Therefore based on the research, antibiotics use were still not effective to achieve desired outcomes.Resiko amputasi dan resistensi bakteri terhadap antibiotik pada pasien infeksi kaki diabetik (IKD) masih merupakan masalah besar yang belum dapat diatasi. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi clinical outcomes penggunaan antibiotik pada pasien IKD di bangsal penyakit dalam rumah sakit X. Penelitian dilakukan selama 3 bulan dengan metode observasi prospektif longitudinal. Pasien dipilih berdasarkan diagnosa IKD dengan lama rawatan ≥ 3 hari. Total sampel yang diperoleh 30 pasien, perempuan 16 (53,3%) dan laki-laki 14 (46,7%). Tes kultur hanya dilakukan pada 5 (16,67%) pasien. Satu pasien menunjukkan tidak adanya bakteri patogen. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah Ampisilin-sulbaktam. Berdasarkan clinical outcomes, 11 (36,7%) pasien membaik, 15 (50%) memburuk dan 4 (13,35%) meninggal. Berdasarkan statistik, jenis kelamin, umur, Indeks masa tubuh dan lama menderita DM tidak mempengaruhi clinical outcomes (P>0,05). Hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa antibiotik yang digunakan masih belum efektif dalam mencapai tujuan terapi
Pengaruh Kombinasi Magnesium Stearat dan Talkum sebagai Lubrikan terhadap Profil Disolusi Tablet Ibuprofen
A research has been conducted on the combination effect of magnesium stearate and talc as a lubricant to the dissolution profile of Ibuprofen tablets. Of the three formulas made Ibuprofen tablets with wet granulation method. Evaluation of tablets include uniformity of size, weight uniformity, tablet hardness, disintegration, friability of tablets, assay and dissolution. Results of dissolution percentage was done up to 60 indicated that the dissolution the average was 95,72%, 97,65% and 99,93% consecutively for F I, F II and F III. In addition, result of the dissolution efficiency up to 60 minutes for each formula was 82,10%, 87,58%, and 90,76%. According to the dissolution of the data, formula III which had the highest dissolution results compared to formula I and formula II, which likely due to the ratio of the combination of magnesium stearate and talc as a lubricant smaller levels of magnesium stearate.Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh kombinasi magnesium stearat dan talkum sebagai lubrikan terhadap profil disolusi tablet Ibuprofen. Dari ketiga formula dibuat tablet Ibuprofen dengan metoda granulasi basah. Evaluasi tablet meliputi keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan tablet, waktu hancur, kerapuhan tablet, penetapan kadar dan disolusi. Hasil persen terdisolusi menit ke 60 menunjukkan bahwa disolusi rata-rata berturut-turut adalah 95,7209%, 97,6474% dan 99,9373%. Dan untuk hasil efisiensi disolusi pada menit ke 60 masing-masing formula adalah 82,1089%, 87,5888% dan 90,7635%. Dari data disolusi, formula III yang mempunyai hasil disolusi yang tinggi dibandingkan formula I dan formula II yang disebabkan oleh perbandingan kombinasi magnesium stearat dan talkum sebagai lubrikan lebih kecil kadar magnesium stearatnya
Karakterisasi Fisikokimia Sistem Biner Siprofloksasin HCl – PEG 4000
"Physicochemical Characterization of Binary Systems Ciprofloxacin HCl - PEG 4000" has been reseach. This study aimed to characterize ciprofloxacin HCl formula that was developed to 9, with a comparison between ciprofloxacin - PEG 4000 following formula I (1: 9), formula II (2: 8), formula III (3: 7), formula IV (4: 6), formula V (5: 5), formula VI (6: 4), formula VII (7: 3), formula VIII (8: 2) and formula IX (9: 1). Binary system made by the manufacture of solid dispersion by melting method. The results of the binary System were characterized by analysis Differential Thermal Analysis (DTA), X-ray diffraction, IR spectrophotometry, and Scanning Electron Microscope (SEM). The results of this analysis have results of the binary solid dispersion systems a good formula this VII.Telah dilakukan penelitian dengan judul "Karakterisasi Fisikokimia Sistem Biner Siprofloksasin HCl – PEG 4000". Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi siprofloksasin HCl yang dikembangkan menjadi 9 formula, dengan perbandingan antara siprofloksasin – PEG 4000 sebagai berikut formula I (1 : 9), formula II (2 : 8), dan formula III (3 : 7), formula IV (4 : 6), formula V (5 : 5), formula VI (6 : 4), formula VII (7 : 3), formula VIII (8 : 2) dan formula IX (9 : 1). Sistem biner dibuat dengan cara pembuatan disperi padat dengan metoda peleburan. Hasil sistem biner ini dikarakterisasi dengan analisa Differensial Thermal Analysis (DTA), Difraksi Sinar X, Spektrofotometri Infra Red dan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil analisa tersebut menunjukkan bahwa sistem biner dispersi padat yang paling baik terdapat pada formula VII
Pelepasan Ibuprofen dari Gel Karbomer 940 Kokristal Ibuprofen-Nikotinamida
One of the methods to increase the solubility is co-crystalization. As Ibuprofen can be used in topical application for rheumatoid arthritis, a study about formulation and release of ibuprofen-nicotinamide co-crystal in carbomer gel had been conducted. Co-crystal was obtained from a dissolve method, which ibuprofen and nicotinamida were mixed with equimol composition (1:1). Gel consisted of two formulas with the same amount of ibuprofen (5%). The first formula was gel co-crystal ibuprofen-nicotinamide and the second formula was pure ibuprofen. The basis used was carbormer 940. The release test was done using the horizontal type of Franz diffusion cell and measured using HPLC (High Performance Liquid Chromatography) with mobile phase of methanol: aquabidest (80:20) pH 3.5 with orthophosphate acid. The results showed both formulas were not stable in homogeneity aspect for several storage days. Separation was occurred at low and high temperatures. The result of release profiles at the 120th minutes was 4.4793 % and 4.4293 % and the release efficiencies were 3.8891 and 3.8612. The statistic analysis showed that release efficiencies of both formulas were not significantly different (p>0.05) using One-Way ANOVA. In a conclusion, the process of making gel of co-crystal ibuprofen-nicotinamide did not influenced ibuprofen release in gel preparation.Salah satu metode untuk meningkatkan kelarutan adalah co-kristalisasi. Ibuprofen dapat digunakan dalam aplikasi topikal untuk rheumatoid arthrisi, sehingga telah dilakukan sebuah studi tentang formulasi dan pelepasan kokristal ibuprofen-nikotinamida dari gel karbomer 940. Kokristal diperoleh dari metode penguapan pelarut dengan komposisi equimol (1:1). Gel terdiri dari dua formula dengan jumlah ibuprofen yang sama (5%). Formula pertama adalah gel kokristal ibuprofen-nicotinamida dan Formula dua adalah gel ibuprofen murni. Basis digunakan adalah carbormer 940. Uji pelepasan dilakukan dengan menggunakan sel difusi Franz jenis horizontal dan diukur menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography) dengan fase gerak metanol:aquabidest (80:20) pH 3,5 dengan asam ortofosfat. Hasil penelitian menunjukkan kedua formula tidak stabil dalam aspek homogenitas selama beberapa hari penyimpanan. Pemisahan terjadi pada suhu rendah dan tinggi. Hasil profil pelepasan pada menit ke-120 adalah 4,4793% dan 4,4293% dan efisiensi pelepasan 3,8891 dan 3,8612. Analisis statistik menunjukkan bahwa efisiensi pelepasan kedua formula tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan menggunakan One-Way ANOVA. Pembentukan kokristal ibuprofen-nicotinamida ternyata tidak mempengaruhi pelepasan ibuprofen dari sediaan gel walaupun dapat meningkatkan kelarutan ibuprofen