Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
364 research outputs found
Sort by
An Assay of Antioxidant Power of Methanolic Extract Various Type of Soybean
This study aimed to examine the antioxidant activity of methanolic extract of various type of soybean (Glycine max L.Merill) i.e Argomulyo, Burangrang, Ijen, and Kaba by using DPPH (1,1-Diphenyl-2-picryhydrazyl) method. The soybean was crushed, defatted using n-hexan, and extracted using methanol 90%. The processes of defatting and extracting were conducted by kinesthetic maceration. Identification of flavonoid content using KLT and an assay of the antioxidant power of soybean were carried out qualitatively and quantitavely. Qualitative analysis, the color of DPPH solution was fading from violet into yellowish. Quantitative analysis showed that the maximum wave-length of DPPH in methanol was 516,00 nm within 15-minute reaction time. The effective concentration 50% (EC50) of each extract was alsa determined. Results of this study revealed that the methanolic extract of soybean taken from varieties of Argomulyo, Burangrang, Ijen, and Kaba contained flavonoid, with EC50 value of each variety subsequently ranging from 3620.22 bpj; 5290.71 bpj; 4145.99 bpj; and 4253.50 bpj. Argomulyo variety showed the highest antioxidant power
Pembuatan Dan Evaluasi Pati Talas (Colocasia esculenta Schoot) Termodifikasi dengan Bakteri Asam Laktat (Lactobacillus sp)
Production and evaluation of modified taro (Colocasia esculenta Schott) starch by lactic acid bacteria (Lactobacillus sp) has been done. The purpose of this study was to observe the effect of lactic acid bacteria to the yield of taro starch and to evaluate physicochemical of starch. The evaluation which includes organoleptic, moisture content, pH, angle of repose, swelling power, gelatination temperature, amylose content, and examination of the surface shape of starch granules using SEM (Scanning Electron Microscope). The result showed that modified taro starch yield higher (19,12%) than native taro starch (11,79%). Modified taro starch of organoleptic examination showed better results where the smell was slighly reduced and the colour was white. Meanwhile, from the results of the evaluation of swelling power, gelatination temperature, and amylose content showed an increase. In addition, the modified taro starch granule were rougher due to some holes presented distinctively.Pembuatan dan evaluasi pati talas (Colocasia escuenta Schott) termodifikasi dengan bakteri asam laktat (Lactobacillus sp) telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh modifikasi pati talas dengan bakteri asam laktat terhadap rendemen pati talas dan sifat fisikokimia pati. Evaluasi yang dilakukan meliputi organoleptik, kadar air, pH, sudut angkat, daya pengembangan, temperatur gelatinasi, kadar amilosa, dan pemeriksaan bentuk permukaan granula pati menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope). Hasil penelitian menunjukkan rendemen pati talas termodifikasi lebih tinggi (19,24%) daripada pati alami (11,79%). Pemeriksaan organoleptik pati talas termodifikasi menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan pati talas alami, dimana bau khas talas agak sedikit berkurang dan warnanya lebih putih. Selain itu daya pengembangan dan kadar amilosa pati talas termodifikasi mengalami peningkatan. Hasil lainnya menunjukkan bahwa pada pati talas termodifikasi terdapat perlubangan pada permukaan granulanya
Gambaran Tenaga Kefarmasian Dalam Memberikan Informasi Kepada Pelaku Swamedikasi di Apotek-Apotek Kecamatan Tampan, Pekanbaru
The performance of all pharmacist staff including pharmacist, pharmacist assistance and pharmacist technician in drug information service towards self medication patient affect the therapeutic success. Self medication is the way of therapy with drug medication which drugs can be obtained at pharmacy without needing doctor’s prescription. The research aims to evaluate the description of drug information service given by all pharmacist staff on self medication of tooth pain patient at the pharmacy located around Kecamatan Tampan, Pekanbaru. It was conducted using cross sectional planning survey by participative observational method. 30 pharmacist staffs who give mefenamic acid as tooth pain drug were selected as respondent. The assessment was done using Likert scale. The result showed that drug information service given by all pharmacist staffs was in good scale (63.10%) and still conducting passively or they gave drug information if only the patient asked. The detail result demonstrated that 63.20% of pharmacist afforded adequate scale of drug information service, the pharmacist assistant gave 60% of adequate scale, while the pharmacist technician exhibited 63.80% good scale. The route of drug usage was the most common information with very good category (85.33%).Tenaga farmasi dalam memberikan informasi kepada pelaku swamedikasi, dapat menentukan keberhasilan terapi. Swamedikasi adalah mengobati segala keluhan dengan obat-obatan yang dapat dibeli di apotek dengan inisiatif sendiri tanpa resep dokter. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran pemberian informasi oleh tenaga kefarmasian pada swamedikasi nyeri gigi di apotek-apotek Kecamatan Tampan. Penelitian ini menggunakan rancagan survei cross-sectional dengan metoda observational partisifatif, Responden yang digunakan adalah tenaga farmasi yang memberikan asam mefenamat sebagai obat nyeri gigi, penilaian menggunakan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian informasi yang dilakukan tenaga kesehatan adalah baik (63,10%) dan masih bersifat pasif atau hanya akan memberikan informasi ketika ditanya, dengan rincian pemberian informasi oleh apoteker cukup baik (63,20%), tenaga teknis kefarmasian cukup baik (60%) dan asisten tenaga kefarmasian dengan nilai baik (63,80%). Informasi yang paling sering disampaikan yaitu cara pemakaian obat kategori sangat baik (85,33%).Â
Pengaruh Berkumur dengan Larutan Ekstrak Siwak (Salvadora persica) Terhadap pH Saliva Rongga Mulut
Saliva is a complex body fluid and has important roles that related with biological processes in oral cavity. Saliva has important roles in maintaining health of oral cavity from caries diseases and periodontal diseases. One of saliva functions in maintaining oral health is associated with the degree of saliva’s acidity (pH). Salivary pH can influence oral health by related with caries diseases and periodontal diseases. One of preventive method could be done is chemically preventive by using mouth wash solution. One of natural mouth wash solution could be used is miswak (Salvadora persica) extract mouth wash solution. Chemical contents of Salvadora persica extract can prevent descending of salivary pH because it has bactericidal effect that will prevent acid production from oral bacteria, increase saliva buffer activity by increasing saliva secretion. The purpose of this study was to determine the influence of  Salvadora persica extract solution on salivary pH. The method used in this research is experimental with one group pre-posttest design. Subjects were 17 students of SMK Muhammadiyah 1 Padang. Measurements before and after mouth rinsing with Salvadora persica extract solution 50% performed on the subjects. The data were analyzed by paired T-test (p<0,05). This research showed the average salivary pH before given Salvadora persica extract solution was 6,565 and the average salivary pH after given miswak extract solution was 7,4. Mouth rinsing with Salvadora persica extract solution can increase salivary pH and can be used as mouth wash solution to maintain oral health.Saliva adalah cairan tubuh yang kompleks dan memiliki peran penting yang terkait dengan proses biologi dalam rongga mulut. Saliva memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut dari karies dan penyakit periodontal. Salah satu fungsi saliva dalam menjaga kesehatan mulut berkaitan dengan tingkat keasaman saliva (pH). pH saliva dapat mempengaruhi kesehatan mulut yang berhubungan dengan karies dan penyakit periodontal. Salah satu metode pencegahan yang bisa dilakukan adalah secara kimiawi dengan menggunakan obat kumur. Salah satu obat kumur yang dapat digunakan adalah miswak (Salvadora persica). Kandungan kimia ekstrak Salvadora persica dapat mencegah menurunnya pH saliva karena memiliki efek bakterisida yang akan mencegah produksi asam dari bakteri mulut, meningkatkan aktivitas buffer saliva melalui peningkatkan sekresi saliva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak Salvadora persica pada pH saliva. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan satu kelompok desain pre-posttest. Subyek penelitian adalah 17 siswa dari SMK Muhammadiyah 1 Padang. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah berkumur dengan larutan ekstrak Salvadora persica 50%. Data dianalisis dengan T-test (p <0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata pH saliva sebelum diberikan larutan ekstrak Salvadora persica adalah 6,565 dan pH saliva setelah diberi larutan ekstrak miswak adalah 7,4. Berkumur dengan ekstrak Salvadora persica dapat menjadi solusi dalam meningkatkan pH saliva dan dapat digunakan sebagai obat kumur untuk menjaga kesehatan rongga mulut
Persepsi dan Kecenderungan Keterlibatan Apoteker di Apotek pada Proses Rekonsiliasi Obat
The objective of this study was to gain insight into the perception and the likelihood to practice medication reconciliation among pharmacists working at the apotek. Two guiding questions were given to each participant and participants were asked to write the answer on the paper. Thematic analysis was used to analyse the data. There were 31 pharmacists involved in this study. All of participants perceived that medication reconciliation was important to be implemented. Almost all of participants (i.e 30 from 31 pharmacists) clearly stated that they would like to implement medication reconciliation. And, there were 3 themes found as the main motivation factors in implementing the medication reconciliation. Pharmacists who were working at the apotek had a good perception about medication reconciliation and also showed the likelihood to implement medication reconciliation. Further research need to be conducted in order to explore the barriers in implementing medication reconciliation.Penelitian ini bertujuan untuk memotret persepsi dan kecenderungan kesediaan apoteker yang bekerja di apotek di sebuah kabupaten untuk terlibat dalam program rekonsiliasi obat. Dua buah pertanyaan panduan tertulis diberikan kepada setiap peserta dan peserta diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan tersebut pada lembar yang telah disediakan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode thematic analysis. Total terdapat 31 apoteker yang bersedia terlibat dalam penelitian ini. Seluruh peserta penelitian berpersepsi bahwa proses rekonsiliasi obat penting untuk diimplementasikan. Hampir seluruh peserta (30 dari 31 apoteker) memiliki kecenderungan untuk bersedia terlibat dalam proses rekonsiliasi obat. Terdapat 3 tema utama pertimbangan yang mendasari kecenderungan apoteker di apotek untuk bersedia terlibat dalam proses rekonsiliasi obat. Apoteker peserta penelitian yang bekerja di apotek memiliki persepsi dan kecenderungan yang baik untuk berkontribusi dalam proses rekonsiliasi obat. Identifikasi faktor-faktor yang berpotensi menjadi penghalang implementasi proses rekonsiliasi obat oleh apoteker di apotek perlu dilakukan sebelum program rekonsiliasi obat ini diimplementasikan dalam suatu daerah
Pengaruh Pemberian Sari Wortel (Daucus carota L.) terhadap Tukak Lambung Pada Tikus Putih Jantan
A study on the effect of carrot decoction to the gastric ulcer of white male rats induced by absolute ethanol 1 ml/200 g orally has been conducted. The study showed that carrot decoction in the doses of 3; 6; and 12 ml/kg could improve the ulcer by amount of 28.41; 46.79; and 75.76 %, respectively. The decoction could also reduce the pH of gastric juice significantly toward the normal level (P<0.01).Telah dilakukan pengujian pengaruh sari wortel (Daucus carota L.) terhadap tukak lambung pada tikus putih jantan yang diinduksi dengan etanol absolut 1 ml/200 gram berat badan secara oral. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sari wortel dengan dosis 3, 6 dan 12 ml/kgBB dapat memulihkan tukak lambung dengan persentase pengobatan masing-masing adalah 28,412%; 46,797% dan 75,766%. Sari wortel ini juga dapat menurunkan pH cairan lambung tikus yang diberi etanol absolut menuju pH cairan lambung tikus normal secara signifikan (P<0,01)
Formulasi Granul Mukoadhesif Ketoprofen Menggunakan Polimer Kitosan
The aim of this research was to formulate of mucoadhesive ketoprofen granules using chitosan polymer. Ketoprofen granules were prepared by wet granulation method with several concentrations of chitosan polymer 0%, 10%, 20%, and 30% (w/v). Granules were evaluated physically and chemically. In vitro dissolution test was carried out for 6 hours using a basket method in buffer phosphate medium pH 7.4. General evaluation of granules showed the yield was relatively good. In vitro mucoadhesive test exhibited that mucoadhesive ketoprofen granules using chitosan polymer could provide mucoadhesive properties to stomach and intestinal of rabbits. The statistics tests for dissolution efficiency with one ways ANOVA (SPSS 17) showed a significant different among F0, F1, F2 and F3 (P0.05). All the formulas followed Langenbucher kinetic release model.Tujuan penelitian ini yaitu formulasi granul mukoadhesif ketoprofen menggunakan polimer kitosan. Granul ketoprofen dibuat dengan metode granulasi basah dengan konsentrasi polimer kitosan 0%, 10%, 20%, dan 30% (b/v). Granul dievaluasi secara fisika dan kimia. Uji disolusi in vitro dilakukan selama 6 jam menggunakan metode keranjang dalam larutan dapar fosfat pH 7.4 secara umum granul yang dihasilkan relatif baik. Uji mukoadhesif in vitro menunjukkan bahwa granul ketoprofen menggunakan kitosan polimer dapat memberikan sifat mukoadhesif yang baik pada lambung dan usus kelinci secara in vitro. Uji statistik untuk efisiensi disolusi dilakukan dengan uji ANOVA (SPSS 17), dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara F0 dengan F1, F2 dan F3 (P 0,05). Semua formula mengikuti model kinetika pelepasan Langenbucher
Pengaruh Pemberian Layanan Kefarmasian pada Penderita Pneumonia Komunitas Rawat Inap: A Small Randomized Single Blind Study
Pneumonia, one of infectious diseases, becomes a major health care problem in Indonesia. The inappropriateness use of treatment can lead to greater unexpected health outcome and prolonged length of stay. A lot of research has proved that pharmacists, as a part of health care professionals, has important role in assuring patients to get the most optimal treatment benefit. The aim of this study is to identify the influence of pharmaceutical care intervention in reducing the length of stay of inpatients community acquired pneumonia. This experimental study involved 32 subjects with community acquired pneumonia hospitalized without any other infection between 18th August and 31st December 2010. Subjects were divided into two groups, i.e. intervention and control group, by simple random sampling technique. Intervention group received pharmaceutical care services i.e. drug related problems identification and solving based on Pharmaceutical Care Network Europe Classification and therapy guideline. Both group received hospital standard care. The primary outcome of this study was length of stay. All subjects were followed until 31 December 2010. Most of drug related problems identified in this study were classified as treatment effectiveness (intervention group 76.19% and control group 81.82%) and treatment cost (intervention group 23.81% and control group 18.18%). Inappropriate use of antibiotic was the main cause for this drug related problems based on the pneumonia guideline. Ceftriaxone and ciprofloxacin (28.21%) were the most inappropriate used antibiotics found in this study. The mean of length of stay between intervention (6 days) and control group (8 days) was significantly different (P<0.05). Pharmaceutical care intervention significantly improved the length of stay of inpatients community acquired pneumonia.Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan terkait infeksi yang banyak terjadi di Indonesia. Ketidaktepatan pemilihan terapi dapat mengakibatkan keluaran kesehatan yang tidak terduga dan memperpanjang lama perawatan. Apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan profesional memiliki perang penting dalam menjamin terapi obat yang optimal bagi penderita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian layanan kefarmasian dalam mengurangi rata-rata lama perawatan pasien pneumonia komunitas rawat inap. Studi ini melibatkan 32 penderita pneumonia komunitas tanpa penyakit infeksi lain antara 18 Agustus – 31 Desember 2010. Pasien terbagi menjadi dua kelompok, kelompok uji dan kelompok kontrol, dengan metode simple random sampling. Kedua kelompok tersebut mendapat pelayanan kesehatan standar, namun kelompok uji mendapatkan layanan kefarmasian berupa identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi terapi berdasarkan Pharmaceutical Care Network Europe Classification dan pedoman terapi. Keluaran utama pada penelitian ini adalah rata-rata lama perawatan penderita. Semua penderita dimonitor hingga 31 Desember 2010. Efektivitas terapi (kelompok uji 76,19% dan kelompok kontrol 81,82%) dan biaya terapi ( kelompok uji 23,81% dan kelompok kontrol 18,18%) merupakan masalah terkait obat yang paling banyak ditemukan. Seftriakson dan siprofloksasin (28,21%) merupakan antibiotik yang paling banyak ditemukan tidak sesuai dengan pedoman terapi pneumonia komunitas. Perbedaan yang signifikan ditemukan antara rata-rata lama perawatan pasien kelompok uji (6 hari) dan kelompok kontrol (8 hari) (P< 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian layanan kefarmasian dapat menurunkan secara signifikan rata-rata lama perawatan penderita pneumonia komunitas rawat inap
Kajian Ketepatan Indikasi Penggunaan Alprazolam pada Pasien Stroke di Bangsal Rawat Inap Neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi
Cerebrovascular disease such as stroke remains one of diseases that causes disability and death in the world. Having sufficient quality and quantity of good sleep is one important part of the healing process. Sleep disorders also increase the patient’s risk of developing recurrent stroke. The objective of this study was to analyze the accuracy of the indications for alprazolam in patients with stroke in neurology ward of National Stroke Hospital Bukittinggi, Indonesia. The study was conducted on November 2011 to February 2012 with the prospective method through observations on the condition of the patients, medical records, drug instruction cards, and the nursing care records of stroke patients who use alprazolam. Data were analyzed descriptively based on the treatment standards related to inaccuracy: alprazolam use without medical indications and indications which were not treated. The study showed that of 35 patients taking alprazolam, 1 of them was without medical indication 1 (3.45%) and another 1 was categorized as untreated indication (3.45%) of 29 incidences of drug related problems (DRP).Penyakit serebrovaskuler atau stroke masih merupakan salah satu penyakit yang banyak menimbulkan kecacatan dan kematian di dunia. Mendapat kualitas dan kuantitas tidur yang baik merupakan salah satu bagian penting dalam proses penyembuhan (recovery) pascastroke. Gangguan tidur juga meningkatkan resiko pasien pascastroke untuk menderita stroke berulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ketepatan indikasi penggunaan alprazolam pada pasien stroke di bangsal rawat inap neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi.Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi dari bulan November 2011 hingga Februari 2012 dengan metode prospektif melalui penelusuran terhadap kondisi pasien, catatan rekam medik, Kartu Instruksi Obat (KIO) dan catatan asuhan keperawatan pasien stroke yang menggunakan alprazolam di bangsal rawat inap neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif berdasarkan literatur yang berkaitan dengan ketepatan indikasi dengan kategori pemberian alprazolam tanpa indikasi medis dan indikasi yang tidak diterapi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dari 35 orang pasien yang menggunakan alprazolam didapatka
Isolasi dan Uji BSLT Ekstrak Etil Asetat Daun Meranti Sabut (Shore Ovalis (Korth.))
Isolation and test of Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) of ethyl acetate extract of Shorea ovalis [Kort.]) leaves have been done. The isolation method used was column chromatography by Step Gradient Polarity (SGP). The aim of this research was to isolate the metabolite secondary compound and examine the activity test of Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) from ethyl acetate extract of Shorea ovalis [Kort.]) leaves. The result showed that pure compound was I¬A which characterized by spectrum of IR, H-NMR, C-NMR, HSQC, HMBC and colour reaction of Liebermann-Burchard test. The characterization of the isolate was phytosterol with estimated molecular formula C27H48O. Result of BSLT test revealed that of ethyl acetat extract of meranti sabut leaves at 100, 10, and 1 ppm had value of LC50= 40.45 ppm with death of larva of Artemia salina equal to 56,6 % and was considered as very toxic.Telah dilakukan isolasi dan uji BSLT ekstrak etil asetat daun meranti sabut (Shorea ovalis [Kort.]). Isolasi menggunakan metode kromatografi kolom dengan cara Step Gradient Polarity (SGP). Penelitian ini bertujuan mengisolasi senyawa metabolit skunder dan uji BSLT ekstraks etil asetat daun meranti sabut (Shorea ovalis [Kort.]). Dari hasil penelitian didapatkan senyawa murni IA dan dikarakterisasi dengan spektrum IR, H-NMR, C-NMR, HSQC dan HMBC serta reaksi warna menggunakan pereaksi Liebermann-burchard. Hasil karakterisasi senyawa IA disimpulkan adalah senyawa golongan fitosterol dengan perkiraan rumus molekul C27H48O. Hasil uji BSLT ekstrak etil asetat daun meranti sabut pada konsentrai 100, 10 dan 1 ppm diperoleh nilai LC50= 40.45 ppm dengan persen kematian larva Artemia salina sebesar 56,6 %, tergolong sangat toksik